Senin, 26 September 2011

Cerita Kampus-Perjalanan Menuju Kampus

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 26, 2011
Hari Senin, hari yang nggak akan sempurna tanpa kemacetan disana- sini. Ada satu, dua, tiga, empat, dan lima, ya, ada lima titik rawan kemacetan yang harus ketempuh kalau aku berangkat ke kampus.
Kalau harus memilih, aku juga nggak mau melintasi jalur itu, tapi jalur itu satu- satunya jalur terdekat dan terefisien daripada harus melintasi jalan tikus. Hanya saja, jalan tikus bisa membantu, sometime.
Aku sudah siap dengan perlengkapanku menuju kampus. Satu helm gratisan saat membeli motor, sarung tangan orange yang nggak bersih, kaos kaki warna kulit, dan jaket pendukung yang sebenarnya aku nggak butuh- butuh sekali karena aku sudah memakai baju lengan panjang.
“Aku berangkat dulu!” seruku, “Assalamua’laikum!”
Balasan salam sudah terdengar dari dalam rumah dan aku beranjak dari rumah menuju kampus. Aku mempersiapkan diriku menjumpai kemacetan yang luar biasa parah, aku berharap itu nggak akan terjadi, tapi sepertinya nggak mungkin, aku menertawai diriku sendiri.
Titik rawan pertama, aku tersenyum lega karena jalanan di depan asramaku tidak begitu ramai- ramai sekali. Bus dan mikrolet yang biasa membuat kemacetan dengan berhenti di sembarang tempat kini sudah tidak ada. Aku melirik ke kanan. “Ohh, pantes!” gumamku. Pak polisi dengan peluit di mulutnya mengkoordinir jalanan sehingga nggak macet.
Aku meneruskan perjalananku menuju titik rawan kedua kemacetan. Kalau sudah sampai disini, harapan untuk nggak macet sangatlah impossible. Jalan ini akan selalu macet karena bertemunya halte bus di kanan dan kiri sisi jalanan, swalayan, dan jalur keluar-masuk jalan tol. Aku harus menunggu cukup lama, walaupun berkisar lima menit, tapi lima menit di jalanan terasa berbeda dengan lima menit di depan layar komputer.
Dengan sabar aku melintasi jalan rawan macet kedua ini. Karena ada yang lebih parah dari ini. Yaitu, titik rawan keempat, dan kelima. Seolah titik rawan pertama, kedua, dan ketiga adalah pengantar menuju titik rawan yang paling rawan.
Setelah berhasil menerobos titik rawan kedua dengan keringat dingin, aku melanjutkan perjalanan menuju titik rawan ketiga. Jalan itu ramai karena ada sekolah, pabrik tembakau, halte bus, dan jalur keluar-masuk universtias ****piiip**** dan ***piiiip***.
Sambil menunggu motorku bisa berjalan. Aku menghabiskan waktuku dengan melamun, tapi masih tetap fokus menunggu lampu warna merah menjadi hijau. Entah apa yang kupikirkan aku juga bingung, tapi sepertinya aku juga nggak melamun- melamun banget kok. Hanya saja konsentrasiku tertuju pada satu titik fokus.
Hingga lampu berubah warna hijaupun dan motor mulai kusetir menuju kampus, aku masih saja fokus dengan apa yang kupikirkan.
“Tiiiiinnnn!” suara klakson mobil membuatku kaget dan reaksiku membuat pengendara motor di sebelahku tertawa melihatku. Aku masih kaget, tapi malu! Bagaimana nggak? Serasa aku lebih sering kaget sekarang ini.
Dengan malu, aku menambah kecepatanku untuk menghilangkan rasa kaget dan maluku. Aku mulai melewati turunan rawan kecelakaan di Semarang. Sadar diri, aku mulai mengurangi kecepatan. Dan akhirnya aku sampai di titik rawan keempat, titik rawan paling rawan pertama.
Jalur ini rawan macet dan sering macet karena ada pasar, halte yang sebenarnya nggak ada, jalur keluar-masuk tol, jalur menuju sekolah dan universitas swasta, dan asrama tentara seperti di rumahku. Bisa disebut kalau jalur ini adalah induknya kemacetan karena pasukan polisi lalu lintas berapapun yang diterjunkan nggak bisa menghentikan laju kendaraan yang semakin merayap. Tapi paling tidak Hari Senin ini terpantau lancar walaupun ramai.
Aku senang karena induk kemacetan ini nggak macet seperti biasanya. Sometime, aku harus menunggu selama lima menit juga agar bisa melewati jalan ini. Hanya saja agak aneh, berbeda dengan Hari Jum’at lalu, jalan ini sangat macet sampai aku nggak bisa bergerak kesana- kesini setelah menunggu sekitar lima menit.
Aku bergerak melenggak- lenggok agar bisa melewati jalan itu dengan cepat karena aku ada kuliah jam tujuh pagi ini.
Nafasku plong sekali ketika terbebas dari kemacetan di titik rawan macet keempat. Seenggaknya aku bisa mengambil nafas untuk melewati titik rawan macet kelima yang masih agak jauh.
Hanya saja yang membuatku merasa malas sekali naik motor menuju kampus adalah bau jalanan dan asap- asap yang keluar dari kendaraan lain yang membuat paru- paru sakit dan hidungku mengempis.
Sudah senang karena terlepas dari kemacetan, sepertinya jalanan berkata lain dengan nasibku yang harus mengekor di belakang truk sampah yang baunya, masyaAllah! Aku mencium baju di lenganku yang masih bau parfum, aku gak lega. Tapi paling nggak secepat kilat aku harus pergi dan nggak mengekor di belakang truk itu. Karena ramai dan banyak kendaraan yang melintas, aku nggak berani melewati truk itu dan walhasil aku harus berjalan pelan- pelan untuk menjaga jarak.
Sampai akhirnya truk itu berhenti untuk mengambil sampah, aku baru berani untuk melewatinya dan hatiku ber-good bye pada truk itu dengan girang.
Titik rawan terakhir, dekat dengan kampusku. Sebelumnya aku harus melewati trafficlight yang lampu merahnya selama enam puluh detik, dan lampu hijaunya tiga puluh detik.
Jalanan cukup bisa kuhandle dan aku menerobos kesana kemari. Aku melihat sudah detik ke lima. Aku lebih mempercepat kendaraanku, begitu juga kendaraan lain. Detik keempaat, ketiga, dua, dan satu, hingga lampu berubah menjadi kuning yang harusnya pengendara utnuk pelan- pelan melewati, aku malah mempercepat laju motorku dengan hatiku yang tertawa terbahak- bahak. Lampu berubah merah saat aku berhasil melewati garis untuk berhenti.
“Pantas saja aku nggak pernah punya SIM!” gumamku dalam hati sambil tertawa kegirangan.
Sebenarnya hal itu nggak patut dicontoh, tapi aku sudah akan sangat telat kalau harus menunggu enam puluh detik lagi. Akhirnya aku sampai di titik rawan terakhir.
Jalan itu ramai dan sering macet karena jalan itu adalah jalan utama dan pusat Kota Semarang yang notabenenya Kota Atlas. Selain itu, karena ada rumah sakit dan seklah swasta, jalan itu dipakai untuk tempat mangkal becak- becak.
Aku melihat lampu lalu lintas berwarna hijau dan menunjukkan detik ke lima. Seperti tadi, aku mulai mengeluarkan jurus melanggar lalu lintasku yang diturunkan dari abi sendiri.
Dengan senang aku melintasi jalanan yang ramai itu dengan lancar. Tapi jalanan memberiku azab dengan memberiku pengendara motor fogging di depanku. Asap yang keluar dari motor itu seperti kentut gajah yang nggak pernah berhenti.
Hingga akhirnya sampai di kampus dengan keadaan mengenaskan.
Aku bertemu Joan dan Claudia di tempat parkir. Joan bertanya, “Kamu kenapa? You look so awfull.”
Aku menjawab dengan memelas, “Lama- lama jalanan bisa membuatku harus mandi di kampus.”
Claudia tertawa singkat dan menanggapiku, “Bau sampah sama asap, nih!”
“Waah, makasih ya pujianmu,” ucapku dengan wajah lebih memelas.
Aku, Joan, dan Resha berjalan menuju ruang kelas. Sebelumnya kuciumi bajuku yang ternyata nggak bau bau banget, kutambahkan parfum di seluruh bagian tubuhku.
“Kamu pakai apa itu?” tanya Claudia, “Minyak telon, ya?”
Aku ternganga, “Ya ampun, Claud, masa’ iya aku pakai minyak telon, ini parfum, parfum. Cantik- cantik kenapa nggak tahu merk?”
Joan dan Claudia alah tertawa mendengar pernyataanku. Ya Rabb.
(--“)(--“)(--“)
Lots of love, niput (--“)

4 komentar:

Thya Rini mengatakan...

hmmm.... besok besok kalo ke kampus mau hujan atau kagak hujan km harus pake mantel!! oke... ^^

Unknown mengatakan...

Oh yeah... But don't forget to give me the reward cause you put my name in it. LOL :p

Unknown mengatakan...

http://www.lilihprilian.com/2011/07/trik-meng-lock-postingan-blog-anda.html

nupp_niput mengatakan...

tya* huooo, males bgt deh yak, aku kok pngen ujan2an yaa :D
joan* thanks for ur name :D and thanks for the link :)

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review