Pagi ini aku merasa bersalah sekali sama Athur. Hanya karena bercandaanku tadi saat chatting di facebook, dia marah nggak ketulungan.
Harusnya nggak sampe segitunya kalau dia memang bener- bener nggak punya rasa sama Gina, tapi karena dia selalu salting dan marah kalau aku dan Windy bahas itu.
Tapi mungkin tadi pagi memang sudah batas keterlaluanku. Aku takut sekali kalau ada yang marah padaku karena biasanya aku yang marah pada seseorang, sekarang aku tahu gimana rasanya itu. Rasanya sedih nggak ketulungan juga.
Perasaanku bercampuraduk saat Athur minta kami bertemu. Aku takut kalau dia akan marah- marah padaku dihadapan teman- teman. Tapi Claudia menenangkanku dan berkata, “Athur bukan tipe orang yang kayak begitu kok, tenang aja.”
Rasanya aku ingin tenang, tapi kepanikanku yang membuatku mengalahkan rasa tenangku. Cuma Athur, bener kata Claudia, Athur bukan tipe yang suka marah- marah seperti aku. Aku membatin menenangkan diriku yang masih saja panik.
“Kapan dia bakal kemari?” tanya Claudia.
“Katanya ini on the way,” jawabku dengan nada cemas.
Claudia tertawa singkat sebelum mengejekku lebih dalam, “Kamu ini galak tapi takut digalakin, deh.”
“Nggak bercanda, deh, aku takut banget,” kataku.
“Tapi kamu udah minta maaf sama dia, kan?” tanya Claudia.
Aku mengangguk, “Tapi kok dia minta ketemu aku, ya? Aku jadi takut, nih!”
“Heh, itu orangnya dateng!” seru Claudia.
Aku terperanjat kaget dan mencari sosok Athur, ternyata Claudia hanya bercandain aku.
“Sial! Aku takut banget, Claud!” seruku sambil memukul pelan lengannya. Tanganku memang ringan, maka dari itu aku suka sekali memukul orang dengan tanpa sadar.
Claudia tertawa puas setelah mengerjai aku. Pastilah mukaku pucat pasi dan terlihat seperti patung marmer.
“Eh, eh, itu Athur beneran dateng!” seru Claudia sekali lagi.
“Aah, bohong!” seruku, “Kalau Athur dateng, aku bakal pukul dia gara- gara marah sama aku.”
“Heh, kenapa?” tanya seseorang yang dari belakang mendatangiku. Suara Athur.
“Haaa!??” seruku. Aku melihat Claudia yang cengengesan.
Aku memberi pesan sinyal pada Claudia lewat mata, “Heh, kenapa kamu nggak bilang? Aku kira kamu bohong lagi!”
“Kamu, masi marah sama kau, ya?” tanyaku.
Athur tertawa, “Aku udah maafin kamu, kok! Eh, temenin aku ke ruang dosen, dong.”
Aku menghela nafas lega. “Claud, ikut, yuk!”
Aku, Athur, dan Claudia naik ke lantai tiga menuju ruang dosen.
Athur jalan mendahuluiku dan Claudia sehingga aku dan Claudia bisa membicarakan Athur yan ternyata nggak marah lagi padaku.
“Tuh, Athur bukan tipe yang kayak begitu, kan?” ucap Claudia memastikan.
“Iya, tapi aku masih ngerasa nggak enak nih sama Athur,” kataku setengah berbisik, berharap Athur nggak mendengarkan pembicaraanku dengan Claudia.
“Makanya, besok jangan bahas tentang Gina lagi. Yang penting kamu juga uda minta maaf sama dia, kan?” tanya Claudia.
“Semoga yang tadi juga dimaafin. Kamu, sih, pakai bercanda, jadinya aku nggak percaya kalau Athur beneran dateng,” ucapku setengah marah. Marah setengah- setengah?
“Hehe, maaf, ya, seru ngerjain kamu,” ucap Claudia kemudian ia tertawa.
“Heh, bantuin aku bawa buku- buku itu,” seru Athur mengomando kami untuk membatunya membawa tumpukan buku listening.
Aku dan Claudia langsung membagi rata buku yang kami bawa. “Kamu uda aku bantuin, jangan ngambek kayak peremuan lagi, loh!” seruku.
Claudia tertawa.
“Mana nulis “STOP GOSIP. BYE” di caps lock juga!??” gerutuku.
Kini Athur dan Claudia yang tertawa, “Eh, aku nggak sengaja, tadi caps locknya emang lagi on, sorry, deh.”
Paling nggak aku lega kalau Athur udah nggak marah padaku.
NNN
Aku berjalan menuju parkiran sore hari di kampus. Perasaanku nggak begitu nyaman dan kepalaku pusing sekali.
Aku bolak- balik mencari motorku yang ternyata ada di bagian paling belakang. Kadang, aku lupa dimana aku memarkirkan motorku karena banyak sekali motor berderet- deret dan plat nomornya membuatku tambah pusing.
Sebelum keluar dari parkiran, petugas penjaga motor mengecek STNK, takutnya jika ada kejadian kehilangan motor lagi. Karena beberapa hari yang lalu baru saja ada yang kehilangan motor karena orang itu biasa nggak mengecekkan STNK motornya ke penjaga.
Aku mulai beranjak dari parkiran, tapi rasanya ada yang janggal dan aneh dengan motorku. Ban motor bagian belakang berasa seperti kempes atau bocor. Aku takut mengecek ban motorku karena kepalaku udah sangat pusing dan ingin pulang, juga karena uang di tasku tinggal lima ribu rupiah. Sedangkan harga kalau ternyata banku bocor adalah sepuluh ribu.
Sempat aku berpikir akan menggadaikan KTPku, karena aku nggak punya SIM dan itulah satu- satunya benda berharga selain selembar uang lima ribu rupiah.
Di perjalanan pulang ke rumah aku nggak berani mengendarai di atas lima puluh kilometer per jam. Berasa seperti siputnya Spongebob dan setahun lamanya perjalanan menuju rumah dengan kecepatan di bawah lima puluh kilometer per jam.
Aku hanya bisa berdo’a semoga aku masih bisa bertemu dengan orangtua dan adikku di rumah karena khayalanku sudah melayang jika nanti aku kecelakaan dan tamat riwayatku di jalanan gara- gara ban kempes.
Selama perjalanan menuju rumah aku hanya bisa berdzikir dan membaca Ayat Qursy berulang- ulang. Apalagi setiap ada jalanan yang bergelombang, membuat motorku oleng dan aku lebih kencang lagi berdzikirnya.
Aku rasanya ingin menangis saja, tapi ternyata aku sudah hampir dekat dengan rumah. Perasaan cukup lega dan ada air terjun mengalir melalui kerongkonganku menuju ulu hati. Tapi masih belum lega karena aku belum memasuki gerbang asrama.
Keringat dingin mencucur dan aku meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati ini dan “Vallaa!” aku berhasil sampai rumah dengan selamat walaupun akhirnya aku harus dimarahin oleh abi.
“Itu bukan salahku,” kataku membela diri dan masuk ke kamar dengan perasaan sedih, kecewa, dan lega yang bercampur menjadi ramuan pollijus.
Aku meneguk air satu botol yang kuambil dari kulkas. Aku masih kaget dan dag dig dug nggak beraturan jantungku.
Aku menerka- nerka siapa yang berani- beraninya mengempesi ban motorku. Aku nggak merasa punya salah sama kakak tingkat atau teman sebaya.
Pikiran utamaku tertuju pada kakak tingkat yang menyukaiku dan aku malah menolaknya sebelum dia nyatain perasaannya karena aku phobia dengan orang asing, kecuali teman- temanku seangakatan dan orang- orang yang kupilih untuk jadi temanku. Yeah, hidup ini butuh pilihan dan kita harus selektif karena kita udah bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk, dan mana yang serius, mana yang hanya main- main.
Pikiran kedua yaitu Athur. Ia memang sempat marah padaku hari ini tapi apa dia yang sampai tega mengempesi ban motorku. Lagipula aku udah minta maaf dan dia memaafkanku. Masalah selesai dan lalu apa? Tentu pasti bukan dia, karena – benar kata Claudia – Athur bukan tipe cowok seperti itu.
Pikiran ketiga aku menuduh kakak tingkat perempuan yang sempat aku kesali karena dia pernah melihatku dengan tatapan sinis saat aku akan naik ke lantai tiga. Aku nggak tahu apa yang salah denganku saat itu karena dia menatapku dari atas sampai bawah dan memperhatikanku dari aku menaiki tangga sampai aku di lantai dua.
Dan tuduhan terakhir aku jatuhkan pada petugas penjaga motor. Karena motorku mulai kempes saat di kampus dan kalau mahasiswa yang melakukannya, betapa bodoh dan nggak berpendidikan sekali dia!? Tapi untuk apa juga seorang petugas penjaga motor melakukan hal itu? Gajinya sebulan pastinya sudah cukup sekali dan aku juga nggak pernah punya masalah parah dengan para petugas penjaga motor di kampus.
Saking kesalnya aku menyumpahserapahi kalau memang benar mahasiswa yang mengempesi ban motorku bahwa dia nggak akan lulus skripsi dan hidup dalam depresi panjang karena itu. Kalau dia punya masalah denganku, kenapa harus motorku yang menjadi korban?
Kalau sekali lagi ban motorku kempes dari dalam kampus, entah itu siapa pelakunya, aku sudah siap untuk maju ke rektor, karena aku sudah membayar mahal untuk menimba ilmu di kampus ini dan balasan niat baikku adalah ban kempes.
Aku harap dia bukan mahasiswa, karena bodoh, tolol, dan nggak berpendidikan sekali melakukan hal itu.
NNN
0 komentar:
Posting Komentar