Senin, 26 September 2011

Cerita Kampus-Perjalanan Menuju Kampus

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 26, 2011 4 komentar
Hari Senin, hari yang nggak akan sempurna tanpa kemacetan disana- sini. Ada satu, dua, tiga, empat, dan lima, ya, ada lima titik rawan kemacetan yang harus ketempuh kalau aku berangkat ke kampus.
Kalau harus memilih, aku juga nggak mau melintasi jalur itu, tapi jalur itu satu- satunya jalur terdekat dan terefisien daripada harus melintasi jalan tikus. Hanya saja, jalan tikus bisa membantu, sometime.
Aku sudah siap dengan perlengkapanku menuju kampus. Satu helm gratisan saat membeli motor, sarung tangan orange yang nggak bersih, kaos kaki warna kulit, dan jaket pendukung yang sebenarnya aku nggak butuh- butuh sekali karena aku sudah memakai baju lengan panjang.
“Aku berangkat dulu!” seruku, “Assalamua’laikum!”
Balasan salam sudah terdengar dari dalam rumah dan aku beranjak dari rumah menuju kampus. Aku mempersiapkan diriku menjumpai kemacetan yang luar biasa parah, aku berharap itu nggak akan terjadi, tapi sepertinya nggak mungkin, aku menertawai diriku sendiri.
Titik rawan pertama, aku tersenyum lega karena jalanan di depan asramaku tidak begitu ramai- ramai sekali. Bus dan mikrolet yang biasa membuat kemacetan dengan berhenti di sembarang tempat kini sudah tidak ada. Aku melirik ke kanan. “Ohh, pantes!” gumamku. Pak polisi dengan peluit di mulutnya mengkoordinir jalanan sehingga nggak macet.
Aku meneruskan perjalananku menuju titik rawan kedua kemacetan. Kalau sudah sampai disini, harapan untuk nggak macet sangatlah impossible. Jalan ini akan selalu macet karena bertemunya halte bus di kanan dan kiri sisi jalanan, swalayan, dan jalur keluar-masuk jalan tol. Aku harus menunggu cukup lama, walaupun berkisar lima menit, tapi lima menit di jalanan terasa berbeda dengan lima menit di depan layar komputer.
Dengan sabar aku melintasi jalan rawan macet kedua ini. Karena ada yang lebih parah dari ini. Yaitu, titik rawan keempat, dan kelima. Seolah titik rawan pertama, kedua, dan ketiga adalah pengantar menuju titik rawan yang paling rawan.
Setelah berhasil menerobos titik rawan kedua dengan keringat dingin, aku melanjutkan perjalanan menuju titik rawan ketiga. Jalan itu ramai karena ada sekolah, pabrik tembakau, halte bus, dan jalur keluar-masuk universtias ****piiip**** dan ***piiiip***.
Sambil menunggu motorku bisa berjalan. Aku menghabiskan waktuku dengan melamun, tapi masih tetap fokus menunggu lampu warna merah menjadi hijau. Entah apa yang kupikirkan aku juga bingung, tapi sepertinya aku juga nggak melamun- melamun banget kok. Hanya saja konsentrasiku tertuju pada satu titik fokus.
Hingga lampu berubah warna hijaupun dan motor mulai kusetir menuju kampus, aku masih saja fokus dengan apa yang kupikirkan.
“Tiiiiinnnn!” suara klakson mobil membuatku kaget dan reaksiku membuat pengendara motor di sebelahku tertawa melihatku. Aku masih kaget, tapi malu! Bagaimana nggak? Serasa aku lebih sering kaget sekarang ini.
Dengan malu, aku menambah kecepatanku untuk menghilangkan rasa kaget dan maluku. Aku mulai melewati turunan rawan kecelakaan di Semarang. Sadar diri, aku mulai mengurangi kecepatan. Dan akhirnya aku sampai di titik rawan keempat, titik rawan paling rawan pertama.
Jalur ini rawan macet dan sering macet karena ada pasar, halte yang sebenarnya nggak ada, jalur keluar-masuk tol, jalur menuju sekolah dan universitas swasta, dan asrama tentara seperti di rumahku. Bisa disebut kalau jalur ini adalah induknya kemacetan karena pasukan polisi lalu lintas berapapun yang diterjunkan nggak bisa menghentikan laju kendaraan yang semakin merayap. Tapi paling tidak Hari Senin ini terpantau lancar walaupun ramai.
Aku senang karena induk kemacetan ini nggak macet seperti biasanya. Sometime, aku harus menunggu selama lima menit juga agar bisa melewati jalan ini. Hanya saja agak aneh, berbeda dengan Hari Jum’at lalu, jalan ini sangat macet sampai aku nggak bisa bergerak kesana- kesini setelah menunggu sekitar lima menit.
Aku bergerak melenggak- lenggok agar bisa melewati jalan itu dengan cepat karena aku ada kuliah jam tujuh pagi ini.
Nafasku plong sekali ketika terbebas dari kemacetan di titik rawan macet keempat. Seenggaknya aku bisa mengambil nafas untuk melewati titik rawan macet kelima yang masih agak jauh.
Hanya saja yang membuatku merasa malas sekali naik motor menuju kampus adalah bau jalanan dan asap- asap yang keluar dari kendaraan lain yang membuat paru- paru sakit dan hidungku mengempis.
Sudah senang karena terlepas dari kemacetan, sepertinya jalanan berkata lain dengan nasibku yang harus mengekor di belakang truk sampah yang baunya, masyaAllah! Aku mencium baju di lenganku yang masih bau parfum, aku gak lega. Tapi paling nggak secepat kilat aku harus pergi dan nggak mengekor di belakang truk itu. Karena ramai dan banyak kendaraan yang melintas, aku nggak berani melewati truk itu dan walhasil aku harus berjalan pelan- pelan untuk menjaga jarak.
Sampai akhirnya truk itu berhenti untuk mengambil sampah, aku baru berani untuk melewatinya dan hatiku ber-good bye pada truk itu dengan girang.
Titik rawan terakhir, dekat dengan kampusku. Sebelumnya aku harus melewati trafficlight yang lampu merahnya selama enam puluh detik, dan lampu hijaunya tiga puluh detik.
Jalanan cukup bisa kuhandle dan aku menerobos kesana kemari. Aku melihat sudah detik ke lima. Aku lebih mempercepat kendaraanku, begitu juga kendaraan lain. Detik keempaat, ketiga, dua, dan satu, hingga lampu berubah menjadi kuning yang harusnya pengendara utnuk pelan- pelan melewati, aku malah mempercepat laju motorku dengan hatiku yang tertawa terbahak- bahak. Lampu berubah merah saat aku berhasil melewati garis untuk berhenti.
“Pantas saja aku nggak pernah punya SIM!” gumamku dalam hati sambil tertawa kegirangan.
Sebenarnya hal itu nggak patut dicontoh, tapi aku sudah akan sangat telat kalau harus menunggu enam puluh detik lagi. Akhirnya aku sampai di titik rawan terakhir.
Jalan itu ramai dan sering macet karena jalan itu adalah jalan utama dan pusat Kota Semarang yang notabenenya Kota Atlas. Selain itu, karena ada rumah sakit dan seklah swasta, jalan itu dipakai untuk tempat mangkal becak- becak.
Aku melihat lampu lalu lintas berwarna hijau dan menunjukkan detik ke lima. Seperti tadi, aku mulai mengeluarkan jurus melanggar lalu lintasku yang diturunkan dari abi sendiri.
Dengan senang aku melintasi jalanan yang ramai itu dengan lancar. Tapi jalanan memberiku azab dengan memberiku pengendara motor fogging di depanku. Asap yang keluar dari motor itu seperti kentut gajah yang nggak pernah berhenti.
Hingga akhirnya sampai di kampus dengan keadaan mengenaskan.
Aku bertemu Joan dan Claudia di tempat parkir. Joan bertanya, “Kamu kenapa? You look so awfull.”
Aku menjawab dengan memelas, “Lama- lama jalanan bisa membuatku harus mandi di kampus.”
Claudia tertawa singkat dan menanggapiku, “Bau sampah sama asap, nih!”
“Waah, makasih ya pujianmu,” ucapku dengan wajah lebih memelas.
Aku, Joan, dan Resha berjalan menuju ruang kelas. Sebelumnya kuciumi bajuku yang ternyata nggak bau bau banget, kutambahkan parfum di seluruh bagian tubuhku.
“Kamu pakai apa itu?” tanya Claudia, “Minyak telon, ya?”
Aku ternganga, “Ya ampun, Claud, masa’ iya aku pakai minyak telon, ini parfum, parfum. Cantik- cantik kenapa nggak tahu merk?”
Joan dan Claudia alah tertawa mendengar pernyataanku. Ya Rabb.
(--“)(--“)(--“)
Lots of love, niput (--“)

Cerita Kampus-Telor Ceplok

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 26, 2011 0 komentar
Malam ini aku ngelembur tugas yang belum kuselesaikan. Betapa malasnya aku, dan demi Tuhan, aku sangat malas hari ini. Mungkin karena efek bertemu dengan gerombolan pasukan tentara muda tadi pagi di stadion. Tapi pastinya bukan itu. Pasti karena jalan santai tadi pagi. Ya, pasti karena itu.
Sedari tadi siang aku juga belum makan. Tadi pagi hanya kuisi dengan setengah porsi sate ayam dan lontong setelah selesai jalan santai. Hari ini mami juga malas sekali untuk masak, jadi beliau pergi untuk membeli sebungkus soto. Karena aku nggak doyan sama sekali dengan soto, aku nggak menyentuh hidangan itu yang sudah tertata mewah di meja makan.
Aku menahan laparku sambil terus menulis tugas listeningku. Tugas ini hanya butuh konsentrasi untuk mendengarkan saja, nggak perlu berpikir keras dan memutar otak. Apa jadinya kalau otak diputar?
Adikku datang ke kamarku untuk meminjam buku catatan bahasa inggrisku ketika SMA. Karena aku sangat mencintai pelajaran bahasa inggris, catatan di buku itu selalu rapi dan kuberi sampul dengan warna kesukaanku, ungu.
“Mbak, aku besok ulangan, nih!” seru adikku sambil duduk di sebelahku dengan mata memel, memelas.
Aku meliriknya, “Iya, tunggu.”
“Yaudah, aku ambil bukuku dulu,” ucapnya. Nggak lama dia kembali ke kamarku dengan membawa buku tulis, buku lks, dan kamus.
Aku menghentikan mengerjakan tugasku dan berusaha membantu adikku dulu.
“Passive voice, ya?” gumamku.
“Aku nggak mudeng,” ucapnya.
Aku menyuruhnya untuk mempelajari sifat aktif kalimat- kalimat dari simple present, present continous, present perfect, dan perfect continous. Begitu juga dengan kalimat- kalimat past tenses.
Otakku berpikir ganda sekarang ini. Di samping aku harus mengerjakan tugasku, aku juga harus membantu adikku untuk ulangannya besok. Dan karena itu aku merasa double lapar. Sangat lapar!
Aku memberi delapan soal untuk adikku tentang passive voice present tenses dan past tenses. Aku pun melanjutkan mengerjakan tugasku hingga selesai.
“Kok lama banget?” tanyaku sambil membereskan buku- buku dan binderku.
“Bentar,” ucapnya singkat.
Kulihat dia sedang mengerjakan nomor tiga dan tulisannya sangat jelek! Aku bisa memakluminya karena ia laki- laki dan karena ia menulis sambil tiduran.
Karena adikku lama sekali mengerjakannya, aku pergi ke dapur untuk memasak telur karena aku sudah lapar tingkat tinggi.
Kucuci telur yang akan kumasak agak steril. Kupanaskan minyak dalam wajan, tapi perasaanku sudah nggak karuan. Mungkin karena lapar.
Setelah menunggu sebentar, kuceplok telur dan kugarami. Tanganku sudah kering dan sepertinya nggak ada keringat juga. Apa iya telurnya mengeluarkan kencing? Impossible!
Minyak dalam wajan meletup- letup seperti gunung berapi yang melontarkan magmanya. Aku menjerit karena kaget, tapi mami dan orang lain yang ada di dalam rumah tidak mencemaskanku sama sekali. Betapa aku sangat kasian!
Aku sangat takut dengan letupan- letupan itu. Aku membalik telur itu dengan hati- hati, tapi minyak yang meletup- letup itu membuatku mengurungkan niatku. Dengan cepat aku mengecilkan api di kompor, baru kubalik telurku.
“Haa, good job, Sarah!” seruku memuji diriku sendiri.
Kemudian aku membesarkan sedikit apinya dalam kompor. Belum apa- apa, aku sudah dikejutkan dengan letupan minyak lagi. Aku menjerit karena minyak itu mengenai tanganku. Dan parahnya lagi minyak itu mengenai dahiku sehingga aku berteriak, “Mamiiii!”
Mami buru- buru menghampiriku dan melihat minyak yang meletup- letup di wajan dengan sangat mengerikan, “Kok bisa begini?”
“Aku nggak tahu! Lihat, nih!” seruku sambil menunjukkan tanganku dan dahiku yang merah karena terkena letupan minyak.
Mami hanya menatapku dengan tatapan kasihan.
Sementara mami menghanddle telur ceplokku, aku berlari mengambil helm, jaket, kacamata, dan sarung tangan. Adikku yang melihatku terburu- buru seperti itu, mengikutiku sampai ke dapur dan ternganga.
“Sini, mi, aku yang masak!” seruku.
Mami dan adikku ternganga dan terlihat menahan tawa saat melihatku memakai kostum seperti power ranger. Dan nggak lama kemudian tawa mereka meledak, meletup- letup seperti minyak di telur yang kumasak.
Sebenarnya aku juga ingin tertawa kalau aku berkaca dan mendapati diriku memakai kostum aneh seperti ini.
Sementara mereka tertawa terbahak- bahak melihatku memasak dengan kostum ini, aku konsentrasi pada telurku yang minyaknya masih saja meletup- letup.
YYY

Lots of love, Niput Y

Minggu, 25 September 2011

Cerita Kampus-Me and Grey

Diposting oleh nupp_niput di Minggu, September 25, 2011 2 komentar
Hari ini sangat konyol, sekonyol perasaanku. Nggak karuan! Di awali dengan pagi yang kurang sempurna kalau nggak macet. Jantungku hampir copot ketika segerombolan anak SMA yang mengendari motor dengan serabutan di jalanan. Ingin rasanya kulempar sepatu ketsku ke arah kepalanya. Tapi pasti nggak terasa sakit karena mereka menggunakan helm. Yeah, seenggaknya mereka masih menaati peraturan menggunakan helm di jalan raya.
Sampai di kampus, semua teman- teman baruku yang kujumpa nggak lain nggak bukan selalu membahas dress code untuk welcome party nanti malam.
“Sarah, nanti malam wajib pakai dress, loh! Kamu udah tahu, kan?” tanya temanku yang sejujurnya aku lupa namanya.
“Umm, iya, aku tahu kok. Males banget, deh!” gerutuku sepanjang jalan.
Dan setiap di perjalanan menuju ruang kelas, teman yang bertemu denganku selalu bertanya itu dan itu. Dan aku juga menjawab itu dan itu, praktisnya.
Windi yang duduk di kursi depan ruangan menyambutku dengan riang seperti menyambut presiden. “Sarah!” serunya sambil menghampiriku.
“Hai, Windi!” seruku seraya merangkulnya. Tubuhnya yang lebih pendek dariku terasa seperti aku memeluk adik sepupuku yang berusia enam belas tahun.
“Kamu nanti jadi beli perlengkapan buat welcome partynya?” tanya Windi.
Aku mengangguk dan meraih kursi terdekat untuk mengistirahatkan kaki dan pantanku yang lelah. “Iya, nanti temenin, ya?” pintaku.
Windi mengangguk dan tersenyum.
“Eh, dosennya udah masuk, ayo buruan masuk!” seru Alvin, teman baruku yang cukup flatter.
Aku dan Windi, serta teman- teman lain yang ada di luar segera masuk ke ruangan untuk menerima introduction dari mata kuliah- mata kuliah yang hanya berdurasi lima belas menit.
YYY
Perkenalan mata kuliah- mata kuliah Hari Jum’at ini berlangsung cepat dan kilat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 11 siang.
“Bebeb, abis ini kita mau jalan kemana, nih?” tanya Alvin padaku saat akan keluar dari ruangan. Dia selalu memanggilku “bebeb”, entah kenapa. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai gombalan untuk bercandaan saja.
“Aku mau pergi cari dress sama Windi. Mau ikut?” aku menawarkan. Biasanya kalau urusan shopping, laki- laki akan segera angkat tangan dan pergi. Aku sering melakukan hal itu kalau ada laki- laki yang ingin mengajakku nonton.
“Boleh, deh, nanti aku bantuin buat milih juga, deh, beb,” ucapnya.
Aku melongo dalam hati. Holaholo dengan apa yang kudengar baru saja. “Beneran?” tanyaku memastikan, berharap ia hanya bercanda saja.
Alvin mengangguk dan tanpa izin mengajak semua gerombolannya untuk ikut berbelanja bersamaku.
Aku dan Windi saling berpandangan. Pandangan agak risih dan kurang nyaman, karena sebelumnya aku nggak pernah pergi shopping bersama anak laki- laki, kecuali papa dan adikku.
Akhirnya kami menuju mall dekat kampus dan mulai searching dari toko ke toko, butik ke butik.
“Eh, ada pameran barang elektronik, kita kesana, yuk!” seru Satya.
“Mana? Mana? Ayo kesana!” seru Alvin dan rombongan lain meninggalkanku dan Windi.
Aku menghela nafas lega. Rasanya gondok juga ditinggal seperti itu. Tapi ada hikmah dibalik sebuah susah. Di saat gerombolan itu asyik dengan pameran- pameran, aku dan Windi segera kabur menuju toko yang sering dikunjungi Windi kalau dia membeli perlengakapan party.
Kami berdua masuk dan kagum dengan designnya yang oke punya. Seperti di dalam kebun saja. Ada tanaman disana sini.
Aku langsung fokus dan tertuju pada deretan casual dress yang bagus- bagus dan sedang mode sekarang ini. Windi mengacak- acak deretan baju itu dan menemukan satu yang bagus untukku.
“Coba deh!” seru Windi sambil mendorongku menuju ruang ganti.
Setelah beberapa menit menyempurnakan tatanan dressnya, aku keluar dari ruang ganti dan kutemukan Windi terpana melihatku. Dia tertawa dengan girang. Penjaga butik dan petugas kasir juga girang melihatku.
“Cocok! Cocok banget, Sar!” seru Windi. Ia menarikku ke depan kaca dan menyuruhku melihat bayanganku sendiri.
“Wow!” gumamku kagum pada diriku sendiri, “Menurutmu gimana?”
“Bagus! Bagus banget, Sar!” seru Windi, “Yaudah, sekarang kamu ganti lagi sebelum cowok- cowok itu nemuin kita disini!”
Aku buru- buru ganti baju dan segera membayar baju imut itu. Kumasukkan dalam tas ranselku agar cowok- cowok itu nggak tahu kalau aku sudah dapat bajunya.
Kami berdua menemui gerombolan Alvin yang sedang asyik melihat- lihat kamera DSLR.
“Hei,” sapaku sambil menepuk punggung Jessy.
Satya membalikkan badan dan menyapaku, “Eh, Sarah!”
Alvin buru- buru berbalik dan segera merangkul tanganku, “Bebeb, kamu darimana aja, sih? Aku nyariin kamu loh dari tadi!”
“Eh, eh, eh!” seru Windi sambil memukul pelan tangan Alvin yang merangkul tanganku.
Aku melepas tanganku dan memukul pelan tangan Alvin dan sedikit bercanda seolah- olah aku marah padanya, “Kamu yang ninggalin aku! Lagian nyariin aku gimana? Dari tadi kamu malah asyik sama benda mati begini!”
“Naah, Sarah marah, tuh!” seru Jessy memprovokatori – dengan bercanda pastinya. Kemudian yang lain tertawa.
Satya menimpali ucapan Jessy, “Cerai aja, Sar, cerai! Ntar sama aku aja.”
Aku dan yang lain tertawa lagi, puas rasanya bercanda dengan mereka, apalagi kalau membuat Alvin cemburu. Rasanya aku ingin menelan dunia!
Aku pamit pulang duluan karena kepalaku pusing. Alvin menanyakan tentang dress yang harus kubeli, tapi aku buru- buru pergi bersama Windi menuju parkiran.
“Ketemuan di dalam gedung aja, ya, nanti?” tanya Windi.
Aku mengangguk dan kami pun pulang ke rumah masing- masing. Aku harus melakukan banyak persiapan untuk nanti malam.
YYY
Aku agak kurang pede dengan dandananku malam ini, karena sebelumnya aku nggak pernah dressing seperti ini.
Aku berjalan dengan kepala tertunduk menuju ke dalam gedung. Tapi di luar gedung sudah banyak teman- teman dari fakultas lain dengan dress dan kemeja yang oke punya.
“Sarah!” seru Windi yang berlari menuju ke arahku, “Untung kamu beneran Sarah!”
“Hee?” tanyaku bingung.
“Kamu beda banget! Cantik, deh,” puji Windi membuat pipiku lebih merona dari biasanya.
Aku balik memuji Windi yang dandan total. Ia terlihat seperti Putri Mesir. Mata Windi yang ke arab- araban membuatnya lebih cantik dengan maskara dan eye-liner yang terpoles rapi.
Kami berdua berjalan menuju ke dalam gedung. Terlihat dari kaca pintu gerombolan Alvin, Jessy, Satya, dan yang lainnya.
“Eh, eh, tunggu, biar aku yang masuk duluan, ya? Mereka pasti kaget lihat kamu jadi se-amazing ini!” seru Windi. Aku hanya menuruti Windi saja, padahal dalam hatiku ini, aku sangat nggak pede.
Ketika Windi masuk ke dalam gedung, semua mata tertuju pada Windi, kemudia diikuti aku dari belakang Windi.
“Teman- teman, masih ingat siapa dia?” tanya Windi dengan suara agak keras sehingga membuat semua perhatian tertuju padaku.
Momen yang pas saat Windi bicara dan aku masuk ke dalam ruangan dengan malu- malu. Benar- benar sangat pas untuk mempermalukanku.
“Windi, aku malu,” ucapku dengan pelan karena semua mata tertuju padaku.
Nggak sedikit yang bergumam kagum dengan tampilanku, ada juga yang syirik dan langsung memalingkan wajah.
“Sarah cantik banget!” seru Jessy kagum.
“Bebeb? Itu bener kamu?” tanya Alvin nggak percaya.
Satya berdiri dengan mata terpana, “Dia bener- bener Sarah!”
Aku berjalan menuju mereka dengan malu- malu, “Aku nggak pede, nih!”
“Kamu cantik kok!” seru Alvin dan Satya bersamaan.
Teman- teman menyoraki aku, Alvin, dan Satya. Aku tambah malu dan rasanya darah di pipiku mengalir deras.
Tapi dalam sekejap semua kembali normal dan kami sangat fun malam ini. Aku nggak akan melupakan malam ini.
Dressku malam ini lama- lama membuatku normal dan biasa- biasa saja.
Malam yang seru, Grey – dress abu- abuku – dengan pita merah yang imut, dan wedges abu- abu dengan pita, rambut semi-curly, alunan musik jazz, tapi hanya satu yang kurang. Pangeran berkuda putih.
YYY

Lots of love, Niput Y

Sabtu, 24 September 2011

Cerita Kampus-The Holding Hand

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, September 24, 2011 3 komentar
Aku berjalan dengan loyo dari tempat parkir sampai lobby gedung kampusku. Ruangan itu lengang karena masih sangat sepi. Aku mengirim pesan pada Resha, yang ternyata sudah stand by di kampus dari jam tujuh pagi.
Nggak perlu menunggu lama, Resha menuruni anak tangga dengan cepat namun hati- hati, dan menyapaku ketika melihatku sedang kesepian, “Hey, udah lama?”
“Baru aja kok, kamu rajin sekali jam tujuh udah stand by disini?” tanyaku.
Resha terkekeh, “Aku bareng papaku, jadi berangkat pagi- pagi. Mata kuliah pronounciation, kan?”
Aku mengangguk pelan dan menyuruh Resha duduk di sebelahku.
Dari balik pintu lobby, muncul Jessy yang datang dengan penampilan baru: rambut yang biasanya ia kucir, kini digerai. Rambutnya pendek sebahu, seperti punyaku.
“Eh, kalian lagi sibuk nggak?” tanya Jessy tergesa- gesa.
“Enggak kok, kenapa?” tanyaku.
“Sarapan, yuk, masih ada waktu nih. Kalian udah sarapan?” tanya Jessy menawari untuk ikut sarapan.
Aku dan Resha mengangguk. “Tapi kalau kamu mau, kita temenin kamu aja,” ucapku, “nggak apa, kan, Resh?”
“Nggak apa kok, uda yuk, langsung capcus!” ajak Resha dan kemudian kami bertiga berjalan menuju warteg langganan Jessi.
Saat berjalan menuju pintu, aku berpikir, “Aku nggak melihat Satya. Biasanya, kalau ada Jessy, pasti ada Satya dan yang lainnya.”
Hatiku agak kacau kalau aku belum melihat dia pagi ini, cieeeh! Tapi aku juga nggak tahu kenapa aku merasa seperti ini, ini adalah perasaan yang nggak bisa diungkapkan.
Baru saja aku keluar dari pintu gedung, muncul gerombolan Jessy, tapi Satya nggak ada bersama mereka. Dimana Satya?
Tapi aku melupakan Satya sejenak saat Resha dan Jessy mulai berjalan agak cepat menuju warteg. Aku mengikuti dengan terengah- engah dan hanya Resha yang bisa kuraih.
“Jessy laper, ya?” tanyaku menyindir, “Cepet banget dia ke wartegnya.”
Resha terkekeh, “Nggak kok, dia lagi marahan sama Vito.”
Aku menggeleng- geleng. Jessy dan Vito sepertinya punya cerita manis sendiri tentang mereka. Hanya saja karena mereka lebih suka bercanda, aku nggak bisa membedakan apakah mereka serius atau bercanda saja. Tapi menurutku, dari sorot mata mereka, mereka pasti ada sesuatu.
Tiba- tiba aku teringat Satya lagi. Dia dimana, ya? Aku bukannya kangen, tapi rasanya ada yang kurang di hariku kalau aku belum bertemu dan ngobrol dengannya. Satya adalah cowok yang baik dan nggak perokok. Dan karena dia nggak merokok, ada poin plus untuknya di mataku.
Kami berbincang- bincang dan bercanda- canda di warteg, saking asyiknya, kami kelupaan waktu, dan akhirnya terlambat masuk ke kelas pronounciation. Tapi bersyukurlah aku karena mata kuliah belum di mulai.
Hari Jum’at adalah hari yang menyenangkan menurutku, walaupun aku harus pulang sampai sore, tapi rezeki Tuhan memang selalu datang saat hamba-Nya membutuhkan J. Bukan hanya mata kuliahnya yang aku senangi, tapi juga dosen yang mengajar dan Satya sudah stand by di deretan kursi paling depan.
Laboratorium bahasa ini serasa seperti kebun bunga bagiku dan dosen yang mengajar seperti Dewi Demeter yang menyegarkannya. Aku mengajak Resha duduk di depan, karena memang hanya tersisa tempat di deretan depan, sebelah deretan Satya.
Satya menyapaku dengan ronanya, “Hai, Sarah. Kok telat?”
“Hai,” sapaku, baru aku mau menjawab pertanyaan Satya, Alvin menyerobot menyapaku.
“Hai, Sarah. Lama nggak ketemu,” sapanya dengan wajah flatter-innocentnya. Alvin menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, tapi ibu dosen tercinta menatap kami seperti teman lama yang baru berjumpa.
Miss Friska menyindir kami, aku merasa kaku dan nggak menjabat tangan Alvin.
Aku menoleh lagi ke arah samping kiri. Memastikan bahwa pandanganku bisa tertuju pada Satya. Hatiku berdetak seperti biasa, tapi ada yang aneh dengan pandangan mataku yang hanya ingin fokus padanya. Tapi kucoba untuk fokus pada mata kuliah yang sudah dimulai setelah semuanya tenang.
YYY
Mata kuliah berakhir dengan seru. Aku sangat menikmati mata kuliah pagi ini. Aku melihat Satya sudah beranjak meninggalkan laboratorium bersama teman- teman yang lain.
Aku menunggi Resha yang sedang memakai sepatu.
“Kamu ada mata kuliah habis ini?” tanya Resha.
Aku menggeleng, “Mata kuliahku diganti sore, nih, jatah pulang sore hari ini.”
“Aku ada kuliah lagi, nih. Tapi di gedung G, kamu mau disini apa ikut ke gedung G?” tanya Resha.
Aku celingukan, “Kok yang lain uda pada ngabur, ya? Aku ikut aja deh.”
Kami pun berjalan cepat menuju gedung G. Aku masih tengak- tengok untuk mencari Satya. Mungkin Resha berpikir kalau aku mencari teman- teman yang lain. Tapi itu lebih baik, karena di samping itu, aku juga lebih butuh teman- teman yang lain.
Saat keluar dari gerbang gedung C, aku bertemu Jessy, Alvin, Satya, dan rombongan.
Resha berjalan mendahuluiku karena jadwal mata kuliahnya sudah dimulai. Aku berjalan sendirian di bagian paling belakang, seperti ekornya naga, penguntit.
“Loh, Sarah, kok di belakang, sih?” tanya Alvin dengan nada flatter, “Sini, sini, jalan sama aku.”
Aku tertawa dan menuruti Alvin. Seenggaknya aku nggak jadi penguntit yang berjalan di bagian paling belakang, sendirian.
“Kok kamu jalan sendirian di belakang, sih? Kan ada aku disini,” ucap Alvin merayuku.
Aku membalas gombalannya yang memang hanya untuk bercanda- bercandaan, “Kamu, sih, yang ninggalin aku. Aku jadi takut, nih, jalan sendirian.”
Rasanya aku ingin memuntahkan semua isi dalam perutku saat aku menggombal juga.
“Yaudah, sini, sini, kita jalan bareng- bareng, beb?” ajak Alvin sambil menggandeng tangan kiriku.
Rasanya aneh saat Alvin menggenggam tanganku. Benar- benar menggenggam.
Aku malu saat semua gerombolan mulai menyoraki aku, termasuk Satya. Kemudian aku melepas genggaman Alvin dengan malu- malu, tapi Alvin masih saja meraih tanganku dan berjalan bersama.
Dalam benakku, aku mengakui bahwa sudah lama sekali aku nggak begini. Dan terakhir kali ada laki- laki yang menggenggam tanganku, aku malah merasa risih dan malu.
Kemudian Alvin melepas genggamannya karena ia harus menjawab telepon entah dari siapa dan ia kutinggal karena aku juga nggak mau mengganggunya.
Aku berjalan sendirian lagi dan tanpa sadar aku berjalan mendekati Satya yang sepertinya menungguku, atau hanya perasaanku.
“Loh, tadi kok kamu telat?” tanya Satya dan kami berjalan berdua di barisan paling depan.
“Kamu yang ninggalin aku, sih,” kataku menggombal lagi, tapi sekarang menggombal pada Satya.
Tubuhnya sedikit membantuku untuk menghindar dari teriknya matahari jam sepuluh pagi.
“Ooh, yaudah sekarang kita jalan bareng,” ucapnya kemudian terkekeh, kemudian berkata lagi, “nanti mau ikut jalan- jalan nggak?”
“Kemana?” tanyaku, “Bukannya nanti masih ada mata kuliah, ya?”
“Cuma sebentar kok,” kata Satya, “ikut, ya?”
Aku diam sebentar untuk berpikir, karena cuaca yang panas dan aku prefer di dalam gedung saja daripada ikut pergi bersama Satya.
“Ikut nggak? Nanti bareng aku aja kalau kamu kepanasan,” kata Satya menawarkan ide bagus.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Boleh juga.”
“Asyiik!” seru Satya dan menggenggam tanganku. Tangan kananku.
Satya memamerkan genggaman tangan kami kepada Alvin dan Alvin langsung bereaksi, “Woy, woy, serakah lu, man!”
Aku dan teman- teman tertawa melihat Alvin yang gelagapan dan langsung menghambur padaku, menggenggam tangan kiriku.
“Kayaknya aku yang berasa serakah sekarang?” tanyaku dengan nada kurang enak.
“Apa, sih, yang nggak buat kamu, beb?” tanya Alvin mulai menggombal lagi.
Satya menimpali, “Heh, lepas tangan lu!”
Aku dan yang lain hanya tertawa. Tapi aku juga merasa serakah kalu begini. Hanya saja, kedua tanganku yang mereka genggam ini, terasa berbeda. Aku merasa terprotect dengan genggaman di tangan kananku.
YYY

Lot’s of love: Niput Y

Jumat, 23 September 2011

malam minggu

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, September 23, 2011 0 komentar

mom: kok rak lungo- lungo toh nduk ?
me : mboten kagungan pacar, mbokkeh
mom : yoo nggolek
me : gaaah ( nyembur abab)
mom : meh tak ewangi piye ?
me : how ? (tampang males)
mom : tak arak neng lapangan parade (senyum evil)
me : emang aku presiden ? di arak -,-
mom : kalah karo adek !
me : putus nyambung o kae
mom : mosok ? cinta sejati yak e
me : ora, adek rak payu
mom : (hawane haw ay yu)

Gosip !

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, September 23, 2011 0 komentar

nupp : knp sabar dn bukan iklas ??

abay : karena sebenarnya sabar n iklas bukan saudaraan

nupp : mereka ayah dan anak -__- pak sabar dan dek iklas

abay : owww gitu y kok tau?

nupp: dlu ttggaku -___- skg pindah

abay : owww pantes yg d sebelahnya bu ribut awkwkwkw jd gx sabar deh

nupp : iso koyok ngonooo ?? wkwkwk

abay : hahaha

nupp : tak andakke ibu'e looh, bar ngapuro nggolek duso, wkwk

Saya Bukannya Tidak Laku

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, September 23, 2011 0 komentar
Zombi.
Hal yang terpintas dalam pikiran pertama tentang ini adalah - dan pasti - hantu luar negeri yang otaknya dicuci - bahkan nggak punya otak -, berbadan pucat, mata hampir mencuat, dan jahat (--")
Tapi yaah, memang konteks zombilah yang saya ambil. Mungkin karena kecocokan yang tingkat tinggi dan persepsi yang mudah ditangkap.
Lihat gambar di samping? Begitu awfull dan mengerikan. seolah olah ada yang mengendalikan mereka, tapi bukan mereka. Terkena racun mematikan yang bisa membuat otak kehilangan kontrol. bertindak tidak wajar. Breking the rules, memakan apapun termasuk manusia, dsb.
Terkesan lebay kalau aku nggak bicara langsung. Tapi aku hanya memberikan kata pengantar untuk sebuah statement yang melekat pada diriku: Nggak laku~
Apa- apan itu? terkesan jahat dan jugje yang sangat sakit.
Aku bukan begitu. karena aku punya prinsip yang mungkin nggak bisa aku langgar. Aku berjanji pada-Nya, mungkin bukan janji, hanya konsep keyakinan hati.
Rasanya seperti dikendalikan orang lain ketika menjalani hubungan dengan orang lain. Berbeda, sangat berbeda pastinya kalau berhubungan dengan "boy" dan "man". Maka dari itu tidak ada wanita bahkan cewek yang selalu ingin menikah dengan seorang "man", bukan "boy".
Aku cukup tahu apa yang aku tulis, dan banyak persepsi yang akan pro dan kontra dengan ini. Tapi ini aku, ini kisahku. Dikendalikan seorang "boy" rasanya sangat pedih karena kita tidak hanya memikirkan diri sendiri yang masih childish, tapi juga orang lain yang sama sifatnya.

niput with lot's of love

Sabtu, 17 September 2011

Me and Grey

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, September 17, 2011 0 komentar
Sore itu aku bertemu dengan Grey pertama kalinya. Rasanya amazing bisa mendapatkan teman baru yang cantik seperti Grey. Tapi untuk bisa lebih dekat dengan Grey, aku harus merogoh kocek, yeah, Rp 65.000,00 ! So cheap, right?
Tapi yang terpenting bukan murah atau mahalnya. Grey sangat baik dan membantuku, last night. But, why? Dunia serasa nggak adil saat aku tiba di tempat, dan acaranya nggak begitu menarik buatku L. Kasian Grey, pertama kali aku bawa dia bersamaku, dia harus terkontaminasi dengan bau rokok! Aku harap Grey nggak kapok kalau aku bawa dia pergi lagi J.
Hal buruk lain lagi adalah Grey yang lama kelamaan membuatku sakit dan lelah untuk berjalan kesana kemari. Aku nggak betah berdiri lama, nggak betah jalan kesana- kesini, dan rasanya aku ingin pulang untuk mengistirahatkan sluruh badanku.
Haa !? kakiku rasanya sakit sekali dan ngilu di tengah malam! Hatiku berteriak, “Grey, ini salahmu!” Tapi di ruangan yang gelap dan aku meringkik kesakitan memegangi kakiku, Grey hanya terdiam, diam, dan diam. Grey tidak bersua.
Aku nggak ingin menyalahkan seutuhnya kesalahan ini pada Grey, karena memang bukan dia yang salah. Aku sadar betul aku yang nggak terbiasa dengan keadaan bersama Grey, apalagi untuk 3 jam, padahal hanya 3 jam! Tapi, i’m so sorry, Grey, aku nggak terbiasa dengan wedges sebelumnya ~o~ maafkan aku.

Lot’s of love,
Niput Y

Kamis, 15 September 2011

I Miss You

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, September 15, 2011 0 komentar

I miss you when there's no later or text from you
I miss you when I have a good news that I have to tell
I miss you because you pray and beat for me
I miss you, really miss you

Seem like a year without rain
Seem like Paris without Eiffle
Seem like Monday without it jams
I miss you, really miss you

Wishing you can hear what I want
Hoping you can give me a little 'Hi' on my wall
Wishing you will know that
I miss you, my dear, friend

Lot's of love
niput

*special to: Kim InHye - Korsel

Dress code

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, September 15, 2011 0 komentar

What the hell dress !?
Seems like you dont know who I am
But, yeah, you don't know who I am
It is your party, not mine !
How dare you can decided the dress code !
Haaaa !?
I want to scream near your ears
Facing that it hard for me
Facing that it makes me confuse
Haaaa !?
What about another idea ?

You

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, September 15, 2011 0 komentar

I tell you clearly
More~ clearly to make you recognize your position
There's no a piece of my heart remember you
Please, don't ask !
I close the door and Please don't knock !
I put the chain on the door
And please go away, respectly
This is not you ! But YOU !
Let me open your eyes
In order to understand what I need now and later
There is no YOU beside me
It's not because I hate you
But You are the source of sadness in my live
Please, this is not you, He isn't here anymore
Don't look behind
I won't to call him back
Just walk forward and never turn back to YOU

Senin, 12 September 2011

Mr. P

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 12, 2011 0 komentar
Ini request dari teman- teman aku yang baik hati dan sepertinya belum sepenuhnya percaya kalau Patudu Manik adalah kakak Angkatan saya d UDINUS - Fakultas Bahasa dan Sastra - Progdi Sastra Inggris.
I prove it with these picture :)












Bagaimana teman- teman? sudah percayakah dengan ini? atau mau bukti lain lagi ? #laughing

mampirlah ke udinus kalau mau lihat dia nyanyi buat kamu :p #superkidding

tapi jangan lupa bayar tiket yaa ? haha
#kidding

Makalah - Media Sahabat Mahasiswa dalam Pengolahan Budaya

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 12, 2011 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Indonesia memiliki banyak pulau- pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Di setiap pulau memiliki provinsi dan wilayah yang membatasinya. Dan di setiap wilayah di dalam provinsi memiliki kebudayaan tersebdiri yang berbeda- beda dengan wilayah di provinsi lain walaupun maksud dan tujuannya adalah sama. Misalnya dalam pertunjukan wayang. Pertunjukkan wayang di daerah Jawa Tengah umumnya menggunakan wayang kulit, tapi di daerah Jawa Barat umumnya menggunakan orang asli. Keduanya sama saja dalam menyampaikan tujuannya yaitu untuk menampilkan sebuah cerita yang sama, hanya saja objeknya yang berbeda.
Umumnya pelaku dalam pertunjukkan wayang tersebut adalah orang- orang yang sudah tua atau sepuh. Padahal sebagai generasi yang melanjutkan budaya tersebut adalah para pemuda untuk melestarikannya agar tidak terlupakan. Maka dari itu masyarakat mempercayakan kepada mahasiswa yang sudah dianggap dewasa untuk mempertahankan budaya tersebut dan dapat mempresentasikan budaya tersebut ke kancah global. Hanya saja masih ada beberapa kekurangan yang membuat tersendatnya kegiatan mulia itu. Antaralain, pengetahuan yang kurang tentang wayang tersebut, kurangnya pengetahuan tentang cara memainkan wayang, kurangnya kesadaran akan pentingnya mempertahankan wayang sebagai budaya lokal, sehingga para pemuda belum bisa mempresentasikan wayang tersebut ke kancah global.

B.     Rumusan Masalah
1.    Mengapa para pemuda/ mahasiswa masih belum mengerti atau masih sangat sedikit yang mengerti tentang wayang?
2.    Apa yang membuat para pemuda/ mahasiswa belum mengerti tentang cara memainkan wayang?
3.    Apa yang membuat para pemuda/ mahasiswa tidak menyadari akan pentingnya wayang sebagai budaya lokal?
4.    Apa saja yang dibutuhkan para pemuda/ mahasiswa agar dapat mempresentasikan wayang ke dunia global?
5.    Apa pengaruh peran pemuda/ mahasiswa dalam mempresentasikan budaya lokal ke kancah global?

C.     Tujuan Penulisan
1.    Untuk memberitahukan pada pemuda/ mahasiswa yang belum mengerti tentang perwayangan.
2.    Untuk memberitahukan pada pemuda/ mahasiswa bagaimana cara memainkan wayang dengan baik.
3.    Memberikan kesadaran kepada pemuda/ mahasiswa untuk melestarikan wayang sebagai budaya lokal.
4.    Memberi motivasi pada pemuda/ mahasiswa agar bisa membawa wayang sebagai budaya lokal asli ke kancah global.
5.    Memberitahukan pada pemuda/ mahasiswa bahwa mahasiswa sebagai insan yang dianggap dewasa oleh masyarakat berperan penting dalam  membawa wayang sebagai budaya lokal asli Indonesia ke kancah global.

D.     Metode Penulisan
Searching/ pencarian data melalui internet.





BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Wayang.
Wayang adalah seni pertunjukan asli Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO menetapkan bahwa wayang adalah permainan boneka tersohor dari Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam DaftaR Warisan Dunia pada tahun 2003.
Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan lokal, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”.
Dalam pertunjukan wayang, terdapat pula iringan gamelan beserta sinden yang memeriahkan alur dalam pertunjukan wayang tersebut. Saat pertunjukan, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa.

Cara Memainkan Wayang
Agar dapat mempertunjukkan wayang dengan baik, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengerti tentang bagaimana cara memulai dalam pertunjukkan, mengerti alur cerita yang akan dimainkan, mengenali lakon atau pemain wayang, dan bisa menggunakan bahasa jawa dengan baik.

Kesadaran Pemuda/ Mahasiswa
Seiring berkembangnya teknologi dan berkembangnya budaya luar, tidak berarti bahwa budaya sendiri ditinggalkan. Tapi hal inilah yang sering dilakukan oleh para pemuda, khususnya mahasiswa, yang telah mengenal kebudayaan luar dan memilih untuk mengadopsi kebudayaan luar sebagai life style. Kurangnya kesadaran ini terlihat dari mereka yang kebanyakan tidak memahami tentang cerita- cerita di pewayangan, padahal pewayangan tersebut sudah diberikan kepada pemuda sejak menginjak di sekolah dasar.

Peran Media Elektronik Sahabat Pemuda/ Mahasiswa
Seperti halnya pepatah “banyak jalan menuju Roma”, banyak juga cara untuk mempresentasikan wayang ke dunia global dengan subjeknya adalah mahasiswa. Perkembangan teknologi sangat membantu pemuda untuk maju dan mengembangkan kemampuan IT mereka. Begitu juga dalam mempresentasikan wayang ke kancah global. Misalnya penulisan artikel mengenai pengertian wayang, jenis- jenis wayang, dan pengenalan tokoh- tokoh pemain wayang di media Blog. Adapula media YouTube.com yang bisa menampilkan pertunjukkan wayang dalam format video. Atau bahkan berperan langsung sebagai dalang dalam pertunjukan wayang.

Peran Penting Mahasiswa dalam Mempresentasikan Wayang
Sebagai insan generasi penerus bangsa, sudah sewajarnya bahwa pemuda, khususnya mahasiswa adalah satu- satunya subjek yang dapat membawa budaya Indonesia tetap terus ada, bahkan dibawa ke negeri luar agar mendapat pengakuan yang sah. Sebenarnya mahasiswa bisa melakukan hal tersebut jika mereka mengetahui apa saja bagian- bagian penting dalam pewayangan.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
¯     Wayang merupakan hiburan bagi masyarakat zaman dulu sebelum ditemukannya media elektronik. Cerita dalam wayang diambil dari cerita- cerita kerajaan zaman dahulu dan cerita dari kitab Mahabharata. Untuk menambah hiburan dalam bermain wayang, iringan gamelan dan sinden pun menjadi satu paket, agar dapat menambahkan suasana dalam setiap alur cerita.
¯     Bermain wayang sebenarnya sangat mudah apabila kita sudah mengerti bagaimana alur ceritanya dan siapa saja tokoh- tokohnya.
¯     Wayang merupakan budaya yang sepantasnya di lestarikan turun temurun pada generasi selanjutnya, yaitu pada para pemuda yang sekarang lebih condong mengikuti budaya asing.
¯     Banyak cara untuk mempresentasikan wayang ke kancah global, misalnya menulis tentang perwayangan di blog atau media internet lainnya yang langsung berhubungan dengan masyarakat luas di dalam dan di luar negara.
¯     Sebagai insan yang dianggap sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa sangat berperan penting dalam mempresentasikan budaya lokal agar tidak punah dan tidak diklaim oleh negara lain.







DAFTAR PUSTAKA

Dr. Purwadi, M.Hum.Seni Pedhalangan Wayang Purwa.2007.Jakarta
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review