Senin, 22 Oktober 2012

Cerita Kampus - Hujan

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 22, 2012 0 komentar

Aku sedang duduk di teras masjid kampus sambil menunggu hujan reda. Teman- temanku meninggalkanku saat aku sedang sholat tadi, akhirnya aku hanya bisa menatap tetes- tetes air yang jatuh dari langit.
Leherku merasa bergidik dan aku mulai cemas. Seseorang sedang melihat ke arahku, tapi aku tidak tahu siapa. Semua orang yang duduk di teras masjid sama hopelessnya denganku disini.
“Tuhan, tenanglah, aku tidak membenci hujan-Mu, aku hanya cemas dan khawatir karena aku sendirian disini. Hujan-Mu berkah, kok,” Aku mencoba menenangkan diriku dalam hati.
Orang- orang mulai berlalu, ada yang sudah dijemput teman atau pacarnya, ada juga yang rela hujan- hujanan karena nggak sabar. Aku menoleh dan memastikan bahwa masih ada beberapa segelintir orang.
Saat kutolehkan kepalaku lurus, seseorang memegang pundakku dan mengagetkanku. Aku hampir berteriak tapi laki- laki itu langsung membekap mulutku.
“Jangan berisik, ini masjid!” serunya sambil duduk di sampingku.
Kupukul tangannya agar tidak membekapku lagi kemudian kupukul bahunya. “Apaan, sih? Kamu yang bikin aku kaget!” seruku.
“Kagetnya?” tanyanya sambil terkekeh- kekeh, “Sorry , deh.”
“Rejected!”
“Apa?”
“Nggak apa,” jawabku singkat kemudian bertanya, “Kamu ngapain disini?”
“Neduh, hujan gini mana mau aku basah- basahan? Emang film India!?” jawabnya sambil tertawa.
Aku tertawa – sangat – singkat, “Kamu nggak mau basah atau emang takut air!?”
“Emangnya aku kucing?” tanyanya sambil mengacak- acak rambutku.
“Tomi!” seruku sambil membenarkan rambutku, “Dasar nggak pernah mandi! Takut air! Hahaha.”
“Eeh, ngejek melulu, nih!” serunya sambil menyenggol bahuku sampai aku terjatuh.
Sebagai gantinya, aku menarik rambut gondrong sebahunya yang dikuncir seperi anak perempuan yang mau mandi. “Hiii, nggak pernah keramas!” seruku sambil mengelap tanganku ke bajunya dengan bercanda.
“Heeyy, Nino, jangan sembarangan, ya!” serunya sambil tertawa dan ia membenamkan kepalaku ke dadanya dan rambutku diacak- acak lagi.
“Tuhan,” kataku dalam hati, “kenapa jantungku berdegum kencang sekali? Kenapa hatiku menjadi campur aduk? Kenapa dadaku jadi linu? Kenapa tanganku jadi sedingin Vampire? Tuhan, aku menyukainya. Tuhan, apa salah aku menyukainya?”
Aku melepaskan diriku dari benamannya dan membenarkan rambutku. Pipiku pasti memerah karena kurasakan darah mengalir dari otak ke pipiku. Agar Tomi nggak salah paham, aku berkata sebagai alibi, “Panas tau!”.
Aku membenarkan posisi dudukku dan ia bertanya padaku, “Kamu suka hujan?”
“Aku suka air, lebih tepatnya, jadi aku suka hujan,” kataku, “aku kan nggak phobia air kayak kamu, hahaha!”
“Serius, No,” katanya sambil mencubit pipiku.
Ya Tuhan! Apa benar ia mencubitku??
“Ke.. Kenapa kamu tanya aku suka hujan? Mau ngajak hujan- hujanan terus nyanyi- nyanyi kayak di film India?” tanyaku.
“Idiih, nggaklah! Cuman tanya aja. Kenapa kamu suka air?” tanya Tomi lagi sambil menatap hujan.
“Berasa apa aja deh kamu nanya seserius ini!” seruku.
“Jawab aja, bawel!” kali ini ia memencet hidungku dengan jari telunjuknya.
Tuhan! Engkau pasti melihat ini tadi! Rasanya hidungku ingin memelerkan sesuatu karena saat ia menyentuhku, aku merasa panas dan meleleh.
“Air itu baik buat kehidupan, aku nggak pernah marah kalau hujan karena pasti ada berkahnya buatku. Aku memang bukan petani, tapi aku mahasiswa yang lagi terjebak hujan disini dan menunggu berkah Tuhan yang turun bersama hujan. Mungkin berkahnya sudah ku dapat dari tadi, atau barusan, atau bisa juga nanti. Misalnya, aku bisa lihat pelangi setelah hujan.
“Tapi, air itu diam- diam menghanyutkan. Air bisa aja selembut kain yang nempel di bajumu, tapi air juga bisa kasar. Nyatanya, batu aja bisa terkikis sama air. Air bisa merubah benda padat menjadi cair atau elemen kecil- kecil,” ujarku panjang lebar tanpa diganggu oleh Tomi, “sudah puas?”
“Apa iya batu bisa terkikis air? Kalau kamu itu air, sedangkan aku batu, apa kamu mau merubahku menjadi elemen kecil- kecil?” Tomi memalingkan pandangannya padaku dengan tatapan serius.
Aku terpaku di matanya yang memandangku seolah menuntut jawaban cepat dan sigap. Mataku berkedip dan menyadarkanku. Aku terlalu jatuh dalam pandangannya. Tuhan, aku benar menyukainya. Aku menyukai rambut gondrongnya, sikapnya memperlakukanku seperti adiknya saat bercanda, dan tatapannya saat ia berbicara serius.
“Apa kamu pingin aku merubah sesuatu darimu?” tanyaku.
“Kamu kan air,” jawabnya lalu memalingkan pandangannya dari wajahku.
“Hey,” kataku hingga ia menoleh lagi padaku, kami benar bertatapan dan dalam nafas nggak terkontrol aku menjawab, “aku sebagai aku nggak akan merubah apapun darimu sebagai kamu. Kamu akan berubah jika kamu mau. Nggak akan ada yang bisa merubahmu kecuali kamu. Sebaliknya juga, kamu nggak akan bisa merubah apapun atau siapapun. Kamu sendiri yang butuh berubah, jadi kamu berubah. Air akan merubah bentuk batu karena batu tau ia akan hanya ditaklukan secara alami oleh air.”
“Kamu nggak menuntut apapun?” tanyanya.
“Apanya? Hujannya atau airnya?” tanyaku.
Tomi mengedipkan sebelah matanya kemudian bangkit berdiri dan meninggalkanku.
“Tuhan, dia mengedipkan matanya padaku! Tuhan, aku menyukainya, benar suka padanya. Aku nggak peduli rambut gondrongnya, badan kurusnya, parfum cowoknya yang menyengat bagiku!” ujarku dalam hati.
“Hey,” Tomi kembali dan duduk lagi di sebelahku. Ia menyodorkan coklat padaku, “Kamu laper, kan?”
“Makasih,” jawabku sambil menerima coklatnya dan memakan itu.
Gigitan coklat pertama darinya sangat manis, tambah manis juga saat ia mengacak rambutku sambil berkata, “Jadilah air untukku.”
Aku mengulum coklatku dan mengedipkan mata beberapa kali nggak percaya. Tangan kurus Tomi mencubit pipiku lalu mengedipkan mata lagi. Badanku merasa panas dan pasti wajahku memerah saat ini.
Kutelan coklatku lalu menjawab dengan cukup tegas sebagai perempuan, “Aku air yang nggak akan merubahmu menjadi siapapun atau apapun. Kamu akan jadi kamu saat kita bareng- bareng.”
Ia tersenyum padaku dan kubalas senyumannya.
“Tuhan, aku memang bukan petani, tapi hujan-Mu membawa berkah padaku, aku rasa aku nggak perlu pelangi muncul lagi, hujan sajalah!” seruku dalam hati.
ggg
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review