Senin, 26 September 2011

Cerita Kampus-Telor Ceplok

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 26, 2011
Malam ini aku ngelembur tugas yang belum kuselesaikan. Betapa malasnya aku, dan demi Tuhan, aku sangat malas hari ini. Mungkin karena efek bertemu dengan gerombolan pasukan tentara muda tadi pagi di stadion. Tapi pastinya bukan itu. Pasti karena jalan santai tadi pagi. Ya, pasti karena itu.
Sedari tadi siang aku juga belum makan. Tadi pagi hanya kuisi dengan setengah porsi sate ayam dan lontong setelah selesai jalan santai. Hari ini mami juga malas sekali untuk masak, jadi beliau pergi untuk membeli sebungkus soto. Karena aku nggak doyan sama sekali dengan soto, aku nggak menyentuh hidangan itu yang sudah tertata mewah di meja makan.
Aku menahan laparku sambil terus menulis tugas listeningku. Tugas ini hanya butuh konsentrasi untuk mendengarkan saja, nggak perlu berpikir keras dan memutar otak. Apa jadinya kalau otak diputar?
Adikku datang ke kamarku untuk meminjam buku catatan bahasa inggrisku ketika SMA. Karena aku sangat mencintai pelajaran bahasa inggris, catatan di buku itu selalu rapi dan kuberi sampul dengan warna kesukaanku, ungu.
“Mbak, aku besok ulangan, nih!” seru adikku sambil duduk di sebelahku dengan mata memel, memelas.
Aku meliriknya, “Iya, tunggu.”
“Yaudah, aku ambil bukuku dulu,” ucapnya. Nggak lama dia kembali ke kamarku dengan membawa buku tulis, buku lks, dan kamus.
Aku menghentikan mengerjakan tugasku dan berusaha membantu adikku dulu.
“Passive voice, ya?” gumamku.
“Aku nggak mudeng,” ucapnya.
Aku menyuruhnya untuk mempelajari sifat aktif kalimat- kalimat dari simple present, present continous, present perfect, dan perfect continous. Begitu juga dengan kalimat- kalimat past tenses.
Otakku berpikir ganda sekarang ini. Di samping aku harus mengerjakan tugasku, aku juga harus membantu adikku untuk ulangannya besok. Dan karena itu aku merasa double lapar. Sangat lapar!
Aku memberi delapan soal untuk adikku tentang passive voice present tenses dan past tenses. Aku pun melanjutkan mengerjakan tugasku hingga selesai.
“Kok lama banget?” tanyaku sambil membereskan buku- buku dan binderku.
“Bentar,” ucapnya singkat.
Kulihat dia sedang mengerjakan nomor tiga dan tulisannya sangat jelek! Aku bisa memakluminya karena ia laki- laki dan karena ia menulis sambil tiduran.
Karena adikku lama sekali mengerjakannya, aku pergi ke dapur untuk memasak telur karena aku sudah lapar tingkat tinggi.
Kucuci telur yang akan kumasak agak steril. Kupanaskan minyak dalam wajan, tapi perasaanku sudah nggak karuan. Mungkin karena lapar.
Setelah menunggu sebentar, kuceplok telur dan kugarami. Tanganku sudah kering dan sepertinya nggak ada keringat juga. Apa iya telurnya mengeluarkan kencing? Impossible!
Minyak dalam wajan meletup- letup seperti gunung berapi yang melontarkan magmanya. Aku menjerit karena kaget, tapi mami dan orang lain yang ada di dalam rumah tidak mencemaskanku sama sekali. Betapa aku sangat kasian!
Aku sangat takut dengan letupan- letupan itu. Aku membalik telur itu dengan hati- hati, tapi minyak yang meletup- letup itu membuatku mengurungkan niatku. Dengan cepat aku mengecilkan api di kompor, baru kubalik telurku.
“Haa, good job, Sarah!” seruku memuji diriku sendiri.
Kemudian aku membesarkan sedikit apinya dalam kompor. Belum apa- apa, aku sudah dikejutkan dengan letupan minyak lagi. Aku menjerit karena minyak itu mengenai tanganku. Dan parahnya lagi minyak itu mengenai dahiku sehingga aku berteriak, “Mamiiii!”
Mami buru- buru menghampiriku dan melihat minyak yang meletup- letup di wajan dengan sangat mengerikan, “Kok bisa begini?”
“Aku nggak tahu! Lihat, nih!” seruku sambil menunjukkan tanganku dan dahiku yang merah karena terkena letupan minyak.
Mami hanya menatapku dengan tatapan kasihan.
Sementara mami menghanddle telur ceplokku, aku berlari mengambil helm, jaket, kacamata, dan sarung tangan. Adikku yang melihatku terburu- buru seperti itu, mengikutiku sampai ke dapur dan ternganga.
“Sini, mi, aku yang masak!” seruku.
Mami dan adikku ternganga dan terlihat menahan tawa saat melihatku memakai kostum seperti power ranger. Dan nggak lama kemudian tawa mereka meledak, meletup- letup seperti minyak di telur yang kumasak.
Sebenarnya aku juga ingin tertawa kalau aku berkaca dan mendapati diriku memakai kostum aneh seperti ini.
Sementara mereka tertawa terbahak- bahak melihatku memasak dengan kostum ini, aku konsentrasi pada telurku yang minyaknya masih saja meletup- letup.
YYY

Lots of love, Niput Y

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review