Pagi hari ini terasa sepi dan menyebalkan. Bapak sudah pergi ke kantor, ibu sudah berangkat ke sekolah untuk mengajar, dan adikku, Gamma, juga sudah berangkat sekolah.
Aku bangun kesiangan lagi hari ini. Yeah, memang akhir- akhir ini aku sering bangun kesiangan, padahal jam tidurku juga nggak terlalu larut, tepat setengah sepuluh. Tapi seolah ada yang tidak membuatku bangun di jam lima pagi seperti dulu. Badanku memang segar dan fit, tapi aku mengidap penyakit stres dari dua minggu lalu lantaran diputus cinta oleh Yanuar.
Aku tengah asyik mengaduk susu coklatku dan tiba- tiba alam bawah sadar merasukiku.
“Nah loh,” jerit seseorang dari belakangku, aku menoleh dan mendapati Wina cengar- cengir kesenangan karena sudah membuatku kaget, “ngelamun, nih, pagi- pagi! Siapa? Yanuar, ya, Yang?”
Aku mengernyitkan dahi dan membentuk kerucut bibirku. Wina tahu aku sedang bad mood lantaran putus cinta.
“Ok, ok, Wina minta maaf udah ngagetin Mayang, tapi niat Wina cuma mau bikin Mayang happy lagi. Mayang masih mikirin Yanuar, kan? Dia cuma Yanuar, Yang. Cuma Yanuar! Kenapa sih kamu ini? Jadi berubah sejak pacaran sama Yanuar. Dulu kamu bilang nggak bakal nangis ataupun ngerengek karena cowok, nyatanya kamu sendiri malah begini. Ibarat pepatah tuh, ya, bagaikan menjilat ludah sendiri! Iih, jijik banget, deh!” ujar Wina panjang lebar. Kemudian Wina duduk di kursi seberangku.
Kalau dipikir- pikir betul juga ucapan Wina. Aku pernah bilang kalau nggak sudi mengeluarkan air mataku buat cowok yang nyakitin aku, tapi aku cuma mau ngelegain hatiku biar ‘plong’.
“Aku pengen bikin hatiku jadi plong aja kok, Win,” tukasku singkat.
Wina menaikkan alis sebelah, “What!? Ngelegain hati? Kaya’ begini kamu bilang ngelegain hati? Dulu kamu juga pernah bilang sama aku setelah aku putus cinta juga, ‘Wina, sayang, kalau kamu pengen masalah kamu buruan selesei, kamu berdo’a sama Allah setiap selesei sholat, udah gitu kamu langsung baca Al- Qur’an, dijamin ampuh buat atasin masalah’, nah gitu!”
Aku berpikir lagi, memandang ke langit- langit atap rumah. Setiap ucapan yang aku ucapin ke Wina tiba- tiba berbalik padaku. Seperti senjata makan nyonya. Apa ini ujian dari Allah buataku?
“Tapi aku nggak bisa baca Qur’an,” ujarku, “ maksudku, aku selalu baca Qur’an setelah sholat aja.”
“Lah iya, ‘kan ? Then, ada apa masalah apa lagi? Kendala apa lagi? Hambatan apa lagi? Kamu lagi menstruasi?”
“Aku uda jarang sholat, Win,” ujarku dengan nada menyesal.
Wina membelalakkan matanya, “Hah!? Jangan main- main, Yang. Kamu ini gimana sih?”
Aku tahu aku salah, aku sadar. Tapi aku juga nggak tahu kenapa aku malah seperti ini. “Akhir- akhir ini aku sering bangun kesiangan, jadi nggak sempat subuhan. Dan setiap hari, bagiku, kalau nggak subuhan aku ngerasa ada yang nggak lengkap sama sholat- sholatku.”
Wina menggeleng- geleng, “Tapi dzuhur sampai isya’ masih jalan, ‘kan?”
“Awalnya,” jawabku singkat. Aku merasa darah di pipiku yang panas mengalir turun menuju kerongkongan dan membeku disana. Firasatku mengatakan Wina akan mencabik- cabikku dengan kuku panjang kesayangannya – kuku kotor yang biasa untuk menambang emas di dalam hidungnya, tapi setelah itu dia langsung pergi ke salon untuk menicure dan pedicure.
“Parah banget, sih? Apa kata orang tua kamu kalau tahu anaknya yang sholeh berubah jadi sesat?” sentak Wina.
“Kok kamu naik pitam gini, sih? Mereka diam aja kok. Mereka nggak peduli, kali!” bentakku. Untuk sesaat aku berpikir aku keterlaluan membentak Wina. Ingin rasanya aku mengunci mulutku supaya aku nggak membentak Wina lagi karena darahku sedang memberontak ingin keluar dari ubun- ubun.
“Mereka diam karena kamu ini udah dibilang dewasa untuk tahu mana yang baik dan mana yang buruk!” Wina menampikku dengan kata- katanya.
Aku hanya mendengus, memalingkan wajahku dari tatapan Wina. Matanya berapi- api, kesal, sebal. Kultum! Ucapku dalam hati.
“Aah, udahlah, aku pergi. Semedi dulu, deh! Pikirin apa ajalah yang terbaik buat kamu, yang penting aku udah kasih tahu kamu semua pencerahan yang dulu kamu kasih ke aku! Sorry buat kultumnya,” ujar Wina kemudian beranjak pergi.
“Assalamu’alaikum!” celetukku.
Wina menjawab sebelum menutup pintu depan, “Wa’alaikumsalam!”
Aku menyandarkan kepalaku di tanganku yang kulipat di atas meja. Aku jadi nggak berselera dengan susu coklatku. Kemudian aku beranjak dari kursi dan segera mandi, aku harus ke kampus baruku.
Semoga saja Wina mau memaafkan aku nanti di kampus. Aku benar- benar menyesal sudah membentaknya. Padahal dengan baik hati dia mengingatkanku. Aku benar- benar sahabat yang buruk!
JJJ
Aku duduk di gazebo taman depan fakultasku, menunggu Wina datang. Karena kemarin kami janji akan bertemu disini setelah mendapat info tentang persiapan ospek dua minggu lagi.
Nggak beberapa lama Wina datang bersama teman fakultasnya. Aku bangkit dan tersenyum pada Wina. Tapi Wina malah mendengus kesal, sepertinya dia masih marah padaku.
“Sahabatmu, Win?” tanya temannya, tapi Wina mengangguk dan memalingkan wajahnya ke sudut lain.
Aku tersenyum pada teman fakultasnya, “Wina, aku minta maaf soal tadi pagi di rumahku, aku benar- benar –,”
“Menyesal?” tanya teman Wina. Aku tersenyum masam, berterimakasih telah membantu menyelesaikan kata- kataku yang wajib ku ucapkan.
“Udahlah, Yang, males banget, deh. Aku sama Putri mau pergi, nih. Toh janji kita uda terbayar buat ketemuan disini. Ayo, Put,” seru Wina yang kemudian pergi menggandeng tangan Putri. Itu gandengan yang biasa Wina lakukan padaku! Kali ini aku cemburu dengan Putri karena merebut sahabatku. Dasar Putri Perebut Sahabat Mayang!
Aku mengerucutkan bibirku dan duduk di kursi gazebo dengan kesal. Aku menyandarkan kepalaku di tiang gazebo yang terbuat dari kayu.
Kenapa aku jadi begini? Akar masalahnya adalah Yanuar. Mungkin kalau Yanuar tidak memutuskanku, aku nggak bakal bolong- bolong sholat, aku nggak bakal ditinggalin sama Wina. Mungkin seharusnya posisi Putri digantikan dengan aku untuk pergi bersama Wina. Semua gara- gara Yanuar!
“Aarrgghh! Yanuar sialan!” jeritku dan menghentakkan kaki di lantai gazebo yang untungnya terbuat dari keramik kayu.
“Wow! Amazing banget, deh, hentakan kaki kamu,” ucap seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatku dengan wajah terpana memandangi kakiku.
Aku menoleh sesegera mungkin. Sepertinya dia mahasiswa semester 3. Tinggi, ganteng, terlihat bijaksana dengan jas almamater kampus. Di dada sebelah kanan ada name tag yang bertuliskan LOUIS PUTRA ARMADA.
Dia sadar aku sedang membaca nama di name tag-nya yang berfont size sekitar 24. Ia mendekat dan menyodorkan tangannya, “Louis, panggil aja Louis.”
Ya Allah, ganteng banget kakak tingkatku ini! Senyumnya aduhai, deh! Seketika aku lupa dengan Yanuar, Wina, dan Putri, juga jabatan tangan dari Kak Louis.
“Hey!” seru Kak Louis membuyarkan lamunanku dan mengambil tanganku. Dijabat lembut tanganku dan dia tersenyum lagi.
“Eh, maaf, kak,” ujarku, kemudian melepas jabatan tangan kami, “Aku Mayang, kak. Kartika Mayang Mentari.”
Kak Louis tersenyum lagi padaku. Sepertinya dia doyan senyum atau dia type playboy yang berusaha mendekati adik tingkatnya dengan memanfaatkan senyum mautnya.
“Louis! Wooy, Louis, kesini, buruan!” seru seorang cewek cantik, modis, dan sepertinya seangkatan dengan Kak Louis.
Kak Louis mengacungkan jempol pada cewek itu. “Oh iya, Mayang, nice to meet you, selamat datang di kampus ini,” ujarnya lembut dan tersenyum lagi, “ tapi sepertinya aku harus pergi. Kapan- kapan kita ngobrol banyak, ya. Duluan.”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya, kemudian ia menyusul cewek cantik itu dan pergi bersamanya. Aku melihat si cewek menggandeng tangan Kak Louis, dan Kak Louis tidak nampak risih. Mungkin mereka berpacaran. Selalu saja, cowok ganteng yang dekat sama aku, pasti sudah punya pacar dan lebih cantik dariku.
Kemudian aku berjalan menuju motorku dan segera pulang.
JJJ
Aku rasa kejadian tadi pagi terulang lagi. Ya ampun, ganteng banget sih, Kak Louis. Senyumnya aduhai! Aku tertawa keras di hadapan Kak Louis, tapi anehnya dia hanya tersenyum dan memandangiku sebagai fokus dari semua lelucon- lelucon.
Aku berhenti tertawa, mengajak Kak Louis duduk di kursi gazebo, dan mengobrol banyak seperti apa yang Kak Louis mau.
Tiluuuliit.. Tiluuuliit.. Tiluuuliit..
“Bunyi apaan sih?” tanya Kak Louis, “bunyi sms, ya?”
Aku buru- buru merogoh kantongku, tasku, dan dimana saja tempat biasanya aku meletakkan handphoneku. “Kok egag ada, ya?”
Sementara aku masih kebingungan mencari sumber suara yang nggak kunjung hilang itu, Kak Louis pergi menghampiri cewek cantik dan modis tadi. Aku berusaha memanggil- manggil Kak Louis, tapi sepertinya dia nggak mendengar dan terus pergi bersama cewek yang menggandeng tangannya dengan mesra.
Suara itu bukannya makin hilang malah makin keras dan akhirnya aku menjerit, tidak tahan karena suara itu terdengar menempel di telingaku.
“Arrghh!” jeritku lebih keras. Aku terbangun dari tidur dan duduk di kasur. Bapak, ibu, dan Gamma langsung datang kepadaku. Duduk di sampingku dengan wajah penasaran.
“Kenapa, nduk? Kamu kenapa?” tanya ibu sambil mengelus- elus kepalaku.
Suara itu masih terdengar. Ya ampun, suara apa sih itu?
“Itu suara apa sih, bu? Nyaring banget, deh!” cetusku.
Ibu menjawab dengan lembut, “Itu? Ooh, suara alarm handphonenya bapak, nduk. Kenapa?”
Aku mengernyitkan dahi, “Kenapa!? Hiiih, gara- gara alarm itu Mayang jadi bangun, bu! Padahal masih enak- enak juga mimpinya.”
“Haaa, mimpi apaan? Subuh- subuh gini mimpi jorok! Kakak payah!” seru Gamma kemudian tertawa kencang di kasurku. Aku langsung memukul Gamma dengan guling sampai dia terjatuh dari kasurku, tapi dia masih tertawa- tawa.
“Gamma, sudah! Kamu sholat dulu sana!” seru bapak, “kamu ini gimana, nduk? Alarm kan fungsinya juga buat bangunin orang tidur, kok kamu malah marah- marah. Bukannya langsung bangun terus sholat, malah marah- marahin alarm handphone bapak.”
Aku hanya mengerucutkan bibirku dan menarik selimut sampai menutupi semua badanku dari kaki hingga kepala. Aku meneruskan tidurku dan berharap lanjut dengan mimpiku yang tadi. Tapi, Kak Louis udah pergi duluan! Aku harus mimpi apa sekarang? Aku menutup mataku rapat- rapat dan tidur lagi sementara bapak dan ibu meninggalkan kamarku.
Apaan, sih, alarmnya bapak! Bikin sebel, deh! Ucapku dalam hati.
JJJ
Aku bangun lebih parah lagi dari kemarin- kemarin. Aku sempat akan me lompat dari kasur saat aku melihat jam di mejaku. “Setengah sebelas!” aku buru- buru mandi dan sarapan, mungkin bisa dibilang makan siang kalu sudah jam segini.
Kebiasaanku pagi- pagi setelah bangun tidur adalah menelpon Wina. Ngobrol sebentar dan ketemuan di caffe dekat sekolah.
Aku meraih handphoneku dan mencari kontak Wina, kemudian menekan tombol call. Aku menempelkan handphoneku di telinga kiriku.
“Assalamu’alaikum,” sapa Wina dengan nada lemas dan malas.
“Wa’alaikumsalam. Hei, Win, lagi ngapain nih? Sorry, ya, baru telpon kamu, aku baru aja selesei sarapan. Tahu nggak, sih, aku tadi pagi bangun jam berapa? Ya ampun, jam setengah sebelas, dan nggak ada yang bangunin aku! Jahat banget, kan?” ujarku panjang lebar.
Wina menguap dekat handphone, mungkin dia juga lebih parah. Bangunnya lebih kesiangan daripada aku. “Bukannya ada alarm?” tanya Wina, nadanya makin terdengar malas.
“Nah, itu dia, Win! Subuh- subuh alarm bapak tuh bunyi keras banget, bikin aku bangun,” ujarku menunjukkan rasa kesal.
“Kenapa nggak langsung bangun?” tanya Wina.
Aku diam sebentar, “Aku tidur lagi, soalnya—“
“Tuh kan, kamu tuh nggak berterimakasih banget sama bapak kamu. Untung ada alarm bapak kamu, kamu kan bisa bangun dan langsung subuhan. Kamu baru bilang kemarin kalau kamu susah bangun pagi akhir- akhir ini. Sekarang, uda ada yang bangunin malah tidur lagi. Mana tadi ngakunya orang tua kamu jahat nggak ngebangunin kamu. Kamu keterlaluan, Yang!” ujar Wina ketus.
Aku mengernyitkan dahi, “Kok kamu malah marah- marah, sih?”
“Coba aja kalau kamu bangun, terus sholat subuh. Kamu bisa dapat dua keuntungan. Pertama, kamu bisa baca Qur’an buat ilangin stres kamu dan kamu bisa ngelengkapin sholat- sholat kamu yang lain. Kedua, kamu nggak bakal bangun kesiangan lagi kaya’ gini. Jangan salahin orang lain kalau ternyata, secara sadar, kamu yang salah,” Wina seolah meluapkan semua unek- uneknya padaku, tapi Wina memang betul. “Udahlah, aku capek, aku mau pergi sama Putri. Bye, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dengan alas.
Aku menyelesaikan pembicaraanku dengan Wina. Wina ternyata masih marah padaku. Aku memang benar- benar yang paling salah. Tapi apa sampai sebegini harusnya Wina memarahiku dan meninggalkanku dengan Putri – lagi.
JJJ
Aku menemukan bingkisan kecil di pintu depan kamarku. Di bagian luarnya ada tulisan: Dari Yanuar. Aku penasaran dan membuka bingkisan itu. Kosong! Tapi ada sesuatu yang membuatku untuk merogoh isi bingkisan itu. Aku tidak menemukan apa- apa, tapi aku merasakan ada ruangan di dalam bingkisan itu. Aku memasukkan tanganku lebih dalam, kemudian badanku juga ikut masuk. Seperti Alice di negeri dongeng! Aku berdiri tegak menyeimbangkan badanku.
Aku berjalan selangkah dan mendapati Wina dan Putri sedang duduk berdua di caffee dekat sekolahku. Mereka terlihat senang sekali dan aku cemburu. Tiba- tiba aku mendengar bunyi yang sama seperti kemarin.
Tiluuuliit.. Tiluuuliit..
Aku bangun dengan segera tanpa menjerit seperti kemarin. Untung yang tadi hanya mimpi. Untuk pertama kalinya aku berterimakasih pada alarm bapak. Aku bangkit dari kasur dan segera ikut jama’ah sholat subuh sekeluarga. Rasanya aku lebih hidup sekarang. Seusai sholat aku membaca Al- Qur’an. Aku lebih sekedar dari kembali hidup setelah lama mati.
Bapak dan ibu duduk di ruang tengah, sedang menonton siaran pagi. Aku ikut duduk bersama. Aku duduk di samping bapak dan bersandar di bahunya, “Makasih, ya, pak. Alarm bapak sangat berguna dan berarti buatku. Maafin Mayang karena kemarin Mayang marah sama bapak, sama ibu.”
Ibu tersenyum padaku dan bapak membelai rambutku, “Iya, yang ini dijadikan pelajaran, ya? Kalau ada masalah lagi, berdo’a sama Allah, jangan sampai lupa sholat juga.”
Aku mengangguk lembut. Spontan aku ingat dengan Wina. Aku berlari menuju kamar dan meraih handphoneku di dekat bantal. Aku dengan segera menelepon Wina.
“Assalamu’alaikum,” sapa Wina, nadanya terdengar masih mengantuk.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku, “Win, Mayang minta maaf, ya? Kemarin Mayang khilaf, sampai lupa sama omongan sendiri, lupa sama Allah, lupa sama sholat. Maaf juga karena kemarin sempat bentak kamu. Mau kan, Win, maafin Mayang?”
“Akhirnya,” jawab Wina dengan mendengus lega, “iya, dimaafin kok, Yang. Tapi, nggak jam segini juga kali kamu telpon aku! Ngantuk nih!”
“Hee, kamu nih, uda nggak terima kasih dibangunin, mesti mau tidur lagi ya?”
“Hee, aku kan lagi libur sholat, May! Kamu sekarang malah jadi lupa jadwalku, ya?”
Aku tertawa, “Maaf, ya, maaf.”
“Maaf, maaf. Udah, deh, ntar temenin ke salon, ya? Aku mau meni-pedi, nih,” ujar Wina.
Aku menaikkan alis sebelah kanan, “Kamu habis nambang, ya? Hiiih, iya, deh, aku juga mau buang sial. Biar bisa deket sama kakak tingkat!” Aku tertawa girang.
“Naah, udah dapat mangsa, nih. Pokoknya ntar mesti cerita- cerita, ya?”
“Siap, deh,” aku dan Wina tertawa bersama. Aku lebih bahagia sekarang. Sahabatku juga nggak marah lagi padaku. Pokoknya, makasih banget buat alarmnya bapak.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar