Sudah hampir mendekati ujian tengan semseter, aku dan teman- temanku masih leha- leha dan nggak memikirkan kalau kami harus membayar SKS dan uang modul. Lagipula, tanggal segini mami juga masih belum ada uang.
Ada kakak tingkat yang memberitahu kami kalau kami harus minta perincian pembayaran dari biro keuangan. Dan dengan malas- malasan, kami antre di biro keuangan.
Aku mendapati total uang yang harus dibayar olehku lebih banyak dibanding total milik Nirmala, dan total pembayaran milik Hannah lebih mahal dibanding total milik kami semua.
“Kamu mau bayar kapan, Sar?” tanya Windy sambil mengamati perincianku dan miliknya.
“Aku nggak tahu, nih. Aku sms mamiku dulu, ya,” jawabku. Kemudian aku mulai mengetikkan sesuatu di handphoneku dan mengirimkannya pada mami.
“Kok punyamu banyak banget, sih, Han?” tanya Nirmala.
“Kamu daftar kesini dulu gelombang berapa?” tanyaku.
Hannah yang juga shock melihat nominal di perinciannya terhitung sampai hampir enam juta rupiah, menjawab dengan sedikit bingung dan lesu, “Emm, aku nggak tahu. Waktu aku masuk kesini, orang dari kampus ini yang ngurusin.”
“Berarti kamu sama orangtuamu nggak tahu perinciannya?” tanya Windy.
“Papaku yang tahu, aku nggak tahu,” jawab Hannah dan kemudian memasukkan perincian itu secara asal, mungin karena ia sudah muak.
Aku membuka handphoneku dan membaca sms mami yang baru masuk, “Iya, nanti mum carikan, berapa bayarnya?”
Sebenarnya aku nggak tega kalau harus minta uang segini banyaknya, tapi ini untuk kelangsungan pendidikanku. Dan mami masih sanggup untuk membayar uang kuliahku. Terbesit dalam pikiranku untuk mengajar lagi. Paling nggak beban mami berkurang sedikit.
Aku nggak pernah minta yang muluk- muluk sama mami karena aku tahu diriku sendiri yang boros dan ingin segera ke toko buku jika uang di dompetku cukup banyak. Dan sejak dari kecil, mami selalu memberikan uang yang cukup untukku, sesuai kebutuhanku.
Aku membalas sms mami, memberitahu total pembayaran yang harus dilunasi. Aku tahu, empat setengah juta bukan uang yang sedikit dan bisa datang secepat hujan turun, tapi aku butuh uang itu agar bisa ikut ujian tengah semester.
“Aku nggak tega kasih tahu orangtuaku, ini jumlah yang banyak banget,” ucap Hannah sambil mengurut dahinya yang cenong.
“Aku juga, tapi gimana lagi? Ini juga kebutuhan kita,” ucapku.
“Halaah, nggak usah dipikirlah, masih ada besok- besok kok! Aku laper, maem yok,” ajak Nirmala.
“Iya, aku juga laper, mikir kayak begini aja bikin laper, gimana kalau pas ujian besok, ya?” tanyaku.
“Emang elo yang suka laper and doyan makan kalee!” seru Nirmala sambil merangkulku dengan lengannya yang kuat.
Aku dan teman- teman berjalan menuju warteg untuk menebus kelaparan kami. Dan paling nggak melupakan sejenak tentang biaya perkuliahan yang banyak.
$$$
Aku meletakkan tasku dan melegakan pundakku yang sedari tadi menggendongnya seharian. Aku merebahkan diriku di kasur dan merasakan kasurku sangat nyaman dan adem.
Mami masuk ke dalam kamarku dan duduk di sampingku. Aku bangkit duduk dan melihat di tangan mami sudah membawa bungkusan amplop coklat yang tebal. Mami mengeluarkan kumpulan uang Rp 20.000,00 yang bertotal dua juta, kemudian mengeluarkan kumpulan uang Rp 100.000,00 dan Rp 50.000,00.
“Totalnya lima juta ini,” ucap mami.
Aku mengeluarkan perincian yang kuambil dari biro keuangan tadi dan menyerahkan pada mami.
“Kok lebih banyak dari yang dihitung kemarin?” tanya mami.
Aku menjawab sambil menunjuk ke kolom modul, “Uang modulnya Rp 60.000,00, mum.”
“Ya Allah, untung mami ambil lima juta,” ucap mami agak lega tapi nadanya berat.
Mami menghitung uang itu dengan cekatan seperti pegawai bank. Nggak heran, bukan karena mami itu pegawai bank, tapi mami bekerja di biro koprasi di Kodam IV Diponegoro. Jadi, menghitung uang seperti itu dengan cepat adalah hal biasa, yang luar biasa adalah menghitung nominal di buku jurnalnya.
Mami memberikan empat setengah juta padaku, sesuai yang aku butuhkan, “Sisanya buat bayar cicilan motormu.”
Aku hanya mengangguk. Aku lagi malas bicara kalau berhadapan dengan uang. Bukan karena aku ngiler lihat unag itu, tapi amanah itu harus segera aku bayarkan, aku nggak bisa pegang uang segini banyak kalau terlalu lama.
Mami bilang kalau uang ini mami pinjam dulu dari teman mami. Uang remonirasi yang harusnya udah di dapat dari kemarin belum keluar- keluar, dan nggak tahu apa yang membuatnya seret keluar. Uang itu seperti BAB yang mampet di pencernaan dan akan bisa lancar setelah diberi obat pencahar. Sayangnya, dalam kasus ini, obat pencahar untuk remonirasi itu apa?
Aku agak terharu dan akan lucu kalau aku nangis saat mami bilang uang itu masih uang pinjaman. Bukan salah mami karena harusnya hak mami memang harus dibayar perbulan sesuai dengan perilaku mami. Mami adalah orang yang mengandalkan displin dalam pekerjaan. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan primer selalu diutamakan oleh mami.
“Kamu harus serius kuliah,” ucap mami saat memberikan uang itu padaku, “mami dah nggak ada uang lagi kalau kamu nggak serius dan cuma main- main aja sama kuliahmu. Dah tahu sendiri, kan, kalau uang kuliahmu itu udah banyak?”
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan mami.
“Kalau kamu ulangi lagi kenakalanmu kayak tahun lalu, mami udah angkat tangan, dan kamu bakal dosa besar sama mami kalau sampai main- main sama kuliahmu ini,” ucap mami mengancamku.
Sebenarnya bukan ancaman juga, mungkin mami juga muak kalau hanya mengurusi pendidikanku. Aku masih punya adik yang harus dimasukkan ke sekolah militer untuk meneruskan keturunan militeris di dalam keluargaku. Dan untuk masuk ke akademi militer itu, mami butuh biaya banyak.
Aku sadar betul dengan kesalahan yang aku perbuat tahun lalu, kemudian aku menjawab, “Iya, mum, aku suka di bahasa inggris, aku serius sampai S2, deh!”
“Mami masih sanggup biayain kalau kamu masih mau sekolah habis lulus nanti. Itu masih jadi kewajiban mami,” ucap mami, “tapi buat sekarang, kalau kamu main- main sama kuliahmu, kamu bakal dosa besar sama mami.”
Aku merenungkan apa yang mami ucapkan. Aku suka ada di bahasa inggris ini, aku nggak mau kecewain mami, aku nggak mau dosa besar sama mami. Aku harus lebih serius kuliah dan lulus tepat waktu. Aku sayang mami dan aku nggak mau kecewain mami.
$$$
Lots of loves from Niput to MommyY
0 komentar:
Posting Komentar