Selasa, 25 Desember 2012

Cerita Kampus- Drama

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 25, 2012 0 komentar

Berilah ruang gerak bagi pejalan kaki dengan berhenti di belakang garis berhenti.
Kendaraan roda dua berada di jalur kiri. Nyalakan lampu kendaraan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari, dan gunakan helm SNI.
...Taatilah rambu- rambu lalu lintas demi keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan perjalanan Anda.
Pesan ini disampaikan oleh Satlantas...
Anak kecil yang kupangku tertawa terbahak- bahak saat melihatku menirukan suara yang muncul dari speaker saat bus yang kutumpangi berhenti di lampu lalu lintas. Ia tertawa dan memukul pipiku dengan lembut.
“Yagi, yagi..,” katanya.
“Lagi?” tanyaku sambil memencet hidungnya yang mungil.
 Ia mengangguk, tapi ibu sang anak menariknya dari pangkuanku dan berkata, “Kakak cantik sudah mengulanginya tiga kali, lho, sayang. Kasihan kakak cantik, pasti capek.”
Si anak kecil langsung berwajah muram, tapi tidak mengamuk. Ia langsung tenang dalam pangkuan ibunya walau wajahnya masih menghadap ke arahku dengan tatapan, “Kakak, ayo ulangi lagi” dan aku hanya tersenyum padanya.
Siapa anak kecil itu, aku tidak tahu, apalagi ibunya. Kami baru saja bertemu saat aku naik ke bus trans kota dari shelter dekat rumahku untuk menuju kampus. Saat aku masuk, kami hanya saling tersenyum dan karena tidak ada tempat duduk kosong selain di sebelah mereka, aku pun duduk disamping mereka. Saat aku duduk, aku mencoba tidak menarik perhatian siapapun, tapi aku sangat suka terhadap anak kecil sehingga aku mulai tersenyum padanya hingga bertanya- tanya pada ibunya, dan akhirnya si anak kecil lengket padaku dan meminta untuk duduk di pangkuanku.
Aku seperti kehilangan mainanku saat sang ibu mengambil kembali anaknya dari pangkuanku, terlebih karena memang mereka akan turun di shelter selanjutnya. Mereka pamit padaku saat akan turun. Si anak kecil tidak henti- hentinya memandangiku dan melambaikan tangannya seraya berkata, “Dadaah, kakak!”
Aku tersenyum getir saat busku melaju lagi dan aku mulai sendirian walau dalam bus ini cukup ramai penumpang. Terlebih lagi, penumpang yang baru masuk adalah orang yang kupikir cukup tua, sehingga aku mempersilakan salah satu dari mereka duduk di tempat dudukku dan aku berdiri sambil menggantungkan tanganku di gantungan yang disediakan.
Aku tidak terlalu menyesal melakukan itu karena itulah yang seharusnya kulakukan kepada orang yang lebih tua untuk menjaga sopan santun dan tata krama yang diajarkan orangtuaku. Dengan headset yang kupasang di telinga dan mendengarkan lagu- lagu favoritku, aku memanjakan mataku dengan pemandangan jalan di sekitar menuju kampus. Beberapa bangunan kantor kuno yang menjadi sejarah kotaku berjajar memberi patokan bahwa aku akan sampai di kampus. Ketika busku melewati Tugu yang menjadi simbol kotaku, aku beranjak mendekati pintu dan tersenyum pada pak kondektur. Ketika sampai, ia mempersilakanku keluar dan tersenyum ramah padaku.
Aku berjalan menuju gedung UKM kampus sambil menikmati udara mendung Minggu pagi ini. Hal yang sulit untuk dikompromi jika akhir minggu seperti ini harus kuhabiskan untuk pergi ke kampus. Tapi, hal ini harus kulakukan karena UKM yang kugeluti akan mengadakan pementasan drama. Pementasan drama dari UKM teater ini berjudul Hanoman Obong, seperti pementasan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Yang menjadikan ini berbeda adalah tipe pementasan, yaitu drama, sedangkan yang ada di Candi Prambanan merupakan sendratasik.
Aku tiba di hadapan teman- temanku yang sudah berkumpul dan berbincang- bincang, entah apapun itu. Aku menyapa mereka dan dengan gembira mereka menyapaku juga, kecuali laki- laki yang duduk paling jauh dari jangkauanku, Iqbal. Meskipun suaraku sekeras speaker masjid, ia bahkan tidak akan menoleh padaku. Jahat!
“Hera, kamu bawa krupuknya, kan?” tanya Bembi, laki- laki paling gemuali di teater ini.
Aku menggangguk dan mengeluarkan kerupuk pasir berwarna merah muda dan putih tulang dari tasku. Krupuk itu kubawa dari rumah karena permintaan teman- teman di teater.
“Bagus!” seru Yumi, anak keturunan Tiong Hoa yang sangat jago bahasa Jawa, “Aku udah bawa sambal rujaknya. Nanti kita pesta, ya!”
Kami semua berseru senang, lagi, kecuali Iqbal. Ini jelas membuatku bingung dan sedih. Ia terlihat lebih pemurung dari biasanya. Kalau spekulasiku benar, mungkin ia menjadi begitu karena aku.
Dua hari lalu, ketika Jum’at malam, kami sudah selesai latihan untuk pementasan. Ia mengajakku makan malam yang kupikir hanya di kucingan saja, ternyata ia membawaku ke coffee shop yang sering kukunjungi. Disana, Iqbal dengan malu- malu tapi mantap menyatakan perasaannya padaku. Aku tentu saja sangat senang, tapi dengan berat hati aku menolaknya. Kukatakan aku juga menyukainya, tapi karena kami satu teater dan aku tidak mau nantinya Iqbal lebih fokus padaku, aku tidak mau ia pilih kasih terhadapku, terutama dalam pemilihan tokoh utama. Iqballah yang mempunyai kekuasaan untuk memilih itu dan aku tidak mau teman- teman berpikiran bahwa ada konspirasi di antara kami jika kami resmi berpacaran. Kupikir Iqbal sudah salah mengerti apa yang kumaksud walaupun sudah jelas sekali kukatakan alasan utamanya.
Kini Iqbal berjalan ke gerombolanku dan berkata dengan jutek, “Kamu udah datang terlambat, malah bikin temen- temen ribut sendiri- sendiri. Cepat duduk! Briefing akan kumulai.”
Aku menatap Iqbal yang kembali menjauhi kami sambil mengecek jam yang baru pukul 8.03. Bembi menggerutu dengan Yumi, “Dia aneh, aku nggak tahu apakah sambal yang Hera buat kemarin membuatnya sedikit kacau.”
“Ya, mungkin kacau, kamu tahu?” kata Yumi sambil menunjuk ke pelipis matanya dengan jari telunjuk lalu diputar- putar, “Disini.”
Aku menarik mereka untuk segera duduk agar Iqbal tidak lebih memarahi kami lagi. Briefing yang kami lakukan sudah berjalan lima belas menit. Kami mendiskusikan tentang penokohan, siapa yang mendapat tokoh siapa. Semua dari kami sudah berlatih untuk menjadi masing- masing karakter di tokoh, jadi hari ini adalah keputusannya untuk menentukan tokoh yang cocok dengan kami masing- masing.
Aku pribadi sangat berharap menjadi Dewi Shinta. Alasan pertama karena Dewi Shinta menjadi simbol bahwa ia sangat setia pada Sri Rama, hal itu sangat romantis, aku bahkan sering tertawa sendiri saat membayangkan aku menjadi Dewi Shinta. Alasan kedua, karena lawan mainku, yang berperan menjadi Sri Rama, yang pasti adalah Iqbal.
Aku sudah berlatih dengan keras untuk menjadi Dewi Shinta. Aku berkeyakinan penuh jika Iqbal akan memilihku menjadi Dewi Shinta, tentunya karena kemampuanku bukan karena ia menyukaiku.
Ketika Iqbal akan mengumumkan tokoh utama wanitanya, temanku yang paling cantik dan bertalenta pula, Virga, yang juga adalah sainganku, baru saja datang dan dengan manja ia berkata, “Maafkan aku, aku terlambat. Kalian maafin aku? Plisss.”
Seketika teman- teman melengos dan menggerutu masing- masing. Aku tersenyum pada Virga dan menyuruhnya duduk di sampingku segera. Secepat kilat langsung kutatap lagi Iqbal, aku takut ia akan memarahi Virga. Padahal kami tahu Virga bukan tipe yang suka dimarahi oleh orang lain, atau dia akan ngambek seperti anak kecil dan membalikkan fakta. Motto hidupnya adalah pasal satu berbunyi Virga selalu benar, jika Virga salah, lihat pasal satu saja!
“Ya, untuk apa Virga meminta maaf?” Iqbal mulai mengomentari, “Virga, kamu datang tepat waktu untuk tahu bahwa tokoh Dewi Shinta akan diberikan padamu.”
***
Diberikan padamu. Ya, padamu. Kamu lebih cocok dan kami tahu kamu sangat bertalenta. Kami harap kita bisa bekerjasama.
Aku masih tidak percaya bahwa aku tidak mendapatkan peran itu. Aku yakin dari latihan- latihan yang lalu dan dengan komentar- komentar dari senior bahwa aku lebih baik daripada Virga membuatku menjadi sangat percaya diri. Tapi, beberapa jam lalu Iqbal mengumumkan bahwa bukan aku yang mendapatkan peran itu. Peranku sendiri adalah kijang yang merupakan jelmaan dari jin, Kalamarica, untuk mengelabui Sri Rama.
Makan siang ini aku sudah menghabiskan beberapa jenis sambal dan kerupuk kesukaanku karena aku sangat marah. Sambal merah, sambal hijau, sambal rujak, dan sambal bawang sudah masuk ke perutku dan membuat sensasi pedas menari- nari, juga keringat yang meluncur saking pedas dan enaknya. Ide itu kudapat agar aku sakit perut dan tidak perlu ikut latihan hari ini yang membuatku malah lebih sakit hati.
Detik ini pun aku sudah di dalam mobil dan mengaduh di kursi belakang. Aku menangis sejadinya karena sakit perut dan sakit hati. Dari kursi depan, mama memperhatikanku sambil berdebat dengan papa agar aku dibawa ke rumah sakit sekalian. Mama bersikeras membawaku ke rumah sakit, sedangakan papa menolak dengan dalih, “Dia sudah besar, seharusnya tahu apa yang harus dan nggak harus dimakan!”. Aku sangat setuju dengan papa, tapi aku juga kesakitan. Akhirnya aku hanya dibawa ke klinik dokter langgananku saat aku masih kecil dan diberi obat. Harapanku obatnya akan bereaksi cukup lama sehingga besok aku tidak usah masuk dan berlatih lagi di teater.
***
Pupus harapanku karena obatnya sangat manjur dan aku sembuh, walaupun begitu aku tetap harus meminum obatnya. Akhirnya aku tetap berangkat ke kampus dengan naik bus lagi, lalu setelah selesai kegiatan kampus, aku sudah diseret- seret oleh Yumi untuk latihan.
Sedih rasanya harus latihan lagi dan disiksa oleh sikap Iqbal yang tambah parah memperlakukanku tidak adil. Mulai dari hari minggu kemarin saat aku hanya terlambat tiga menit, Iqbal bisa memarahiku, sedangkan Virga yang terlambat jauh lebih lama malah dihadiahi pemeran utama. Kemudian, saat melakukan latihan, Iqbal selalu menyalahkan gerakanku yang kupikir sudah sama seperti saat latihan yang lalu dan persis seperti instruksi dari senior yang lain. Puncaknya adalah Iqbal membanding- bandingkanku dengan Virga dan bersyukur di hadapan semua teman- teman bahwa bukan aku yang menjadi pemeran utama karena menurutnya aku melakukan banyak kesalahan.
Aku sungguh marah ia bersikap seperti itu. Dengan semua kekesalanku, kemudian aku berjalan menuju Iqbal dengan mantap, walaupun tanganku bergetar dan jantungku berdegup kencang. Aku menarik Iqbal ke sudut ruangan tanpa menghiraukan teman- teman yang lain berkomentar apa. Pelupuk mataku sudah dipenuhi air mata, tapi kutahan agar aku tetap terlihat tegar dan kuat untuk menyampaikan hal ini.
“Udah kupendam selama beberapa hari ini, udah kucoba untuk nggak bersikap lebih kasar dari apa yang kamu lakuin, udah kutahan agar aku tetap bertahan di teater ini sampai pementasan. Tapi apa salahku aja aku nggak tahu! Aku benci berspekulasi terus tentang sikapmu yang aneh dan lebih nggak adil padaku!” aku menarik nafas panjang dan setitik air mata jatuh di pipiku.
Suaraku mulai bergetar bercampur tangisan yang masih kutahan, “Aku baik sama kamu, kurang baik apa aku sama kamu? Aku tetap datang kesini untuk latihan, walau kamu selalu memarahiku atas kesalahanku dari sudut pandangmu. Aku tetap baik padamu walau aku cukup sakit hati karena aku nggak mendapatkan pemeran utama. Aku bahkan tetap bersikap baik dan nggak menjauhimu setelah kamu nyatain kalau kamu suka sama aku! Aku kurang baik apa sampai kamu harus membanding- bandingkanku sama orang lain? Bagiku ini nggak adil!” Aku berjongkok dan menangis sejadinya setelah kusampaikan semua kekesalanku.
Iqbal berjongkok dan berkata, “Menurutku memang Virga yang lebih pantas menjadi pemeran utamanya. Dan bukannya ini yang kamu mau saat kamu menolakku?”
Aku mendongak ke arah Iqbal dan berkata, “Tapi nggak dengan mencercaku dan bersikap menganak-tirikanku!”
Aku berdiri dan berlari meraih tasku, kemudian pergi ke menara panjat tebing. Aku tidak tahu bahwa Yumi dan Virga mengikutiku. Ketika tanganku sudah menggenggam anak tangga yang berada di bagian belakang menara panjat tebing, Yumi dan Virga menahanku untuk tidak memanjat.
“Apa ini semua karena aku, Hera?” tanya Virga dengan mata berkaca- kaca.
Aku menggeleng. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Jadi, semakin mereka bertanya tentang bagaimana keadaanku malah membuatku lebih tidak baik- baik saja dan aku akan menangis lagi sejadi- jadinya.
Yumi mengulurkan sebatang coklat padaku, walaupun awalnya aku menolak, Yumi tetap memaksa agar kumakan coklat itu. Virga pun menuntunku untuk duduk di pinggir lapangan dan menyuruhku memakan coklat itu sekarang juga.
Satu gigitan besar kumakan, kemudian kuulum. Dengan coklat yang melumer di mulutku, aku memikirkan baik- baik respon yang diberikan Iqbal. Bahkan Iqbal tadi masih saja membanding- bandingkanku dengan Virga. Virga sebenarnya tidak salah apa- apa, tapi Iqbal yang masih saja bersikap tidak adil. Iqbal bahkan membalikkan kenyataan dengan dalih hal ini yang kuinginkan saat aku menolaknya. Setelah semua ini, aku tidak tahu apakah aku akan tetap bergabung di teater ini saat ini juga, setelah pementasan, atau bertahan dengan sikap Iqbal.
***
Beberapa hari ini aku malas sekali untuk latihan. Sudah sering aku diam- diam kabur latihan, tapi semua teman- teman teaterku seperti mata- mata yang mengintai setiap gerak- gerikku, sehingga aku tertangkap basah saat kabur dan dibawa mereka untuk latihan.
Semua menjadi sangat baik padaku, walaupun memang sebelumnya mereka baik padaku. Yang membuat berbeda adalah Iqbal yang tidak cerewet lagi untuk memarahiku. Walaupun aku sangat takut melakukan kesalahan saat beradu akting dengannya, aku mencoba lebih memberanikan diriku untuk mengekspresikan peranku sebagai kijang jelmaan dan lebih membuatnya tahu bahwa aku lebih kuat setelah apa yang ia lakukan padaku. Tema hari ini adalah move on.
Semua yang kulakukan tidak sia- sia. Aku lebih berani untuk mengekspresikan peranku, karena peranku berada di titik dimana konflik cerita ini bermula, sehingga aku harus lebih bisa fokus dan memperdaya penonton dan yang lainnya. Dan untuk pementasan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi, aku sudah siap untuk lebih berekspresi.
Scene demi scene sudah dimunculkan, terutama saat giliranku untuk tampil. Dengan lemah gemulai tapi lincah, aku mencoba menggoda Sri Rama untuk mengejarku, mengalihkan perhatiannya dari keselamatan Dewi Shinta, dan membawanya ke sebuah titik dimana Sri Rama akan membunuhku dengan panahnya. Lampu dimatikan ketika aku tertusuk panah Sri Rama, kemudian aku berlari ke belakang panggung dan muncullah temanku yang berperan sebagai Kalamarica untuk membunuh Sri Rama.
“Tata panggung dan lighting memang sangat mempengaruhi jalan cerita,” komentar Virga yang sebentar lagi akan muncul di scene selanjutnya.
“Semoga sukses, Virga!” seruku menyemangati, kemudian aku menunggu di balik layar hingga pementasan mencapai resolution dimana Dewi Shinta akan menceburkan diri ke dalam api sebagai tanda bahwa ia benar- benar setia pada Sri Rama.
Ada adegan dimana Dewi Shinta menangis tersedu- sedu memohon agar Sri Rama percaya padanya, adegan ini yang menurutku sangat kuat dan membuatku menangis. Tapi, bagi Virga, sulit sekali ia mengeluarkan air mata pada adegan yang ia anggap lebay ini, sehingga ia memakan semua sambal yang kubawa agar menciptakan emosi dan ekspresi yang cetar membahana. Sayangnya, hal itu malah membuatnya sakit perut dan semua panitia kewalahan dengan hal ini. Virga benar- benar tidak bisa melanjutkan perannya.
“Hera, kamu satu- satunya harapan kami, tolonglah,” ucap Yumi saat ia menyarankan agar aku menggantikan peran Dewi Shinta.
“Iya, kamu juga sama berbakatnya seperti Virga,” kata Bembi.
Aku melirik ke arah Iqbal dan bertanya, “Gimana menurutmu?”
Iqbal menatapku datar dan menjawab, “Kenapa aku? Kalau ini demi teater kenapa kamu nggak melakukannya? Be professional, please.”
Aku menimbang- nimbang dengan cemas. Aku kurang yakin Iqbal akan senang dengan hal ini, meskipun ia menyetujui karena demi kelangsungan pementasan, aku tetap merasa ia cukup kesal.
Suara alunan musik berganti, pertanda memasuki scene resolution. Iqbal sebagai Sri Rama menggandengku dengan lemah gemulai. Kami memulai adegan di scene terakhir.
Sri Rama bertanya pada Dewi Shinta, “Apakah selama engkau ditawan, engkau tetap menjaga kesucianmu, wahai Dewi Shinta.”
“Tentu saja, suamiku, wahai Sri Rama,” jawab Dewi Shinta dengan penuh tanya, “apakah engkau tidak percaya padaku?”
“Maafkan aku, Dewi,” ucap Sri Rama dengan tegas kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Dewi Shinta, “aku tidak yakin bahwa kau masih suci setelah selama ini bersama Rahwana.”
Ku keluarkan semua emosiku untuk membangkitkan apa yang dialami Dewi Shinta kepada semua penonton, dan juga Iqbal. Dewi Shinta pun berlutut pada Sri Rama, ia menangis dibawah sang suami, dan memohon agar sang suami percaya padanya. Namun, Sri Rama sulit untuk mempercayai istrinya. Kemudian Dewi Shinta berjalan mundur, ditatapnya Sri Rama dengan penuh keyakinan dan kasih sayang seraya berkata, “Aku akan melompat ke dalam api ini sehingga engkau percaya bahwa aku masih suci dan menghormatimu sebagai suamiku.”
Adegan selanjutnya adalah Dewi Shinta yang melompat ke dalam api, namun ia tidak terbakar karena pertolongan dewa. Akhirnya, Sri Rama percaya bahwa istrinya masih suci, kemudian mereka hidup bahagia. Pementasan pun selesai dan banyak dari penonton yang menyukainya.
Kami semua berpindah ke balik panggung dan merayakan kesuksesan pementasan kami. Virga yang masih sakit perut pun tetap ikut merayakan. Kami semua puas, terlebih aku. Walaupun hanya di bagian akhir cerita aku menjadi Dewi Shinta, aku merasa sangat senang.
Saat kami masing- masing sedang sibuk membersihkan riasan dan melipat kostum, Iqbal datang padaku dan membawakanku minuman isotonik kesukaanku. “Untukmu,” katanya, “kamu benar- benar sangat ekspresif.”
Aku menatapnya sebentar kemudian mengambil botol itu dan berterimakasih padanya. “Aku tahu kamu akan percaya kalau aku juga pantas menjadi Dewi Shinta.”
Iqbal duduk di sampingku dan menjawab, “Iya, kamu udah ngebuktiin itu pas kamu lompat ke dalam api tadi.”
“Untungnya aku nggak perlu lompat ke dalam api beneran,” kataku dengan dilanjutkan tertawa pendek.
Iqbal tersenyum mendengar ucapanku. “Tapi bagiku kamu lebih mirip kijangnya,” katanya sambil menatapku.
Aku menghela nafas, “Apa- apain, sih? Jangan mulai lagi, deh.”
“Enggak kok, yang ini beneran,” ucap Iqbal dengan nada meyakinkan, “kamu lincah, kamu punya semangat buat nunjukkin kamu mampu. Terlebih, kamu udah berhasil buat aku ngejar kamu, tapi kamu nggak bisa kudapatin. Kamu malah berubah jadi jin.”
“Kamu ngomongin aku atau kijangnya?” tanyaku belum mengerti.
Iqbal menepuk jidatnya dan menghela nafas panjang, “Tahu nggak, sih, kamu selalu mengalihkan perhatianku? Apalagi saat kamu jadi kijang tadi, kamu bener- bener udah bikin aku buat kejar kamu. Sama kayak kenyataannya, akhirnya aku juga nggak mendapatkanmu.”
“Kamu yakin?” tanyaku. Aku tidak tahu harus merespon apa karena hanya ingatan tentang drama tadi yang kuingat sekarang. Aku berlari dan menggodanya untuk mendapatkanku.
“Apa aku harus lompat ke dalam api juga?” tanya Iqbal saking gemesnya padaku.
“Kamu kan bukan Dewi Shinta!” seruku sambil menepuk tangannya yang bersedaku di meja.
Dengan cepat Iqbal meraih tanganku dan menggenggamnya seperti tadi saat di panggung. “Aku udah mencoba untuk nggak menspesialkanmu di teater ini dan nggak berpihak sama kamu dalam pemilihan tokoh utama. Aku pikir kamu akan ngerti dengan begitu kamu bisa berubah pikiran dan terima aku. Sayangnya, ini malah bikin kamu berpikir bahwa aku nggak adil dan menganak-tirikanmu,” Iqbal berhenti sejenak dan menarik nafas dalam- dalam, “Hera, tolong percaya sama aku kalau aku bisa memposisikan semua ini dengan benar. Aku sayang sama kamu, sangat sayang sama kamu. Jadi, percayalah.”
Dadaku sesak, panas, dan bergemuruh. Mataku pun panas dan nenar. Aku hanya menggangguk tanpa berkata apa- apa. Aku sungguh ingin semuanya menjadi baik- baik saja setelah ini. Aku rasa inilah resolution di dramaku sendiri.
***The End***

Cerita Kampus - Dear Diary

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 25, 2012 0 komentar

Dear diary, aku nggak tahu harus bercerita pada siapa lagi kalau bukan denganmu, tulisanku sendiri. Sebenarnya, aku nggak mau menodai catatan- catatan harianku ini dengan cerita yang suram, apalagi cerita cinta. Seharusnya, aku membiarkanmu menjadi sebuah buku dengan kenangan- kenanganku yang menyenangkan. Tapi, aku sangat kecewa dan hanya kau yang bisa menjadi tempat curahan hatiku. Dear diary...

Liburan empat hari ini cukup membuatku senang, tapi juga kecewa. Aku senang kalau libur. Hey, siapa yang nggak suka hari libur? Aku! Arghh! Aku gusar kalau harus tahu akan ada kelas pengganti jika ada hari libur di tengah- tengah jadwal akademik. Sebentar- sebentar libur, sebentar- sebentar masuk. Benar- benar kecewa.
Tapi, yang namanya liburan memang harus dinikmati. Maka dari itu aku pulang kampung dimana orangtuaku berada. Setelah satu jam perjalanan dengan mengendarai motor, aku pun sampai di rumah. Yang lebih menyenangkan, sepupuku Airin sudah stand by di kamarku ketika kubuka pintu kamar.
“Hai!!” serunya saat melihatku. Ia berhambur padaku dan berkata, “Tega banget nggak jadi ke Jogja! Tahu nggak, sih, aku udah nunggu- nunggu. Aku udah cerita sama temen- temen kampusku kalau mbak Naira mau dateng! Ternyata apa? Mbak malah nggak jadi!”
Dahiku mengkerut dan memjawab pembelaanku, “Hey, kenapa nggak bilang apa kabar dulu? Apa sapa gimana? Masak iya aku baru dateng kamu udah nyinyir gini gitu? Kamu tahu nggak, sih, kenapa aku nggak jadi ke Jogja? Nggak tahu kan? Mau tahu kan? Makanya, nanti malem tidur sini aja, kita curhat- curhat lagi!”
Wajah Airin sumringah bukan kepalang. Sudah tradisi kalau kami bertemu, kami akan menceritakan apa yang terjadi selama kami nggak bertemu. Yaa, bisa saja kami menceritakan masalah kuliah, tetangga, teman, dan pasti orang yang disukai, orang yang lagi dekat, dan atau apalah mereka seharusnya disebut.
Airin membawa tasku yang berisi buku dan beberapa baju. Sebenarnya disini masih banyak baju, tapi aku ingin saja membawa baju yang baru saja kubeli. Maklum, kebiasaan ini nggak hilang dari SMA. Aku juga membawa beberapa gelang dan kalung yang sama untuk kubagikan dengan Airin, Lunpia khas Semarang yang kubeli dekat kampus untuk orangtuaku, dan aku nggak membawa apapun untuk adik laki- lakiku. Ia laki- laki manja yang menyebalkan. Lunpia saja sudah cukup untuknya.
Mama masuk ke kamar ketika aku dan Airin sedang menggeledah barang bawaanku. Ia berkata, “Ayo makan. Airin juga.”
“Iya, budhe,” katanya lalu meninggalkan pernak- pernik kami. Kalau makan saja langsung datang, batinku.
Aku mengikuti Airin dari belakang menuju ruang makan sambil bertanya pada mama, “Masak apa, nih?”
“Sambal terong sama sosis,” jawab mama yang berjalan menuju dapur.
Ini nggak bisa ditunda- tunda! Makanan favoritku!!!
¯¯¯
Aku baru saja pulang dari mini market membeli coklat instan pesanan Airin serta jajanan untuk dicemil. Aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sedang mendengarkan lagu- lagu korea dari ponselnya sambil berjoget- joget.
I don’t need a man, I don’t a man!” serunya sambil berjoget ala Miss A.
Jinjja?” sambungku, mengagetkannya.
“Eh, dah sampe? Coklatnya ada?” tanya Airin sambil menggeledah isi kantong plastik, “Nah, ketemu!”
Yup, nggak perlu dijawab, kemudian aku menyuruhnya untuk membuat dua gelas coklat instan dan ia menurut. Ketika Airin pergi, aku menoleh ke arah jendela yang belum ditutup. Aku mendekati jendela dan mendapati origami yang bergantung disitu. Origami itu semuanya yang membuat adalah Surya, temanku satu kampus yang ternyata asli orang sini pula. Rumahnya pun nggak jauh- jauh dari kompleks perumahanku. Walaupun begitu, kami nggak pernah bertemu kalau aku pulang ke rumah. Bahkan, di kampusku pun jarang. Entah kemana ia, ia seperti asap yang kesana kemari tanpa pemberitahuan.
Aku memandangi taman belakang rumah dengan pohon mangga yang cukup rindang, dibawahnya ada tempat duduk untuk barbeqiu-an, dan disepanjang dekat dinding ada banyak jenis tanaman dan bunga favoritku. Orangtuaku pandai betul menyuapku dengan pemandangan indah seperti ini saat aku melihat ke luar jendela. Mereka harus melakukan strategi jitu betul untuk membuatku ikut pindah kesini. Walaupun agak sulit, akhirnya aku mengerti kami harus pindah.
Kupandangi foto teman- teman masa kecilku yang ada di rak foto. Semuanya sangat gembira. Aku, Ian, Kiran, Jingga, si kembar Dion-Doni, dan Reva sudah bersahabat sejak kecil walau umur kami berbeda satu sama lain. Alasanku nggak mau pindah karena aku nggak mau berpisah dengan mereka. Tapi, mama bilang kalau kondisi eyang sudah nggak sesehat dulu dan mama ingin kami lebih dekat dengan eyang, maka dari itu mama membeli rumah di perumahan yang nggak jauh *padahal jauh, menurutku* dari rumah eyang.
Awalnya keadaan mempersulitku karena aku harus mulai tinggal di kost. Kemudian, setiap weekend aku harus pulang dan menempuh hujan ataupun panas selama satu jam agar sampai. Parahnya, aku nggak terbiasa jauh dari mama. Hal itu membuatku sedih dan jika aku sedang butuh seseorang untuk kucurhati, aku nggak bisa lari ke salah satu temanku yang kusebutkan tadi. Tapi, aku punya sebuah diary yang kudapat gratis dari membeli boneka, jadi aku cukup nggak kesepian, walaupun juga aku masih punya orang kepercayaan di kampus.
Suara pintu berderek ketika Airin datang membawa dua gelas coklat panas. “Masih panas, tunggu dulu, yaa, sambil cerita- cerita.”
Aku tersenyum dan melompat ke ranjang. Aku menepuk- nepuk tempat di sampingku yang kosong dan setelah Airin meletakkan coklat di meja dekat ranjang, ia pun melompat ke sampingku.
“Jadi?” tanyanya mulai mengeksekusi.
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkan selembar foto dari laci. “Karena dia, aku nggak jadi berangkat ke Jogja,” kataku sambil tersenyum malu- malu, memulai pembelaanku.
“Ihirrr!” serunya meledekku.
“Gimana?” tanyaku meminta pendapat.
“Lumayan. Cuman, dia sedikit berantakan di... kamu tahu, kan, mbak?” Airin memutar- mutar telunjukknya di rambutnya.
“Aaah, yaa, aku tahu, dia memang gitu. Foto itu aku ambil saat dia lagi manggung, jadi itu hanya properti,” kataku menjelaskan rambut laki- laki yang ada di foto, Surya dengan rambut warna ungu, hijau, biru, dan merah saat pentas di kampus dengan tema Candy Lover Taman Ceria yang menurutku aneh saja untuk pentas ukuran mahasiswa.
“Jadi, gara- gara ini?” tanya Airin, “Gara- gara acara ini?”
“Bukaan, ini acara emang udah lama,” kataku, “acara yang kemarin itu pas dia sama band-nya jadi bintang tamu di teater kampus. Dia sama temen- temennya, walaupun bukan pemeran utama, ikut main di teater itu. Awalnya aku nggak mau dateng, tapi karena dia yang minta aku nonton, yaa akhirnya aku dateng, deh. Maaf, yaa.”
“Jadi, dia orang penting yang mau mbak Naira ceritain?” tanya Airin.
Aku mengangguk malu- malu.
“Kok bisa suka, sih, sama orang kayak gitu?” tanya Airin, “Kayaknya bukan tipe mbak banget, deh!”
Aku berpikir sejenak, “Mmm, aku nggak tahu juga, sih, perasaan ini ngalir gitu aja. Aku nyaman kalau sama dia, walaupun dia sering ngejek- ngejek aku. Ngejek ini, ngejek itu, tapi dia jujur, lho! Nggak pernah bohongin aku. Dia jujur banget kalau dia nggak punya uang, dia jujur banget kalau dia sering bolos kuliah, dia...pokoknya jujur! Apa adanya, deh. Beda sama yang lain- lain. Kalau yang dulu- dulu, mereka ngedeketin aku pake cara yang sopaaann banget biar aku luluh, tapi Surya biasa aja, dia blak- blakan apa adanya, aku jadi salut sama dia!”
“Tapi, mbak, inget- inget, lho, cinta itu sepanas tai ayam!” seru Airin.
“Iiuuh, jorok banget, sih!” seruku jijik.
“Bukan itunya,” sergah Airin segera, “maksudku, apa Mas Surya tau kalau mbak suka sama dia? Takutnya, dia biasa- biasa aja sama mbak dan mbak yang kege-eran.”
“Trus, hubungannya sama tai ayam, apa?” tanyaku bingung.
Airin menghela nafas, “Kalau mbak tahu kenyataannya berbanding terbalik, apa mbak nggak bakal sedih, percuma punya cinta yang kayak gitu, cintanya cuman sedetik aja.”
Aku pun memikirkan spekulasi Airin. Ada benarnya juga, tapi pepatah berkata, “Percaya pada apa yang kamu lihat, dan lupakan apa yang kamu dengar” Yaa, siapa tahu kalau spekulasi Airin salah, Airin nggak kenal siapa Surya, juga dia nggak tahu sudah seberapa dekat aku dengan Surya.
“Ya, okelah, aku bakal hati- hati, thanks, my lil-sist,” kataku sambil mencubit pipinya. Kutawari ia coklat dan kami teguk pelan- pelan. Kini giliran Airin, “Jadi, gimana sama pria idealmu? Bibit, bebet, bobot?”
Airin melirik ke arahku dari balik gelas saat meneguk coklat. Ia tersenyum sambil memperlihatkan coklatnya menempel di gigi. “Hehehe,” jawab Airin.
¯¯¯
Fine! Cukup nyesel, deh, aku nggak jadi berangkat ke Jogja! Gimana enggak? Ternyata Airin sudah punya pacar seminggu sebelum aku seharusnya datang ke Jogja. Ia niat untuk memperkenalkan Indra, pacarnya, kepadaku saat aku datang, pantas saja Airin sangat sewot.
Walaupun aku nggak tahu wujud asli Indra, Airin memperlihatkan foto mereka saat Korean Day di kampus Airin. Mereka memakai hanbok berwarna peach yang imut. Mereka seperti pasangan anak SMP karena wajah mereka yang masih polos dan karena Airin juga terlihat mini seperti anak SMP.
“Yeey! Makan- makan!” seruku saat berada di depan rumah makan steak yang selalu kami kunjungi kalau aku pulang dari Semarang dan Airin pulang dari Jogja. Kami masuk  dan menemukan kursi di ujung ruangan bagian luar. Kami sengaja memilih di luar agar pencahayaannya lebih terang daripada di bagian dalam. Dekorasi Belanda-Jawa sangat kental disini. Mulai dari pintu masuk yang tinggi dan berwarna putih pucat, dinding yang dihiasi kayu- kayu ukir khas Jawa, dan bangku dari kayu serta ornamen Belanda.
Aku duduk menghadap pintu sedangkan Airin duduk menghadap tembok. Aku lebih suka melihat orang lewat daripada benda mati yang nggak bergerak seperti tembok. Kemudian pelayan datang dan kami memesan makanan. Proses pemesanan berakhir dan kami tinggal menunggu pesanan kami datang.
Airin bercerita lagi tentang Indra. Aku bosan sebenarnya, tapi aku sangat maklum karena adikku yang cantik ini sedang mabuk asmara. Airin bercerita dengan suka cita. Menceritakan bagus dan jeleknya Indra dan betapa ia sangat menerima itu semua. Bayanganku, Indra pasti sosok yang tepat untuk Airin, dan Airin sangat nggak pantas jika Indra menyakitinya.
“Yaa, mbak harap mbak juga gitu,” komentarku saat Airin bercerita bahwa Indra memberinya coklat dan bunga, dan kaos kaki agar kaki Airin nggak belang. Betapa perhatiannya Indra!
Kemudian makanan kami datang dan siap menyatap double chicken steak dan float kami. Aku melahap irisan demi irisan steak yang kumakan sambil melihat ke jalanan yang mulai gerimis. Aku mendongak ke atap yang transparan dan dihiasi tanaman yang menjalar, rintikan hujan mulai turun dan membuatku ingat pada Surya. Lagu demi lagu yang diputar oleh pihak rumah makan kebanyakan lagu- lagu yang mengingatkanku pada Surya.
“Galau, ya?” tanya Airin yang rupanya tahu kalau aku sedang memikirkan Surya.
“Hah?” tanyaku, “Enggak kok.”
“Nggak bohong, deh, mbak, pliss,” katanya.
Aku mendengus dan mengakui malu- malu, “Iya, iya, aku kepikiran dia. Aku harap dia disini, mumpung liburan, kan?”
“Ihirrr,” balasnya saat ia mendorong pelan platenya yang sudah kosong.
“Lagunya, sih,” ucapku menyalahkan lagu- lagu yang mengingatkanku pada Surya.
“Ceileee,” serunya menggodaiku, “ini lagu lama, lagunya Bunga Citra Lestari, Kecewa, kan?”
“Iyaa, tapi dah mau abis,” kataku.
Lagu berganti ketika aku sudah menyelesaikan makanku. “Ciihh, Someone Like You, deh!” kataku.
Sambil menunggu makanan di perutku turun dengan lancar, aku mengikuti suara Adele menyanyikan lagu itu. Airin yang melihatku ikut bernyanyi malah tertawa geli. Ia pasti meledekku dan mengataiku kalau aku galau. Tapi, siapa yang mau menggantikan Surya dan mencari someone like him?
I wish nothing but the best for you....,” aku berhenti bernyanyi ketika aku benar- benar melihat Surya masuk ke rumah makan steak ini dengan seorang gadis yang cukup cantik bersamanya. Gadis itu menggandeng tangan Surya dan bersandar tepat di bahu Surya sambil mencari tempat duduk yang kosong dan tempat duduk di sampingku kosong.
Kami saling bertatapan saat Surya mengikuti telunjuk gadis di sampingnya menunjuk kursi kosong di sampingku dan melihatku. Aku kaget dan mataku nanar. Airin mengikuti arah pandanganku dan menutup mulutnya yang meng-O saat melihat laki- laki yang dipikirnya pasti Surya.
Sometime it last in love, but sometime it hurts instead,”
Surya dan gadisnya menuju bangku di sampingku. Aku merasa semua yang ada di hadapanku ditelan bumi. Semuanya gelap dan aku merasakan tangan kecil Airin menggenggam tanganku menuju entah kemana karena aku pun sangat kalut. Kupikir kepalaku masih menoleh dimana Surya berada bersama gadisnya, tapi aku nggak melihat Airin bahkan gadis yang bersama Surya.
Apa aku buta? Tapi aku masih bisa melihat Surya. Hanya Surya yang duduk di depan gadisnya, yang hanya bisa kupandangi punggungnya. Berbalik, berbalik, berbalik!
¯¯¯
Aku putri tidur yang berharap bangun sebelum seratus tahun waktunya kalau sang pangeran berkuda putih harus memboncengi perempuan lain saat akan menciumku agar bangun. Kenyataan memang 80% menyakitkan!
Kesalahanku adalah satu, aku menganggap Surya orang yang jujur dan apa adanya padaku. Dua, spekulasi Airin yang mengatakan bahwa cinta sepanas tai ayam yang nggak kugubris seratus persen. Dan tiga, pepatah yang berkata “Percaya pada apa yang kau lihat dan lupakan apa yang kaudengar”.
Aku meringsuk di bawah selimut yang hangat sambil terisak- isak. Airin membawakanku spagetti dengan taburan keju di atasnya, favoritku, juga segelas coklat instan hangat. Ia membuka bungkusan selimutku, tempat aku berlindung.
“Mbak, mbak boleh nangis sepuasnya kok, nggak perlu malu, semua orang lagi di rumah eyang, mungkin nginep disana. Mbak juga boleh sedih dan luapin amarahnya biar lega. Tapi, mbak sedari jam enam belum makan, perutnya cuman diisi steak sama float siang tadi. Ini dah jam delapan, lho. Mana tadi kehujanan, kalo nggak diisi makanan nanti sakit,” ujar Airin panjang lebar.
Kemudian aku bangkit dari tidurku dan duduk di ranjang. “Abisnya, mama juga, sih, mana pergi nggak masakin apa- apa,” jawabku ketus.
Airin mendengus, “Yaah, mbak sendiri juga, sih, yang nggak ngecek memo di kulkas. Budhe dah bikinin spagetti ini, tinggal dipanasin pasta sama sausnya, tinggal parut kejunya. Abisnya, pulang- pulang langsung ngringsuk di selimut.”
Aku manyun mendengar anak kecil mengomeliku. Kemudian kuraih sepiring pasta dan melahapnya. Airin keluar kamar dan kembali dengan sepiring pasta untuknya dan berkata, “Kalau masih mau, masih ada banyak kok spagettinya.”
Aku mengangguk sambil terus melahap spagettiku. Aku lapar, aku marah, aku kesal, dan aku kecewa! Semua kulampiaskan dengan tiga piring spagetti yang khusus dilayani oleh Airin. Setelah selesai makan, aku mengganti pakaianku yang sedari tadi belum kuganti, mengganti seprai yang basah karena bajuku, dan mencuci piring kotor.
Airin mendekat ke arah pintu saat ada yang mengetuknya dengan cukup gusar. Airin takut kalau itu perampok atau apa. Tapi, pikiran positifnya berkata bahwa perampok nggak akan sesopan itu untuk masuk ke rumah orang, mereka nggak tahu apa itu pintu. Menurutnya, ketukan seperti itu adalah ketukan orang yang ketakutan.
“Ya?” tanya Airin saat melihat siapa yang datang.
Aku menoleh ke Airin yang berkata itu tamu untukku. Airin nggak menjawab siapa tamu itu, ia hanya berkata, “Temui saja, aku yang buatkan minum.”
Aku berjalan sambil bersendawa cukup keras. Aku menjadi kikuk saat kulihat Surya duduk di bangku teras dengan tatapan aneh, mungkin karena mendengar sendawaku.
Apa aku akan lari saat melihat Surya? Enggak bakal! Aku cukup dewasa untuk bisa mengahadapi masalah, walau aku tadi meronta nggak ingin ketemu Surya lagi.
“Eh, maaf, ya,” kataku sambil menutup mulut, “kelepasan.”
“Makan kodok, ya?” tanya Surya melucu. Garing.
Aku duduk di sampingnya dan nggak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Saat aku akan berkata, Surya juga ingin mengatakan sesuatu. Dengan sopan, yang baru kutahu ini, ia menyuruhku berkata dahulu.
“Dunia sempit, ya?” tanyaku tanpa butuh jawaban. Menyindir.
“Luas kok,” katanya, “kamu aja yang berkutat disini. Kenapa?”
“Kenapa gimana? Apanya?” tanyaku.
“Apa ada yang nahan kamu buat tetap disini? Dunia itu luas,” ujarnya.
“Filosofis banget,” cercaku agak sinis.
“Kenyataan,” balasnya, “jadi, apa yang nahan kamu disini?”
“Mau tahu banget apa mau tahu aja?” tanyaku sambil tertawa garing. Sangat krik!
Surya mencoba mencubit pipiku tapi aku sudah menghindar dulu. Kukatakan dari gerakanku bahwa ini nggak pantas.
Surya dan aku terdiam beberapa saat. Airin datang membawa minuman dan langsung pergi. Kupersilakan Surya minum karena aku tuan rumah yang baik, walaupun Surya sudah menjahatiku.
“Mmm, by the way, kamu kok tahu rumahku?” tanyaku, “Aku, kan, baru aja pindah.”
“Mau tahu banget apa mau tahu aja?” tanyanya balik. Lalu kami tertawa. Tertawa yang sangat singkat.
“Cihh, apa- apaan ini?” tanyaku sendiri. Aku melirik ke jam yang ada dinding ruang tamu, “Hampir jam sembilan, nggak sopan kamu disini lebih lama, maaf, ya.”
“Tunggu, Ra,” kata Surya, “aku mau jelasin yang tadi.”
“Apa lagi?” tanyaku dengan otomatis nada tinggi. Kesal dan benci.
“Sebelumnya aku mau tahu, gimana perasaanmu ke aku. Gimana, Ra?” tanyanya.
“Mau tahu..,”
“Sssttt, serius, Ra,” kata Surya sambil menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
Aku menghela nafas dan tersenyum, “Aku suka kamu.”
“Ya, tapi..,”
“Dan aku terlambat, aku tahu. Seharusnya aku bilang di saat aku benar- benar yakin. Tapi, yaa, aku hanya terlambat,” kataku.
“Salahku yang nggak berani tanyakan hal ini dari awal aku ngerasa yakin kalau aku juga suka sama kamu,” Surya mengaku.
“Ya, dan kita sama- sama terlambat,” kataku, “aku tahu itu. Bodohnya aku, my bad.”
“Kamu marah?” tanya Surya.
“Iyalah!” seruku dengan nada tinggi, namun normal kembali saat aku menjelaskan, “Itu normal karena aku kecewa saat tahu kamu udah punya cewek.”
“Yang nggak kusukai,” Surya mengaku lagi. “Kalau mau, aku bakal putusin dia. Buat kamu, Ra.”
Aku tertawa garing, “Kamu nggak perlu dan nggak boleh ngelakuin itu. Aku suka kamu karena kamu jujur, kamu blak- blakan, dan kamu apa adanya. Tolong jangan buat aku illfeel sama kamu hanya karena kamu nggak tanggung jawab atas keputusanmu.”
“Bukannya kamu suka sama aku? Kamu juga tahu sekarang kalau aku suka kamu. Kita sama- sama tahu kalau kita nggak bertepuk sebelah tangan,” ujarnya gusar.
“Tapi semua udah terlambat,” kataku, “jangan buat gadis tadi kecewa.”
“Kamu kenapa... seperti... kamu.. kenapa..?” Surya gusar. Ia menggaruk- garuk kepalanya yang nggak gatal.
Kuraih tangannya yang mencoba melukai dirinya sendiri dan berkata, “Aku cukup senang kalau aku tahu aku nggak bertepuk sebelah tangan.”
“Tapi, Ra...,” Surya melepas genggamanku dan menghapus air matanya.
“Aku nggak percaya rocker kayak kamu bisa nangis juga,” kataku polos melihat Surya mencoba menghapus tiap air mata yang bercucuran. Nggak tega, sih, setiap akan mengatakan sesuatu, ia meneteskan air mata hingga sesenggukan, “Maafin aku, ya.”
¯¯¯
Pukul setengah sepuluh mungkin atau kurang atau lebih, Surya pamit pulang. Air matanya sudah puas ia habiskan untuk meluapkan kekecewaannya karena kebodohannya, kebodohanku juga, tepatnya kebodohan kami yang nggak berani selangkah lebih pasti menentukan perasaan.
Sebelum pulang, Surya memelukku *dan kupastikan nggak satupun tetanggaku yang melihat ini* dan mencium keningku. Aku tahu perasaannya saat itu. Ia mencoba merelakan semua ini mengalir begitu saja.
Setelah kupastikan ia benar- benar pulang, aku kembali masuk ke rumah dan membereskan cangkir minum kami. Lalu, aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sudah tidur.
Aku menggosok gigiku dulu setelah berganti baju tidur, kemudian aku menuju meja belajar dan meraih diary yang kusimpan di laci yang terkunci dan kuncinya hanya aku yang tahu dimana.
Aku pun mulai menulis.
Dear diary, benar hanya kau yang harus tahu, tapi Airin juga. Hanya saja, kau yang harus tahu lebih dulu. Aku seharusnya nggak menodaimu dengan kisah- kisah sedihku. Ini pasti akan menjadi kenangan yang suram untuk kubaca lagi suatu hari nanti. Seharusnya aku mengisimu dengan kisah- kisah yang menyenangkan, supaya memoriku hanya berisi kisah yang menggembirakan. Tapi, aku tahu itu bohong.
Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, kejadian hari ini, aku harap, terjadi hanya padaku, jangan Airin atau orang lain yang kusayangi. Karena, sangat nggak mudah membohongi perasaan dan mengatakan semua akan baik- baik saja. Merelakan Surya dengan ikhlas, itu nggak mungkin. Untuk apa kubuang air mata ini seharian? Aku hanya merelakan agar Surya nggak sedih. Lucu saja melihat rocker menangis. Haha!
Sad ending. Mmm, nggak, nggak, nggak! Ini belum sepenuhnya END! Aku yakin Surya nggak akan berpaling dariku walaupun sudah ada gadis lain. Aarghh! Sialnya! Gadis itu membuatku menangis sekarang, karena ia membangunkanku di kenyataan bahwa mereka benar- benar jadian!
Naira yang ababil, hapus air mata! Cepat!
Aku merelakan Surya untuk tetap bertanggungjawab atas apa keputusannya karena aku tahu kami sama- sama nggak bertepuk sebelah tangan. Kenyataan positifnya adalah, Surya nggak harus menjadikanku pacarnya untuk dia tetap suka padaku dan aku nggak harus menjadikannya pacarku juga agar aku bisa menyukainya. Semua ini akan berjalan seperti bumi seharusnya berputar, nggak akan ada repeating time dan aku rela untuk menunggunya putus secara baik- baik dari pacarnya. Haha!
Dan oops! Aku berhutang cerita panjang pada Airin! Baiklah, selamat malam pangeran berkudaku, aku akan tidur lagi dan menunggumu datang sendirian tanpa gadis lain membonceng di kudamu. Good night .
¯¯¯

Senin, 22 Oktober 2012

Cerita Kampus - Hujan

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Oktober 22, 2012 0 komentar

Aku sedang duduk di teras masjid kampus sambil menunggu hujan reda. Teman- temanku meninggalkanku saat aku sedang sholat tadi, akhirnya aku hanya bisa menatap tetes- tetes air yang jatuh dari langit.
Leherku merasa bergidik dan aku mulai cemas. Seseorang sedang melihat ke arahku, tapi aku tidak tahu siapa. Semua orang yang duduk di teras masjid sama hopelessnya denganku disini.
“Tuhan, tenanglah, aku tidak membenci hujan-Mu, aku hanya cemas dan khawatir karena aku sendirian disini. Hujan-Mu berkah, kok,” Aku mencoba menenangkan diriku dalam hati.
Orang- orang mulai berlalu, ada yang sudah dijemput teman atau pacarnya, ada juga yang rela hujan- hujanan karena nggak sabar. Aku menoleh dan memastikan bahwa masih ada beberapa segelintir orang.
Saat kutolehkan kepalaku lurus, seseorang memegang pundakku dan mengagetkanku. Aku hampir berteriak tapi laki- laki itu langsung membekap mulutku.
“Jangan berisik, ini masjid!” serunya sambil duduk di sampingku.
Kupukul tangannya agar tidak membekapku lagi kemudian kupukul bahunya. “Apaan, sih? Kamu yang bikin aku kaget!” seruku.
“Kagetnya?” tanyanya sambil terkekeh- kekeh, “Sorry , deh.”
“Rejected!”
“Apa?”
“Nggak apa,” jawabku singkat kemudian bertanya, “Kamu ngapain disini?”
“Neduh, hujan gini mana mau aku basah- basahan? Emang film India!?” jawabnya sambil tertawa.
Aku tertawa – sangat – singkat, “Kamu nggak mau basah atau emang takut air!?”
“Emangnya aku kucing?” tanyanya sambil mengacak- acak rambutku.
“Tomi!” seruku sambil membenarkan rambutku, “Dasar nggak pernah mandi! Takut air! Hahaha.”
“Eeh, ngejek melulu, nih!” serunya sambil menyenggol bahuku sampai aku terjatuh.
Sebagai gantinya, aku menarik rambut gondrong sebahunya yang dikuncir seperi anak perempuan yang mau mandi. “Hiii, nggak pernah keramas!” seruku sambil mengelap tanganku ke bajunya dengan bercanda.
“Heeyy, Nino, jangan sembarangan, ya!” serunya sambil tertawa dan ia membenamkan kepalaku ke dadanya dan rambutku diacak- acak lagi.
“Tuhan,” kataku dalam hati, “kenapa jantungku berdegum kencang sekali? Kenapa hatiku menjadi campur aduk? Kenapa dadaku jadi linu? Kenapa tanganku jadi sedingin Vampire? Tuhan, aku menyukainya. Tuhan, apa salah aku menyukainya?”
Aku melepaskan diriku dari benamannya dan membenarkan rambutku. Pipiku pasti memerah karena kurasakan darah mengalir dari otak ke pipiku. Agar Tomi nggak salah paham, aku berkata sebagai alibi, “Panas tau!”.
Aku membenarkan posisi dudukku dan ia bertanya padaku, “Kamu suka hujan?”
“Aku suka air, lebih tepatnya, jadi aku suka hujan,” kataku, “aku kan nggak phobia air kayak kamu, hahaha!”
“Serius, No,” katanya sambil mencubit pipiku.
Ya Tuhan! Apa benar ia mencubitku??
“Ke.. Kenapa kamu tanya aku suka hujan? Mau ngajak hujan- hujanan terus nyanyi- nyanyi kayak di film India?” tanyaku.
“Idiih, nggaklah! Cuman tanya aja. Kenapa kamu suka air?” tanya Tomi lagi sambil menatap hujan.
“Berasa apa aja deh kamu nanya seserius ini!” seruku.
“Jawab aja, bawel!” kali ini ia memencet hidungku dengan jari telunjuknya.
Tuhan! Engkau pasti melihat ini tadi! Rasanya hidungku ingin memelerkan sesuatu karena saat ia menyentuhku, aku merasa panas dan meleleh.
“Air itu baik buat kehidupan, aku nggak pernah marah kalau hujan karena pasti ada berkahnya buatku. Aku memang bukan petani, tapi aku mahasiswa yang lagi terjebak hujan disini dan menunggu berkah Tuhan yang turun bersama hujan. Mungkin berkahnya sudah ku dapat dari tadi, atau barusan, atau bisa juga nanti. Misalnya, aku bisa lihat pelangi setelah hujan.
“Tapi, air itu diam- diam menghanyutkan. Air bisa aja selembut kain yang nempel di bajumu, tapi air juga bisa kasar. Nyatanya, batu aja bisa terkikis sama air. Air bisa merubah benda padat menjadi cair atau elemen kecil- kecil,” ujarku panjang lebar tanpa diganggu oleh Tomi, “sudah puas?”
“Apa iya batu bisa terkikis air? Kalau kamu itu air, sedangkan aku batu, apa kamu mau merubahku menjadi elemen kecil- kecil?” Tomi memalingkan pandangannya padaku dengan tatapan serius.
Aku terpaku di matanya yang memandangku seolah menuntut jawaban cepat dan sigap. Mataku berkedip dan menyadarkanku. Aku terlalu jatuh dalam pandangannya. Tuhan, aku benar menyukainya. Aku menyukai rambut gondrongnya, sikapnya memperlakukanku seperti adiknya saat bercanda, dan tatapannya saat ia berbicara serius.
“Apa kamu pingin aku merubah sesuatu darimu?” tanyaku.
“Kamu kan air,” jawabnya lalu memalingkan pandangannya dari wajahku.
“Hey,” kataku hingga ia menoleh lagi padaku, kami benar bertatapan dan dalam nafas nggak terkontrol aku menjawab, “aku sebagai aku nggak akan merubah apapun darimu sebagai kamu. Kamu akan berubah jika kamu mau. Nggak akan ada yang bisa merubahmu kecuali kamu. Sebaliknya juga, kamu nggak akan bisa merubah apapun atau siapapun. Kamu sendiri yang butuh berubah, jadi kamu berubah. Air akan merubah bentuk batu karena batu tau ia akan hanya ditaklukan secara alami oleh air.”
“Kamu nggak menuntut apapun?” tanyanya.
“Apanya? Hujannya atau airnya?” tanyaku.
Tomi mengedipkan sebelah matanya kemudian bangkit berdiri dan meninggalkanku.
“Tuhan, dia mengedipkan matanya padaku! Tuhan, aku menyukainya, benar suka padanya. Aku nggak peduli rambut gondrongnya, badan kurusnya, parfum cowoknya yang menyengat bagiku!” ujarku dalam hati.
“Hey,” Tomi kembali dan duduk lagi di sebelahku. Ia menyodorkan coklat padaku, “Kamu laper, kan?”
“Makasih,” jawabku sambil menerima coklatnya dan memakan itu.
Gigitan coklat pertama darinya sangat manis, tambah manis juga saat ia mengacak rambutku sambil berkata, “Jadilah air untukku.”
Aku mengulum coklatku dan mengedipkan mata beberapa kali nggak percaya. Tangan kurus Tomi mencubit pipiku lalu mengedipkan mata lagi. Badanku merasa panas dan pasti wajahku memerah saat ini.
Kutelan coklatku lalu menjawab dengan cukup tegas sebagai perempuan, “Aku air yang nggak akan merubahmu menjadi siapapun atau apapun. Kamu akan jadi kamu saat kita bareng- bareng.”
Ia tersenyum padaku dan kubalas senyumannya.
“Tuhan, aku memang bukan petani, tapi hujan-Mu membawa berkah padaku, aku rasa aku nggak perlu pelangi muncul lagi, hujan sajalah!” seruku dalam hati.
ggg

Selasa, 26 Juni 2012

Pop Corn - CUPU!

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Juni 26, 2012 0 komentar

Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku menarik. Dan aku sadar betul dengan diriku ini. Jika dulu semua temanku mengejekku karena aku NOL dan aku nggak menarik, sekarang mereka menelan ludah mereka sendiri dengan berebut untuk dekat denganku. Tapi, dalam hati kecilku, diriku yang dibangga- banggakan dan dielu- elukan ini membuatku terhanyut dalam kesombongan dan aku malah senang menjadi seperti ini.
“Ilana, hidupmu sekarang sudah berubah!” seruku. Aku menutup binderku yang isinya foto- fotoku saat SMP. Sangat cupu, nggak gaul, dan malu- maluin. Kusimpan binder itu di laci kamar dan kukunci rapat, setelah itu aku berangkat ke sekolah.
Sekolahku memang bukan sekolah elit. Nggak semua teman- temanku tajir dan gaul. Tapi sekolah ini menjadi keren karena ada ‘The Fairies’. Mereka bukanlah sekelompok orang dalam satu band, atau grup vionist, dan juga bukan sekelompok orang yang menjadi satu dalam anggota pengurus OSIS. The Fairies adalah aku dan teman- temanku. Fika, Amanda, aku sendiri, Rosa, dan Yesi. Masing- masing dari kami memang cantik dan memiliki keunggulan masing- masing.
Berawal dari mantan pacar Rosa, Diggo, yang sering mengumpulkan cewek- cewek cantik menurut listnya dan mengajak untuk makan siang bersama. Kami berlima adalah salah satunya. Karena sering bertemu saat diajak makan siang oleh Diggo, akhirnya kami menjadi kenal dan dekat, lalu kami memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok karena kecantikan kami.
Memang terdengar sombong, tapi inilah kami, kami hanya sedang menikmati anu-grah yang diberikan Tuhan pada kami lewat kecantikan kami.
Aku turun dari kendaraanku dan menuju ke kantin dimana teman- temanku sedang sarapan disana. Aku mendekati mereka dan langsung nimbrung dengan obrolan mereka.
“Hei, baru aja datang?” tanya Fika.
Aku mengangguk dan bertanya, “Dimana Rosa?”
Teman- temanku celingkukan mencari Rosa. Kemudian Amanda menunjuk ke arah belakangku dan berseru, “Rosa!”
Rosa datang setengah berlari. Ia ketawa- ketiwi, sepertinya ada gosip yang siap ia ceritakan pada kami. Rosa kemudian duduk sambil terengah- engah. Ia merebut minuman yang masih diminum Fika.
“Eh eh eh!” seru Fika nggak rela minumnya direbut Rosa.
“Tunggu deh, kamu kenapa, Ros?” tanyaku.
“Kayaknya ada berita baru, nih, share dong,” pinta Yesi mendekatkan dirinya ke arah Rosa. Kami pun saling menempelkan badan kami ke Rosa untuk mendengarkan ceritanya.
Rosa menggoda kami dengan mengulur- ulur waktu unuk bercerita, setelah ia mengatur nafas, ia berkata, “Ada anak baru!”
“Hah?!” seru Yesi.
“Cowok?” tanyaku spontan.
“Ganteng?” tanya Fika penasaran.
“Tajir?” tanya Amanda dan sifat matrenya keluar.
“Cowok, tapi cupu banget, sumpah!” seru Rosa.
Mendengar kata ‘cupu’, aku jadi flashback ke zaman aku SMP dulu. Cupu dan banyak orang yang nggak mau berteman denganku, kecuali satu, Kirana. Aku nggak fokus dengan apa yang dibilang Rosa karena otakku langsung down saat kata ‘cupu’ diucapkan, seperti mantra pembeku.
“Setuju!” seru mereka.
“Apanya?” tanyaku.
“Aah, lemot amat, sih!” seru Yesi, “Udah, nanti aku kasih tahu di kelas.”
Bel masuk jam pertama berbunyi dan kami langsung berhambur ke kelas masing- masing.
Aku satu kelas dengan Yesi, ia juga duduk di bangku sebelahku. Saat pelajaran akan dimulai, Mrs. Elsa memperkenalkan murid baru yang memang benar- benar cupu. Satu yang keren dari laki- laki itu adalah jam tangannya.
“Hai, namaku Fadzan Putra Ghandi, panggil saja Putra. Aku pindahan dari Bogor. Senang ketemu kalian disini, semoga kita bisa jadi teman baik,” ujarnya.
Your wish,” ucap Yesi lirih kepadaku. Kami saling ketawa. Mataku tertuju dari ujung atas sampai ujung bawah dan benar aja, hanya jam tangannya yang keren.
–––
Saat istirahat tiba, Yesi nerocos melulu tentang Putra dan teman- temanku yang lainnya berasa haus dengan cerita itu sehingga Yesi menceritakannya lagi dan lagi.
“Yaudah! Buruan kita jalanin misi kita!” seru Rosa.
“Misi apaan?” tanyaku penasaran.
Amanda berkata, “Yang tadi pagi itu loh. Kamu, sih, ngelamun melulu, jadi lemot, deh!”
Fika menegur kami untuk diam. Kemudian ia mengocok lima kertas yang tergulung yang di dalamnya berisi nama- nama kami. Fika melepaskan satu gulungan dari kocokannya dan keluarlah sebuah nama. “Ilana!”
Aku bingung sementara teman- temanku terkejut dan langsung tertawa bersama. Tertawa mereka sangat girang. Aku meminta Yesi untuk menjelaskan ke padaku dan akhirnya aku tahu apa yang mereka tertawakan. Aku harus menjalani sebuah misi untuk mendekati si cupu Putra dengan kecantikanku dan harus bisa berkencan dengannya. Aku hanya diberi waktu selama dua hari untuk misi ini.
“Kalian benar- benar tega!” seruku. Nggak ada yang lucu dalam kalimatku, tapi mereka semua tertawa mengejekku.
–––
Hari ini juga aku menjalankan misi aneh di dunia ini, dan aku harap nggak masuk ke acara salah satu program tv dengan judul “7 misi teraneh di dunia”.
Pertama, aku harus tahu bidang yang sangat Putra geluti. Dan mudah saja, aku langsung menemukannya saat aku memohon pada Tuhan untuk menunjukkannya. Putra sangat ahli dalam mata pelajaran kimia. Pelajaran yang aku juga suka.
Saat istirahat kedua, aku mendekati Putra yang ternyata sudah dikerumuni oleh teman- teman laki- laki. Coba pikir, siapa teman- teman perempuanku yang mau mende-katinya? Yaah, kecuali aku, jika dilihat dari sisi kasusku, misiku!
Aku melewati kerumunan teman- temanku dan duduk di samping Putra. Semua teman- temanku menatap kepadaku dan mulai menggosipkan aku. Aku maklum saja, aku kan cantik.
Aku berpura- pura nggak mengerti dengan mata pelajaran yang dijelaskan guruku tadi dan meminta Putra untuk menjelaskannya padaku. Matanya memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin ia takjub karena didatangi oleh peri cantik sepertiku. Tangannya gemetaran saat mulai menjelaskan padaku. Aku juga bisa mendengar suaranya bergetar. Aku rasanya ingin tertawa.
Dari arah tempat dudukku, The Fairies sedang mengamatiku dan berdecak kagum. Satu langkah dalam misi sudah terlaksanakan, dan itu berhasil.
Aku meminta nomor ponsel Putra dengan dalih untuk bertanya tentang mata pelajaran yang lain. Semua temanku kaget dan tercengang karena nggak sembarangan orang bisa mengetahui nomor ponselku. Saat Putra memberikan nomornya padaku, aku miss call ponselnya dan berbisik genit, “Jangan berikan nomorku pada orang lain, ini hanya buat kamu. Oke?”
Putra mengangguk tegang. Kemudian terdengar bel masuk berbunyi. Aku segera kembali ke bangkuku dan menceritakan hal tadi kepada Yesi.
–––
Siapa yang benar- benar ingin sms Putra? Ini hanya misi dan ternyata memang Putra adalah sasaran empuk. Ia mudah saja kukelabui, walau nyatanya teman- temanku yang laki- laki juga akan begitu saat kukelabui.
Kenapa orang cupu begitu sangat lemah dan terpedaya? Polos dan nggak berani menentang. Mudah saja ditipu. Seperti aku hanya menjentikkan jari dengan genit, kemudian korbanku terpanah asmara.
Semalaman ini aku memikirkan cara tepat untuk mengajaknya berkencan. Tempat yang pas untuk orang seperti dia. Kalau aku, sih, bisa menyesuaikan. Kenapa kencan harus berada di tempat yang romantis? Apa sebenarnya kencan itu? Yang ada dalam pikiranku selama ini, kencan adalah sepasang muda- mudi yang sedang kasmaran dan duduk di kafe sambil bercerita tentang pribadi masing- masing.
Aku berpikir sejenak dan mendapat ide saat kupandangi puluhan novel yang ada di rak bukuku. “Toko buku!”
Aku buru- buru menelepon Putra dan mengajaknya ke toko buku untuk memban-tuku memilih buku pendamping siswa dalam menghadapi ujian. Memang terdengar aneh bagi Putra karena ujian masih sangat lama, tapi kuberikan alasan logis agar ia benar- benar mau menemaniku.
Well, sekali lagi Putra masuk ke dalam lubang yang kugali. Siang setelah pulang sekolah, aku dan Putra jalan bersama menuju parkiran. Aku sadar hal ini banyak mengundang orang- orang untuk bergosip, tapi demi misi persahabatan, aku rela sehari ini menjadi seekor keledai dungu.
Dengan cepat aku mengendarai motorku menuju toko buku dekat kedai kopi langgananku. Aku nggak harus lama menunggu Putra untuk menyusulku, ternyata bisa juga ia ngebut.
Tanpa basa- basi kami memasuki toko buku dan aku berhambur ke rak novel. “Ternyata kamu juga suka baca, ya?” tanya Putra heran.
Aku tertawa sebentar dan menjawab, “Kamu kira hanya orang cu–”
“Cupu?” tanyanya, “Kenapa nggak diteruskan?”
Aku langsung mengalihkan wajahku ke rak bagian lain, aku takut Putra tahu bahwa aku mendekatinya karena misi yang diberikan teman- temanku. Aku takut bahwa penipuan yang kulakukan ini bisa ia ungkap.
Aku mengambil salah satu novel yang berjudul Antara Sela- Sela Jemari Kita karya Sulaiman Ghandi. Judulnya sangat nggak kumengerti, tapi covernya bagus. Nggak munafik, deh, semua orang selalu menilai dari covernya, baru isinya.
Kubuka lembar halaman persembahan dan menemukan nama Putra ada disana. “Putra,” panggilku dan ia menghampiriku, “ini ayahmu? Ini karya ayahmu?”
Putra tersenyum dan mengangguk. Aku takjub dengan ini. Ternyata ayahnya adalah penulis. Aku memutuskan untuk membeli novel itu dan penasaran untuk segera membacanya, nggak lupa juga aku membeli buku kumpulan soal ujian sebagai alibiku.
Setelah puas berada di toko buku, Putra mengajakku untuk membeli kopi di kedai langgananku. Awalnya aku agak risih, aku nggak mau ada salah seorang teman gaulku yang melihatku bersama Putra. Ya ampun, dunia berasa menumpahkan semua esnya di kepalaku!
“Ayolah, aku yang traktir, deh,” pinta Putra.
Akhirnya aku menuruti kemauannya dan duduk di tempat yang jauh dari jangkauan publik. Tempat paling pojok dan benar saja, nggak mudah semua orang bisa menjangkau ke arah kami.
“Ternyata kamu doyan sepi juga, ya?” tanya Putra.
“Ah, nggak juga kok. Nggak tahu kenapa kalau aku pegang buku rasanya pengen menyendiri aja,” ucapku bohong. Padahal, dimana aja dan kapan aja aku bisa membaca buku.
“Aku takjub ada perempuan kayak kamu di sekolah baruku,” ujarnya.
Aku menghiraukan ucapannya dan nggak merespon, aku hanya memandangnya dan ingin mendengarkan apa yang mau ia katakan lagi.
Kali ini ia nggak setegang kemarin. Dengan lugas ia berkata ini itu, “Aku kira orang secantik kamu pasti pilih- pilih teman dan nggak mau berteman sama orang seperti aku. Ternyata kamu beda. Kamu supel, mau bergaul sama siapa aja.”
Aku merasa seperti terhunus pedang. Ia mengatakan sifat asliku tapi ia percaya bahwa aku benar- benar perempuan baik, supel, dan nggak sombong. “Masa’, sih?” tanyaku.
“Buktinya ini,” katanya, “kamu mau ngajak aku ke toko buku dan kamu mau kuajak ke kedai. Nggak semua orang kayak kamu di sekolah mau kuajak pergi ke kedai seperti ini. Mereka pasti gengsi dan berpikir kalau orang seperti aku nggak pantas buat diajak bergaul.”
“Jadi, itu pandanganmu? Ada yang lain lagi?” tanyaku penasaran. Hatiku panas kalau sampai ia tahu bahwa sebenarnya aku adalah orang yang berpikir begitu.
“Aku kira kamu malu pergi ke kedai bersamaku,” ucapnya lagi, “tapi kamu ternyata enggak. Aku kira kamu malu dan memilih untuk duduk di tempat pojok begini. Aku berusaha positive thinking dan ternyata itu benar. Kamu suka tempat sepi dan nggak ramai saat ada novel di tanganmu.”
Wow. Ini benar- benar wow! Apakah ia dukun? Dia membaca setiap perilakuku. Aku memilih target yang salah. Prasangka Putra memang benar, semuanya benar. Tapi ia mengesampingkan negative thinkingnya dan mengedepankan pikiran positif. Andai saja Putra adalah orang yang berani berasumsi buruk, mungkin kami nggak akan pernah jalan bareng seperti ini.
“Sebenarnya dulu aku juga kayak begitu,” kataku mulai bercerita, “aku malah nggak punya teman sama sekali, kecuali satu, sih. Dia memandangku dengan sisi yang berbeda, padahal kebanyakan semua temanku mengejekku ‘cupu- cupu’. Sampai sekarang aku penasaran, dari sisi yang mana ia melihatku.”
“Sebenarnya temanmu itu benar. Semua orang terlahir secara istimewa. Yang membuatnya berbeda adalah cara mereka terlihat istimewa. Ada yang agresif dan mengumbar keistimewaan mereka, contohnya anak- anak gaul. Tapi, ada juga yang menjaga keistimewaan mereka, contohnya anak cupu. Siapa yang tahu dibalik kaca mata tebalnya, kancing yang sampai menekak lehernya, atau rambut klimisnya, mereka mempunyai sesuatu yang menakjubkan yang masih terpendam?” ujarnya panjang lebar.
Aku yakin pandangannya seperti itu adalah warisan dari ayahnya yang seorang penulis. Aku berdecak kagum dalam hati. Ya, siapa yang tahu bahwa aku yang cupu dulu, nggak punya banyak teman, dan selalu tertindas, ternyata aku memiliki sesuatu yang menakjubkan. Dibalik rok SMP lima senti di bawah lutut, kancing menekak leher, dan kaca mata tebal, aku sangatlah cantik sampai- sampai semua orang ingin dekat denganku sekarang.
“Ya, siapa yang tahu?” tanyaku tanpa memerlukan jawaban.
“Jadi, dimana kacamatamu?” tanya Putra.
Aku mengeluarkan sebuah kacamata tebal dari tasku dan memakainya, “Aku terlihat cupu?”
Putra tertawa terbahak- bahak, “Sama sekali enggak. Kamu tetap cantik!”
Aku tersipu dan kami tertawa bersama.
–––
 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review