Senin, 03 Oktober 2011

Cerita Kampus-Ketika Cewek Berkumpul

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 03, 2011
Siang panas ini aku dan teman- teman sedang ngadem di dalam kelas. Seperti halnya cewek- cewek kebanyakan, sekali berkumpul, waktu akan habis dengan cerita- cerita yang nggak habis- habis.
Claudia sedang latihan memakai mascara dan eye-liner dengan Mita. Mengetahui hal itu, aku ikut nimbrung bersama Claudia, karena sebenarnya aku juga nggak bisa memakai dan memoleskan kedua benda itu di wajahku dengan rapi.
Windi sedang berkutat dengan hapenya. Ramai sekali, dari tadi non stop mengetikkan kata- kata di hapenya.
Joan sedang asyik mengurusi blog- blognya, menambahkan fitur- fitur keamanan pada blognya dan menghias blognya dengan aneka- neka.
Resha sedang menulis kata- kata di papan tulis sambil bernyanyi. Suaranya memang top sekali karena dia pernah menjuarai berbagai lomba dan mendapat penghargaan dari rekor MURI. Talentanya yang satu ini nggak bisa dibantah.
Aku membuka pembicaraan karena semuanya sedang sibuk sendiri- sendiri dan aku nggak mau hanya Claudia dan Mita yang mendengarkan ceritaku.
Eh, eh, tahu nggak, tadi pagi aku sebel banget! Di jalanan, aku harus nyetir di belakangnya truk sampah, iyuuuh!” seruku jijik dan menstop merias wajahku dengan mascara yang ternyata susah dan harus teliti.
Sebagian tertawa, tapi Joan menanggapi dengan serius, “Eh iya, aku juga pernah. Sumpah baunya nggak ketulungan, deh!”
“Parah lagi, tuh, motor yang knalpotnya produksi asap berlebih!” seru Windy dengan full of ekspresi.
“Motor fogging, dong,” seruku mendengar ciri- ciri motor mengerikan itu.
“Kamu terbang aja sama Peterpan!” seru Mita sambil membantuku merapikan mascara di bulu mata kiriku.
“Hmm, nanti aku diajak ke rutan sama Ariel, nggak bisa ketemu kamu, loh,” jawab Windi sambil terkekeh.
Resha yang ngeh tentang permusikan langsung menyambung, “Eh, tapi mau di rutan apa di luar rutan, pesona lagu- lagunya tuh nggak pernah pudar, loh. Mencinta banget!”
“Hee, aku nggak suka sama band itu,” kata Claudia memberi opini.
“Aku cuma suka beberapa,” kataku, “kayak di album Alexandria itu loh, keren banget! Lagunya nancep di hatiku!”
“Cieeeeh,” seru teman- temanku kemudian tertawa bersamaan.
Aku dengan malu- malu melanjutkan menambahkan mascara di bulu mata sebelah kanan. “Hati- hati kena kulitmu,” ucap Mita wanti- wanti.
“Di jalanan tuh berbahaya banget, loh. Banyak kecelakaan kalau nggak hati- hati,” ucap Joan.
Resha menyerobot, “Makanya, Yang bisa ngendarai motor nggak usah ugal- ugalan. Yang nggak bisa ngendarai motor, nggak usah ngendarai motor.”
“Nah, betul banget!” seru Claudia sambil berhigh-five dengan Resha.
“Kalian berdua asli nggak bisa ngendarai motor, kan?” tanyaku sambil terkekeh, “Tapi emang lebih enak bonceng, deh.”
Semua teman- temanku menyetujui. Karena kalau kita sendiri yang harus mengendarai motor, resikonya capek nggak ketulungan. Capek ngegas dan capek duduk di jok.
“Kadang aku malah tidur pas lagi ngendarai,” ujarku sambil menata mascaraku yang dari tadi belum selesei- selesei.
“Ngeri, deh, kamu,” Joan berkomentar singkat, lalu berkutat lagi dengan blognya.
Windi berkomentar dengan ekspresi khasnya, “Tapi kalau kita hati- hati, ya, kita tetep selamat, kok. Belum jatahnya end, yaa, nggak end.”
Windi menutup komentarnya dengan suara tawanya yang agak ditahan.
Aku beristighfar mendengar komentar Windi yang sedikit menakutiku. Mungkin setelah ini aku nggak akan tidur pas lagi nyetir lagi.
“Nggak enak itu kalau nyetir dan di depan kita tuh ada orang tua kepleh- kepleh,” ujar Mita.
“Kepleh- kepleh?” tanya Claudia yang berasa asing mendengar kosa kata baru itu.
Aku dan yang lain mendengar kata itu karena nggak biasa kuucapkan kecuali dengan temanku yang sudah benar- benar dekat. Aku baru saja mengenal mereka tiga minggu ini. Tapi mereka bisa menjadi keluarga di kampus ini, karena bersama mereka aku menghabiskan waktu dan cerita- cerita.
“Nggak enak tuh kalau nyetir, di depannya ada orang pacaran! Mesti lama, kayak pengantin baru lagi diarak keliling kota,” ucap Resha.
Aku menyetujuinya, “Tapi ada juga yang nggak enak kalau di depannya kita tuh cewek. Mana jalannya lambat, nggak bisa selap- selip, plus jalannya di tengah!”
“Lah kamu apa nggak cewek, Sar?” tanya Mita.
“Cewek, tapi nggak segitunya kali. Jalanan diambil sendiri, dikira cuma dia yang bayar pajak?” tanyaku.
Semuanya menggelengkan kepala dan menganggap pernyataanku memang benar adanya. Karena rasanya setiap hari aku mendapati orang- orang seperti itu dijalanan.
“Kamu tahu nggak kalau kemarin ada kecelakaan, naas banget! Si anak baru mau pulang sekolah, malah ketabrak truk. Ya Allah, ngeri banget!” seruku.
“Kadang- kadang kendaraan berat juga sering nggak ngalah sama keadaan dan bikin jalanan rame. Yaa, contohnya kayak gitu itu. Rugi besar, deh,” komentar Joan yang meninggalkan blognya sesaat. Dia mengelus- elus bagian tengah matanya, sepertinya dia capek.
“Yaah, semoga aja kita bisa selamat- selamat di jalanan,” ujar Windi dan kami semua mengamini dengan sepenuh hati. Karena nggak ada yang mau kalau terjadi sesuatu hal buruk di jalanan.
YYY
Lots of loves, NiputY

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review