Aku menuruni anak tangga dengan hati- hati. Wedges putih yang kupakai ini tingginya lima centimeter, kalau aku nggak hati- hati, rencana sore ini bakal bubar dengan adanya aku di rumah sakit.
Aku, Windi, dan Hannah diajak Nirmala ke pernikahan teman Nirmala. Temannya seumuran dengan kami. Yeah, masalah anak muda yang sampai sekarang selalu dikepentingkan, menikah setelah hamil duluan. Aku hanya bisa beristighfar kalau ada teman sebayaku yang mengalami kejadian naas seperti itu. Aku harap Allah menjagaku dan teman- temanku dari hal seperti itu, amin.
“Waah, cantiknya Sarah!” seru Nirmala. Nadanya seperti bercanda, aku hanya malu- malu mendengar pujiannya.
“Aku nggak kebiasaan pakai wedges!” seruku agak kesal.
“Udah, nggak apa, cuma hari ini aja, kok,” ucap Hannah, “cantik kok, cantik.”
“Thankyou, yaa. Kalian juga cantik banget!” ucapku memuji mereka.
Nirmala mengibaskan rambutnya dengan tangannya, “Kalau aku, sih, memang asli cantik!”
Aku, Windi dan Hannah tertawa mendengar statement Nirmala yang percaya diri banget.
“Mami, aku berangkat dulu, ya,” ucapku pamit, kemudian mencium tangan mami. Abi sedang tennis dan adikku sedang sekolah. Hari Sabtu pelajar tetap masuk sekolah! Aku tertawa dalam hatiku.
Teman- temanku yang lain juga ikut pamit dengan mami kemudian kami berangkat dengan mobil yang Nirmala bawa.
“Kok bau hamburger, ya?” tanya Windi memulai bercandaan ketika masuk di dalam mobil Nirmala.
“Eh, sorry, ya, gue itu nggak pernah makan nasi atau makan makanan Indonesia, gue ini blasteran Amerika!” seru Nirmala yang membuat kami tertawa.
“Amerika-salatiga!” seruku dan tertawa lagi.
Nirmala cemberut – bercanda – dan berkata, “Aku nggak temenmu loh, Sar.”
“Sarah temenku loh, Nir!” seru Hannah, “Temenmu mana?”
“Windy, dong!” seru Nirmala kemudian mulai menyetir menuju tempat resepsi pernikahan yang ternyata di daerah kawasan wisata Jawa Tengah.
Windy memelukku dan berkata, “Loh, aku temennya Sarah kok, Nir.”
Aku dan Hannah tertawa melihat Nirmala semakin manyun.
“Temenmu yang nikah itu temen SMA, bukan?” tanyaku.
Nirmala mengangguk, mencoba konsentrasi dengan jalanan yang cukup ramai, untung saja nggak macet.
“Dia uda ‘isi’ duluan, bukan, Nir?” tanya Hannah penasaran.
Lagi- lagi Nirmala hanya mengangguk dan terus melajukan mobil ini dengan hati- hati.
“Temenku SMA juga ada yang kayak begitu,” ucap Windy, “sekarang anaknya udah umur dua tahun, mungkin.”
“Loh? Berarti nggak ikut lulusan kemarin dong?” tanyaku kaget.
Windy mengangguk, tatapannya mengasihani temannya itu. Nggak semua nasib baik seperti yang aku alami dengan temen- temen ini dijalani oleh orang- orang seperti itu tadi. Menikah karena memang sudah hamil duluan. Parahnya, ada lagu dangdut yang sedang ngetrend tentang hamil duluan. Aku hanya bisa beristighfar dan berdo’a supaya aku nggak seperti mereka. Aku tahu Allah menjagaku J.
“Aku juga ada temen yang kayak begitu,” ucapku, “tapi dia masih bisa ikut ujian dan lulus.”
“Alhamdulillah, ya,” ucap Hnnah.
“Sesuatu, deh!” seru Windy.
“Syahroni!” seru Nirmala yang membuat kami tertawa lagi. Entah kenapa, tapi setiap kata yang Nirmala ucapkan sepertinya mengandung serbuk ketawa yang menghipnotis kami untuk tertawa.
“Iya, tapi kasiannya, calon suaminya waktu itu malah masuk penjara gara- gara ada kasus,” ucapku.
Aku rasa teman- temanku mulai merinding mendengar nasib pilu seperti itu. Sekali lagi, aku berharap hal itu nggak pernah terjadi dalan hidupku dan teman- temanku.
“Kalau kayak gitu, sih, kita yang harus jaga diri,” ucap Hannah miris.
Aku dan Windy mengangguk- angguk. Sepertinya nggak berani berkomentar.
“Heh, aku kasih tahu, tapi ntar pas disana kalian jangan bahas itu, ya? Dan jangan kaget atau penasaran,” kata Nirmala.
Kami semua terdiam menunggu Nirmala bercerita. Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. sampai sepuluh detik Nirmala belum bercerita juga dan itu membuat mobil gempar dengan suara tawa kami.
Pengendara motor di samping mobil kami sepertinya bisa mendengar ledakan tawa kami sampai- sampai mereka menoleh dengan kagetnya.
Setelah menenangkan diri, Nirmala kemudian bercerita, “Temenku itu emang hamil duluan, nikahnya hari ini. Tapi yang jadiin dia hamil itu bukan cowok yang sekarang nikah sama dia. Aku tahu, tapi cowoknya nggak mau tanggung jawab!”
“Astaghfirullah, jahat banget!” seru kami bertiga.
“Trus yang nikah sama dia hari ini siapa, Nir?” tanya Windy.
Nirmala kembali cerita, “Itu sahabatnya dia. Sahabatnya emang suka, cinta malahan sama temenku, tapi temenku nggak suka sama dia. Dia sayangnya, ya, karena sebagai sahabat.”
“Tuh, kan, kekuatan sahabat lebih besar daripada kekasih!” seruku.
“Tapi kekuatan kekasih lebih besar daripada sahabat kalau udah nikah,” ucap Nirmala dengan spontan. Mobil ini meledak lagi dengan suara tawa kami yang ababil.
“Eh, eh, trus, keluarga sahabatnya temenmu itu gimana? Masa’ langsung setuju- setuju aja?” tanya Hannah.
“Pertamanya enggak, Han, tapi kalau cowok ngotot, kan, mesti pengennya diturutin. Waktu itu sampai kabur juga, loh. Akhirnya orangtuanya nemuin dia di Medan, di rumah sodaranya! Gila nggak, nuh?” ucap Nirmala.
“Tapi temenmu itu masih tetep nggak suka sama sahabatnya itu? Maksudnya cinta,” tanya Windy.
“Kan dia cuma anggap sahabat aja. Tapi kalau dipikir- pikir, dia kan uda dibantu sama sahabatnya. Kenapa dia nggak coba belajar buat cinta sahabatnya?” kataku berkomentar.
“Cinta kok dibelajari, sih, Sar?” tanya Nirmala, “Cinta itu mengalir dengan sendirinya.”
“Quotes, nih,” ucap Hannah.
Nggak terasa kami sudah sampai di tempat resepsi pernikahan temannya Nirmala.
Sebagai cewek, sebelum kami turun dari mobil dan beraksi, kami membenahi dandanan kami. Nirmala menambahkan bedak di wajahnya supaya terlihat nggak mengilap karena minyak. Windy membenahi lipstik di bibirnya. Hannah menyisir rambutnya dan membentuknya sedikit. Dan aku menambahkan mascara dan eyeliner penuh dengan kehati-hatian.
Setelah siap, kami turun dari mobil dan mendapati dinginnya udara di atas bukit seperti ini.
Bisa dibilang ini pernikahan yang keren untuk anak muda seusia seperti teman Nirmala. Tema yang diusung adalah garden party. Semuanya dari alam. Hiasan, tempat souvenir, dan kebaya yang dipakai juga nature banget.
Rasanya seperti kembali ke zaman kartun Flinstone yang semuanya terbuat dari alam. Tapi, diam- diam, aku juga menginginkan tema ini umtuk pernikahanku nanti, entah dengan siapa.
“Loh, katanya hari ini resepsi, Nir. Kok ada acara pemberkatan disini?” tanya Hannah.
“Aku juga nggak mudeng, yang penting kita datang aja,” ucap Nirmala.
“Yang penting kita makan aja,” ucapku dan Windy, kami berempat terkekeh lagi. Tapi nggak sekeras tadi seperti di mobil.
Upacara pemberkatan sudah selesai. Mereka berdua terlihat gagah dan cantik, dan yang penting mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri karena sumpah dan janji sudah mereka ucapkan.
“Aku kok ngerasain hawa nggak enak, ya, Win?” ucapku.
“Kenapa, Sar?” tanya Hannah cemas.
“Perasaanku nggak enak dan baru aja aku lihat aura nggak enak dari mereka berdua,” kataku, “make up si cewek aneh banget.”
Aku takut ini jadi hal buruk. Aku melihat polesan make up si cewek nggak seperti yang biasanya. Dia cantik, tapi wajahnya begitu suram dan pudar. Seperti menyembunyikan hitam di balik putih.
Alunan musik pernikahan dimainkan. Pasangan itu kemudian berlari menuju pinggir bukit yang di bawahnya adalah pemandangan jurang. Miris mendengar kata jurang, tapi jurang itu membentuk posisi yang indah, jadi nggak membuat ngeri penampilannya.
“Cinta kami akan abadi selamanya,” ucap si mempelai wanita kemudian mencium si pria, “tapi hanya maut yang bisa memisahkan kami, seperti sumpah yang kami ucapkan baru saja. Kami menyayangi kalian.”
Aku berkomentar dalam hati, “Kata- kata yang aneh, jangan- jangan...”
“Sayaaaanggg!” seru seorang ibu yang ternyata adalah ibu dari mempelai wanita.
Aku mendengar suara jeritan yang lain pula termasuk Nirmala, Windy, dan Hannah. Mereka semua bangkit dari kursi dan kaget dengan apa yang terjadi.
Aku meringkuk dalam pelukanku sendiri, “Ternyata benar, ternyata benar.”
“Kenapa, Sar?” tanya Windy, Hannah, dan Nirmala.
Tapi Nirmala dan tamu undangan yang lain langsung berlari menuju tepi bukit. Mereka melihat tubuh pengantin itu ada di dasar jurang. Matahari memantulkan cincin si pengantin. Para orangtua dan tamu undangan menangisi kejadian ini.
“Aku udah bilang, ada yang aneh dengan pengantin itu. Ternyata aura mereka aura kematian!” seruku kemudian menangis dalam pelukan Windy dan Hannah.
Nirmala kemudian mengajak kami untuk pergi dari TKP. Pihak keluarga sudah menelpon polisi dan rumah sakit untuk mengidentifikasi jasad keduanya.
“Sorry, ya, kalau kejadiannya kayak begini, aku nggak bakal ngajak kalian, deh,” ucap Nirmala yang kemudian mulai meninggalkan area bukit ini.
“Nggak apa, Nir, kita juga nggak tahu kalau bakal begini,” ucap Windy.
“Aku nggak nyangka kalau mereka bakal nekat. Denger nggak kata- kata terakhir mereka?” tanya Nirmala meminta kepastian.
“Mereka bilang ‘Cinta kami abadi, tapi hanya maut yang memisahkan cinta kami’. Si cewek bener- bener nggak cinta sama si cowok. Dia milih maut buat misahin mereka daripada cerai di pengadilan,” kataku dengan nada ketakutan.
õöõ
0 komentar:
Posting Komentar