Sabtu, 31 Desember 2011

Cerita Kampus-Malam Pergantian Tahun 2011-2012

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Desember 31, 2011 0 komentar
My friend texted me like this: Life has its ups and downs. Sometimes sun shine and sometimes the rain pours. But, don’t forget to take both sun and rain to make rainbow.
Dari pagi sampai sore ini nggak ada abisnya ngerjain kegiatan buat acara malam tahun baru. Dari beli jajan, belanja sayur, beli ikan, dan lain- lain. Dari yang kepanasan sampai kehujanan. Dari yang masih terjaga sampai ngantuk- ngantuk.
Beli sayur pagi ini nggak butuh waktu lama karena kami cuman butuh selada, kol, timun, dan tomat. Baru setelah itu kami pergi ikan. Muter sana, muter sini, karena nggak ada harga yang pas. Dan akhirnya dapet ikan nila 3 kg dengan harga yang males banget kalau disebutkan. Mahal!
Pulang dari situ rencana aku mau langsung tidur, tapi temanku yang lain mmenyuruhku untuk bersihin ikannya dulu. Aku stay di rumah temanku buat bersihin dan bumbuin ikannya. Hujan turun deres dan kami nekat pulang sambil bawa payung dan helm. Suer, kayak orang sinting!
Naah, baru itu aku bisa merebahkan diriku di kasur dan bobok cantik sebentar. Walaupun nggak ada dua jam, aku bisa investasi energi biar begadang buat malam tahun baru ini.
Detik- detik menuju acara bakar- bakaran, kami malah direpotin sama beberapa orang yang aneh dan ngeribetin acara. Aku nggak ngurus dan bersikap terserah-elo-maunya-apa, hanya saja temanku satunya itu panik dan nggerundel tentang orang aneh itu *maaf, ya, walau kamu temenku, tapi kamu nggak punya tanggung jawab dan aku boleh aja bilang kamu freak*.
Nggak cuman orang aneh itu aja, kekacauan mulai terjadi pas ikannya berasa masih amis dan kamim mutusin buat goreng dulu ––– dan itu memakan waktu lama. Belum lagi sosis sama baksonya yang belum begitu mateng, accordingly kami menggorengnya pula. Tahu sampai jam berapa kami melakukan itu? Hampir setengah dua belas!
Setelah kami beres- beres dan semua udah siap, kami baru bisa santai dan makan bersama. Dan pas setelah kami selesai makan, jam menunjukkan pukul 00:00. Welcome to 2012! Aku berseru pada yang lainnya unutk menyalakan kembang api yang kami beli.
Walaupun ada kembang api yang munculnya agak aneh, tapi kami tetap menikmati acara malam ini. Makan- makan ini ditutup dengan makan buah dan jajanan sambil nonton film.
Karena nggak kuat, kami pun mengakhiri malam ini mungkin sekitar pukul satu. Batukku udah mulai kambuh dan kepalaku sakit, bukan pusing. Setelah kami bersihin TKP, kami langsung pamit dan pulang.
Malam ini beda sama malam tahun baru kemarin. Lebih seru, walaupun orangtuaku ngerayainnya cuman di urmah sambil nonton tv berdua *eaaa!?!*. Ada temen- temen yang bikin seru suasana sama cerita- cerita dan bercandaan mereka.
Nggak lupa juga aku sms temen- temen kampus dan teman- temanku yang lain. Aku berdo’a semoga kami semua dilancarkan UTSnya dan diberikan IP baik sesuai kerja keras kami dalam belajar. Sumpah, aku nggak mau jatuh untuk kedua kalinya, dan aku mohon 2012 ini aku bisa lebih sukses dari yang kemarin, mencapai segalanya dengan mudah dan diridhoi Allah J.
Happy new year 2012. Ini ceritaku, bikin ceritamu sendiri yaa *wink*.
MMM
P.S: thanks to Pradita Dwi Anggara yang udah kasih quotes new year yang bagus dan meaningful.
Dan bahkan dalam perayaan pergantian tahun pun nggak merubah sikap egois dan nggak bertanggungjawabmu, kawan.

Cerita Kampus-Review

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Desember 31, 2011 0 komentar
Sekarang pukul 18:24 aku mulai menulis review kelakuanku dan perasaanku di tahun 2011. Nggak kerasa udah mau 2012 aja beberapa jam lagi. Apapun itu, nggak menjadi hambatan untuk melangkah ke depan. Hey! Hambatan apa, sih? Kita cuman mau bahas review looh! *ngelantur*
Oke, kita mulai darimana ya? Mmm... ahaa!
e    Naughtyness
Haa, aku nggak siap kalau harus menceritakan hal ini. Tapi ini adalah review kelakuanku selama setahun ini. So, mau nggak mau aku harus cerita. *take a deep breathe*. Kejadian ini terjadi pada awal tahun 20111. Aku pernah melakukan kesalahan yang kupilih sendiri, yaitu masuk ke sebuah universitas yang ternyata nggak cocok denganku. Teman- teman yang baik nggak bisa mendukungku untuk tetap tinggal dan walhasil, aku keluar. Aku hanya kuliah satu semester dan setelah itu pergi.
Nggak cuman aku kok untungnya. Satu angkatan ada tiga orang yang keluar bareng aku. Itu adalah kenakalanku yang pertama dan terakhir kalinya. Merasa lingkungan pendidikan yang nggak cocok bikin aku nggak kuat disana.
Aku harap buat yang mau masuk kuliah, pikir- pikir dulu yang mateng yaa! Pilih tempat kuliah dan jurusan sesuai kemampuan. Masalah ada teman atau enggak, disana pasti juga ada, kan? Aku harap cukup aku yang begini.
e    Foolness
Yang pertama, masih nyangkut sama masalah di atas. Itu bukan suatu kenakalan aja, lebih hancurnya adalah kebodohan. Bodoh sekali kenapa aku memilih jurusan itu sebagai tempat menimba ilmu. Bodoh sekali aku memberikan contoh buruk untuk adik- adikku .Bodoh sekali aku membuang uang orangtuaku. Bodoh sekali aku karena aku sudah membuat malu orangtuaku.
Kedua, masalah hati. Jangan pernah sembunyiin perasaanmu! Itu sakit dan itu bodoh. Anda punya mulut untuk menuturkan apapun yang ada di otak dan di hati Anda. Jangan pernah berbohong kalau Anda nggak mencintai seseorang yang udah menyatakan cintanya pada Anda DEMI ORANG LAIN. Suatu kebodohan yang nggak mungkin akan jadi baik baik saja dengan kata “maaf”.
Ketiga, aku nggak yakin kebodohan atau penyesalan atau kenalalan, tapi ini sungguh ter-la-lu. Hehe. Suatu hari aku berangkat mengajar. Aku hanya sanggup dan ahli dalam pelajaran bahasa inggris, tapi muridku minta ingin belajar bahasa jawa. Walhasil, aku ditanya ini itu nggak mudeng dan anak itu sempet ngambek. Daripada si ibunya complain di bimbelku, akhirnya kuberi jawaban yang nggak bener. Hehe, bukan salahnya dan bukan salahku. Ini adalah kebodohan bersama *ngakak garing*.
e    Freakyness
Aku paling takut dengan yang namanya ‘didiamkan’. Aku bukan kerupuk yang didiamkan di lapangan panas agar mengembang. Sebaliknya, kalau aku didiamkan aku akan mengkerut, nggak berkutik.
Hal itu terjadi saat orangtuaku tahu aku keluar dari universitas pertamaku. Mereka nggak terima karena..yaa, aku membuang- buang uang mereka. Mereka menatapku dengan hopeless dan kemarahan yang dibendung. Kasihan banget wajah mereka. Tapi nggak lama kok mereka mendiamkan aku. Mami akhirnya mulai mendekatiku dan *this is silly* memintaku mengajarinya mengerjakan tugas kantor di komputer *ngakak*. Dari detik itu mami nggak pernah memandangku sebelah mata. Hanya saja... oh daddy, why were you born with bad temprament?
Ketakutan selanjutnya adalah “ditinggal”. Aku nggak betah dan nggak bisa kalau ditinggal orangtua ke luar kota ––– ralat, nggak cuman ke luar kota, bahkan untuk ke mini market aja aku nggak mau –––, serta ditinggal sendiri dengan adikku. Tapi itu adalah waktu dimana aku bisa memperalatnya dan menyuruhnya buat beli ini dan beli itu *ngakak jahat*.
e    Sorrowness
Cukup banyak kesedihanku tahun ini. Teruatama adalah Mas Habib *nama seseorang yang kubuat cerpen yang tokoh aslinya adalah ‘piiiiip’* yang udah punya pacar baru *congrats, ya ;)*. Cintanya kutolak karena dia nggak lain nggak bukan adalah mantan teman dekatku saat SMA yang beberapa bulan lalu menyatakan perasaannya padaku.
Aku cukup senang karena aku nggak bertepuk sebelah tangan. Tapi, dia kubuat begitu. Sebuah kebodohan yang menjadi kesedihan dan berakhir dengan penyesalan.
Apapun itu, aku nggak sanggup, karena alasan utamanya adalah: Prinsipku. Dia melamarku untuk menjadi pacarnya dan aku nggak bisa. Pacaran bisa aja nggak berujung baik dan aku menghinari hal itu darinya, karena aku masih suka padanya J.
e    Regrets
Kembali ke masalah edukasi. Menyesal juga karena aku keluar dari universitas itu dan akhirnya aku mendapat karma dengan nggak masuk ke universitas yang kusuka. Sempat menangis di pangkuan temanku, tapi akhirnya lupa karena mereka mengajakku main uno *ngakak lagi*.
Masalah Mas Habib. Aku cukup menyesal karena aku belum bilang perasaan sebenarku. Tapi perasaan itu masih aku letakkan di rakku. Tenang, nggak kubuang kok. Suatu hari aku pasti pakai perasaan itu lagi J.
Tentang seseorang sebelum Mas Habib. Maaf karena sudah memutuskanmu secara sepihak. Aku anak kecil dan aku sadar aku nggak pantas dengan hal yang namanya ‘pacaran’. Maaf, ya, akhirnya kamu juga dapat orang yang lebih baik dan lebih dewasa dariku.
e    Happyness
Nggak semuanya hal jelek itu berakhir jelek juga. Aku memang nggak bisa masuk di universitas yang kumau. Akhirnya aku masuk di universitas dan jurusan yang keren! Aku nggak menyesal ada disini. Teman- temanku yang baru bikin aku betah belajar dan aku punya semangat baru. Terlebih, aku akan lulus dari sini dan membanggakan orangtuaku yang sempat malu dan hopeless padaku.

Tahun ini aku juga seneng banget. Setiap hari minggu pagi jam 6 aku dan temanku pergi ke ungaran untuk renang. Seminggu sekali untuk olahraga disana. Seminggu sekali dalam tiga jam untuk nyebur ke air dan melelehkan stres.

Asyiknya lagi adalah saat semua teman- temanku pada libur. Kami selalu main uno. Corat- coret sana- sini, ngakak terus- terusan, dan kami ketagihan! Mau coba? Aku berani menyarankan bahwa uno itu asyik!
Dan baru- baru ini, setelah natalan, aku diajak temanku untuk pergi ke pesta taruna yang pastinya banyak taruna- taruna idaman mertua. Haha. Nggak cuman mertua, aku ja suka *ngakak*. Seneng banget bisa lihat, ketemu, dan kenalan dengan mereka. Jadi nambah teman. Kalo bisa nambah jodoh :p.

e    Love Story
Uuuhh.. ini yang selalu terjadi pada setiap orang. Nggak tua, nggak muda, pasti merasakan cinta.
Ada empat orang yang tahun ini mengisi hatiku. Ngehehe, bukan apa- apa kok. Simpati aja deh, bukan cinta.
Pertama, mas yang dulu kuputusin sepihak dan aku nggak berhenti minta maaf padanya. Aku hanya anak kecil yang belum pantes pacaran sama orang yang dewasa seperti kamu.
Kedua, Mas Habib. Makasih udah nemenin Ramadhanku. Makasih udah bangunin aku pas sahur. Makasih udah ingetin aku buat sholat *dan sekarang aku menangis karena ingat hal itu*. Makasih udah jujur sama perasaanmu. Dan maaf karena aku nggak bilang tentang perasaanku. Ini semua terlambat karena mas udah punya mbak yang jadi sandaran kasih sayang mas.
Ketiga, kakak tingkatku dikampus. Ternyata dia biasa aja setelah aku kenal lebih deket. Hanya aja, dia pinternya banget banget dan bikin aku kelepek- kelepek sama kebijaksanaannya di organisasi.
Keempat, Gilang. Baca aja deh cerpen sebelum ini. Aku masih membawa sedikit perasaanku yang masih suka padanya. *menghela nafas*.
e    Proudness
Aku menemukan apa yang kusuka di kampus ini. Walaupun kemarin hanya mid term test, tapi hasilnya yang bagus itu bisa buat mami bangga sama aku. Aku mengajari teman- temanku dan aku bangga sama diriku sendiri. Aku mengajar dan dapat uang sendiri, itu juga sebuah kebanggaan yang belum tentu banyak anak muda sepertiku J mami melahirkan anak super!
e    Willingness
Suka duka tahun 2011 bikin aku semangat untuk menyambut 2012 dengan semua pengharapan dan kepositifan dalam bertindak.
Aku harap nilai UASku bisa bagus- bagus karena aku ingin membanggakan orangtuaku. Semoga aku dapat IP tinggi biar bisa ambil SKS yang banyak, hehe. Aku pingin cepet- cepet wisuda dan menikah! Hahaha.
Aku harap aku bisa mencicipi rasanya lomba debat. Menang atau kalah itu urusan nanti. Aku ingin sekali berpartisipasi dalam lomba debat itu. Walaupun cara tuturanku masih ngawur, tapi masih ada waktu untuk latihan. Yaa, semangat!
Aku harap aku bisa konsen dengan pendidikanku dulu. Membuat orangtuaku bangga dan berguna bagi nusa dan bangsa J.
Kira- kira itulah review tahun 2011ku ini. Semoga bisa jadi inspirasi dan Happy New Year J welcome to 2012. Semangat yaa semangat.
eee

Jumat, 30 Desember 2011

Cerita Kampus-Hatiku

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Desember 30, 2011 0 komentar
Aku tidak butuh kotak untuk menyimpan hatiku karena aku masih menggunakannya. Aku hanya butuh rak untuk menata hatiku agar rapi. Saat selesai menggunakannya, aku akan mengembalikan ke tempat semula.
Nggak ada yang tersisa dan nggak ada yang sia- sia. Semua yang merasakan cinta pasti akan merasa sempurna. Tapi bagaimana dengan mereka yang sedang putus cinta? Hatinya hancur. Mereka nggak tahu mau diapakan hatinya yang sudah rapuh itu.
Aku memutuskan untuk meletakkan lagi hatiku saat aku memutuskan untuk melepaskan yang belum pernah kudapat. Aku nggak akan meletakkan hatiku di dalam sebuah kotak, membiarkannya mengering dan keriput, lalu rapuh dimakan usia. Aku butuh sebuah rak untuk meletakkannya disana. Mengambil seperlunya dari bagiannya, bukan semuanya.
Aku menemukan Gilang yang nggak bisa aku raih. Bukan karena aku nggak berusaha, tapi aku rasa aku memang nggak siap untuk merasakan hal seperti...cinta dari lawan jenis, maksudku orang yang mencintai dan dicintaiku.
Aku menggunakan hatiku saat aku menemukan Gilang. Senang, ragu, malu- malu,dan jantungku berdetak lebih cepat. Ya, saat itu aku menggunakan hatiku untuk mencoba dekat dengannya.
Kemudian aku meletakkan lagi hatiku ke rakku saat aku merasa aku pasrah dan ingin berhenti. Dan aku pun berhenti. Aku meletakkan hatiku dengan pelan di rak dan menatapnya dalam- dalam. Tapi setelah kupikir- pikir, aku mengambil sedikit dari bagian hatiku. Hanya sedikit.
Apa yang terjadi? Aku masih saja merasa malu dan ragu saat bertemu dengan Gilang, tapi jantungku berdetak dengan normal. Hey, aku rasa aku sudah bisa biasa dengannya! Aku senang, senang sekali. Akan sangat sakit bagiku jika kuambil semua bagian hatiku dan merasa bahwa hanya jantungku yang berdetak lebih kencang, sedangkan Gilang tidak.
Sebuah keadilan saat aku merasa bahwa aku harus stop untuk menyukainya. Gilang yang dingin, diam, dan aku nggak bisa meraihnya, membuatku menyadari sesuatu: Apa yang kumau, belum tentu bisa kudapat dengan instan. Apalagi dengan sifatnya yang sulit ditebak. Siapa yang tahu perasaan sebenarnya dia?
Ada perempuan lain dibalik semua ini. Tapi, bukan dia yang membuatku untuk berhenti menyukainya. Hanya prinsipnya. Prinsip Gilang yang sama kokohnya seperti prinsipku.
Bagiku, mantan pacar sama dengan mantan suami yang cerai karena talak tiga dan nggak boleh balik lagi. Baginya, memperjuangkan seseorang sampai kapanpun adalah sebuah kesetiaan yang nggak terhitung cintanya.
So, apa gunanya aku yang menyukainya? Aku sudah memutuskan untuk meletakkan hatiku, bukan menyimpannya. Aku mengambil sebagian kecil dari hatiku, bukan semuanya. Saat aku bertemu dengannya aku akan senang, tapi hanya sesaat. Kukontrol sebagian hatiku yang kubawa dan aku bisa melewati proses melupakan seseorang dengan lancar.
Kadang, aku masih sangat girang jika baru saja berbicara dengannya atau sekedar bertanya tentang apapun. Tapi, untuk waktu yang sangat cepat, kondisiku mulai normal.
Hatiku..
Aku menjaga hatiku yang masih berada di rak. Sebagian kecil hatiku yang kubawa, jika merasa sakit, akan hanya sebentar dan seperti luka jatuh dari sepeda. Dan sebagian besar hatiku yang kuletakkan di rak akan baik- baik saja menghirup udara segar. Kubiarkan ia mendapatkan kebahagian, jadi saat aku ingin merasakan bahagia karena sakitku, ada sebagian besar hatiku yang siap memberikanku kebahagian.
Hatiku..
Aku belum tahu dengan siapa akan kupercayakan hatiku ini. Aku harap, dengan sebagian kecil hati yang kubawa ini, aku bisa menemukan my prince and his white horse.
YYY

Sabtu, 24 Desember 2011

Cerita Kampus-Happy Moms Day

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Desember 24, 2011 0 komentar
Hampir aja hari ini aku lupa kalau hari ibu. Untungnya, aku inget pas lagi nurunin mami dari motorku di depan kantornya. Aku nggak yakin aku bicara dengan romantis dan malah kedengeran seperti teriak kayak anak kecil “Happy Moms Day!” kepadanya. Mami cuman senyum- senyum lalu ketawa. “Makan- makan,” kataku lagi sambil cengengesan.
Mami mengepalkan tangan ke arahku, “Makan nih!” kemudian ketawa- ketiwi lagi dan bertanya, “Masih ada uangnya?”
Alhamdulillah, inilah sosok ibu yang pengertian *nyengir* karena belum aku minta aja udah nawarin. Aku menggeleng, kemudian mami memberi uang dua puluh ribu – yang artinya untuk dua hari.
Yaa, sangat pengertian! *ngakak malu- malu*. Seumur- umur pasti Anda sekalian baru tahu kalau ada anak kuliah yang tiap hari dikasih uang sakunya cuman Rp 10.000,00.  Yey, that person is me!
Kalau sebagian dari Anda mungkin akan berteriak “Nggak mungkin!”, tapi beginilah aku dan mami. Begitu perhatiannya sama aku karena aku nggak dibolehin buat boros walaupun kadang- kadang sering khilaf juga.
Bentuk perhatian “Sepuluh Ribu Untuk Sehari” bukan mengandung arti kalau mami itu pelit, tapi mami mencoba untuk mengajariku hidup serba ‘PAS’, serba ‘CUKUP’. Kalaupun pengen jajan lebih dari sepuluh ribu juga bisa, tapi nggak setiap hari.
Roda hidup itu berputar kayak roda kereta kencana Cinderella. Ada hari dimana kondisi keuangan itu di atas, dan ada juga saatnya kondisi keuangan itu di bawah. Saat roda sedang di bawah, mami nggak pernah ngajakin jajan bareng *bukan jajan chiki, ya! – ,–*. Dan saat roda keuangan udah di atas, mami malah lupa ngajakin buat jajan #ngyahaha.
Sekali lagi, bukan berarti mami pelit. Postifnya, mami cuman nggak mau bikin aku ketergantungan saat mami sedang banyak duit. Mami juga nggak mau kalau aku ngerengek- rengek pas lagi nggak ada duit karena terbiasa jajan.
Intinya, bentuk perhatian mami adalah suatu pembelajaran untuk membuat anaknya nggak ketergantungan sama kenikmatan sesaat.
Masih inget di pikiranku kalau mami selalu masakin apa aja pas mami lagi nggak ada duit buat ngajakin beli jajan. Yang bayamlah, sambel teronglah, sop makaronilah, apalah! Yang penting nggak bikin aku buat jajan dan betah buat makan di rumah. Tapi, nggak enaknya kalau mami udah ada duit adalah mami nggak pernah masak, mami lebih milih buat beli makanan yang udah mateng.
Hari ini banyak banget yang ngomongin seputar ibu dan apa yang mereka kasih. Agak canggung jawabnya saat aku ditanya, “Kamu kasih apa?”. Aku cuman menggeleng dan jawab, “Belum kasih apa- apa.” *padahal di dalam hati aku jawab, “Aku udah kasih nilai UTS-ku kemarin, dan masih ada nilai UAS besok yang jadi surprise buat ulang tahunnya.”*
Kebanyakan dari teman- teman juga belum pada kasih hadiah buat mama mereka, tapi ada juga yang beliin bunga buat mama mereka. So sweet ~o~. Aku nggak bisa bayangin kalau aku kasih bunga ke mami. Mungkin awalnya mami bakal berterimakasih, tapi ujung- ujungnya bakal ada kuliah tentang plantology. Rule number 1 if you want to have a good flower: Jangan Pernah Metik Bunganya! #Plakk, berasa ditampar walau cuman imajinasi.
Siang ini aku diajakin anak himpunan mahasiswa dan Hannah buat ikut ke panti asuhan dalam rangka ngerayain hari ibu. 50:50. Tapi akhirnya aku memutuskan buat ikut dan izin sama mami *nggak biasanya aku ninggalin rumah – mami – pas hari ibu begini*.
Tempatnya cukup jauh dan bisa dibilang udah di luar kota walaupun perjalanannya cuman 45 menit. Daerah yang panas karena deket laut, tapi ada juga lahan persawahan yang bikin mata sedikit seger. Dan vallaaa, akhirnya samapai! *nggak mungkin kalau menyetir, walaupun aku bonceng temen, tapi pantatku rasanya sakit, kayak duduk di lumpur, mati rasa!*.
Belum benar aku meletakkan helmku di spion, gerombolan anak- anak panti asuhan datang menyerbu kami dan menyalami kami. Aku sedikit kaget, tapi langsung ingat kata- kata Husna tadi, “Nanti kalau kamu udah turun dari motor, semua anak- anak panti asuhan itu bakan nemuin kamu terus salamin kamu.” Dan benere aja, tapi dalam pikiranku nggak sebanyak ini, deh. Look, mulai dari anak kecil usia dua tahun sampai yang udah gede pada dateng nyamperin kami.
“Berasa jadi artis,” kata temenku padaku.
Aku hanya cengar- cengir sambil membalas salam mereka dan berkata, “Barokallah.”
Setelah selesai salam- salaman, aku melihat ke sekitar. Tempatnya cukup nggak bersih. Ada selokan yang cukup lebar, kalau dibilang sungai kecil juga nggak pantes karena airnya berwarna hijau dan banyak sampah dipinggrir- pinggirnya.
“Katanya, kalau hujan, sering kejadian rob disini, kesian, ya?” kata Hannah yang juga miris ngelihat pemandangan kayak gitu. Secara, disitu adalah tempat banyak anak- anak tinggal. Kalau lingkungan nggak bersih, gimana sama kesehatan mereka?
Aku dan yang lain kemudian menyalami yang empunya panti asuhan dan segenap staff. Lalu kami breafing untuk acara hari ini.
Nggak lama sengan breafing di dalam masjid, acara pun dimulai. Tapi, bangunan ini kalau dikatakan masjid juga iya, juga enggak. Banyak kegiatan yang dilakukan di bangunan ini, seperti mengaji, belajar, bahkan buat tempat bermain anak- anak.
Acara berjalan cukup seru karena semua saling bantu dan berpartisipasi. Tapi belum selesai acara itu, aku keluar dari ruangan karena nggak betah sama panasnya. Hannah mengikutiku dan berkata, “Suer, di dalem panas banget!”
“Kalau ada Windy, pasti badannya udah pada merah- merah,” kataku, “eh, kamar mandi mana, ya?”
“Mau ngapain? Nggak ada air, loh, disini,” kata Hannah.
“Seriusan?” tanyaku, “Aku cuman mau benerin baju, nih.”
Hannah menyuruhku untuk tanya sama ibu- ibu yang ngurus panti ini dan ia juga bilang kalau nggak ada air disini. Tapi tujuanku bukan buat buang air, aku cuman mau benerin baju. Dan iya aja, setelah ibunya kasih tau letak kamar mandi, aku lihat ada bak besar buat wudhu, tapi kosong dan kering. Ibaratnya kayak Mesir tanpa Sungai Nil, deh.
Susah payah aku menelan ludah karena nggak percaya dengan apa yang aku liat. Jadi inget waktu rumahku sedang krisis air. Air cuman nyala kalau jam 11 dengan alirannya yang kecil. Aku dan mami udah uring- uringan aja kayak kebakaran jenggot. Tapi setelah liat kenyataan disini...miris banget rasanya. Pikiran pertama adalah gimana mereka dapet air bersih buat minum? Buat mandi, buat cuci pakaian, buat cuci piring? Rasanya ingin menjerit tanpa suara! Hidup berbalik menjadi nggak adil dan aku jadi pengen nangis *ngelirik Hannah yang udah nangis duluan*.
Aku kembali ke gerombolan teman- teman yang udah pada garuk- garuk. Mereka menjadi santap makan sore sebelum mereka sendiri makan. Awalnya aku belum ngerasain gatal, tapi selepas maghrib, aku mulai garuk- garuk di sekitar pergelangan tangan dan kaki. Sueeeerrr! Rasanya kayak abis masuk ke selokan kotor di depan panti asuhan itu.
Memasuki waktu makan malam *buka bersama*, aku melihat semua anak- anak itu makan dengan senengnya. Makan bareng bersama si empunya panti dan staff. Ada yang nangis tanpa sebab, ada yang bercanda- bercanda, ada yang nggodain temen lainnya, dan ada yang mencoba mengusik makanan teman yang lainnya.
Seru, miris, rasanya jadi satu kalau melihat keadaan mereka. Ya, seru, karena mereka bisa sering kumpul- kumpul seperti ini. Tapi miris lihatnya kalau sadar bahwa mereka nggak punya orangtua. Nggak bisa makan bareng sama orangtua mereka. Aku jadi pengen tanya, apa mereka masih sempet kenal sama orangtua mereka apa enggak.
Sekali lagi ditampar karena, kadang, nggak menghargai apa yang udah diberikan orangtua. Pengen nangis, tapi nggak tega melihat mereka yang lagi seneng- seneng. Jadinya, aku nahan nangis lagi.
Rasanya sesek kalau air mata itu nggak dikeluarkan dan akhirnya ada juga momen buat ngeluarin air mata *nyengir*. Pas acara udah mau selesai, kami semua berdo’a bersama. Kakak tingkat pada minta dido’ain khusus buat UAS besok. Kemudian si empunya panti asuhan yang mimpin do’a.
Ada jeda untuk kami buat berdo’a sendiri- sendiri, lalu si empunya panti asuhan berdo’a lagi dan diikuti oleh aamiin aamiin dari anak- anak yatim piatu itu. Seketika aku nggak kuat nahan air mata dan bocor deh! Hehe. Nggak pernah sebelumnya aku dido’ain sama anak yatim piatu seperti itu. Dan itu yang buat aku nangis.
Udah muka kucel, mata ngantuk, hidung merah gara- gara nangis. Aku takut lihat bayangan diriku di cermin. Seperti apakah, ya? –,–
Tapi keadaan berbalik jadi seru lagi saat sesi foto- foto *banci foto* *narsis mode: ON*. Semoga wajahku nggak kelihatan begitu buruk walaupun kenyataannya yaaa....
Haaah, dan akhirnya acara pun selesai, kami semua pamit pulang dan balik ke rumah masing- masing. Aku diturunkan temanku di kampus, kemudian menyetir lagi sampai di rumah. Untung mataku masih kuat untuk terjaga, kalau sampai aku tidur sambil nyetir... na’udzubillah!
Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan. Akhirnya aku sampai juga di rumah dan aku langsung ke kamar mandi. Lega rasanya menemukan air di bak melimpah ruah. Lega rasanya bisa buang air karena kutahan sejak pulang tadi.
Aku melihat di dapur udah ada bakso yang mami belikan. Hehe. Ini bentuk perhatian lain, nih. Tiba- tiba jadi inget anak- anak yang ada di panti asuhan tadi.
Siapa yang bisa sering beliin bakso seperti ini buat mereka? Dan kalaupun si abah yang beli, berapa bayarnya demi setiap mangkuk untuk sembilan puluh anak disana? Apa iya satu mangkuk untuk sembilan puluh anak? #melongo.
Aku pengen jerit rasanya. Disini aku nemuin kebahagian yang mereka nggak bisa dapet. Aku punya orangtua yang mereka nggak bisa jadiin tempat buat berbagi. Aku punya orangtua yang bisa aku buat bangga. Dan aku punya mami yang bisa setiap tanggal 22 Desember *nggak mesti tanggal itu juga, sih* aku nyanyiin lagu:
Apa yang kuberikan untuk mama, untuk mama, tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga, untuk mama, tercinta
Hanya ini kunyanyikan senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama Y
Happy Mom’s Day, mami..
YYY

Senin, 19 Desember 2011

Cerita Kampus-Do'aku Malam Ini

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Desember 19, 2011 2 komentar
Do’aku malam ini, aku ingin bisa kembali seperti dulu lagi, menyelesaikan masalah tanpa harus menangis. Tapi kapan? Aku merasa nggak pernah menyelesaikan suatu masalah dengan nggak menangis. Aku cengeng? Iya, kalau melihat dari sisi usiaku. Atau itu wajar? Iya, kalau dilihat dari sisi kebutuhan emosionalku. Paling nggak aku nggak bakar diri, itu gila pastinya!
Tapi aku berharap nggak akan hidup dari bayang- bayang masa lalu. Aku punya kehidupan sekarang dan masa depan, aku melihatnya cerah. Masa lalu, hanya tersimpan sebagai kenangan, hanya bisa dimiliki sebagai kenangan, dan menjadi pengajaran berharga kelak.
I herad that you settled down, that you found a girl, and you’re married now (not yet, only in relationship, but it hurts sometimes). Mataku sudah berkantung seperti kanguru, bisa untuk mengantungi sejumlah recehan jika aku pergi untuk meminta- minta. Mataku yang kecil membuat tempramenku lebih buruk dari biasanya, lebih kucel dan nggak bagus buat dilihat. But, hey, I am sad!
I had hoped you’d see my face and you’d be reminded that for me, it isn’t over. Bayanganku udah melayang jauh samapai ke London dan aku ingin ia memikirkanku sekarnag. Eh, enggak. Aku nggak berharap begitu banyak. Nggak neko- neko, aku ingin dia tahu bahwa aku juga pernah kagum padanya dan aku melupakan kekagumanku hanya karena prinsipku. Ya, prinsipku nggak akan pernah mati, nggak pernah meninggalkanku, nggak pernah menyesatkanku, dan nggak pernah over.
Never mind I’ll find someone like you. Aku menatap lagi foto- fotonya yang akhirnya kuhapus satu persatu. Ya, itu terakhir kali aku melihatnya nampang di laptopku. I’m waving him goodbye, don’t he see me? Seenggaknya aku nggak sendirian di dunia ini. Dan kata Husna, “Emang kalo eloh udah galau, dunia eloh bakal end getoh?”. #plakk aku memukul jidatku lumayan keras dan kembali ke dunia nyata. Aku punya banyak...orang yang mencintaiku Y dan dia bukanlah seseorang yang irreplaceable.
Nothing compares, no worries or cares. Regrets and mistakes, they are memories made. Who would have known how bittersweet this would taste? Inilah yang nggak kuinginkan kalau selalu terbayang masa lalu. Semua menjadi satu dalam kenangan dan baiknya kusimpan. Ya, kusimpan di dalam kotak yang terkunci di dalam brankas Gringgots dan dijaga para goblin dengan kunci pembukanya adalah tulang rusukku #ngosngosan. Yang artinya, ya, kusimpan, itu saja J. Semua perempuan itu baik, tergantung bagaimana mereka bersikap karena dalam menjalin hubungan, perlu kedewasaan yang cukup. Aku nggak butuh dibandingkan dengannya karena aku tahu aku cantik, pintar, supel, cengeng, dan mengerti keadaan #SOMBONG! Tapi karena semua itu nyata dan karunia dari Allah SWT, aku hanya bisa berkata, “Alhamdulillah, ya!”
I wish nothing but the best for you too. Hal sedari tadi aku hanya mengungkapakan kegundahanku yang sama artinya itu nggak penting buat besok, sampai- sampai aku lupa bahwa aku belum mengucapkan “Congrats” padanya, mereka berdua maksudku. Be the best couple and be grow up.
It’s tiring if I can’t stop these tears. Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead.
Y Y Y  

Cerita Kampus-Aku Salah Memberi Saran

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Desember 19, 2011 0 komentar
Malam ini Janice menghabiskan sore hingga malam di kamarku. Kami sedang curhat atau lebih tepatnya Janice sedang curhat. Pembicaraan kami tidak jauh dari seputar cowok, pacarnya yang bermasalah dan cowok yang sedang dekat denganku. Tapi aku salah, Janice datang padaku untuk didengarkan, bukan mendengarkan.
Janice mulai bercerita, “Awalnya nggak seperti ini, Sar. Dia diem terus dan nggak pernah bales smsku.”
Aku bertanya dengan hati- hati ketika ia berhenti bicara, “Apa kamu ngelakuin kesalahan yang kamu lupa?”
Aku melihat Janice berpikir dan aku menatapnya penuh penasaran. “Ya, mungkin ada satu atau dua atau beberapa.”
“Yang kauingat?” tanyaku.
“Mmm, waktu itu aku pernah belajar dengannya. Dia sedang menjelaskan materinya padaku dan temanku menggangguku. Aku sempat mendengar ia berdecak kesal. Tapi aku langsung mengalihkan perhatianku untuk fokus padanya,” tutur Janice, “menurutmu, apa aku salah kayak begitu tadi?”
Aku membelalakkan mataku dan terasa seperti ditinju oleh cowok yang kusukai. Glekk! “Kamu benar kalau bertanya kayak gitu ke aku. Jelas- jelas aku juga nggak bakal suka. Artinya sama aja kamu nggak menghargai dia. Dia udah baik mau menerangkan apa yang kamu belum tahu dan kamu malah mengabaikannya. So?”
“Iya, aku salah,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidurku.
“Satu. Yang kedua, apalagi?” tanyaku.
Janice mencoba mengingat- ingat dan ia berkata, “Aha! Aku pernah dan bahkan mungkin sering meninggalkannya untuk pergi dengan teman- temanku. waktu itu kami sedang berdua dan tiba- tiba temanku mengajakku pergi makan. Ketika aku menawarinya makan, ia menolak, lalu aku pergi dengan temanku. Berarti itu bukan sepenuhnya salahku, karena aku benar- benar lapar saat itu!”
Aku menelan udah dengan susah. Kubuat ekspresi straight face untuk menanggapi kata- katanya.
“Apa?” tanyanya bingung dan sepertinya dia sadar ada yang salah dengannya.
“Kita sedang cari apa yang menjadi kesalahanmu, jadi jangan salahkan orang lain dulu. Ini baru premis- premis dan belum konklusi, dan tiba- tiba aku berbicara seperti matematikawan!” seruku nggak percaya.
Aku psikolog amatir dan mencoba untuk menangani masalah Janice. Aku nggak tahu harus memberi saran apalagi. Kemudian aku diam dan membuatnya bicara apa saja dan aku hanya mendengarkan.
Pembicaraan ini menuju ke titik dimana Janice benar- benar kecewa pada pacarnya. “Aku benci kalau dia nggak memberi kabar padaku. Aku bukan dokter, tapi aku khawatir juga kalau dia kenapa- kenapa. Kalaupun aku sms dan dia bales, jawabannya pasti kalau nggak ‘Y’, ‘G’, atau ‘O’. Dongkol nggak, sih, kalau smsmu cuman dibales Y-G-O Y-G-O!?” Janice terlihat seperti diktator saat mengungkapkan hal itu.
“Iya, aku juga sebel, sih. Jadi, kenapa kamu nggak diemin dia aja? Jangan sms dia, jangan ajak ngobrol dia, atau kenapa kamu nggak sedikit kasar sama dia?” tanyaku. Aku tahu ini saran yang buruk karena akan melukai perasaan orang lain, tapi udah nggak punya apa- apa untuk disarankan. Aku benar- benar blank dan ingin memiliki bola ajaib, sehingga aku bisa menunjukkan apa yang sedang dilakukan oleh pacar Janice.
“Aku nggak tega. Aku nggak sekasar itu, tapi aku jauh ngerasa sakit dan kangen sama dia. Aku kangen saat dia deket sama aku, aku kangen sama dia saat dia gombalin aku. Dia bikin aku sedikit ketergantungan sama dia,” ungkapnya.
Aku menghela nafas dan berkata, “Menjadi ketergantungan itu boleh, tapi kalau berlebihan, rasanya akan risih. Cowok itu lebih suka cewek yang mandiri, walaupun belum bisa sepenuhnya mandiri, yang penting si cewek mencoba. Kaum adam lebih suka begitu.”
Aku tersenyum pada Janice dan itu membuatnya sedikit lebih membuka pikiran. “Tapi aku kangen padanya,” ia memulai lagi, membuka luka hatinya, “aku pernah melihat nama di pesan masuknya. Aneh, aku nggak kenal siapa dia. Tapi banyak sekali sms dari orang itu. Aku takut itu dari mantannya dan mereka bakal balikan, sementara aku?”
Mata Janice berkaca- kaca, buru- buru aku memberinya tissue dan ia bercerita lagi,  “Sikap anehnya bikin aku semakin penasaran dan jadi mikir yang enggak- enggak.”
“Buang pikiran negatif, nggak baik hidup dalam kenegatifan,” kataku.
“Tapi aku penasaran!” serunya, tapi ia berhasil mengatasinya dengan nggak menangis.
“Kamu terlalu memikirkan semua tentangnya dan menghubungkannya ke hal negatif. Sugesti burukmu itu malah memperburuk keadaan,” kataku, menghela nafas sebentar dan berkata lagi, “sugesti itu akan mempengaruhi kehidupanmu. Kehidupanmu akan sepenuhnya terkontrol sama sugestimu. Dan kalau kamu punya sugesti negatif tentangnya... wallahu’alam, ya.”
Janice merenungkan ucapanku. Ia mengelus- elus kepalanya dan berkata, “Positif thinking, positif thinking, positif thinking.”
ÜÜÜ
Aku mengirim pesan pada Janice sehari setelah tadi malam ia berada di kamarku hingga larut. Aku berkata aku menemukan apa yang menjadi solusi untuknya dan ia buru- buru langsung kemari.
Janice duduk bersila dan bertanya penasaran, “Jadi apa yang kamu temukan buat masalahku?”
Aku yang sedang membaca buku psikolog tentang hubungan pria-wanita mengangkat tanganku, menunjukkan semua lima jariku, memintanya untuk menunggu sebentar.
Setelah aku selesai membaca, aku mengungkapkan apa yang menjadi solusi untuknya. “Oke, aku menyesal karena dua hal,” kataku memulai, “pertama, karena aku memberikanmu saran yang buruk kemarin. Kedua, karena aku baru membaca buku ini tadi malam setelah kamu pulang, padahal buku ini udah seminggu lalu kubeli.”
“Apa hubungannya?” tanya kurang peduli.
Aku membenarkan posisi dudukku supaya nyaman dan mulai mendongeng untuknya, “Jadi, buku ini bercerita tentang hubungan laki- laki dan perempuan yang salam mengerti tentang jati diri mereka. Aku baru baca beberapa pengalaman, tapi aku udah tahu bahwa ini adalah solusi terbaik untukmu dan semoga ini berhasil juga buatmu.
“Laki- laki berasal dari Mars dan perempuan berasal dari Venus, kamu mengerti itu. Perempuan menyelesaikan masalah mereka dengan cara membicarakannya, dan sebagai pasangan yang baik, laki- laki harus mendengarkan tanpa harus memberi saran. Aku melakukan itu kemarin padamu. Aku nggak tahu apa yang harus kusarankan dan aku hanya diam, membuatmu terus bicara dan meluapkan kekesalan akan lebih baik.
“Tapi berbeda dengan perempuan, Janice, laki- laki nggak pernah curhat seperti yang kamu lakukan. Kamu bilang pacarmu orang yang tertutup dan keras kepala, aku yakin dia nggak punya tempat untuk curhat. Mereka, para laki- laki, punya ‘gua’ yang khusus hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Ia butuh waktu tanpa ada kamu, tapi dia pasti bakal kembali dan lebih kangen padamu.”
Janice yang sedari tadi diam menyimpan banyak pertanyaan dan ia menanyakannya secara berurutan seperti menginvestigasiku, “Tapi kenapa ada orang lain yang bisa masuk ke ‘gua’nya? Termasuk orang yang selalu sms dia. Dan kenapa aku nggak bisa masuk ke ‘gua’nya?”
“Disini, di buku ini, laki- laki yang berada di ‘gua’nya akan melupakan pasangannya. Kamu nggak tahu kalau yang menjadi peralatan- peralatan di ‘gua’nya adalah orang lain. Ia hanya belum ingin kamu mengganggunya. Dan semakin kamu memasuki ‘gua’nya untuk mengajaknya keluar, ia akan semakin menghindarimu,” jelasku panjang lebar.
Janice masih menyimpan pertanyaan besar yang mengganggunya, “Jadi apa yang harus aku lakuin?”
Aku tersenyum. Aku lega Janice bertanya itu karena aku tahu apa yang harus ia lakukan dan menjadi solusi yang baik jika ia bisa, “Sabar menunggunya untuk keluar sendiri dari ‘gua’nya tanpa paksaan darimu.”
Ia membuka mulutnya nggak percaya, “Apa? Kamu tahu aku nggal sabaran! Aku terlalu kangen padanya untuk sabar menunggu.”
“Kamu sayang dia?” tanyaku dan ia mengangguk, “Kalau kamu bisa menghargai waktu ‘gua’nya, ia akan lebih cepat keluar dan ia akan sangat kangen padamu. So, kalian bakal baik- baik aja.”
“Tapi aku pengen dia cepet keluar dari ‘gua’nya,” kata Janice sambil membuat tanda petik dengan tangannya pada kata ‘gua’.
“Tulis aja surat buat dia,” saranku.
“Kuno!” serunya, “Sms aja, ya?”
“Kamu masih mau jawaban ‘Y-G-O’nya?” tanyaku.
Ia menggeleng, “Gimana kalau email?”
“Sesukamu, asal jangan sms!” kataku.
“Apa yang harus kutulis?” tanyanya bingung.
Aku memukul jidatku sampai bunyi dan rasanya sakit sekali, “Pertama, kamu minta maaf sama dia karena udah mengganggu waktu ‘gua’nya. Kedua, bilang kalau kamu menghargai waktu ‘gua’nya. Ketiga, bilang kalau kamu kangen sama dia dan minta dia untuk keluar dari ‘gua’nya secepatnya. It’s easy, baby.”
Janice mengangguk- angguk sambil mencatat apa yang kusarankan. Aku harap ini bisa membantunya. Aku harap ia bisa sabar menunggu. Ya, menunggu itu emang menyebalkan, tapi inilah saranku yang terbaik sebagai ganti saran bodohku kemarin.
ÜÜÜ

Selasa, 13 Desember 2011

Cerita Kampus-Ketika Malas Melanda

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 13, 2011 0 komentar
Malas.
Apa yang harus saya lakukan dengan keadaan menyebalkan ini ? Berbaring di kasur, mengambil posisi enak di depan TV, mengambil ice cream dari kulkas dan menghabiskannya sendiri sebelum adik tahu. shit! aku benci sekali dengan "malas". nggak hanya membuatku jadi lebih - malas, tentunya - sakit, tapi membuat ketagihan.
Please, aku hanya bisa meronta untuk jadi rajin kembali setelah mid semester kemarin. dan sekarang ? Thanks, lecturers! Where are you ? Kalian membiarkan penyakit ini menggerogoti diriku yang malas menjadi kian malas karena kelas kosong. Please, aku ingin di kampus aja dan menerima semua mata kuliah. Tujuh setengah juta loh yaa, tujuh setengah juta aku bayar dan kalian juga harus masuk untuk mengajar. Please, bekerjasamalah denganku. Atau jika kalian memang nggak bisa meninggalkan kesibukan yang menjadi prioritas utama - masalah kampus yang benar- benar BENAR -, beri aku tugas yang cukup banyak untuk mencari kesibukan. Karena aku terlalu malas untuk belajar otodidak.
yaah, Rabu ini, jadwalku kosong karena make up class dan dosenku yang sedang berada di China - ikuuuttt -. Praktis kosong sebelum aku ingat ada UDC (Udinus Debate Class, right?) nanti siang. Aw aw aw, panas panas panas.
Tapi aku lebih mencintai berada di kampus daripada di rumah seperti ini. Hallo? Aku anak pertama dan anak perempuan satu- satunya dari 2 bersaudara, dan adikku sama sekali nggak mau bekerjasama untuk mengurus rumah! *Siapa yang mau menjadi calon istrinya? Selamat, ya, calon suamimu nggak punya rasa disiplin dan tanggungjawab sama sekali!*. Pratktis akulah yang menjadi ..umm rasanya kasar.. maid di rumah sendiri.
Lebih dari itu, sebenarnya aku sedang gejala batuk *parah* dan harus istirahat di rumah. Jadi apakah artinya? Ya, aku harus berbaring di tempat tidur, mencari posisi enak di depan TV, dan mungkin nggak makan ice cream karena sup krim mungkin lebih membantu - untuk nggak tambah parah. Dan itu membuatku sedih, aku ingin di kampus saja. Alasan utamanya adalah bukan karena aku nggak mau malas, tapi aku ingin memakai mascara yang baru kubeli kemarin *ngyahahahahahahaha*.
Dan yang membuatku malas hari ini adalaaaaah: Kerabat Bapak yang Nggak Menghormatiku yang Sudah Membuatkan Mereka Minuman dan Mereka Malah Merokok! Hyaaaa, semua orang memang akan meninggal, tapi kalau dengan cara serendahan seperti *asap rokok* ini... #menghela nafas penuh penyesalan hidup!

Kamis, 08 Desember 2011

Cerita Kampus-Pengendara Bodoh

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, Desember 08, 2011 0 komentar
Entah demi apa aku sangat malas belajar akhir- akhir ini. Banyak sekali hal nggak penting yang kupikirkan. Kadang- kadang aku juga bete sendiri tanpa ada sebab yang pasti. Menggantung. Membuat pikiranku semakin penuh dengan hal nggak penting.
Aku udah nggak tahan menahan jenuhku. Kuambil kunci motor dan langsung mengendara entah kemana. Kemana, kemana, kemana? Aku menyetir tanpa tahu arah dan tujuan yang tepat. Yang pasti aku nggak lupa membawa dompet, handphone, dan nggak ketinggalan memakai helm.
Mulai dari arah menuju kampusku. Aku mengendarai sambil ngantuk- ngantuk dan melamun. Hal ini memang nggak bagus buat ditiru. Hanya saja, aku udah terbiasa melamun dan mengantuk saat menyetir, dan alhamdulillahnya, aku masih selamat dan sehat walafi’at sampai saat ini.
Baru sebentar perjalanan, aku udah diklakson oleh mobil yang mengendarai dengan cepat. Karena aku yang selalu melamun di jalan, aku langsung kaget dan berharap nggak ada yang melihat reaksi kagetku karena itu pasti memalukan banget!
Baru sekali, nggak apa- apa. Lagian, mana mungkin mobil yang ngebut tadi kukejar? Aku sedang ingin bermalas- malasan mengendarai, jadi aku mengendarai dengan pelan, hanya 40 Km/ jam.
Entah apa yang ada di wajahku, atau di motorku, atau di helmku yang membuat semua pengendara menoleh ke arahku. Hanya menoleh. Dan aku merasa nggak nyaman dengan itu. Apalagi mereka orang asing. Aku hanya mendengus ketika mereka menoleh ke arahku. Lagipula, aku harus ngapain? Membentak mereka? Sok artis banget!
Motorku melaju dengan pelan, sepelan otakku yang berpikir ini dan itu. Mendengusi setiap pengendara yang menoleh ke arahku dan mencaci para pengendara lain yang menyetir dengan buruk. “Mereka, pengendara bodoh!” batinku.
Tapi nggak apa- apa. Setiap orang berpotensi menjadi pengendara bodoh, kecuali mereka yang nggak bisa mengendarai kendaraan. Beda lagi kalo mengendarai yang lain. – I mean, mungkin kuda atau apalah!??
Lalu gimana sama pengendara yang nggak punya SIM? Lain lagi, mereka, sih, pengendara nekat! Kayak siapa? Siapa contohnya? Gimana kalau aku menunjuk Hannah? Padahal aku juga belum punya SIM.
Umm, pengendara bodoh. Istilah barukah atau udah pada denger? Itu tuh, para pengendara yang nyalahin aturan di jalan dan membuat pengendara lain gemes, emosi, dan selalu mengklakson.
Pengendara bodoh pertama adalah pengendara yang nggak tahu batasan kecepatan yang ada di jalanan. Yaah, contohnya mobil yang tadi ngebut barusan. Sialnya, kalau mengklakson bisa membuat orang kaget dan ‘misuh-misuh’ dalam hati.
Yang kedua adalah pengendara banteng. Kenapa? Bayangkan persisnya mereka saat melihat traffic-light berubah dari kuning menjadi merah. Apakah fungsi lampu warna kuning bagi anak- anak SD, dan apa fungsi warna kuning bagi pengendara? Yap! Artinya adalah “Buruan Lo Lewat!”. Benar ndak? Dan saat mata melihat warna merah di lampunya, bukanya berhenti, malah tetap melaju. Jadi, itulah pengendara banteng, pengendara bodoh. Tapi, I do admit, deh kalau aku juga sering seperti itu. *Minta maaf, ya, Pak Polisi -_____-*
Yang ketiga adalah pengendara yang membiarkan knalpot motornya nggak terurus. Bisa dikatakan mereka perusak suasana jalanan. Dimana jalanan, normally, suara kendaraan yang sehat, mereka malah membuat suara kodok di motor mereka. Bahkan parahnya, pengendara itu membuat alat fogging untuk mengusir nyamuk demam berdarah di motor mereka. Wow! That was disturb action!
Yang keempat adalah pengendara yang nggak pakai helm *khusus high way yaa*. Sementara nanti di pertengahan jalan ada operasi polisi dan akhirnya menjadi aksi film kartun Tom and Jerry.
Yang kelima adalah pengendara yang... yang... yaah, ini pengendara bodoh benar- benar bodoh dan sangat mengganggu! Aku bahkan sampai gemes ingin kutabrak mereka. Pernahkah melihat dua orang yang sedang mengendarai dengan berbeda motor, salah satu dari mereka meletakkan kaki kiri mereka ke footstep kanan pengendara lain? That is annoying, guys!
Sedikit pengalaman dengan pengendara bodoh nomor lima. Aku dan salah seorang teman sedang jalan- jalan dan ketika itu aku baru saja mau pulang. Jalanan memang cukup ramai sore itu, banyak bus dan angkot yang nge-tem dan kadang berhenti sembarang. Aku selap sini, selap situ seperti pembalap, nggak tahunya di depanku ada dua orang yang, yeah, seperti pengendara bodoh nomor lima di atas, karena mereka sangat mengganggu, dengan baik hati aku mengklakson mereka. Walhasil apa yang kudapat? Swearwords!
Dalam hati, aku hanya bisa membodoh- bodohinya. Yaa, merekalah pengendara paling bodoh di jalanan.
Yang keenam, sama seperti pengendara nomor lima. Mereka adalah dua pengendara beda kendaraan dan saling mengobrol saat mengendarai. Mereka juga sangat mengganggu.  Hanya saja, lebih parah si nomor lima. Pengalaman pribadi, semasa SMA aku pernah menjadi si pengendara bodoh nomor enam ini. Mau orangtua, mas- mas, sopir angkot, mereka semua mencaci. Aku hanya berpikir dalam hati, “Woles, dong, pak. Kayak dulu nggak pernah gini aja!” padahal aku nggak tahu mereka pernah menjadi si bodoh nomor enam atau tidak.
But, at all, semua pengendara pernah menjadi pengendara bodoh. Entah itu yang nomor berapa, tapi semua pengendara berpotensi menjadi pengendara bodoh, kecuali mereka yang nggak bisa mengendarai -____-.
Sebenarnya banyak juga tipe pengendara yang lebih bodoh lagi, hanya saja ini udah terlampau sore untuk berkendara. Moodku masih aja seperempat kilogram. Tapi lebih baik aku pulang dan memilih untuk membaca.
Untuk sore ini, aku persembahakan menjadi pengendara bodoh nomor dua. Salam pengendara bodoh, yaa ! :*
ŒŒ

Cerita Kampus-Aku Rindu

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, Desember 08, 2011 0 komentar
Aku merebahkan diriku di ranjang. Empuk, nyaman, dan aku harap ini bisa melegakan pikiran dan hatiku. Rasanya aku malas sekali ke kampus, hanya saja janjiku pada mami *baca cerita kampus – Mommy and Money* nggak bisa dilanggar.
Please, kalau begini aku lebih memilih berkawan dengan buku yang lebih bisa mengertiku. Eh eh, enggak! Masih ada Windy dan Husna. Tapi rasanya nggak lengkap kalau nggak ada Hannah.
Akhir- akhir ini aku kangen padanya. Hannah udah nggak seperti dulu yang lebih banyak waktu sama teman- teman. Hannah mungkin dan memang sedang ada problem dengan orangtuanya karena hubungan barunya.
Banyak waktu yang tersita tanpa Hannah. Jarang- jarang kami ngobrol di luar kelas. Kadang pun dia bolos mata kuliah tertentu. Sedih? Pasti.
Aku masih ingat do’aku pada Allah sebelum aku masuk kuliah ini. Aku minta pada-Nya untuk memberikan teman yang baik, pengertian, dan bisa mengerti aku, karena aku akan dan belajar mengerti mereka.
Do’aku terkabul. Aku bertemu Hannah dan Windy awalnya. Di masjid pula. Aku berdo’a lagi pada-Nya untuk menjaga pertemanan kami. Ya, dan Allah mengabulkan lagi. Kemudian datang Husna untuk melengkapi hari- hariku dan pertemanan kami.
Hanya saja, sekarang ini do’aku seolah- olah hilang. Aku butuh tiga bagian dari diri mereka untuk menyemangatiku kuliah. Mereka tahu bahwa aku nggak mau punya pacar yang notabenenya akan meningkatkan semangat belajar. Aku nggak butuh itu karena itu sama saja percuma.
Ya, Hannah seperti itu sekarang. Kami jarang ngobrol. Bahkan untuk ibadah bersama pun jarang. Kalaupun bersama, pasti ada pacarnya juga. Bukannya aku keberatan, hanya saja, aku ingin ada waktu untuk kami berempat ngobrol bersama lagi. Seminggu sekali saja untuk seharian. Regulary.
Aku nggak tahu apakah Hannah merindukan saat kami sedang bersama atau nggak. Tapi, aku sangat kangen padanya.
Ataukah aku yang terlalu protektif padanya? Mengekangnya untuk nggak boleh bolos, nggak boleh nggak ngerjain tugas, atau lainnya. Terkesankan aku seperti orang yang mengendalikan seseorang?
ööö
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review