Aku benci menceritakan hal ini dan aku harap kalian nggak sedang makan kalau membaca cerita ini. Aku harap kalian segera berhenti makan, ngemil, atau apalah sesuatu yang kamu masukkan ke dalam mulutmu. Please, stop it now! Tapi bukan berarti aku menyuruh kalian stop membaca cerita ini. Whatever you do, whatever you think, tapi aku benci ini!
Aku sudah siap berangkat ke kampus dengan model kerudung baru yang Windy ajarkan padaku. Sekitar lima belas menit aku melipat, menekuk, dan membentuk kerudungku dan akhirnya bisa tapi nggak tertata rapi. Aku sudah siap dengan dandananku yang nggak menor – aku nggak suka –, dan parfum yang kusemprotkan menyebar kemana- mana di seluruh bagian tubuhku.
“Perfect!” seruku pada diriku sendiri saat berkaca di jendela dan segera memanasi mesin motor.
Yeah, perfect setiap orang itu berbeda. Kalau perfect menurut Windy itu, dia harus siap dengan mascara di mata-paskitannya. Kalu menurut Hannah, perfect itu match sama yang dipakai di badan dan sopan. Bagiku, perfect itu kenyamanan, nggak peduli kerudungku nggak rapi atau bulu mataku nggak bermascara, yang penting aku nyaman.
Udah merasa cantik walaupun terlihat seperti upik abu, inner-beauty, aku siap untuk berangkat ke kampus. Hari ini ada kuis writing dan aku harap aku sanggup mengerjakan setiap soal yang diberikan oleh dosen, totally aku berharap writingku bisa mendapat nilai bagus karena beberapa hari lalu aku cukup pasrah dengan linguisticku. Belajar semalaman walau hanya sampai jam 9, membuatku merasa cukup dan aku pasti bisa mengerjakannya nanti.
Aku menaiki motorku dan mulai berangkat dari rumah. Aku berteriak memberi salam kepada ada yang di rumah, malaikat, karena semua orang di rumah sudah pergi menuju tempat kepentingannya masing- masing.
Dalam perjalanan, aku berdo’a supaya rumahku dijaga dari hal- hal buruk yang bisa membuat kami nggak nyaman. Sementara itu, aku akan berusaha untuk kuis writing hari ini.
Seperti biasa, jalanan, walaupun udah cukup siang begini, masih tetap saja ramai. Ada yang mengendarai dengan kecepatan penuh karena mungkin dia udah telat. Dan ada juga yang mengendarai dengan kecepatan rendah karena mereka sedang menikmati jalanan atau mungkin menikmati sinar matahari yang cerah di jam setengah delapan pagi ini.
Aku mengendarai dengan kecepatan standar. Meskipun begitu, angin yang berhembus dengan cukup kencang menerpaku dan membuatku agak sedikit kabur. Mataku juga ikut- ikutan terkena angin dan membuatku ngantuk. Ngantuk sekali dan aku ingin menutup mataku untuk sejenak. Yeah, sejenak saja. Tapi sesuatu dari atas jatuh dan mengenai helmku dan nyaris mengenai kakiku.
“Damn!” seruku menemukan kotoran burung blekok – maaf, aku nggak tahu nama ilmiah atau namanya yang lebih mendunia, tapi aku hanya tahu, burung itu adalah burung blekok – jatuh tepat di helmku.
Aku segera menambah kecepatanku menuju kampus. Semakin cepat aku mengendarai motor ini, semakin jelas bau busuk dari kotoran burung itu.
Moodku turun drastis dan nggak berselera untuk melakukan apa- apa. Aku memutar otak, berpikir dengan cepat sebelum aku tiba di kampus. Aku memutuskan untuk mampir ke rumah Desi untuk meminjam kerudung.
Aku mempercepat lajuku lagi. Kemudian agak menguranginya saat di belokan yang biasanya ada sergapan polisi. Mengetahui nggak ada tanda- tanda para polisi yang mengecek SIM dan STNK, aku menancap gas motorku lebih laju lagi.
Sesekali bau busuk itu tercium di hidungku. Aku malu jika kotoran itu jatuh di helmku dan membuat noda yang membuat semua pengendara lain menertawaiku atau sekedar membicarakanku. Aku akan sangat malu walaupun aku nggak kenal mereka. Terlebih kalau mereka sampai mencium bau busuk itu. Mungkin mereka prefer untuk dekat dengan mobil truk sampah daripada berkendara di sampingku.
Akhirnya aku sampai di rumah Desi yang sesuai dugaanku, dia masih tertidur dengan nyaman. Aku lupa kalau dia beda jadwal denganku hari ini.
Mama Desi menyuruhku menunggu Desi yang bagiku sangat lama dan aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Hei, Sar. Ada apa i?” tanya Desi yang masih dengan wajah mengantuk. Matanya yang sipit makin sipit.
“Aku pinjem kerundung! Atau temenin aku beli kerudung! Aduuh, gimana ini, Des?” tanyaku langsung menghambur dan membuat Desi kebingungan.
“Eh, eh, kamu ini kenapa? Pelan- pelan, dong,” ujar Desi penasaran.
“Kerudungku kena kotoran burung blekok!” seruku agak pelan.
Desi tertawa mendengar pernyataanku dan nggak berhenti tertawa sebelum aku memintanya berhenti juga membantuku mencari kerudung.
Tapi ini masih jam delapan dan pastinya belum ada toko yang buka, apalagi toko yang jual kerudung. Aku cukup pasrah dan nggak tahu harus ngapain. Desi masih saja tertawa melihat keadaanku dan aku memutuskan untuk langsung ke kampus, Hannah sudah menungguku.
Aku pamit dengan Desi yang masih terus tertawa. Kalau aku mau, aku akan lempar kerudungku ke wajahnya dan memakasanya untuk mencium bau busuk dari kotoran burung itu.
Aku cukup lega karena helmku nggak bernoda, tapi hatiku rasanya ingin kuhancurkan sekarang juga karena bau busuk itu. Pernah, kan, ulangtahun dan dilempari oleh telur? Bau busuknya lebih dari itu!
Aku mengendarai dengan laju menuju kampus dan langsung menju ke lantai tiga tepat Hannah menungguku. Ia duduk di kursi dan membaca buku. Aku rasa itu satu- satunya buku yang pernah ia baca, karena ia mengaku nggak pernah suka dengan kegiatan membaca.
“Hannah, temenin aku ke toilet sekarang, ya?” pintaku dan aku berjalan duluan ke toilet.
“Kamu kenapa, Sar?” tanya Hannah penasaran.
Aku langsung melepas kerudungku ketika kupastikan nggak ada orang lain selain kami berdua. Aku menunjukkan kerudungku ke Hannah dan berkata, “Kerudungku kena kotoran burung blekok!”
Hannah tercengang sejenak kemudian tertawa. Aku nggak tahu apa ini lucu tapi aku juga ikut tertawa sambil menangis.
“Loh, kok kamu malah nangis, sih?” tanya Hannah bingung.
“Aku nggak tahu mesti gimana? Masa’ aku harus lepas kerudung? Aku malu, Han,” ujarku dalam tangis.
Hannah yang kalau tertawa kelihatan gigi kelincinya berkata, “Yaudah, sekarang dipakai dulu aja, kita masuk kelas.”
“Aku malu, ini bau, Han!” seruku sambil tertawa dan menangis membuat Hannah juga tertawa.
Aku memakai kerudung dengan biasa. Setelah kupikir- pikir, aku masuk ke ruang kelas aja agar bisa melepas kerudungku.
Aku menemukan satu ruang kelas yang kosong dan aku mengajak Hannah masuk. Yang membuatku tambah down tapi membuatnya tertawa adalah statementnya, “Nggak, ah, bau nanti!”
Aku hanya bisa mendatarkan pandanganku dan masuk ke ruang kelas, “Makasih, gigi kelinci-kumis lele.”
Aku mendengar suara Hannah yang tertawa keras.
Aku duduk di sebuah kursi, sendirian di dalam kelas, dan kuberanikan melepas kerudungku. Aku melihat dari kaca pintu ada beberapa kakak tingkat laki- laki yang mengintip. Aku sesegera mungkin menutupi kepalaku dengan kerudungku. Sialnya, baunya masih saja busuk, sebusuk burung yang memberikan itu padaku.
Suara handphoneku terdengar dan kuangkat telepon yang ternyata dari Windy.
“Assalamua’alaikum,” kataku.
“Wa’alaikumsalam, Sarah, handphone kamu dari tadi aku telepon kok nggak diangkat? Kamu dimana sekarang?” tanya Windy.
“Maaf, maaf banget. Ini aku udah di kampus, kamu dimana?” tanyaku.
“Aku masih di rumah, sebentar lagi berangkat kok,” ujarnya.
“Nah! Eh, abawain kerudung putihmu, dong, Win. Please, aku janji bakal cerita kalau kamu udah sampai disini. Kacau banget, deh, pokoknya,” kataku.
Windy mengiyakan dan aku cukup lega karena Windy akan datang membawa bantuan untukku. Seenggaknya aku harus menunggunya lima belas menit lagi.
Sementara itu aku belajar writing lagi dan ternyata aku sudah muak. Moodku turun dan nggak niat, walau hanya untuk sekedar membaca.
Hannah masuk ke dalam kelas dan duduk di sampingku. Masih tertawa, mengejekku.
“Windy habis ini dateng, dia bawa kerudung buat aku, alhamdulillah,” uajrku lega.
“Alhamdulillah, deh, nggak bau lagi,” ucap Hannah masih dan terus mengejekku.
Kami berkutat dengan kegiatan kami masing- masing. Menunggu Windy datang dan segera memakai kerudung yang ia bawa.
“Hei!” seru Windy ketika ia datang dengan kekhasannya.
Windy memberikan kerudung putih yang kupesan dan langsung kukenakan sambil menceritakan musibah yang terjadi padaku. Seperti yang lain, nggak jauh berbeda, Windy tertawa.
“Naah, ayo keluar, disini panas, Acnya nggak nyala,” ujarku.
“Tadi kamu betah disini,” celetuk Hannah.
“Aku kan lepas kerudung, tadi,” kataku.
Aku, Windy, dan Hannah duduk di kursi panjang dan aku mengajari Windy untuk kuis nanti. Hannah juga memberitahu apa aja nanti yang keluar karena hari kemarin ia kuis writing.
Kakak tingkat laki- laki yang tadi mengintipku di dalam ruang kelas mendekatiku dan bertanya, “Kamu kenapa, Sar? Tadi kok lepas kerudung segala di dalem kelas?”
Windy dengan percaya dirinya menceritakan kalau aku terkena kotoran burung blekok. Aku udah memintanya untuk nggak bercerita pada siapa- siapa, tapi ia tetap cerita dan membuatku malu. Aku sangat malu sehingga aku menangis di bahu Hannah.
“Yaah, Sarah nangis lagi, deh!” seru Hannah, “Kamu nangis kenapa?”
“Aku malu, Han,” seruku.
Tanpa dosa kakak tingkat itu nggak minta maaf dan malah ikut- ikutan menertawaiku. Aku makin malu dan menangis cukup lama.
Windy menenangkanku dan menyuruhku untuk mengajarinya lagi. Aku berkata “Aku nggak mood belajar, nih.”
“Naah, gara- gara Windy, loh, Sarah jadi nangis. Tadi pake cerita segala, sih,” ucap Hannah sambil tertawa karena Windy nggak jadi belajar.
Aku mengusap air mataku dan dengan mood yang ancur- ancuran, aku mengajari Windy untuk kuis nanti. Semoga dia juga bisa mengerjakan soal- soal writing. Karena mengajari Windy, aku jadi lupa dengan insiden tadi. Yeah, lupa untuk waktu yang sementara, semoga nggak membuatku kehilangan keberuntungan dan sukses kuis writing!
®®®
0 komentar:
Posting Komentar