“Berilah
ruang gerak bagi pejalan kaki dengan berhenti di belakang garis berhenti.
Kendaraan
roda dua berada di jalur kiri. Nyalakan lampu kendaraan baik pagi, siang, sore,
maupun malam hari, dan gunakan helm SNI.
...Taatilah
rambu- rambu lalu lintas demi keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan
perjalanan Anda.
Pesan
ini disampaikan oleh Satlantas...”
Anak
kecil yang kupangku tertawa terbahak- bahak saat melihatku menirukan suara yang
muncul dari speaker saat bus yang kutumpangi berhenti di lampu lalu lintas. Ia
tertawa dan memukul pipiku dengan lembut.
“Yagi,
yagi..,” katanya.
“Lagi?”
tanyaku sambil memencet hidungnya yang mungil.
Ia mengangguk, tapi ibu sang anak menariknya
dari pangkuanku dan berkata, “Kakak cantik sudah mengulanginya tiga kali, lho,
sayang. Kasihan kakak cantik, pasti capek.”
Si anak
kecil langsung berwajah muram, tapi tidak mengamuk. Ia langsung tenang dalam
pangkuan ibunya walau wajahnya masih menghadap ke arahku dengan tatapan,
“Kakak, ayo ulangi lagi” dan aku hanya tersenyum padanya.
Siapa
anak kecil itu, aku tidak tahu, apalagi ibunya. Kami baru saja bertemu saat aku
naik ke bus trans kota dari shelter dekat rumahku untuk menuju kampus. Saat aku
masuk, kami hanya saling tersenyum dan karena tidak ada tempat duduk kosong
selain di sebelah mereka, aku pun duduk disamping mereka. Saat aku duduk, aku
mencoba tidak menarik perhatian siapapun, tapi aku sangat suka terhadap anak
kecil sehingga aku mulai tersenyum padanya hingga bertanya- tanya pada ibunya,
dan akhirnya si anak kecil lengket padaku dan meminta untuk duduk di
pangkuanku.
Aku
seperti kehilangan mainanku saat sang ibu mengambil kembali anaknya dari
pangkuanku, terlebih karena memang mereka akan turun di shelter selanjutnya.
Mereka pamit padaku saat akan turun. Si anak kecil tidak henti- hentinya
memandangiku dan melambaikan tangannya seraya berkata, “Dadaah, kakak!”
Aku
tersenyum getir saat busku melaju lagi dan aku mulai sendirian walau dalam bus
ini cukup ramai penumpang. Terlebih lagi, penumpang yang baru masuk adalah
orang yang kupikir cukup tua, sehingga aku mempersilakan salah satu dari mereka
duduk di tempat dudukku dan aku berdiri sambil menggantungkan tanganku di
gantungan yang disediakan.
Aku
tidak terlalu menyesal melakukan itu karena itulah yang seharusnya kulakukan
kepada orang yang lebih tua untuk menjaga sopan santun dan tata krama yang
diajarkan orangtuaku. Dengan headset yang kupasang di telinga dan mendengarkan
lagu- lagu favoritku, aku memanjakan mataku dengan pemandangan jalan di sekitar
menuju kampus. Beberapa bangunan kantor kuno yang menjadi sejarah kotaku
berjajar memberi patokan bahwa aku akan sampai di kampus. Ketika busku melewati
Tugu yang menjadi simbol kotaku, aku beranjak mendekati pintu dan tersenyum
pada pak kondektur. Ketika sampai, ia mempersilakanku keluar dan tersenyum
ramah padaku.
Aku
berjalan menuju gedung UKM kampus sambil menikmati udara mendung Minggu pagi
ini. Hal yang sulit untuk dikompromi jika akhir minggu seperti ini harus
kuhabiskan untuk pergi ke kampus. Tapi, hal ini harus kulakukan karena UKM yang
kugeluti akan mengadakan pementasan drama. Pementasan drama dari UKM teater ini
berjudul Hanoman Obong, seperti pementasan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Yang
menjadikan ini berbeda adalah tipe pementasan, yaitu drama, sedangkan yang ada
di Candi Prambanan merupakan sendratasik.
Aku
tiba di hadapan teman- temanku yang sudah berkumpul dan berbincang- bincang,
entah apapun itu. Aku menyapa mereka dan dengan gembira mereka menyapaku juga,
kecuali laki- laki yang duduk paling jauh dari jangkauanku, Iqbal. Meskipun
suaraku sekeras speaker masjid, ia bahkan tidak akan menoleh padaku. Jahat!
“Hera,
kamu bawa krupuknya, kan?” tanya Bembi, laki- laki paling gemuali di teater
ini.
Aku
menggangguk dan mengeluarkan kerupuk pasir berwarna merah muda dan putih tulang
dari tasku. Krupuk itu kubawa dari rumah karena permintaan teman- teman di
teater.
“Bagus!”
seru Yumi, anak keturunan Tiong Hoa yang sangat jago bahasa Jawa, “Aku udah
bawa sambal rujaknya. Nanti kita pesta, ya!”
Kami
semua berseru senang, lagi, kecuali Iqbal. Ini jelas membuatku bingung dan
sedih. Ia terlihat lebih pemurung dari biasanya. Kalau spekulasiku benar,
mungkin ia menjadi begitu karena aku.
Dua
hari lalu, ketika Jum’at malam, kami sudah selesai latihan untuk pementasan. Ia
mengajakku makan malam yang kupikir hanya di kucingan saja, ternyata ia
membawaku ke coffee shop yang sering kukunjungi. Disana, Iqbal dengan malu-
malu tapi mantap menyatakan perasaannya padaku. Aku tentu saja sangat senang,
tapi dengan berat hati aku menolaknya. Kukatakan aku juga menyukainya, tapi
karena kami satu teater dan aku tidak mau nantinya Iqbal lebih fokus padaku,
aku tidak mau ia pilih kasih terhadapku, terutama dalam pemilihan tokoh utama.
Iqballah yang mempunyai kekuasaan untuk memilih itu dan aku tidak mau teman-
teman berpikiran bahwa ada konspirasi di antara kami jika kami resmi
berpacaran. Kupikir Iqbal sudah salah mengerti apa yang kumaksud walaupun sudah
jelas sekali kukatakan alasan utamanya.
Kini
Iqbal berjalan ke gerombolanku dan berkata dengan jutek, “Kamu udah datang
terlambat, malah bikin temen- temen ribut sendiri- sendiri. Cepat duduk!
Briefing akan kumulai.”
Aku
menatap Iqbal yang kembali menjauhi kami sambil mengecek jam yang baru pukul
8.03. Bembi menggerutu dengan Yumi, “Dia aneh, aku nggak tahu apakah sambal
yang Hera buat kemarin membuatnya sedikit kacau.”
“Ya,
mungkin kacau, kamu tahu?” kata Yumi sambil menunjuk ke pelipis matanya dengan
jari telunjuk lalu diputar- putar, “Disini.”
Aku
menarik mereka untuk segera duduk agar Iqbal tidak lebih memarahi kami lagi.
Briefing yang kami lakukan sudah berjalan lima belas menit. Kami mendiskusikan
tentang penokohan, siapa yang mendapat tokoh siapa. Semua dari kami sudah
berlatih untuk menjadi masing- masing karakter di tokoh, jadi hari ini adalah
keputusannya untuk menentukan tokoh yang cocok dengan kami masing- masing.
Aku
pribadi sangat berharap menjadi Dewi Shinta. Alasan pertama karena Dewi Shinta
menjadi simbol bahwa ia sangat setia pada Sri Rama, hal itu sangat romantis,
aku bahkan sering tertawa sendiri saat membayangkan aku menjadi Dewi Shinta.
Alasan kedua, karena lawan mainku, yang berperan menjadi Sri Rama, yang pasti
adalah Iqbal.
Aku
sudah berlatih dengan keras untuk menjadi Dewi Shinta. Aku berkeyakinan penuh
jika Iqbal akan memilihku menjadi Dewi Shinta, tentunya karena kemampuanku
bukan karena ia menyukaiku.
Ketika
Iqbal akan mengumumkan tokoh utama wanitanya, temanku yang paling cantik dan
bertalenta pula, Virga, yang juga adalah sainganku, baru saja datang dan dengan
manja ia berkata, “Maafkan aku, aku terlambat. Kalian maafin aku? Plisss.”
Seketika
teman- teman melengos dan menggerutu masing- masing. Aku tersenyum pada Virga
dan menyuruhnya duduk di sampingku segera. Secepat kilat langsung kutatap lagi
Iqbal, aku takut ia akan memarahi Virga. Padahal kami tahu Virga bukan tipe
yang suka dimarahi oleh orang lain, atau dia akan ngambek seperti anak kecil
dan membalikkan fakta. Motto hidupnya adalah pasal satu berbunyi Virga selalu
benar, jika Virga salah, lihat pasal satu saja!
“Ya, untuk
apa Virga meminta maaf?” Iqbal mulai mengomentari, “Virga, kamu datang tepat
waktu untuk tahu bahwa tokoh Dewi Shinta akan diberikan padamu.”
***
Diberikan
padamu. Ya, padamu. Kamu lebih cocok dan kami tahu kamu sangat bertalenta. Kami
harap kita bisa bekerjasama.
Aku
masih tidak percaya bahwa aku tidak mendapatkan peran itu. Aku yakin dari
latihan- latihan yang lalu dan dengan komentar- komentar dari senior bahwa aku
lebih baik daripada Virga membuatku menjadi sangat percaya diri. Tapi, beberapa
jam lalu Iqbal mengumumkan bahwa bukan aku yang mendapatkan peran itu. Peranku
sendiri adalah kijang yang merupakan jelmaan dari jin, Kalamarica, untuk
mengelabui Sri Rama.
Makan
siang ini aku sudah menghabiskan beberapa jenis sambal dan kerupuk kesukaanku
karena aku sangat marah. Sambal merah, sambal hijau, sambal rujak, dan sambal
bawang sudah masuk ke perutku dan membuat sensasi pedas menari- nari, juga
keringat yang meluncur saking pedas dan enaknya. Ide itu kudapat agar aku sakit
perut dan tidak perlu ikut latihan hari ini yang membuatku malah lebih sakit
hati.
Detik
ini pun aku sudah di dalam mobil dan mengaduh di kursi belakang. Aku menangis
sejadinya karena sakit perut dan sakit hati. Dari kursi depan, mama
memperhatikanku sambil berdebat dengan papa agar aku dibawa ke rumah sakit
sekalian. Mama bersikeras membawaku ke rumah sakit, sedangakan papa menolak
dengan dalih, “Dia sudah besar, seharusnya tahu apa yang harus dan nggak harus
dimakan!”. Aku sangat setuju dengan papa, tapi aku juga kesakitan. Akhirnya aku
hanya dibawa ke klinik dokter langgananku saat aku masih kecil dan diberi obat.
Harapanku obatnya akan bereaksi cukup lama sehingga besok aku tidak usah masuk
dan berlatih lagi di teater.
***
Pupus
harapanku karena obatnya sangat manjur dan aku sembuh, walaupun begitu aku
tetap harus meminum obatnya. Akhirnya aku tetap berangkat ke kampus dengan naik
bus lagi, lalu setelah selesai kegiatan kampus, aku sudah diseret- seret oleh
Yumi untuk latihan.
Sedih
rasanya harus latihan lagi dan disiksa oleh sikap Iqbal yang tambah parah
memperlakukanku tidak adil. Mulai dari hari minggu kemarin saat aku hanya
terlambat tiga menit, Iqbal bisa memarahiku, sedangkan Virga yang terlambat
jauh lebih lama malah dihadiahi pemeran utama. Kemudian, saat melakukan
latihan, Iqbal selalu menyalahkan gerakanku yang kupikir sudah sama seperti
saat latihan yang lalu dan persis seperti instruksi dari senior yang lain. Puncaknya
adalah Iqbal membanding- bandingkanku dengan Virga dan bersyukur di hadapan
semua teman- teman bahwa bukan aku yang menjadi pemeran utama karena menurutnya
aku melakukan banyak kesalahan.
Aku
sungguh marah ia bersikap seperti itu. Dengan semua kekesalanku, kemudian aku
berjalan menuju Iqbal dengan mantap, walaupun tanganku bergetar dan jantungku
berdegup kencang. Aku menarik Iqbal ke sudut ruangan tanpa menghiraukan teman-
teman yang lain berkomentar apa. Pelupuk mataku sudah dipenuhi air mata, tapi
kutahan agar aku tetap terlihat tegar dan kuat untuk menyampaikan hal ini.
“Udah
kupendam selama beberapa hari ini, udah kucoba untuk nggak bersikap lebih kasar
dari apa yang kamu lakuin, udah kutahan agar aku tetap bertahan di teater ini
sampai pementasan. Tapi apa salahku aja aku nggak tahu! Aku benci berspekulasi
terus tentang sikapmu yang aneh dan lebih nggak adil padaku!” aku menarik nafas
panjang dan setitik air mata jatuh di pipiku.
Suaraku
mulai bergetar bercampur tangisan yang masih kutahan, “Aku baik sama kamu,
kurang baik apa aku sama kamu? Aku tetap datang kesini untuk latihan, walau
kamu selalu memarahiku atas kesalahanku dari sudut pandangmu. Aku tetap baik
padamu walau aku cukup sakit hati karena aku nggak mendapatkan pemeran utama.
Aku bahkan tetap bersikap baik dan nggak menjauhimu setelah kamu nyatain kalau
kamu suka sama aku! Aku kurang baik apa sampai kamu harus membanding-
bandingkanku sama orang lain? Bagiku ini nggak adil!” Aku berjongkok dan
menangis sejadinya setelah kusampaikan semua kekesalanku.
Iqbal
berjongkok dan berkata, “Menurutku memang Virga yang lebih pantas menjadi
pemeran utamanya. Dan bukannya ini yang kamu mau saat kamu menolakku?”
Aku
mendongak ke arah Iqbal dan berkata, “Tapi nggak dengan mencercaku dan bersikap
menganak-tirikanku!”
Aku
berdiri dan berlari meraih tasku, kemudian pergi ke menara panjat tebing. Aku
tidak tahu bahwa Yumi dan Virga mengikutiku. Ketika tanganku sudah menggenggam
anak tangga yang berada di bagian belakang menara panjat tebing, Yumi dan Virga
menahanku untuk tidak memanjat.
“Apa
ini semua karena aku, Hera?” tanya Virga dengan mata berkaca- kaca.
Aku menggeleng.
Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Jadi, semakin mereka bertanya tentang
bagaimana keadaanku malah membuatku lebih tidak baik- baik saja dan aku akan
menangis lagi sejadi- jadinya.
Yumi
mengulurkan sebatang coklat padaku, walaupun awalnya aku menolak, Yumi tetap
memaksa agar kumakan coklat itu. Virga pun menuntunku untuk duduk di pinggir
lapangan dan menyuruhku memakan coklat itu sekarang juga.
Satu
gigitan besar kumakan, kemudian kuulum. Dengan coklat yang melumer di mulutku,
aku memikirkan baik- baik respon yang diberikan Iqbal. Bahkan Iqbal tadi masih
saja membanding- bandingkanku dengan Virga. Virga sebenarnya tidak salah apa-
apa, tapi Iqbal yang masih saja bersikap tidak adil. Iqbal bahkan membalikkan
kenyataan dengan dalih hal ini yang kuinginkan saat aku menolaknya. Setelah
semua ini, aku tidak tahu apakah aku akan tetap bergabung di teater ini saat
ini juga, setelah pementasan, atau bertahan dengan sikap Iqbal.
***
Beberapa
hari ini aku malas sekali untuk latihan. Sudah sering aku diam- diam kabur
latihan, tapi semua teman- teman teaterku seperti mata- mata yang mengintai
setiap gerak- gerikku, sehingga aku tertangkap basah saat kabur dan dibawa
mereka untuk latihan.
Semua
menjadi sangat baik padaku, walaupun memang sebelumnya mereka baik padaku. Yang
membuat berbeda adalah Iqbal yang tidak cerewet lagi untuk memarahiku. Walaupun
aku sangat takut melakukan kesalahan saat beradu akting dengannya, aku mencoba
lebih memberanikan diriku untuk mengekspresikan peranku sebagai kijang jelmaan
dan lebih membuatnya tahu bahwa aku lebih kuat setelah apa yang ia lakukan
padaku. Tema hari ini adalah move on.
Semua
yang kulakukan tidak sia- sia. Aku lebih berani untuk mengekspresikan peranku,
karena peranku berada di titik dimana konflik cerita ini bermula, sehingga aku
harus lebih bisa fokus dan memperdaya penonton dan yang lainnya. Dan untuk
pementasan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi, aku sudah siap untuk lebih
berekspresi.
Scene
demi scene sudah dimunculkan, terutama saat giliranku untuk tampil. Dengan
lemah gemulai tapi lincah, aku mencoba menggoda Sri Rama untuk mengejarku,
mengalihkan perhatiannya dari keselamatan Dewi Shinta, dan membawanya ke sebuah
titik dimana Sri Rama akan membunuhku dengan panahnya. Lampu dimatikan ketika
aku tertusuk panah Sri Rama, kemudian aku berlari ke belakang panggung dan
muncullah temanku yang berperan sebagai Kalamarica untuk membunuh Sri Rama.
“Tata
panggung dan lighting memang sangat mempengaruhi jalan cerita,” komentar
Virga yang sebentar lagi akan muncul di scene selanjutnya.
“Semoga
sukses, Virga!” seruku menyemangati, kemudian aku menunggu di balik layar
hingga pementasan mencapai resolution dimana Dewi Shinta akan
menceburkan diri ke dalam api sebagai tanda bahwa ia benar- benar setia pada
Sri Rama.
Ada
adegan dimana Dewi Shinta menangis tersedu- sedu memohon agar Sri Rama percaya
padanya, adegan ini yang menurutku sangat kuat dan membuatku menangis. Tapi,
bagi Virga, sulit sekali ia mengeluarkan air mata pada adegan yang ia anggap
lebay ini, sehingga ia memakan semua sambal yang kubawa agar menciptakan emosi
dan ekspresi yang cetar membahana. Sayangnya, hal itu malah membuatnya sakit
perut dan semua panitia kewalahan dengan hal ini. Virga benar- benar tidak bisa
melanjutkan perannya.
“Hera,
kamu satu- satunya harapan kami, tolonglah,” ucap Yumi saat ia menyarankan agar
aku menggantikan peran Dewi Shinta.
“Iya,
kamu juga sama berbakatnya seperti Virga,” kata Bembi.
Aku melirik
ke arah Iqbal dan bertanya, “Gimana menurutmu?”
Iqbal
menatapku datar dan menjawab, “Kenapa aku? Kalau ini demi teater kenapa kamu
nggak melakukannya? Be professional, please.”
Aku
menimbang- nimbang dengan cemas. Aku kurang yakin Iqbal akan senang dengan hal
ini, meskipun ia menyetujui karena demi kelangsungan pementasan, aku tetap merasa
ia cukup kesal.
Suara
alunan musik berganti, pertanda memasuki scene resolution. Iqbal sebagai
Sri Rama menggandengku dengan lemah gemulai. Kami memulai adegan di scene
terakhir.
Sri
Rama bertanya pada Dewi Shinta, “Apakah selama engkau ditawan, engkau tetap
menjaga kesucianmu, wahai Dewi Shinta.”
“Tentu
saja, suamiku, wahai Sri Rama,” jawab Dewi Shinta dengan penuh tanya, “apakah
engkau tidak percaya padaku?”
“Maafkan
aku, Dewi,” ucap Sri Rama dengan tegas kemudian melepaskan genggaman tangannya
pada Dewi Shinta, “aku tidak yakin bahwa kau masih suci setelah selama ini
bersama Rahwana.”
Ku
keluarkan semua emosiku untuk membangkitkan apa yang dialami Dewi Shinta kepada
semua penonton, dan juga Iqbal. Dewi Shinta pun berlutut pada Sri Rama, ia
menangis dibawah sang suami, dan memohon agar sang suami percaya padanya. Namun,
Sri Rama sulit untuk mempercayai istrinya. Kemudian Dewi Shinta berjalan
mundur, ditatapnya Sri Rama dengan penuh keyakinan dan kasih sayang seraya
berkata, “Aku akan melompat ke dalam api ini sehingga engkau percaya bahwa aku
masih suci dan menghormatimu sebagai suamiku.”
Adegan
selanjutnya adalah Dewi Shinta yang melompat ke dalam api, namun ia tidak
terbakar karena pertolongan dewa. Akhirnya, Sri Rama percaya bahwa istrinya
masih suci, kemudian mereka hidup bahagia. Pementasan pun selesai dan banyak
dari penonton yang menyukainya.
Kami
semua berpindah ke balik panggung dan merayakan kesuksesan pementasan kami.
Virga yang masih sakit perut pun tetap ikut merayakan. Kami semua puas, terlebih
aku. Walaupun hanya di bagian akhir cerita aku menjadi Dewi Shinta, aku merasa
sangat senang.
Saat
kami masing- masing sedang sibuk membersihkan riasan dan melipat kostum, Iqbal
datang padaku dan membawakanku minuman isotonik kesukaanku. “Untukmu,” katanya,
“kamu benar- benar sangat ekspresif.”
Aku
menatapnya sebentar kemudian mengambil botol itu dan berterimakasih padanya.
“Aku tahu kamu akan percaya kalau aku juga pantas menjadi Dewi Shinta.”
Iqbal
duduk di sampingku dan menjawab, “Iya, kamu udah ngebuktiin itu pas kamu lompat
ke dalam api tadi.”
“Untungnya
aku nggak perlu lompat ke dalam api beneran,” kataku dengan dilanjutkan tertawa
pendek.
Iqbal
tersenyum mendengar ucapanku. “Tapi bagiku kamu lebih mirip kijangnya,” katanya
sambil menatapku.
Aku menghela
nafas, “Apa- apain, sih? Jangan mulai lagi, deh.”
“Enggak
kok, yang ini beneran,” ucap Iqbal dengan nada meyakinkan, “kamu lincah, kamu
punya semangat buat nunjukkin kamu mampu. Terlebih, kamu udah berhasil buat aku
ngejar kamu, tapi kamu nggak bisa kudapatin. Kamu malah berubah jadi jin.”
“Kamu
ngomongin aku atau kijangnya?” tanyaku belum mengerti.
Iqbal
menepuk jidatnya dan menghela nafas panjang, “Tahu nggak, sih, kamu selalu
mengalihkan perhatianku? Apalagi saat kamu jadi kijang tadi, kamu bener- bener
udah bikin aku buat kejar kamu. Sama kayak kenyataannya, akhirnya aku juga nggak
mendapatkanmu.”
“Kamu
yakin?” tanyaku. Aku tidak tahu harus merespon apa karena hanya ingatan tentang
drama tadi yang kuingat sekarang. Aku berlari dan menggodanya untuk
mendapatkanku.
“Apa
aku harus lompat ke dalam api juga?” tanya Iqbal saking gemesnya padaku.
“Kamu
kan bukan Dewi Shinta!” seruku sambil menepuk tangannya yang bersedaku di meja.
Dengan
cepat Iqbal meraih tanganku dan menggenggamnya seperti tadi saat di panggung.
“Aku udah mencoba untuk nggak menspesialkanmu di teater ini dan nggak berpihak
sama kamu dalam pemilihan tokoh utama. Aku pikir kamu akan ngerti dengan begitu
kamu bisa berubah pikiran dan terima aku. Sayangnya, ini malah bikin kamu
berpikir bahwa aku nggak adil dan menganak-tirikanmu,” Iqbal berhenti sejenak
dan menarik nafas dalam- dalam, “Hera, tolong percaya sama aku kalau aku bisa
memposisikan semua ini dengan benar. Aku sayang sama kamu, sangat sayang sama
kamu. Jadi, percayalah.”
Dadaku
sesak, panas, dan bergemuruh. Mataku pun panas dan nenar. Aku hanya menggangguk
tanpa berkata apa- apa. Aku sungguh ingin semuanya menjadi baik- baik saja
setelah ini. Aku rasa inilah resolution di dramaku sendiri.
***The End***
