Bayangkan kalau hidupmu berubah seperti cerita- cerita disney. Kamu adalah seseorang yang bisa dibilang nothing karena kamu nggak populer. Kemudian suatu hari kamu nggak sengaja ketemu prince charming yang nggak disangka jatuh cinta sama kamu. How do you feel?
Siang ini aku sedang jalan- jalan dengan Windy. Husna dan Hannah nggak bisa bergabung dengan kami karena mereka sibuk. Apa sih yang disibukkan selama liburan? Sibuk ke spa, salon, atau hanya memanjakan diri di rumah dengan “bobok cantik”.
Kami sedang berjalan di deretan toko pernak- pernik. Sambil berjalan, kami ngobrol seputar rindu-jarang-bertemu karena liburan panjang setelah ujian akhir semester. Saat aku sedang fokus dengan pembicaraan kami, seseorang keluar dari salah satu toko pernak- pernik dan menabrakku. Es krim yang kugenggam lepas dari tanganku dan sendoknya yang masih kuemut di mulutku menyembur ke laki- laki tinggi, tegap, dan ganteng yang menabrakku.
Windy menjerit kaget dan menyita perhatian pengunjung lain. Laki- laki yang juga adalah artis ibukota juga menjerit karena sendokku menyembur ke arahnya.
“Aduuh!” keluhnya sambil mengusap kemejanya.
“Aduuh!” seruku juga yang menyadari es krimku jatuh dan mengotori flat shoesku. Alih- alih kalau dia marah- marah padaku dan meminta pertanggung-jawaban karena mengotori kemejanya.
Begitulah biasanya kalau di FTV yang sering kutonton. Menabrak seseorang karena kesalahan orang itu, nggak sengaja mengotori bajunya, dan ia akan marah- marah seolah harga bajunya enam juta dolar. Kalau dipikir- pikir, apakah orang itu hanya punya satu baju bagus?
Aku mengerjapkan mataku pada artis-penyanyi ibukota yang menabrakku. Setiap kerjapan mata aku menyampaikan pesan: Hey, mas, kamu nggak minta maaf?
“Eh, sorry, ya,” katanya sambil memberikan tissue padaku, “buat sepatumu.”
Aku mengerjapkan mata dan bingung. Dalam satu-dua detik aku memutar balik opiniku. Kenyataan memang beda dengan yang ada di FTV. Aku harus stop nonton FTV agar bisa melihat kenyataan.
Artis ini mana udah ganteng, baik dan sopan pula! Menantu idaman mami kalau yang beginian ini. Aku terkekeh dalam hati dan kemudian tersadar ia sudah menyodorkan tissue padaku cukup lama. Lima detik. Haha!
Aku mengambil tissue darinya dan berterimakasih. Aku melihat ke arah Windy dan ada ‘blink-blink’ di matanya yang menatap artis ganteng itu. Aku menggeleng- gelengkan kepala dan jongkok untuk membersihkan sepatuku.
“Auuh,” keluhku.
“Kamu kenapa?” tanya Ramon, si artis sekaligus penyanyi dengan suara merdu dan mengguncang hatiku.
Aku menggeleng sambil memegangi kepalaku. Sejujurnya, rasanya sakit juga ditabrak laki- laki ganteng. Karena dia lebih tinggi dari aku, saat ia menabrakku, dagunya mengenai dahiku dan itu rasanya pusing!
Aku selesai membersihkan sepatuku. Sudah kubuat berlama- lama agar ia cepat pergi, tapi Windy malah mengajaknya ngobrol tanya-ini-tanya-itu. Ketika aku berdiri, Ramon yang wajahnya tepat di depanku bertanya apakah aku baik- baik saja.
Mengapa nafas yang ia hembuskan begitu wangi? Apa beginikah nafas para penyanyi? Suara dan nafasnya sangat merdu. Aku yang sadar saat ia bertanya padaku langsung kurespon dengan anggukan dan senyuman.
“Sekali lagi maaf, ya?” pintanya. Aku jadi geregetan dan merinding. Bukan karena ucapan maafnya, tapi karena ia menepuk pelan lenganku saat minta maaf.
“Ah, iya, nggak apa- apa kok,” kataku malu- malu, “aku jadi nggak enak sendiri.”
“Kenapa nggak enak?” tanya Windy. Kemudian ia berbisik sangat pelan tapi jelas, “Kan enak dipegang sama Ramon!”
Ya ampun! Maklum juga, sih, karena ini kali keduanya kami bertemu dan ngobrol dengan artis. Yang pertama adalah kakak tingkat kami, ia jebolan indonesian idol.
Ramon menerka- nerka apa yang dibisikkan Windy. Aku juga geli saat Windy berkata seperti itu.
Windy memang terbuka dan supel dengan orang- orang. Dengan tanpa sungkan ia menyodorkan tangannya dan berkata, “Kenalin, aku Windy.”
Aku menganga saat Ramon menjabat tangan Windy. Artis yang satu ini bener- bener ramah atau kehilangan akalnya? Bukan maksud, sih, tapi kan dia artis! Buat apa ia basa- basi dengan kami dan mau- mau saja berkenalan dengan kami? Biasanya, ya, artis- artis akan langsung pergi setelah minta maaf dan nggak mau ngebuang waktu dengan orang nggak dikenal seperti kami.
“Ramon,” ucapnya.
“Kami tahu siapa kamu kok,” ucapku sambil tersenyum.
Ramon menyodorkan tangannya, “Ya, aku tahu itu. Jadi, siapa namamu?”
Aku cukup gugup untuk menjabat tangannya. Kuatur nafasku tapi ekspresiku kubuat biasa- biasa saja. Senyumnya membuat jantungku lebih cepat memompa darah mengalirkannya ke seluruh tubuhku. Aku menjabat tangannya dan menyebutkan namaku, “Sarah.”
“Well, senang bertemu kalian disini, dan sekali lagi aku minta maaf pada Sarah,” katanya dengan sopan.
“Aduuh, jangan minta maaf melulu, deh,” ucapku sambil cengar- cengir, “aku jadi nggak enak.”
“Tapi bener kok, kan Ramon yang salah, Sar!” seru Windy sambil merang-kulku.
Aku menatap Windy penuh tanya dan ia hanya senyam- senyum padaku. Aku nggak tahu apa yang ada dipikirannya karena setiap detik Ramon menatapku – maksudku, kami – aku jadi kikuk dan nggak tahu mau bicara apa.
Setelah basa- basi dan kebingunganku dalam bersikap, Ramon mengajak kami untuk beli es krim. Hitung- hitung sebagai ganti es krimku yang jatuh dan aku senang karena ia nggak hanya sopan, tapi juga tahu diri.
Semenjak itu, kami sering berhubungan. Lewat sms dan twitter. Secara aku bukan anggota pelanggan Blacberry, jadi kami nggak pernah BBM-an. Tapi hal itu nggak menyurutkan kami untuk bisa jauh lebih dekat.
Sudah seminggu ini kami – hanya aku dan Ramon, tanpa Windy – saling bercengkrama lewat sms dan twitter. Sempat ada ribut di tiga hari pertama aku dan Ramon saling retweet. Windy selalu meretweet juga apa yang kubicarakan dengan Ramon, padahal hal itu biasa aja, sampai akhirnya semua teman di kampus jadi tahu bahwa aku dekat dengan Ramon.
Aku sangat berterimakasih karena temanku atau anggota keluarganya bukan bekerja sebagai wartawan infotiment atau majalah remaja. Ada beberapa yang menjadi presenter, tapi berita dan di tv lokal. Aku nggak bisa bayangin kalau aku dikeroyok oleh wartawan dan ditanyai perihal kedekatanku dengan Ramon.
Ramon memang tipe laki- laki yang baik dan sopan pada perempuan. Tapi hal yang perlu dibatasi untuk nggak jatuh jauh lebih dalam padanya, aku sering mengelak untuk diajak pergi beli es krim dengannya. Memang aneh, artis kaya raya hanya mengajak beli es krim! Tapi apa boleh buat, hal yang ia tahu tentangku pertama kali adalah es krim.
Mungkin kali ini aku harus mengalah padanya. Ia bilang ia akan pergi ke Singapore besok lusa, jadi ia minta untuk bertemu denganku besok. Yaa, seperti farewell begitulah. Karena mungkin Ramon nggak akan kembali ke Semarang dan aku menetap selamanya di Jakarta.
Sebenarnya sedih juga karena seminggu ini aku benar- benar dibuat Ramon seperti di duniaku sendiri. Hapeku nggak pernah sepi, setiap waktu ada yang tanyain aku lagi apa, setiap waktu ada yang ingetin aku untuk sholat dan makan, terlebih setiap aku mau tidur, Ramon meneleponku dan menyanyikan lagu yang nggak asing, Bunga Terakhir yang ada di iklan.
Hubungan seperti ini memang patut dipertanyakan dengan tanda tanya yang jelas. Ramon memperlakukanku seperti pacarnya. Ada yang istimewa yang ia lihat padaku. Untung saja Ramon tidak sedang dekat dengan artis lain, kalau sampai artis lain itu tahu bahwa aku dan Ramon sedang dekat- dekatnya, mungkin aku bisa menjadi selebritis dadakan dengan cap hanya untuk mencari popularitas.
Ya, hal ini seperti cerita- cerita di disney. Seperti ada ibu peri yang membantu hubunganku dengan orang populer di negara ini menjadi dekat. Ini magic! Ini sungguh di luar batas khayalanku! Aku seperti Cinderella yang menikah dengan pangeran tampan di sebuah negeri.
Aku harap nggak akan ada jam 12 malam yang bisa melunturkan sihir ini, kecuali ini semua bukan sihir. Ramon membuatku sebagai subjek dari harapan kosong. I am nothing dan dia orang penting.
Esok paginya aku bersiap untuk bertemu Ramon. Karena di kota ini nggak ada taman yang sepi dan bagus, maka kami janjian di kedai es krim tempat pertama kali Ramon menraktirku es krim.
Aku datang terlebih dulu dan duduk di kursi dimana pertama kali kami bersama membeli es krim. Aku memang paling benci menunggu, tapi untuk Ramon aku nggak tahu kenapa aku menjadi sangat betah menunggu. Mungkin aku juga berharap dengan sangat untuk bertemu Ramon hari ini. Secara, setelah ini kami mungkin nggak akan bertemu lagi untuk waktu yang sangat lama.
Setengah jam lamanya aku menunggu dan nggak menemukan kerumunan orang yang membawa Ramon menghampiriku. Posisi tempat dudukku yang langsung mengarah ke pintu masuk membuatku was was untuk menunggu lebih lama lagi. Apakah aku yang terlalu cepat datang? Tapi ini sudah lebih dari waktu janjian kami.
Es krim di hadapanku sudah mulai habis dan aku berpikir untuk memesannya lagi. Aku menatap layar ponselku, berharap Ramon sms dan akan segera muncul.
Setengah jam kemudian dan dua gelas es krim sudah habis kumakan dan Ramon nggak kunjung datang. Aku ingin sms dia duluan, tapi aku kira dia sedang sibuk sekarang, dia kan artis.
Aku sudah ingin beranjak dari tempat dudukku dan pulang, kemudian ponselku bunyi menunjukkan Ramon sms aku. Aku tersenyum dan segera ingin membaca smsnya.
“Tunggu, jangan pergi! Please,”
Aku tersenyum masam. Ia nggak menjanjikan akan segera datang, aku hanya disuruh menunggu. Kuletakkan lagi pantatku di kursi dengan nyaman.
Lima menit.. Sepuluh menit..
Seorang pelayan kedai memberiku satu gelas es krim yang nggak kupesan dan ada note di sampingnya.
“Es ini aku belikan buat kamu, sebagai ganti rugi karena kamu sudah menunggu lama, tapi aku nggak bisa datang. R,”
Apa!?? Nggak bisa datang?
Hatiku menjadi panas. Nggak peduli dia artis atau rakyat biasa, tapi dia seperti mempermainkan aku. Aku dimintanya datang hari ini disini dan menunggunya selama satu jam lebih! Dan aku hanya diberikan es krim sebagai ganti rugi waktuku!?
Aku menggenggam gelas es krim dari Ramon dan ingin membantingnya di lantai. Sejenak kulihat ke dalam gelas dan ternyata itu es krim coklat. Aku luluh dan nggak tega membanting es krim itu, jadi kumakan saja es krim itu untuk mendinginkan hatiku.
Setes air mata mengalir ke pipiku. Aku kesal, benci, dan sakit hati. Tapi, apa maksud semua ini?
Aku sudah menghabiskan es krim itu dan berdiri dari kursi, bersiap untuk pulang dan menangis di jalan saat menyetir. Tiba –tiba dari arah belakang muncul setangkai mawar putih yang harum tepat di dekat pipi kiriku.
“Ramon!” seruku dan segera berbalik.
Rona gembira di wajahku langsung luntur dan berbalik dengan penuh tanya, “Maaf, kamu siapa?”
“Ini untuk mbak Sarah, mas Ramon minta maaf nggak bisa datang. Dia juga menitipkan ini,” ujar laki- laki yang sepertinya kerabat atau asisten Ramon.
Laki- laki itu memberikan mawar, kepingan disk, dan sebuah buku seperti buku diary yang terbungkus plastik rapi. Nggak lama, laki- laki itu langsung pergi dan meninggalkan sejuta kebingungan padaku.
Aku memutuskan untuk pulang dan membukanya saat tiba di rumah nanti. Walaupun dalam perjalanan aku sangat penasaran, tapi kutahan rasa penasaran ini dan segera agar sampai di rumah.
Kuparkirkan motorku dengan asal saat tiba di rumah dan aku segera menuju kamarku. Aku melewati mamiku yang sedang menonton infotiment tanpa menyapanya. Raut mami sangat serius saat ada berita tentang artis yang masuk rumah sakit dan keadaannya cukup parah. Aku suka dengan info semacam itu, tapi kali ini aku mengabaikannya.
Saat menaiki tangga, dubber di infotiment itu menyebut nama Ramon. Dengan otomatis aku kembali turun dan berdiri di samping mami.
“Ih nduk, kasihan loh dia, masa’ masih muda udah kena kanker otak. Padahal ganteng banget, tapi umurnya pendek,” kata mami berkomentar.
“Iih, mami! Ngejudge orang sembarangan, deh!” seruku sambil terus menatap di layar tv, melihat Ramon sedang terbaring lemah denga alat- alat kedokteran.
Rasanya seperti disayat duri mawar yang baru saja ia berikan. Aku merasa nggak percaya dengan berita yang ada di tv itu dan memutuskan kembali ke kamarku untuk menutup telinga dari omong kosong bualan infotiment.
Kuletakkan mawar dari Ramon di vas dengan air dingin. Pertama, kubuka buku harian yang ia berikan. Buku harian dengan sampul berbackground hitam dengan gambar seorang laki- laki mendorong seorang perempuan yang duduk di ayunan dibawah sinar bulan dan taburan bintang- bintang.
Kubuka buku dan menemukan bahwa itu bukan hanya diary saja, hanya ada beberapa lembar catatan harian dan sisanya adalah foto- foto. Kubaca dari catatan di lembar awal hingga akhir dan semuanya berisi tentang aku. Dari awal saat aku bertemu dengan Ramon hingga kami berhubungan lewat ponsel dan twitter. Ada banyak cerita- ceriat tentangnya yang sepertinya khusus diceritakan untukku. Ia senang bertemu denganku dan ia senang bisa menghabiskan waktu- waktunya denganku walau hanya lewat sms dan twitter.
Lembar berikutnya sampai terakhir ada foto yang secara nggak sadar sudah diambil seseorang. Foto saat kami pertama bertemu sampai fotoku yang aku nggak tahu dapat darimana dia. Ada banyak foto dan catatan kecil di bawah foto itu.
Semuanya menyimpulkan bahwa ia senang bertemu denganku, ia senang menghabiskan waktu smsan denganku, dan ia senang bisa mengenalku.
Kubuka lebar terakhir di diary itu. Aku terkejut saat melihat sebuah fotoku sedang menunggu Ramon tadi dan es krim yang Ramon berikan untukku. Aku berpikir apakah Ramon sms aku untuk menunggu seseorang menyelesaikan foto di lembar terakhir ini. Atau laki- laki tadi yang menyuruhku menunggu dan sms dengan menggunakan ponsel Ramon?
Mataku mulai pedas dan melinangkan air. Ini benar- benar romantis, tapi membuatku sedih.
Saat aku sedang dalam atmosfer melankolis, mami memanggilku untuk segera ke bawah dan menemui seorang tamu. Aku membetulkan raut wajahku yang sedih dan segera turun menemui tamu itu. Aku pikir aku nggak pernah mendapatkan tamu misterius selama ini.
Aku menuju ruang tamu dan menemukan seorang pengirim paket bunga berdiri di depan pintu.
“Mbak Sarah?” tanya si pengirim bunga.
Aku mengangguk dan mendekatinya.
“Ada kiriman bunga,” ucapnya sambil memberikan setangkai mawar merah, setangkai mawar kuning, dan setangkai mawar pink, “tolong tanda tangan disini.”
Aku menuruti perintah si pengirim bunga dan kemudian ia pergi.
Aku mencari sebuah note dari si pengirim, tapi nggak menemukannya. Kemudian aku kembali menuju kamar. Saat akan menaiki anak tangga, infotiment yang ditonton mami menampilkan berita duka yang nggak lain dari Ramon.
Sekejap saja mataku menjadi pedas dan mengeluarkan air mata. Infotiment itu memperlihatkan wajah pucat Ramon, tapi masih tetap tampan. Apa maksud semua ini? Berita itu mengabarkan bahwa Ramon sudah... sudah nggak ada. Ramon sudah berpulang! Aku nggak percaya dengan berita barusan itu kemudian aku mempunyai firasat bahwa video yang dititipkan kerabat Ramon ada petunjuk untuk ku mengerti, ya, disitulah semuanya akan jelas.
Aku berlari menuju kamarku. Kumasukkan mawar- mawar itu ke vas dan segera memutar video dari Ramon.
Aku duduk di depan layar laptop sambil menunggu videonya mulai. Beberapa detik kemudian muncul Ramon sambil membawa gitar. Wajahnya walaupun pucat, tapi tetap tampan.
Ramon memainkan gitarnya sebentar dan kemudian menghadap ke kamera. Ia berhenti memainkan gitarnya dan berkata, “Hai Sarah. Apa kabar? Pasti lebih baik dari aku. Pertama, aku mau minta maaf karena aku pernah jatuhin es krimmu, tapi dari situ kita malah jadi kenal dan dekat. Aku seneng banget. Kedua, aku mau bilang makasih karena di waktu terakhirku ini jadi sangat berharga karena ada kamu. Dan terakhir, aku mau minta maaf karena kita nggak jadi ketemu untuk terakhir kalinya. Lusa aku akan ke Singapore, ke rumah keluargaku. Jadi, jaga kesehatan dan semoga kita bisa ketemu lagi suatu saat nanti.
“Maaf karena aku nggak pernah bilang kalau aku sakit. Dan maaf karena aku udah bikin kamu sedih karena ketemu dan kenal aku. Maaf karena kamu jadi seseorang yang terpukul kalau aku pergi nanti. Kamu sangat berharga. Kamu bunga terakhir dihidupku, di sisa waktuku.
“Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan lupa untuk nggak telat makan. Aku akan sangat kangen sama kamu,” ujar Ramon. Ia mengerling kepadaku dan memainkan gitarnya lagi.
“Bunga terakhir untuk yang terakhir dan terindah. Sarah,” kemudian ia bernyanyi.
Aku meringkuk dalam pelukanku dan menatap ke arah bunga- bunga yang Ramon berikan.
Ramon nggak bilang kata perpisahan, dia nggak sekalipun ucapin kata “good bye” padaku. Aku tahu itu, suatu saat kami akan ketemu. Dan kami akan beli es krim bersama lagi. Aku tahu itu. Aku sangat tahu.
YYY