Sabtu, 29 Oktober 2011

Cerita Kampus-Komodo

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Oktober 29, 2011 0 komentar
Hujan turun cukup lama siang ini. Rasanya berbeda dari Hari Sabtu yang lalu- lalu. Hawanya panas walaupun sudah mandi berkali- kali. Dan ini ketigakalinya aku bolak- balik ke kamar mandi hanya untuk cuci muka. Sampai akhirnya hujan turun dan membebaskan hawa panas ini menjadi hawa dingin.
Aku duduk di depan meja komputer. Menatap monitor dan mengetikkan sesuatu di keyboard. Semua akunku berjejer rapi di layar komputer. Dari facebook, twitter, blogger, dan gmail. Tapi hanya facebook dan twitter yang menjadi fokus utamaku kali ini.
Ketika sedang asyik- asyiknya aku beradu tatap dengan monitor komputer, seorang teman SDku sms. Aku hanya membaca sekilas. Isinya tentang komodo yang menjadi new 7 wonders dan kalah vote dengan kadal air raksasa milik Malaysia. Aku mengamati betul- betul layar handphoneku ketika harus mengirim ke 4 digit nomor asing: 9818.
Hal yang ada dipikiranku saat itu adalah: Pasti menyedot semua pulsaku. Dengan seketika kuletakkan lagi handphoneku dan aku kembali berkutat dengan akun- akunku.
Mami sedang tidur di kursi depan televisi yang dibiarkan menyala. Jika di dengar- dengar, pasti siaran berita. Dan berita yang sedang hit sekarang adalah komodo! Ya, lagi- lagi komodo. Aku mendengar samar- samar apa yang dikatakan pembawa berita, tapi intinya sama seperti sms yang dikirim oleh teman SDku.
Telingaku interest dengan berita itu, kemudian aku menghentikan aktivitasku di depan monitor komputer dan fokus ke layar televisi. Gambar- gambar komodo bermunculan dan banyak wisatawan serta kepala daerah yang mengamati kondisi komodo di Pulau Flores itu.
Si narator berkata bahwa sebuah perusahaan menayangkan iklan baru mengenai dukungan untuk komodo agar menang sebagai new 7 wonders. Mulai dari artis ternama hingga tokoh- tokoh penting, dan juga orang yang tidak terkenal mengajak para pemirsa untuk ikut mendukung komodo dengan cara vote via sms dan dikirim ke 9818. Terlebih, hanya dengan Rp 1,00  para pemirsa sudah bisa berpartisipasi.
Semua pikiran su’udzonku terjawab. aku meraih handphoneku dan mengecek pulsa dahulu. “Sembilan ribu lima ratus sembilan puluh sembilan,” gumamku. Kubuka sms dari teman SDku lagi untuk memastikan cara votingnya.
Aku mengetikkan “KOMODO” dan kukirim ke 9818. Aku cukup waswas, takut jika aku tertipu dan pulsaku ludes. Setelah satu menit, aku mengecek pulsa dan, vallaaa! Pulsaku hanya berkurang Rp 1,00.
Bukannya sombong atau tamak, tapi ini demi Indonesia, aku kirim satu sms lagi untuk vote. Sempat terbesit dalam pikiranku kalau besok pagi aku akan sms lagi. Yaa, paling nggak ini salah satu bukti bahwa aku sebagai pemuda bangsa Indonesia berpartisipasi mendukung creature di Indonesia.
Baru kemarin Hari Sumpah Pemuda dan kubuktikan dengan satu sms yang bisa membawa Indonesia menuju hal positif. Aku harap semua teman- temanku juga akan ikut berpartisipasi. Kuraih handphoneku lagi, kemudian kuforward ke beberapa temanku.
Respon pertama dari mereka sama seperti responku tadi. Nggak percaya dan takut kalau pulsanya ludes, apalagi peristiwa sedot pulsa sedang marak akhir- akhir ini. Sedot pulsa itu secepat sedot WC, bedanya sedot pulsa merugikan, dan sedot WC menguntungkan.
Aku membalas sms dari mereka dengan menunjukkan bukti- bukti seperti berita di televisi dan aku yang sudah mencobanya sendiri. Aku nggak tahu apakah mereka akan segera mengetikkan kata “KOMODO” dan mengirimnya ke 9818. Tapi aku berharap mereka juga berpartisipasi dalam hal ini.
Jika kurang puas dan kurang percaya, mungkin iklannya harus dibintangi oleh Kak Seto. Kemudian beliau bernyanyi, “Komodo, komodo, teman baikku!”. #tampangblo’on.
Yaa, sebaiknya sadari dari sekarang, komodo, teman baik kita, sedang membutuhkan uluran sms dari teman- teman untuk mengalahkan hewan lain dari negara lain. Hanya Rp 1,00 betul dan insyaallah nggak menyedot pulsa J. Satu sms aja, bisa untuk berpartisipasi mendukung kodomo menjadi new 7 wonders! Jangan pikir panjang, karena panjang nggak berpikir. Ambil handphone, ketik “KOMODO”, dan kirim ke 9818. Cuma Rp 1,00 aja, walopun nggak gratis ringback tone dari penyanyi terkenal, yang penting, tunjukkan rasa cintamu pada creature asli Indonesia yang satu ini. Dibantu yaak? Bim salabim jadi apa prokk prokk prokk!
***

Minggu, 23 Oktober 2011

Cerita Kampus-Kotoran Burung

Diposting oleh nupp_niput di Minggu, Oktober 23, 2011 0 komentar
Aku benci menceritakan hal ini dan aku harap kalian nggak sedang makan kalau membaca cerita ini. Aku harap kalian segera berhenti makan, ngemil, atau apalah sesuatu yang kamu masukkan ke dalam mulutmu. Please, stop it now! Tapi bukan berarti aku menyuruh kalian stop membaca cerita ini. Whatever you do, whatever you think, tapi aku benci ini!
Aku sudah siap berangkat ke kampus dengan model kerudung baru yang Windy ajarkan padaku. Sekitar lima belas menit aku melipat, menekuk, dan membentuk kerudungku dan akhirnya bisa tapi nggak tertata rapi. Aku sudah siap dengan dandananku yang nggak menor – aku nggak suka –, dan parfum yang kusemprotkan menyebar kemana- mana di seluruh bagian tubuhku.
Perfect!” seruku pada diriku sendiri saat berkaca di jendela dan segera memanasi mesin motor.
Yeah, perfect setiap orang itu berbeda. Kalau perfect menurut Windy itu, dia harus siap dengan mascara di mata-paskitannya. Kalu menurut Hannah, perfect itu match sama yang dipakai di badan dan sopan. Bagiku, perfect itu kenyamanan, nggak peduli kerudungku nggak rapi atau bulu mataku nggak bermascara, yang penting aku nyaman.
Udah merasa cantik walaupun terlihat seperti upik abu, inner-beauty, aku siap untuk berangkat ke kampus. Hari ini ada kuis writing dan aku harap aku sanggup mengerjakan setiap soal yang diberikan oleh dosen, totally aku berharap writingku bisa mendapat nilai bagus karena beberapa hari lalu aku cukup pasrah dengan linguisticku. Belajar semalaman walau hanya sampai jam 9, membuatku merasa cukup dan aku pasti bisa mengerjakannya nanti.
Aku menaiki motorku dan mulai berangkat dari rumah. Aku berteriak memberi salam kepada ada yang di rumah, malaikat, karena semua orang di rumah sudah pergi menuju tempat kepentingannya masing- masing.
Dalam perjalanan, aku berdo’a supaya rumahku dijaga dari hal- hal buruk yang bisa membuat kami nggak nyaman. Sementara itu, aku akan berusaha untuk kuis writing hari ini.
Seperti biasa, jalanan, walaupun udah cukup siang begini, masih tetap saja ramai. Ada yang mengendarai dengan kecepatan penuh karena mungkin dia udah telat. Dan ada juga yang mengendarai dengan kecepatan rendah karena mereka sedang menikmati jalanan atau mungkin menikmati sinar matahari yang cerah di jam setengah delapan pagi ini.
Aku mengendarai dengan kecepatan standar. Meskipun begitu, angin yang berhembus dengan cukup kencang menerpaku dan membuatku agak sedikit kabur. Mataku juga ikut- ikutan terkena angin dan membuatku ngantuk. Ngantuk sekali dan aku ingin menutup mataku untuk sejenak. Yeah, sejenak saja. Tapi sesuatu dari atas jatuh dan mengenai helmku dan nyaris mengenai kakiku.
Damn!” seruku menemukan kotoran burung blekok – maaf, aku nggak tahu nama ilmiah atau namanya yang lebih mendunia, tapi aku hanya tahu, burung itu adalah burung blekok – jatuh tepat di helmku.
Aku segera menambah kecepatanku menuju kampus. Semakin cepat aku mengendarai motor ini, semakin jelas bau busuk dari kotoran burung itu.
Moodku turun drastis dan nggak berselera untuk melakukan apa- apa. Aku memutar otak, berpikir dengan cepat sebelum aku tiba di kampus. Aku memutuskan untuk mampir ke rumah Desi untuk meminjam kerudung.
Aku mempercepat lajuku lagi. Kemudian agak menguranginya saat di belokan yang biasanya ada sergapan polisi. Mengetahui nggak ada tanda- tanda para polisi yang mengecek SIM dan STNK, aku menancap gas motorku lebih laju lagi.
Sesekali bau busuk itu tercium di hidungku. Aku malu jika kotoran itu jatuh di helmku dan membuat noda yang membuat semua pengendara lain menertawaiku atau sekedar membicarakanku. Aku akan sangat malu walaupun aku nggak kenal mereka. Terlebih kalau mereka sampai mencium bau busuk itu. Mungkin mereka prefer untuk dekat dengan mobil truk sampah daripada berkendara di sampingku.
Akhirnya aku sampai di rumah Desi yang sesuai dugaanku, dia masih tertidur dengan nyaman. Aku lupa kalau dia beda jadwal denganku hari ini.
Mama Desi menyuruhku menunggu Desi yang bagiku sangat lama dan aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Hei, Sar. Ada apa i?” tanya Desi yang masih dengan wajah mengantuk. Matanya yang sipit makin sipit.
“Aku pinjem kerundung! Atau temenin aku beli kerudung! Aduuh, gimana ini, Des?” tanyaku langsung menghambur dan membuat Desi kebingungan.
“Eh, eh, kamu ini kenapa? Pelan- pelan, dong,” ujar Desi penasaran.
“Kerudungku kena kotoran burung blekok!” seruku agak pelan.
Desi tertawa mendengar pernyataanku dan nggak berhenti tertawa sebelum aku memintanya berhenti juga membantuku mencari kerudung.
Tapi ini masih jam delapan dan pastinya belum ada toko yang buka, apalagi toko yang jual kerudung. Aku cukup pasrah dan nggak tahu harus ngapain. Desi masih saja tertawa melihat keadaanku dan aku memutuskan untuk langsung ke kampus, Hannah sudah menungguku.
Aku pamit dengan Desi yang masih terus tertawa. Kalau aku mau, aku akan lempar kerudungku ke wajahnya dan memakasanya untuk mencium bau busuk dari kotoran burung itu.
Aku cukup lega karena helmku nggak bernoda, tapi hatiku rasanya ingin kuhancurkan sekarang juga karena bau busuk itu. Pernah, kan, ulangtahun dan dilempari oleh telur? Bau busuknya lebih dari itu!
Aku mengendarai dengan laju menuju kampus dan langsung menju ke lantai tiga tepat Hannah menungguku. Ia duduk di kursi dan membaca buku. Aku rasa itu satu- satunya buku yang pernah ia baca, karena ia mengaku nggak pernah suka dengan kegiatan membaca.
“Hannah, temenin aku ke toilet sekarang, ya?” pintaku dan aku berjalan duluan ke toilet.
“Kamu kenapa, Sar?” tanya Hannah penasaran.
Aku langsung melepas kerudungku ketika kupastikan nggak ada orang lain selain kami berdua. Aku menunjukkan kerudungku ke Hannah dan berkata, “Kerudungku kena kotoran burung blekok!”
Hannah tercengang sejenak kemudian tertawa. Aku nggak tahu apa ini lucu tapi aku juga ikut tertawa sambil menangis.
“Loh, kok kamu malah nangis, sih?” tanya Hannah bingung.
“Aku nggak tahu mesti gimana? Masa’ aku harus lepas kerudung? Aku malu, Han,” ujarku dalam tangis.
Hannah yang kalau tertawa kelihatan gigi kelincinya berkata, “Yaudah, sekarang dipakai dulu aja, kita masuk kelas.”
“Aku malu, ini bau, Han!” seruku sambil tertawa dan menangis membuat Hannah juga tertawa.
Aku memakai kerudung dengan biasa. Setelah kupikir- pikir, aku masuk ke ruang kelas aja agar bisa melepas kerudungku.
Aku menemukan satu ruang kelas yang kosong dan aku mengajak Hannah masuk. Yang membuatku tambah down tapi membuatnya tertawa adalah statementnya, “Nggak, ah, bau nanti!”
Aku hanya bisa mendatarkan pandanganku dan masuk ke ruang kelas, “Makasih, gigi kelinci-kumis lele.”
Aku mendengar suara Hannah yang tertawa keras.
Aku duduk di sebuah kursi, sendirian di dalam kelas, dan kuberanikan melepas kerudungku. Aku melihat dari kaca pintu ada beberapa kakak tingkat laki- laki yang mengintip. Aku sesegera mungkin menutupi kepalaku dengan kerudungku. Sialnya, baunya masih saja busuk, sebusuk burung yang memberikan itu padaku.
Suara handphoneku terdengar dan kuangkat telepon yang ternyata dari Windy.
“Assalamua’alaikum,” kataku.
“Wa’alaikumsalam, Sarah, handphone kamu dari tadi aku telepon kok nggak diangkat? Kamu dimana sekarang?” tanya Windy.
“Maaf, maaf banget. Ini aku udah di kampus, kamu dimana?” tanyaku.
“Aku masih di rumah, sebentar lagi berangkat kok,” ujarnya.
“Nah! Eh, abawain kerudung putihmu, dong, Win. Please, aku janji bakal cerita kalau kamu udah sampai disini. Kacau banget, deh, pokoknya,” kataku.
Windy mengiyakan dan aku cukup lega karena Windy akan datang membawa bantuan untukku. Seenggaknya aku harus menunggunya lima belas menit lagi.
Sementara itu aku belajar writing lagi dan ternyata aku sudah muak. Moodku turun dan nggak niat, walau hanya untuk sekedar membaca.
Hannah masuk ke dalam kelas dan duduk di sampingku. Masih tertawa, mengejekku.
“Windy habis ini dateng, dia bawa kerudung buat aku, alhamdulillah,” uajrku lega.
“Alhamdulillah, deh, nggak bau lagi,” ucap Hannah masih dan terus mengejekku.
Kami berkutat dengan kegiatan kami masing- masing. Menunggu Windy datang dan segera memakai kerudung yang ia bawa.
“Hei!” seru Windy ketika ia datang dengan kekhasannya.
Windy memberikan kerudung putih yang kupesan dan langsung kukenakan sambil menceritakan musibah yang terjadi padaku. Seperti yang lain, nggak jauh berbeda, Windy tertawa.
“Naah, ayo keluar, disini panas, Acnya nggak nyala,” ujarku.
“Tadi kamu betah disini,” celetuk Hannah.
“Aku kan lepas kerudung, tadi,” kataku.
Aku, Windy, dan Hannah duduk di kursi panjang dan aku mengajari Windy untuk kuis nanti. Hannah juga memberitahu apa aja nanti yang keluar karena hari kemarin ia kuis writing.
Kakak tingkat laki- laki yang tadi mengintipku di dalam ruang kelas mendekatiku dan bertanya, “Kamu kenapa, Sar? Tadi kok lepas kerudung segala di dalem kelas?”
Windy dengan percaya dirinya menceritakan kalau aku terkena kotoran burung blekok. Aku udah memintanya untuk nggak bercerita pada siapa- siapa, tapi ia tetap cerita dan membuatku malu. Aku sangat malu sehingga aku menangis di bahu Hannah.
“Yaah, Sarah nangis lagi, deh!” seru Hannah, “Kamu nangis kenapa?”
“Aku malu, Han,” seruku.
Tanpa dosa kakak tingkat itu nggak minta maaf dan malah ikut- ikutan menertawaiku. Aku makin malu dan menangis cukup lama.
Windy menenangkanku dan menyuruhku untuk mengajarinya lagi. Aku berkata “Aku nggak mood belajar, nih.”
“Naah, gara- gara Windy, loh, Sarah jadi nangis. Tadi pake cerita segala, sih,” ucap Hannah sambil tertawa karena Windy nggak jadi belajar.
Aku mengusap air mataku dan dengan mood yang ancur- ancuran, aku mengajari Windy untuk kuis nanti. Semoga dia juga bisa mengerjakan soal- soal writing. Karena mengajari Windy, aku jadi lupa dengan insiden tadi. Yeah, lupa untuk waktu yang sementara, semoga nggak membuatku kehilangan keberuntungan dan sukses kuis writing!
®®®

Sabtu, 22 Oktober 2011

Cerita Kampus-Happy Birthday Tya!

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Oktober 22, 2011 0 komentar
Hal terindah dalam hidup saat kita berulangtahun adalah sahabat kita yang memberi ucapan selamat. Walaupun sekedar ucapan, tapi bagiku itu adalah kado paling berharga. Karena saat kita berbahagia, semua orang mengharapkan hal- hal baik kepada kita. Singkatnya, ucapan adalah do’a.
Tapi sepertinya aku bukan sahabat yang baik karena saat Tya ulangtahun kemarin, aku orang paling telat yang mengucapkan kalimat ‘Happi Birthday’ beserta do’a- do’a untuknya.
Apa yang membuatku lupa, aku juga nggak tahu, aku lupa. Aku khilaf karena lupa hari bahagia sahabatku. Padahal di kalender, sudah kulingkari dan kuarsir tepat di tanggal ultahnya. Handphoneku baru saja rusak dan mereset semua file yang ada di dalamnya termasuk catatan di kalender.
Ataukah mungkin kuis writing kemarin yang membuatku lupa? Ya, mungkin itu satu dari faktor lain. Semalaman aku belajar untuk writing karena kuis linguistics kemarin aku nggak sepenuhnya belajar. Dan karena terlalu fokus, aku jadi lupa tanggal dan kejadian apa yang ada di tanggal itu.
Aku baru ingat saat aku masuk ke kamar mandi. Tiba- tiba aku teringat kalau tanggal 19 sudah terlewatkan dan nggak ada notification, “Hey, ini tanggal 19!”.
Tiba- tiba saja aku memikirkan tanggal- tanggal karena besok Senin aku udah mulai ujian, ujian praktek. Dan baru teringat kalau tanggal 19 udah benar- benar terlewat.
Aku nggak melakukan apa- apa di kamar mandi. Aku hanya diam dan berpikir kenapa aku bisa sampai lupa dan tega sekali aku sampai lupa! Tanggal 19 di ulangtahun yang ke-19!
Aku menjerit di dalam hati, membodoh- bodohkan diriku, dan menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi. Aku harus buat persembahan apa untuk menebus kekhilafanku? Aku takut Tya akan marah padaku nggak mau berteman denganku! Kenapa aku bisa lupa dan tega seperti ini?
Nggak cukup aku menyalahkan diriku, bahkan benda- benda penting yang menjadi nggak penting pun kusalahkan. Ya, seperti kalender, alarm notification di handphone, dan facebook. Ha, facebook! Aku ingat betul aku nggak membuka akun di facebook hari Rabu itu.
Tapi bodohnya kalau aku menyalahkan mereka, karena semua itu harusnya ada di ingatanku.
Aku menyiram air dari ubun- ubun kepalaku agar semua masalah hilang. Paling nggak aku bisa berpikir dengan baik untuk mencari jalan keluarnya.
Akhirnya aku selesai mandi dan menyalakan komputer. Aku harus buru- buru minta maaf dan memberi ucapan serta do’a- do’a untuk Tya.
Aku mencari akun Tya dan buru- buru mengetikkan ucapan permintaan maaf dan ucapan selamat ulang tahun. Aku nggak berani sms Tya karena fatal sekali, aku telat mengucapkan kalimat simple tepat di hari bahagianya.
Nggak lama Tya membalas postinganku dan aku semakin bersalah saat dia berkata, “Nggak apa- apa, kok. Aku maklum.” Simple seperti kalimat Happy Birthday, ya. Tapi lebih menusukku dan condong bahwa aku sahabat yang tega. Sekali lagi aku meminta maaf pada Tya.
Dengan hati penuh bersalah, aku menunggu balasan dari postinganku. Nggak lama juga, Tya membalas dan masih berkata, “Nggak apa- apa.”
Aku ingin membuatnya biasa, tapi innocent banget kalau sampai merasa biasa aja. So, aku memutuskan untuk buat cerpen ini sebagai ucapan maaf dan ucapan “Happy Birthday” special to Oktiarini Soleha J.
Aku berdo’a kepada Allah semoga kuliahmu lulus tanpa halangan dan lulus tepat waktu. Walaupun udah 19 tahun, jangan lupa untuk selalu menimbang apa yang harus dilakukan. Lihat ke belakang untuk memastikan sesuatu yang baik atau buruk. Tapi jangan selalu terbayang- bayang masa lalu, jadiin semuanya kisah indah buat hari tua.
YHappy Birthday, Oktiarini-Thya-SolehaY

Cerita Kampus-Mommy and Money

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Oktober 22, 2011 0 komentar
Sudah hampir mendekati ujian tengan semseter, aku dan teman- temanku masih leha- leha dan nggak memikirkan kalau kami harus membayar SKS dan uang modul. Lagipula, tanggal segini mami juga masih belum ada uang.
Ada kakak tingkat yang memberitahu kami kalau kami harus minta perincian pembayaran dari biro keuangan. Dan dengan malas- malasan, kami antre di biro keuangan.
Aku mendapati total uang yang harus dibayar olehku lebih banyak dibanding total milik Nirmala, dan total pembayaran milik Hannah lebih mahal dibanding total milik kami semua.
“Kamu mau bayar kapan, Sar?” tanya Windy sambil mengamati perincianku dan miliknya.
“Aku nggak tahu, nih. Aku sms mamiku dulu, ya,” jawabku. Kemudian aku mulai mengetikkan sesuatu di handphoneku dan mengirimkannya pada mami.
“Kok punyamu banyak banget, sih, Han?” tanya Nirmala.
“Kamu daftar kesini dulu gelombang berapa?” tanyaku.
Hannah yang juga shock melihat nominal di perinciannya terhitung sampai hampir enam juta rupiah, menjawab dengan sedikit bingung dan lesu, “Emm, aku nggak tahu. Waktu aku masuk kesini, orang dari kampus ini yang ngurusin.”
“Berarti kamu sama orangtuamu nggak tahu perinciannya?” tanya Windy.
“Papaku yang tahu, aku nggak tahu,” jawab Hannah dan kemudian memasukkan perincian itu secara asal, mungin karena ia sudah muak.
Aku membuka handphoneku dan membaca sms mami yang baru masuk, “Iya, nanti mum carikan, berapa bayarnya?”
Sebenarnya aku nggak tega kalau harus minta uang segini banyaknya, tapi ini untuk kelangsungan pendidikanku. Dan mami masih sanggup untuk membayar uang kuliahku. Terbesit dalam pikiranku untuk mengajar lagi. Paling nggak beban mami berkurang sedikit.
Aku nggak pernah minta yang muluk- muluk sama mami karena aku tahu diriku sendiri yang boros dan ingin segera ke toko buku jika uang di dompetku cukup banyak. Dan sejak dari kecil, mami selalu memberikan uang yang cukup untukku, sesuai kebutuhanku.
Aku membalas sms mami, memberitahu total pembayaran yang harus dilunasi. Aku tahu, empat setengah juta bukan uang yang sedikit dan bisa datang secepat hujan turun, tapi aku butuh uang itu agar bisa ikut ujian tengah semester.
“Aku nggak tega kasih tahu orangtuaku, ini jumlah yang banyak banget,” ucap Hannah sambil mengurut dahinya yang cenong.
“Aku juga, tapi gimana lagi? Ini juga kebutuhan kita,” ucapku.
“Halaah, nggak usah dipikirlah, masih ada besok- besok kok! Aku laper, maem yok,” ajak Nirmala.
“Iya, aku juga laper, mikir kayak begini aja bikin laper, gimana kalau pas ujian besok, ya?” tanyaku.
“Emang elo yang suka laper and doyan makan kalee!” seru Nirmala sambil merangkulku dengan lengannya yang kuat.
Aku dan teman- teman berjalan menuju warteg untuk menebus kelaparan kami. Dan paling nggak melupakan sejenak tentang biaya perkuliahan yang banyak.
$$$
Aku meletakkan tasku dan melegakan pundakku yang sedari tadi menggendongnya seharian. Aku merebahkan diriku di kasur dan merasakan kasurku sangat nyaman dan adem.
Mami masuk ke dalam kamarku dan duduk di sampingku. Aku bangkit duduk dan melihat di tangan mami sudah membawa bungkusan amplop coklat yang tebal. Mami mengeluarkan kumpulan uang Rp 20.000,00 yang bertotal dua juta, kemudian mengeluarkan kumpulan uang Rp 100.000,00 dan Rp 50.000,00.
“Totalnya lima juta ini,” ucap mami.
Aku mengeluarkan perincian yang kuambil dari biro keuangan tadi dan menyerahkan pada mami.
“Kok lebih banyak dari yang dihitung kemarin?” tanya mami.
Aku menjawab sambil menunjuk ke kolom modul, “Uang modulnya Rp 60.000,00, mum.”
“Ya Allah, untung mami ambil lima juta,” ucap mami agak lega tapi nadanya berat.
Mami menghitung uang itu dengan cekatan seperti pegawai bank. Nggak heran, bukan karena mami itu pegawai bank, tapi mami bekerja di biro koprasi di Kodam IV Diponegoro. Jadi, menghitung uang seperti itu dengan cepat adalah hal biasa, yang luar biasa adalah menghitung nominal di buku jurnalnya.
Mami memberikan empat setengah juta padaku, sesuai yang aku butuhkan, “Sisanya buat bayar cicilan motormu.”
Aku hanya mengangguk. Aku lagi malas bicara kalau berhadapan dengan uang. Bukan karena aku ngiler lihat unag itu, tapi amanah itu harus segera aku bayarkan, aku nggak bisa pegang uang segini banyak kalau terlalu lama.
Mami bilang kalau uang ini mami pinjam dulu dari teman mami. Uang remonirasi yang harusnya udah di dapat dari kemarin belum keluar- keluar, dan nggak tahu apa yang membuatnya seret keluar. Uang itu seperti BAB yang mampet di pencernaan dan akan bisa lancar setelah diberi obat pencahar. Sayangnya, dalam kasus ini, obat pencahar untuk remonirasi itu apa?
Aku agak terharu dan akan lucu kalau aku nangis saat mami bilang uang itu masih uang pinjaman. Bukan salah mami karena harusnya hak mami memang harus dibayar perbulan sesuai dengan perilaku mami. Mami adalah orang yang mengandalkan displin dalam pekerjaan. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan primer selalu diutamakan oleh mami.
“Kamu harus serius kuliah,” ucap mami saat memberikan uang itu padaku, “mami dah nggak ada uang lagi kalau kamu nggak serius dan cuma main- main aja sama kuliahmu. Dah tahu sendiri, kan, kalau uang kuliahmu itu udah banyak?”
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan mami.
“Kalau kamu ulangi lagi kenakalanmu kayak tahun lalu, mami udah angkat tangan, dan kamu bakal dosa besar sama mami kalau sampai main- main sama kuliahmu ini,” ucap mami mengancamku.
Sebenarnya bukan ancaman juga, mungkin mami juga muak kalau hanya mengurusi pendidikanku. Aku masih punya adik yang harus dimasukkan ke sekolah militer untuk meneruskan keturunan militeris di dalam keluargaku. Dan untuk masuk ke akademi militer itu, mami butuh biaya banyak.
Aku sadar betul dengan kesalahan yang aku perbuat tahun lalu, kemudian aku menjawab, “Iya, mum, aku suka di bahasa inggris, aku serius sampai S2, deh!”
“Mami masih sanggup biayain kalau kamu masih mau sekolah habis lulus nanti. Itu masih jadi kewajiban mami,” ucap mami, “tapi buat sekarang, kalau kamu main- main sama kuliahmu, kamu bakal dosa besar sama mami.”
Aku merenungkan apa yang mami ucapkan. Aku suka ada di bahasa inggris ini, aku nggak mau kecewain mami, aku nggak mau dosa besar sama mami. Aku harus lebih serius kuliah dan lulus tepat waktu. Aku sayang mami dan aku nggak mau kecewain mami.
$$$
Lots of loves from Niput to MommyY

Senin, 17 Oktober 2011

Cerita kampus-Because of Marry You

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 17, 2011 0 komentar
Aku ingin menangis sekencang- kencangnya nggak peduli ini di rumah atau di kampus karena aku hanya ingin membuat hatiku lega.
Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya dan dia menyatakan perasaannya padaku di warteg dekat kampus. Aku masih nggak percaya bahwa status hubungannya di facebook sudah berganti dari lajang ke berpacaran dengan seorang cewek yang juga satu fakultas dengannya, tapi beda tahun ajaran.
Aku ingin sekali menangis melihat banyak jempol menghiasi status hubungan itu dan aku membaca semua komentar- komentar yang mendo’akan mereka agar tetap langgeng dan sebagainya membuatku ingin membakar gedung kampusku yang terasa panas.
Keringat mencucur dari dahiku dan aku harap mataku jangan sampai meneteskan air sebelum Hannah atau Windy datang. Aku butuh bahu mereka untuk bersandar sekarang ini, karena merekalah yang ada di dekatku di waktu ini.
Aku ingin menelpon sahabat- sahabatku di SMA, tapi aku takut aku akan menangis dan seolah berharap padanya untuk menghapus status hubungan itu.
Satya muncul dari belakang dengan khasnya yang ceria, “Halo bebeb.”
Aku hanya tersenyum dan menahan air mata di pelupuk.
“Kamu lagi ngapain ini?” tanyanya sambil duduk di sampingku dan melihat ke layar laptopku, “Siapa ini, Sar? Pacarmu, ya?”
Jantungku serasa dihunus pedang milik abi yang tersimpan rapi di rumah. Aku tambah galau dan ingin menangis. Aku buru- buru memutar lagu ‘Marry You’ milik Bruno Mars yang membuat tertawa dan tersenyum- senyum seperti orang kasmaran.
“Kamu kenapa, Sar?” tanya Satya yang melihat tingkahku aneh sekali.
“Nggak apa kok,” jawabku, “eh, kamu tanya ini siapa, ya? Dia bukan pacarku, kan status hubungannya sama orang lain.”
“Oh, iya, ya. Tapi kok kamu kayak lagi sedih gitu, sih?” tanyanya peduli.
Aku menggeleng, “Aku, aku, aku...”
Aku nggak kuat menahan dan kemudian menangis dalam pangkuanku sendiri.
“Loh, Sar, kamu kenapa?” tanya Satya kebingungan.
Orang lain di sekitar menatap kami dan pandangan mereka seperti menyalahkan Satya bahwa dia yang bersalah dengan membuatku menangis. Kemudian Satya mengemasi laptop dan memasukkan ke dalam tas ranselku. Satya menggandengku dan menggendong tasku di bahu sebelah kirinya.
Aku mengusap air mataku dengan baju ujung tanganku. Aku hanya ikut saja dengan Satya entah kemana ia akan membawaku.
Ternyata Satya membawaku ke tempat duduk dekat parkiran yang adem karena pohon- pohon rindang. Jam segini parkiran sepi entah kenapa. Mungkin parkiran tahu aku butuh tempat untuk menangis dan mengeluarkan isi hatiku.
“Aku minta maaf, Sar, tapi aku nggak tahu apa yang bikin kamu nangis,” ucap Satya sambil mengelus- elus punggung tanganku.
“Aku yang minta maaf,” kataku sambil masih tersedu- sedu, “maaf aku jadi ngerepotin kamu.”
“Enggak kok, nggak apa. Apa, sih, yang nggak buat kamu?” ujar Satya menggombal, bahkan di saat seperti ini.
Aku hanya tersenyum malu dan tetap masih tersedu- sedu.
“Alhamdulillah kamu udah senyum lagi,” ujarnya dengan nada lega dan tenang.
Aku tersenyum malu lagi. Di dekat Satya, aku selalu dibuat senyum dan tersipu malu. Niatnya selalu untuk membuatku ge-er padanya.
“Kamu cerita, dong, kenapa kamu nangis. Siapa tahu aku bisa bantu,” kata Satya dengan baik hati.
“Ini rumit, nanti kamu pusing,” kataku.
“Enggak kok, yang penting kalo itu ceritanya dari kamu, pasti aku dengerin sampai aku tidur, deh,” ucapnya sambil bercanda.
Aku memukul bahunya dengan pelan, tanpa tenaga, “Tuh, kan, mending nggak usah cerita, deh.”
Satya lagi- lagi membuatku tersipu malu dan merasa kalo perhatiannya khusus untukku dengan menggenggam tanganku, walau hanya sebentar, tapi aku cukup baikan, “Cerita, dong.”
Aku menarik nafas dalam- dalam dan mulai bercerita, “Dia itu kakak kelasku waktu SMA. Aku suka sama dia udah empat tahun ini dan kemarin, dua hari yang lalu, dia nyatain perasaannya ke aku. Aku lihat, dia bohong waktu bilang dia juga udah suka sama aku udah dari lama. Mungkin dia mau nyamain seberapa lama aku suka dia karena aku pernah cerita hal ini sama sepupu jauhnya.”
“Trus, yang bikin kamu nangis, jangan- jangan status hubungan itu, ya?” tebak Satya.
Aku mengangguk dan aku menangis lagi karena air mataku rasanya akan membanjiri kampus ini.
“Udah, nggak apa, masih ada temen- temen yang lain, masih ada Windy, Hannah, yang lain, masih ada aku juga, kok,” ucapnya.
Aku menatap Satya yang juga menatapku. Aku buru- buru mengalihkan pandanganku dan berkata, “Makasih, ya. Aku cukup oke, kok, sekarang.”
“Cuma makasih aja, nih?” tanyanya sambil bercanda.
“Eh, eh, lah Satya mau minta dibayar apa?” tanyaku.
“Enggak, kok, enggak. Cuma minta hatimu aja,” ucapnya membuatku tertawa dan tersipu malu malu kucing.
“Hatiku lagi luka, emang kamu mau dikasih hati yang kualitasnya buruk?” tanyaku meneruskan bercandanya.
“Selama itu hatimu,” Satya terpingkal- pingkal mendengar gombalannya sendiri. Wajahnya yang baby face membuatnya belum pantas menggombal seperti itu.
“Kecil- kecil suka gombal sama doyan perempuan, ya,” ucapku menyindir dan masih dalam konteks bercanda.
“Ahh, nggak juga,” ucapnya, “cuma kamu, kok.”
“Gombal, ah!” seruku sambil memukul bahunya dengan pelan.
“Gembel, deh,” balasnya sambil menggenggam tanganku dan melepaskannya dengan cepat.
Aku menarik nafas lega dan diam sebentar. Pandanganku kosong dan mulai memikirkan hal itu tadi. Air mataku masih saja mencoba terjun dari pelupuk mataku. Secepat kilat aku mengusapnya dan berusaha tegar. Aku nggak mau membuat Satya menggombal lagi untuk membuat tersenyum, karena itu sama saja membuat hatiku semakin memilihnya.
Kalo dipikir- pikir. Satya juga alasan lain kenapa aku nggak menerima pernyataan perasaan dari Mas Habib. Tapi alasan utamaku tetap prinsipku dan itu kupegang teguh. Untuk siapa saja dan sebesar apa aku menyukainya.
“Loh, mesti mikirin itu lagi, ya?” tebak Satya yang seratus persen benar.
“Maaf, ya,” ucapku, “maklumin, deh. Aku cewek dan aku sensitif, jadi gampang nangis.”
Satya mengangguk kemudian bernyanyi. Awalnya aku mendengar beberapa bait saja, tapi kemudian aku mendengar jelas bahwa Satya menyanyikan lagunya Bruno Mars, The Lazy Song.
“Eh, jangan nyanyi itu. Bikin aku pengen cepetan pulang, trus males- malesan di rumah.
Satya tersenyum dan menawarkan untuk requeat lagu apa. Aku baru akan menjawab tapi Satya menyuruhku stop bicara dan mulai menyanyikan lagu yang ingin kudengar.
It’s a beautiful night, we looking for something dumb to do, hey baby, I think I wanna Marry you,” Satya bernyanyi dengan suaranya yang pas- pasan tapi bisa membuatku tertawa.
“Kok kamu tahu aku suka lagu itu?” tanyaku penasaran.
“Katanya kamu cewek sensitif? Kalo denger lagu- lagu yang nyentuh di hati bakal bikin seneng. Lagu ini bener, kan?” tanya Satya memastikan.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Eh, tapi marry me bukan dumb thing, loh, Sat!”
“Iya, dong,” ucapnya sambil tertawa, “marry you is the the best thing.”
Thankyou,” ucapku sambil mencubit pipinya yang tembem. Ia sangat lucu sampai membuatku ingin terus bersamanya. Tapi, all is friends. Aku harap prinsipku selalu berdiri kokoh walopun dengan Satya juga.
YYY
Lots of loves, niput

Cerita Kampus-The Confession

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 17, 2011 0 komentar
“Bodoh! Bodoh!” aku mengguncangkan kepalaku berkali- kali dan memandang wajahku yang terlihat tanpa dosa di depan cermin.
Insiden tadi siang masih membekas dan teringat selalu. Aku takut, aku sedih, dan aku bimbang.
Cowok yang empat tahun lamanya kusuka dan kuelu- elu, akhirnya membalas perasaanku dan menyatakannya tadi siang. Cewek normal akan bilang ‘iya’ kalo ada cowok yang ia suka menyatakan perasaannya. tapi bukan aku. Aku normal, tapi bilang ‘nggak’. Apa yang salah? Aku membodoh- bodohkan diriku.
Nggak! Nggak! Nggak! Aku pintar dengan nggak menerimanya. Sebesar apapun aku menyukainya, selama aku menyukainya, aku punya prinsip yang harus kupegang dan prinsip itu adalah nggak pacaran!
Mami melarangku buat pacaran, dan aku juga sedang nggak ada hasrat untuk menjalin dan perhatian dengan orang lain. Aku hanya nggak mau menyakiti diri sendiri dan dia kalo kami menjalin hubungan.
Aku masih ingat betul detail- detail kejadian tadi siang. Rasanya malu untuk diingat, tapi otakku mengikuti alur kejadian tadi siang dengan sendirinya.
Setelah sholat dzuhur, aku dan Windy berpisah di masjid. Dengan segala ketakutan yang nggak jelas dan perasaan campur aduk, aku memberanikan melangkah menuju warteg tempat kami janji untuk bertemu.
Alasan kenapa aku memilih warteg padahal ia mengajakku ke depot makan yang lebih asik dan lebih oke untuk menyatakan perasaan, adalah karena aku tahu sekali bahwa ia akan menyatakan perasaannya padaku dan aku nggak akan menerimanya alias menolaknya.
Kalo dipikir- pikir, empat tahun itu waktu yang lama untuk bertahan dalam menyukai seseorang. Terlebih lagi, banyak nilai plus dari dia yang patutnya nggak aku tolak. Tapi ini keputusan hati, guys. Aku tahu apa yang aku butuhkan, bukan aku inginkan.
Nilai plus dari dia yang aku lihat antaralain ibadahnya yang rajin. Sholat dan puasa seperti genggamannya. Dia juga nggak merokok, itu poin yang aku suka dan membuatku cukup mempertahankan perasaan ini. Dan nilai plus lebih yang Allah berikan adalah wajah gantengnya melebihi tujuh lautan, tujuh samudra, dan tujuh keajaiban dunia. Alay!
Aku dan dia duduk berhadapan. Aura warteg ini berubah menjadi serba pink dan membuatku grogi. Matanya udah terlihat senang saat bertemu denganku. Padahal dari lubuk hati aku sungguh- sungguh ingin beranjak dari tempat itu. Aku nggak ingin berlama- lama dengan keadaan terjepit seperti ini. Terjepit perasaan.
Dia tersenyum dan menyapaku. Seperti biasa, menanyakan kabar satu sama lain. Juga menanyakan kabar tentang teman- temanku. Hal baik untuk memulai sebuah pembicaraan berat, tapi aku ingin ini segera berlalu dengan cepat.
Sial! Aku merasa lemah saat dia mencoba menatap mataku dan aku menoleh kesana kesini untuk menghindari tatapannya. Aku tahu ini salah, tapi aku benar- benar nggak bisa.
Pembicaraan sudah mulai menuju ke arah yang semestinya. Aku semakin takut untuk meneruskan ini, tapi semakin dekat semakin cepat berlalu.
“Mas, aku udah ditunggu temenku. Kasihan dia, dia harus pulang cepat ini,” ucapku bohong walaupun Windy memang sedang menungguku.
“Temennya mau ngapain?” tanyanya mencoba menahanku untuk tetap disitu.
“Dia mau belajar,” ucapku dengan nada meyakinkan, “sebentar lagi kan ujian tengah semester, dia belum ada persiapan, dia belum mudeng sama apa yang tadi dipelajari, makanya minta tolong aku buat ngajarin dia.”
“Waah, anak sibuk sekarang,” pujinya sambil tertawa.
Aku menjawab santai tapi sedikit membosankan, “Nggak juga, ah, mas.”
“Tapi nanti balik kesini lagi, kan?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng, “Maaf mas.”
Ia mulai lagi mencuri- curi mataku untuk dipandang dan aku dengan sigap mengelah.
“Tunggu sebentar, mas belum confess, kayak janjinya mas,” katanya sambil meraih tanganku dan lebih mendekatkan kursinya.
“Apa mas?” tanyaku sedikit penasaran padahal aku udah tau apa yang akan dia ucapkan, hanya saja aku ingin dengar dari mulutnya sendiri.
“Mas suka Sarah,” ucapnya sambil masih menggenggam tanganku.
Aku tersenyum dan salah tingkah, “Umm, aku benda, ya? Pake disuka- suka segala.”
“Seriusan,” ucapnya dengan tatapan serius. Aku benci hal ini karena dalam suasana seperti ini membuatku mual dan ingin menangis.
“Dari kapan?” tanyaku sambil melepas genggaman tangan darinya.
Tangannya masih mencari tanganku untuk digenggam, tapi aku menarik tanganku dan kupangku. “Udah lama kok,” jawabnya singkat.
Dark bilang orang bohong itu bola matanya terlihat mengecil dan aku melihat itu dari matanya. “Bohong, deh. Lamanya tuh kapan?” tanyaku memastikan.
“Loh? Siapa yang tahu? Siapa yang ngerasain?” tanyanya balik menyerangku.
“Lah iya, tapi udah berapa lama? Sebelum pacaran sama mbak Inez?” tanyaku guessing.
“Yaa, sekitar itulah,” jawabnya.
Aku merasa aneh, rasanya dia bohong. Hanya ingin meyakinkanku kalo dia patut untuk jadi pacarku karena udah menyukaiku sejak lama.
“Kenapa nggak bilang dari dulu mas?” tanyaku.
Kalo aku tahu dari dulu, mungkin aku nggak akan pacaran dengan orang lain dan tetap menunggunya. Dan aku juga menyukainya lebih lama dibanding dia menyukaiku.
“Tapi aku nggak enak sama Lina, mas. Dia temen dekatku waktu SMA. Sikap dia ketus banget kalo sama aku sekarang ini, entah karena dia tahu mas suka aku atau apa, tapi pandangannya nggak enak sama aku,” ujarku resah.
“Iya juga, sih, tapi itu udah lama. Dulu dia salah paham sama mas, jadinya waktu putus kesan nggak baik muncul. Tapi sekarang 100% temenan kok,” ujarnya mencoba meyakinkanku.
“Mas,” kataku, “kita nggak tahu apa Lina masih suka atau nggak sama mas. Yang jelas itu risih banget kalo aku ada apa- apa sama mas. Aku cuma nggak mau bikin nggak nyaman antara aku, mas, dan Lina. Dia masa lalu bagi mas, tapi bagiku dia masa lalu, sekarang, dan masa depan. Aku nggak tahu ,entah kapan itu, apakah besok aku butuh Lina sebagai apa.”
“Kenapa jadi ngomongin Lina, sih?” tanyanya dengan nada bete.
“Aku cuma mau bikin ini semua jelas aja kok mas, aku nggak mau ada kejadian nggak enak aja,” kataku, “yadah, ya, mas. Aku harus balik, kasihan temenku.”
Ketika aku bangkit, dia meraih tanganku lagi dan bertanya, “Jadinya enggak, nih?”
“Maksud mas?” tanyaku sambil melepas genggamannya dengan pelan.
Dia tersenyum dan menggeleng, “Cuma confession aja, kok, ya? Ya udah, makasih, ya.”
Aku tersenyum dan pamit pergi. Hingga aku nggak terlihat olehnya, aku berlari dan berpikir tentang kebohongannya. Aku takut ia hanya berpura- pura. Karena sebelum aku pernah cerita pada sepupu jauhnya bahwa aku menyukainya udah empat tahun ini. Aku takut ia mencoba menyamai selama apa aku menyukainya.
Aku berpikir bahwa berapa lama, berapa besar, dan sebanyak apa rasa suka yang ia beri belum cukup bisa membuat orangtuaku, bahkan keluargaku yang lain, setuju dengannya.
Prinsipku tetap aku pegang dan nggak mau aku lepas, karena dengan apapun dan demi apa pun aku nggak akan melewatkan proses menuju bahagiaku kelak, walaupun nggak bersama dia.
Yaa, bodoh- bodoh- pintar aja. Bodoh jika aku berpikir gegabah, bodoh jika aku merusak prinsipku, dan aku sangat pintar bahwa aku berhasil mengalahkan rasa ingin memilikiku.
Aku yakin, ulat akan jadi kupu- kupu yang indah dengan melawati proses yang lama dan kadang menyakitkan karena harus berkorban.
YYY
Lots of loves, niput

Senin, 10 Oktober 2011

Cerita Kampus-Kakak, I Adore You

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 10, 2011 2 komentar
Kali ini rasanya aku ingin menangis saja karena aku nggak tahu harus gimana tanpa kepanikanku. Hannah dan Husna sakit bareng- bareng! Aku bingung karena Husna muntah- muntah dan Hannah sakit kepala sampai- sampai dia jatuh.
Hannah memegangiku dan minta aku untuk menemaninya di masjid. Matanya merah, sepertinya otot matanya keluar dan urat- uratnya menyala di bagian putih matanya. “Sakit, Sar, pusing!” seru Hannah sambil memegangi matanya.
Sementara aku memgangi Hannah, Windy menangani Husna yang masih mual dan Windy jadi ikut- ikutan mau muntah melihat Husna muntah.
“Sar, tolongin, nih!” seru Windy.
“Sar, kamu sama aku aja. Biar Husna sama Windy, aku pusing banget, nih!” seru Hannah memegangiku erat. Tubuhnya hampir roboh tapi aku sudah siaga kalau Hannah akan jatuh lagi.
“Eh, Win, tolongin Husna. Hannah pusing banget ini!” seruku pada Windy. Sebenarnya aku nggak tega melihat Windy juga ikut mual, tapi akhirnya Windy bisa mengontrol dirinya dan membantu Husna untuk melegakan perutnya di kamar mandi.
Aku memapah Hannah dan mendudukkannya di undak- undakan dekat masjid. Aku melihat mata kanannya merah seperti api. “Kamu sejak kapan pake mata itu?” tanyaku sambil menunjuk benda hitam itu mengapung di air pembersih.
“Belum ada enam bulan kok,” kata Hannah sambil memegangi mata kanannya.
“Buruan ganti aja, mata kamu iritasi, tuh. Nggak baik dibiarin lama- lama. Masa’ iya kamu mau setiap hari iritasi?” tanyaku.
Hannah mengangguk, “Iya, besok aku ke optik, deh. Aku juga nggak betah.”
“Sarah! Sarah!” seru Windy, “Husna makin parah, nih!”
Aku melihat Husna jongkok beberapa meter di depanku dan sepertinya dia nggak tahan untuk memuntahkan sesuatu yang mengganjal di perutnya.
Aku beranjak dari dudukku dan menyuruh Hannah untuk tetap di tempatnya dan nggak bicara sama orang asing karena sebelah matanya sudah sulit untuk melihat siapa yang ada di depannya.
Aku berlari menuju warteg terdekat dan membeli teh hangat untuk Husna. Sepatuku rasanya seperti akan jebol dan pinggangku yang sedari tadi pagi pegal, rasanya akan rontok kalau aku nggak mengistirahatkannya sebentar.
Aku berlari lagi menuju Husna dan memberikan teh hangat untuknya. Di sampingnya ada Windy dan kakak tingkat yang disukai Husna. “Perhatian juga dia,” kataku di dalam hati.
“Istirahat dulu disana, yuk,” ucap Windy membujuk Husna untuk istirahat di gazebo.
Husna meminum teh hangatnya dan berdiri. Windy dan sang kakak membantu Husna berjalan, dan aku pergi menemui Hannah lagi.
“Kamu masih pusing?” tanyaku.
Hannah masih memegangi matanya, tapi nggak seperti tadi, matanya sudah lumayan nggak merah. “Gimana mataku?” tanya Hannah.
“Lumayan,” kataku.
Windy yang sudah selesai menangani Husna, karena Husna sudah banyak yang menghandle, mengajak aku dan Hannah untuk sholat maghrib dulu.
Setelah sholat, Hannah memasang lagi mata hitamnya yang membuatnya pusing. “Better than before,” katanya.
“Tapi masih pusing?” tanya Windy.
Hannah menggeleng dan mengajakku dan Windy untuk melihat keadaan Husna.
Aku duduk di samping Husna dan menanyakan apa dia masih mual atau nggak. Sementara itu, Hannah sedang berdebat dengan kakak senior yang – aku rasa – menyukainya.
Di gazebo ini pasti tambah membuat Husna mual dan pusing karena ramai kakak senior yang ikut dalam organisasi himpunan mahasiswa dan beberapa sedang merokok.
“Aku pulang sekarang aja, ya?” kata Husna dengan lemas.
“Nggak dijemput aja?” tanya Windy, “Atau mau tidur di rumahku dulu aja?”
“Tidur di rumah aku aja, kan jalan kita searah, cuma rumah kamu lebih jauh, sih. Tapi yang penting tidur di rumahku dulu aja, Na,” kataku.
Hannah yang duduk di samping kiri Husna juga menawari Husna untuk tidur semalam aja di rumahnya daripada harus pulang ke rumahnya dengan naik bus. Aku dan yang lain takut kalau dia ketiduran di bus dan malah nggak sampai rumah, bahkan aku takut kalau dia akan dijahati di bus.
Sementara aku, Windy, dan Hannah membujuk Husna untuk tidur di rumah salah satu dari kami, Nirmala membuat kami tercengang dan tertawa dengan statementnya, “Gimana kalau kamu dianter papaku aja? Papaku baru beli helikopter kemarin.”
Aku dan Windy nggak kuat menahan tawa sehingga gazebo pun mungkin akan hancur jika kami bertiga meledakkan suara tawa kami.
Husna sedikit tersenyum karena lelucon Nirmala. Lumayan, bisa membuat perutnya nggak mual dan nggak terlalu memikirkan sakitnya.
“Aku pulang sekarang aja, ya, ini?” kata Husna dengan loyo. Wajahnya pucat dan nggak bertenaga.
“Naik taxi aja, gimana?” tiba- tiba aku melontarkan pendapatku. Semuanya mengiyakan. Tapi Husna menggeleng dan berkata kalau dia tambah pusing kalau naik taxi. Entah pusing karena bau taxinya, AC dalam taxi, atau jumlah currency yang ada di  argometer di dalam taxinya.
 Mbak Mona, kakak tingkat kami, mendapat ide bagus, “Udah, pokoknya jangan naik bus! Kalau nggak bisa naik taxi, biar Bagas yang nganterin pulang.”
“Naaah, ide bagus!” seru kami semua. Kami setuju karena secara keseluruhan berita tentang Husna menyukai Mas Bagas sudah menyebar, bahkan Mas Bagas sendiri juga tahu.
“Aku nggak mau ngerepotin kalian,” kata Husna.
“Ngerepotin itu kalau kamu naik bus. Kita khawatir sama kamu, Na,” ucap Hannah.
Setelah di bujuk- bujuk, akhirnya Husna mau untuk diantar pulang oleh Mas Bagas.
Sementara Husna sudah selesei dengan bagaimana cara ia pulang, giliran aku khawatir dengan Hannah.
Hannah beranjak dari tempat duduknya dan Mas Yuda meraih tangannya, “Aku anter pulang, ya?”
Hannah menatapku sebentar dan berkata pada Mas Yuda, “Nggak mas, aku nggak apa kok.”
“Kamu kenapa, sih? Ntar kalau jatuh, loh!” katanya denganpenuh perhatian, yang lebih dari sekedar teman.
“Yakin, deh, mas. I’m okay!” kata Hannah mencoba meyakinkan Mas Yuda.
“Sekali ini aja, Han,” kata Mas Yuda dengan tatapan serius ke Hannah. Nggak ada yang menyadari mereka karena semua perhatian tertuju pada Husna. Hanya aku yang memperhatikan Hannah dengan Mas Yuda. Sesekali Hannah menatapku dengan tatapan meminta tolong.
Aku bingun apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku menarik tangan Hannah dan berkata, “Ayo pulang, yuk, aku juga sekalian mastiin Husna dari belakang, nih.”
Hannah langsung ikut denganku dan berpamitan dengan Mas Yuda, “Aku pulang dulu, ya, mas. Aku oke- oke aja, kok. Bye.”
Mas Yuda akhirnya menyerah dan melepas Hannah untuk pulang sendirian.
“Akhirnya!” seru Hannah lega, “Thanks, Sar.”
Anytime,” kataku sambil tersenyum.
“Eh, kamu beneran mau buntutin mereka? Malah ganggu mereka, nanti!” seru Hannah.
“Kasian Husna, at least sampai daerah rumahku aja aku buntutin mereka,” kataku.
Hannah melengos dan berkata, “Kalau gitu rasa laki- lakinya nggak keluar, dong.”
“Haaah, niat utamaku, kan, jagain Husna dari belakang. Bukan ngeliatin mereka berduaan, itu malah bikin aku iri, nanti,” ucapku kemudian tertawa.
“Kan ada ...piiip...!” seru Hannah kemudian tertawa girang. Aku rasa dia udah lupa dengan rasa sakitnya.
Aku dan Hannah berpisah di parkiran. Aku segera menyusul Mas Bagas dan Husna. Windy ada di belakangku, kemudian ia juga berpamitan padaku. Kami berpisah di trafficlight.
Kepala Husna yang pusing, makin pusing dengan helm yang ia pakai, tapi kalau nggak pakai helm, mereka bakal kena tilang! Husna menyandarkan kepalanya di bahu Mas Bagas dan tangan Husna dimasukkan ke saku jaket milik Mas Bagas.
Di perjalanan, sesekali Mas Bagas memegangi tangan Husna. Menjaganya agar tetap erat dan nggak jatuh. Aku yang tetap mengawasi Husna dari belakang, melihat kejadian itu membuatku ingin menagis karena iri. “Damn, dia so sweet banget!” seruku dalam hati.
Dua kali aku kehilangan mereka berdua karena jalanan yang ramai atau aku yang terlalu cepat saat mengendarai motor. Setiap kali aku menoleh ke kanan atau ke kiri, yang aku lihat malah pasangan lain, ada juga ojek dan seorang lansia, yang pasti bukan banci atau aku akan segera tancap gas cepat- cepat.
Aku akhirnya menemukan mereka. Disaat Mas Bagas mengendarai motornya dengan cepat, ia memegangi tangan Husna, dan Husna dengan masih menyandarkan kepalanya di bahu Mas Bagas, terlihat nyaman walaupun wajahnya pucat sekali.
Aku berpamitan dengan mereka saat ada celah untuk berpamitan. Aku bilang aku hanya bisa menuntun mereka sampai daerah tempat rumahku. Dan dari daerah rumahku sampai di rumah Husna, aku menyerahkan keselamatan Husna di tangan Mas Bagas.
Di saat terakhir aku berpisah dengan mereka, aku melihat dari kejauhan kalau tangan Mas Bagas masih memegangi tangan Husna dan kepala Husna masih menyandar dengan nyamannya.
Aku bisa ngerasain perasaan Husna saat itu. Ada campuran bubuk sakit, manisnya berduaan, senangnya menyandar di bahu orang yang disukai, dan nyamannya  genggaman tangan orang yang disukai.
I’m on green! Aku pernah berharap kisah seperti di TV seperti yang dirasakan Husna bisa kurasakan juga. Tapi aku cukup kuat untuk menjadi sakit! Biarlah, pasti ada kisah indah untukku yang membuat seumur hidupku mengingat hal itu. Yeah, pasti indah pada waktunya, as always.
YYY
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review