Aku masih takut dengan kejadian kemarin sore saat Nirmala mengajak aku, Windy dan Hannah ke pesta pernikahan temannya yang ternyata berujung dengan insiden terjun bebas ke dasar jurang oleh si pengantin.
Sampai di rumah aku langsung membersihkan semua yang melekat di badanku. Dress putihku langsung ku cuci dengan tanganku sendiri dan walhasil, aku pilek karena mencuci malam- malam. Aku juga membersihkan wedges putihku dan segala pernak- pernik, dan nggak ketinggalan, aku pun mandi malam- malam agar bersih dari hawa TKP.
Aku lebih memilih pilek dan flu seperti ini dibanding melekatnya hawa TKP itu di tubuhku. Tapi sekarang aku lumayan oke kalau sudah minum air putih banyak- banyak dan tidur siang yang cukup. Ditambah dengan renang pagi ini yang membuat semua ingus di hidungku keluar. Aku sangat lega J.
Hari ini aku janjian dengan Windy untuk memakai wedges besok Senin. Entah ide gila darimana sehingga kami sepakat untuk memakai wedges.
Aku nggak terbiasa dengan wedges. Rasanya seperti aku tambah tinggi beberapa senti dan membuatku nggak percaya diri karena aku dengan rambut pendekku terasa nggak pantes bersanding dengan wedges.
Tapi kesepakatanku dengan Windy kemarin membuatku membulatkan tekad untuk memakai wedges. Aku berdo’a supaya nggak ada insiden memalukan seperti jatuh atau terpeleset, bahkan pegal- pegal karena wedges.
Aku menyiapkan semua yang kubutuhkan untuk kuliah besok. Berharap jalanan juga nggak akan terlalu macet dan nggak ketemu truk pengangkut sampah! Aku menyerah dengan baunya!
JIYSneakersJ
Aku sudah merasa nggak nyaman dengan kakiku. Rasanya miris melihat undak- undakan menuju lantai tiga yang berurutan dengan rapi. Bisakah kakiku melangkah ke atas dengan hati- hati?
Aku mendapati Windy berjalan dan berdiri di sampingku.
“Hai, Win,” sapaku dengan masih menatapi rentetan anak tangga yang menunggu untuk kulewati.
“Hai, Sar,” sapa Windy, “siap?”
Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku mengangguk dan kami berdua menaiki anak tangga dengan pelan- pelan. Memastikan bahwa nggak ada orang di belakang kami untuk lewat terlebih dulu.
Seperti barisan siput, rasanya jarak yang biasanya dekat terasa jauh, jauh sekali. Dan gedung ini terasa tinggi karena aku juga merasa lebih tinggi dari sebelumnya.
“Win, kapan sampai kalau begini?” tanyaku.
“Nggak tahu, nih. Ayo, agak cepet!” seru Windy.
Dari arah belakang aku mendapati gerombolan kakak tingkat yang hanya Windy yang dekat. Salah satu dari gerombolan itu ada yang menyukaiku. Karena dia menyukaiku, aku jadi takut padanya. Bukan karena apa, tapi aku masih menikmati menjadi mahasiswa baru dan nggak ingin ada hubungan lebih jauh dengan siapa- siapa.
“Waah, pasukan high heels!” seru kakak tingkat kepada kami.
“Ini wedges, mas, namanya,” ucap Windy agak kesal dan mulai menaiki anak tanggak menuju ke lantai tiga dengan kecepatan bertambah.
Aku berteriak dalam hati memanggil Windy, tapi Windy terus melangkah dan membuatku untuk mengejarnya lebih cepat. Aku meraih tasnya dan berkata, “Tunggu!”
Tapi entah kenapa keseimbanganku goyah dan membuat kami jatuh dan kaki kami keseleo.
Kakak tingkat yang ada di belakang kami membantu kami berdiri dan dengan sengaja mengejek kami. Membuat lelucon tentang bagaimana kami terjatuh.
Rasanya aku ingin menangis karena satu, kakiku sakit sekali ketika jatuh dan sempat di duduki Windy. Dua, aku malu karena kami sok- sokan memakai wedges ke kampus, dan saat jatuh, ada gerombolan kakak tingkat yang melihat kami. Tiga, aku malu untuk melanjutkan ke lantai tiga dan mendapat teman- temanku menertawai kami seperti kakak tingkat itu.
Aku melihat Windy sudah mengeluarkan air mata. Ia dipapah oleh kakak tingkat yang ia sukai. Dan untungnya aku nggak dipapah oleh kakak tingkat yang menyukaiku.
Sampai di lantai tiga, aku bertemu dengan Satya dan dia merespon dengan shock. “Loh, kamu kenapa, Sar?” tanyanya cemas.
“Jatuh,” ucapku sambil malu- malu dan menahan sakit, “di bawah situ.”
“Trus, itu kenapa sepatumu nggak dipakai?” tanya Satya sambil menunjuk ke arah wedgesku.
“Gara- gara ini aku sama Windy jadi jatuh,” ucapku sambil manyun.
Satya meraih sepatuku dan menggandengku menuju kelas, “Makanya, hati- hati, dong, kalau kamu mau pakai wedges begini.”
“Kok kamu malah nasehatinnya gitu?” tanyaku.
Satya mengerutkan dahinya, “Emang harusnya gimana?”
“Kenapa nggak bilang ‘Besok lagi jangan pakai wedges kalau nggak sanggup’, gitu,” kataku.
Satya tertawa sesaat dan berkomentar, “Pakai wedges itu sebuah pilihan sama sebuah hak. Aku ataupun kamu sendiri nggak punya kewajiban buat ngelarang pakai wedges apa enggak. Kalau sekarang belum bisa, besok pasti bisa.”
“Ceileh, quotes darimana?” tanyaku menyindir.
“Kalau deket kamu, otakku main terus, nih!” serunya kemudian tertawa.
Aku hampir melambung karena gombalannya, tapi aku menganggapnya hanya bercandaan karena semua teman. Dan kalaupun ada rasa, biar ini jadi rahasia dan wedgesku yang jadi saksi bisunya.
JIYSneakersJ
0 komentar:
Posting Komentar