Aku berjalan dengan loyo dari tempat parkir sampai lobby gedung kampusku. Ruangan itu lengang karena masih sangat sepi. Aku mengirim pesan pada Resha, yang ternyata sudah stand by di kampus dari jam tujuh pagi.
Nggak perlu menunggu lama, Resha menuruni anak tangga dengan cepat namun hati- hati, dan menyapaku ketika melihatku sedang kesepian, “Hey, udah lama?”
“Baru aja kok, kamu rajin sekali jam tujuh udah stand by disini?” tanyaku.
Resha terkekeh, “Aku bareng papaku, jadi berangkat pagi- pagi. Mata kuliah pronounciation, kan?”
Aku mengangguk pelan dan menyuruh Resha duduk di sebelahku.
Dari balik pintu lobby, muncul Jessy yang datang dengan penampilan baru: rambut yang biasanya ia kucir, kini digerai. Rambutnya pendek sebahu, seperti punyaku.
“Eh, kalian lagi sibuk nggak?” tanya Jessy tergesa- gesa.
“Enggak kok, kenapa?” tanyaku.
“Sarapan, yuk, masih ada waktu nih. Kalian udah sarapan?” tanya Jessy menawari untuk ikut sarapan.
Aku dan Resha mengangguk. “Tapi kalau kamu mau, kita temenin kamu aja,” ucapku, “nggak apa, kan, Resh?”
“Nggak apa kok, uda yuk, langsung capcus!” ajak Resha dan kemudian kami bertiga berjalan menuju warteg langganan Jessi.
Saat berjalan menuju pintu, aku berpikir, “Aku nggak melihat Satya. Biasanya, kalau ada Jessy, pasti ada Satya dan yang lainnya.”
Hatiku agak kacau kalau aku belum melihat dia pagi ini, cieeeh! Tapi aku juga nggak tahu kenapa aku merasa seperti ini, ini adalah perasaan yang nggak bisa diungkapkan.
Baru saja aku keluar dari pintu gedung, muncul gerombolan Jessy, tapi Satya nggak ada bersama mereka. Dimana Satya?
Tapi aku melupakan Satya sejenak saat Resha dan Jessy mulai berjalan agak cepat menuju warteg. Aku mengikuti dengan terengah- engah dan hanya Resha yang bisa kuraih.
“Jessy laper, ya?” tanyaku menyindir, “Cepet banget dia ke wartegnya.”
Resha terkekeh, “Nggak kok, dia lagi marahan sama Vito.”
Aku menggeleng- geleng. Jessy dan Vito sepertinya punya cerita manis sendiri tentang mereka. Hanya saja karena mereka lebih suka bercanda, aku nggak bisa membedakan apakah mereka serius atau bercanda saja. Tapi menurutku, dari sorot mata mereka, mereka pasti ada sesuatu.
Tiba- tiba aku teringat Satya lagi. Dia dimana, ya? Aku bukannya kangen, tapi rasanya ada yang kurang di hariku kalau aku belum bertemu dan ngobrol dengannya. Satya adalah cowok yang baik dan nggak perokok. Dan karena dia nggak merokok, ada poin plus untuknya di mataku.
Kami berbincang- bincang dan bercanda- canda di warteg, saking asyiknya, kami kelupaan waktu, dan akhirnya terlambat masuk ke kelas pronounciation. Tapi bersyukurlah aku karena mata kuliah belum di mulai.
Hari Jum’at adalah hari yang menyenangkan menurutku, walaupun aku harus pulang sampai sore, tapi rezeki Tuhan memang selalu datang saat hamba-Nya membutuhkan J. Bukan hanya mata kuliahnya yang aku senangi, tapi juga dosen yang mengajar dan Satya sudah stand by di deretan kursi paling depan.
Laboratorium bahasa ini serasa seperti kebun bunga bagiku dan dosen yang mengajar seperti Dewi Demeter yang menyegarkannya. Aku mengajak Resha duduk di depan, karena memang hanya tersisa tempat di deretan depan, sebelah deretan Satya.
Satya menyapaku dengan ronanya, “Hai, Sarah. Kok telat?”
“Hai,” sapaku, baru aku mau menjawab pertanyaan Satya, Alvin menyerobot menyapaku.
“Hai, Sarah. Lama nggak ketemu,” sapanya dengan wajah flatter-innocentnya. Alvin menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, tapi ibu dosen tercinta menatap kami seperti teman lama yang baru berjumpa.
Miss Friska menyindir kami, aku merasa kaku dan nggak menjabat tangan Alvin.
Aku menoleh lagi ke arah samping kiri. Memastikan bahwa pandanganku bisa tertuju pada Satya. Hatiku berdetak seperti biasa, tapi ada yang aneh dengan pandangan mataku yang hanya ingin fokus padanya. Tapi kucoba untuk fokus pada mata kuliah yang sudah dimulai setelah semuanya tenang.
YYY
Mata kuliah berakhir dengan seru. Aku sangat menikmati mata kuliah pagi ini. Aku melihat Satya sudah beranjak meninggalkan laboratorium bersama teman- teman yang lain.
Aku menunggi Resha yang sedang memakai sepatu.
“Kamu ada mata kuliah habis ini?” tanya Resha.
Aku menggeleng, “Mata kuliahku diganti sore, nih, jatah pulang sore hari ini.”
“Aku ada kuliah lagi, nih. Tapi di gedung G, kamu mau disini apa ikut ke gedung G?” tanya Resha.
Aku celingukan, “Kok yang lain uda pada ngabur, ya? Aku ikut aja deh.”
Kami pun berjalan cepat menuju gedung G. Aku masih tengak- tengok untuk mencari Satya. Mungkin Resha berpikir kalau aku mencari teman- teman yang lain. Tapi itu lebih baik, karena di samping itu, aku juga lebih butuh teman- teman yang lain.
Saat keluar dari gerbang gedung C, aku bertemu Jessy, Alvin, Satya, dan rombongan.
Resha berjalan mendahuluiku karena jadwal mata kuliahnya sudah dimulai. Aku berjalan sendirian di bagian paling belakang, seperti ekornya naga, penguntit.
“Loh, Sarah, kok di belakang, sih?” tanya Alvin dengan nada flatter, “Sini, sini, jalan sama aku.”
Aku tertawa dan menuruti Alvin. Seenggaknya aku nggak jadi penguntit yang berjalan di bagian paling belakang, sendirian.
“Kok kamu jalan sendirian di belakang, sih? Kan ada aku disini,” ucap Alvin merayuku.
Aku membalas gombalannya yang memang hanya untuk bercanda- bercandaan, “Kamu, sih, yang ninggalin aku. Aku jadi takut, nih, jalan sendirian.”
Rasanya aku ingin memuntahkan semua isi dalam perutku saat aku menggombal juga.
“Yaudah, sini, sini, kita jalan bareng- bareng, beb?” ajak Alvin sambil menggandeng tangan kiriku.
Rasanya aneh saat Alvin menggenggam tanganku. Benar- benar menggenggam.
Aku malu saat semua gerombolan mulai menyoraki aku, termasuk Satya. Kemudian aku melepas genggaman Alvin dengan malu- malu, tapi Alvin masih saja meraih tanganku dan berjalan bersama.
Dalam benakku, aku mengakui bahwa sudah lama sekali aku nggak begini. Dan terakhir kali ada laki- laki yang menggenggam tanganku, aku malah merasa risih dan malu.
Kemudian Alvin melepas genggamannya karena ia harus menjawab telepon entah dari siapa dan ia kutinggal karena aku juga nggak mau mengganggunya.
Aku berjalan sendirian lagi dan tanpa sadar aku berjalan mendekati Satya yang sepertinya menungguku, atau hanya perasaanku.
“Loh, tadi kok kamu telat?” tanya Satya dan kami berjalan berdua di barisan paling depan.
“Kamu yang ninggalin aku, sih,” kataku menggombal lagi, tapi sekarang menggombal pada Satya.
Tubuhnya sedikit membantuku untuk menghindar dari teriknya matahari jam sepuluh pagi.
“Ooh, yaudah sekarang kita jalan bareng,” ucapnya kemudian terkekeh, kemudian berkata lagi, “nanti mau ikut jalan- jalan nggak?”
“Kemana?” tanyaku, “Bukannya nanti masih ada mata kuliah, ya?”
“Cuma sebentar kok,” kata Satya, “ikut, ya?”
Aku diam sebentar untuk berpikir, karena cuaca yang panas dan aku prefer di dalam gedung saja daripada ikut pergi bersama Satya.
“Ikut nggak? Nanti bareng aku aja kalau kamu kepanasan,” kata Satya menawarkan ide bagus.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Boleh juga.”
“Asyiik!” seru Satya dan menggenggam tanganku. Tangan kananku.
Satya memamerkan genggaman tangan kami kepada Alvin dan Alvin langsung bereaksi, “Woy, woy, serakah lu, man!”
Aku dan teman- teman tertawa melihat Alvin yang gelagapan dan langsung menghambur padaku, menggenggam tangan kiriku.
“Kayaknya aku yang berasa serakah sekarang?” tanyaku dengan nada kurang enak.
“Apa, sih, yang nggak buat kamu, beb?” tanya Alvin mulai menggombal lagi.
Satya menimpali, “Heh, lepas tangan lu!”
Aku dan yang lain hanya tertawa. Tapi aku juga merasa serakah kalu begini. Hanya saja, kedua tanganku yang mereka genggam ini, terasa berbeda. Aku merasa terprotect dengan genggaman di tangan kananku.
YYY
Lot’s of love: Niput Y
3 komentar:
ini beneran ya? hayo...
bukan tya sayang --" bsok klo ketemu kita cerita bnyak deh
oke oke... lama gak cerita miss u deh :D
Posting Komentar