Senin, 10 Oktober 2011

Cerita Kampus-Kakak, I Adore You

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 10, 2011
Kali ini rasanya aku ingin menangis saja karena aku nggak tahu harus gimana tanpa kepanikanku. Hannah dan Husna sakit bareng- bareng! Aku bingung karena Husna muntah- muntah dan Hannah sakit kepala sampai- sampai dia jatuh.
Hannah memegangiku dan minta aku untuk menemaninya di masjid. Matanya merah, sepertinya otot matanya keluar dan urat- uratnya menyala di bagian putih matanya. “Sakit, Sar, pusing!” seru Hannah sambil memegangi matanya.
Sementara aku memgangi Hannah, Windy menangani Husna yang masih mual dan Windy jadi ikut- ikutan mau muntah melihat Husna muntah.
“Sar, tolongin, nih!” seru Windy.
“Sar, kamu sama aku aja. Biar Husna sama Windy, aku pusing banget, nih!” seru Hannah memegangiku erat. Tubuhnya hampir roboh tapi aku sudah siaga kalau Hannah akan jatuh lagi.
“Eh, Win, tolongin Husna. Hannah pusing banget ini!” seruku pada Windy. Sebenarnya aku nggak tega melihat Windy juga ikut mual, tapi akhirnya Windy bisa mengontrol dirinya dan membantu Husna untuk melegakan perutnya di kamar mandi.
Aku memapah Hannah dan mendudukkannya di undak- undakan dekat masjid. Aku melihat mata kanannya merah seperti api. “Kamu sejak kapan pake mata itu?” tanyaku sambil menunjuk benda hitam itu mengapung di air pembersih.
“Belum ada enam bulan kok,” kata Hannah sambil memegangi mata kanannya.
“Buruan ganti aja, mata kamu iritasi, tuh. Nggak baik dibiarin lama- lama. Masa’ iya kamu mau setiap hari iritasi?” tanyaku.
Hannah mengangguk, “Iya, besok aku ke optik, deh. Aku juga nggak betah.”
“Sarah! Sarah!” seru Windy, “Husna makin parah, nih!”
Aku melihat Husna jongkok beberapa meter di depanku dan sepertinya dia nggak tahan untuk memuntahkan sesuatu yang mengganjal di perutnya.
Aku beranjak dari dudukku dan menyuruh Hannah untuk tetap di tempatnya dan nggak bicara sama orang asing karena sebelah matanya sudah sulit untuk melihat siapa yang ada di depannya.
Aku berlari menuju warteg terdekat dan membeli teh hangat untuk Husna. Sepatuku rasanya seperti akan jebol dan pinggangku yang sedari tadi pagi pegal, rasanya akan rontok kalau aku nggak mengistirahatkannya sebentar.
Aku berlari lagi menuju Husna dan memberikan teh hangat untuknya. Di sampingnya ada Windy dan kakak tingkat yang disukai Husna. “Perhatian juga dia,” kataku di dalam hati.
“Istirahat dulu disana, yuk,” ucap Windy membujuk Husna untuk istirahat di gazebo.
Husna meminum teh hangatnya dan berdiri. Windy dan sang kakak membantu Husna berjalan, dan aku pergi menemui Hannah lagi.
“Kamu masih pusing?” tanyaku.
Hannah masih memegangi matanya, tapi nggak seperti tadi, matanya sudah lumayan nggak merah. “Gimana mataku?” tanya Hannah.
“Lumayan,” kataku.
Windy yang sudah selesai menangani Husna, karena Husna sudah banyak yang menghandle, mengajak aku dan Hannah untuk sholat maghrib dulu.
Setelah sholat, Hannah memasang lagi mata hitamnya yang membuatnya pusing. “Better than before,” katanya.
“Tapi masih pusing?” tanya Windy.
Hannah menggeleng dan mengajakku dan Windy untuk melihat keadaan Husna.
Aku duduk di samping Husna dan menanyakan apa dia masih mual atau nggak. Sementara itu, Hannah sedang berdebat dengan kakak senior yang – aku rasa – menyukainya.
Di gazebo ini pasti tambah membuat Husna mual dan pusing karena ramai kakak senior yang ikut dalam organisasi himpunan mahasiswa dan beberapa sedang merokok.
“Aku pulang sekarang aja, ya?” kata Husna dengan lemas.
“Nggak dijemput aja?” tanya Windy, “Atau mau tidur di rumahku dulu aja?”
“Tidur di rumah aku aja, kan jalan kita searah, cuma rumah kamu lebih jauh, sih. Tapi yang penting tidur di rumahku dulu aja, Na,” kataku.
Hannah yang duduk di samping kiri Husna juga menawari Husna untuk tidur semalam aja di rumahnya daripada harus pulang ke rumahnya dengan naik bus. Aku dan yang lain takut kalau dia ketiduran di bus dan malah nggak sampai rumah, bahkan aku takut kalau dia akan dijahati di bus.
Sementara aku, Windy, dan Hannah membujuk Husna untuk tidur di rumah salah satu dari kami, Nirmala membuat kami tercengang dan tertawa dengan statementnya, “Gimana kalau kamu dianter papaku aja? Papaku baru beli helikopter kemarin.”
Aku dan Windy nggak kuat menahan tawa sehingga gazebo pun mungkin akan hancur jika kami bertiga meledakkan suara tawa kami.
Husna sedikit tersenyum karena lelucon Nirmala. Lumayan, bisa membuat perutnya nggak mual dan nggak terlalu memikirkan sakitnya.
“Aku pulang sekarang aja, ya, ini?” kata Husna dengan loyo. Wajahnya pucat dan nggak bertenaga.
“Naik taxi aja, gimana?” tiba- tiba aku melontarkan pendapatku. Semuanya mengiyakan. Tapi Husna menggeleng dan berkata kalau dia tambah pusing kalau naik taxi. Entah pusing karena bau taxinya, AC dalam taxi, atau jumlah currency yang ada di  argometer di dalam taxinya.
 Mbak Mona, kakak tingkat kami, mendapat ide bagus, “Udah, pokoknya jangan naik bus! Kalau nggak bisa naik taxi, biar Bagas yang nganterin pulang.”
“Naaah, ide bagus!” seru kami semua. Kami setuju karena secara keseluruhan berita tentang Husna menyukai Mas Bagas sudah menyebar, bahkan Mas Bagas sendiri juga tahu.
“Aku nggak mau ngerepotin kalian,” kata Husna.
“Ngerepotin itu kalau kamu naik bus. Kita khawatir sama kamu, Na,” ucap Hannah.
Setelah di bujuk- bujuk, akhirnya Husna mau untuk diantar pulang oleh Mas Bagas.
Sementara Husna sudah selesei dengan bagaimana cara ia pulang, giliran aku khawatir dengan Hannah.
Hannah beranjak dari tempat duduknya dan Mas Yuda meraih tangannya, “Aku anter pulang, ya?”
Hannah menatapku sebentar dan berkata pada Mas Yuda, “Nggak mas, aku nggak apa kok.”
“Kamu kenapa, sih? Ntar kalau jatuh, loh!” katanya denganpenuh perhatian, yang lebih dari sekedar teman.
“Yakin, deh, mas. I’m okay!” kata Hannah mencoba meyakinkan Mas Yuda.
“Sekali ini aja, Han,” kata Mas Yuda dengan tatapan serius ke Hannah. Nggak ada yang menyadari mereka karena semua perhatian tertuju pada Husna. Hanya aku yang memperhatikan Hannah dengan Mas Yuda. Sesekali Hannah menatapku dengan tatapan meminta tolong.
Aku bingun apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku menarik tangan Hannah dan berkata, “Ayo pulang, yuk, aku juga sekalian mastiin Husna dari belakang, nih.”
Hannah langsung ikut denganku dan berpamitan dengan Mas Yuda, “Aku pulang dulu, ya, mas. Aku oke- oke aja, kok. Bye.”
Mas Yuda akhirnya menyerah dan melepas Hannah untuk pulang sendirian.
“Akhirnya!” seru Hannah lega, “Thanks, Sar.”
Anytime,” kataku sambil tersenyum.
“Eh, kamu beneran mau buntutin mereka? Malah ganggu mereka, nanti!” seru Hannah.
“Kasian Husna, at least sampai daerah rumahku aja aku buntutin mereka,” kataku.
Hannah melengos dan berkata, “Kalau gitu rasa laki- lakinya nggak keluar, dong.”
“Haaah, niat utamaku, kan, jagain Husna dari belakang. Bukan ngeliatin mereka berduaan, itu malah bikin aku iri, nanti,” ucapku kemudian tertawa.
“Kan ada ...piiip...!” seru Hannah kemudian tertawa girang. Aku rasa dia udah lupa dengan rasa sakitnya.
Aku dan Hannah berpisah di parkiran. Aku segera menyusul Mas Bagas dan Husna. Windy ada di belakangku, kemudian ia juga berpamitan padaku. Kami berpisah di trafficlight.
Kepala Husna yang pusing, makin pusing dengan helm yang ia pakai, tapi kalau nggak pakai helm, mereka bakal kena tilang! Husna menyandarkan kepalanya di bahu Mas Bagas dan tangan Husna dimasukkan ke saku jaket milik Mas Bagas.
Di perjalanan, sesekali Mas Bagas memegangi tangan Husna. Menjaganya agar tetap erat dan nggak jatuh. Aku yang tetap mengawasi Husna dari belakang, melihat kejadian itu membuatku ingin menagis karena iri. “Damn, dia so sweet banget!” seruku dalam hati.
Dua kali aku kehilangan mereka berdua karena jalanan yang ramai atau aku yang terlalu cepat saat mengendarai motor. Setiap kali aku menoleh ke kanan atau ke kiri, yang aku lihat malah pasangan lain, ada juga ojek dan seorang lansia, yang pasti bukan banci atau aku akan segera tancap gas cepat- cepat.
Aku akhirnya menemukan mereka. Disaat Mas Bagas mengendarai motornya dengan cepat, ia memegangi tangan Husna, dan Husna dengan masih menyandarkan kepalanya di bahu Mas Bagas, terlihat nyaman walaupun wajahnya pucat sekali.
Aku berpamitan dengan mereka saat ada celah untuk berpamitan. Aku bilang aku hanya bisa menuntun mereka sampai daerah tempat rumahku. Dan dari daerah rumahku sampai di rumah Husna, aku menyerahkan keselamatan Husna di tangan Mas Bagas.
Di saat terakhir aku berpisah dengan mereka, aku melihat dari kejauhan kalau tangan Mas Bagas masih memegangi tangan Husna dan kepala Husna masih menyandar dengan nyamannya.
Aku bisa ngerasain perasaan Husna saat itu. Ada campuran bubuk sakit, manisnya berduaan, senangnya menyandar di bahu orang yang disukai, dan nyamannya  genggaman tangan orang yang disukai.
I’m on green! Aku pernah berharap kisah seperti di TV seperti yang dirasakan Husna bisa kurasakan juga. Tapi aku cukup kuat untuk menjadi sakit! Biarlah, pasti ada kisah indah untukku yang membuat seumur hidupku mengingat hal itu. Yeah, pasti indah pada waktunya, as always.
YYY

2 komentar:

M O N I T A mengatakan...

hahaha.. kisah nyata ... :D

nupp_niput mengatakan...

hehe :) klo nggak gini, bisa pudar kenangannya :D

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review