Selasa, 26 Juni 2012

Pop Corn - CUPU!

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Juni 26, 2012 0 komentar

Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku menarik. Dan aku sadar betul dengan diriku ini. Jika dulu semua temanku mengejekku karena aku NOL dan aku nggak menarik, sekarang mereka menelan ludah mereka sendiri dengan berebut untuk dekat denganku. Tapi, dalam hati kecilku, diriku yang dibangga- banggakan dan dielu- elukan ini membuatku terhanyut dalam kesombongan dan aku malah senang menjadi seperti ini.
“Ilana, hidupmu sekarang sudah berubah!” seruku. Aku menutup binderku yang isinya foto- fotoku saat SMP. Sangat cupu, nggak gaul, dan malu- maluin. Kusimpan binder itu di laci kamar dan kukunci rapat, setelah itu aku berangkat ke sekolah.
Sekolahku memang bukan sekolah elit. Nggak semua teman- temanku tajir dan gaul. Tapi sekolah ini menjadi keren karena ada ‘The Fairies’. Mereka bukanlah sekelompok orang dalam satu band, atau grup vionist, dan juga bukan sekelompok orang yang menjadi satu dalam anggota pengurus OSIS. The Fairies adalah aku dan teman- temanku. Fika, Amanda, aku sendiri, Rosa, dan Yesi. Masing- masing dari kami memang cantik dan memiliki keunggulan masing- masing.
Berawal dari mantan pacar Rosa, Diggo, yang sering mengumpulkan cewek- cewek cantik menurut listnya dan mengajak untuk makan siang bersama. Kami berlima adalah salah satunya. Karena sering bertemu saat diajak makan siang oleh Diggo, akhirnya kami menjadi kenal dan dekat, lalu kami memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok karena kecantikan kami.
Memang terdengar sombong, tapi inilah kami, kami hanya sedang menikmati anu-grah yang diberikan Tuhan pada kami lewat kecantikan kami.
Aku turun dari kendaraanku dan menuju ke kantin dimana teman- temanku sedang sarapan disana. Aku mendekati mereka dan langsung nimbrung dengan obrolan mereka.
“Hei, baru aja datang?” tanya Fika.
Aku mengangguk dan bertanya, “Dimana Rosa?”
Teman- temanku celingkukan mencari Rosa. Kemudian Amanda menunjuk ke arah belakangku dan berseru, “Rosa!”
Rosa datang setengah berlari. Ia ketawa- ketiwi, sepertinya ada gosip yang siap ia ceritakan pada kami. Rosa kemudian duduk sambil terengah- engah. Ia merebut minuman yang masih diminum Fika.
“Eh eh eh!” seru Fika nggak rela minumnya direbut Rosa.
“Tunggu deh, kamu kenapa, Ros?” tanyaku.
“Kayaknya ada berita baru, nih, share dong,” pinta Yesi mendekatkan dirinya ke arah Rosa. Kami pun saling menempelkan badan kami ke Rosa untuk mendengarkan ceritanya.
Rosa menggoda kami dengan mengulur- ulur waktu unuk bercerita, setelah ia mengatur nafas, ia berkata, “Ada anak baru!”
“Hah?!” seru Yesi.
“Cowok?” tanyaku spontan.
“Ganteng?” tanya Fika penasaran.
“Tajir?” tanya Amanda dan sifat matrenya keluar.
“Cowok, tapi cupu banget, sumpah!” seru Rosa.
Mendengar kata ‘cupu’, aku jadi flashback ke zaman aku SMP dulu. Cupu dan banyak orang yang nggak mau berteman denganku, kecuali satu, Kirana. Aku nggak fokus dengan apa yang dibilang Rosa karena otakku langsung down saat kata ‘cupu’ diucapkan, seperti mantra pembeku.
“Setuju!” seru mereka.
“Apanya?” tanyaku.
“Aah, lemot amat, sih!” seru Yesi, “Udah, nanti aku kasih tahu di kelas.”
Bel masuk jam pertama berbunyi dan kami langsung berhambur ke kelas masing- masing.
Aku satu kelas dengan Yesi, ia juga duduk di bangku sebelahku. Saat pelajaran akan dimulai, Mrs. Elsa memperkenalkan murid baru yang memang benar- benar cupu. Satu yang keren dari laki- laki itu adalah jam tangannya.
“Hai, namaku Fadzan Putra Ghandi, panggil saja Putra. Aku pindahan dari Bogor. Senang ketemu kalian disini, semoga kita bisa jadi teman baik,” ujarnya.
Your wish,” ucap Yesi lirih kepadaku. Kami saling ketawa. Mataku tertuju dari ujung atas sampai ujung bawah dan benar aja, hanya jam tangannya yang keren.
–––
Saat istirahat tiba, Yesi nerocos melulu tentang Putra dan teman- temanku yang lainnya berasa haus dengan cerita itu sehingga Yesi menceritakannya lagi dan lagi.
“Yaudah! Buruan kita jalanin misi kita!” seru Rosa.
“Misi apaan?” tanyaku penasaran.
Amanda berkata, “Yang tadi pagi itu loh. Kamu, sih, ngelamun melulu, jadi lemot, deh!”
Fika menegur kami untuk diam. Kemudian ia mengocok lima kertas yang tergulung yang di dalamnya berisi nama- nama kami. Fika melepaskan satu gulungan dari kocokannya dan keluarlah sebuah nama. “Ilana!”
Aku bingung sementara teman- temanku terkejut dan langsung tertawa bersama. Tertawa mereka sangat girang. Aku meminta Yesi untuk menjelaskan ke padaku dan akhirnya aku tahu apa yang mereka tertawakan. Aku harus menjalani sebuah misi untuk mendekati si cupu Putra dengan kecantikanku dan harus bisa berkencan dengannya. Aku hanya diberi waktu selama dua hari untuk misi ini.
“Kalian benar- benar tega!” seruku. Nggak ada yang lucu dalam kalimatku, tapi mereka semua tertawa mengejekku.
–––
Hari ini juga aku menjalankan misi aneh di dunia ini, dan aku harap nggak masuk ke acara salah satu program tv dengan judul “7 misi teraneh di dunia”.
Pertama, aku harus tahu bidang yang sangat Putra geluti. Dan mudah saja, aku langsung menemukannya saat aku memohon pada Tuhan untuk menunjukkannya. Putra sangat ahli dalam mata pelajaran kimia. Pelajaran yang aku juga suka.
Saat istirahat kedua, aku mendekati Putra yang ternyata sudah dikerumuni oleh teman- teman laki- laki. Coba pikir, siapa teman- teman perempuanku yang mau mende-katinya? Yaah, kecuali aku, jika dilihat dari sisi kasusku, misiku!
Aku melewati kerumunan teman- temanku dan duduk di samping Putra. Semua teman- temanku menatap kepadaku dan mulai menggosipkan aku. Aku maklum saja, aku kan cantik.
Aku berpura- pura nggak mengerti dengan mata pelajaran yang dijelaskan guruku tadi dan meminta Putra untuk menjelaskannya padaku. Matanya memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin ia takjub karena didatangi oleh peri cantik sepertiku. Tangannya gemetaran saat mulai menjelaskan padaku. Aku juga bisa mendengar suaranya bergetar. Aku rasanya ingin tertawa.
Dari arah tempat dudukku, The Fairies sedang mengamatiku dan berdecak kagum. Satu langkah dalam misi sudah terlaksanakan, dan itu berhasil.
Aku meminta nomor ponsel Putra dengan dalih untuk bertanya tentang mata pelajaran yang lain. Semua temanku kaget dan tercengang karena nggak sembarangan orang bisa mengetahui nomor ponselku. Saat Putra memberikan nomornya padaku, aku miss call ponselnya dan berbisik genit, “Jangan berikan nomorku pada orang lain, ini hanya buat kamu. Oke?”
Putra mengangguk tegang. Kemudian terdengar bel masuk berbunyi. Aku segera kembali ke bangkuku dan menceritakan hal tadi kepada Yesi.
–––
Siapa yang benar- benar ingin sms Putra? Ini hanya misi dan ternyata memang Putra adalah sasaran empuk. Ia mudah saja kukelabui, walau nyatanya teman- temanku yang laki- laki juga akan begitu saat kukelabui.
Kenapa orang cupu begitu sangat lemah dan terpedaya? Polos dan nggak berani menentang. Mudah saja ditipu. Seperti aku hanya menjentikkan jari dengan genit, kemudian korbanku terpanah asmara.
Semalaman ini aku memikirkan cara tepat untuk mengajaknya berkencan. Tempat yang pas untuk orang seperti dia. Kalau aku, sih, bisa menyesuaikan. Kenapa kencan harus berada di tempat yang romantis? Apa sebenarnya kencan itu? Yang ada dalam pikiranku selama ini, kencan adalah sepasang muda- mudi yang sedang kasmaran dan duduk di kafe sambil bercerita tentang pribadi masing- masing.
Aku berpikir sejenak dan mendapat ide saat kupandangi puluhan novel yang ada di rak bukuku. “Toko buku!”
Aku buru- buru menelepon Putra dan mengajaknya ke toko buku untuk memban-tuku memilih buku pendamping siswa dalam menghadapi ujian. Memang terdengar aneh bagi Putra karena ujian masih sangat lama, tapi kuberikan alasan logis agar ia benar- benar mau menemaniku.
Well, sekali lagi Putra masuk ke dalam lubang yang kugali. Siang setelah pulang sekolah, aku dan Putra jalan bersama menuju parkiran. Aku sadar hal ini banyak mengundang orang- orang untuk bergosip, tapi demi misi persahabatan, aku rela sehari ini menjadi seekor keledai dungu.
Dengan cepat aku mengendarai motorku menuju toko buku dekat kedai kopi langgananku. Aku nggak harus lama menunggu Putra untuk menyusulku, ternyata bisa juga ia ngebut.
Tanpa basa- basi kami memasuki toko buku dan aku berhambur ke rak novel. “Ternyata kamu juga suka baca, ya?” tanya Putra heran.
Aku tertawa sebentar dan menjawab, “Kamu kira hanya orang cu–”
“Cupu?” tanyanya, “Kenapa nggak diteruskan?”
Aku langsung mengalihkan wajahku ke rak bagian lain, aku takut Putra tahu bahwa aku mendekatinya karena misi yang diberikan teman- temanku. Aku takut bahwa penipuan yang kulakukan ini bisa ia ungkap.
Aku mengambil salah satu novel yang berjudul Antara Sela- Sela Jemari Kita karya Sulaiman Ghandi. Judulnya sangat nggak kumengerti, tapi covernya bagus. Nggak munafik, deh, semua orang selalu menilai dari covernya, baru isinya.
Kubuka lembar halaman persembahan dan menemukan nama Putra ada disana. “Putra,” panggilku dan ia menghampiriku, “ini ayahmu? Ini karya ayahmu?”
Putra tersenyum dan mengangguk. Aku takjub dengan ini. Ternyata ayahnya adalah penulis. Aku memutuskan untuk membeli novel itu dan penasaran untuk segera membacanya, nggak lupa juga aku membeli buku kumpulan soal ujian sebagai alibiku.
Setelah puas berada di toko buku, Putra mengajakku untuk membeli kopi di kedai langgananku. Awalnya aku agak risih, aku nggak mau ada salah seorang teman gaulku yang melihatku bersama Putra. Ya ampun, dunia berasa menumpahkan semua esnya di kepalaku!
“Ayolah, aku yang traktir, deh,” pinta Putra.
Akhirnya aku menuruti kemauannya dan duduk di tempat yang jauh dari jangkauan publik. Tempat paling pojok dan benar saja, nggak mudah semua orang bisa menjangkau ke arah kami.
“Ternyata kamu doyan sepi juga, ya?” tanya Putra.
“Ah, nggak juga kok. Nggak tahu kenapa kalau aku pegang buku rasanya pengen menyendiri aja,” ucapku bohong. Padahal, dimana aja dan kapan aja aku bisa membaca buku.
“Aku takjub ada perempuan kayak kamu di sekolah baruku,” ujarnya.
Aku menghiraukan ucapannya dan nggak merespon, aku hanya memandangnya dan ingin mendengarkan apa yang mau ia katakan lagi.
Kali ini ia nggak setegang kemarin. Dengan lugas ia berkata ini itu, “Aku kira orang secantik kamu pasti pilih- pilih teman dan nggak mau berteman sama orang seperti aku. Ternyata kamu beda. Kamu supel, mau bergaul sama siapa aja.”
Aku merasa seperti terhunus pedang. Ia mengatakan sifat asliku tapi ia percaya bahwa aku benar- benar perempuan baik, supel, dan nggak sombong. “Masa’, sih?” tanyaku.
“Buktinya ini,” katanya, “kamu mau ngajak aku ke toko buku dan kamu mau kuajak ke kedai. Nggak semua orang kayak kamu di sekolah mau kuajak pergi ke kedai seperti ini. Mereka pasti gengsi dan berpikir kalau orang seperti aku nggak pantas buat diajak bergaul.”
“Jadi, itu pandanganmu? Ada yang lain lagi?” tanyaku penasaran. Hatiku panas kalau sampai ia tahu bahwa sebenarnya aku adalah orang yang berpikir begitu.
“Aku kira kamu malu pergi ke kedai bersamaku,” ucapnya lagi, “tapi kamu ternyata enggak. Aku kira kamu malu dan memilih untuk duduk di tempat pojok begini. Aku berusaha positive thinking dan ternyata itu benar. Kamu suka tempat sepi dan nggak ramai saat ada novel di tanganmu.”
Wow. Ini benar- benar wow! Apakah ia dukun? Dia membaca setiap perilakuku. Aku memilih target yang salah. Prasangka Putra memang benar, semuanya benar. Tapi ia mengesampingkan negative thinkingnya dan mengedepankan pikiran positif. Andai saja Putra adalah orang yang berani berasumsi buruk, mungkin kami nggak akan pernah jalan bareng seperti ini.
“Sebenarnya dulu aku juga kayak begitu,” kataku mulai bercerita, “aku malah nggak punya teman sama sekali, kecuali satu, sih. Dia memandangku dengan sisi yang berbeda, padahal kebanyakan semua temanku mengejekku ‘cupu- cupu’. Sampai sekarang aku penasaran, dari sisi yang mana ia melihatku.”
“Sebenarnya temanmu itu benar. Semua orang terlahir secara istimewa. Yang membuatnya berbeda adalah cara mereka terlihat istimewa. Ada yang agresif dan mengumbar keistimewaan mereka, contohnya anak- anak gaul. Tapi, ada juga yang menjaga keistimewaan mereka, contohnya anak cupu. Siapa yang tahu dibalik kaca mata tebalnya, kancing yang sampai menekak lehernya, atau rambut klimisnya, mereka mempunyai sesuatu yang menakjubkan yang masih terpendam?” ujarnya panjang lebar.
Aku yakin pandangannya seperti itu adalah warisan dari ayahnya yang seorang penulis. Aku berdecak kagum dalam hati. Ya, siapa yang tahu bahwa aku yang cupu dulu, nggak punya banyak teman, dan selalu tertindas, ternyata aku memiliki sesuatu yang menakjubkan. Dibalik rok SMP lima senti di bawah lutut, kancing menekak leher, dan kaca mata tebal, aku sangatlah cantik sampai- sampai semua orang ingin dekat denganku sekarang.
“Ya, siapa yang tahu?” tanyaku tanpa memerlukan jawaban.
“Jadi, dimana kacamatamu?” tanya Putra.
Aku mengeluarkan sebuah kacamata tebal dari tasku dan memakainya, “Aku terlihat cupu?”
Putra tertawa terbahak- bahak, “Sama sekali enggak. Kamu tetap cantik!”
Aku tersipu dan kami tertawa bersama.
–––

Cerita Kampus - Ibu Menangis

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Juni 26, 2012 0 komentar

Aku berjalan di belakang ibuku sesampainya turun dari mobil. Aku melambaikan tangan kepada ayah dan kakakku yang kemudian mereka melesat menuju sekolah kakakku, kemudian kantor ayah.
Ibu tidak lagi menggandeng tanganku saat masuk ke sekolah. Selain karena aku sudah kelas IV, aku juga malu jika teman- teman mengejekku karena ibuku adalah guruku. Inilah sebagian kecil resiko jika punya ibu yang tidak lain tidak bukan juga guru di sekolah. Tapi aku bersyukur karena ibuku mengajar kelas I sampai VI A, sedangkan aku kelas IV D.
Banyak orang mengira bahwa aku bisa ranking tiga besar di kelas karena dibantu oleh ibuku dengan cara curang. Menurutku, itu penghakiman yang tidak adil karena sama sekali ibuku tidak pernah mengajarkanku perbuatan curang. Selain harus menjaga nama baik ibu dan reputasi, aku harus menjaga nama baikku sendiri karena aku juga tidak mau dicap sebagai anak curang! Dan aku pikir, mereka hanya orang awam yang tidak mau berusaha menjadi pintar jika pekerjaan mereka hanya menggunjingkanku sebagai anak yang curang.
“Selamat pagi, Bu Olive,” sapa Kana, teman sebangkuku, kemudian ia menyapaku, “halo Yasmin!”
Ibuku hanya tersenyum dan mengelus pipinya. Ibu selalu melakukan hal itu padaku dan kakakku juga pada teman- teman kami. Tanpa ada maksud, tetapi orang lain melihat itu seperti menganak-emaskan.
“Halo,” sapaku, “sudah buat tugasnya?”
Ibuku berlalu menuju ruang guru saat aku menggandeng tangan Kana dan berjalan menuju kelas. Kana memperhatikan jalan ibuku sampai agak jauh dan menjawab, “Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan ke kamu. Kalau tidak salah nomor 11, bagiku itu rumit.”
“Aaah, iya, iya, aku tahu. Soal nomor 11 memang sulit!” seruku sambil menepuk jidat lumayan keras.
Tiba- tiba, sebelum Kana merespon aksiku, suara sombong yang khas terdengar dari belakang kami, menimpali ucapanku, “Aduuh, sulit, ya? Kan, bisa tanya mama. Atau, bisa aja dibuatin sama mamanya!”
“Mama, mama, eh, ibu, ibu, bikinin PR-ku, dong, ibu kan guru di sekolah, juga guru di rumah,” seru seorang lagi yang menirukan gayaku berbicara.
Aku hanya menghela nafas dan mengajak Kana berlalu. Biasanya, dalam adegan seperti ini aku sebagai pihak yang disakiti akan merespon dengan serangan pukulan di wajah lawan, tapi nyatanya Kanalah yang sudah siap untuk menendang Luisa dan Putri.
“Kenapa dia selalu berpikiran jelek tentang kamu?!” seru Kana sambil menghentakkan kaki cukup keras karena jengkel.
“Kata ibuku, mereka cuman nggak tahu gimana mau bergaul sama anak seorang guru, makanya ibu makasih banget sama kamu, sama temen- temen sekelas yang mau temenan sama aku,” ucapku sambil mengelus tasnya untuk menenangkannya.
Kana tersenyum mendengar pujianku, ia kemudian bernafas lega, dan kami masuk ke kelas untuk siap belajar.
???
“Belajar bareng, yuk, aku mau sukses buat ujian akhir besok!” seru Surya saat kami sedang makan siang di dalam kelas.
“Iya, aku juga setuju!” seru Huda, “Aku masih kurang di pelajaran Bahasa Inggris.”
“Kita belajar sama mamanya Yasmin gimana?” tanya Rena memberi usul.
Secara refleks, aku menyilangkan tanganku sambil mencoba menelan makanan yang ada di mulutku.
“Kenapa?!” protes teman- temanku.
Setelah cukup susah menelan tanpa mengunyah, aku menjelaskan alasanku panjang lebar. Sedikit perdebatan antara jangan memikirkan apa kata orang dengan kebutuhan kami sebagai pelajar.
“Kita bisa minta Bu Tyas buat kelas tambahan,” saranku.
“Tapi bosan!” seru Jeffri, “Kata kakakku yang pernah diajar sama Bu Olive, dia sama temen- temennya langsung mengerti. Masa’ sih cuman karena omongan orang, kita jadi nggak boleh les sama Bu Olive?”
Aku diam dan berpikir sejenak, apa yang harus dan tidak harus kulakukan rasanya seperti beda tipis. Aku menghela nafas panjang dan berkata, “Aku coba diskusi dengan Ibuku dulu, ya?”
“Yes!!” seru teman- temanku yang lain dengan gembira.
“Tapi tolong, jangan hanya dari kelas kita, ya, maksudku supaya tidak membuat orang- orang lebih benci atau iri padaku,” kataku memotong kegembiraan mereka.
Mereka mengacungkan jempol dan melanjutkan makan siang dengan obrolan- obrolan ringan seputar kartun yang ditonton kemarin sore atau komik yang baru saja dibeli.
???
Pagi berikutnya, aku sudah ditodong oleh teman- temanku mengenai keputusan untuk belajar bersama pra ujian akhir sekolah.
“Maaf, ya, aku sudah berusaha meyakinkan ibuku. Tadi malam kami juga diskusi bersama ayah dan kakak. Dan...,” aku sengaja memotong perkataanku.
“Dan?” mereka mendekatkan wajah mereka ke wajahku dan ekspresi penasaran mereka sangat alami.
“Dan,” kataku melambat, “ibuku mau.”
Mereka diam sejenak dan kemudian saling pandang. Kana berkata, “Bu Olive mau.”
Serentak teman- temanku berteriak senang, mereka berjingkrak- jingkrak, dan melompat sambil berpelukan bersama.
“Oke, setelah ini aku akan kasih tahu teman- teman dari kelas lain!” seru Jeffri selaku ketua kelas.
“Dan juga, ibuku minta untuk bukan hanya pelajarannya saja, tapi juga yang lain,” kataku.
“Itu bisa diatur,” jawab Kana sambil mengelus punggungku.
Mulai dari hari ini kami belajar tekun untuk ujian. Hari besok ibu mulai memberi tambahan pelajaran untuk kami. Rupanya Jeffri membawa cukup banyak orang dari kelas lain, itu membuat kami lebih semangat belajar.
Berita tentang tambahan pelajaran sampai ke telinga Luisa dan Putri, seperti biasa, mereka menghardik dan menghakimiku dengan alasan yang sama, dan bahkan lebih kejam.
Putri berseru, “Belajar? Les? Apa itu beneran? Bisa aja si Yasmin ngajak temen- temen biar nggak cuman dia aja yang dikasih kunci jawaban ujian!”
“Yaah, bahasa detektifnya alibi!” seru Luisa juga.
Aku mendekati mereka yang sengaja mengucapkan hal itu keras- keras. Aku berkata dengan sopan demi menjaga nama baikku dan ibuku di sekolah ini, “Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh ikut kami belajar bareng, ini untuk umum kok.”
Sorry, ya, kita- kita anti sama hal curang!” seru Putri yang kemudian langsung pergi bersama Luisa. Mereka terkekeh saat berjalan bersama seolah menertawakan ajakanku.
Aku pikir- pikir, mereka itu kurang kerjaan, selalu saja membuat berita- berita tidak penting tentangku dan ibuku, contohnya baru saja. Aku harap mereka bisa mendapatkan sesuatu yang membuat mereka sadar bahwa mereka memandang sebelah mata terhadapku dan ibuku.
Aku bertanya lirih, “Kenapa semua orang bisa menerimaku dan mereka tidak?”
???
Aku terbangun di tengah tidurku malam ini. Aku melirik ke jam dinding dan menunjukkan masih jam setengah 11 malam. Karena haus, aku turun ke lantai 1  menuju dapur.
Saat aku menuruni anak tangga, aku melihat cahaya televisi masih menyala dari kamar orangtuaku melalui ventilasi di atas pintu. Samar- samar aku mendengar suara ibuku menangis dan ayah menenangkan ibuku. Karena penasaran, aku mendekat dan menguping.
“Yah, aku sudah ndak sanggup, sudah cukup aku mengajar di sekolah itu. Walaupun ayah sudah bilang aku harus bertanggungjawab, aku juga sudah bertanggungjawab atas mereka berdua. Terakhir kali, ya tadi itu, orangtua mereka datang ke kantor kepala sekolah dan mengadukan kalau aku tidak becus mengajar dan mendidik anak mereka.
“Aku kurang apa, yah? Mereka sudah aku berikan ilmu yang kupunya. Setelah selesai menerangkan aku langsung bertanya pada mereka bagian mana yang belum dimengerti, kalau mereka bilang sudah mengerti aku langsung memberikan soal latihan. Aku kurang apa, yah, kok bisa dibilang tidak bertanggungjawab, bahkan tidak berdedikasi!” seru ibu meminta pengertian dan menanyakan pertanyaan yang ayahku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ibu terisak- isak dan nafasnya tidak beraturan.
Aku sangat penasaran mengapa ibu sampai menangis, bahkan aku tidak merasa ternyata aku juga ikut menangis. Aku mendekatkan telingaku lagi di pintu dan mendengarkan lagi.
“Aku sudah lulus S2 dan tinggal menunggu panggilan dari universitas untuk mengajar disana. Kalau ayah mengizinkan, setelah ujian akhir ini aku mau keluar dari pekerjaanku,” pinta ibuku.
Ayah menjawab dengan nada bijaksana, “Lalu kamu meninggalkan tanggungjawabmu terhadap Putri dan Luisa? Mereka teman Yasmin, loh, bu.”
“Yasmin selalu dicela mereka, yah. Lebih baik aku segera keluar dari sekolah itu supaya Yasmin tidak dikata ‘anak curang’ lagi,” ucap ibuku sambil terisak- isak.
“Tapi paling tidak ayah tidak mau mereka semakin berpikir bahwa ibu tidak bertanggungjawab dengan meninggalkan sekolah tanpa membantu Putri dan Luisa,” saran ayah dngan nada bijaksana.
Aku meninggalkan pintu dan berjalan menuju kamarku. Rasa hausku hilang dan giliranku mencerna obrolan ayah dan ibu barusan. Aku mengerjapkan mataku sambil menatap kosong di langit- langit atap. Aku betul- betul memikirkan dan membayangkan apa yang ternyata sudah dilakukan ibuku untuk membantu nilai Putri dan Luisa di sekolah. Untuk kali ini, mereka sudah keterlaluan. Aku tidak apa- apa jika mereka mengataiku atau mencelaku, tapi jangan sampai membuat menangis ibuku.
???
Keadaan berjalan buruk antara aku dan duo menyebalkan. Aku tidak pernah berkata kasar pada mereka, tapi setelah mengetahui mereka membuat ibuku menangis, aku tidak bisa untuk tidak baik pada mereka.
Aku tetap menjaga nama baikku dan ibuku, jadi saat ada kesempatan bertemu dengan mereka, aku langsung menutup semua inderaku dan berpikir bahwa mereka tidak nyata.
Pelajaran tambahan kami berjalan dengan lancar dan kami sukses dengan ujian akhir sekolah kami. Saat pembagian rapor selesai, aku dan ayah menunggu ibu yang masih di ruang kepala sekolah. Ibu cukup lama berada disana, tapi kemudian keluar Putri dan orangtuanya, juga Luisa dan orangtuanya dari kantor kepala sekolah. Kepala mereka tertunduk dan ekspresi sedih tidak terelakkan.
Aku was- was dengan apa yang mereka lakukan di ruang kepala sekolah. Aku takut jika ibu disalahkan atas kesalahan yang bukan perbuatannya. Tidak lama kemudian ibu keluar dari kantor kepala sekolah dan ada juga Kana dan Jeffri bersama orangtua mereka.
“Kalian ada apa di kantor kepala sekolah?” tanyaku saat mereka mendekatiku.
Jeffri menyenggol Kana, memberi sinyal untuk menceritakan kejadian yang tidak aku tahu. Kana mengambil nafas panjang, kemudian memelukku. Aku bingung dan bertanya, “Ada apa, Kana?”
Kana menangis dalam pelukanku dan menjawab sambil terisak- isak, “Aku sedih, aku tidak mau Bu Olive keluar dari sekolah ini.”
Seperti ada bola yang mengenai kepalaku, aku sadar bahwa ucapan ibu beberapa waktu lalu bukan obrolan putus asa belaka, ibu benar- benar melakukannya.
“Bu Olive berkata bahwa ini cara yang terbaik untuk membuatmu tidak dicela oleh Putri dan Luisa lagi,” kata Kana sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata.
Jeffri melanjutkan, “Luisa dan Putri sudah ditegur oleh kepala sekolah dihadapan orangtuanya juga. Menurut Bu Olive, mereka tidak seharusnya menghakimi kamu dengan berkata bahwa kamu curang. Mereka tahu kamu pintar, tapi bukan karena Bu Olive memberikan kunci jawaban di setiap ujian. Bu Olive tetap pro.. pro.. pro apa, ya, tadi??”
“Profesional?” koreksiku.
Jeffri mengangguk dan kami menghentikan obrolan kami saat ibuku mendekat.  Ibu merangkul Kana dan Jeffri, kemudian berkata, “Makasih, ya, sudah menjadi teman yang baik buat Yasmin.”
Kana dan Jeffri memeluk ibuku dan mereka menangis seolah hari ini adalah pertemuan terakhir mereka. Aku juga sangat berterimakasih pada ibu karena ibu sudah membantuku untuk menyuruh Putri dan Luisa tidak mengejekku lagi.
Aku rasa Putri dan Luisa sudah mendapatkan apa yang menjadi hal setimpal untuk mereka. Aku memang anak seorang guru, tapi ibuku sangat profesional. Yang aku tahu, ibuku sangat sayang padaku dan mengorbankan pekerjaan gurunya untuk melindungiku dari orang- orang yang mempunyai pikiran seperti Putri dan Luisa. Dan juga, ibuku sudah sangat profesional, berdedikasi, dan bertanggungjawab dengan apa yang harus dan sudah dilakukannya sebagai seorang guru, terutama untuk Putri dan Luisa.
Aku menghela nafas dan berpamitan pada Kana dan Jeffri juga orangtua mereka. Saat aku memasuki mobil, aku dan ibu sama- sama berbalik dan memandang ke sekolah.
Ibu pasti berpikir bahwa tugasnya di sekolahku sudah berakhir dan akan berlanjut di universitas nanti. Tapi aku berpikir bahwa ibuku akan selamanya menjadi guruku baik dia mengajariku di sekolah atau tidak di sekolah.
???
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review