Senin, 14 November 2011

Cerita Kampus-November 9th

Diposting oleh nupp_niput di Senin, November 14, 2011 0 komentar
Aku baru sadar di pertengahan bulan ini kalau ini Bulan November. Aku buru- buru melihat kalender dan terperangah kalau ini tanggal 11. Aku menepuk dahiku lumayan keras.
Aku melupakan hari istimewa seorang cowok yang pernah dekat denganku semasa SMP. Cinta monyet. Tapi aku hanya suka, bukan cinta. Harusnya dua hari lalu aku sadar kalau ia ulang tahun. Hanya setahun sekali untuk mengucapkan kata, “Happy birthday.”
Aku mengurut keningku, mencoba mencari solusi yang tepat. Kalau aku nggak memberi selamat ulang tahun padanya, tandanya aku sombong dan lupa padanya, padahal jauh dari lubuk hatiku, aku nggak akan pernah lupa sama dia. Kalau aku memberinya ucapan selamat sekarang, aku takut ia mengira aku lupa tanggal ulang tahunnya. Tapi, lebih baik aku lupa tanggal ulang tahunnya, daripada aku lupa padanya.
Namanya Erik, tapi ia biasa dipanggil Eik. Dia adik kelasku, tapi lahir dengan tahun yang sama, bulan sama, hanya tanggalnya yang berbeda. Sebelas hari setelah ia lahir, aku baru lahir.
Eik termasuk cowok yang pintar di kelas dan aktif di luar kelas. Basket dan OSIS dipilihnya sebagai soft skill untuk mengisi kegiatan di waktu luang. Dan yang paling menyenangkan, ekstrakurikulerku, PMR, jadwalnya bersamaan dengan jadwal extrakurikuler basket. Jadi, dari pagi hingga sore aku bisa mencuri- curi pandang padanya.
Aku teratwa sendiri saat aku memutar kenangan yang tersimpan dalam memoriku yang nggak ada habisnya. Aku dan Eik dikenalkan oleh teman sekelasku yang nyatanya adalah tetangga Eik. Karena aku sering main ke rumah temanku itu dan Eik juga – nggak terlalu – sering main ke rumah temanku, kami bertemu disana dan mulai dekat.
Aneh rasanya kalau aku dekat dengan adik kelas. Tapi secara teknis, umurku dengannya hanya terpaut beberapa hari. Ini nggak masalah buatku selama aku nyaman dengannya. Ia bisa membuatku senang dengan hanya curi- curi pandang dan salting. Aha! Cinta monyet. Tapi sekali lagi, aku hanya suka, atau simpatik.
Eik adalah cowok pertama bagiku. Pertama bagi segalanya. Karena semua yang diinginkan seorang cewek ketika masuk di usia remaja, aku mendapatkan semua hal itu dari Eik.
Dulu, teman- temanku yang lebih tua dariku menganggapku anak kecil, padahal aku merasa aku udah besar. Tapi kenyataannya aku juga berpikir kalau aku sewaktu SMP adalah anak perempuan baru kemarin sore. Dan aku masih bingung tentang apa itu pacar dan semua yang diharapkan anak perempuan yang baru memasuki usia belia.
Eik adalah segalanya di usiaku yang belia. Pertama, Eik adalah cowok yang berani mendekatiku, saat itu aku kelas VIII dan ia baru kelas VII. Kelasku membelekangi kelasnya. Jadi, setiap istirahat aku lebih memilih menghabiskan waktu di kelas dan bercanda dengan teman- temanku yang lain sambil mencuri- curi pandang pada Eik yang selalu berada di depan kelas. Entah dia sengaja sepertiku atau tidak, aku nggak tahu sampai sekarang ini.
Kedua, Eik adalah cowok yang pertama kali mengantarku pulang ke rumah. Padahal, aku takut sekali kalau dimarahin mami karena aku pulang dengan diantar Eik. Tapi keadaan waktu itu sangat darurat. Saat itu ada acara buka bersama di sekolah. Aku bingung saat pulang karena hari udah gelap dan bahaya jika anak perempuan pulang sendirian. Biasanya aku pulang bersama tetanggaku yang juga temanku di SMP. Tapi mereka ada yang udah diantar temanku lainnya dan ada juga yang  dijemput orangtuanya untuk pergi bersama. Akhirnya Eik datang padaku saat aku benar- benar putus asa. Aku mendapat pertolongan yang kubutuhkan, dan kejadian tiu sangat cepat. Kami berdua berada di motor kurang lebih hanya sepuluh menit. Ia berusaha untuk nggak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dan membawaku pulang dengan selamat. Aku sangat berterimakasih sekali padanya dan saat itu, kami lebih dekat lagi.
Ketiga, saat tahun baru. Eik adalah cowok yang pertama kali mengajakku untuk pergi melihat kembang api dan merayakan tahun baru. Hanya saja aku nggak dapat izin untuk hal itu. Orangtuaku sangat ketat untuk melarangku keluar malam. Katanya, hal itu nggak baik untuk perempuan dan angin malam bisa membuatku masuk angin nanti. So, karena nggak dapat izin dari ortu, aku nggak bisa ikut dengan Eik untuk merayakan tahun baru bersamanya.
Keempat, Eik adalah orang pertama yang memberiku coklat valentine. Dari pagi aku udah mendapat kejutan. Aku selalu berangkat awal walau rumahku relatif dekat dengan sekolah. Pagi itu saat aku memasuki kelas, aku disapa teman sekelasku dan ia berkata bahwa ada seorang cowok yang menitipkan salam “Happy Valentine” padaku dan memberiku sebuah kartu ucapan. Temanku mencoba untuk menerka- nerka, tapi aku menutup- nutupi darinya. Saat aku uduk di bangkuku, aku membuka kartu ucapan itu dan membaca kalimat itu berulang- ulang. Aku nggak percaya. Eik memintaku untuk menunggunya di depan perpustakaan saat pulang sekolah nanti.
Hal yang menjengkelkan adalah dia nggak muncul saat istirahat seolah dia menghindariku. Aku hanya sabar menunggu sampai sekolah usai. Saat bel sekolah berbunyi tanda untuk pulang, aku nggak langsung menghambur ke perpustakaan yang sebenarnya dekat dengan kelasku. Sebenarnya aku hanya menunggu agar semua orang pergi duluan dan baru kemudian itu aku menuju perpustakaan.
Aku udah di depan perpustakaan, hanya saja aku nggak melihat adanya Eik disitu. Nggak lama aku menunggu, Eik keluar dari perpustakaan dan ia menyapaku. Eik membawa gitar yang biasa ia bawa ke sekolah. Kami berdua ngobrol di bangku depan perpustakaan. Eik menawariku untuk request sebuah lagu. Aku hanya bilang terserah dia aja mau mainkan lagu apa. Dan dia memainkan sebuah lagu romantis yang kurasa ia buat sendiri. Aku malu- malu saat itu dan sepertinya pipiku memerah. Aku harap Eik nggak tahu, tapi secara ia punya indra penglihatan, ia pasti bisa melihat rona di pipiku.
Selesai Eik memainkan sebuah lagu, sejurus kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya padaku. Ia mengucapkan ‘Happy Valentine’ padaku, kemudian ia pergi meninggalkanku. Dan masih, rona di pipiku. Darah yang seharusnya mengalir dari otak menuju jantung, harus berhenti dulu di pipiku dan membuat rona.
Aku membaca bungkus coklat yang baru saja Eik berikan padaku. “Take my heart and take me with you,” ucapku lirih membaca bungkus coklat itu. Sesampainya di rumah, aku langsung memakan coklat itu. Bukan hanya karena lapar, aku takut coklat itu dimakan oleh adikku, dan aku nggak mau coklat dari orang yang kusuka malah dimakan oleh orang lain.
Setelah empat peristiwa penting itu, kami nggak pernah – jarang – berhubungan karena ternyata ada orang lain yang ia suka dan aku baru tahu kalau ia playboy.
Jelas, aku sangat marah dan benci. Tapi aku nggak bisa membencinya lama- lama. Ia adalah hal pertama bagiku yang diinginkan semua perempuan yang baru memasuki usia belia.
Seberapa besar kejengkelanku padanya itu sama aja nggak merubah keadaan kalau, yeah, masih suka padanya. Entah apa yang orang lain katakan, tapi ia tetap hal pertama yang ada saat aku belia.
Setiap tahun, di Bulan November, aku nggak pernah melewatkan hari ulang tahunnya dan mengobrol padanya untuk beberapa saat walau hanya lewat facebook, kemudian kami saling menghilang. Itu udah biasa dan terjadi bertahun- tahun ini sejak aku masuk SMA.
Tahun ini, aku benar- benar rindu padanya, cinta monyetku yang nggak kucinta, hanya kusuka. Yang menjadi penyesalan adalah aku melewatkan tanggal ulang tahunnya.
Aku mengetikkan ucapan ulang tahun padanya lewat facebook. Banyak juga teman- temannya yang telat mengucapkan ‘Happy Birthday’ saat ulang tahunnya. Aku nggak sendirian, tapi aku nggak biasa melewatkan tepat di hari jadinya.
Aku benar- benar kangen padanya. Aku menuju kamar dan mengambil binderku. Di bagian belakang binder ada tempat untuk menyimpan kertas- kertas. Kukeluarkan benda persegi panjang yang membentuk balok berwarna ungu dan pink. Aku tersenyum melihat bungkus coklat yang lima tahun lalu Eik berikan padaku.
Ya, aku masih menyimpannya sampai sekarang ini. Sebenarnya mau aja benda itu kubuang, hanya saja karena aku suka warnanya dan karena Eik yang memberikannya, aku nggak tega membuang itu. Bahkan, suatu saat aku menikah nanti, bungkus coklat itu nggak akan kubuang.
“Take my heart,” kataku lirih, “and take me with you.”
Dulu aku terlalu sulit mengartikan maksud kalimat sederhana itu. Tapi, sekarang aku uda mengerti. Hanya saja, kemungkinan kecil, atau bahkan nggak ada kemungkinan, untuk kuambil hatinya dan kubawa pergi bersamaku.
“Happy birthday, Eik,” kataku lirih sambil memeluk bungkusan coklat valentineku lima tahun yang lalu.
YYY

Cerita Kampus-Panah Aphrodite

Diposting oleh nupp_niput di Senin, November 14, 2011 0 komentar
Aku senang weekend ini aku habiskan waktu dengan sahabatku semasa SMA. Siang ini kami akan bertemu di kedai donat terkenal yang nggak perlu aku kasih tahu nama tempat itu – atau aku harus membayar royalti atasnya.
Aku membawa minuman dan makananku ke meja yang sudah ditunggui oleh Luna dan pacarnya, Krisna. Mereka sepertinya datang lebih awal, atau aku yang telat. Seenggaknya aku nggak telat banget karena Yesi dan Nila juga belum datang.
“Kalian udah nunggu lama?” tanyaku sambil duduk berhadapan dengan mereka.
“Nggak juga, kok,” ucap Luna, “eh, kalian belum kenalan, kan?”
Aku menggeleng dan tersenyum. Aku dan Krisna berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Sebelumnya aku memang udah dengar cerita banyak tentangnya dari Luna, dan mungkin sebaliknya.
Krisna salah satu taruna dari akademi polisi. Badannya tegap dan terlihat bijkasana. Akan lebih keren kalau dia memakai seragamnya sekarang. Posturnya seperti tubuh papa yang notabenenya adalah tentara, hanya saja Krisna masih muda dan papa sudah lanjut usia, tua.
“Loh, sayang, itu temen kamu, kan?” tanya Luna sambil menunjuk laki- laki yang berjalan menghampiri kami.
“Eh, iya!” serunya, “Darma!”
“Bro, kok ada disini?” tanya laki- laki yang berpostur tegap itu pada Krisna. Mereka saling jabat tangan, “Hai Luna!”
Luna tersenyum pada Darma, sepertinya Luna juga kenal, tapi Luna seperti nggak mengenalnya saat Darma menghampiri mereka. Daya ingatnya tentang orang- orang nggak pernah berubah sejak SMA!
“Biasa, weekend bareng Luna,” kata Krisna, “eh, duduk, deh. Sendirian aja?”
Darma duduk di sampingku, kursi yang masih kosong. “Nggak juga, kok.”
“Mau ketemuan, ya?” tanya Luna menggoda.
Aku hanya mendengar ucapan mereka dan tersenyum saat mereka tertawa. Aku nggak mudeng apa yang mereka bicarakan karena aku sibuk berkutat dengan novel yang kubaca. Seolah- olah, aku ada di perpustakaan sendirian, aku nggak peduli dengan yang lain kalau mereka nggak memberiku sinyal duluan.
“Eh, kenalin, dong, temenku SMA,” kata Luna sambil menyenggol tanganku.
Aku menengadah dan mendapati mataku dan Darma saling bertemu. Darma yang ramah menyodorkan tangannya dan berkata, “Darma. Kamu?”
Aku meraih tangan Darma, tersenyum, dan menjawab, “Sarah. Temen Krisna juga di akpol?”
Darma mengangguk. “Sekarang kuliah dimana? Bareng sama Luna juga?”
Aku melepas jabatan tangan kami yang kusadari terlama kami saling menggenggam. “Kampus biru dekat situ,” kataku sambil menunjuk ke arah barat daya.
“Aw aw aw, kampus biru,” komentar Krisna sambil tertawa- tawa.
Hanya segitu percakapan kami karena aku sengaja melanjutkan membaca buku lagi. Tapi aku nggak berkonsentrasi penuh karena terkadang aku juga mengikuti alur percakap mereka sedikit- sedikit.
Aku membuka handphoneku yang bergetar. Aku menghembuskan nafas kecewa. Luna yang melihat reaksiku langsung bertanya, “Kenapa, Sar?”
“Yesi sama Nila nggak jadi kesini. Ada jalan yang dialihkan. Kalau mereka ikut jalur itu, bakal lama sampai kesininya,” jawabku sambil meletakkan handphoneku di meja.
“Kita tunggu, kok, disini. Coba kamu telpon dia,” suruh Luna.
“Kamu aja, Lun. Kalau mereka jadi kesini, telpon aku, ya?” pintaku.
“Kamu mau kemana?” tanya Luna.
“Aku mau cari novel di atas,” ucapku singkat. Kuseruput  minumanku hingga habis dan berpamitan dengan mereka.
“Kenapa buru- buru? Kita belum ngobrol banyak, nih,” ucap Darma.
Aku tersenyum dan berkata, “Next time. We will.”
Aku berjalan meninggalkan mereka menuju lantai tiga. Dari eskalator aku bisa melihat pengunjung yang cukup banyak yang mengerumuni bazar yang ada di lantai satu. Kalau itu bazar buku, aku pasti nggak akan capek- capek sampai di lantai tiga.
Aku memasuki toko buku dan langsung menuju buku di kelompok novel terjemahan. Ku perhatikan judul- judul buku itu. Semuanya terlihat menarik dan aku ingin memiliki mereka semua. Hanya saja, uang hasil siaranku nggak cukup untuk membeli mereka semua. Kupilih- pilih dan kutimbang- timbang buku mana yang akan ku beli.
Aku berjalan hingga di ujung rak. Kugenggam buku bercover gambar hati yang dipanah oleh anak panah Aphrodite, kisah Yunani lagi. Kubaca sinopsisnya dan kupastikan aku sudah menemukan buku yang kuinginkan.
Aku berjalan menuju rak bagian sastra. Tiba- tiba aku teringat Darma, teman Krisna tadi, saat aku membaca judul novel yang bercover pria dengan atribut polisi berdiri dengan tegap dan bijaksana.
Aku menutup mataku dan membatin dalam hati jika aku melihat Darma di pintu toko buku ini, aku akan menghabiskan seharian ini bersamanya. Aku tersenyum jahil dan membuka mataku.
Aku nggak sengaja menoleh ke arah pintu toko buku itu dan mendapati Darma ada disana. Mata kami saling bertemu lagi dalam kejauhan. Aku mengucek mataku, memastikan apakah ini fatamorgana atau bukan. Tapi aku melihat dia berjalan menuju ke arahku dan tersenyum.
“Hai Sarah,” sapanya.
Aku masih kaget dan bingung, tapi kujawab sapaannya, “Hai.”
“Merasa ada yang hilang?” tanya Darma.
Iya, kesadaranku hilang waktu kamu dateng. Plakk! Aku menampar wajahku dalam imajinasiku. Aku tersenyum kikuk dan belum ‘ngeh’ dengan apa yang Darma tanyakan.
“Aku rasa kamu nggak merasa ada yang hilang karena kamu masih disini sampai sekarang ini,” kata Darma. Ia mengeluarkan benda dari sakunya dan menunjukkan padaku.
Oh My God!” seruku lalu menutup mulutku sendiri. Aku mengambil handphoneku dari tangan Darma dan berterimakasih padanya.
Aku pasti lupa membawanya saat pamitan tadi. Ya, terakhir aku meletakkannya di meja saat Yesi sms. Baik sekali Darma dengan nggak menjual handphoneku.
“Lain kali jangan ceroboh,” katanya mengingatkanku.
“Untuk sesaat, aku kira kamu bakal jual handphoneku,” kataku jujur.
Darma tertawa dan menjawab, “Honestly, untuk sesaat, aku juga mikir buat jual benda yang ditinggal pemiliknya ini.”
Kami berdua tertawa dan mengambil perhatian dari sebagian pengunjung toko buku. Hey, ini bukan perpustakaan! Seruku dalam hati.
Darma menemaniku memilih buku lagi. Ia menyarankan novel yang sudah kupunya di rumah dan berjejer rapi di rak bukuku. Belive or not, sebagian besar rak bukuku berisi novel daripada buku kuliah. Dan sebagian juga berisi buku dan novel yang berguna untuk keduanya.
“Kamu jurusan apa, sih? Novel yang kamu pilih itu, kalau nggak novel terjemahan, pasti novel bahasa inggris,” kata Darma penasaran.
“Sastra inggris,” jawabku sambil tersenyum.
Darma mengangguk- angguk, sepertinya rasa penasarannya terbayar setelah bertanya padaku. Kemudian kami melanjutkan mencari buku untuk refrensi kuliahku. Hanya saja buku yang kucari nggak ada, jadi aku memutuskan membeli buku psikologi terkenal untuk mami.
Membaca judul buku itu aku jadi ingin makan sup krim dan terbayang aku sedang makan di resto ‘Mbah Jenggot’ bersama Darma. Plakk! Aku menampar wajahku dengan imajinasiku lagi. Untuk berada di toko buku ini selama berjam- jam saja bersamanya itu udah sangat cukup.
Kuputuskan untuk membayar semua buku yang udah kubeli. Darma berniat membayar semua buku yang kubeli, tapi aku menepis tangannya dan berkata, “Kita baru pertama ketemu sekitar dua setengah jam yang lalu, nggak sopan kalau semua novel itu kamu yang bayar.”
“Jadi, apa harus dua setengah tahun lagi baru aku boleh bayarin semua novel yang kamu beli?” tanyanya menggoda.
“Dua setengah abad,” kataku tegas dan tertawa melihat ekspresi Darma, kemudian aku mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar semua novel yang kubeli.
“Terlalu lama sampai jadi tua bangka, dong!” serunya nggak percaya.
“Dalam dua setengah abad itu kamu bisa beli toko ini buat aku,” kataku sambil tertawa. Dia juga tertawa. Dan pelayan kasir juga tertawa.
Kami pun keluar dari toko buku dan berjalan nggak tahu kemana karena kami terlalu sibuk mengobrol tentang masalah apapun dan bercanda ini itu.
“Oh iya, katanya kamu kesini nggak sendirian?” tanyaku saat kami berhenti di depan kedai makanan jepang, favoritku.
“Memang enggak,” jawabnya singkat.
Then?” tanyaku. Bola mataku menanyakan lebih banyak. Dengan siapa? Dimana dia atau mereka? Orang penting ataukah cuman kenalan biasa? Aku ingin tahu dan dia harus menunjukkannya. Kalau yang bersamanya adalah wanita muda, cantik, dan sedang duduk di meja dua kursi sendirian itu, aku akan segera pergi. Aku menduga wanita cantik itu karena mata Darma tersorot ke arahnya.
Darma menunjuk ke arah wanita itu. Dan benar saja! Hatiku terasa dihunus pedang samurai. “Ohh,” ucapku lemas dan beranjak ingin pergi.
“Kenapa Sarah?” tanya Darma mengetahui wajahku berubah pucat dan terlihat lemas, “Kamu sakit? Kamu belum makan, ya?”
Aku menggeleng pelan dan berpamitan.
Darma meraih tanganku dan berkata, “Makan dulu, yuk. Aku kenalin sama keluargaku yang ada disana.”
Apa!? Spontan darahku mengalir cepat menuju otak. Pipiku terasa berisi darah yang banyak dan panas. “Keluargamu?” tanyaku.
Darma mengangguk dan membawaku – menyeretku, lebih tepatnya – menuju meja dimana keluarganya sedang memilih makanan. Darma menyapa mereka dan mengenalkanku pada mereka. Aku tersenyum dan memberi salam pada mereka dan mereka sangat welcome padaku.
Aku salah sangka! Yang dimaksud Darma adalah tiga orang yang duduk di belakang wanita muda dan cantik itu. Parah saja aku udah parno duluan. Dan beruntung aku nggak jadi pulang duluan.
Adik Darma sepertinya masih kelas XI, tapi tindak tanduknya seperti anak kelas VI. Namanya Elin. Ia cantik dan manja, terlihat dari caranya menyapaku. Untuk ukuran anak SMA, ia terlihat lebih manja dan welcome. Nggak seperti anak SMA kebanyakan yang jaim dan malu- malu. Aku suka Elin dan keluarganya sangat baik.
Mama Darma menyuruhku menceritakan diriku dan dengan senang hati aku menjelaskan jati diriku dan menceritakan bahwa aku dan Darma baru saja bertemu sekitar tiga jam yang lalu. Keluarga Darma cukup kaget karena ternyata kami baru saja bertemu tapi kami terlihat sudah kenal selama tiga tahun.
Elin sangat narsis dan meminta Darma memotretnya bersamaku selama menunggu makanan datang. Banyak foto yang kami abadikan. Kebanyakan Elin memintaku berfoto dengannya, tapi nggak jarang juga ia menyuruhku foto bersama papa-mamanya dan dengan Darma juga. Di foto itu aku terlihat seperti adiknya Darma, bukan sebagai temannya. Kemudian Elin mengambil alih dan meminta mamanya memotretnya bersama aku dan Darma.
Saat makanan datang, nggak mengurangi potensi Elin untuk foto- foto lagi. Bahkan saat aku sedang kepanasan karena nasi yang kumakan belum kutiup, Elin memotretku dan hasilnya aku sangat aneh.
Selesai makan bersama ini rasanya nggak sopan kalau aku langsung pulang, tapi hari udah sore dan aku kangen dengan mami. Dengan berat hati aku dan Elin berpisah, tapi sebelumnya kami saling bertukar nomor handphone dan saling memberi alamat twitter.
Aku pamit dengan keluarga Darma, kami berpisah di depan kedai makanan jepang itu. “Hati- hati, Kak Sarah!” seru Elin. Ia tersenyum, tapi rasanya dia nggak rela.
Aku tersenyum ke arah mereka dan turun dengan eskalator. Aku rasa hari ini sangat menyenangkan. Walaupun aku cukup kecewa karena Yesi dan Nila nggak datang.
Aku senang karena aku membatin tentang Darma tadi saat di toko buku, kemudian kami bertemu. Ini magic! Mungkin ini karena panah Aphrodite! Aku tersenyum dan pulang. Berharap someday kami akan bertemu lagi.
YYY

Selasa, 08 November 2011

Cerita Kampus-Dipegat

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, November 08, 2011 0 komentar
Siapa yang nggak seneng kalau nemu cowok ganteng di seantero universitas? Lihat fotonya aja udah seneng banget! Apalagi kalau ketemu langsung. Nggak pernah sebelumnya aku nemuin cowok ganteng, nyenengin kayak dia. Aku dan dia – sebut saja Mas Ditya – bertemu di game di Facebook.
Beberapa hari lalu, aku dan dia berhubungan tanpa sengaja karena aku asal accept persetujuan yang ada di game itu. Aku dan dia mulai berhubungan walaupun hanya di dunia maya. Aku nggak tahu siapa dia dan bagaimana bentuknya dia. Tapi suatu hari aku penasaran dengannya dan mencarinya di kotak pencarian.
Kuketik namanya dan kutemukan dia dengan profil picture yang ganteng. Ia duduk dengan gagah, memakai kaca mata, dan pemandangan di belakangnya membuat penampilannya makin perfect. Dia makin nyenengin dengan senyum dan wajahnya yang baby-face.
Saking senangnya aku nemuin cowok ganteng macam Mas Ditya, aku selalu membuat tweets di twitter tentang dia dengan inisial ‘Mas Ganteng’. Adik sepupuku yang tinggal di luar kota penasaran dengan ‘Mas Ganteng’ yang selalu kubuatkan tweets. Kalau adik sepupuku aja penasaran, apalagi aku? Sampai sekarang ini aku masih belum pernah menemukan batang hidung wujud Mas Ditya. Aku sangat penasaran.
Sahabatku yang tahu kalau aku sedang suka dengan seseorang lewat game di Facebook juga bertanya- tanya dan penasaran tentang Mas Ditya. Kalau aku mau, aku bisa menyiarkan berita ini di televisi kampus dan radio kampus. Sayangnya, aku nggak punya keberanian untuk ngelakuin hal gila itu.
Hari ini adalah hari terakhir ujian, dan mulai besok hingga Hari Senin depan, aku dan teman- teman libur. Aku berniat untuk lama- lama di kampus karena lima hari ke depan kami belum tentu bisa bertemu.
Aku senang kalau sudah berhadapan dengan layar laptop. Ditambah dengan free hotspot yang disediakan pihak universitas untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa – yang nggak dibuat belajar juga.
Aku mulai mengecek akun bloggerku, setelah kupastikan aman, aku beralih ke twitter. Kubalas semua retweet dari teman- temanku dahulu, kemudian aku beranjak menuju Facebook.
Seorang temanku datang menghampiriku dan berkata, “Wajahmu ada siratan desperate, kenapa? Gara- gara ujian, ya?”
Spontan, aku mengambil cermin dari tasku dan melihat wajahku di refleksi cermin. Aku rasa temanku itu benar. Mataku aneh dan sorot pandanganku nggak biasa. Ada yang membuatku galau setelah mendengar statement temanku, tapi aku nggak yakin kenapa aku galau begini.
Aku berkutat lagi dengan Facebook. Kubalas semua wall-post dari teman- temanku, mengecek keadaan grupku, dan menunjukkan Mas Ditya pada Hannah.
“Han, lihat, deh! Ini dia pacarku,” seruku sambil menunjuk ke foto- foto milik Mas Ditya.
“Ih, iya, ganteng, Sar!” seru Hannah, “Tapi ada beberapa foto yang alay, deh!”
Aku mengangguk mengiyakan. Ya, nggak aku raguin kalau ada posenya yang membuatku berpikir dia sangat kemayu dan terbesit dalam pikiranku, dia alay!
“Eh, tapi dia ganteng, kan?” tanyaku memastikan.
Hannah mengangguk, “Kalu untuk ukuran di kampus ini, sih, dia emang ganteng, Sar.”
Aku nggak menggubris omongan Hannah, kalau kupikir, aku bakal down sama Mas Ditya. Dia perfect dengan apa adanya dia. Manis, asam, asin, pahit, semua aku bisa lihat darinya.
Perasaanku mulai nggak enak setelah ada pemberitahuan bahwa Mas Ditya mengirimiku permintaan game yang sering kami mainkan. Aku beralih menuju profilku dan membaca kiriman dari Mas Ditya.
Deg!
“Han,”panggilku.
Hannah yang sedang berkutat dengan ponselnya beralih padaku, “Iya, kenapa Sar?”
“Aku,” kataku lirih, “dipegat!”
“Hah?” seru Hannah kaget. Ia buru- buru melihat kiriman dari Mas Ditya yang kutunjukkan dan membungkam mulutnya dengan tangannya.
Rasanya lebih parah daripada kejatuhan kotoran blekok beberapa minggu lalu, hanya saja nggak berbau. Aku baca sekali lagi kiriman dari Mas Ditya dan kupastikan aku salah membaca.
Sialnya, mataku beres- beres aja dan isi kiriman itu adalah surat pegat yang ia luncurkan padaku. Aku menatap layar laptop dan mataku berair, antara menangis dan nggak menangis.
“Loh, Sar, kok kamu nangis, sih?” tanya Hannah.
“Aku baru mulai suka sama dia,” kataku, “kok aku bertepuk sebelah tangan?”
“Tapi itu cuman mainan, Sar,” kata Hannah mengingatkanku.
“Tapi dia ganteng, Han. Kapan lagi nemu cowok ganteng kayak dia di kampus ini? Jarang- jarang, tau,” ucapku lirih, pasrah.
“Tapi itu cuman mainan. Nggak pakek nangislah, Sar,” bujuk Hannah.
Aku menutup akun Facebookku dan membuka akun twitter. Sepuasnya aku memenuhi timeline dengan kegalauanku atas Mas Ditya. Aku meluapkan kekesalanku lewat kata- kata yang nggak berdosa. Tapi Hannah ada benarnya juga. Ini cuman di game aja! Lagian aku juga belum penah bertemu dengan Mas Ditya secara nyata. Hanya saja, kenapa rasanya seperti aku udah lama kenal dengannya?
Beberapa temanku meretweet quotes galauku. Bertanya apa yang terjadi padaku dan kenapa bisa begitu. Aku ingin menjawab rasa penasaran mereka, tapi jari- jariku berasa lelah untuk menceritakan kegalauanku.
Belum sempat aku membalas retweet mereka, aku buru- buru menutup akun twitterku dan meminjamkan laptopku pada Hannah. Aku muak dan sedih. Padahal ini cuman di game, tapi rasanya seneng banget bisa berhubungan walaupun hanya di dunia maya.
Yeah, walaupun di dunia nyata aku nggak berhubungan dengannya, bahkan aku belum pernah bertemu dengannya, tapi seenggaknya jangan pegat aku di dunia maya.
Rasanya malu- maluin. Baru beberapa hari lalu aku mengumbar rasa senangku karena udah tahu bagaimana rupanya Mas Ditya, walau lewat foto di Facebook. Dan sekarang, kami mengakhiri hubungan maya kami. Rasanya aku ingin berteriak di telinganya meluapkan kekecewaanku. Aha! Soundtrackku untuk hari ini: Kecewa – Bunga Citra Lestari.
Langit mulai mendung dan angin berhembus sangat kencang. Aku berpikir untuk hujan- hujan hari ini walaupun sakit perutku ini belum sembuh betul karena hujan- hujanan bersama mami kemarin. Aku harap hari ini akan hujan dan aku ingin air hujan turun tepat di ubun- ubun kepalaku. Melelehkan rasa kecewaku pada Mas Ditya karena berakhirnya hubungan ‘maya’ kami.
Windy menghampiriku dan berkata, “Sar, beli jajan, yuk!”
Aku dengan lesu menjawab, “Ayo, aku lagi nggak mood do nothing, nih.”
“Kamu kenapa?” tanya Windy penasaran, “Ketularan galaunya Husna, ya?”
Aku mencubit bahunya dengan pelan, “Enggaklah, Win.”
Hannah menjawab pertanyaan Windy yang sebenarnya nggak perlu dijwab karena aku sangat malas mendengarnya, “Eh, temenmu ini lagi galau gara- gara putus sama pacarnya yang ada di game!”
Husna mendekat dan mendengar sedikit percakapan kami kemudian bertanya karena penasaran, “Loh, Sarah kenapa, Han?”
“Putus sama pacar dunia mayanya,” ucap Hannah sambil ketawa- ketiwi.
“Loh, kamu kok ikutan galau, sih? Yaudah, sini- sini, kita galau bareng- bareng,” ucap Husna sambil memelukku.
“Loh, dia tuh ganteng. Ganteng banget! Aku nggak pernah nemuin cowok ganteng kayak dia lagi di kampus ini,” ucapku lirih.
Husna mengelus- elus pundakku dan berkata, “Dia bukan jodohmu kali, Sar.”
Aku langsung menimpali dengan sigap, “Kalaupun nggak berjodoh di dunia nyata, paling nggak dia nggak putusin aku di dunia maya, Na.”
Windy dan Hannah tertawa karena hal ini sebenernya kedengaran lucu dan aneh. Tapi gimana kalau aku bener- bener suka sama sosok Mas Ditya itu? Padahal aku hanya lihat wajahnya di foto.
Plakk!!
Aku menampar diriku dengan tinjuan maya. Aku harap aku segera sadar kalau itu hanya permainan dan terserah dia mau putusin aku atau balikan padaku. Tapi walau begitu, dari hati paling dalam, aku ingin bernyanyi bagian lagu dari ‘Forever and Always’nya Taylor Swift untuk Mas Ditya.
Back up. Baby, back up. Did you forget everything?
 ┐(‾o‾┐)​ (┌‾,‾┐)​ ┐(˘–˘ )┌​

Sabtu, 05 November 2011

Cerita Kampus-Change

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, November 05, 2011 2 komentar
Sudah beberapa hari ini aku nggak bicara, walaupun hanya bercanda, dengan Alvin.setiap aku lewat, dia juga nggak menyapa. Padahal, biasanya dia langsung urakan kalau ketemu aku.
Aku agak gelisah. Perubahannya nggak wajar dan bikin aku oenasaran, apa yang terjadi sama dia? Kami sesekali saling berpandangan, kemudian saling mengacuhkan. Aku berpikir- pikir, apa ini salahku? Perilakunya nggak berubah sama semua orang, tapi hanya padaku. Aku sangat penasaran!
Pernah satu kali kuungkapan pada Windy. Rasanya di hatiku ini sesak sekali. Aku nggak terbiasa didiamkan seperti ini. Bukan hanya sehari, tapi udah seminggu ini. Windy berkata kalau dia akan bertanya pada Alvin tentang perubahan sikapnya padaku. Tapi aku kurang enak kalau Windy yang bertanya. Akan lebih baik kalau hal ini langsung aku yang menuju poinnya.
Dalam seminggu ini, baru kemarin aku bicara pada Alvin, itu saja hanya tentang mata kuliah. Aku diidamkan untuk mengajari teman- temanku mata kuliah writing. Dengan senang hati aku mengajari mereka, termasuk Alvin.
Tatapannya memang berbeda padaku, dan aku sadar, bukan hanya aku. Dia berubah bukan hanya padaku. Memang, sikapnya agak diam padaku, tapi cara dia memandang orang lain itu udah berbeda.
Aku lumayan lega kalau dia bersikap aneh bukan hanya padaku, tapi ini masih saja menjadi misteri yang membuatku penasaran. Rasanya aku ingin membongkar otaknya dan menemukan apa yang menjadi benda hitam yang membuatnya berbeda. Apa proses dewasa ataukah hanya pura- pura. No body knows.
Aku canggung kalau harus menyapanya duluan. Prinsipku ini memalukan dan memang berdasarkan atas asas malu. Aku nggak terbiasa menyapa orang lain sebelum mereka yang menyapaku, exception untuk teman- teman sesama jenis dan atau teman yang udah kuanggap kerabat dekatku sendiri.
Aku memasang headphone milik Windy dan mendengarkan lagu dari ponselku. Track “Everybody’s Changing” – Keane memulai lagu- lagu favoritku di playlist. Aku duduk di gazebo di samping gedung sambil menunggu hujan hingga turun nggak begitu deras. Walaupun hujan turun, matahari sedikit- sedikit muncul dari balik awan, menunjukkan sudah sekitar jam empat sore. Rasanya aku nggak ingin beranjak dari tempat dudukku ini.
Windy menawariku dan Hannah untuk membeli cemilan karena dia lapar. Sebenarnya aku juga ingin hujan- hujan, tapi pantatku terasa lengket di kursi gazebo ini dan nggak ingin beranjak kemana- mana. Aku minta maaf pada Windy karena aku benar- benar ingin ada di gazebo ini.
Nggak ada pilihan lain, akhirnya Hannah yang menemani Windy. Dijatuhi air hujan, mereka melaju menuju pusat jajanan dekat kampus, dan aku asyik- asyiknya duduk sambil mendengarkan lagu- lagu di playlistku.
Aku bersenandung pelan sambil menikmati suasana. Dingin, pasti. Seding, belum tentu. Aku hanya penasaran, dan rasa penasaranku ini sudah sampai ke ubun- ubun.
Aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan momen yang pas untuk bicara pada Alvin. Setiap ada Alvin, pasti gerombolannya nggak pernah lepas dan mereka seperti menempel kalau kemana- mana.
Baru saja aku berharap mereka berpisah untuk sementara waktu, kemudian Allah mengabulkan do’aku. Alvin berjalan menuju ke dalam gedung. Aku melihat langkahnya seperti berbelok saat melihatku. Maksudku, ia berencana duduk di gazebo, kemudian setelah melihatku, ia menuju ke dalam gedung.
Aku tersenyum saat kami berpandangan dan aku bertanya, “Mau kemana, Vin?”
Alvin kemudian berjalan mendekatiku. Ia memastikan, melihat ke kanan dan ke kiri, seolah- olah ia takut jika mendekatiku, ada anjing yang tiba- tiba siap sedia menggigit kakinya. “Kok kamu belum pulang?” tanyanya pelan.
“Aku lagi nunggu Windy sama Hannah, mereka lagi beli jajan. Kamu juga belum pulang, kenapa?” tanyaku dengan wajah penasaran yang kubuat- buat.
“Aku lagi nunggu yang lain, tadi abis dari makan, sekarang nggak tahu mereka kemana,” jawab Alvin, kemudian dia duduk di depanku, “aku tunggu disini, ya?”
Aku mengangguk, “He’em, duduk aja.”
Alvin mengeluarkan ponselnya dan berkutat dengan keypad, mengetikkan sesuatu di ponselnya, mencari kegiatan selain berbicara padaku. Sesekali aku tersadar kalau dia melirikku, tapi aku hanya diam.
Aku lihat hujannya kembali deras. Aku khawatir dengan Windi dan Hannah. Aku khawatir karena mereka nggak mengajakku hujan- hujanan bersama, tapi pantatku masih saja tetap menempel di bangku gazebo.
Aku melamun saat mendengarkan lagu ‘Forever And Always’. Tanpa sadar aku bersenandung pelan, tapi aku rasa Alvin bisa mendengar suaraku karena aku merasa ada orang yang sedang memandangiku.
...and told me you loved me. Were you just kidding, cause it seems to me this thing is breaking down, we almost never speak. I don’t feel welcome anymore. Baby what happened, please tell me, cause one second it was perfect, now you halfway off the door. And I stare at the phone...
“Kamu lagi ngomong sama aku, Sar?” tanya Alvin sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Atau kamu lagi nyanyi?”
Aku tersadar dari lamunanku dan melepas headphone. “Kenapa, Vin?” tanyaku.
“Kamu nyanyi, ya, barusan?” tanya Alvin.
Aku mengangguk sambil keheranan, kebingungan. Aku nggak sepenuhnya sadar kalau aku sedang bernyanyi, karena rasanya aku sedang terbawa suasana.
“Aku kira kamu lagi ngomong sama aku, mana pake bahasa inggris, aku jadi kaget,” ujarnya.
“Kamu harus terbiasa, kita kuliah di jurusan Sastra Inggris, kan?” tanyaku.
“Aku kira tadi kamu lagi ngomong sama aku,” ucapnya lirih.
Back up, baby, back up. Did you forget everything?” kataku pada Alvin.
“Kamu nyanyi?” tanya Alvin memastikan.
“Aku bicara sama kamu,” jawabku, “tahu artinya, kan?”
“Iya, iya, kamu yang pinter. Aku enggak, aku nggak mudeng, sumpah!” ujar Alvin.
“Eh, nggak gitu, Vin,” kataku, “kamu nggak ngerti, deh!”
“Emang aku nggak ngerti!” seru Alvin. Nadanya agak marah, tapi seperti ditahan.
Aku diam sejenak, menatap Alvin yang sedang mengacuhkan pandangannya dariku. Aku berharap kalau ia marah ia cukup dengan beranjak dari tempat duduknya aja. Dan kalau nggak marah, ia tetap duduk disitu.
Aku menunggu satu menit ini dan dia nggak beranjak, hanya saja ia mengacuhkan aku. Dia nggak marah, tapi tatapannya nggak welcome padaku.
Aku menghirup udara banyak- banyak dan berkata dengan halus pada Alvin, “Sorry, tapi maksudku nggak kayak yang kamu pikirin.”
Alvin menatapku sejenak, kemudian berkutat dengan ponselnya. Hal ini membuatku semakin jengkel dan penasaran yang ada di ubun- ubunku ini ingin kuungkapkan.
“Kamu beda, Vin!” seruku, kemudian aku melanjutkan ucapanku dengan nada rendah setelah mendapat perhatiannya, “Kamu diemin aku. Aku nggak bisa. Bukannya apa- apa, tapi kita temen. Dan aku nggak bisa dan nggak biasa didiemin sama temen sendiri!”
Alvin hanya diam dan menatapku. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ada sesuatu yang menahannya. Dan terpaksa aku melakukan hal gila ini, semata- mata untuk melegakan rasa penasaranku.
Aku beranjak berdiri dari bangku gazebo, kuletakkan headphone Windy di atas meja dan melangkah keluar dari gazebo. Titik hujan pertama terasa dingin, kemudian kedua, ketiga, dan tak terhingga. Aku merasa kepalaku cepat sekali basah terkena air hujan.
“Kamu ngapain, Sar?” tanya Alvin dengan nada cukup khawatir.
“Kamu jawab pertanyaanku atau aku tetep berdiri disini terus!” seruku.
“Nggak usah kayak di film- film, deh, Sar!” seru Alvin.
Aku hanya diam dan menunggu Alvin yang nggak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku udah mulai menggigil kedinginan. Alvin pasti berpikir sebentar lagi aku akan roboh dan nggak kuat, kemudian aku akan duduk kembali di gazebo. Tapi aku harap dia nggak berpikir begitu atau ia salah besar! Aku tetap berdiri sementara air hujan tetap menimpa seluruh badanku.
“Bibirmu udah mau beku, buruan duduk lagi!” seru Alvin.
“Kamu emang nggak ngerti, deh!” seruku.
Alvin beranjak dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tanganku, tapi aku menahan diriku dan nggak beranjak sedikitpun dari tempat aku berpijak.
“Kamu pengen aku jawab apa?” tanya Alvin dengan nada pura- pura bodoh.
“Jawab sejujur- jujurmu. Kamu beda, nggak gila kayak biasanya. Kamu tuh diemin aku!” jawabku.
“Aku biasa aja kok,” kata Alvin, “aku udah jawab, buruan teduh disitu!”
“Kamu bohong, deh, Vin,” ucapku lirih.
Nggak lama gerombolan Alvin datang. Windy dan Hannah juga datang sambil ketawa- ketawa. Mereka terdiam saat melihatku hujan- hujanan dengan Alvin.
“Bro, ngapain disitu?” tanya Vito sambil menutupi wajahnya dari cipratan air hujan.
“Ih, iya, nih! Alvin sama Sarah kayak adegan di film- film,” komentar Jessy.
Satya melihat kami berdua yang bertamapang serius kemudian ia mengajak Alvin untuk segera pergi. Alvin meraih tasnya dan kemudian pergi bersama teman- temannya.
“Oke, aku anggap kamu marah sama aku. Itu alasannya kenapa kamu diemin aku seminggu ini,” ucapku pada Alvin.
Alvin berbalik dan berkata, “Aku nggak marah sama kamu. Aku bukan temenmu dan aku juga bukan musuhmu. Aku...”
Belum selesei Alvin berkata, Rama menarik Alvin dan mereka pergi. Windy dan Hannah segera menghampiriku dan mengajakku duduk di gazebo. Introgasi dimulai. Tanganku dingin dan aku nggak berhenti menggigil. Windy memberi jajanan hangat yang baru ia beli. Kugenggam jajan itu dan tanganku sedikit bisa merasakan sesuatu.
“Minum dulu, Sar,” kata Hannah yang menyodoriku teh hangat pesananku.
Setelah kuminum, aku baru cerita pada Windy dan Hannah. Cukup lega setelah aku menceritakan kejadian tadi pada mereka berdua.
Aku agak tenang dan Windy konsetrasi untuk memakan jajanan yang baru ia beli. Hannah masih tetap berkutat dengan ponselnya sambil memakan jajannya sedikit- sedikit.
“Eh, Sar, denger, nih!” seru Hannah.
“Apaan, Han?” tanya Windy dan aku bersamaan.
“Status BBM Alvin!” seru Hannah.
“Eh, buruan baca!” seru Windy.
“Seneng deh liat kamu hujan- hujanan kayak gitu, tapi kasian,” ucap Hannah membaca status BBM Alvin.
“Kok tega, ya?” tanyaku lirih.
“Iiih, rasanya pengen aku tendang!” seru Windy sambil memakan jajanan dengan ababil.
Aku dan Hannah tertawa melihat Windy. Aku berpikir sejenak, ini lebih baik dari kemarin. Aku udah mengungkapkan apa yang menjadi penyakit di ubun- ubunku. Walaupun aku nggak tahu apa jawaban pastinya, tapi ini tetap melegakan. J
ÛÛÛ
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review