Senin, 17 Oktober 2011

Cerita Kampus-The Confession

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 17, 2011
“Bodoh! Bodoh!” aku mengguncangkan kepalaku berkali- kali dan memandang wajahku yang terlihat tanpa dosa di depan cermin.
Insiden tadi siang masih membekas dan teringat selalu. Aku takut, aku sedih, dan aku bimbang.
Cowok yang empat tahun lamanya kusuka dan kuelu- elu, akhirnya membalas perasaanku dan menyatakannya tadi siang. Cewek normal akan bilang ‘iya’ kalo ada cowok yang ia suka menyatakan perasaannya. tapi bukan aku. Aku normal, tapi bilang ‘nggak’. Apa yang salah? Aku membodoh- bodohkan diriku.
Nggak! Nggak! Nggak! Aku pintar dengan nggak menerimanya. Sebesar apapun aku menyukainya, selama aku menyukainya, aku punya prinsip yang harus kupegang dan prinsip itu adalah nggak pacaran!
Mami melarangku buat pacaran, dan aku juga sedang nggak ada hasrat untuk menjalin dan perhatian dengan orang lain. Aku hanya nggak mau menyakiti diri sendiri dan dia kalo kami menjalin hubungan.
Aku masih ingat betul detail- detail kejadian tadi siang. Rasanya malu untuk diingat, tapi otakku mengikuti alur kejadian tadi siang dengan sendirinya.
Setelah sholat dzuhur, aku dan Windy berpisah di masjid. Dengan segala ketakutan yang nggak jelas dan perasaan campur aduk, aku memberanikan melangkah menuju warteg tempat kami janji untuk bertemu.
Alasan kenapa aku memilih warteg padahal ia mengajakku ke depot makan yang lebih asik dan lebih oke untuk menyatakan perasaan, adalah karena aku tahu sekali bahwa ia akan menyatakan perasaannya padaku dan aku nggak akan menerimanya alias menolaknya.
Kalo dipikir- pikir, empat tahun itu waktu yang lama untuk bertahan dalam menyukai seseorang. Terlebih lagi, banyak nilai plus dari dia yang patutnya nggak aku tolak. Tapi ini keputusan hati, guys. Aku tahu apa yang aku butuhkan, bukan aku inginkan.
Nilai plus dari dia yang aku lihat antaralain ibadahnya yang rajin. Sholat dan puasa seperti genggamannya. Dia juga nggak merokok, itu poin yang aku suka dan membuatku cukup mempertahankan perasaan ini. Dan nilai plus lebih yang Allah berikan adalah wajah gantengnya melebihi tujuh lautan, tujuh samudra, dan tujuh keajaiban dunia. Alay!
Aku dan dia duduk berhadapan. Aura warteg ini berubah menjadi serba pink dan membuatku grogi. Matanya udah terlihat senang saat bertemu denganku. Padahal dari lubuk hati aku sungguh- sungguh ingin beranjak dari tempat itu. Aku nggak ingin berlama- lama dengan keadaan terjepit seperti ini. Terjepit perasaan.
Dia tersenyum dan menyapaku. Seperti biasa, menanyakan kabar satu sama lain. Juga menanyakan kabar tentang teman- temanku. Hal baik untuk memulai sebuah pembicaraan berat, tapi aku ingin ini segera berlalu dengan cepat.
Sial! Aku merasa lemah saat dia mencoba menatap mataku dan aku menoleh kesana kesini untuk menghindari tatapannya. Aku tahu ini salah, tapi aku benar- benar nggak bisa.
Pembicaraan sudah mulai menuju ke arah yang semestinya. Aku semakin takut untuk meneruskan ini, tapi semakin dekat semakin cepat berlalu.
“Mas, aku udah ditunggu temenku. Kasihan dia, dia harus pulang cepat ini,” ucapku bohong walaupun Windy memang sedang menungguku.
“Temennya mau ngapain?” tanyanya mencoba menahanku untuk tetap disitu.
“Dia mau belajar,” ucapku dengan nada meyakinkan, “sebentar lagi kan ujian tengah semester, dia belum ada persiapan, dia belum mudeng sama apa yang tadi dipelajari, makanya minta tolong aku buat ngajarin dia.”
“Waah, anak sibuk sekarang,” pujinya sambil tertawa.
Aku menjawab santai tapi sedikit membosankan, “Nggak juga, ah, mas.”
“Tapi nanti balik kesini lagi, kan?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng, “Maaf mas.”
Ia mulai lagi mencuri- curi mataku untuk dipandang dan aku dengan sigap mengelah.
“Tunggu sebentar, mas belum confess, kayak janjinya mas,” katanya sambil meraih tanganku dan lebih mendekatkan kursinya.
“Apa mas?” tanyaku sedikit penasaran padahal aku udah tau apa yang akan dia ucapkan, hanya saja aku ingin dengar dari mulutnya sendiri.
“Mas suka Sarah,” ucapnya sambil masih menggenggam tanganku.
Aku tersenyum dan salah tingkah, “Umm, aku benda, ya? Pake disuka- suka segala.”
“Seriusan,” ucapnya dengan tatapan serius. Aku benci hal ini karena dalam suasana seperti ini membuatku mual dan ingin menangis.
“Dari kapan?” tanyaku sambil melepas genggaman tangan darinya.
Tangannya masih mencari tanganku untuk digenggam, tapi aku menarik tanganku dan kupangku. “Udah lama kok,” jawabnya singkat.
Dark bilang orang bohong itu bola matanya terlihat mengecil dan aku melihat itu dari matanya. “Bohong, deh. Lamanya tuh kapan?” tanyaku memastikan.
“Loh? Siapa yang tahu? Siapa yang ngerasain?” tanyanya balik menyerangku.
“Lah iya, tapi udah berapa lama? Sebelum pacaran sama mbak Inez?” tanyaku guessing.
“Yaa, sekitar itulah,” jawabnya.
Aku merasa aneh, rasanya dia bohong. Hanya ingin meyakinkanku kalo dia patut untuk jadi pacarku karena udah menyukaiku sejak lama.
“Kenapa nggak bilang dari dulu mas?” tanyaku.
Kalo aku tahu dari dulu, mungkin aku nggak akan pacaran dengan orang lain dan tetap menunggunya. Dan aku juga menyukainya lebih lama dibanding dia menyukaiku.
“Tapi aku nggak enak sama Lina, mas. Dia temen dekatku waktu SMA. Sikap dia ketus banget kalo sama aku sekarang ini, entah karena dia tahu mas suka aku atau apa, tapi pandangannya nggak enak sama aku,” ujarku resah.
“Iya juga, sih, tapi itu udah lama. Dulu dia salah paham sama mas, jadinya waktu putus kesan nggak baik muncul. Tapi sekarang 100% temenan kok,” ujarnya mencoba meyakinkanku.
“Mas,” kataku, “kita nggak tahu apa Lina masih suka atau nggak sama mas. Yang jelas itu risih banget kalo aku ada apa- apa sama mas. Aku cuma nggak mau bikin nggak nyaman antara aku, mas, dan Lina. Dia masa lalu bagi mas, tapi bagiku dia masa lalu, sekarang, dan masa depan. Aku nggak tahu ,entah kapan itu, apakah besok aku butuh Lina sebagai apa.”
“Kenapa jadi ngomongin Lina, sih?” tanyanya dengan nada bete.
“Aku cuma mau bikin ini semua jelas aja kok mas, aku nggak mau ada kejadian nggak enak aja,” kataku, “yadah, ya, mas. Aku harus balik, kasihan temenku.”
Ketika aku bangkit, dia meraih tanganku lagi dan bertanya, “Jadinya enggak, nih?”
“Maksud mas?” tanyaku sambil melepas genggamannya dengan pelan.
Dia tersenyum dan menggeleng, “Cuma confession aja, kok, ya? Ya udah, makasih, ya.”
Aku tersenyum dan pamit pergi. Hingga aku nggak terlihat olehnya, aku berlari dan berpikir tentang kebohongannya. Aku takut ia hanya berpura- pura. Karena sebelum aku pernah cerita pada sepupu jauhnya bahwa aku menyukainya udah empat tahun ini. Aku takut ia mencoba menyamai selama apa aku menyukainya.
Aku berpikir bahwa berapa lama, berapa besar, dan sebanyak apa rasa suka yang ia beri belum cukup bisa membuat orangtuaku, bahkan keluargaku yang lain, setuju dengannya.
Prinsipku tetap aku pegang dan nggak mau aku lepas, karena dengan apapun dan demi apa pun aku nggak akan melewatkan proses menuju bahagiaku kelak, walaupun nggak bersama dia.
Yaa, bodoh- bodoh- pintar aja. Bodoh jika aku berpikir gegabah, bodoh jika aku merusak prinsipku, dan aku sangat pintar bahwa aku berhasil mengalahkan rasa ingin memilikiku.
Aku yakin, ulat akan jadi kupu- kupu yang indah dengan melawati proses yang lama dan kadang menyakitkan karena harus berkorban.
YYY
Lots of loves, niput

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review