Minggu, 26 Februari 2012

Cerita Kampus-Travelling to Tegal

Diposting oleh nupp_niput di Minggu, Februari 26, 2012 0 komentar
Setelah memutuskan tanggal dan tempat yang pas untuk jalan- jalan, akhirnya pilihan jatuh ke Pantai Alam Indah, Tegal. Kami mengadakan reuni SMA pada tanggal 26 Februari 2012. Nggak semua cerita yang saya share ini lengkap, karena bagian terlengkapnya hanya ada ingatan kami masing masing. Ini dia kronologisnya:
1. bangun pagi jam 4 padahal tidur jam 10 gara gara mimpi buruk ketinggalan acara kemarin ε(╯△╰")з
2. katanya berangkat jam 6.45 ternyata molor sampe 7.15 ε(╯△╰")з
3. diperjalanan isinya makan cemilan, ngomongin orang, liat kecelakaan, karaokean, becanda2 (•ˆ⌣ˆ​​​​•)
4. pom bensin jadi tempat favorit karna sering dikunjungi #pipis (–˛ — º)
5. makan siang 1 jam (–˛ — º)
6. awal2nya bingung cari tempat makan gara2 plank gede tentang warteg yg ternyata mengundang jarak sekitar 11km-an #laper !
7. sampe di pantai alam indah ternyata yaa kayak gitu gitu aja, namanya juga pantai --"
8. took pictures every moment :)
9. nggak di semarang nggak di tegal, belinya yaa tahu gejrot ξ\(⌒.⌒)/ξ
10. di tepi pantai makan tahu gejrot sama minum es kelapa muda bareng @bhethya and @hayumisoedjiwo
11. takut mandi karena nggak kebiasaan pake air asin, jadi ibunya luntang luntung nyari air tawar haha
12. siibu sama sibapaknya sewa kamar mandi ngobrol apa bertengkar yaa ? pitchnya tinggi sekaliii ~(˘ε˘ ~) \(˘o˘)/ (~˘з˘)~
13. beli oleh oleh di alun alun tegal, kaki gempor jalan kesana kesini ternyata barang yg diminta dah abis (ˇ_ˇ'')
14. maghriban di salah satu mushola karna masjid agung tegalnya jauh dr parkiran, kasian yg nyopir, poke @andi_tream
15. sempet de javu
16. pulang dari tegal jam 7.15 juga sama kayak berangkatnya --"
17. di perjalanan pulang malah sakit perut, mules, salah makan (╥﹏╥)
18. jam 9 udah bener bener tepar di mobil hahaha
19. hanya bisa bangun kalo lagu mp3nya @bhethya play Taylor Swift :D :D #karaokean 
20. nyari POM bensin buat temen
21. sempet nyasaaaaarrr ( ゚ Д゚) !!
22. akhirnya ketemu rombongan yg lainnya dan lanjut pulang. sampe semarang jam 12an apa yaa ?? #klenger 
23. pulang ke rumah di anterin @andi_tream @pajardamar @dendidiantoro makasih guys \(‾▿‾\)(/‾▿‾)/
24. sampe di kamar langsung bobok lagi :D :D yey !
25. tadi ceritaku, ceritamu ? :)

paling nggak itu tadi review perjalanan kami kemarin yang saya adopsi dari twitter. seru nggak seru itu pendapat masing masing pribadi. Tapi, selagi masih sama kalian, guys, nggak ada yang nggak seru. Semuanya mengenang di hati. ceiyeh!
Dan akan dibuat juga video tentang kemarin. Can't wait longer :) yey!

Selasa, 21 Februari 2012

pop corn-Ada Cinta di Cosplay

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Februari 21, 2012 0 komentar
   Aku sedang duduk di bangku yang terbuat seperti tangga di depan stage persis. Aku melihat penggemar musik band Hanabi sedang berjingkrak- jingkrak sambil bernyanyi koor bersama sang penyanyi.
   “Eru ganteng banget!” seru teman- temanku yang duduk di sebelahku. Mereka sangat terobsesi dengan Eru yang punya nama asli Iraz.
   Aku hanya mengangguk dan tertawa melihat tingkah Eru yang berjingkrak- jingkrak seperti orang tersambar petir. Lumayan aneh, tetapi sahabatku dan temanku berkata bahwa Eru sangat keren. Eru sangat populer di kalangan pecinta cosplay, ia salah satu personil band Teru- Teru Bozhu yang terkenal.
   Iraz terlihat seperti Eru, tokoh utama dalam film Death Note, yang diangkat dari komik Death Note juga. Riasan wajah yang dipoleskan ke Iraz menunjukkan bahwa dia seperti Eru yang dingin, jenius, dan diam- diam menghanyutkan. Hanya saja Eru tidak bongkok dan tidak pemakan manis- manis seperti Eru di Death Note.
   “Eh, eh, kok mulai rusuh, ya, itu orang!” seru Gween, sahabatku, yang menunjuk ke arah laki- laki yang menari dengan rusuh.
   “Dia seperti habis mabuk!” seru Erin menambahi.
   “Dia baru saja gabung, kan, di arena situ?” tanyaku sambil memperhatikan tingkah pemuda aneh itu.
   Bruuk.. Brukk..
   Eru terjatuh dan terseret sampai di depanku, ia tersenggol oleh pemuda serabutan itu. Kepalanya yang terbentur lantai berdentum keras.
   Kemudian aku buru- buru membantu Eru bangkit, tapi darah dari kepala Eru terus mengucur. Aku melepaskan syal yang kupakai dan kubalut di kepala Eru. “Hei, bantu aku bawa dia ke ruang kesehatan!”
   “Bawa saja ke ruang BEM, ruang kesehatan ditutup!” seru salah satu panitia dan membantuku membopong Eru.
   “Eru.. Eru..,” seru Gween dan Erin yang mengikutiku dari belakang.
   “Dia belum mati, sayang,” ucapku menenangkan mereka yang mulai lebay dengan situasi ini.
   Eru dibaringkan di sebuah sofa panjang. Aku, Gween, dan Erin membersihkan luka Eru perlahan- lahan, sementara Eru pingsan dari saat dia terjatuh tadi.
   Gween menangis saat membersihkan darah di kepala Eru yang terus mengucur, “Sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit. Darahnya tidak mau berhenti!”
   “Iya, coba Puri konfirmasi sama temannya Eru,” ucap Erin yang sedang berusaha menekan darah Eru yang terus mengucur.
   Aku langsung beranjak menuju teman- teman Eru dan mereka setuju. Eru dibawa ke rumah sakit terdekat. Saat Eru dimasukkan ke dalam mobil, Gween dan Erin menangis tersedu- sedu. Aku hanya berkata “Semoga cepat sembuh.” Kemudian Gween mengajak kami untuk pulang.
♪♫♪
   Sudah dua hari berlalu setelah insiden Eru terluka dan baru sekarang aku ingat bahwa syal biru mudaku dibalutkan di kepala Eru oleh Erin kemarin.
   “Amal. Kan sudah bantuin Eru-ku sayang,” ucap Gween yang tersipu- sipu, tandanya ia sedang mengkhayal tentang Eru.
   “Aku baru sadar, kamu ternyata benar- benar suka sama Eru,” kataku pada Gween.
   Tiba- tiba Gween menjadi sangat serius saat pembicaraan kami mulai mengacu pada Eru. Aku kira Gween hanya ngefans dengan Eru, tapi kenyataannya Gween sangat menyukai Eru. Terlihat sekali saat Eru terluka kemarin.
   “Bagaimana keadaan Eru sekarang, ya? Semoga dia lekas sembuh dan mengembalikan syal biru mudaku,” ujarku.
   Gween ternganga mendengar pernyataanku, “Kamu bisa- bisanya berkata begitu?”
   “Syal itu adalah syal kelas. Maksudnya, semua siswa di kelasku memiliki syal seperti itu. Ada namaku dan nama sekolah kita juga disitu,” ucapku membela diri.
   “Eheem,” seseorang berdeham dari belakangku dan Gween yang sedang leha- leha di teras kedai dekat sekolah, “Makasih untuk syalnya.”
   Aku beranjak bangun dari dudukku. Gween langsung salah tingkah karena terkejut dengan kehadiran Eru beserta dua teman bandnya. “Sama- sama, kamu sudah sembuh dan boleh pulang, ya?” tanyaku sambil memperhatikan bagian kepala Eru.
   Dia mengangguk dan tersenyum. Gween mempersilakan Eru dan teman- temannya ikut bergabung dalam obrolan kami. Kami pun hanyut dalam obrolan seputar bunkasai, cosplay, dan sedikit bercanda tentang insiden Eru saat terjatuh kemarin.
   Gween sepertinya senang dengan kehadiran Eru. Dia dari tadi tersenyum dan tertawa- tawa dengan candaan Eru yang bagiku sedikit garing. Tapi aku senang melihat sahabatku senang.
   “Menemukan Puri sangat mudah, seperti menemukan sehelai rambut hitam dalam uban. Ada namanya, sebutan kelas, dan nama sekolahnya. Dan sepertinya dia sangat populer, semua orang tahu bahwa kau dan sahabatmu sering kesini setelah sekolah usai,” ujar Eru panjang lebar dan kemudian tertawa.
  Sekali lagi, kegaringan ini tetap saja membuat Gween tertawa. Mungkin karena dia salah tingkah, atau bagaimana. Yang jelas, Eru bukan tipe humoris.
♪♫♪
   “Apa yang hrs aku berikan untkmu untk membalas kebaikanmu. Aku sadar, kau bukan hanya cantik di luar, tp jg di dalam. Apa kau mau menjd pacarku?”
  Kubaca berkali- kali sms dari Eru. Nyalinya sangat besar untuk menyatakan perasaannya yang sesaat padaku di pertemuan pertama kami secara informal.
  Aku sampai- sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Kugenggam ponselku dan memainkan gantungan doraemon kesukaanku.
   “Hei! Dari tadi berkutat sama ponsel melulu,” ucap Erin mengejutkanku, “diajak curhat, malah dicuekin!”
   Aku hanya menggeleng dan memijat kepalaku dengan pelan. Tiba- tiba Erin merebut ponselku dan dengan spontan aku mencoba merebutnya.
   “Oops, aku yang dapat!” seru Gween yang buru- buru mengambil ponselku dan membaca pesan dari Eru. Kemudian ia lemas dan berkata, “Apa benar? Apa kamu terima Eru jadi pacarmu?”
   Aku merebut ponselku dan meninggalkan mereka.
   Gween berteriak, “Pengkhianat! Temen makan temen!”
   Aku ingin sekali berbalik menuju Gween dan berkata aku sama sekali tidak berniat untuk menjadikan Eru pacar, tapi aku sangat pusing dan aku memilih meninggalkan Gween supaya emosinya tidak meninggi. Gween bukanlah tipe orang yang mau mendengarkan penjelasan orang. Dia selalu menghakimi orang, tapi tidak mau dihakimi, maka lebih baik aku meninggalkan Gween saja.
♪♫♪
   “Maaf Eru, kamu memang baik. Tapi bukan seperti ini caramu berterimaksih padaku. Memang sudah sepantasnya aku membantu orang yang dalam kondisi membutuhkan,” ujarku.
   Aku duduk berhadapan dengan Eru di studio bandnya. Ia sedang berlatih dengan teman- temannya, tapi ini jam istirahat bagi mereka.
   “Baiklah, tapi jika bukan karena kamu, aku pasti sudah kehilangan banyak darah dan meninggal di tempat,” ucap Eru.
   “Ya, dan jika kau meninggal, setiap hari Gween dan Erin akan menangisimu tanpa henti,” ucapku, “lagipula, darimana datangnya idemu untuk menjadikanku pacarmu. Kita baru saja dekat, kan?”
   “Kau sering menonton setiap pentasku, kan? Kenzi berkata bahwa kau sangat ngefans denganku dan kau begitu takut kehilanganku saat aku terluka kemarin,” Eru menjawab dengan santai dan overconfident.
   Aku ternganga mendengar pernyataan Eru, “Ada dua hal yang salah dalam pernyataanmu. Pertama, Gween dan Erinlah yang begitu memujamu. Kedua, aku tidak selebay Gween dan Erin yang ketakutan jika kau tidak tertolong!”
   Eru berpikir sebentar dan kemudian ada binar di matanya. “Aku tahu! Kenzi menipuku!” seru Eru, “Kenziii! Awas kau, ya!”
   Terdengar suara tertawaan dari arah Kenzi dan Zoya yang berhasil mengerjai Eru. Aku ikut tertawa terbahak- bahak dan lebih tertawa lagi ketika melihat Eru malu- malu padaku.
   Kemudian Eru meminta maaf padaku. Ia juga berkata bahwa ia juga tidak serius ingin menjadikanku pacarnya.
   “Tapi, masih ada satu masalah lagi,” ucapku.
   “Apa?” tanya Eru penasaran.
   Aku membisikkan sesuatu pada Eru, ia mengangguk- angguk dan tersenyum. Kemudian kami berjabat tangan menyetujui perjanjian kami. Setelah itu aku pamit pulang dan bersiap untuk hari besok.
♪♫♪
   “Eru!” seru Gween yang duduk di kedai dekat sekolah, menghadap ke arah luar.
   Gween mempersilakan Eru, Kenzi, dan Zoya duduk. Tapi dia bersikap tidak kenal padaku, lebih parahnya lagi bersikap seperti aku tidak ada. Tapi aku langsung duduk saja di dekat Eru.
   “Aku ingin menyelesaikan masalah ini,” ucap Eru dengan sangat manis.
   “Masalah yang mana?” tanya Gween yang sok manis.
   Kemudian Eru menceritakan semua kejadian memalukan dan mengakui bahwa dia hanyalah korban dari Kenzi dan Zoya. Setelah panjang lebar menjelaskan pada Gween, akhirnya aku dan Gween baikan.
   “Kalian sahabat yang kompak, jangan sampai pecah hanya karena masalah sepele seperti ini,” ujar Eru menasehati kami. Ia menggenggam tanganku dan tangan Gween, kemudian mempersatukan tangan kami.
   Aku masih merasa tidak enak pada Gween karena Eru menggenggam tanganku, meskipun menggenggam tangannya juga. Aku melepas genggaman Eru dan menumpuk tanganku di atas tangan Eru dan Gween, “Kalian cocok!”
   Eru tertawa terbahak- bahak dan Gween malu- malu kucing. Kemudian Eru menarik tangan Kenzi dan meletakkan tangan Kenzi di atas tangan Gween dan berkata, “Kenzi yang akan bertanggung jawab, Gween, kalian serasi!”
   “Apa- apaan coba!” seru mereka berdua bersamaan.
   Aku dan yang lainnya tertawa karena kekompakan Gween dan Kenzi yang alamiah.
   “Tapi aku tetap ngefansnya sama Eru!” seru Gween seperti anak kecil.
   “Iya, boleh, ngefans saja sesuka hatimu,” ucap Eru dengan bijak.
   Eru bahkan tidak illfeel atau salah tingkah. Ia profesional dengan semua orang dan memperbolehkan mereka untuk ngefans padanya.
♪♫♪
   Selang beberapa bulan, ada bunkasai di sekolahku dan panitia mengundang Teru- Teru Bozhu sebagai bintang tamunya. Gween dan Erin sangat bersemangat dan antusias sekali.
   Bunkasai di sekolahku ini dalam rangka memperingati hari pertama musim semi di Jepang. Dekorasinya sangat disesuaikan dengan keadaan di Jepang sekarang yang sedang pesta bunga sakura.
   Gween dan Erin sengaja mengenakan syal warna favorit mereka, hijau dan pink. Ada tulisan nama mereka, kelas, dan nama sekolah kami.
   “Eru! Eru!” seru mereka saat Eru dan kawan- kawan selesai menyanyikan lagu pertama. Mereka mengangkat syal yang mereka bawa untuk ditunjukkan kepada Eru.
   Eru tersenyum dan melambaikan tangan pada kami. Seperti biasa, Gween dan Erin yang paling antusias. Aku hanya tersenyum pada Eru.
   Sebelum Eru menyanyikan lagu kedua, ia berkata, “Lagu ini kupersembahkan pada Stella, pacarku. Dan tiga inspiratorku yang ada disitu.”
   Eru menunjuk kami bertiga sebagai inspiratornya. Aku cukup senang dengan hal itu. Tapi Gween dan Erin sangat terpukul ketika Eru berkata ia mempersembahkan lagu mellow itu pada sang kekasih, Stella.
   Aku tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepala, “Sudah, yang sabar, amal. Kita hanya fansnya Eru, terserah saja Eru mau pacaran dengan siapa saja yang menurutnya terbaik baginya.”
   “Tapi aku sedih!” seru Gween dan Erin yang saling berpelukan dan menitikkan air mata.
   Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah seorang pemuda yang tiba- tiba ikut melambai- lambaikan tangan ke atas tapi ia bergerak tidak sesuai irama lagu yang mellow. Ia bergerak serabutan dan kasar.
   “Orang itu mengacau, deh!” seruku.
   Gween dan Erin langsung tertuju pada pemuda itu. Mereka juga berpikir bahwa pemuda itu familiar. Ia bergerak dengan kasar dan menyenggol yang ada di samping kanan dan kirinya kemudian...
   Brukk.. Brukk.. Diikuti suara kaget dari semua orang yang melihat insiden itu.
   Salah seorang cosplayer yang imut dan tampan terjatuh tepat di depanku berdiri. Aku menatap Gween dan Erin. Mereka juga menatapku dengan pikiran yang sama.
   “Aaaa!” seru kami dan kemudian membopong cosplayer tampan itu ke ruang kesehatan sekolah.
   “Aku mau jadi pacarnya cosplayer imut ini!” seruku dalam hati sambil senyum- senyum dan membawanya ke ruang kesehatan sekolah.
♪♫♪

pop corn-Tarrot to Carrot

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Februari 21, 2012 0 komentar
   Seperti malam minggu biasanya, aku pergi keluar bersama dua sahabatku, Herly dan Guntur. Minggu kedua bulan Juni ini kami pergi ke sebuah kedai masakan khas Amerika Selatan yang terkenal dengan free ramal dengan tarrot.
   “Lo gak asyik banget, deh, udah tau gue nggak suka ramal- meramal, masih aja dijadwal wisata kuliner disini!” seru Guntur yang memang nggak suka dan nggak percaya ramalan.
   Aku membanting pelan buku tentang tarrot yang khusus kubawa pada malam hari ini di meja, “Lo penakut banget, sih? Dia juga nggak bakal makan otak lo, kan?”
   “Dikira zombie, makan otak manusia?” tanya Herly sambil tertawa.
   Guntur mengutak- atik handphonenya untuk menghilangkan parnonya tentang peramal yang sekarang sedang duduk di kursi berhadapan dengan Guntur. Aku dan Herly senyum- senyum melihat tingkah Guntur.
   “Jadi? Sang penjaga pun takut dengan kehadiranku, bagaimana jika kedua bidadari ini kubawa ke masuk ke dalam kartu- kartuku?” ucap sang peramal menyindir Guntur.
   Aku dan Herly menahan tawa dan sedikit takut.
   “Lo santai aja, girls,” ujar si peramal dengan gaya gaul anak muda sekarang.
   Kami bertiga tercengang, ada juga peramal gaul seperti ini.
   “Then, ambil satu dari kartu- kartu di tanganku ini,” perintah si peramal. Kami menurut dan mengambil satu dari deretan kartu yang disediakan.
   Si peramal membuka kartu milik Herly, “Kamu sangat mendominasi, kamu hidup di antara dua timbangan.   Kamu sangat bijaksana, teman- temanmu butuh orang seperti kamu.”
   Kemudian ia membuka kartu milik Guntur, “Seseorang yang dekat dengamu takut kehilangan kamu.”
   Terakhir, ia membuka kartu milikku, “Hidupmu diambang keburaman, semua ada pada penglihatanmu.”
   “Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
   “Lo bawa buku Tarrot kemari, kenapa nggak lo baca? Gue nggak dibayar tip, sih. Bye,” ujar si peramal gaul itu kemudian pergi menuju meja pengunjung lain yang baru datang.
   Aku penasaran dan langsung membuka buku Tarrot yang kubawa. “Aha!” seruku.
   “Lo nemu?” tanya Guntur semangat.
   Aku mengangguk dan membaca dengan keras, “Kamu harus fokus dengan indera penglihatanmu, karena tanpanya kamu akan merusak setiap tujuanmu.”
   “Mata!” seru Herly.
   Mataku membelalak dan kami bertiga berseru bersamaan, “WORTEL!”
   “Nooo!!” jeritku.
***
   Aku merebahkan diriku di ranjang, berpikir tentang ramalan itu.
   “Guntur benar, gue nggak harus percaya sepenuhnya sama kayak begituan,” ujarku.
   “Tapi, dari sifat lo yang suka baca novel sambil tidur, bisa jadi resiko juga,” respon Herly sambil memilin rambutnya.
   “Tapi gue benci wortel!” seruku, kemudian aku duduk di ranjang.
   “Coba deh, lo pikir, kalo lo nggak bisa lihat dengan jelas, mana bisa lo baca novel lagi? Dan mana bisa lo merhatiin Guntur kalo lagi basketan?” tanya Herly.
   “Kok jadi ke Guntur, sih?” tanyaku balik.
   Herly menghela nafas, “Stop pura- pura di depan dia. Peramal itu nggak sepenuhnya salah kok. Lo masih inget kan, kartunya Guntur?”
   Aku mengangguk pelan.
   “Lo nggak mau kehilangan dia dengan cara konyol, kan?” tanya Herly menakut- nakutiku.
   Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, “Konyol gimana?”
   “Kalo lo nggak bisa melihat dengan jelas, ada kesempatan buat Guntur buat kedap- kedipin mata sama cewek lain tanpa kamu tahu!” seru Herly.
   “Aaah! Apaan, sih?” tanyaku, “Jadi aku harus makan wortel, nih?”
   Herly mengangguk sambil senyum- senyum jahil.
   “NO WAAYYY!” seruku, kemudian aku membenamkan wajahku di balik bantal.
***
   Aku sangat membenci wortel. Jika ditanya apa alasannya, aku hanya bisa menjawab, “Aku bosan.”
   Herly berkata jangan pernah salahin mamaku karena dulu mama sering membuatkanku makanan dari wortel. Karena terlalu sering, aku jadi bosan dan anti dengan wortel.
   “Hey, ikut main nggak?” ajak Guntur sambil menggendong bola basketnya.
   “Kayak lo baru kenal Zea aja? Mana mau?” seru Herly yang sudah siap dengan kaos olahraganya.
   “Pergi deh, lo tau banget gue lebih suka baca novel begini,” ucapku.
   Guntur mengangkat bahunya dan pergi sambil mendrible bolanya.
   Herly tau bahwa aku naksir sama Guntur. Ia menyuruhku mengaku pada Guntur, tapi aku takut. Bukan karena aku nggak berani bilang “Aku Suka Kamu”, tapi aku takut merusak persahabatan kami.
   Baru beberapa menit Herly dan Guntur sedang bermain, gerombolan cewek cheerleader sudah datang.
   “Buat apa mereka datang? Ini bukan pertandingan besar. Hanya Guntur dan Herly saja yang sedang bermain basket,” ucapku dalam hati, “jangan- jangan, seperti apa yang dibilang Herly waktu itu!”
   Aku merasa cemburu saat seorang dari cheerleader itu menghampiri Guntur dan merangkul lehernya.
   “Guys, aku pulang!” seruku sambil berlari menuju parkir motor dan pulang.
   Sepanjang perjalanan sampai aku di rumah, aku masih memikirkan kejadian tadi dan apa yang Herly katakan waktu itu. Tapi mataku belum cukup rabun untuk nggak melihat Guntur kedap- kedip sama cewek lain.
   Kalo memang wortel bisa membuatku lebih waspada dengan gerak- gerik Guntur, aku akan makan monster itu dengan berat hati. Aku rela karena aku nggak siap buat tau bahwa Guntur sudah punya pacar.
***
   Aku gencar dengan jadwal rutinku setiap pagi: Minum satu gelas jus wortel dan tomat.
   Walaupun ujung- ujungnya kumuntahkan juga karena tubuhku sudah nggak mau mentolerir wortel. Tapi, paling nggak, mama tau bahwa aku mau mengkonsumsi wortel lagi.
   “Gue denger dari tante kalo lo makan wortel, ya?” tanya Herly dengan ekspresi simpati.
Aku hanya mengangguk.
   “Lo gigih banget, Ze. Gue salut sama lo!” ujar Herly sambil menepuk- nepuk punggungku, “Tapi kasian juga, sih, lo.”
   “Aduh, kok lo gitu, sih?” tanyaku dengan wajah sakit parah, “Gue niat, hari ini adalah hari terakhir gue makan wortel.”
   “Looh, kok gitu, sih?” tanya Guntur yang tiba- tiba datang sambil membawa bento (bekal makanan).
   “Gue enek banget!” ucapku lesu.
   “Yaah, padahal gue uda beliin kalian sushi, nih!” seru Guntur sambil membuka bentonya.
   Mataku membelalak saat mendengar makanan kesukaanku disebut. Tapi aku langsung jadi lesu melihat sayur warna orange berbentuk batang terselip di antara telur, udang, dan timun.
   “Daripada lo maksain diri minum jus wortel yang lo nggak suka, mending dijadiin pelengkap sushi, kan?” tanya Guntur sambil melahap satu sushi.
   Aku berpikir sejenak. Betul juga yang Guntur bilang. Aku melahap satu sushi. “Wortelnya nggak terasa! Makasih, ya, kamu baik banget!” seruku.
   “Kamu?” tanya Guntur dan Herly bersamaan.
   “Ayoo, selamat makan!” ucapku menutupi salah tingkahku.
***

pop corn-anak mommy

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Februari 21, 2012 0 komentar
   Menuruti setiap kemauan orangtua adalah kado terindah dari seorang anak. Menaati setiap peraturan yang mereka buat dengan berbuah manis, sebuah hak yang diterima kalau kewajiban sudah dilaksanakan. Ya, seenggaknya itu yang kulakukan, dan teman- temanku salah mengartikan, bahkan sahabatku, Egi.
   “Gue mau pakai jeans aja kali, ya? Kalau rok mini, gue nggak bakal dikasih izin,” ujar temanku, Ulva.
   “Umm, gue jegging sama kaos kelas, mungkin,” gumam Tyas.
   Aku hanya duduk manis mendengarkan obrolan mereka tentang kostum di acara pensi nanti malam. Responku hanya tersenyum jika dimintai pendapat.
   “Lo beneran nggak ikut?” tanya Ulva memastikan.
   “Lo uda tanya 10 kali hari ini,” kataku sambil tertawa, “dan itu nggak merubah keputusan gue.”
   Tyas menaikkan alis sebelah mata, “Keputusan lo atau nyokap lo?”
   Aku hanya tersenyum dengan ekspresi: Tuh, kamu udah tau jawabannya.
   “Lo udah hampir 17 tahun, masa’ masih mengekor sama nyokap lo?” tanya Ulva, “Dan nggak cuma kali ini aja, setiap kali gue ajak lo pergi jalan, lo mesti nggak ikut.”
   “Lo ngajaknya malam, sih, coba kalau sore,” ucapku.
   “Tapi sekali- kali lo ikut, dong. Sekali aja,” tuntut Tyas dengan ngotot.
   “Kamu mau aku nggak datang atau aku datang sama mamaku?” tanyaku menyudutkan mereka.
   “Aah, bete, deh, lo! Sepele gini aja lo masih nggak mau ngalah sama keadaan, dasar anak mommy!” seru Ulva yang udah jengkel, kemudian Tyas mengikuti Ulva.
   Aku menghela nafas melihat mereka yang nggak mengerti maksudku. Aku hanya nggak mau melanggar peraturan yang mama dan papa buat: Tidak Boleh Keluar Malam!
   Tiba- tiba seseorang datang padaku dan bertanya, “Anna, nanti malam lo datang?”
   “Eh, Radit. Umm, lo kaya’ nggak kenal gue aja. Gue nggak datang,” ucapku.
   Ekspresi Radit berubah bete, “Pasti peraturan itu lagi, ya?”
   Aku mengangguk mengiyakan, “Dan kalau lo mau bujuk gue buat ngubah peraturan itu, sorry, gue nggak bisa. Kalau lo mau marah sama gue karena gue nggak datang ke pensi, silakan aja.”
   Aku pergi meninggalkan Radit dengan kebetean yang kuberikan.
***
   “Lo nggak asyik banget, deh!” seru Ulva, “Gue males punya temen nggak oke kaya’ lo!”
   “Kok lo ngomong gitu?” tanyaku yang masih kaget dengan ucapan Ulva yang kasar, “Lo jahat banget!”
   “Lo yang jahat!” seru Tyas, “Kalau aja lo mau partisipasi di pensi ntar malam, kita juga nggak bakal begini. Kita juga pengen kalau kumpul bareng, lo juga ada.”
   “Jadi masalah pensi yang kalian besar- besarin ke masalah lain?” tanyaku dengan nada tinggi.
   “Aah, gue udah males sama lo! Kita pulang, yuk, Yas!” seru Ulva.
   “Bye, anak mommy!” seru mereka berdua dengan wajah sinis.
   Aku pastikan mereka mendengar jawabanku, “Bye, anak kingong!” kemudian aku tancap gas dan pulang.
   Yaah, kurang lebih itulah ingatanku tentang insiden tadi parkiran. Aku menekuk tanganku di meja belajar dan kusandarkan kepalaku.
   Aku nggak berniat untuk kasar pada mereka, aku sangat mmenyesal. Tapi mereka berdua keterlaluan, mereka mengajak hal buruk padaku, melanggar peraturan mama dan papa.
   Aku menangis dalam ringkukanku. Aku kira hal ini akan membuat pertemananku dengan Ulva dan Tyas akan bubar jalan. Tapi aku masih punya Egi. Tapi Egi udah punya Naura, pacarnya.
   Aku mendengar pintu kamarku diketuk dan dibuka, “Sayang, kamu kok tidur di meja be-.” Mama berhenti bicara saat melihatku bukan sedang tidur, “Kamu kenapa, sayang? Kok kamu menangis?”
   Aku mengusap air mataku dan menggeleng pelan.
   “Ayo, cerita sama mama, kamu ini kenapa?” bujuk mama memaksaku untuk menceritakan kejadian tadi siang.
   Aku menangis dipelukan mama dan mama mengelus- elus kepalaku dengan sayang, “Tyas sama Ulva jahat sama Anna, ma. Dia nggak mau berteman lagi sama Anna karena Anna nggak pernah ada kalau mereka ngajak Anna main.”
   “Mereka ngajak mainnya malam- malam, kan?” tanya mama.
   Aku mengangguk pelan dan masih menangis, “Nanti malam ada pensi. Tyas sama Ulva tau kalau guess starnya band favorit Anna, mereka kira Anna bakal datang, tapi Anna malah bikin mereka kecewa.”
   Mama mengusap- usap kepala dan punggungku, “Kamu benar- benar pengen datang ke pensi itu?”
   Aku mengangguk pelan, “Guess stranya band favoritku. Tapi, kalau mama sama papa nggak kasih izin, aku nggak bakal datang kok.”
  “Ehhm,” aku melihat papa berdiri di depan pintu, sepertinya papa mendengar semua curhatanku, “Jadi benar- benar pengen, ya? Oke, ini hadiah buat kamu karena selama ini kamu nggak pernah membangkang sama mama dan papa.”
   Aku berdiri dan memeluk papa yang tersenyum padaku, “Papa benar- benar kasih izin?”
   “Dengan syarat hanya sampai jam 9, “ujar papa, “katamu guess starnya Vierra, ya?”
   Aku mengangguk, “Favoritku, pa.”
   “Jangan lupa, kalau ada meet and greet, mintain tanda tangan mereka buat papa, ya?” ujar papa sambil tertawa. Aku dan mama juga ikut tertawa.
   “Besok- besok, kalau curhat juga sama papa, siapa tau dikasih bonus kaya’ gini lagi,”ujar mama.
   Aku mengangguk dan tersenyum senang. Tapi masih ada satu masalah lagi. Dengan siapa aku bakal datang nanti? Tyas dan Ulva masih marah padaku, Egi pasti datang bersama Naura, dan Radit, tadi aku juga bersikap kasar padanya.
   Kemudian mama dan papa meninggalkanku di kamar sendirian. Ku ambil hp-ku dan aku menelepon Egi.
   “Hallo, ada apa, Ann?” sapa Egi.
   “Hey, umm, gue minta bantuan lo, dong,” pintaku, “tolong cariin temen buat gue, gue datang ke pensi ntar malam!”
   “Hah!? Yang bener lo?” seru Egi kaget, dia tau banget siapa aku, “Keajaiban!”
   “Eh, jangan seneng dulu!” seruku, “Kira- kira lo ada temen yang mau datang sama gue nggak?”
   “Hehe, gue ikut seneng lo akhirnya dikasih izin buat keluar malam,” ucapnya, “umm, gue ada temen, keren kok. Lo tenang aja, jam 7 dia bakal jemput di rumah lo.”
   “Temen lo tau rumah gue?” tanyaku.
   “Tau, dong. Itu perkara gampang. Ya udah, see you ntar malam, ya?” ucap Egi sambil terkekeh dan mengakhiri obrolan kami.
   Kira- kira siapa, ya?
***
   Aku kaget ketika aku menemukan Radit sedang duduk dan ngobrol dengan mama dan papa.
   “Loh? Jadi elo yang dimaksud Egi?” tanyaku memastikan.
   Radit hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
   “Nah, kalian hati- hati, ya? Papa sudah bilang sama Radit, kalau kamu hanya boleh pergi sampai jam 9, have fun, ya, sayang?” ucap papa sambil memelukku.
   Aku dan Radit berpamitan kemudian langsung menuju sekolah.
   Suasana di pintu gerbang sudah sangat ramai di penuhi Vierrania. Aku semakin semangat dan ingin segera masuk ke dalam. Untung aku dan Radit menunjukkan kartu tanda siswa, jadi kami didahulukan.
   Aku dan Radit berjalan menuju lapangan.
   “Loh, Anna!” seru Ulva dengan wajah terkejut. Tyas mengucek matanya, dia kira dia sedang bermimpi melihatku disini.
   “Lo beneran Anna?” tanya Tyas sambil meraba wajahku.
   Aku mengangguk dan tertawa senang. “Umm, gue minta maaf sama kejadian tadi siang. Maafin gue, ya? Gue bener- bener nyesel,” ucapku.
   “Kita juga minta maaf sama lo, kita yang mulai duluan, gue juga nyesel udah maki- maki lo,” ucap Tyas.
   Aku, Tyas, dan Ulva saling berpelukan.
   “Aww, gandengan baru, nih!” seru Ulva menggoda.
   Aku dan Radit salah tingkah. Aku merasakan darah di pipiku mengalir deras.
   “Eh, eh, tempat meet and greet Vierra dimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
   “Umm, katanya di ruang OSIS, sih. Kamu mau?” tanya Radit.
   Aku mengangguk, “Papa pengen aku minta tanda tangan mereka.”
   “Wuidih, gaul gila!” seru Tyas sambil tertawa.
   “Oh, iya, aku baru inget, aku cuma bisa have fun disini sampai jam 9 aja, nih, ayo buruan!” seruku mengajak Radit, Ulva dan Tyas berlari menuju ruang OSIS.
   “Oke aja kok, yang penting lo datang malam ini,” seru Tyas, “ayo!”
   Aku senang kali ini bisa keluar malam. Yaah, walaupun aku bakal melewatkan jatahnya Vierra manggung karena harus pulang jam 9. Tapi paling nggak, teman- temanku nggak marah lagi padaku, dan aku juga dapat bonus: Radit.
***

Jumat, 10 Februari 2012

Cerita Kampus-Bunga Terakhir

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Februari 10, 2012 1 komentar
Bayangkan kalau hidupmu berubah seperti cerita- cerita disney. Kamu adalah seseorang yang bisa dibilang nothing karena kamu nggak populer. Kemudian suatu hari kamu nggak sengaja ketemu prince charming yang nggak disangka jatuh cinta sama kamu. How do you feel?
Siang ini aku sedang jalan- jalan dengan Windy. Husna dan Hannah nggak bisa bergabung dengan kami karena mereka sibuk. Apa sih yang disibukkan selama liburan? Sibuk ke spa, salon, atau hanya memanjakan diri di rumah dengan “bobok cantik”.
Kami sedang berjalan di deretan toko pernak- pernik. Sambil berjalan, kami ngobrol seputar rindu-jarang-bertemu karena liburan panjang setelah ujian akhir semester. Saat aku sedang fokus dengan pembicaraan kami, seseorang keluar dari salah satu toko pernak- pernik dan menabrakku. Es krim yang kugenggam lepas dari tanganku dan sendoknya yang masih kuemut di mulutku menyembur ke laki- laki tinggi, tegap, dan ganteng yang menabrakku.
Windy menjerit kaget dan menyita perhatian pengunjung lain. Laki- laki yang juga adalah artis ibukota juga menjerit karena sendokku menyembur ke arahnya.
“Aduuh!” keluhnya sambil mengusap kemejanya.
“Aduuh!” seruku juga yang menyadari es krimku jatuh dan mengotori flat shoesku. Alih- alih kalau dia marah- marah padaku dan meminta pertanggung-jawaban karena mengotori kemejanya.
Begitulah biasanya kalau di FTV yang sering kutonton. Menabrak seseorang karena kesalahan orang itu, nggak sengaja mengotori bajunya, dan ia akan marah- marah seolah harga bajunya enam juta dolar. Kalau dipikir- pikir, apakah orang itu hanya punya satu baju bagus?
Aku mengerjapkan mataku pada artis-penyanyi ibukota yang menabrakku. Setiap kerjapan mata aku menyampaikan pesan: Hey, mas, kamu nggak minta maaf?
“Eh, sorry, ya,” katanya sambil memberikan tissue padaku, “buat sepatumu.”
Aku mengerjapkan mata dan bingung. Dalam satu-dua detik aku memutar balik opiniku. Kenyataan memang beda dengan yang ada di FTV. Aku harus stop nonton FTV agar bisa melihat kenyataan.
Artis ini mana udah ganteng, baik dan sopan pula! Menantu idaman mami kalau yang beginian ini. Aku terkekeh dalam hati dan kemudian tersadar ia sudah menyodorkan tissue padaku cukup lama. Lima detik. Haha!
Aku mengambil tissue darinya dan berterimakasih. Aku melihat ke arah Windy dan ada ‘blink-blink’ di matanya yang menatap artis ganteng itu. Aku menggeleng- gelengkan kepala dan jongkok untuk membersihkan sepatuku.
“Auuh,” keluhku.
“Kamu kenapa?” tanya Ramon, si artis sekaligus penyanyi dengan suara merdu dan mengguncang hatiku.
Aku menggeleng sambil memegangi kepalaku. Sejujurnya, rasanya sakit juga ditabrak laki- laki ganteng. Karena dia lebih tinggi dari aku, saat ia menabrakku, dagunya mengenai dahiku dan itu rasanya pusing!
Aku selesai membersihkan sepatuku. Sudah kubuat berlama- lama agar ia cepat pergi, tapi Windy malah mengajaknya ngobrol tanya-ini-tanya-itu. Ketika aku berdiri, Ramon yang wajahnya tepat di depanku bertanya apakah aku baik- baik saja.
Mengapa nafas yang ia hembuskan begitu wangi? Apa beginikah nafas para penyanyi? Suara dan nafasnya sangat merdu. Aku yang sadar saat ia bertanya padaku langsung kurespon dengan anggukan dan senyuman.
“Sekali lagi maaf, ya?” pintanya. Aku jadi geregetan dan merinding. Bukan karena ucapan maafnya, tapi karena ia menepuk pelan lenganku saat minta maaf.
“Ah, iya, nggak apa- apa kok,” kataku malu- malu, “aku jadi nggak enak sendiri.”
“Kenapa nggak enak?” tanya Windy. Kemudian ia berbisik sangat pelan tapi jelas, “Kan enak dipegang sama Ramon!”
Ya ampun! Maklum juga, sih, karena ini kali keduanya kami bertemu dan ngobrol dengan artis. Yang pertama adalah kakak tingkat kami, ia jebolan indonesian idol.
Ramon menerka- nerka apa yang dibisikkan Windy. Aku juga geli saat Windy berkata seperti itu.
Windy memang terbuka dan supel dengan orang- orang. Dengan tanpa sungkan ia menyodorkan tangannya dan berkata, “Kenalin, aku Windy.”
Aku menganga saat Ramon menjabat tangan Windy. Artis yang satu ini bener- bener ramah atau kehilangan akalnya? Bukan maksud, sih, tapi kan dia artis! Buat apa ia basa- basi dengan kami dan mau- mau saja berkenalan dengan kami? Biasanya, ya, artis- artis akan langsung pergi setelah minta maaf dan nggak mau ngebuang waktu dengan orang nggak dikenal seperti kami.
“Ramon,” ucapnya.
“Kami tahu siapa kamu kok,” ucapku sambil tersenyum.
Ramon menyodorkan tangannya, “Ya, aku tahu itu. Jadi, siapa namamu?”
Aku cukup gugup untuk menjabat tangannya. Kuatur nafasku tapi ekspresiku kubuat biasa- biasa saja. Senyumnya membuat jantungku lebih cepat memompa darah mengalirkannya ke seluruh tubuhku. Aku menjabat tangannya dan menyebutkan namaku, “Sarah.”
“Well, senang bertemu kalian disini, dan sekali lagi aku minta maaf pada Sarah,” katanya dengan sopan.
“Aduuh, jangan minta maaf melulu, deh,” ucapku sambil cengar- cengir, “aku jadi nggak enak.”
“Tapi bener kok, kan Ramon yang salah, Sar!” seru Windy sambil merang-kulku.
Aku menatap Windy penuh tanya dan ia hanya senyam- senyum padaku. Aku nggak tahu apa yang ada dipikirannya karena setiap detik Ramon menatapku – maksudku, kami – aku jadi kikuk dan nggak tahu mau bicara apa.
Setelah basa- basi dan kebingunganku dalam bersikap, Ramon mengajak kami untuk beli es krim. Hitung- hitung sebagai ganti es krimku yang jatuh dan aku senang karena ia nggak hanya sopan, tapi juga tahu diri.
Semenjak itu, kami sering berhubungan. Lewat sms dan twitter. Secara aku bukan anggota pelanggan Blacberry, jadi kami nggak pernah BBM-an. Tapi hal itu nggak menyurutkan kami untuk bisa jauh lebih dekat.
Sudah seminggu ini kami – hanya aku dan Ramon, tanpa Windy – saling bercengkrama lewat sms dan twitter. Sempat ada ribut di tiga hari pertama aku dan Ramon saling retweet. Windy selalu meretweet juga apa yang kubicarakan dengan Ramon, padahal hal itu biasa aja, sampai akhirnya semua teman di kampus jadi tahu bahwa aku dekat dengan Ramon.
Aku sangat berterimakasih karena temanku atau anggota keluarganya bukan bekerja sebagai wartawan infotiment atau majalah remaja. Ada beberapa yang menjadi presenter, tapi berita dan di tv lokal. Aku nggak bisa bayangin kalau aku dikeroyok oleh wartawan dan ditanyai perihal kedekatanku dengan Ramon.
Ramon memang tipe laki- laki yang baik dan sopan pada perempuan. Tapi hal yang perlu dibatasi untuk nggak jatuh jauh lebih dalam padanya, aku sering mengelak untuk diajak pergi beli es krim dengannya. Memang aneh, artis kaya raya hanya mengajak beli es krim! Tapi apa boleh buat, hal yang ia tahu tentangku pertama kali adalah es krim.
Mungkin kali ini aku harus mengalah padanya. Ia bilang ia akan pergi ke Singapore besok lusa, jadi ia minta untuk bertemu denganku besok. Yaa, seperti farewell begitulah. Karena mungkin Ramon nggak akan kembali ke Semarang dan aku menetap selamanya di Jakarta.
Sebenarnya sedih juga karena seminggu ini aku benar- benar dibuat Ramon seperti di duniaku sendiri. Hapeku nggak pernah sepi, setiap waktu ada yang tanyain aku lagi apa, setiap waktu ada yang ingetin aku untuk sholat dan makan, terlebih setiap aku mau tidur, Ramon meneleponku dan menyanyikan lagu yang nggak asing, Bunga Terakhir yang ada di iklan.
Hubungan seperti ini memang patut dipertanyakan dengan tanda tanya yang jelas. Ramon memperlakukanku seperti pacarnya. Ada yang istimewa yang ia lihat padaku. Untung saja Ramon tidak sedang dekat dengan artis lain, kalau sampai artis lain itu tahu bahwa aku dan Ramon sedang dekat- dekatnya, mungkin aku bisa menjadi selebritis dadakan dengan cap hanya untuk mencari popularitas.
Ya, hal ini seperti cerita- cerita di disney. Seperti ada ibu peri yang membantu hubunganku dengan orang populer di negara ini menjadi dekat. Ini magic! Ini sungguh di luar batas khayalanku! Aku seperti Cinderella yang menikah dengan pangeran tampan di sebuah negeri.
Aku harap nggak akan ada jam 12 malam yang bisa melunturkan sihir ini, kecuali ini semua bukan sihir. Ramon membuatku sebagai subjek dari harapan kosong. I am nothing dan dia orang penting.
Esok paginya aku bersiap untuk bertemu Ramon. Karena di kota ini nggak ada taman yang sepi dan bagus, maka kami janjian di kedai es krim tempat pertama kali Ramon menraktirku es krim.
Aku datang terlebih dulu dan duduk di kursi dimana pertama kali kami bersama membeli es krim. Aku memang paling benci menunggu, tapi untuk Ramon aku nggak tahu kenapa aku menjadi sangat betah menunggu. Mungkin aku juga berharap dengan sangat untuk bertemu Ramon hari ini. Secara, setelah ini kami mungkin nggak akan bertemu lagi untuk waktu yang sangat lama.
Setengah jam lamanya aku menunggu dan nggak menemukan kerumunan orang yang membawa Ramon menghampiriku. Posisi tempat dudukku yang langsung mengarah ke pintu masuk membuatku was was untuk menunggu lebih lama lagi. Apakah aku yang terlalu cepat datang? Tapi ini sudah lebih dari waktu janjian kami.
Es krim di hadapanku sudah mulai habis dan aku berpikir untuk memesannya lagi. Aku menatap layar ponselku, berharap Ramon sms dan akan segera muncul.
Setengah jam kemudian dan dua gelas es krim sudah habis kumakan dan Ramon nggak kunjung datang. Aku ingin sms dia duluan, tapi aku kira dia sedang sibuk sekarang, dia kan artis.
Aku sudah ingin beranjak dari tempat dudukku dan pulang, kemudian ponselku bunyi menunjukkan Ramon sms aku. Aku tersenyum dan segera ingin membaca smsnya.
“Tunggu, jangan pergi! Please,”
Aku tersenyum masam. Ia nggak menjanjikan akan segera datang, aku hanya disuruh menunggu. Kuletakkan lagi pantatku di kursi dengan nyaman.
Lima menit.. Sepuluh menit..
Seorang pelayan kedai memberiku satu gelas es krim yang nggak kupesan dan ada note di sampingnya.
“Es ini aku belikan buat kamu, sebagai ganti rugi karena kamu sudah menunggu lama, tapi aku nggak bisa datang. R,”
Apa!?? Nggak bisa datang?
Hatiku menjadi panas. Nggak peduli dia artis atau rakyat biasa, tapi dia seperti mempermainkan aku. Aku dimintanya datang hari ini disini dan menunggunya selama satu jam lebih! Dan aku hanya diberikan es krim sebagai ganti rugi waktuku!?
Aku menggenggam gelas es krim dari Ramon dan ingin membantingnya di lantai. Sejenak kulihat ke dalam gelas dan ternyata itu es krim coklat. Aku luluh dan nggak tega membanting es krim itu, jadi kumakan saja es krim itu untuk mendinginkan hatiku.
Setes air mata mengalir ke pipiku. Aku kesal, benci, dan sakit hati. Tapi, apa maksud semua ini?
Aku sudah menghabiskan es krim itu dan berdiri dari kursi, bersiap untuk pulang dan menangis di jalan saat menyetir. Tiba –tiba dari arah belakang muncul setangkai mawar putih yang harum tepat di dekat pipi kiriku.
“Ramon!” seruku dan segera berbalik.
Rona gembira di wajahku langsung luntur dan berbalik dengan penuh tanya, “Maaf, kamu siapa?”
“Ini untuk mbak Sarah, mas Ramon minta maaf nggak bisa datang. Dia juga menitipkan ini,” ujar laki- laki yang sepertinya kerabat atau asisten Ramon.
Laki- laki itu memberikan mawar, kepingan disk, dan sebuah buku seperti buku diary yang terbungkus plastik rapi. Nggak lama, laki- laki itu langsung pergi dan meninggalkan sejuta kebingungan padaku.
Aku memutuskan untuk pulang dan membukanya saat tiba di rumah nanti. Walaupun dalam perjalanan aku sangat penasaran, tapi kutahan rasa penasaran ini dan segera agar sampai di rumah.
Kuparkirkan motorku dengan asal saat tiba di rumah dan aku segera menuju kamarku. Aku melewati mamiku yang sedang menonton infotiment tanpa menyapanya. Raut mami sangat serius saat ada berita tentang artis yang masuk rumah sakit dan keadaannya cukup parah. Aku suka dengan info semacam itu, tapi kali ini aku mengabaikannya.
Saat menaiki tangga, dubber di infotiment itu menyebut nama Ramon. Dengan otomatis aku kembali turun dan berdiri di samping mami.
“Ih nduk, kasihan loh dia, masa’ masih muda udah kena kanker otak. Padahal ganteng banget, tapi umurnya pendek,” kata mami berkomentar.
“Iih, mami! Ngejudge orang sembarangan, deh!” seruku sambil terus menatap di layar tv, melihat Ramon sedang terbaring  lemah denga alat- alat kedokteran.
Rasanya seperti disayat duri mawar yang baru saja ia berikan. Aku merasa nggak percaya dengan berita yang ada di tv itu dan memutuskan kembali ke kamarku untuk menutup telinga dari omong kosong bualan infotiment.
Kuletakkan mawar dari Ramon di vas dengan air dingin. Pertama, kubuka buku harian yang ia berikan. Buku harian dengan sampul berbackground hitam dengan gambar seorang laki- laki mendorong seorang perempuan yang duduk di ayunan dibawah sinar bulan dan taburan bintang- bintang.
Kubuka buku dan menemukan bahwa itu bukan hanya diary saja, hanya ada beberapa lembar catatan harian dan sisanya adalah foto- foto. Kubaca dari catatan di lembar awal hingga akhir dan semuanya berisi tentang aku. Dari awal saat aku bertemu dengan Ramon hingga kami berhubungan lewat ponsel dan twitter. Ada banyak cerita- ceriat tentangnya yang sepertinya khusus diceritakan untukku. Ia senang bertemu denganku dan ia senang bisa menghabiskan waktu- waktunya denganku walau hanya lewat sms dan twitter.
Lembar berikutnya sampai terakhir ada foto yang secara nggak sadar sudah diambil seseorang. Foto saat kami pertama bertemu sampai fotoku yang aku nggak tahu dapat darimana dia. Ada banyak foto dan catatan kecil di bawah foto itu.
Semuanya menyimpulkan bahwa ia senang bertemu denganku, ia senang menghabiskan waktu smsan denganku, dan ia senang bisa mengenalku.
Kubuka lebar terakhir di diary itu. Aku terkejut saat melihat sebuah fotoku sedang menunggu Ramon tadi dan es krim yang Ramon berikan untukku. Aku berpikir apakah Ramon sms aku untuk menunggu seseorang menyelesaikan foto di lembar terakhir ini. Atau laki- laki tadi yang menyuruhku menunggu dan sms dengan menggunakan ponsel Ramon?
Mataku mulai pedas dan melinangkan air. Ini benar- benar romantis, tapi membuatku sedih.
Saat aku sedang dalam atmosfer melankolis, mami memanggilku untuk segera ke bawah dan menemui seorang tamu. Aku membetulkan raut wajahku yang sedih dan segera turun menemui tamu itu. Aku pikir aku nggak pernah mendapatkan tamu misterius selama ini.
Aku menuju ruang tamu dan menemukan seorang pengirim paket bunga berdiri di depan pintu.
“Mbak Sarah?” tanya si pengirim bunga.
Aku mengangguk dan mendekatinya.
“Ada kiriman bunga,” ucapnya sambil memberikan setangkai mawar merah, setangkai mawar kuning, dan setangkai mawar pink, “tolong tanda tangan disini.”
Aku menuruti perintah si pengirim bunga dan kemudian ia pergi.
Aku mencari sebuah note dari si pengirim, tapi nggak menemukannya. Kemudian aku kembali menuju kamar. Saat akan menaiki anak tangga, infotiment yang ditonton mami menampilkan berita duka yang nggak lain dari Ramon.
Sekejap saja mataku menjadi pedas dan mengeluarkan air mata. Infotiment itu memperlihatkan wajah pucat Ramon, tapi masih tetap tampan. Apa maksud semua ini? Berita itu mengabarkan bahwa Ramon sudah... sudah nggak ada. Ramon sudah berpulang! Aku nggak percaya dengan berita barusan itu kemudian aku mempunyai firasat bahwa video yang dititipkan kerabat Ramon ada petunjuk untuk ku mengerti, ya, disitulah semuanya akan jelas.
Aku berlari menuju kamarku. Kumasukkan mawar- mawar itu ke vas dan segera memutar video dari Ramon.
Aku duduk di depan layar laptop sambil menunggu videonya mulai. Beberapa detik kemudian muncul Ramon sambil membawa gitar. Wajahnya walaupun pucat, tapi tetap tampan.
Ramon memainkan gitarnya sebentar dan kemudian menghadap ke kamera. Ia berhenti memainkan gitarnya dan berkata, “Hai Sarah. Apa kabar? Pasti lebih baik dari aku. Pertama, aku mau minta maaf karena aku pernah jatuhin es krimmu, tapi dari situ kita malah jadi kenal dan dekat. Aku seneng banget. Kedua, aku mau bilang makasih karena di waktu terakhirku ini jadi sangat berharga karena ada kamu. Dan terakhir, aku mau minta maaf karena kita nggak jadi ketemu untuk terakhir kalinya. Lusa aku akan ke Singapore, ke rumah keluargaku. Jadi, jaga kesehatan dan semoga kita bisa ketemu lagi suatu saat nanti.
“Maaf karena aku nggak pernah bilang kalau aku sakit. Dan maaf karena aku udah bikin kamu sedih karena ketemu dan kenal aku. Maaf karena kamu jadi seseorang yang terpukul kalau aku pergi nanti. Kamu sangat berharga. Kamu bunga terakhir dihidupku, di sisa waktuku.
“Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan lupa untuk nggak telat makan. Aku akan sangat kangen sama kamu,” ujar Ramon. Ia mengerling kepadaku dan memainkan gitarnya lagi.
“Bunga terakhir untuk yang terakhir dan terindah. Sarah,” kemudian ia bernyanyi.
Aku meringkuk dalam pelukanku dan menatap ke arah bunga- bunga yang Ramon berikan.
Ramon nggak bilang kata perpisahan, dia nggak sekalipun ucapin kata “good bye” padaku. Aku tahu itu, suatu saat kami akan ketemu. Dan kami akan beli es krim bersama lagi. Aku tahu itu. Aku sangat tahu.
YYY
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review