Sabtu, 31 Maret 2012

Cerita Kampus-Kita Butuh Belajar

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Maret 31, 2012 2 komentar
Pukul tujuh kurang lima menit. Aku sudah siap dengan diriku dan mentalku untuk mengajar malam ini. Setiap lima hari dalam lima malam aku dipekerjakan oleh tetanggaku untuk mengajar anaknya karena istrinya sedang mengikuti sekolah lagi di luar kota, jadi jarang sekali setiap hari di rumah dan akhirnya aku dimintai tolong untuk menggantikan peran istrinya hanya untuk mengajar anaknya.
Aku sangat suka sekali mengajar. Apalagi bahasa inggris, aku bisa sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui alias sekalian belajar juga. Tapi, karena anak tetanggaku itu masih berada di bangku SD, aku diminta untuk mengajar semua mata pelajaran.
Awal- awal aku mengajar, aku agak ragu pada kemampuanku, apalagi untuk mengajar matematika. Dulu saja aku sangat bermasalah dengan matematika, aku nggak yakin bisa membantu orang lain untuk menyelesaikan soal matematika. Tapi, untung saja, pelajaran matematika SD masih sangat dasar dan sederhana, sekarang aku malah jadi suka dengan matematika, sampai- sampai aku berpikir kenapa aku nggak pintar matematika dari dulu, ya? Haha.
Namanya Vatria, ia biasa dipanggil Vava. Anak pertama dari dua bersaudara dengan wajah dominan mirip papanya itu sedang berada di bangku kelas lima. Ia suka menyanyi dan menari. Kadang- kadang, jadwal menyanyi dan menarinya itu random sekali. Jam lima pagi, matahari belum muncul, dari tembok sebelah kamarku sudah ada suara cempreng khas anak kecil yang selalu nyanyi lagunya girlband Indonesia yang sedang naik daun sekarang ini. Belum lagi nanti kalau sudah pulang sekolah, Vava selalu menjejalkan headphone di telinganya, hapenya ia kantongi, dan ia menyanyi- nyanyi di taman depan rumahku sambil bergaya seperti sedang di video klip.
“Tuh, kan, imajinasinya mulai lagi,” ujar mami jika mami memergoki Vava sedang bernyanyi- nyanyi bak anggota girlband itu sendiri.
Aku menarik nafas dalam- dalam agar menyiap-sediakan mentalku. Vava bukan anak perempuan yang biasa kutangani jika les. Vava sangat sulit dan moody. Saat aku berjalan menuju pintu rumah Vava, aku mendengar suara tangisan anak kecil dari dalam rumah. Batinku langsung down dan aku jadi nggak bersemangat mengajar. Pasti akan ada drama lagi.
Seperti yang lalu- lalu, selalu ada drama setiap sebelum belajar. Drama pertama yang kutonton adalah saat Vava benar- benar nggak mau belajar dan malah mengganggu adiknya, alhasil selama satu jam kami sama sekali nggak mengadakan kegiatan belajar-mengajar. Drama kedua itu saat Adik Vava, Dean, gantian nggak mau belajar dan malah mengganggu Vava sampai Vava menangis. Dua kejadian itu memang nggak terjadi berurutan, tapi selama seminggu, bisa dua kali aku jadi batal mengajar, atau bisa dibilang terkacaukan.
Drama yang paling parah itu saat Vava benar- benar kangen pada mamanya. Ia sama sekali nggak mau belajar. Sudah dibujuk olehku, oleh eyangnya, bahkan oleh pembantunya, Vava tetap merajuk dan nggak mau ngapa- ngapain. Disaat aku butuh papanya untuk membujuknya, ternyata papanya sedang ada tugas juga di kantor dan selalu lembur tiap malam. Aku pikir Vava juga kurang mendapat perhatian dari papanya. Keadaan yang buruk menjadi diperkeruh oleh Dean yang selalu mengejek- ejek Vava. Dibilang Vava manjalah, Vava cengenglah, apalah, dan itu membuat Vava merajuk menggila dan eyangnya memutuskan untuk menyuruhku pulang saja. Gaji empat ratus ribu perbulan mungkin nggak cukup untuk membiayai cideraku akibat ngamuknya Vava, jadi cari aman saja dan aku pulang.
Kalau diingat- ingat, ada juga drama yang konyol, tapi ini juga mempengaruhi belajarnya Vava. Saat itu kami sedang belajar. Aku benar- benar merasa senang ketika Vava mau belajar dan ia mengerti apa yang kuajarkan. Tapi, ketika detik- detik hampir selesai belajar, tiba- tiba moodnya berubah dan merajuk lagi. Awalnya ia nggak mau menuliskan sesuatu, kemudian nggak mau mendengarkanku lagi, saat kutanya ia malah diam. Eyang dan pembantunya juga membujuk Vava untuk bicara apa yang Vava mau, tapi Vava tetap memasang pandangan sadis ke semua arah, dengan mata merah, dan ia tetap diam. Seperti biasa, Dean malam memparah suasa hati Vava yang akhirnya menjadi tambah marah dan menangis sambil memukul- mukuli Dean. Akhirnya aku disuruh pulang lagi oleh eyangnya dan sehari berikutnya aku diberitahu pembantunya sebab Vava merajuk adalah ia ingin papanya membelikan jajan untuknya. Benar- benar, satu titik mempengaruhi semua bidang.
Aku sudah mengeluh di depan pintu ketika akan mengetuknya. Setiap ketukan kusuguhkan do’a untuk diperlancar belajar malam ini, walau kenyataannya sudah ada suara korban yang menangis dari dalam rumah yang artinya malam ini nggak baik- baik saja.
Aku menunggu seseorang membukakan pintu dan nggak lama kemudian pembantunya membukakan pintu. Aku tersenyum padanya, mengucapkan terima kasih, kemudian masuk ke ruang tengah.
Aku mendapati Vava sedang menangis di sofa sambil meringsukkan badannya. Aku mendekatinya dan bertanya, “Vava, kamu kenapa? Kok menangis?”
Bukannya Vava yang menjawab, tapi malah pembantunya, “Ini, mbak, abis bertengkar sama Dean.”
“Kamu kenapa lagi bertengkar sama Dean?” tanyaku pada Vava. Mengetahui nggak mendapat respon, aku beralih kepada Dean yang malah ketawa- ketiwi di depan televisi, “Dean, mbak Vava kamu apakan?”
“Nggak aku apa- apain kok,” jawabnya tanpa dosa.
Aku ingin menjedorkan pintu ke kepalaku atau kebalikannya juga boleh. Bertanya dalam hati kenapa anak kecil bisa setanpa-dosa begini. Kemudian aku bertanya lagi, “Terus, kenapa mbak Vava jadi nangis begini? Kata embaknya kamu berantem sama mbak Vava.”
“Ooh, iya, aku lupa. Tadi aku rebutan air putih sama mbak Vava. Aku tadi abis makan jadi haus, eh, malah mbak Vava nggak bagi aku air putihnya. Air putihnya dihabisin sama dia. Yaudah, aku pukul aja kepalanya pas dia lagi minum, trus dia bales pukul aku tapi nggak kena,” ujarnya panjang lebar dan tetap satu, polos dan tanpa dosa.
Aku menepuk jidatku, sebelum aku membalas ujaran Dean, Vava dengan terisak- isak membalas dengan kasar, “Sakit, tahu! Coba, dek, kalau kamu dibegitukan, pasti kamu bakal marah, kan?!”
“Eh, sudah, sudah,” kataku melerai mereka yang mungkin akan bertengkar lagi. Pandanganku berpindah pada embaknya yang lagi duduk di samping Dean dan bertanya, “Kok nggak diambilkan dua gelas aja, mbak?”
“Biasanya satu gelas aja nggak abis kok, mbak, nggak tahunya mungkin mereka lagi pada kehausan,” jawabnya.
Aku mengangguk- angguk menelaah masalah. Hampir lima menit sudah aku menenangkan Vava dan membujuknya untuk belajar. Anehnya, tapi syukurlah, ia mau nurut padaku dan kugiring Vava ke kamarnya untuk belajar di kamar.
“Sudah oke?” tanyaku.
Ia mengangguk, kemudian menggeleng.
“Loh? Kok gitu, Va?” tanyaku bingung.
Vava hanya diam di tepi ranjang. Aku menyiapkan meja belajarnya selagi Vava berdiam diri agar tenang. Setelah semua beres, aku bertanya apakah ia ada tugas atau ulangan besok.
Vava menggeleng. Sama sekali Vava tidak berucap. Dengan sigap aku mengambil buku catatan murid yang ada di tas Vava. Aku sangat lega saat menemukan besok Vava tidak ada tugas atau ulangan. Artinya, belajar malam ini bisa lebih leluasa. Vava mau merajuk atau apalah, yang penting nggak ada tugas atau ulangan yang menjadi beban untuk besok dan yang terpenting aku bisa pulang tepat jam delapan untuk belajar juga.
Saat aku mengeluarkan isi tas Vava dan mengajaknya untuk menata jadwal, Vava berkata, “Mbak, aku besok ada tes praktek.”
“Hah!?” tanyaku setengah high-pitch. Oh my God, artinya aku nggak boleh makan gaji buta ini!
“Aku disuruh maju sama bu guru buat nerangin bagian gimana tanah bumi terbentuk,” katanya lemas.
Aku tersenyum padanya dan mengajaknya duduk di depan meja belajar. “Ya sudah, ada mbak disini, kan, buat bantuin Vava.”
Aku harap setiap kata- kataku tadi membuat Vava agak tenang. Dan benar saja, saking tenangnya Vava akhirnya ia mengantuk dan nggak mau belajar! Ya Tuhan, demi apa, ya??!
Kemudian aku membujuk- bujuknya. Vava tetap tidak mau belajar. Aku tanya apa maunya dia, dia menjawab dengan sandi dari tangan yang membentuk kata dan kalimat yang sering kami lakukan. Vava memberi sandi, “Aku maunya main.”
Aku cukup kaget dan bertanya, “Kok main? Kalo malam jatahnya belajar,” kataku.
Vava menggeleng. Aku mencoba membujuk dengan segala cara dan Vava malah memberi sandi, “Aku males.”
Aku benar- benar merasa sudah makan gaji buta selama ini. Melihat sandi “aku males” membuat mataku keriput dan ingin menjejalkan hati ayam di kerongkonganku. Rasanya gonduk setengah mati, seperti ada apel yang nyangkut di tenggorokanku.
“Ya sudah,” kataku putus asa tapi mantap, seolah aku berkata bahwa aku nggak tahan lagi dengan sikapmu. Aku sungguh belum perfect untuk menangani anak yang susah belajar. Aku keluar dari kamar Vava dan pamit pada eyang.
Eyang bertanya padaku saat aku akan pulang, “Kok cepat amat, mbak, belajarnya?”
Aku menjawab seadanya, “Vava mengantuk, eyang, mungkin krcapekan. Vava juga bad mood sekali habis berantem dengan Dean.”
“Oohh, anak itulah, susah sekali, keh, belajarnya. Biar, keh, dia tahu rasa kalau papanya tahu,” komentar eyang dengan logat kalimantannya.
“Ya sudah eyang, saya pamit dulu, assalamu’alaikum,” sapaku sesopan mungkin, kemudian aku pulang setelah mendengar balasan salam dari eyang.
§§§
Hari ini aku pulang awal dan berencana mengajak Vava ke sebuah restoran junkfood kesukaanku dan pastinya disukai anak- anak kecil seperti Vava juga.
Sangat beda dengan cara mengajak Vava belajar, ia kuajak pergi dengan senang dan sambil nyanyi- nyanyi. Sampai di restoran siap saji ini Vava langsung mengajakku untuk pesan makanan. Aku membiarkan Vava memesan apa yang ia mau.
Aku memilih tempat duduk dekat jendela dengan pemandangan jalan raya di luarnya. Sinar matahari sore memantul dari kendaraan- kendaraan yang lewat membuatku untuk memalingkan pandangan dari luar menuju arah Vava yang sedang menikmati es krimnya.
“Enak?” tanyaku.
Vava mengangguk. “Makasih, ya, mbak,” ujarnya. Semenyebalkan apapun Vava saat belajar, ia tidak lepas dari anak yang tahu terima kasih dan membalas kebaikan orang dengan kebaikan.
Aku mengangguk membalas ujaran Vava.
Vava bertanya padaku dan membuatku sangat fokus padanya, “Mbak tadi malam marah, ya?”
Aku terdiam sejenak. Apa yang harus kukatakan? Kalau kujawab enggak, aku munafik dan membohongi diriku sendiri. Kalau kujawab iya, apa Vava bakal marah disini ya? Mending jika ia marah, kalau sampai ia nggak mau belajar lagi, bagaimana!!??
“Mbak?” tanya Vava menunggu jawabanku.
Aku menarik nafas dan memutuskan untuk bilang, “Iya, mbak marah.”
“Tapi kok mbak yang marah? Kan, yang butuh belajar aku,” kata Vava dengan keenggakmengertiannya sebagai anak kecil.
Aku menari kursiku lebih maju dan melipat tanganku di atas meja, kufokuskan pandanganku ke Vava dan menjelaskan apa yang ingin kujelaskan. “Va, semua orang harus belajar. Semua orang butuh belajar. Mbak Sarah selalu ada setiap jam tujuh malam di rumah Vava untuk ngajarin Vava. Mbak Sarah sudah dimintai tolong sama papa dan mamanya Vava, jadi mbak Sarah punya tanggung jawab penuh juga dalam pendidikannya Vava sekarang ini.
“Mbak marah saat Vava nggak mau belajar. Nggak hanya marah, tapi mbak juga sedih. Mbak merasa menghancurkan kepercayaan orangtua Vava kalau Vava nggak mau belajar. Coba Vava bayangin kalau posisi Vava ada di mereka, orang- orang yang tinggal di jalanan seperti yang ada di luar sana. Mereka ngamen, minta- minta, untuk apa? Untuk menyambung hidup. Mereka mempertaruhkan waktu belajar mereka di sekolah untuk mencari uang. Lihat diri Vava, Vava punya apa yang nggak mereka punya. Kebahagian setiap orang itu bukan bermain, tapi mendapat ilmu. Bermain itu boleh, tapi jangan lupa tugas kita sebagai anak. Kita harus belajar. Buat bangga mama dan papa. Mereka juga sudah berkorban banyak, loh, buat Vava. Tahu nggak uang berjuta- jutanya mama dan papa itu habis untuk apa?”
Vava menggeleng, tatapannya yang dari tadi diam mendengar ceramahku menyiratkan ia butuh jawabanku.
“Hanya untuk biaya dan kelengkapan pendidikan Vava, juga Dean,” kataku, “Jadi, apa Vava masih mau nggak belajar lagi dan milih untuk jadi orang seperti yang ada di luar sana?”
Vava hanya diam. Ia diam sambil memakan es krimnya. Aku tahu suatu saat aku akan melakukan ini. Aku hanya ingin Vava tahu bahwa pendidikan yang sudah ia dapat selama ini nggak pernah tersentuh oleh anak- anak jalanan disana. Sehingga Vava bisa membuat perbandingan tentang kehidupan dan pentingnya belajar, juga mensyukuri nikmat.
Berakhirlah sudah sore ini dengan ceramah sambil jengjeng di kedai junkfood. Aku harap ada nilai- nilai moral yang bisa Vava tangkap.
Hari menjelang maghrib dan kamipun pulang. Saat aku menurunkan Vava dari motorku, Vava berterimakasih lagi padaku. Sebelum Vava beranjak masuk ke rumahnya, aku berkata, “Va, hari ini belajarnya sama Mbak Sarah libur dulu, tapi kalau hari ini Vava ada PR, dateng aja ke rumah Mbak Sarah.”
Vava manjawab sambil memasuki rumah, “Iya mbak, makasih, ya.”
§§§
Malam yang nyaman. Aku merasa bebas seperti Squidward yang berjarak jauh dari Sponegbob. Aku bisa leluasa belajar untuk besok. Membaca catatan- catatanku, membaca modul dari kampus, atau apalah yang disebut belajar itu. Agar lebih nyaman, kujejalkan headphone di telingaku dengan alunan musik klasik Beethoven, Franz Schubert, dan Mozart.
Kulirik jam dan rasanya sudah satu jam sejak jam tujuh tadi aku belajar. Aku benar- benar bisa memanjakan diriku malam ini. Tapi, aku kepikiran lagi oleh Vava. Mungkin libur les hari ini bisa untuk menenangkan pikirannya yang tadi sore kuceramahi. Aku harap ia tetap belajar entah dengan eyang atau pembantunya. Tiba- tiba, seseorang memasuki kamarku dan panjang umur! Baru saja aku memikirkan Vava, dia sudah muncul dengan berteriak mencoba mengagetkanku dari pintu, “Voillaaa!!”
Wajahnya nampak senang. Ia duduk di sampingku dan menyodorkanku buku tulis dan modul workbook. “Bahasa Inggris,” katanya.
Aku agak terdiam sebentar, menelaah setiap kejadian, kemudian tersenyum. Sambil merebut bukunya, aku berkata, “Oke aja! Are you ready?”
Ready!” serunya.
Yaa, at least, malam ini membuka tabir pendirian Vava. Menyadarkan Vava untuk tetap belajar selayaknya tugasnya sebagai seorang anak. Walaupun nggak menutup kemungkinan hal ini berjangka pendek bagi Vava yang masih anak kecil, tapi jika aku bisa mendidiknya sejak sekarang, hal ini akan menjadi jangka lama.
§§§

Jumat, 30 Maret 2012

Cerita Kampus-Poof

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Maret 30, 2012 0 komentar
Aku putus asa!
Berkali- kali, di setiap sudut, di setiap lipatan kertas, di setiap lembar buku, di setiap kolong kursi, di setiap kolong meja, di setiap kolong kasur, di dekat tabung gas, di dekat kompor, bahkan di dalam kamar mandi. Aku tidak menemukan selembar kertas tebal sertifikat kegiatan yang kulakukan beberapa bulan lalu – dimanapun.
Dari pukul lima hingga menjelang maghrib ini aku disibukkan oleh kegiatan membuang waktu, yaitu mencari selembar kertas. Selembar kertas itu kuletakkan di kursi, saat kutinggal sebentar kemudian ia menghilang. Poof! Dan aku menjadi orang gila dalam beberapa saat.
Selembar kertas tebal itu adalah sertifikat yang kudapatkan saat seminar di kampus Bulan Oktober lalu. Seminar itu menambah ilmuku dalam bidang “Speech”. Aku hanya nggak mau kalau benda itu hilang dan orang nggak percaya kalau aku pernah dapat pelatihan “Speech”. Yaa, sekarang orang- orang akan nggak percaya.
“Loh, tapi teman- temanmu, kan, sudah tahu kalau kamu sering ikut latihan ‘Speech’ setiap Hari Rabu?!”
Nah, itulah yang akan dikatakan seorang atau beberapa kerabatku kalau aku menceritakan hal ini. Padahal, yang aku maksud dengan ‘orang- orang yang nggak akan percaya’ adalah anakku, anak dari anakku, bahkan anaknya dari anaknya anakku. Aku hanya nggak mau mereka mendengar sesuatu dariku tanpa bukti, dan selembar kertas itu adalah buktinya, yang kemudian POOF, hilang.
Aku nggak akan bertanya kepada siapapun tentang apakah salahku yang sudah kuperbuat sehingga barangku menghilang secara tiba- tiba. POOF! Itu hal sebuah pertanyaan yang bisa kujawab sendiri dan I know, it was my fault.
Jadi begini...
Selembar kertas sertifikat itu sudah kudapat beberapa hari yang lalu, kemudian kuletakkan di atas meja belajarku selama beberapa hari juga. Kaena aku tidak ingin kertas itu berdebu, aku akan memindahkannya di map arsip- arsip milikku. Dalam map itu sudah banyak juga kumpulan sertifikat yang kudapat. Nggak hanya sertifikat, sih, ada juga akte kelahiran, rapor dari TK hingga SMA, dan ijazah beserta lembar nilai ujian nasional.
Aku mengambil sertifikatku dan kubawa ke ruang tamu. Di ujung ruangan ada lemari tempat untuk menyimpan arsip milikku. Kuletakkan sertifikatku di atas meja dan mulai menggeledah mencari mapku. Kucari- cari dari ujung atas sampai ke ujung bawah dan aku nggak menemukan mapku.
Aku berlari menuju kamarku dan nggak lupa sertifikat itu kubawa serta. Aku mulai menggeledah laci meja belajar, rak buku kuliah, rak novel, bahkan rak boneka.
Kemudian aku berlari lagi menuju ruang tamu, dan sertifikatnya kubawa juga. Kuletakkan sertifikat itu di kursi supaya tidak meribetkanku dalam pencarian map. Aku mulai menggeledah lagi dari atas ke bawah. Berharap ada keajaiban, tapi nyatanya tidak.
Aku bertanya pada mamaku yang sedang mengeringkan rambutnya yang panjang dan lebat sambil menonton aksi demo kenaikan BBM, “Mami, mami tahu mapku ada dimana?”
Mama menjawab dengan malas, “Di lemarilah.”
“Nggak ada!” seruku putus asa, “Mesti udah dipindah!”
“Diicari lagi, pasti ada,” ujarnya nggak peduli.
“Aku sudah cari dimana- mana,” ujarku dalam hati – desperately.
Aku mulai kesal dan marah. Umpatan- umpatanpun mulai keluar, dari yang halus sampai yang kasar. Aku mengumpat dalam hati, “Bilang aja nggak mau nyariin. Sibuk aja terus sama rambutnya yang nggak kering- kering. Mami emang nggak peduli!”
Aku mengumpat sambil menggeledah setiap map yang dapat menyimpan map lainnya atau berkas- berkas atau arsip- arsip, seperti sebuah kotak yang dapat menyimpan kotak. Dan voilla, mapku ketemu!
Wajahku sumringah, bungah, dan happy saat akhirnya aku menemukan mapku. Map coklat dengan tulisan namaku dengan tinta warna emas. Kugenggam mapku dan aku duduk di kursi tempat dimana aku meletakkan sertifikatku.
Inilah kebiasaan jelekku, aku selalu menyelidiki apakah arsip yang ada di mapku masih utuh atau tidak. Yaa, walau sebenarnya aku hanya ingin melihat- lihat lagi nilai- nilaiku dulu, wjahku yang bertransisi dari TK hingga SMA, dan melihat kumpulan sertifikat yang sudah kudapat.
Setelah selesai sidak – inspekdi mendadak – map, aku baru akan meletakkan sertifikat “Speech”ku di dalamnya. Saat kulihat tumpukkan map lain yang kuletakkan dikursi, aku memindahkannya lagi ke meja, kemudian aku tidak menemukan sertifikatku. Disitulah tempat sertifikatku hilang. Andai ia punya sidik jari. Ooh, sertifikat yang malang.
Aku mulai menggeledah lagi dari map ke map. Di kamar, di ruang tamu, dimanapun! Sertifikatku hilang!
Aku mulai menyalahkan semuanya lagi. Mengumpat ini dan itu sehingga membuat mama dan adikku pusing mendengar umpatanku. Mami mengira kalau mapku belum ketemu, makanya ia bertanya, “Sudah ketemu mapnya?”
“Sudah, tapi kertasku hilang!” rengekku.
“Lah, tadi ditaruh dimana?” tanya mama dengan nada sedikit tinggi.
“Di kursi,” jawabku singkat sambil mencari sertifikatku di kolong kursi.
“Mungkin lupa ditaruh dimananya,” mama berkomentar dengan nada yang nggak aku suka. Nadanya sakartis. Yaa, seperti kebanyakan orang, banyak bicaranya tapi nggak move.
“Enggak!” seruku putus asa, “Aku nggak lupalah, ini nggak ada lima menit yang lalu kok.”
“Kok bisa ilang?” tanya mama mulai malesi.
“Diumpetin makhluk halus mesti!” seruku dalam hati tanpa menjawab pertanyaan mama.
Aku dengan yakin menuduh makhluk itulah yang mengambil barangku karena sebelum juga pernah kejadian padaku, tapi beberapa saat kemudian benda itu ketemu. Tapi kenapa enggak dengan sertifikatku? Apa benar aku kelupaan? Tapi tanganku sendiri yang meletakkannya di kursi, dan mataku sendiri yang melihatnya kutaruh di kursi.
Berkali- kali, di setiap sudut, di setiap lipatan kertas, di setiap lembar buku, di setiap kolong kursi, di setiap kolong meja, di setiap kolong kasur, di dekat tabung gas, di dekat kompor, bahkan di dalam kamar mandi. Aku tidak menemukan selembar kertas  sertifikat “Speech”ku – dimanapun.
Sebagai makhluk pelupa dan serba salah, aku hanya bisa memohon pada Yang Kuasa untuk diberikan kemudahan dalam menemukan sertifikatku dan aku pasrah sekarang.
Waktu demi waktu berlalu dan tidak hentinya aku berdo’a untuk ditemukannya sertifikatku. Bisa dikatakan sertikatku itu satu perseratus dari hidupku. Sebuah apresiasi yang bagus bisa mengikuti acara seperti itu dan ilmunya sangat bermanfaat. Tapi, sertifikatnya hilang!
Dalam kesempatan lain aku diajak papa untuk pergi beli bakso. Aku sangatsuka bakso. Sebenarnya aku malas untuk keluar rumah, tapi kebeteanku tentang sertifikatku membuatku untuk ikut beli bakso.
Di dalam perjalan beli bakso sampai membeli bakso dan pulang dari membeli bakso aku terus berharap bahwa tiba- tiba sertifikatku akan muncul di suatu tempat yang nggak terduga. Tapi, nyatanya saat aku berada di rumahpun sertifikatku masih nggak ada.
Mungkin aku kena tula, atau tepatnya bukan tula, tapi karma. Karma terhadap mamaku yang tadi kuumpat- umpati karena saking sebelnya aku mencari map yang nggak ketemu. Aku harus minta maaf sama mama, kalau enggak mengkin sertifikatku nggak akan pernah muncul. Kalaupun muncul, aku harap itu sudah berada di mapku, paling enggak sertifikatku ada di tempat yang tepat.
Yaa, anak muda memang labil dan tempatnya khilaf.
MMM

Kamis, 22 Maret 2012

Cerita Kampus-Kematianku

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, Maret 22, 2012 0 komentar
Berbicara tentang kematian. Kematian bukan suatu akhir dari semua cerita. Ya, tapi kebanyakan semua cerita berakhir sedih dengan adanya kematian – untuk orang yang ditinggalkan. Lalu, bagaimana dengan orang yang sedang mati?
Aku seakan siap pergi dan sangat dekat dengan kematian. Aku bahkan sudah tidak bisa merasakan bagaimana itu sedih, ataupun sakit. Dengan bekal yang belum tentu cukup, aku seolah sanggup melewati kematian.
Berbicara mengenai dimana seseorang akan mati. Aku dalam senja sore ini hanya menatap langit orange dan nila, berharap bukan jalan raya tempat nyawaku diambil, bukan juga ditempat kotor dan kumuh. Ada sebuah tempat yang ingin kujadikan dimana aku nantinya aku mati. Tempat itu adalah tempat dimana aku dilahirkan. Paling tidak, aku tidak akan meninggal di ruang bersalin rumah sakit, hanya di rumah sakitnya.
Berbicara tentang bagaimana seseorang itu mati. Aku mengkhayalkan banyak cara untuk mati. Tapi, tidak untuk dengan cara bunuh diri atau dibunuh orang lain. Aku ingin mati dengan cara yang alami. Cara yang paling terhormat. Bukan karena kecelakaan, bukan juga karena wabah penyakit, serta bukan karena diguna- guna oleh orang lain. Aku ingin mati karena sudah saatnya aku mati, dengan cara alami, dengan keadaan yang baik dan bersih.
Aku seolah berani meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawaku, padahal dalam hati kecilku, aku belum pernah sanggup untuk itu. Aku hanya seolah- olah akan mati dan mempersiapkannya dengan baik.
Aku sudah menyiapkan apa saja yang kutinggalkan untuk keluarga dan teman- temanku. Sebuah dana investasi dan uang tabungan, juga beberapa benda kecil untuk membuat mereka ingat padaku kelak.
Aku menyayangi mereka, sungguh menyayangi mereka. Aku tidak akan sanggup untuk meninggalkan mereka. Tapi, aku lebih tidak sanggup jika aku yang ditinggalkan. Aku berbicara maut seolah aku sedang membayar tiket masuk ke gerbangnya. Melihat ke arah belakang dan menemukan mereka melambai dengan sedih padaku. Aku akan lebih tidak sanggup jika aku ada di posisi mereka.
Kematian adalah sebuah rumah damai yang – aku harap – lebih nyaman dari rumah yang disini. Kematian itu lebih cepat daripada tidur dan akan membawaku ke mimpi- mimpiku tanpa harus bangun.
Sedikitpun aku tidak bergetar saat membicarakan kematian yang kuinginkan. Hal ini tidak semenakutkan apa yang banyak orang utarakan. Dan aku mencoba untuk tidak menggentarkan hatiku. Kematian akan membuatku lebih dekat pada Tuhan.
Siksa dalam kematian. Alkitab berbicara tentang sakitnya nyawa itu dicabut. Kubayangkan jika hal itu seperti mengambil jantungmu sendiri dengan tanganmu. Terbesit dan selalu mengganjal dalam otakku jika berbicara tentang kematian, yaitu ketakutan dalam siksa kematian. Aku menenangkan diriku dengan mensugesti bahwa siksa kematian adalah aku hanya sendirian, tanpa teman maupun keluargaku.
Lambat laun kematian berpusara di otakku dan memilih untuk mengurungkan keinginanku untuk mati. Jika aku meminta banyak hal tentang kematian, kematian juga meminta banyak hal padaku.
Aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Aku menjawab dengan diam sebentar, “Untuk kehidupan selanjutnya.”
Aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Aku berpikir ada yang salah dengan alasanku untuk mati, lalu aku menjawab dengan jawaban lain, “Untuk bertemu Tuhanku.”
Sekali lagi aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Nadanya hanya datar, tapi aku takut dan mengganti jawabanku lagi, “Untuk menemukan tempat yang abadi.”
Kematian kemudian berjalan menjauhiku dan aku segera memanggilnya kembali. Ia berhenti dan berbalik padaku tanpa mendekatiku. Aku memilih mendekatinya yang berada beberapa senti di dalam gerbang maut.
“Jika kau melewati gerbang ini, kau tidak akan kembali,” ujarnya.
Aku berhenti dan sejenak berpikir. Berpikir kenapa aku harus berhenti. Maut hanya beberapa senti di depan mataku dan aku berhenti untuk berpikir lagi.
“Ini yang kuinginkan, apalagi?” tanyaku pada kematian.
“Kau akan tersiksa. Lahir, batin, jasmani, dan rohanimu,” ujarnya.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Mataku menyiratkan aku juga tidak ingin mati secepat ini.
“Kau ingin mati karena kau putus asa akan sesuatu hal, dan maut hari ini bukan takdirmu,” kata kematian.
Putus asa.
Putus asa?
Putus asa!
Dari mana ia tahu?
“Maut hari ini bukan takdirmu jika kau punya sebuah keputus-asaan. Maut bukan jalan keluar dari masalahmu,” ujar kematian lagi.
“Tapi setiap orang berhak untuk memilih kematiannya,” aku menimpali.
“Dan kau akan menyesal dalam kematian karena tidak memilih untuk menyelesai-kan masalahmu dan hidup dalam keputus-asaanmu,”
Aku menatap kematian. Aku menyerap semua perkataan kematian. Ia benar. Ia benar dan aku salah. Aku bodoh jika maut ini kuambil hari ini.
Kematian seakan mundur menjauhiku. Kakiku tidak lagi sedekat dengan gerbang maut. Kematian hanya berdiri di belakang gerbang maut.
Kematian memilih meninggalkanku, aku pikir, tapi setelah aku menundukkan kepalaku, aku mendapati kakiku yang melangkah mundur menjauhi kematian dan gerbang maut.
Aku meninggalkan kematian dan memilih untuk hidup lagi.
Aku hidup lagi dengan keputus-asaanku. Lagi- lagi aku terjebak dalam keputus-asaanku.
***
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review