Senin, 17 Oktober 2011

Cerita kampus-Because of Marry You

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 17, 2011
Aku ingin menangis sekencang- kencangnya nggak peduli ini di rumah atau di kampus karena aku hanya ingin membuat hatiku lega.
Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya dan dia menyatakan perasaannya padaku di warteg dekat kampus. Aku masih nggak percaya bahwa status hubungannya di facebook sudah berganti dari lajang ke berpacaran dengan seorang cewek yang juga satu fakultas dengannya, tapi beda tahun ajaran.
Aku ingin sekali menangis melihat banyak jempol menghiasi status hubungan itu dan aku membaca semua komentar- komentar yang mendo’akan mereka agar tetap langgeng dan sebagainya membuatku ingin membakar gedung kampusku yang terasa panas.
Keringat mencucur dari dahiku dan aku harap mataku jangan sampai meneteskan air sebelum Hannah atau Windy datang. Aku butuh bahu mereka untuk bersandar sekarang ini, karena merekalah yang ada di dekatku di waktu ini.
Aku ingin menelpon sahabat- sahabatku di SMA, tapi aku takut aku akan menangis dan seolah berharap padanya untuk menghapus status hubungan itu.
Satya muncul dari belakang dengan khasnya yang ceria, “Halo bebeb.”
Aku hanya tersenyum dan menahan air mata di pelupuk.
“Kamu lagi ngapain ini?” tanyanya sambil duduk di sampingku dan melihat ke layar laptopku, “Siapa ini, Sar? Pacarmu, ya?”
Jantungku serasa dihunus pedang milik abi yang tersimpan rapi di rumah. Aku tambah galau dan ingin menangis. Aku buru- buru memutar lagu ‘Marry You’ milik Bruno Mars yang membuat tertawa dan tersenyum- senyum seperti orang kasmaran.
“Kamu kenapa, Sar?” tanya Satya yang melihat tingkahku aneh sekali.
“Nggak apa kok,” jawabku, “eh, kamu tanya ini siapa, ya? Dia bukan pacarku, kan status hubungannya sama orang lain.”
“Oh, iya, ya. Tapi kok kamu kayak lagi sedih gitu, sih?” tanyanya peduli.
Aku menggeleng, “Aku, aku, aku...”
Aku nggak kuat menahan dan kemudian menangis dalam pangkuanku sendiri.
“Loh, Sar, kamu kenapa?” tanya Satya kebingungan.
Orang lain di sekitar menatap kami dan pandangan mereka seperti menyalahkan Satya bahwa dia yang bersalah dengan membuatku menangis. Kemudian Satya mengemasi laptop dan memasukkan ke dalam tas ranselku. Satya menggandengku dan menggendong tasku di bahu sebelah kirinya.
Aku mengusap air mataku dengan baju ujung tanganku. Aku hanya ikut saja dengan Satya entah kemana ia akan membawaku.
Ternyata Satya membawaku ke tempat duduk dekat parkiran yang adem karena pohon- pohon rindang. Jam segini parkiran sepi entah kenapa. Mungkin parkiran tahu aku butuh tempat untuk menangis dan mengeluarkan isi hatiku.
“Aku minta maaf, Sar, tapi aku nggak tahu apa yang bikin kamu nangis,” ucap Satya sambil mengelus- elus punggung tanganku.
“Aku yang minta maaf,” kataku sambil masih tersedu- sedu, “maaf aku jadi ngerepotin kamu.”
“Enggak kok, nggak apa. Apa, sih, yang nggak buat kamu?” ujar Satya menggombal, bahkan di saat seperti ini.
Aku hanya tersenyum malu dan tetap masih tersedu- sedu.
“Alhamdulillah kamu udah senyum lagi,” ujarnya dengan nada lega dan tenang.
Aku tersenyum malu lagi. Di dekat Satya, aku selalu dibuat senyum dan tersipu malu. Niatnya selalu untuk membuatku ge-er padanya.
“Kamu cerita, dong, kenapa kamu nangis. Siapa tahu aku bisa bantu,” kata Satya dengan baik hati.
“Ini rumit, nanti kamu pusing,” kataku.
“Enggak kok, yang penting kalo itu ceritanya dari kamu, pasti aku dengerin sampai aku tidur, deh,” ucapnya sambil bercanda.
Aku memukul bahunya dengan pelan, tanpa tenaga, “Tuh, kan, mending nggak usah cerita, deh.”
Satya lagi- lagi membuatku tersipu malu dan merasa kalo perhatiannya khusus untukku dengan menggenggam tanganku, walau hanya sebentar, tapi aku cukup baikan, “Cerita, dong.”
Aku menarik nafas dalam- dalam dan mulai bercerita, “Dia itu kakak kelasku waktu SMA. Aku suka sama dia udah empat tahun ini dan kemarin, dua hari yang lalu, dia nyatain perasaannya ke aku. Aku lihat, dia bohong waktu bilang dia juga udah suka sama aku udah dari lama. Mungkin dia mau nyamain seberapa lama aku suka dia karena aku pernah cerita hal ini sama sepupu jauhnya.”
“Trus, yang bikin kamu nangis, jangan- jangan status hubungan itu, ya?” tebak Satya.
Aku mengangguk dan aku menangis lagi karena air mataku rasanya akan membanjiri kampus ini.
“Udah, nggak apa, masih ada temen- temen yang lain, masih ada Windy, Hannah, yang lain, masih ada aku juga, kok,” ucapnya.
Aku menatap Satya yang juga menatapku. Aku buru- buru mengalihkan pandanganku dan berkata, “Makasih, ya. Aku cukup oke, kok, sekarang.”
“Cuma makasih aja, nih?” tanyanya sambil bercanda.
“Eh, eh, lah Satya mau minta dibayar apa?” tanyaku.
“Enggak, kok, enggak. Cuma minta hatimu aja,” ucapnya membuatku tertawa dan tersipu malu malu kucing.
“Hatiku lagi luka, emang kamu mau dikasih hati yang kualitasnya buruk?” tanyaku meneruskan bercandanya.
“Selama itu hatimu,” Satya terpingkal- pingkal mendengar gombalannya sendiri. Wajahnya yang baby face membuatnya belum pantas menggombal seperti itu.
“Kecil- kecil suka gombal sama doyan perempuan, ya,” ucapku menyindir dan masih dalam konteks bercanda.
“Ahh, nggak juga,” ucapnya, “cuma kamu, kok.”
“Gombal, ah!” seruku sambil memukul bahunya dengan pelan.
“Gembel, deh,” balasnya sambil menggenggam tanganku dan melepaskannya dengan cepat.
Aku menarik nafas lega dan diam sebentar. Pandanganku kosong dan mulai memikirkan hal itu tadi. Air mataku masih saja mencoba terjun dari pelupuk mataku. Secepat kilat aku mengusapnya dan berusaha tegar. Aku nggak mau membuat Satya menggombal lagi untuk membuat tersenyum, karena itu sama saja membuat hatiku semakin memilihnya.
Kalo dipikir- pikir. Satya juga alasan lain kenapa aku nggak menerima pernyataan perasaan dari Mas Habib. Tapi alasan utamaku tetap prinsipku dan itu kupegang teguh. Untuk siapa saja dan sebesar apa aku menyukainya.
“Loh, mesti mikirin itu lagi, ya?” tebak Satya yang seratus persen benar.
“Maaf, ya,” ucapku, “maklumin, deh. Aku cewek dan aku sensitif, jadi gampang nangis.”
Satya mengangguk kemudian bernyanyi. Awalnya aku mendengar beberapa bait saja, tapi kemudian aku mendengar jelas bahwa Satya menyanyikan lagunya Bruno Mars, The Lazy Song.
“Eh, jangan nyanyi itu. Bikin aku pengen cepetan pulang, trus males- malesan di rumah.
Satya tersenyum dan menawarkan untuk requeat lagu apa. Aku baru akan menjawab tapi Satya menyuruhku stop bicara dan mulai menyanyikan lagu yang ingin kudengar.
It’s a beautiful night, we looking for something dumb to do, hey baby, I think I wanna Marry you,” Satya bernyanyi dengan suaranya yang pas- pasan tapi bisa membuatku tertawa.
“Kok kamu tahu aku suka lagu itu?” tanyaku penasaran.
“Katanya kamu cewek sensitif? Kalo denger lagu- lagu yang nyentuh di hati bakal bikin seneng. Lagu ini bener, kan?” tanya Satya memastikan.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Eh, tapi marry me bukan dumb thing, loh, Sat!”
“Iya, dong,” ucapnya sambil tertawa, “marry you is the the best thing.”
Thankyou,” ucapku sambil mencubit pipinya yang tembem. Ia sangat lucu sampai membuatku ingin terus bersamanya. Tapi, all is friends. Aku harap prinsipku selalu berdiri kokoh walopun dengan Satya juga.
YYY
Lots of loves, niput

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review