Malam ini Janice menghabiskan sore hingga malam di kamarku. Kami sedang curhat atau lebih tepatnya Janice sedang curhat. Pembicaraan kami tidak jauh dari seputar cowok, pacarnya yang bermasalah dan cowok yang sedang dekat denganku. Tapi aku salah, Janice datang padaku untuk didengarkan, bukan mendengarkan.
Janice mulai bercerita, “Awalnya nggak seperti ini, Sar. Dia diem terus dan nggak pernah bales smsku.”
Aku bertanya dengan hati- hati ketika ia berhenti bicara, “Apa kamu ngelakuin kesalahan yang kamu lupa?”
Aku melihat Janice berpikir dan aku menatapnya penuh penasaran. “Ya, mungkin ada satu atau dua atau beberapa.”
“Yang kauingat?” tanyaku.
“Mmm, waktu itu aku pernah belajar dengannya. Dia sedang menjelaskan materinya padaku dan temanku menggangguku. Aku sempat mendengar ia berdecak kesal. Tapi aku langsung mengalihkan perhatianku untuk fokus padanya,” tutur Janice, “menurutmu, apa aku salah kayak begitu tadi?”
Aku membelalakkan mataku dan terasa seperti ditinju oleh cowok yang kusukai. Glekk! “Kamu benar kalau bertanya kayak gitu ke aku. Jelas- jelas aku juga nggak bakal suka. Artinya sama aja kamu nggak menghargai dia. Dia udah baik mau menerangkan apa yang kamu belum tahu dan kamu malah mengabaikannya. So?”
“Iya, aku salah,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidurku.
“Satu. Yang kedua, apalagi?” tanyaku.
Janice mencoba mengingat- ingat dan ia berkata, “Aha! Aku pernah dan bahkan mungkin sering meninggalkannya untuk pergi dengan teman- temanku. waktu itu kami sedang berdua dan tiba- tiba temanku mengajakku pergi makan. Ketika aku menawarinya makan, ia menolak, lalu aku pergi dengan temanku. Berarti itu bukan sepenuhnya salahku, karena aku benar- benar lapar saat itu!”
Aku menelan udah dengan susah. Kubuat ekspresi straight face untuk menanggapi kata- katanya.
“Apa?” tanyanya bingung dan sepertinya dia sadar ada yang salah dengannya.
“Kita sedang cari apa yang menjadi kesalahanmu, jadi jangan salahkan orang lain dulu. Ini baru premis- premis dan belum konklusi, dan tiba- tiba aku berbicara seperti matematikawan!” seruku nggak percaya.
Aku psikolog amatir dan mencoba untuk menangani masalah Janice. Aku nggak tahu harus memberi saran apalagi. Kemudian aku diam dan membuatnya bicara apa saja dan aku hanya mendengarkan.
Pembicaraan ini menuju ke titik dimana Janice benar- benar kecewa pada pacarnya. “Aku benci kalau dia nggak memberi kabar padaku. Aku bukan dokter, tapi aku khawatir juga kalau dia kenapa- kenapa. Kalaupun aku sms dan dia bales, jawabannya pasti kalau nggak ‘Y’, ‘G’, atau ‘O’. Dongkol nggak, sih, kalau smsmu cuman dibales Y-G-O Y-G-O!?” Janice terlihat seperti diktator saat mengungkapkan hal itu.
“Iya, aku juga sebel, sih. Jadi, kenapa kamu nggak diemin dia aja? Jangan sms dia, jangan ajak ngobrol dia, atau kenapa kamu nggak sedikit kasar sama dia?” tanyaku. Aku tahu ini saran yang buruk karena akan melukai perasaan orang lain, tapi udah nggak punya apa- apa untuk disarankan. Aku benar- benar blank dan ingin memiliki bola ajaib, sehingga aku bisa menunjukkan apa yang sedang dilakukan oleh pacar Janice.
“Aku nggak tega. Aku nggak sekasar itu, tapi aku jauh ngerasa sakit dan kangen sama dia. Aku kangen saat dia deket sama aku, aku kangen sama dia saat dia gombalin aku. Dia bikin aku sedikit ketergantungan sama dia,” ungkapnya.
Aku menghela nafas dan berkata, “Menjadi ketergantungan itu boleh, tapi kalau berlebihan, rasanya akan risih. Cowok itu lebih suka cewek yang mandiri, walaupun belum bisa sepenuhnya mandiri, yang penting si cewek mencoba. Kaum adam lebih suka begitu.”
Aku tersenyum pada Janice dan itu membuatnya sedikit lebih membuka pikiran. “Tapi aku kangen padanya,” ia memulai lagi, membuka luka hatinya, “aku pernah melihat nama di pesan masuknya. Aneh, aku nggak kenal siapa dia. Tapi banyak sekali sms dari orang itu. Aku takut itu dari mantannya dan mereka bakal balikan, sementara aku?”
Mata Janice berkaca- kaca, buru- buru aku memberinya tissue dan ia bercerita lagi, “Sikap anehnya bikin aku semakin penasaran dan jadi mikir yang enggak- enggak.”
“Buang pikiran negatif, nggak baik hidup dalam kenegatifan,” kataku.
“Tapi aku penasaran!” serunya, tapi ia berhasil mengatasinya dengan nggak menangis.
“Kamu terlalu memikirkan semua tentangnya dan menghubungkannya ke hal negatif. Sugesti burukmu itu malah memperburuk keadaan,” kataku, menghela nafas sebentar dan berkata lagi, “sugesti itu akan mempengaruhi kehidupanmu. Kehidupanmu akan sepenuhnya terkontrol sama sugestimu. Dan kalau kamu punya sugesti negatif tentangnya... wallahu’alam, ya.”
Janice merenungkan ucapanku. Ia mengelus- elus kepalanya dan berkata, “Positif thinking, positif thinking, positif thinking.”
ÜÜÜ
Aku mengirim pesan pada Janice sehari setelah tadi malam ia berada di kamarku hingga larut. Aku berkata aku menemukan apa yang menjadi solusi untuknya dan ia buru- buru langsung kemari.
Janice duduk bersila dan bertanya penasaran, “Jadi apa yang kamu temukan buat masalahku?”
Aku yang sedang membaca buku psikolog tentang hubungan pria-wanita mengangkat tanganku, menunjukkan semua lima jariku, memintanya untuk menunggu sebentar.
Setelah aku selesai membaca, aku mengungkapkan apa yang menjadi solusi untuknya. “Oke, aku menyesal karena dua hal,” kataku memulai, “pertama, karena aku memberikanmu saran yang buruk kemarin. Kedua, karena aku baru membaca buku ini tadi malam setelah kamu pulang, padahal buku ini udah seminggu lalu kubeli.”
“Apa hubungannya?” tanya kurang peduli.
Aku membenarkan posisi dudukku supaya nyaman dan mulai mendongeng untuknya, “Jadi, buku ini bercerita tentang hubungan laki- laki dan perempuan yang salam mengerti tentang jati diri mereka. Aku baru baca beberapa pengalaman, tapi aku udah tahu bahwa ini adalah solusi terbaik untukmu dan semoga ini berhasil juga buatmu.
“Laki- laki berasal dari Mars dan perempuan berasal dari Venus, kamu mengerti itu. Perempuan menyelesaikan masalah mereka dengan cara membicarakannya, dan sebagai pasangan yang baik, laki- laki harus mendengarkan tanpa harus memberi saran. Aku melakukan itu kemarin padamu. Aku nggak tahu apa yang harus kusarankan dan aku hanya diam, membuatmu terus bicara dan meluapkan kekesalan akan lebih baik.
“Tapi berbeda dengan perempuan, Janice, laki- laki nggak pernah curhat seperti yang kamu lakukan. Kamu bilang pacarmu orang yang tertutup dan keras kepala, aku yakin dia nggak punya tempat untuk curhat. Mereka, para laki- laki, punya ‘gua’ yang khusus hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Ia butuh waktu tanpa ada kamu, tapi dia pasti bakal kembali dan lebih kangen padamu.”
Janice yang sedari tadi diam menyimpan banyak pertanyaan dan ia menanyakannya secara berurutan seperti menginvestigasiku, “Tapi kenapa ada orang lain yang bisa masuk ke ‘gua’nya? Termasuk orang yang selalu sms dia. Dan kenapa aku nggak bisa masuk ke ‘gua’nya?”
“Disini, di buku ini, laki- laki yang berada di ‘gua’nya akan melupakan pasangannya. Kamu nggak tahu kalau yang menjadi peralatan- peralatan di ‘gua’nya adalah orang lain. Ia hanya belum ingin kamu mengganggunya. Dan semakin kamu memasuki ‘gua’nya untuk mengajaknya keluar, ia akan semakin menghindarimu,” jelasku panjang lebar.
Janice masih menyimpan pertanyaan besar yang mengganggunya, “Jadi apa yang harus aku lakuin?”
Aku tersenyum. Aku lega Janice bertanya itu karena aku tahu apa yang harus ia lakukan dan menjadi solusi yang baik jika ia bisa, “Sabar menunggunya untuk keluar sendiri dari ‘gua’nya tanpa paksaan darimu.”
Ia membuka mulutnya nggak percaya, “Apa? Kamu tahu aku nggal sabaran! Aku terlalu kangen padanya untuk sabar menunggu.”
“Kamu sayang dia?” tanyaku dan ia mengangguk, “Kalau kamu bisa menghargai waktu ‘gua’nya, ia akan lebih cepat keluar dan ia akan sangat kangen padamu. So, kalian bakal baik- baik aja.”
“Tapi aku pengen dia cepet keluar dari ‘gua’nya,” kata Janice sambil membuat tanda petik dengan tangannya pada kata ‘gua’.
“Tulis aja surat buat dia,” saranku.
“Kuno!” serunya, “Sms aja, ya?”
“Kamu masih mau jawaban ‘Y-G-O’nya?” tanyaku.
Ia menggeleng, “Gimana kalau email?”
“Sesukamu, asal jangan sms!” kataku.
“Apa yang harus kutulis?” tanyanya bingung.
Aku memukul jidatku sampai bunyi dan rasanya sakit sekali, “Pertama, kamu minta maaf sama dia karena udah mengganggu waktu ‘gua’nya. Kedua, bilang kalau kamu menghargai waktu ‘gua’nya. Ketiga, bilang kalau kamu kangen sama dia dan minta dia untuk keluar dari ‘gua’nya secepatnya. It’s easy, baby.”
Janice mengangguk- angguk sambil mencatat apa yang kusarankan. Aku harap ini bisa membantunya. Aku harap ia bisa sabar menunggu. Ya, menunggu itu emang menyebalkan, tapi inilah saranku yang terbaik sebagai ganti saran bodohku kemarin.
ÜÜÜ