Kamis, 06 Maret 2014

Cerita Kampus - Hingga Ujung Waktu

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, Maret 06, 2014 0 komentar
Aku tidak tahu kita bermula darimana. Kita bertemu dengan tanpa sengaja dan merasakan sesuatu. Aku selalu kembali ke tempat itu, berharap aku akan bertemu denganmu, dengan tanpa sengaja pula. Aku menunggu, begitu jugakah kamu?
Cuaca siang hari ini cerah sehingga membuatku memicingkan mata untuk melihat ke arah depan. Silau menyambut pandanganku ketika turun dari bus. Aku berjalan sambil menutupi jidatku dengan tangan, melindungi pandanganku. Aku berjalan menuju shelter bus trans dan melanjutkan perjalanan lagi.
Antrean penumpang sangat ramai, tapi aku masih dapat masuk ke dalam bus sehingga tidak perlu menunggu bus lain lagi yang datang. Kugelantungkan tanganku dan berpegangan pada tiang untuk menjaga keseimbangan. Jejeran toko- toko dan rumah- rumah warga menghiasi keramaian Kota Jogja di terik siang ini. Ketika bus yang kutumpangi melintasi kawasan Universitas Gajah Mada, memoriku kembali singgah dengan sosokku yang sedang berjalan dideretan rumah- rumah kos kemudian berhenti di sebuah bangunan dengan tanaman rambat ketika seorang mahasiswa Universitas itu menghentikan motornya di depanku.
Sekali lagi aku datang kemari untuk menjemput sesuatu. Kepastian.
g
Sosok gadis beralis tebal menyambutku di warung bubur ijo. Ia memang sedang menungguku disitu. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihatku tiba.
“Akhirnya!” serunya.
Aku memeluk Sisi, adikku, yang selanjutnya kami berdua berjalan menuju kosnya. Ia membantuku membawakan beberapa kantong plastik berisi jajanan untuk kami. Setibanya di kamar kos Sisi, aku meletakkan tas punggungku dan merebahkan tubuhku.
“Beruntung beberapa bulan lalu mbak udah beliin aku kipas!” serunya sambil menyalakan kipas angin.
“Iyalah, kalau enggak, bakal mati kepanasan kayak cacing kita!” seruku menimpali sambil tertawa.
“Untung aja mama mau kasih uangnya,” ujarnya yang kemudian merebahkan dirinya di sampingku, “tapi kasihan mama juga, pengeluarannya nambah karena kita sama- sama kos, kan, mbak?”
“Biarin, deh,” jawabku, “abis aku keterima kuliahnya di Solo, sih.”
“Tapi, mama tahu nggak, mbak, kalau mbak kesini?” tanya Sisi.
“Tahu kok, makanya aku dikasih uang lagi,” jawabku santai, “buat kita berdua.”
“Beneran?” tanya Sisi sambil bangkit dan memastikan apa yang kukatakan. Wajahnya nampak senang ketika aku meyakinkan dia. Tiba- tiba dia berseru, “Shoppiiiingg!!”
g
Budaya konsumtifku dan adikku sangat menggila. Kami sama- sama boros dan kalap, tapi untuk barang- barang tertentu seperti novel, aksesoris, dan makanan.
Belum sempat aku tidur siang karena baru saja tiba di Jogja, Sisi sudah mengajakku untuk pergi ke Taman Sari, istana air milik Keraton Jogja yang berada di Keraton Selatan. Untuk menuju kesana cukup sulit karena kami tidak membawa kendaraan pribadi, sehingga kami harus menggunakan transportasi umum.
Pertama, kami harus naik bus trans menuju Malioboro, kemudian dari situ Sisi memaksa untuk menggunakan dokar menuju Taman Sari. Aku cukup lelah hari ini, tapi tujuanku kemari memang bukan untuk berlibur dan beristirahat dari rutinitas perkuliahan –– bahkan aku membawa beberapa tugasku kemari.
Selama perjalanan menuju Malioboro, aku duduk di dalam bus sambil mengulang kembali rekaman kenanganku bersama Rio, pemuda asal Sumatra Utara yang berkuliah di Jogja. Jalanan ini pernah kami susuri berdua menuju ke tempat- tempat yang menjadi saksi bisu munculnya perasaanku padanya.
Adikku mencolek lenganku ketika kami melewati toko es krim yang pernah kukunjungi bersama Rio. “Mbak Nesa, lihat tuuuh.”
Aku tersenyum singkat melihatnya menggodaiku. Kepalanya yang ia sandarkan di bahuku membuat kerudungku miring dan kesempatan ini kubalas untuk memiringkan kerudungnya karena ia menggodaiku.
“Dulu waktu mbak Nesa kesitu sama dia juga pake kerudung soft pink ini, kan?” celetuknya lagi.
“Apaan sih,” jawabku sambil malu- malu. Kutarik beberapa juntai alis tebalnya hingga ia mengaduh.
Sisi tetap saja menggodaiku. Tapi, sejujurnya, aku menikmati setiap kata yang membuat perutku tergelitik karena pertemuanku bersama Rio disitu.
g
“Fotoin aku dulu dong!” seruku kepada Kak Rick.
“Nggak mau, kamu fotoin aku dulu. Buruan! Mumpung dia masih disitu, Nes!” seru Kak Rick.
Dua temanku yang lainnya tidak membantuku untuk memenuhi kemauan Kak Rick. Mereka malah berdiri agak jauh dari kami dan menertawai nasibku. Dengan kesal aku menekan tombol di kameraku dan mendapati wajah kekanak- kanakan Kak Rick yang sedang jatuh cinta pada salah satu peserta seminar Eco-Youth di Jogja. Bagiku, tampang tololnya semakin memuakkan ketika gadis yang menjadi targetnya mau diajak foto bersama.
Di lain pihak, aku juga ingin di foto di jajaran pot besar di sisi kolam di Taman Sari. View yang kudapat disitu sangat bagus dan terlihat seperti bukan di Indonesia. Aku ingin berfoto disitu karena lumayan sepi sehingga tidak ada orang yang lewat kesana kemari dan merusak fotoku.
Setelah ia puas berfoto dengan gadis dari Bandung itu, Kak Rick malah pergi bersamanya dan tidak menepati janjinya untuk memotretku. Bibirku manyun seburuk bebek karena jengkel pada Kak Rick.
Kusandarkan tubuhku di tembok yang tinggi di depan kolam sambil memotret apapun untuk menghilangkan kejenuhanku. Kugeser kameraku dari kiri ke kanan untuk mendapat objek yang kupotret.
Aku sedikit tersentak ketika kameraku menangkap objek di sebelah kananku. Seorang laki- laki yang cukup tampan dan lebih tinggi sepuluh sentimeter dariku sedang berdiri di depan kameraku. Rambut jambulnya bergerak pelan mengikuti angin yang berhembus. Alisnya tebal dan mata tajamnya menatapku lembut. Sekali, dua kali, tiga kali kujepretkan kameraku ke arahnya.
“Mau kubantu?” tanyanya.
Kuturunkan kameraku dan balik bertanya, “Maaf, bantu apa, ya?”
Tutur katanya sopan dan berniat membantu, ia bukan tipikal orang jahat. Ia hanya ingin menolongku untuk memotretku di deretan pot- pot besar di tepi kolam. Ia berkata jujur bahwa ia memperhatikanku dan Kak Rick yang saling berebut untuk difoto. Aku yakin kami terlihat sangat konyol seperti anak kecil tadi.
Mengingat tidak ada orang lain yang bisa kuandalkan, aku setuju dengan tawaran pemuda dengan rambut menari itu. Ia memotretku beberapa kali di pot besar dan juga di dinding tempatku bersandar tadi.
Setelah sesi foto- foto, aku diajaknya berjalan- jalan di area Taman Sari. Ia menerangkan setiap bagian di taman ini seperti pemandu tour. Tempat yang menjadi favoritku seketika adalah bagian bangunan yang dulunya tempat mandi para selir Raja. Konon, jika ada yang merendamkan kakinya di kolam itu, maka orang itu akan cepat menemukan jodoh dan akan langgeng dengan pasangannya.
Bagiku, mitos- mitos dan legenda sama halnya seperti dongeng, dan aku menyukai hal itu serta yakin dengan hal itu selama yang diramalkan adalah hal- hal baik. Alas kakiku kulepas dan aku meraih tangan pemuda itu yang bernama Rio yang juga peserta seminar Eco-Youth. Kami sama- sama merendam kaki disitu dan ia beberapa kali memotretku. Sesekali aku meminta pengunjung lain untuk memotret kami untuk kenang- kenangan.
Aku sangat senang dengan kegiatan hari terakhir di seminar Eco-Youth ini. Walaupun Kak Rick sempat membuatku jengkel, ternyata datang Rio yang membuat hari ini bukan hari yang pantas untuk dilupakan.
Di akhir pertemuanku dengan Rio, saat kami kembali ke kamar hotel masing- masing, ia meminta nomor ponselku dengan setengah ragu seolah- olah aku tidak akan memberikan nomorku padanya. Namun, wajahnya terlihat lega setelah kuketikkan dua belas digit nomor di ponselnya dan kami pun berpisah di depan lift hotel.
g
“Kita pakai dokar yang itu aja, ya, mbak!” seru Sisi sambil menarik- narik lenganku ketika kami turun dari bus trans di shelter Malioboro.
Sebenarnya, mau minta pendapatpun percuma karena Sisi akan tetap menarikku ke dokar yang ia pilih. Setelah bernegosiasi harga dengan pemilik dokar, aku dan Sisi langsung duduk di kursi penumpang.
Jalanan yang kutelusuri bersama Sisi menuju Taman Sari ini adalah jalan yang dulu pernah aku dan Rio telusuri juga. Aku dan Rio pernah sholat di masjid di kiri jalan dekat gedung pemerintah, tapi entah apa itu. Sepanjang jalan emperan Malioboro juga merekam kebersamaanku dengan Rio. Kemudian tempat duduk di depan Monumen Serangan Satu Maret juga mengingatkanku untuk pertama kalinya menggambar wajahnya, dengan tanganku sendiri, bukan melalui kamera.
“Mbak yakin kali ini bakal ketemu dia disana?” tanya Sisi yang mendapatiku sedang putus asa mengingat setiap tempat dimana aku dan Rio menghabiskan waktu.
“Siapa yang tahu, Si?” tanyaku balik.
“Tapi, mbak Nesa udah tiga kali ini, lho, datang kesini cuman buat mau ketemu dia tanpa kasih kabar ke dia lewat sms ataupun sosial media,” kata Sisi.
“Kalau kami punya insting yang sama, kami bakal ketemu tanpa harus kasih kabar kok, Si,” responku membela diri.
“Jangan bilang kalau jodoh itu nggak bakal kemana, deh, mbak. Dua kali, bahkan tiga kali ini mungkin, mbak ke Taman Sari, ke Toko es krim yang tadi, ke Malioboro, sama kemana lagi, hasilnya tetep aja, kan, nggak ketemu dia? Setahun ini, lho, mbak, setahun ini. Mbak apa nggak capek sama hal yang nggak pasti ini?” cerocos Sisi.
Bukan aku mengelak menerima kenyataan bahwa dua kali lalu kedatanganku ke Jogja memang sia- sia semenjak aku merasa bahwa Rio benar- benar setengah sayap untukku, hidupku. Tapi, bukan berarti yang ini akan sama sia- sianya dengan yang lalu.
Sisi akhirnya diam dengan tangan bersedaku dan punggungnya bersandar di sandaran kursi dokar. Kulihat raut wajahnya sama khawatirnya dengan perasaanku. Aku tahu ia adik yang baik walaupun terkadang menyebalkan, tapi aku berusaha menutupi setiap ekspresi yang menandakan aku benar- benar ingin bertemu Rio.
g
“Bapaknya tadi sampai hafal, ya, mbak?” komentar Sisi saat kami memasuki area Taman Sari.
Aku tahu pernyataan itu, dengan nada seperti yang kudengar barusan, bukan bermaksud untuk berpendapat saja. Sisi mencoba menyindirku karena aku sudah datang kemari tiga kali ini dengan buku gambar yang kubawa dan hasil yang sama. Mungkin. Sore ini adalah jawabannya.
Aku duduk di pojok kolam di sudut yang cukup adem dan tidak silau cahaya matahari sore. Aku dan Sisi berada di bagian tempat mandi para selir raja di istana air Taman Sari. Kami mulai membuka lembar buku gambar kami dan mulai menggambar apapun yang pantas menjadi objek kami. Terkadang, kami tidak menggambar apa yang di depan kami, kami hanya butuh tempat dan inspirasi untuk menggambar. Salah satu tempat dimana inspirasi kami mengalir adalah bagian istana air yang satu ini.
Dalam kurun waktu lima belas menit, aku dan Sisi sudah menyelesaikan satu gambar. Kami pun saling menukar buku dan mengomentari masing- masing gambar. Kulihat Sisi membuka bukuku dari lembar awal dan menemukan wajah Rio hasil goresan tanganku di setiap lembarnya.
“Aku nggak tahu kalau Mbak Nesa secinta ini sama Rio,” katanya sambil mengembalikan bukuku. “Okelah, kayaknya aku mau pindah tempat, mbak masih mau disini?”
Kurasakan mataku terasa pedas dan air mata memenuhi mataku ketika mendengar komentar Sisi. Aku seketika menunduk dan membuka buku gambarku, mencoba menyembunyikan retakan rasa kecewa pada diriku sendiri dari Sisi.
“Aku nanti nyusul kamu, sms aja kamu dimana, ya!” kataku sambil memulai menggesekkan ujung pensil di kertas gambarku.
Kudengar langkah Sisi menjauhiku, baru aku berani mendongak dan melihat punggungnya menghilang dari peredaran pandanganku. Kuusap air mataku yang mengalir lembut di pipiku dan membuat panas tubuhku meningkat beberapa derajat. Kualihkan pandanganku ke objek yang bukan kumaksudkan sebagai objek gambarku karena hanya satu objek di dalam kepalaku yang selalu ingin kugambar. Rio.
g
Aku berjalan di gang yang kanan kirinya merupakan bangunan kos tingkat dua dengan taman kecil yang menghiasi setiap bangunan. Pandanganku lurus ke depan sambil membayangkan bagaimana wajah Rio sekarang ini.
Aku menghentikan langkahku di depan bangunan kos yang memiliki tumbuhan rambat di dindingnya dan merayap ke pohon yang ada di depannya. Setiap akarnya yang merayap memiliki cabang lain dan ditumbuhi daun serta bunga berwarna putih. Laki- laki yang mengenakan masker penutup mulut menghentikan motornya di depanku. Ketika ia membuka masker dan tutup helmnya, senyum laki- laki itu menimbulkan letusan kembang api di kepalaku. Reaksi yang kuberikan sama antusiasnya dengan letusan kembang api itu.
“Nesa,” sapanya sambil tersenyum padaku.
“Rio,” balasku dan membalas senyumnya.
Aku mungkin akan tetap terus terdiam menikmati garis wajahnya yang tegas kecuali Rio menyodorkan helm kepadaku dan menyuruhku segera naik ke motornya. Hari ini Rio mengajakku jalan- jalan mengelilingi Jogja karena aku sedang berlibur disini. Sebenarnya aku tidak mau merepotkannya, tapi mumpung aku disini dan ia menawari maka aku mengiyakan ajakannya.
Destinasi pertama di siang ini adalah toko es krim. Setibanya kami disana, Rio memintaku untuk memilih tempat duduk. Kupilih meja nomor 18 yang dekat dengan wastafel dan berhadapan langsung dengan taman toko es krim itu. Rio datang dengan membawa menu dan bercanda seolah ia adalah pramuniaga di toko itu. Kubiarkan Rio memilih pesanannya dulu baru aku yang memesan. Setelah itu, kami menunggu pesanan datang sambil bertukar kabar selama kami tidak bertemu beberapa bulan setelah seminar Eco-Youth.
Aku begitu menikmati setiap detik pembicaraan dengan Rio, walaupun terkadang Rio terlihat salah tingkah dan tidak mengatakan sepatah katapun, sehingga aku harus memulai pembicaraan dan ia baru menanggapi. Sedetik, aku merasa yang kulakukan dengannya hari ini seperti sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang mungkin akan membuatku senang, tapi juga menyesal. Es krim coklatku yang sudah datang dan kumakan habis tidak membantuku untuk melegakan perasaan mengganjal ini. Aku tetap menampung perasaan mengganjal ini hingga kami melanjutkan destinasi ke Malioboro.
Aku begitu tertarik dengan hal- hal baru yang kulihat di pemandangan kanan kiriku selama perjalanan menuju Malioboro. Stadion olah raga, jejeran toko- toko, dan bangunan- bangunan lainnya membuatku mengurangi rasa bosan dengan pemandangan yang kulihat setiap hari di Solo.
Setibanya kami di kawasan Malioboro, Rio mengajakku untuk singgah beribadah dulu di masjid dekat kami memarkirkan motor, baru setelah itu kami menyebrang ke sisi jalan untuk memuaskan mata melihat pernak- pernik yang di jual di emperan toko sepanjang Malioboro.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku memanas otomatis ketika Rio bergerak gesit ke sebelah kananku dan merangkul bahuku saat kami menyebrang. Nafasku begitu tidak teratur saat menyadari aku sangat dekat dengan Rio. Tangannya yang merangkulku seperti sayap yang menghangatkanku, membuatku berkeringat dingin, tapi kurasakan pipiku memanas, hanya aku berharap Rio tidak mendapatiku sedang tersipu malu karenanya.
Sukses membuatku senang sesaat, Rio pun melepaskan rangkulannya ketika kami sudah menyebrang, membuatku gemas dan merutuki jalanannya yang tidak lebar. Setelah itu, semua berjalan normal seperti biasa. Rio kembali diam dan menungguku untuk mengajaknya bicara walau kadang- kadang ia menawariku barang- barang yang menurutnya aku suka.
Perjalanan sepanjang Malioboro ini ingin segera kuakhiri karena Rio tidak bersikap manis lagi seperti tadi saat kami menyebrang. Raut wajahku mungkin terlihat sangat loyo sehingga Rio berkata, “Kamu capek? Ayo duduk disana, mumpung nggak panas- panas banget kalau jam lima.”
Aku mengikuti arah jari Rio menunjuk dan mendapati tempat duduk di taman depan Monumen Serangan Satu Maret. Aku tersenyum senang dan menyetujui ajakan Rio. Untuk menuju kesana, kami harus menyebrang lagi. Dan saat kami menyebrang, Rio akan bersikap perhatian lagi padaku.
Cara curang ini begitu membuatku terlena dan menggelitik perutku, tapi perasaan mengganjal itu tiba lagi. Aku merasa sangat bersalah saat aku merasa senang di dekatnya. Namun, kutepis segera perasaan itu saat kami menyebrang dan Rio memperlakukan hal yang sama seperti tadi padaku.
Perasaan bersalah tadi masih muncul dalam hatiku, tapi aku mencoba untuk merasa santai dan tidak berpikir macam- macam. Kami duduk di dekat pohon tinggi yang membuat kami merasa adem. Seketika, naluri menggambarku muncul dan kutawarkan pada Rio untuk kugambar.
“Aku mau asalkan aku kelihatan cakep digambarmu,” ucapnya menyetujui.
“Aku bakal ngelakuin apapun kalau kamu nggak kelihatan cakep di gambarku,” balasku sambil tersenyum dan mulai bekerja. Kugoreskan pensilku di kertas gambar dan membentuk setiap detail wajah Rio dan tubuhnya. Kunikmati setiap detail yang ada dirinya hingga goresan terakhir berupa tanda tanganku yang terletak di pojok kanan bawah kertas.
g
Kuedarkan pandanganku ke penjuru area demi menemukan dimana Sisi berada hingga akhirnya kutemukan sosok mungilnya yang sedang menggambar gadis bule berusia 6 tahunan. Kudekati adikku dan tersenyum ramah pada orangtua gadis kecil bule itu.
“Mbak udah selesai?” tanya Sisi ketika ia sudah selesai menggambar dan memberikan hasilnya pada gadis itu, “Maaf, ya nunggu lama. Aku, kan, nggak fasih bahasa inggris, aku takut kalau nolak permintaan bulenya malah ditanya macem- macem.”
Aku tertawa mendengar alasan adikku. Ia memang kurang fasih dalam pronounciationnya, tapi secara umum ia dapat berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa inggris. “Kamu dapat duit nggak?”
“Tadinya aku mau dibayar, tapi aku tolak, lah. Gambarku belum sempurna, dia udah bilang aku artist, artist,” ujarnya sambil kami berjalan menuju dokar pesanan kami untuk kembali ke Malioboro.
“Tadi aku juga ngobrol sebentar sama orangtuanya, dia juga panggil aku artist, artist. Kayak dia nggak pernah lihat orang lagi gambar,” kataku.
Kami masih melanjutkan percakapan tentang keluarga bule tadi selama perjalanan menuju Malioboro. Kemudian disambung objek apa saja yang sudah kami gambar. Sisi hanya menghela nafas ketika aku berkata hanya Rio yang kugambar. Rio versi sketsa, versi cartoon, dan versi anime. Walaupun belum bisa dikatakan bagus, tapi aku ingin membuat Rio tetap terlihat bagus dalam versi apapun, yang sebenarnya aku lebih suka Rio versi aslinya.
Rio, Rio, dan Rio selama perjalanan menuju Malioboro membuat pikiranku terusik atas perasaan bersalah yang pernah kurasakan saat di dekatnya. Aku merasa takut dan merasa bersamanya bukan hal yang terbaik. Tapi, sampai sejauh ini, aku masih menunggu di balik pintu hanya untuknya.
Aku meminta kepada kusir untuk menurunkan kami di perempatan dekat Museum Benteng Vredeburg dan melanjutkan perjalanan menuju shelter 3 dengan berjalan kaki. Suasana senja di Malioboro sangat khas dan menyenangkan dengan aktifitas pengunjung dan dihibur orkes Malioboro, membuatku berpikir dua atau tiga kali untuk kembali ke kos.
Aku berhenti tepat di sebrang dimana aku melukis Rio sore itu. Sisi bertanya padaku, “Ada apa, mbak?”
Selama aku kembali ke Jogja hanya agar bertemu Rio tanpa memberitahunya, aku belum pernah mengunjungi tempat duduk di depan Monumen Serangan Satu Maret karena setelah dari Malioboro dan ke Taman Sari, kemudian aku merasa lelah dan pulang ke kos.
Kali ini aku berniat untuk mengunjungi tempat itu. Aku menyuruh Sisi untuk pulang dulu dan meyakinkan bahwa aku baik- baik saja serta akan segera pulang. Setelahnya, aku berjalan menuju tempat itu, menyebrang sendirian dengan rasa was- was, tapi lega ketika aku sampai di sebrang jalan dan berjalan menuju tempat duduk dimana aku menggambar Rio.
Semua bangku sudah dipenuhi oleh pengunjung lain. Aku berdiri seperti orang linglung yang tidak tahu harus kemana. Kulihat di sebelah kiriku banyak anak- anak muda lainnya sedang duduk di lantai di tepi pagar taman monumen. Tanpa pikir panjang, kucari tempat yang kosong dan duduk disana.
Untuk sepersekian detik aku seperti orang linglung lagi hingga akhirnya kuputuskan untuk mengambil buku gambarku dan mulai menggambar lagi. Kugoreskan pensilku ke kertas gambar hingga terlukis lagi wajah baru Rio yang sedang melihat ke arah kanan, sama seperti view yang kulihat saat kami menyebrang.
Sinar matahari senja meredupkan fokusku, tapi bukan itu yang menggangguku. Beberapa kali blitz kamera memantul ke arahku. Ketika aku melihat ke arah siapa yang memotret, kutemukan seseorang yang kukenal dan membuatku terkejut sedang berjongkok hanya beberapa sentimeter di depanku sambil tersenyum dan membawa kamera di tangannya.
“Akhirnya,” ucapnya dengan nada lega seperti telah menemukan kalung potongan puzzle yang hilang.
“Rio!” seruku sambil membelalakkan mata. Secara reflek, tanganku mengayun dan mengalungkannya ke leher Rio. Air mataku membuat tubuhku memanas dan darahku mendidih saat memeluknya. Seketika, aku tersadar jika yang kulakukan ini terlihat aneh bagi Rio mengingat kami hanya berteman biasa, bukan siapa- siapa, hanya teman.
Kulepaskan pelukanku dan kuhapus air mataku. Wajah kami sama- sama bingung, namun lebih parahnya, darah panas berpusara di pipiku sehingga pipiku memerah. “Maaf!” seruku seketika sambil menunduk dan memeluk buku gambarku.
“Kalau kamu peluk seperti itu, bukunya bakal rusak, gambarku juga pasti rusak,” ucapnya ketika hampir beberapa detik kami larut dalam diam.
Rio mengambil bukuku dan membukanya dari lembar pertama. Aku masih tertunduk malu dan belum menyadari bahwa Rio sedang mengeksekusi hasil karyaku.
“Kenapa selama ini kamu diam?” tanya Rio sambil mengangkat daguku pelan.
Pandanganku terarah pada setiap lukisan yang kugambar di bukuku yang sekarang berada di tangan Rio. Aku membulatkan mulutku tidak percaya dan bertambah malu sehingga kututup wajahku dengan kedua tanganku.
Dengan pelan, malu- malu, dan keberanian yang terpaksa, aku menjelaskan kepada Rio bahwa aku menyukainya sejak ia mengajakku berkencan beberapa bulan lalu. Kujelaskan bagaimana aku menyukainya dengan segala sifatnya yang terkadang perhatian dan terkadang cuek saat kami berkencan. Kuceritakan pula bagaimana aku memendam perasaan ini, menunggunya untuk bertanya apakah aku menyukainya, dan menantinya di setiap sudut Kota Jogja yang dulu pernah kami telusuri ketika aku datang kemari.
Untuk sesaat setelah aku menjelaskan semuanya, kami berada dalam diam. Namun sinar matahari senja yang menyirami kami menghapus semua kesengsaraan ketika Rio menarik nafas dalam- dalam dan akhirnya berkata, “Butuh waktu buatku supaya berani untuk jujur sama kamu sejak dari kita bertemu pertama kali. Butuh waktu juga buatku untuk nunggu kamu datang kemari. Selama ini aku juga selalu pergi ke tempat dimana kita pergi dulu, tapi hanya disini, menurutku, dimana kita bakal ketemu. Karena disinilah aku benar- benar yakin sama perasaanku, Nes, saat kamu lukis aku untuk pertama kalinya. Dan akhirnya, butuh waktu juga biar kamu ada disini.”
Perasaan bersalah yang selama ini mengusikku roboh seperti Tembok Berlin ketika aku mendengar penjelasannya dan menatap raut keseriusannya. Perasaan bersalah itu, menurutku, adalah perasaan dimana aku mulai jatuh cinta padanya, namun ada ketakutanku untuk mengungkapkannya dan malah membiarkannya tumbuh menjadi duri, mengusikku.
Namun, yang kulihat kini adalah potret dari semua lukisanku, gambarku, yang ada di buku menjadi sebuah objek nyata yang bisa kumiliki tanpa adanya rasanya bersalah lagi.
Akhirnya.
g
  Inspired by Hingga Ujung Waktu - Sheila On 7
Niput,

17/04/13/21:36

Selasa, 25 Desember 2012

Cerita Kampus- Drama

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 25, 2012 0 komentar

Berilah ruang gerak bagi pejalan kaki dengan berhenti di belakang garis berhenti.
Kendaraan roda dua berada di jalur kiri. Nyalakan lampu kendaraan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari, dan gunakan helm SNI.
...Taatilah rambu- rambu lalu lintas demi keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan perjalanan Anda.
Pesan ini disampaikan oleh Satlantas...
Anak kecil yang kupangku tertawa terbahak- bahak saat melihatku menirukan suara yang muncul dari speaker saat bus yang kutumpangi berhenti di lampu lalu lintas. Ia tertawa dan memukul pipiku dengan lembut.
“Yagi, yagi..,” katanya.
“Lagi?” tanyaku sambil memencet hidungnya yang mungil.
 Ia mengangguk, tapi ibu sang anak menariknya dari pangkuanku dan berkata, “Kakak cantik sudah mengulanginya tiga kali, lho, sayang. Kasihan kakak cantik, pasti capek.”
Si anak kecil langsung berwajah muram, tapi tidak mengamuk. Ia langsung tenang dalam pangkuan ibunya walau wajahnya masih menghadap ke arahku dengan tatapan, “Kakak, ayo ulangi lagi” dan aku hanya tersenyum padanya.
Siapa anak kecil itu, aku tidak tahu, apalagi ibunya. Kami baru saja bertemu saat aku naik ke bus trans kota dari shelter dekat rumahku untuk menuju kampus. Saat aku masuk, kami hanya saling tersenyum dan karena tidak ada tempat duduk kosong selain di sebelah mereka, aku pun duduk disamping mereka. Saat aku duduk, aku mencoba tidak menarik perhatian siapapun, tapi aku sangat suka terhadap anak kecil sehingga aku mulai tersenyum padanya hingga bertanya- tanya pada ibunya, dan akhirnya si anak kecil lengket padaku dan meminta untuk duduk di pangkuanku.
Aku seperti kehilangan mainanku saat sang ibu mengambil kembali anaknya dari pangkuanku, terlebih karena memang mereka akan turun di shelter selanjutnya. Mereka pamit padaku saat akan turun. Si anak kecil tidak henti- hentinya memandangiku dan melambaikan tangannya seraya berkata, “Dadaah, kakak!”
Aku tersenyum getir saat busku melaju lagi dan aku mulai sendirian walau dalam bus ini cukup ramai penumpang. Terlebih lagi, penumpang yang baru masuk adalah orang yang kupikir cukup tua, sehingga aku mempersilakan salah satu dari mereka duduk di tempat dudukku dan aku berdiri sambil menggantungkan tanganku di gantungan yang disediakan.
Aku tidak terlalu menyesal melakukan itu karena itulah yang seharusnya kulakukan kepada orang yang lebih tua untuk menjaga sopan santun dan tata krama yang diajarkan orangtuaku. Dengan headset yang kupasang di telinga dan mendengarkan lagu- lagu favoritku, aku memanjakan mataku dengan pemandangan jalan di sekitar menuju kampus. Beberapa bangunan kantor kuno yang menjadi sejarah kotaku berjajar memberi patokan bahwa aku akan sampai di kampus. Ketika busku melewati Tugu yang menjadi simbol kotaku, aku beranjak mendekati pintu dan tersenyum pada pak kondektur. Ketika sampai, ia mempersilakanku keluar dan tersenyum ramah padaku.
Aku berjalan menuju gedung UKM kampus sambil menikmati udara mendung Minggu pagi ini. Hal yang sulit untuk dikompromi jika akhir minggu seperti ini harus kuhabiskan untuk pergi ke kampus. Tapi, hal ini harus kulakukan karena UKM yang kugeluti akan mengadakan pementasan drama. Pementasan drama dari UKM teater ini berjudul Hanoman Obong, seperti pementasan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Yang menjadikan ini berbeda adalah tipe pementasan, yaitu drama, sedangkan yang ada di Candi Prambanan merupakan sendratasik.
Aku tiba di hadapan teman- temanku yang sudah berkumpul dan berbincang- bincang, entah apapun itu. Aku menyapa mereka dan dengan gembira mereka menyapaku juga, kecuali laki- laki yang duduk paling jauh dari jangkauanku, Iqbal. Meskipun suaraku sekeras speaker masjid, ia bahkan tidak akan menoleh padaku. Jahat!
“Hera, kamu bawa krupuknya, kan?” tanya Bembi, laki- laki paling gemuali di teater ini.
Aku menggangguk dan mengeluarkan kerupuk pasir berwarna merah muda dan putih tulang dari tasku. Krupuk itu kubawa dari rumah karena permintaan teman- teman di teater.
“Bagus!” seru Yumi, anak keturunan Tiong Hoa yang sangat jago bahasa Jawa, “Aku udah bawa sambal rujaknya. Nanti kita pesta, ya!”
Kami semua berseru senang, lagi, kecuali Iqbal. Ini jelas membuatku bingung dan sedih. Ia terlihat lebih pemurung dari biasanya. Kalau spekulasiku benar, mungkin ia menjadi begitu karena aku.
Dua hari lalu, ketika Jum’at malam, kami sudah selesai latihan untuk pementasan. Ia mengajakku makan malam yang kupikir hanya di kucingan saja, ternyata ia membawaku ke coffee shop yang sering kukunjungi. Disana, Iqbal dengan malu- malu tapi mantap menyatakan perasaannya padaku. Aku tentu saja sangat senang, tapi dengan berat hati aku menolaknya. Kukatakan aku juga menyukainya, tapi karena kami satu teater dan aku tidak mau nantinya Iqbal lebih fokus padaku, aku tidak mau ia pilih kasih terhadapku, terutama dalam pemilihan tokoh utama. Iqballah yang mempunyai kekuasaan untuk memilih itu dan aku tidak mau teman- teman berpikiran bahwa ada konspirasi di antara kami jika kami resmi berpacaran. Kupikir Iqbal sudah salah mengerti apa yang kumaksud walaupun sudah jelas sekali kukatakan alasan utamanya.
Kini Iqbal berjalan ke gerombolanku dan berkata dengan jutek, “Kamu udah datang terlambat, malah bikin temen- temen ribut sendiri- sendiri. Cepat duduk! Briefing akan kumulai.”
Aku menatap Iqbal yang kembali menjauhi kami sambil mengecek jam yang baru pukul 8.03. Bembi menggerutu dengan Yumi, “Dia aneh, aku nggak tahu apakah sambal yang Hera buat kemarin membuatnya sedikit kacau.”
“Ya, mungkin kacau, kamu tahu?” kata Yumi sambil menunjuk ke pelipis matanya dengan jari telunjuk lalu diputar- putar, “Disini.”
Aku menarik mereka untuk segera duduk agar Iqbal tidak lebih memarahi kami lagi. Briefing yang kami lakukan sudah berjalan lima belas menit. Kami mendiskusikan tentang penokohan, siapa yang mendapat tokoh siapa. Semua dari kami sudah berlatih untuk menjadi masing- masing karakter di tokoh, jadi hari ini adalah keputusannya untuk menentukan tokoh yang cocok dengan kami masing- masing.
Aku pribadi sangat berharap menjadi Dewi Shinta. Alasan pertama karena Dewi Shinta menjadi simbol bahwa ia sangat setia pada Sri Rama, hal itu sangat romantis, aku bahkan sering tertawa sendiri saat membayangkan aku menjadi Dewi Shinta. Alasan kedua, karena lawan mainku, yang berperan menjadi Sri Rama, yang pasti adalah Iqbal.
Aku sudah berlatih dengan keras untuk menjadi Dewi Shinta. Aku berkeyakinan penuh jika Iqbal akan memilihku menjadi Dewi Shinta, tentunya karena kemampuanku bukan karena ia menyukaiku.
Ketika Iqbal akan mengumumkan tokoh utama wanitanya, temanku yang paling cantik dan bertalenta pula, Virga, yang juga adalah sainganku, baru saja datang dan dengan manja ia berkata, “Maafkan aku, aku terlambat. Kalian maafin aku? Plisss.”
Seketika teman- teman melengos dan menggerutu masing- masing. Aku tersenyum pada Virga dan menyuruhnya duduk di sampingku segera. Secepat kilat langsung kutatap lagi Iqbal, aku takut ia akan memarahi Virga. Padahal kami tahu Virga bukan tipe yang suka dimarahi oleh orang lain, atau dia akan ngambek seperti anak kecil dan membalikkan fakta. Motto hidupnya adalah pasal satu berbunyi Virga selalu benar, jika Virga salah, lihat pasal satu saja!
“Ya, untuk apa Virga meminta maaf?” Iqbal mulai mengomentari, “Virga, kamu datang tepat waktu untuk tahu bahwa tokoh Dewi Shinta akan diberikan padamu.”
***
Diberikan padamu. Ya, padamu. Kamu lebih cocok dan kami tahu kamu sangat bertalenta. Kami harap kita bisa bekerjasama.
Aku masih tidak percaya bahwa aku tidak mendapatkan peran itu. Aku yakin dari latihan- latihan yang lalu dan dengan komentar- komentar dari senior bahwa aku lebih baik daripada Virga membuatku menjadi sangat percaya diri. Tapi, beberapa jam lalu Iqbal mengumumkan bahwa bukan aku yang mendapatkan peran itu. Peranku sendiri adalah kijang yang merupakan jelmaan dari jin, Kalamarica, untuk mengelabui Sri Rama.
Makan siang ini aku sudah menghabiskan beberapa jenis sambal dan kerupuk kesukaanku karena aku sangat marah. Sambal merah, sambal hijau, sambal rujak, dan sambal bawang sudah masuk ke perutku dan membuat sensasi pedas menari- nari, juga keringat yang meluncur saking pedas dan enaknya. Ide itu kudapat agar aku sakit perut dan tidak perlu ikut latihan hari ini yang membuatku malah lebih sakit hati.
Detik ini pun aku sudah di dalam mobil dan mengaduh di kursi belakang. Aku menangis sejadinya karena sakit perut dan sakit hati. Dari kursi depan, mama memperhatikanku sambil berdebat dengan papa agar aku dibawa ke rumah sakit sekalian. Mama bersikeras membawaku ke rumah sakit, sedangakan papa menolak dengan dalih, “Dia sudah besar, seharusnya tahu apa yang harus dan nggak harus dimakan!”. Aku sangat setuju dengan papa, tapi aku juga kesakitan. Akhirnya aku hanya dibawa ke klinik dokter langgananku saat aku masih kecil dan diberi obat. Harapanku obatnya akan bereaksi cukup lama sehingga besok aku tidak usah masuk dan berlatih lagi di teater.
***
Pupus harapanku karena obatnya sangat manjur dan aku sembuh, walaupun begitu aku tetap harus meminum obatnya. Akhirnya aku tetap berangkat ke kampus dengan naik bus lagi, lalu setelah selesai kegiatan kampus, aku sudah diseret- seret oleh Yumi untuk latihan.
Sedih rasanya harus latihan lagi dan disiksa oleh sikap Iqbal yang tambah parah memperlakukanku tidak adil. Mulai dari hari minggu kemarin saat aku hanya terlambat tiga menit, Iqbal bisa memarahiku, sedangkan Virga yang terlambat jauh lebih lama malah dihadiahi pemeran utama. Kemudian, saat melakukan latihan, Iqbal selalu menyalahkan gerakanku yang kupikir sudah sama seperti saat latihan yang lalu dan persis seperti instruksi dari senior yang lain. Puncaknya adalah Iqbal membanding- bandingkanku dengan Virga dan bersyukur di hadapan semua teman- teman bahwa bukan aku yang menjadi pemeran utama karena menurutnya aku melakukan banyak kesalahan.
Aku sungguh marah ia bersikap seperti itu. Dengan semua kekesalanku, kemudian aku berjalan menuju Iqbal dengan mantap, walaupun tanganku bergetar dan jantungku berdegup kencang. Aku menarik Iqbal ke sudut ruangan tanpa menghiraukan teman- teman yang lain berkomentar apa. Pelupuk mataku sudah dipenuhi air mata, tapi kutahan agar aku tetap terlihat tegar dan kuat untuk menyampaikan hal ini.
“Udah kupendam selama beberapa hari ini, udah kucoba untuk nggak bersikap lebih kasar dari apa yang kamu lakuin, udah kutahan agar aku tetap bertahan di teater ini sampai pementasan. Tapi apa salahku aja aku nggak tahu! Aku benci berspekulasi terus tentang sikapmu yang aneh dan lebih nggak adil padaku!” aku menarik nafas panjang dan setitik air mata jatuh di pipiku.
Suaraku mulai bergetar bercampur tangisan yang masih kutahan, “Aku baik sama kamu, kurang baik apa aku sama kamu? Aku tetap datang kesini untuk latihan, walau kamu selalu memarahiku atas kesalahanku dari sudut pandangmu. Aku tetap baik padamu walau aku cukup sakit hati karena aku nggak mendapatkan pemeran utama. Aku bahkan tetap bersikap baik dan nggak menjauhimu setelah kamu nyatain kalau kamu suka sama aku! Aku kurang baik apa sampai kamu harus membanding- bandingkanku sama orang lain? Bagiku ini nggak adil!” Aku berjongkok dan menangis sejadinya setelah kusampaikan semua kekesalanku.
Iqbal berjongkok dan berkata, “Menurutku memang Virga yang lebih pantas menjadi pemeran utamanya. Dan bukannya ini yang kamu mau saat kamu menolakku?”
Aku mendongak ke arah Iqbal dan berkata, “Tapi nggak dengan mencercaku dan bersikap menganak-tirikanku!”
Aku berdiri dan berlari meraih tasku, kemudian pergi ke menara panjat tebing. Aku tidak tahu bahwa Yumi dan Virga mengikutiku. Ketika tanganku sudah menggenggam anak tangga yang berada di bagian belakang menara panjat tebing, Yumi dan Virga menahanku untuk tidak memanjat.
“Apa ini semua karena aku, Hera?” tanya Virga dengan mata berkaca- kaca.
Aku menggeleng. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Jadi, semakin mereka bertanya tentang bagaimana keadaanku malah membuatku lebih tidak baik- baik saja dan aku akan menangis lagi sejadi- jadinya.
Yumi mengulurkan sebatang coklat padaku, walaupun awalnya aku menolak, Yumi tetap memaksa agar kumakan coklat itu. Virga pun menuntunku untuk duduk di pinggir lapangan dan menyuruhku memakan coklat itu sekarang juga.
Satu gigitan besar kumakan, kemudian kuulum. Dengan coklat yang melumer di mulutku, aku memikirkan baik- baik respon yang diberikan Iqbal. Bahkan Iqbal tadi masih saja membanding- bandingkanku dengan Virga. Virga sebenarnya tidak salah apa- apa, tapi Iqbal yang masih saja bersikap tidak adil. Iqbal bahkan membalikkan kenyataan dengan dalih hal ini yang kuinginkan saat aku menolaknya. Setelah semua ini, aku tidak tahu apakah aku akan tetap bergabung di teater ini saat ini juga, setelah pementasan, atau bertahan dengan sikap Iqbal.
***
Beberapa hari ini aku malas sekali untuk latihan. Sudah sering aku diam- diam kabur latihan, tapi semua teman- teman teaterku seperti mata- mata yang mengintai setiap gerak- gerikku, sehingga aku tertangkap basah saat kabur dan dibawa mereka untuk latihan.
Semua menjadi sangat baik padaku, walaupun memang sebelumnya mereka baik padaku. Yang membuat berbeda adalah Iqbal yang tidak cerewet lagi untuk memarahiku. Walaupun aku sangat takut melakukan kesalahan saat beradu akting dengannya, aku mencoba lebih memberanikan diriku untuk mengekspresikan peranku sebagai kijang jelmaan dan lebih membuatnya tahu bahwa aku lebih kuat setelah apa yang ia lakukan padaku. Tema hari ini adalah move on.
Semua yang kulakukan tidak sia- sia. Aku lebih berani untuk mengekspresikan peranku, karena peranku berada di titik dimana konflik cerita ini bermula, sehingga aku harus lebih bisa fokus dan memperdaya penonton dan yang lainnya. Dan untuk pementasan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi, aku sudah siap untuk lebih berekspresi.
Scene demi scene sudah dimunculkan, terutama saat giliranku untuk tampil. Dengan lemah gemulai tapi lincah, aku mencoba menggoda Sri Rama untuk mengejarku, mengalihkan perhatiannya dari keselamatan Dewi Shinta, dan membawanya ke sebuah titik dimana Sri Rama akan membunuhku dengan panahnya. Lampu dimatikan ketika aku tertusuk panah Sri Rama, kemudian aku berlari ke belakang panggung dan muncullah temanku yang berperan sebagai Kalamarica untuk membunuh Sri Rama.
“Tata panggung dan lighting memang sangat mempengaruhi jalan cerita,” komentar Virga yang sebentar lagi akan muncul di scene selanjutnya.
“Semoga sukses, Virga!” seruku menyemangati, kemudian aku menunggu di balik layar hingga pementasan mencapai resolution dimana Dewi Shinta akan menceburkan diri ke dalam api sebagai tanda bahwa ia benar- benar setia pada Sri Rama.
Ada adegan dimana Dewi Shinta menangis tersedu- sedu memohon agar Sri Rama percaya padanya, adegan ini yang menurutku sangat kuat dan membuatku menangis. Tapi, bagi Virga, sulit sekali ia mengeluarkan air mata pada adegan yang ia anggap lebay ini, sehingga ia memakan semua sambal yang kubawa agar menciptakan emosi dan ekspresi yang cetar membahana. Sayangnya, hal itu malah membuatnya sakit perut dan semua panitia kewalahan dengan hal ini. Virga benar- benar tidak bisa melanjutkan perannya.
“Hera, kamu satu- satunya harapan kami, tolonglah,” ucap Yumi saat ia menyarankan agar aku menggantikan peran Dewi Shinta.
“Iya, kamu juga sama berbakatnya seperti Virga,” kata Bembi.
Aku melirik ke arah Iqbal dan bertanya, “Gimana menurutmu?”
Iqbal menatapku datar dan menjawab, “Kenapa aku? Kalau ini demi teater kenapa kamu nggak melakukannya? Be professional, please.”
Aku menimbang- nimbang dengan cemas. Aku kurang yakin Iqbal akan senang dengan hal ini, meskipun ia menyetujui karena demi kelangsungan pementasan, aku tetap merasa ia cukup kesal.
Suara alunan musik berganti, pertanda memasuki scene resolution. Iqbal sebagai Sri Rama menggandengku dengan lemah gemulai. Kami memulai adegan di scene terakhir.
Sri Rama bertanya pada Dewi Shinta, “Apakah selama engkau ditawan, engkau tetap menjaga kesucianmu, wahai Dewi Shinta.”
“Tentu saja, suamiku, wahai Sri Rama,” jawab Dewi Shinta dengan penuh tanya, “apakah engkau tidak percaya padaku?”
“Maafkan aku, Dewi,” ucap Sri Rama dengan tegas kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Dewi Shinta, “aku tidak yakin bahwa kau masih suci setelah selama ini bersama Rahwana.”
Ku keluarkan semua emosiku untuk membangkitkan apa yang dialami Dewi Shinta kepada semua penonton, dan juga Iqbal. Dewi Shinta pun berlutut pada Sri Rama, ia menangis dibawah sang suami, dan memohon agar sang suami percaya padanya. Namun, Sri Rama sulit untuk mempercayai istrinya. Kemudian Dewi Shinta berjalan mundur, ditatapnya Sri Rama dengan penuh keyakinan dan kasih sayang seraya berkata, “Aku akan melompat ke dalam api ini sehingga engkau percaya bahwa aku masih suci dan menghormatimu sebagai suamiku.”
Adegan selanjutnya adalah Dewi Shinta yang melompat ke dalam api, namun ia tidak terbakar karena pertolongan dewa. Akhirnya, Sri Rama percaya bahwa istrinya masih suci, kemudian mereka hidup bahagia. Pementasan pun selesai dan banyak dari penonton yang menyukainya.
Kami semua berpindah ke balik panggung dan merayakan kesuksesan pementasan kami. Virga yang masih sakit perut pun tetap ikut merayakan. Kami semua puas, terlebih aku. Walaupun hanya di bagian akhir cerita aku menjadi Dewi Shinta, aku merasa sangat senang.
Saat kami masing- masing sedang sibuk membersihkan riasan dan melipat kostum, Iqbal datang padaku dan membawakanku minuman isotonik kesukaanku. “Untukmu,” katanya, “kamu benar- benar sangat ekspresif.”
Aku menatapnya sebentar kemudian mengambil botol itu dan berterimakasih padanya. “Aku tahu kamu akan percaya kalau aku juga pantas menjadi Dewi Shinta.”
Iqbal duduk di sampingku dan menjawab, “Iya, kamu udah ngebuktiin itu pas kamu lompat ke dalam api tadi.”
“Untungnya aku nggak perlu lompat ke dalam api beneran,” kataku dengan dilanjutkan tertawa pendek.
Iqbal tersenyum mendengar ucapanku. “Tapi bagiku kamu lebih mirip kijangnya,” katanya sambil menatapku.
Aku menghela nafas, “Apa- apain, sih? Jangan mulai lagi, deh.”
“Enggak kok, yang ini beneran,” ucap Iqbal dengan nada meyakinkan, “kamu lincah, kamu punya semangat buat nunjukkin kamu mampu. Terlebih, kamu udah berhasil buat aku ngejar kamu, tapi kamu nggak bisa kudapatin. Kamu malah berubah jadi jin.”
“Kamu ngomongin aku atau kijangnya?” tanyaku belum mengerti.
Iqbal menepuk jidatnya dan menghela nafas panjang, “Tahu nggak, sih, kamu selalu mengalihkan perhatianku? Apalagi saat kamu jadi kijang tadi, kamu bener- bener udah bikin aku buat kejar kamu. Sama kayak kenyataannya, akhirnya aku juga nggak mendapatkanmu.”
“Kamu yakin?” tanyaku. Aku tidak tahu harus merespon apa karena hanya ingatan tentang drama tadi yang kuingat sekarang. Aku berlari dan menggodanya untuk mendapatkanku.
“Apa aku harus lompat ke dalam api juga?” tanya Iqbal saking gemesnya padaku.
“Kamu kan bukan Dewi Shinta!” seruku sambil menepuk tangannya yang bersedaku di meja.
Dengan cepat Iqbal meraih tanganku dan menggenggamnya seperti tadi saat di panggung. “Aku udah mencoba untuk nggak menspesialkanmu di teater ini dan nggak berpihak sama kamu dalam pemilihan tokoh utama. Aku pikir kamu akan ngerti dengan begitu kamu bisa berubah pikiran dan terima aku. Sayangnya, ini malah bikin kamu berpikir bahwa aku nggak adil dan menganak-tirikanmu,” Iqbal berhenti sejenak dan menarik nafas dalam- dalam, “Hera, tolong percaya sama aku kalau aku bisa memposisikan semua ini dengan benar. Aku sayang sama kamu, sangat sayang sama kamu. Jadi, percayalah.”
Dadaku sesak, panas, dan bergemuruh. Mataku pun panas dan nenar. Aku hanya menggangguk tanpa berkata apa- apa. Aku sungguh ingin semuanya menjadi baik- baik saja setelah ini. Aku rasa inilah resolution di dramaku sendiri.
***The End***

Cerita Kampus - Dear Diary

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 25, 2012 0 komentar

Dear diary, aku nggak tahu harus bercerita pada siapa lagi kalau bukan denganmu, tulisanku sendiri. Sebenarnya, aku nggak mau menodai catatan- catatan harianku ini dengan cerita yang suram, apalagi cerita cinta. Seharusnya, aku membiarkanmu menjadi sebuah buku dengan kenangan- kenanganku yang menyenangkan. Tapi, aku sangat kecewa dan hanya kau yang bisa menjadi tempat curahan hatiku. Dear diary...

Liburan empat hari ini cukup membuatku senang, tapi juga kecewa. Aku senang kalau libur. Hey, siapa yang nggak suka hari libur? Aku! Arghh! Aku gusar kalau harus tahu akan ada kelas pengganti jika ada hari libur di tengah- tengah jadwal akademik. Sebentar- sebentar libur, sebentar- sebentar masuk. Benar- benar kecewa.
Tapi, yang namanya liburan memang harus dinikmati. Maka dari itu aku pulang kampung dimana orangtuaku berada. Setelah satu jam perjalanan dengan mengendarai motor, aku pun sampai di rumah. Yang lebih menyenangkan, sepupuku Airin sudah stand by di kamarku ketika kubuka pintu kamar.
“Hai!!” serunya saat melihatku. Ia berhambur padaku dan berkata, “Tega banget nggak jadi ke Jogja! Tahu nggak, sih, aku udah nunggu- nunggu. Aku udah cerita sama temen- temen kampusku kalau mbak Naira mau dateng! Ternyata apa? Mbak malah nggak jadi!”
Dahiku mengkerut dan memjawab pembelaanku, “Hey, kenapa nggak bilang apa kabar dulu? Apa sapa gimana? Masak iya aku baru dateng kamu udah nyinyir gini gitu? Kamu tahu nggak, sih, kenapa aku nggak jadi ke Jogja? Nggak tahu kan? Mau tahu kan? Makanya, nanti malem tidur sini aja, kita curhat- curhat lagi!”
Wajah Airin sumringah bukan kepalang. Sudah tradisi kalau kami bertemu, kami akan menceritakan apa yang terjadi selama kami nggak bertemu. Yaa, bisa saja kami menceritakan masalah kuliah, tetangga, teman, dan pasti orang yang disukai, orang yang lagi dekat, dan atau apalah mereka seharusnya disebut.
Airin membawa tasku yang berisi buku dan beberapa baju. Sebenarnya disini masih banyak baju, tapi aku ingin saja membawa baju yang baru saja kubeli. Maklum, kebiasaan ini nggak hilang dari SMA. Aku juga membawa beberapa gelang dan kalung yang sama untuk kubagikan dengan Airin, Lunpia khas Semarang yang kubeli dekat kampus untuk orangtuaku, dan aku nggak membawa apapun untuk adik laki- lakiku. Ia laki- laki manja yang menyebalkan. Lunpia saja sudah cukup untuknya.
Mama masuk ke kamar ketika aku dan Airin sedang menggeledah barang bawaanku. Ia berkata, “Ayo makan. Airin juga.”
“Iya, budhe,” katanya lalu meninggalkan pernak- pernik kami. Kalau makan saja langsung datang, batinku.
Aku mengikuti Airin dari belakang menuju ruang makan sambil bertanya pada mama, “Masak apa, nih?”
“Sambal terong sama sosis,” jawab mama yang berjalan menuju dapur.
Ini nggak bisa ditunda- tunda! Makanan favoritku!!!
¯¯¯
Aku baru saja pulang dari mini market membeli coklat instan pesanan Airin serta jajanan untuk dicemil. Aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sedang mendengarkan lagu- lagu korea dari ponselnya sambil berjoget- joget.
I don’t need a man, I don’t a man!” serunya sambil berjoget ala Miss A.
Jinjja?” sambungku, mengagetkannya.
“Eh, dah sampe? Coklatnya ada?” tanya Airin sambil menggeledah isi kantong plastik, “Nah, ketemu!”
Yup, nggak perlu dijawab, kemudian aku menyuruhnya untuk membuat dua gelas coklat instan dan ia menurut. Ketika Airin pergi, aku menoleh ke arah jendela yang belum ditutup. Aku mendekati jendela dan mendapati origami yang bergantung disitu. Origami itu semuanya yang membuat adalah Surya, temanku satu kampus yang ternyata asli orang sini pula. Rumahnya pun nggak jauh- jauh dari kompleks perumahanku. Walaupun begitu, kami nggak pernah bertemu kalau aku pulang ke rumah. Bahkan, di kampusku pun jarang. Entah kemana ia, ia seperti asap yang kesana kemari tanpa pemberitahuan.
Aku memandangi taman belakang rumah dengan pohon mangga yang cukup rindang, dibawahnya ada tempat duduk untuk barbeqiu-an, dan disepanjang dekat dinding ada banyak jenis tanaman dan bunga favoritku. Orangtuaku pandai betul menyuapku dengan pemandangan indah seperti ini saat aku melihat ke luar jendela. Mereka harus melakukan strategi jitu betul untuk membuatku ikut pindah kesini. Walaupun agak sulit, akhirnya aku mengerti kami harus pindah.
Kupandangi foto teman- teman masa kecilku yang ada di rak foto. Semuanya sangat gembira. Aku, Ian, Kiran, Jingga, si kembar Dion-Doni, dan Reva sudah bersahabat sejak kecil walau umur kami berbeda satu sama lain. Alasanku nggak mau pindah karena aku nggak mau berpisah dengan mereka. Tapi, mama bilang kalau kondisi eyang sudah nggak sesehat dulu dan mama ingin kami lebih dekat dengan eyang, maka dari itu mama membeli rumah di perumahan yang nggak jauh *padahal jauh, menurutku* dari rumah eyang.
Awalnya keadaan mempersulitku karena aku harus mulai tinggal di kost. Kemudian, setiap weekend aku harus pulang dan menempuh hujan ataupun panas selama satu jam agar sampai. Parahnya, aku nggak terbiasa jauh dari mama. Hal itu membuatku sedih dan jika aku sedang butuh seseorang untuk kucurhati, aku nggak bisa lari ke salah satu temanku yang kusebutkan tadi. Tapi, aku punya sebuah diary yang kudapat gratis dari membeli boneka, jadi aku cukup nggak kesepian, walaupun juga aku masih punya orang kepercayaan di kampus.
Suara pintu berderek ketika Airin datang membawa dua gelas coklat panas. “Masih panas, tunggu dulu, yaa, sambil cerita- cerita.”
Aku tersenyum dan melompat ke ranjang. Aku menepuk- nepuk tempat di sampingku yang kosong dan setelah Airin meletakkan coklat di meja dekat ranjang, ia pun melompat ke sampingku.
“Jadi?” tanyanya mulai mengeksekusi.
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkan selembar foto dari laci. “Karena dia, aku nggak jadi berangkat ke Jogja,” kataku sambil tersenyum malu- malu, memulai pembelaanku.
“Ihirrr!” serunya meledekku.
“Gimana?” tanyaku meminta pendapat.
“Lumayan. Cuman, dia sedikit berantakan di... kamu tahu, kan, mbak?” Airin memutar- mutar telunjukknya di rambutnya.
“Aaah, yaa, aku tahu, dia memang gitu. Foto itu aku ambil saat dia lagi manggung, jadi itu hanya properti,” kataku menjelaskan rambut laki- laki yang ada di foto, Surya dengan rambut warna ungu, hijau, biru, dan merah saat pentas di kampus dengan tema Candy Lover Taman Ceria yang menurutku aneh saja untuk pentas ukuran mahasiswa.
“Jadi, gara- gara ini?” tanya Airin, “Gara- gara acara ini?”
“Bukaan, ini acara emang udah lama,” kataku, “acara yang kemarin itu pas dia sama band-nya jadi bintang tamu di teater kampus. Dia sama temen- temennya, walaupun bukan pemeran utama, ikut main di teater itu. Awalnya aku nggak mau dateng, tapi karena dia yang minta aku nonton, yaa akhirnya aku dateng, deh. Maaf, yaa.”
“Jadi, dia orang penting yang mau mbak Naira ceritain?” tanya Airin.
Aku mengangguk malu- malu.
“Kok bisa suka, sih, sama orang kayak gitu?” tanya Airin, “Kayaknya bukan tipe mbak banget, deh!”
Aku berpikir sejenak, “Mmm, aku nggak tahu juga, sih, perasaan ini ngalir gitu aja. Aku nyaman kalau sama dia, walaupun dia sering ngejek- ngejek aku. Ngejek ini, ngejek itu, tapi dia jujur, lho! Nggak pernah bohongin aku. Dia jujur banget kalau dia nggak punya uang, dia jujur banget kalau dia sering bolos kuliah, dia...pokoknya jujur! Apa adanya, deh. Beda sama yang lain- lain. Kalau yang dulu- dulu, mereka ngedeketin aku pake cara yang sopaaann banget biar aku luluh, tapi Surya biasa aja, dia blak- blakan apa adanya, aku jadi salut sama dia!”
“Tapi, mbak, inget- inget, lho, cinta itu sepanas tai ayam!” seru Airin.
“Iiuuh, jorok banget, sih!” seruku jijik.
“Bukan itunya,” sergah Airin segera, “maksudku, apa Mas Surya tau kalau mbak suka sama dia? Takutnya, dia biasa- biasa aja sama mbak dan mbak yang kege-eran.”
“Trus, hubungannya sama tai ayam, apa?” tanyaku bingung.
Airin menghela nafas, “Kalau mbak tahu kenyataannya berbanding terbalik, apa mbak nggak bakal sedih, percuma punya cinta yang kayak gitu, cintanya cuman sedetik aja.”
Aku pun memikirkan spekulasi Airin. Ada benarnya juga, tapi pepatah berkata, “Percaya pada apa yang kamu lihat, dan lupakan apa yang kamu dengar” Yaa, siapa tahu kalau spekulasi Airin salah, Airin nggak kenal siapa Surya, juga dia nggak tahu sudah seberapa dekat aku dengan Surya.
“Ya, okelah, aku bakal hati- hati, thanks, my lil-sist,” kataku sambil mencubit pipinya. Kutawari ia coklat dan kami teguk pelan- pelan. Kini giliran Airin, “Jadi, gimana sama pria idealmu? Bibit, bebet, bobot?”
Airin melirik ke arahku dari balik gelas saat meneguk coklat. Ia tersenyum sambil memperlihatkan coklatnya menempel di gigi. “Hehehe,” jawab Airin.
¯¯¯
Fine! Cukup nyesel, deh, aku nggak jadi berangkat ke Jogja! Gimana enggak? Ternyata Airin sudah punya pacar seminggu sebelum aku seharusnya datang ke Jogja. Ia niat untuk memperkenalkan Indra, pacarnya, kepadaku saat aku datang, pantas saja Airin sangat sewot.
Walaupun aku nggak tahu wujud asli Indra, Airin memperlihatkan foto mereka saat Korean Day di kampus Airin. Mereka memakai hanbok berwarna peach yang imut. Mereka seperti pasangan anak SMP karena wajah mereka yang masih polos dan karena Airin juga terlihat mini seperti anak SMP.
“Yeey! Makan- makan!” seruku saat berada di depan rumah makan steak yang selalu kami kunjungi kalau aku pulang dari Semarang dan Airin pulang dari Jogja. Kami masuk  dan menemukan kursi di ujung ruangan bagian luar. Kami sengaja memilih di luar agar pencahayaannya lebih terang daripada di bagian dalam. Dekorasi Belanda-Jawa sangat kental disini. Mulai dari pintu masuk yang tinggi dan berwarna putih pucat, dinding yang dihiasi kayu- kayu ukir khas Jawa, dan bangku dari kayu serta ornamen Belanda.
Aku duduk menghadap pintu sedangkan Airin duduk menghadap tembok. Aku lebih suka melihat orang lewat daripada benda mati yang nggak bergerak seperti tembok. Kemudian pelayan datang dan kami memesan makanan. Proses pemesanan berakhir dan kami tinggal menunggu pesanan kami datang.
Airin bercerita lagi tentang Indra. Aku bosan sebenarnya, tapi aku sangat maklum karena adikku yang cantik ini sedang mabuk asmara. Airin bercerita dengan suka cita. Menceritakan bagus dan jeleknya Indra dan betapa ia sangat menerima itu semua. Bayanganku, Indra pasti sosok yang tepat untuk Airin, dan Airin sangat nggak pantas jika Indra menyakitinya.
“Yaa, mbak harap mbak juga gitu,” komentarku saat Airin bercerita bahwa Indra memberinya coklat dan bunga, dan kaos kaki agar kaki Airin nggak belang. Betapa perhatiannya Indra!
Kemudian makanan kami datang dan siap menyatap double chicken steak dan float kami. Aku melahap irisan demi irisan steak yang kumakan sambil melihat ke jalanan yang mulai gerimis. Aku mendongak ke atap yang transparan dan dihiasi tanaman yang menjalar, rintikan hujan mulai turun dan membuatku ingat pada Surya. Lagu demi lagu yang diputar oleh pihak rumah makan kebanyakan lagu- lagu yang mengingatkanku pada Surya.
“Galau, ya?” tanya Airin yang rupanya tahu kalau aku sedang memikirkan Surya.
“Hah?” tanyaku, “Enggak kok.”
“Nggak bohong, deh, mbak, pliss,” katanya.
Aku mendengus dan mengakui malu- malu, “Iya, iya, aku kepikiran dia. Aku harap dia disini, mumpung liburan, kan?”
“Ihirrr,” balasnya saat ia mendorong pelan platenya yang sudah kosong.
“Lagunya, sih,” ucapku menyalahkan lagu- lagu yang mengingatkanku pada Surya.
“Ceileee,” serunya menggodaiku, “ini lagu lama, lagunya Bunga Citra Lestari, Kecewa, kan?”
“Iyaa, tapi dah mau abis,” kataku.
Lagu berganti ketika aku sudah menyelesaikan makanku. “Ciihh, Someone Like You, deh!” kataku.
Sambil menunggu makanan di perutku turun dengan lancar, aku mengikuti suara Adele menyanyikan lagu itu. Airin yang melihatku ikut bernyanyi malah tertawa geli. Ia pasti meledekku dan mengataiku kalau aku galau. Tapi, siapa yang mau menggantikan Surya dan mencari someone like him?
I wish nothing but the best for you....,” aku berhenti bernyanyi ketika aku benar- benar melihat Surya masuk ke rumah makan steak ini dengan seorang gadis yang cukup cantik bersamanya. Gadis itu menggandeng tangan Surya dan bersandar tepat di bahu Surya sambil mencari tempat duduk yang kosong dan tempat duduk di sampingku kosong.
Kami saling bertatapan saat Surya mengikuti telunjuk gadis di sampingnya menunjuk kursi kosong di sampingku dan melihatku. Aku kaget dan mataku nanar. Airin mengikuti arah pandanganku dan menutup mulutnya yang meng-O saat melihat laki- laki yang dipikirnya pasti Surya.
Sometime it last in love, but sometime it hurts instead,”
Surya dan gadisnya menuju bangku di sampingku. Aku merasa semua yang ada di hadapanku ditelan bumi. Semuanya gelap dan aku merasakan tangan kecil Airin menggenggam tanganku menuju entah kemana karena aku pun sangat kalut. Kupikir kepalaku masih menoleh dimana Surya berada bersama gadisnya, tapi aku nggak melihat Airin bahkan gadis yang bersama Surya.
Apa aku buta? Tapi aku masih bisa melihat Surya. Hanya Surya yang duduk di depan gadisnya, yang hanya bisa kupandangi punggungnya. Berbalik, berbalik, berbalik!
¯¯¯
Aku putri tidur yang berharap bangun sebelum seratus tahun waktunya kalau sang pangeran berkuda putih harus memboncengi perempuan lain saat akan menciumku agar bangun. Kenyataan memang 80% menyakitkan!
Kesalahanku adalah satu, aku menganggap Surya orang yang jujur dan apa adanya padaku. Dua, spekulasi Airin yang mengatakan bahwa cinta sepanas tai ayam yang nggak kugubris seratus persen. Dan tiga, pepatah yang berkata “Percaya pada apa yang kau lihat dan lupakan apa yang kaudengar”.
Aku meringsuk di bawah selimut yang hangat sambil terisak- isak. Airin membawakanku spagetti dengan taburan keju di atasnya, favoritku, juga segelas coklat instan hangat. Ia membuka bungkusan selimutku, tempat aku berlindung.
“Mbak, mbak boleh nangis sepuasnya kok, nggak perlu malu, semua orang lagi di rumah eyang, mungkin nginep disana. Mbak juga boleh sedih dan luapin amarahnya biar lega. Tapi, mbak sedari jam enam belum makan, perutnya cuman diisi steak sama float siang tadi. Ini dah jam delapan, lho. Mana tadi kehujanan, kalo nggak diisi makanan nanti sakit,” ujar Airin panjang lebar.
Kemudian aku bangkit dari tidurku dan duduk di ranjang. “Abisnya, mama juga, sih, mana pergi nggak masakin apa- apa,” jawabku ketus.
Airin mendengus, “Yaah, mbak sendiri juga, sih, yang nggak ngecek memo di kulkas. Budhe dah bikinin spagetti ini, tinggal dipanasin pasta sama sausnya, tinggal parut kejunya. Abisnya, pulang- pulang langsung ngringsuk di selimut.”
Aku manyun mendengar anak kecil mengomeliku. Kemudian kuraih sepiring pasta dan melahapnya. Airin keluar kamar dan kembali dengan sepiring pasta untuknya dan berkata, “Kalau masih mau, masih ada banyak kok spagettinya.”
Aku mengangguk sambil terus melahap spagettiku. Aku lapar, aku marah, aku kesal, dan aku kecewa! Semua kulampiaskan dengan tiga piring spagetti yang khusus dilayani oleh Airin. Setelah selesai makan, aku mengganti pakaianku yang sedari tadi belum kuganti, mengganti seprai yang basah karena bajuku, dan mencuci piring kotor.
Airin mendekat ke arah pintu saat ada yang mengetuknya dengan cukup gusar. Airin takut kalau itu perampok atau apa. Tapi, pikiran positifnya berkata bahwa perampok nggak akan sesopan itu untuk masuk ke rumah orang, mereka nggak tahu apa itu pintu. Menurutnya, ketukan seperti itu adalah ketukan orang yang ketakutan.
“Ya?” tanya Airin saat melihat siapa yang datang.
Aku menoleh ke Airin yang berkata itu tamu untukku. Airin nggak menjawab siapa tamu itu, ia hanya berkata, “Temui saja, aku yang buatkan minum.”
Aku berjalan sambil bersendawa cukup keras. Aku menjadi kikuk saat kulihat Surya duduk di bangku teras dengan tatapan aneh, mungkin karena mendengar sendawaku.
Apa aku akan lari saat melihat Surya? Enggak bakal! Aku cukup dewasa untuk bisa mengahadapi masalah, walau aku tadi meronta nggak ingin ketemu Surya lagi.
“Eh, maaf, ya,” kataku sambil menutup mulut, “kelepasan.”
“Makan kodok, ya?” tanya Surya melucu. Garing.
Aku duduk di sampingnya dan nggak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Saat aku akan berkata, Surya juga ingin mengatakan sesuatu. Dengan sopan, yang baru kutahu ini, ia menyuruhku berkata dahulu.
“Dunia sempit, ya?” tanyaku tanpa butuh jawaban. Menyindir.
“Luas kok,” katanya, “kamu aja yang berkutat disini. Kenapa?”
“Kenapa gimana? Apanya?” tanyaku.
“Apa ada yang nahan kamu buat tetap disini? Dunia itu luas,” ujarnya.
“Filosofis banget,” cercaku agak sinis.
“Kenyataan,” balasnya, “jadi, apa yang nahan kamu disini?”
“Mau tahu banget apa mau tahu aja?” tanyaku sambil tertawa garing. Sangat krik!
Surya mencoba mencubit pipiku tapi aku sudah menghindar dulu. Kukatakan dari gerakanku bahwa ini nggak pantas.
Surya dan aku terdiam beberapa saat. Airin datang membawa minuman dan langsung pergi. Kupersilakan Surya minum karena aku tuan rumah yang baik, walaupun Surya sudah menjahatiku.
“Mmm, by the way, kamu kok tahu rumahku?” tanyaku, “Aku, kan, baru aja pindah.”
“Mau tahu banget apa mau tahu aja?” tanyanya balik. Lalu kami tertawa. Tertawa yang sangat singkat.
“Cihh, apa- apaan ini?” tanyaku sendiri. Aku melirik ke jam yang ada dinding ruang tamu, “Hampir jam sembilan, nggak sopan kamu disini lebih lama, maaf, ya.”
“Tunggu, Ra,” kata Surya, “aku mau jelasin yang tadi.”
“Apa lagi?” tanyaku dengan otomatis nada tinggi. Kesal dan benci.
“Sebelumnya aku mau tahu, gimana perasaanmu ke aku. Gimana, Ra?” tanyanya.
“Mau tahu..,”
“Sssttt, serius, Ra,” kata Surya sambil menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
Aku menghela nafas dan tersenyum, “Aku suka kamu.”
“Ya, tapi..,”
“Dan aku terlambat, aku tahu. Seharusnya aku bilang di saat aku benar- benar yakin. Tapi, yaa, aku hanya terlambat,” kataku.
“Salahku yang nggak berani tanyakan hal ini dari awal aku ngerasa yakin kalau aku juga suka sama kamu,” Surya mengaku.
“Ya, dan kita sama- sama terlambat,” kataku, “aku tahu itu. Bodohnya aku, my bad.”
“Kamu marah?” tanya Surya.
“Iyalah!” seruku dengan nada tinggi, namun normal kembali saat aku menjelaskan, “Itu normal karena aku kecewa saat tahu kamu udah punya cewek.”
“Yang nggak kusukai,” Surya mengaku lagi. “Kalau mau, aku bakal putusin dia. Buat kamu, Ra.”
Aku tertawa garing, “Kamu nggak perlu dan nggak boleh ngelakuin itu. Aku suka kamu karena kamu jujur, kamu blak- blakan, dan kamu apa adanya. Tolong jangan buat aku illfeel sama kamu hanya karena kamu nggak tanggung jawab atas keputusanmu.”
“Bukannya kamu suka sama aku? Kamu juga tahu sekarang kalau aku suka kamu. Kita sama- sama tahu kalau kita nggak bertepuk sebelah tangan,” ujarnya gusar.
“Tapi semua udah terlambat,” kataku, “jangan buat gadis tadi kecewa.”
“Kamu kenapa... seperti... kamu.. kenapa..?” Surya gusar. Ia menggaruk- garuk kepalanya yang nggak gatal.
Kuraih tangannya yang mencoba melukai dirinya sendiri dan berkata, “Aku cukup senang kalau aku tahu aku nggak bertepuk sebelah tangan.”
“Tapi, Ra...,” Surya melepas genggamanku dan menghapus air matanya.
“Aku nggak percaya rocker kayak kamu bisa nangis juga,” kataku polos melihat Surya mencoba menghapus tiap air mata yang bercucuran. Nggak tega, sih, setiap akan mengatakan sesuatu, ia meneteskan air mata hingga sesenggukan, “Maafin aku, ya.”
¯¯¯
Pukul setengah sepuluh mungkin atau kurang atau lebih, Surya pamit pulang. Air matanya sudah puas ia habiskan untuk meluapkan kekecewaannya karena kebodohannya, kebodohanku juga, tepatnya kebodohan kami yang nggak berani selangkah lebih pasti menentukan perasaan.
Sebelum pulang, Surya memelukku *dan kupastikan nggak satupun tetanggaku yang melihat ini* dan mencium keningku. Aku tahu perasaannya saat itu. Ia mencoba merelakan semua ini mengalir begitu saja.
Setelah kupastikan ia benar- benar pulang, aku kembali masuk ke rumah dan membereskan cangkir minum kami. Lalu, aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sudah tidur.
Aku menggosok gigiku dulu setelah berganti baju tidur, kemudian aku menuju meja belajar dan meraih diary yang kusimpan di laci yang terkunci dan kuncinya hanya aku yang tahu dimana.
Aku pun mulai menulis.
Dear diary, benar hanya kau yang harus tahu, tapi Airin juga. Hanya saja, kau yang harus tahu lebih dulu. Aku seharusnya nggak menodaimu dengan kisah- kisah sedihku. Ini pasti akan menjadi kenangan yang suram untuk kubaca lagi suatu hari nanti. Seharusnya aku mengisimu dengan kisah- kisah yang menyenangkan, supaya memoriku hanya berisi kisah yang menggembirakan. Tapi, aku tahu itu bohong.
Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, kejadian hari ini, aku harap, terjadi hanya padaku, jangan Airin atau orang lain yang kusayangi. Karena, sangat nggak mudah membohongi perasaan dan mengatakan semua akan baik- baik saja. Merelakan Surya dengan ikhlas, itu nggak mungkin. Untuk apa kubuang air mata ini seharian? Aku hanya merelakan agar Surya nggak sedih. Lucu saja melihat rocker menangis. Haha!
Sad ending. Mmm, nggak, nggak, nggak! Ini belum sepenuhnya END! Aku yakin Surya nggak akan berpaling dariku walaupun sudah ada gadis lain. Aarghh! Sialnya! Gadis itu membuatku menangis sekarang, karena ia membangunkanku di kenyataan bahwa mereka benar- benar jadian!
Naira yang ababil, hapus air mata! Cepat!
Aku merelakan Surya untuk tetap bertanggungjawab atas apa keputusannya karena aku tahu kami sama- sama nggak bertepuk sebelah tangan. Kenyataan positifnya adalah, Surya nggak harus menjadikanku pacarnya untuk dia tetap suka padaku dan aku nggak harus menjadikannya pacarku juga agar aku bisa menyukainya. Semua ini akan berjalan seperti bumi seharusnya berputar, nggak akan ada repeating time dan aku rela untuk menunggunya putus secara baik- baik dari pacarnya. Haha!
Dan oops! Aku berhutang cerita panjang pada Airin! Baiklah, selamat malam pangeran berkudaku, aku akan tidur lagi dan menunggumu datang sendirian tanpa gadis lain membonceng di kudamu. Good night .
¯¯¯

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review