Aku tidak tahu kita bermula darimana. Kita bertemu dengan tanpa
sengaja dan merasakan sesuatu. Aku selalu kembali ke tempat itu, berharap aku
akan bertemu denganmu, dengan tanpa sengaja pula. Aku menunggu, begitu jugakah
kamu?
Cuaca siang hari ini cerah sehingga membuatku memicingkan mata
untuk melihat ke arah depan. Silau menyambut pandanganku ketika turun dari bus.
Aku berjalan sambil menutupi jidatku dengan tangan, melindungi pandanganku. Aku
berjalan menuju shelter bus trans dan melanjutkan perjalanan lagi.
Antrean penumpang sangat ramai, tapi aku masih dapat masuk ke dalam
bus sehingga tidak perlu menunggu bus lain lagi yang datang. Kugelantungkan
tanganku dan berpegangan pada tiang untuk menjaga keseimbangan. Jejeran toko-
toko dan rumah- rumah warga menghiasi keramaian Kota Jogja di terik siang ini.
Ketika bus yang kutumpangi melintasi kawasan Universitas Gajah Mada, memoriku
kembali singgah dengan sosokku yang sedang berjalan dideretan rumah- rumah kos
kemudian berhenti di sebuah bangunan dengan tanaman rambat ketika seorang
mahasiswa Universitas itu menghentikan motornya di depanku.
Sekali lagi aku datang kemari untuk menjemput sesuatu. Kepastian.
g
Sosok gadis beralis tebal menyambutku di warung bubur ijo. Ia
memang sedang menungguku disitu. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihatku
tiba.
“Akhirnya!” serunya.
Aku memeluk Sisi, adikku, yang selanjutnya kami berdua berjalan
menuju kosnya. Ia membantuku membawakan beberapa kantong plastik berisi jajanan
untuk kami. Setibanya di kamar kos Sisi, aku meletakkan tas punggungku dan
merebahkan tubuhku.
“Beruntung beberapa bulan lalu mbak udah beliin aku kipas!” serunya
sambil menyalakan kipas angin.
“Iyalah, kalau enggak, bakal mati kepanasan kayak cacing kita!”
seruku menimpali sambil tertawa.
“Untung aja mama mau kasih uangnya,” ujarnya yang kemudian
merebahkan dirinya di sampingku, “tapi kasihan mama juga, pengeluarannya nambah
karena kita sama- sama kos, kan, mbak?”
“Biarin, deh,” jawabku, “abis aku keterima kuliahnya di Solo, sih.”
“Tapi, mama tahu nggak, mbak, kalau mbak kesini?” tanya Sisi.
“Tahu kok, makanya aku dikasih uang lagi,” jawabku santai, “buat
kita berdua.”
“Beneran?” tanya Sisi sambil bangkit dan memastikan apa yang kukatakan.
Wajahnya nampak senang ketika aku meyakinkan dia. Tiba- tiba dia berseru,
“Shoppiiiingg!!”
g
Budaya konsumtifku dan adikku sangat menggila. Kami sama- sama
boros dan kalap, tapi untuk barang- barang tertentu seperti novel, aksesoris,
dan makanan.
Belum sempat aku tidur siang karena baru saja tiba di Jogja, Sisi
sudah mengajakku untuk pergi ke Taman Sari, istana air milik Keraton Jogja yang
berada di Keraton Selatan. Untuk menuju kesana cukup sulit karena kami tidak
membawa kendaraan pribadi, sehingga kami harus menggunakan transportasi umum.
Pertama, kami harus naik bus trans menuju Malioboro, kemudian dari
situ Sisi memaksa untuk menggunakan dokar menuju Taman Sari. Aku cukup lelah
hari ini, tapi tujuanku kemari memang bukan untuk berlibur dan beristirahat
dari rutinitas perkuliahan –– bahkan aku membawa beberapa tugasku kemari.
Selama perjalanan menuju Malioboro, aku duduk di dalam bus sambil
mengulang kembali rekaman kenanganku bersama Rio, pemuda asal Sumatra Utara
yang berkuliah di Jogja. Jalanan ini pernah kami susuri berdua menuju ke
tempat- tempat yang menjadi saksi bisu munculnya perasaanku padanya.
Adikku mencolek lenganku ketika kami melewati toko es krim yang
pernah kukunjungi bersama Rio. “Mbak Nesa, lihat tuuuh.”
Aku tersenyum singkat melihatnya menggodaiku. Kepalanya yang ia
sandarkan di bahuku membuat kerudungku miring dan kesempatan ini kubalas untuk
memiringkan kerudungnya karena ia menggodaiku.
“Dulu waktu mbak Nesa kesitu sama dia juga pake kerudung soft pink
ini, kan?” celetuknya lagi.
“Apaan sih,” jawabku sambil malu- malu. Kutarik beberapa juntai
alis tebalnya hingga ia mengaduh.
Sisi tetap saja menggodaiku. Tapi, sejujurnya, aku menikmati setiap
kata yang membuat perutku tergelitik karena pertemuanku bersama Rio disitu.
g
“Fotoin aku dulu dong!” seruku kepada Kak Rick.
“Nggak mau, kamu fotoin aku dulu. Buruan! Mumpung dia masih disitu,
Nes!” seru Kak Rick.
Dua temanku yang lainnya tidak membantuku untuk memenuhi kemauan
Kak Rick. Mereka malah berdiri agak jauh dari kami dan menertawai nasibku.
Dengan kesal aku menekan tombol di kameraku dan mendapati wajah kekanak-
kanakan Kak Rick yang sedang jatuh cinta pada salah satu peserta seminar
Eco-Youth di Jogja. Bagiku, tampang tololnya semakin memuakkan ketika gadis
yang menjadi targetnya mau diajak foto bersama.
Di lain pihak, aku juga ingin di foto di jajaran pot besar di sisi
kolam di Taman Sari. View yang kudapat disitu sangat bagus dan terlihat
seperti bukan di Indonesia. Aku ingin berfoto disitu karena lumayan sepi
sehingga tidak ada orang yang lewat kesana kemari dan merusak fotoku.
Setelah ia puas berfoto dengan gadis dari Bandung itu, Kak Rick
malah pergi bersamanya dan tidak menepati janjinya untuk memotretku. Bibirku
manyun seburuk bebek karena jengkel pada Kak Rick.
Kusandarkan tubuhku di tembok yang tinggi di depan kolam sambil
memotret apapun untuk menghilangkan kejenuhanku. Kugeser kameraku dari kiri ke
kanan untuk mendapat objek yang kupotret.
Aku sedikit tersentak ketika kameraku menangkap objek di sebelah
kananku. Seorang laki- laki yang cukup tampan dan lebih tinggi sepuluh
sentimeter dariku sedang berdiri di depan kameraku. Rambut jambulnya bergerak
pelan mengikuti angin yang berhembus. Alisnya tebal dan mata tajamnya menatapku
lembut. Sekali, dua kali, tiga kali kujepretkan kameraku ke arahnya.
“Mau kubantu?” tanyanya.
Kuturunkan kameraku dan balik bertanya, “Maaf, bantu apa, ya?”
Tutur katanya sopan dan berniat membantu, ia bukan tipikal orang
jahat. Ia hanya ingin menolongku untuk memotretku di deretan pot- pot besar di
tepi kolam. Ia berkata jujur bahwa ia memperhatikanku dan Kak Rick yang saling
berebut untuk difoto. Aku yakin kami terlihat sangat konyol seperti anak kecil
tadi.
Mengingat tidak ada orang lain yang bisa kuandalkan, aku setuju
dengan tawaran pemuda dengan rambut menari itu. Ia memotretku beberapa kali di
pot besar dan juga di dinding tempatku bersandar tadi.
Setelah sesi foto- foto, aku diajaknya berjalan- jalan di area
Taman Sari. Ia menerangkan setiap bagian di taman ini seperti pemandu tour. Tempat
yang menjadi favoritku seketika adalah bagian bangunan yang dulunya tempat
mandi para selir Raja. Konon, jika ada yang merendamkan kakinya di kolam itu,
maka orang itu akan cepat menemukan jodoh dan akan langgeng dengan pasangannya.
Bagiku, mitos- mitos dan legenda sama halnya seperti dongeng, dan
aku menyukai hal itu serta yakin dengan hal itu selama yang diramalkan adalah
hal- hal baik. Alas kakiku kulepas dan aku meraih tangan pemuda itu yang
bernama Rio yang juga peserta seminar Eco-Youth. Kami sama- sama merendam kaki
disitu dan ia beberapa kali memotretku. Sesekali aku meminta pengunjung lain
untuk memotret kami untuk kenang- kenangan.
Aku sangat senang dengan kegiatan hari terakhir di seminar
Eco-Youth ini. Walaupun Kak Rick sempat membuatku jengkel, ternyata datang Rio
yang membuat hari ini bukan hari yang pantas untuk dilupakan.
Di akhir pertemuanku dengan Rio, saat kami kembali ke kamar hotel
masing- masing, ia meminta nomor ponselku dengan setengah ragu seolah- olah aku
tidak akan memberikan nomorku padanya. Namun, wajahnya terlihat lega setelah
kuketikkan dua belas digit nomor di ponselnya dan kami pun berpisah di depan
lift hotel.
g
“Kita pakai dokar yang itu aja, ya, mbak!” seru Sisi sambil
menarik- narik lenganku ketika kami turun dari bus trans di shelter Malioboro.
Sebenarnya, mau minta pendapatpun percuma karena Sisi akan tetap
menarikku ke dokar yang ia pilih. Setelah bernegosiasi harga dengan pemilik
dokar, aku dan Sisi langsung duduk di kursi penumpang.
Jalanan yang kutelusuri bersama Sisi menuju Taman Sari ini adalah
jalan yang dulu pernah aku dan Rio telusuri juga. Aku dan Rio pernah sholat di
masjid di kiri jalan dekat gedung pemerintah, tapi entah apa itu. Sepanjang
jalan emperan Malioboro juga merekam kebersamaanku dengan Rio. Kemudian tempat
duduk di depan Monumen Serangan Satu Maret juga mengingatkanku untuk pertama
kalinya menggambar wajahnya, dengan tanganku sendiri, bukan melalui kamera.
“Mbak yakin kali ini bakal ketemu dia disana?” tanya Sisi yang
mendapatiku sedang putus asa mengingat setiap tempat dimana aku dan Rio
menghabiskan waktu.
“Siapa yang tahu, Si?” tanyaku balik.
“Tapi, mbak Nesa udah tiga kali ini, lho, datang kesini cuman buat
mau ketemu dia tanpa kasih kabar ke dia lewat sms ataupun sosial media,” kata
Sisi.
“Kalau kami punya insting yang sama, kami bakal ketemu tanpa harus
kasih kabar kok, Si,” responku membela diri.
“Jangan bilang kalau jodoh itu nggak bakal kemana, deh, mbak. Dua
kali, bahkan tiga kali ini mungkin, mbak ke Taman Sari, ke Toko es krim yang
tadi, ke Malioboro, sama kemana lagi, hasilnya tetep aja, kan, nggak ketemu
dia? Setahun ini, lho, mbak, setahun ini. Mbak apa nggak capek sama hal yang
nggak pasti ini?” cerocos Sisi.
Bukan aku mengelak menerima kenyataan bahwa dua kali lalu
kedatanganku ke Jogja memang sia- sia semenjak aku merasa bahwa Rio benar-
benar setengah sayap untukku, hidupku. Tapi, bukan berarti yang ini akan sama
sia- sianya dengan yang lalu.
Sisi akhirnya diam dengan tangan bersedaku dan punggungnya
bersandar di sandaran kursi dokar. Kulihat raut wajahnya sama khawatirnya
dengan perasaanku. Aku tahu ia adik yang baik walaupun terkadang menyebalkan,
tapi aku berusaha menutupi setiap ekspresi yang menandakan aku benar- benar
ingin bertemu Rio.
g
“Bapaknya tadi sampai hafal, ya, mbak?” komentar Sisi saat kami
memasuki area Taman Sari.
Aku tahu pernyataan itu, dengan nada seperti yang kudengar barusan,
bukan bermaksud untuk berpendapat saja. Sisi mencoba menyindirku karena aku
sudah datang kemari tiga kali ini dengan buku gambar yang kubawa dan hasil yang
sama. Mungkin. Sore ini adalah jawabannya.
Aku duduk di pojok kolam di sudut yang cukup adem dan tidak silau
cahaya matahari sore. Aku dan Sisi berada di bagian tempat mandi para selir
raja di istana air Taman Sari. Kami mulai membuka lembar buku gambar kami dan
mulai menggambar apapun yang pantas menjadi objek kami. Terkadang, kami tidak
menggambar apa yang di depan kami, kami hanya butuh tempat dan inspirasi untuk
menggambar. Salah satu tempat dimana inspirasi kami mengalir adalah bagian
istana air yang satu ini.
Dalam kurun waktu lima belas menit, aku dan Sisi sudah
menyelesaikan satu gambar. Kami pun saling menukar buku dan mengomentari
masing- masing gambar. Kulihat Sisi membuka bukuku dari lembar awal dan
menemukan wajah Rio hasil goresan tanganku di setiap lembarnya.
“Aku nggak tahu kalau Mbak Nesa secinta ini sama Rio,” katanya
sambil mengembalikan bukuku. “Okelah, kayaknya aku mau pindah tempat, mbak
masih mau disini?”
Kurasakan mataku terasa pedas dan air mata memenuhi mataku ketika
mendengar komentar Sisi. Aku seketika menunduk dan membuka buku gambarku,
mencoba menyembunyikan retakan rasa kecewa pada diriku sendiri dari Sisi.
“Aku nanti nyusul kamu, sms aja kamu dimana, ya!” kataku sambil
memulai menggesekkan ujung pensil di kertas gambarku.
Kudengar langkah Sisi menjauhiku, baru aku berani mendongak dan
melihat punggungnya menghilang dari peredaran pandanganku. Kuusap air mataku
yang mengalir lembut di pipiku dan membuat panas tubuhku meningkat beberapa
derajat. Kualihkan pandanganku ke objek yang bukan kumaksudkan sebagai objek
gambarku karena hanya satu objek di dalam kepalaku yang selalu ingin kugambar.
Rio.
g
Aku berjalan di gang yang kanan kirinya merupakan bangunan kos
tingkat dua dengan taman kecil yang menghiasi setiap bangunan. Pandanganku
lurus ke depan sambil membayangkan bagaimana wajah Rio sekarang ini.
Aku menghentikan langkahku di depan bangunan kos yang memiliki
tumbuhan rambat di dindingnya dan merayap ke pohon yang ada di depannya. Setiap
akarnya yang merayap memiliki cabang lain dan ditumbuhi daun serta bunga
berwarna putih. Laki- laki yang mengenakan masker penutup mulut menghentikan
motornya di depanku. Ketika ia membuka masker dan tutup helmnya, senyum laki-
laki itu menimbulkan letusan kembang api di kepalaku. Reaksi yang kuberikan
sama antusiasnya dengan letusan kembang api itu.
“Nesa,” sapanya sambil tersenyum padaku.
“Rio,” balasku dan membalas senyumnya.
Aku mungkin akan tetap terus terdiam menikmati garis wajahnya yang
tegas kecuali Rio menyodorkan helm kepadaku dan menyuruhku segera naik ke
motornya. Hari ini Rio mengajakku jalan- jalan mengelilingi Jogja karena aku
sedang berlibur disini. Sebenarnya aku tidak mau merepotkannya, tapi mumpung
aku disini dan ia menawari maka aku mengiyakan ajakannya.
Destinasi pertama di siang ini adalah toko es krim. Setibanya kami
disana, Rio memintaku untuk memilih tempat duduk. Kupilih meja nomor 18 yang
dekat dengan wastafel dan berhadapan langsung dengan taman toko es krim itu.
Rio datang dengan membawa menu dan bercanda seolah ia adalah pramuniaga di toko
itu. Kubiarkan Rio memilih pesanannya dulu baru aku yang memesan. Setelah itu,
kami menunggu pesanan datang sambil bertukar kabar selama kami tidak bertemu
beberapa bulan setelah seminar Eco-Youth.
Aku begitu menikmati setiap detik pembicaraan dengan Rio, walaupun
terkadang Rio terlihat salah tingkah dan tidak mengatakan sepatah katapun,
sehingga aku harus memulai pembicaraan dan ia baru menanggapi. Sedetik, aku
merasa yang kulakukan dengannya hari ini seperti sebuah kesalahan besar.
Kesalahan yang mungkin akan membuatku senang, tapi juga menyesal. Es krim
coklatku yang sudah datang dan kumakan habis tidak membantuku untuk melegakan
perasaan mengganjal ini. Aku tetap menampung perasaan mengganjal ini hingga
kami melanjutkan destinasi ke Malioboro.
Aku begitu tertarik dengan hal- hal baru yang kulihat di
pemandangan kanan kiriku selama perjalanan menuju Malioboro. Stadion olah raga,
jejeran toko- toko, dan bangunan- bangunan lainnya membuatku mengurangi rasa
bosan dengan pemandangan yang kulihat setiap hari di Solo.
Setibanya kami di kawasan Malioboro, Rio mengajakku untuk singgah
beribadah dulu di masjid dekat kami memarkirkan motor, baru setelah itu kami
menyebrang ke sisi jalan untuk memuaskan mata melihat pernak- pernik yang di
jual di emperan toko sepanjang Malioboro.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku memanas otomatis ketika Rio
bergerak gesit ke sebelah kananku dan merangkul bahuku saat kami menyebrang.
Nafasku begitu tidak teratur saat menyadari aku sangat dekat dengan Rio.
Tangannya yang merangkulku seperti sayap yang menghangatkanku, membuatku
berkeringat dingin, tapi kurasakan pipiku memanas, hanya aku berharap Rio tidak
mendapatiku sedang tersipu malu karenanya.
Sukses membuatku senang sesaat, Rio pun melepaskan rangkulannya
ketika kami sudah menyebrang, membuatku gemas dan merutuki jalanannya yang
tidak lebar. Setelah itu, semua berjalan normal seperti biasa. Rio kembali diam
dan menungguku untuk mengajaknya bicara walau kadang- kadang ia menawariku
barang- barang yang menurutnya aku suka.
Perjalanan sepanjang Malioboro ini ingin segera kuakhiri karena Rio
tidak bersikap manis lagi seperti tadi saat kami menyebrang. Raut wajahku
mungkin terlihat sangat loyo sehingga Rio berkata, “Kamu capek? Ayo duduk
disana, mumpung nggak panas- panas banget kalau jam lima.”
Aku mengikuti arah jari Rio menunjuk dan mendapati tempat duduk di
taman depan Monumen Serangan Satu Maret. Aku tersenyum senang dan menyetujui
ajakan Rio. Untuk menuju kesana, kami harus menyebrang lagi. Dan saat kami
menyebrang, Rio akan bersikap perhatian lagi padaku.
Cara curang ini begitu membuatku terlena dan menggelitik perutku,
tapi perasaan mengganjal itu tiba lagi. Aku merasa sangat bersalah saat aku
merasa senang di dekatnya. Namun, kutepis segera perasaan itu saat kami
menyebrang dan Rio memperlakukan hal yang sama seperti tadi padaku.
Perasaan bersalah tadi masih muncul dalam hatiku, tapi aku mencoba
untuk merasa santai dan tidak berpikir macam- macam. Kami duduk di dekat pohon
tinggi yang membuat kami merasa adem. Seketika, naluri menggambarku muncul dan
kutawarkan pada Rio untuk kugambar.
“Aku mau asalkan aku kelihatan cakep digambarmu,” ucapnya
menyetujui.
“Aku bakal ngelakuin apapun kalau kamu nggak kelihatan cakep di
gambarku,” balasku sambil tersenyum dan mulai bekerja. Kugoreskan pensilku di
kertas gambar dan membentuk setiap detail wajah Rio dan tubuhnya. Kunikmati
setiap detail yang ada dirinya hingga goresan terakhir berupa tanda tanganku
yang terletak di pojok kanan bawah kertas.
g
Kuedarkan pandanganku ke penjuru area demi menemukan dimana Sisi
berada hingga akhirnya kutemukan sosok mungilnya yang sedang menggambar gadis
bule berusia 6 tahunan. Kudekati adikku dan tersenyum ramah pada orangtua gadis
kecil bule itu.
“Mbak udah selesai?” tanya Sisi ketika ia sudah selesai menggambar
dan memberikan hasilnya pada gadis itu, “Maaf, ya nunggu lama. Aku, kan, nggak
fasih bahasa inggris, aku takut kalau nolak permintaan bulenya malah ditanya
macem- macem.”
Aku tertawa mendengar alasan adikku. Ia memang kurang fasih dalam pronounciationnya,
tapi secara umum ia dapat berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa inggris. “Kamu
dapat duit nggak?”
“Tadinya aku mau dibayar, tapi aku tolak, lah. Gambarku belum
sempurna, dia udah bilang aku artist, artist,” ujarnya sambil kami
berjalan menuju dokar pesanan kami untuk kembali ke Malioboro.
“Tadi aku juga ngobrol sebentar sama orangtuanya, dia juga panggil
aku artist, artist. Kayak dia nggak pernah lihat orang lagi gambar,”
kataku.
Kami masih melanjutkan percakapan tentang keluarga bule tadi selama
perjalanan menuju Malioboro. Kemudian disambung objek apa saja yang sudah kami
gambar. Sisi hanya menghela nafas ketika aku berkata hanya Rio yang kugambar.
Rio versi sketsa, versi cartoon, dan versi anime. Walaupun belum bisa dikatakan
bagus, tapi aku ingin membuat Rio tetap terlihat bagus dalam versi apapun, yang
sebenarnya aku lebih suka Rio versi aslinya.
Rio, Rio, dan Rio selama perjalanan menuju Malioboro membuat
pikiranku terusik atas perasaan bersalah yang pernah kurasakan saat di
dekatnya. Aku merasa takut dan merasa bersamanya bukan hal yang terbaik. Tapi,
sampai sejauh ini, aku masih menunggu di balik pintu hanya untuknya.
Aku meminta kepada kusir untuk menurunkan kami di perempatan dekat
Museum Benteng Vredeburg dan melanjutkan perjalanan menuju shelter 3 dengan
berjalan kaki. Suasana senja di Malioboro sangat khas dan menyenangkan dengan
aktifitas pengunjung dan dihibur orkes Malioboro, membuatku berpikir dua atau
tiga kali untuk kembali ke kos.
Aku berhenti tepat di sebrang dimana aku melukis Rio sore itu. Sisi
bertanya padaku, “Ada apa, mbak?”
Selama aku kembali ke Jogja hanya agar bertemu Rio tanpa
memberitahunya, aku belum pernah mengunjungi tempat duduk di depan Monumen
Serangan Satu Maret karena setelah dari Malioboro dan ke Taman Sari, kemudian
aku merasa lelah dan pulang ke kos.
Kali ini aku berniat untuk mengunjungi tempat itu. Aku menyuruh
Sisi untuk pulang dulu dan meyakinkan bahwa aku baik- baik saja serta akan
segera pulang. Setelahnya, aku berjalan menuju tempat itu, menyebrang sendirian
dengan rasa was- was, tapi lega ketika aku sampai di sebrang jalan dan berjalan
menuju tempat duduk dimana aku menggambar Rio.
Semua bangku sudah dipenuhi oleh pengunjung lain. Aku berdiri
seperti orang linglung yang tidak tahu harus kemana. Kulihat di sebelah kiriku
banyak anak- anak muda lainnya sedang duduk di lantai di tepi pagar taman
monumen. Tanpa pikir panjang, kucari tempat yang kosong dan duduk disana.
Untuk sepersekian detik aku seperti orang linglung lagi hingga
akhirnya kuputuskan untuk mengambil buku gambarku dan mulai menggambar lagi.
Kugoreskan pensilku ke kertas gambar hingga terlukis lagi wajah baru Rio yang
sedang melihat ke arah kanan, sama seperti view yang kulihat saat kami
menyebrang.
Sinar matahari senja meredupkan fokusku, tapi bukan itu yang
menggangguku. Beberapa kali blitz kamera memantul ke arahku. Ketika aku
melihat ke arah siapa yang memotret, kutemukan seseorang yang kukenal dan membuatku
terkejut sedang berjongkok hanya beberapa sentimeter di depanku sambil
tersenyum dan membawa kamera di tangannya.
“Akhirnya,” ucapnya dengan nada lega seperti telah menemukan kalung
potongan puzzle yang hilang.
“Rio!” seruku sambil membelalakkan mata. Secara reflek, tanganku
mengayun dan mengalungkannya ke leher Rio. Air mataku membuat tubuhku memanas
dan darahku mendidih saat memeluknya. Seketika, aku tersadar jika yang
kulakukan ini terlihat aneh bagi Rio mengingat kami hanya berteman biasa, bukan
siapa- siapa, hanya teman.
Kulepaskan pelukanku dan kuhapus air mataku. Wajah kami sama- sama
bingung, namun lebih parahnya, darah panas berpusara di pipiku sehingga pipiku memerah.
“Maaf!” seruku seketika sambil menunduk dan memeluk buku gambarku.
“Kalau kamu peluk seperti itu, bukunya bakal rusak, gambarku juga
pasti rusak,” ucapnya ketika hampir beberapa detik kami larut dalam diam.
Rio mengambil bukuku dan membukanya dari lembar pertama. Aku masih
tertunduk malu dan belum menyadari bahwa Rio sedang mengeksekusi hasil karyaku.
“Kenapa selama ini kamu diam?” tanya Rio sambil mengangkat daguku
pelan.
Pandanganku terarah pada setiap lukisan yang kugambar di bukuku
yang sekarang berada di tangan Rio. Aku membulatkan mulutku tidak percaya dan
bertambah malu sehingga kututup wajahku dengan kedua tanganku.
Dengan pelan, malu- malu, dan keberanian yang terpaksa, aku
menjelaskan kepada Rio bahwa aku menyukainya sejak ia mengajakku berkencan
beberapa bulan lalu. Kujelaskan bagaimana aku menyukainya dengan segala
sifatnya yang terkadang perhatian dan terkadang cuek saat kami berkencan.
Kuceritakan pula bagaimana aku memendam perasaan ini, menunggunya untuk
bertanya apakah aku menyukainya, dan menantinya di setiap sudut Kota Jogja yang
dulu pernah kami telusuri ketika aku datang kemari.
Untuk sesaat setelah aku menjelaskan semuanya, kami berada dalam
diam. Namun sinar matahari senja yang menyirami kami menghapus semua
kesengsaraan ketika Rio menarik nafas dalam- dalam dan akhirnya berkata, “Butuh
waktu buatku supaya berani untuk jujur sama kamu sejak dari kita bertemu
pertama kali. Butuh waktu juga buatku untuk nunggu kamu datang kemari. Selama
ini aku juga selalu pergi ke tempat dimana kita pergi dulu, tapi hanya disini,
menurutku, dimana kita bakal ketemu. Karena disinilah aku benar- benar yakin
sama perasaanku, Nes, saat kamu lukis aku untuk pertama kalinya. Dan akhirnya,
butuh waktu juga biar kamu ada disini.”
Perasaan bersalah yang selama ini mengusikku roboh seperti Tembok
Berlin ketika aku mendengar penjelasannya dan menatap raut keseriusannya.
Perasaan bersalah itu, menurutku, adalah perasaan dimana aku mulai jatuh cinta
padanya, namun ada ketakutanku untuk mengungkapkannya dan malah membiarkannya
tumbuh menjadi duri, mengusikku.
Namun, yang kulihat kini adalah potret dari semua lukisanku,
gambarku, yang ada di buku menjadi sebuah objek nyata yang bisa kumiliki tanpa
adanya rasanya bersalah lagi.
Akhirnya.
g
Inspired by Hingga Ujung Waktu - Sheila On 7
Niput,
17/04/13/21:36
