Aku
sedang duduk di teras masjid kampus sambil menunggu hujan reda. Teman- temanku
meninggalkanku saat aku sedang sholat tadi, akhirnya aku hanya bisa menatap
tetes- tetes air yang jatuh dari langit.
Leherku
merasa bergidik dan aku mulai cemas. Seseorang sedang melihat ke arahku, tapi
aku tidak tahu siapa. Semua orang yang duduk di teras masjid sama hopelessnya
denganku disini.
“Tuhan,
tenanglah, aku tidak membenci hujan-Mu, aku hanya cemas dan khawatir karena aku
sendirian disini. Hujan-Mu berkah, kok,” Aku mencoba menenangkan diriku dalam
hati.
Orang-
orang mulai berlalu, ada yang sudah dijemput teman atau pacarnya, ada juga yang
rela hujan- hujanan karena nggak sabar. Aku menoleh dan memastikan bahwa masih
ada beberapa segelintir orang.
Saat
kutolehkan kepalaku lurus, seseorang memegang pundakku dan mengagetkanku. Aku
hampir berteriak tapi laki- laki itu langsung membekap mulutku.
“Jangan
berisik, ini masjid!” serunya sambil duduk di sampingku.
Kupukul
tangannya agar tidak membekapku lagi kemudian kupukul bahunya. “Apaan, sih?
Kamu yang bikin aku kaget!” seruku.
“Kagetnya?”
tanyanya sambil terkekeh- kekeh, “Sorry , deh.”
“Rejected!”
“Apa?”
“Nggak
apa,” jawabku singkat kemudian bertanya, “Kamu ngapain disini?”
“Neduh,
hujan gini mana mau aku basah- basahan? Emang film India!?” jawabnya sambil
tertawa.
Aku tertawa
– sangat – singkat, “Kamu nggak mau basah atau emang takut air!?”
“Emangnya
aku kucing?” tanyanya sambil mengacak- acak rambutku.
“Tomi!”
seruku sambil membenarkan rambutku, “Dasar nggak pernah mandi! Takut air!
Hahaha.”
“Eeh,
ngejek melulu, nih!” serunya sambil menyenggol bahuku sampai aku terjatuh.
Sebagai
gantinya, aku menarik rambut gondrong sebahunya yang dikuncir seperi anak
perempuan yang mau mandi. “Hiii, nggak pernah keramas!” seruku sambil mengelap
tanganku ke bajunya dengan bercanda.
“Heeyy,
Nino, jangan sembarangan, ya!” serunya sambil tertawa dan ia membenamkan
kepalaku ke dadanya dan rambutku diacak- acak lagi.
“Tuhan,”
kataku dalam hati, “kenapa jantungku berdegum kencang sekali? Kenapa hatiku
menjadi campur aduk? Kenapa dadaku jadi linu? Kenapa tanganku jadi sedingin
Vampire? Tuhan, aku menyukainya. Tuhan, apa salah aku menyukainya?”
Aku
melepaskan diriku dari benamannya dan membenarkan rambutku. Pipiku pasti
memerah karena kurasakan darah mengalir dari otak ke pipiku. Agar Tomi nggak
salah paham, aku berkata sebagai alibi, “Panas tau!”.
Aku
membenarkan posisi dudukku dan ia bertanya padaku, “Kamu suka hujan?”
“Aku
suka air, lebih tepatnya, jadi aku suka hujan,” kataku, “aku kan nggak phobia
air kayak kamu, hahaha!”
“Serius,
No,” katanya sambil mencubit pipiku.
Ya
Tuhan! Apa benar ia mencubitku??
“Ke..
Kenapa kamu tanya aku suka hujan? Mau ngajak hujan- hujanan terus nyanyi-
nyanyi kayak di film India?” tanyaku.
“Idiih,
nggaklah! Cuman tanya aja. Kenapa kamu suka air?” tanya Tomi lagi sambil
menatap hujan.
“Berasa
apa aja deh kamu nanya seserius ini!” seruku.
“Jawab
aja, bawel!” kali ini ia memencet hidungku dengan jari telunjuknya.
Tuhan!
Engkau pasti melihat ini tadi! Rasanya hidungku ingin memelerkan sesuatu karena
saat ia menyentuhku, aku merasa panas dan meleleh.
“Air
itu baik buat kehidupan, aku nggak pernah marah kalau hujan karena pasti ada
berkahnya buatku. Aku memang bukan petani, tapi aku mahasiswa yang lagi
terjebak hujan disini dan menunggu berkah Tuhan yang turun bersama hujan.
Mungkin berkahnya sudah ku dapat dari tadi, atau barusan, atau bisa juga nanti.
Misalnya, aku bisa lihat pelangi setelah hujan.
“Tapi,
air itu diam- diam menghanyutkan. Air bisa aja selembut kain yang nempel di
bajumu, tapi air juga bisa kasar. Nyatanya, batu aja bisa terkikis sama air.
Air bisa merubah benda padat menjadi cair atau elemen kecil- kecil,” ujarku
panjang lebar tanpa diganggu oleh Tomi, “sudah puas?”
“Apa
iya batu bisa terkikis air? Kalau kamu itu air, sedangkan aku batu, apa kamu
mau merubahku menjadi elemen kecil- kecil?” Tomi memalingkan pandangannya
padaku dengan tatapan serius.
Aku
terpaku di matanya yang memandangku seolah menuntut jawaban cepat dan sigap.
Mataku berkedip dan menyadarkanku. Aku terlalu jatuh dalam pandangannya. Tuhan,
aku benar menyukainya. Aku menyukai rambut gondrongnya, sikapnya
memperlakukanku seperti adiknya saat bercanda, dan tatapannya saat ia berbicara
serius.
“Apa
kamu pingin aku merubah sesuatu darimu?” tanyaku.
“Kamu
kan air,” jawabnya lalu memalingkan pandangannya dari wajahku.
“Hey,”
kataku hingga ia menoleh lagi padaku, kami benar bertatapan dan dalam nafas
nggak terkontrol aku menjawab, “aku sebagai aku nggak akan merubah apapun
darimu sebagai kamu. Kamu akan berubah jika kamu mau. Nggak akan ada yang bisa
merubahmu kecuali kamu. Sebaliknya juga, kamu nggak akan bisa merubah apapun
atau siapapun. Kamu sendiri yang butuh berubah, jadi kamu berubah. Air akan
merubah bentuk batu karena batu tau ia akan hanya ditaklukan secara alami oleh
air.”
“Kamu
nggak menuntut apapun?” tanyanya.
“Apanya?
Hujannya atau airnya?” tanyaku.
Tomi
mengedipkan sebelah matanya kemudian bangkit berdiri dan meninggalkanku.
“Tuhan,
dia mengedipkan matanya padaku! Tuhan, aku menyukainya, benar suka padanya. Aku
nggak peduli rambut gondrongnya, badan kurusnya, parfum cowoknya yang menyengat
bagiku!” ujarku dalam hati.
“Hey,”
Tomi kembali dan duduk lagi di sebelahku. Ia menyodorkan coklat padaku, “Kamu
laper, kan?”
“Makasih,”
jawabku sambil menerima coklatnya dan memakan itu.
Gigitan
coklat pertama darinya sangat manis, tambah manis juga saat ia mengacak
rambutku sambil berkata, “Jadilah air untukku.”
Aku
mengulum coklatku dan mengedipkan mata beberapa kali nggak percaya. Tangan
kurus Tomi mencubit pipiku lalu mengedipkan mata lagi. Badanku merasa panas dan
pasti wajahku memerah saat ini.
Kutelan
coklatku lalu menjawab dengan cukup tegas sebagai perempuan, “Aku air yang
nggak akan merubahmu menjadi siapapun atau apapun. Kamu akan jadi kamu saat
kita bareng- bareng.”
Ia
tersenyum padaku dan kubalas senyumannya.
“Tuhan,
aku memang bukan petani, tapi hujan-Mu membawa berkah padaku, aku rasa aku
nggak perlu pelangi muncul lagi, hujan sajalah!” seruku dalam hati.
ggg