Senin, 12 September 2011

Cerpen-Adikku

Diposting oleh nupp_niput di Senin, September 12, 2011
AKU dan ADIKKU
            Sudah sering hatiku dibuat gondok oleh Bian, adikku. Walaupun usianya yang sudah beranjak 15 tahun ini, kelakuannya tidak lebih dari seorang bocah usia 5 tahun. Mama dan papa juga kewalahan dengan sikapnya yang manja. Dia benar- benar troublemaker sejati, sampai- sampai ulahnya yang ini membuatku berdo’a supaya Bian enyah dari muka bumi. Tapi, bukannya mengurangi rasa jengkelku, hal itu malah membuatku menjadi merasa bersalah karena mengutuknya. Hati anak perempuan memang lemah, aku akui hal itu.
            Aku mencoba menghilangkan emosiku dengan online jejaring sosial, twitter. Aku mengumpat melalui tweets yang ku buat dan tidak jarang beberapa temanku membalas dengan kalimat simpati. Tapi itu tidak cukup bagiku. Rasa malu sebesar apa  yang harus aku tanggung di depan teman- teman adikku yang sering main ke rumahku.
            Adikku memang kelewat batas. Bisa- bisanya dia mempermalukanku di hadapan teman- temannya dengan menunjukkan pakaian dalamku yang ada di kamar mandi yang belum sempat aku taruh di keranjang cucian kotor. Otakku masih mengingat- ingat kejadian naas itu, padahal aku berusaha mengenyahkannya.
            Aku sangat marah padanya dan aku mengutuknya berkali- kali agar hatiku puas, tapi aku malah ingin menangis. Seberapa banyak aku mengutuknya, hal itu membuatku tambah sedih.
            Hari sudah sore, aku tidak merasa aku sudah duduk di depan layar komputer selama tiga jam. Mataku yang sembab membuat pandanganku kabur.
            Mama menanyakan keadaanku, tapi aku menjawab dengan ketus, karena aku masih merasa sedih dan malu. Sangat malu. Melihat gelagatku, mama tahu aku masih sangat kesal dan marah.
            “Assalamu’alaikum,” sapa Bian tiba- tiba dari pintu depan dan menghamburkan diri di kaki mama.
            Semarah apapun aku padanya, aku tetap mambalas salamnya. Walaupun dengan ketus.
            “Ma, hand phoneku hilang,” ucapnya sedikit merengek, “kantung celanaku ada lubang besar, nih.” Bian menunjukkan lubang besar di kantung celananya.
            “Hilang dimana? Apa waktu lari- lari tadi?” tanya mama cukup kaget.
            Bian mengangguk, ia meringsukkan badannya di lantai. Sejenak aku merasa kasihan padanya. Aku pun juga kaget ketika Bian berkata hand phonenya hilang. Memoriku berputar lagi menuju dua bulan lalu ketika hand phoneku kecopetan dan aku mengalami trauma yang belum sembuh hingga sekarang.
            “Hilang apa hilang? Jangan- jangan, cuma akal- akalan kamu biar dibeliin hand phone lagi,” sergah papa seketika yang mendengar dari ruang tamu.
            “Kalau nggak percaya, ya sudah!” ucap Bian. Nadanya terdengar berbeda, mungkin dia menangis dalam ringsukan. Aku benar- benar kasihan padanya, walaupun rasanya aku ingin menertawainya sebagai karma atas kelakuannya tadi siang.
            Mama dan papa meninggalkan Bian di lantai, membiarkan Bian melakukan apa yang dia suka. Pasti mereka akan berdiskusi tentang hal ini.
            Aku men-sign out twitterku dan mematikan komputer. Aku berpikir sejenak mengenai tawaran mengajar di tetanggaku dan mengikuti lomba cerpen yang disarankan temanku. Kalau di pikir- pikir, gajiku satu bulan bisa untuk membantu Bian membeli hand phone baru tanpa membebani mama dan papa.
            “Ya sudah, ikhlas aja, deh. Masalah hand phone barumu, Didud mau bantu. Tapi setiap hari kamu juga menabung loh! Didud ada tawaran ngajar di Om Satya sama Om Kurnia, Didud juga ikut lomba cerpen yang kalau menang juara satu, Didud bisa beliin kamu hand phone tanpa minta uang dari mama sama papa. Kalau menang, sih,” ujarku.
            “Beneran, Dud ?” wajah Bian terlihat ceria sekarang, “makasih, ya. Aku do’ain, deh, biar menang juara satu!”
            Aku tersenyum dan Bian terlihat semangat lagi, “Maaf buat yang tadi, ya, Kak Claudia.”
            Aku membelalakkan mataku. Baru kali ini aku mendengar Bian memanggil nama asliku. Aku bisa mendengar nada permintaan maaf, rasa syukur, tanda keikhlasan, dan kasih sayang darinya untukku, kakaknya yang lemah dan mudah dikerjain, dari caranya dia memanggil namaku.
JJJ
Hari demi hari berlalu. Aku menjalani kegiatanku sehari- hari dengan serius. Apalagi terkait dengan mengajar dan sesegera mungkin membuat cerpen, mereview, dan mengirimnya melalui internet.
            Bian juga rajin menabung akhir- akhir ini. Terkadang dia mengisi seribu, dua ribu, bahkan lima ribu kalau sedang niat sekali.
            Awal bulan ini aku sudah mendapat gaji perdanaku. Walaupun tidak sebesar gaji mama dan papa, tapi ini hasil jerih payahku sediri. Aku akan menyisihkan gajiku untuk membantu Bian. Sisa uang gajiku bisa untuk membayar uang pendaftaran masuk universitas.
            Pukul 9 pagi aku sudah mendatangi bank. Aku mentransfer uang pendaftaran untuk cerpenku. Setelah selesai membayar sebesar sepuluh ribu rupiah, aku menuju papan informasi. Di papan itu aku mendapati informasi pendaftaran universitas yang pembayarannya dilakukan di bank tersebut.
            Aku berpikir, dari mana saja aku kemarin? Bahkan informasi yang penting ini aku tidak tahu. Aku kaget ketika melihat tanggal batas pendaftaran yang jatuh dua hari lagi.
            Uang pendaftaran sebesar dua ratus ribu rupiah itu kapan aku bisa membayarnya! Di dompetku masih ada uang cukup untuk membayar pendaftaran itu sekarang. Tapi aku sudah berjanji pada Bian akan membantunya membeli hand phone baru dengan uangku.
            Aku pulang dengan hati gundah. Aku membuka website pendaftaran masuk universitas. Syarat- syarat, ketentuan, dan jadwal pembayaran serta tes aku copy dan aku print. Ku letakkan lembaran kertas itu di kasur dan aku berbaring di sampingnya. Aku tahu aku tidak bisa memikirkan ini sendirian. Mungkin nanti malam aku akan berdiskusi dengan mama dan papa.
            Aku lelah dan kemudian aku tertidur.
JJJ
Aku bangun jam tiga sore ini. Walaupun aku punya hal rumit yang sedang ku pikirkan, tidurku tetap nyenyak, walaupun mimpiku buruk.
            Mama dan papa sudah pulang jam segini. Aku beranjak menuju ruang keluarga. Mama dan papa duduk di depan televisi dan Bian sedang asik bermain permainan di komputer.
            Aku duduk di tengah- tengah mama dan papa. ku sandarkan kepalaku di bahu mama. Aku masih mengantuk dan ingin tidur lagi yang lebih lama, tapi badanku sudah segar dan siap berkegiatan lagi.
            “Kamu sedang ada pikiran rumit, Dud?” tanya papa dengan suaranya yang khas dan tegas.
            Aku menoleh memandangi papa. Tapi belum sempat aku menjawab, mama juga berkata, “Mama dan papa tahu kamu sedang bingung. Coba cerita.”
            “Aku nggak apa- apa kok,” kataku.
            “Bayar aja nazarmu, Dud. Masalah hand phoneku bisa ditunda,” ujar Bian yang matanya masih serius di depan komputer.
            “Kalian?” tanyaku menerka- nerka, “ kalian mengambil kertas- kertasku, ya?”
            “Bian yang lihat di kasurmu,” jawab mama, “jadi benar, kan?”
            “Sayang, kamu memang sudah berjanji pada Bian, tapi utamakan pendidikanmu dulu. Mama dan papa ingin membantu, tapi nazarmu membuat mama dan papa tidak bisa membayar uang pendaftaran masuk universitas,” jelas papa.
            Aku menundukkan kepala dan berpikir sejenak. Aku memang punya nazar agar aku bisa masuk universitas favoritku, yaitu membayar uang pendaftaran dengan uangku sendiri.
            “Dud, aku juga nggak maksa kok. Gajimu yang bulan depan bisa buat bantu aku beli hand phone. Yang penting, sekarang kamu buruan bayar pendaftarannya. Keburu ditutup,” kata Bian.
            “Baru kali ini aku tahu kalau kamu bisa mengalah sama orang lain,” sindirku. Aku tertawa dan Bian juga.
            Aku sudah mengatasi masalah ini dengan baik dan lancar. Kalau saja Bian tidak sepengertian seperti ini, mungkin aku tidak bisa membayar uang pendaftaran dan tidak bisa juga mengikuti tes ujian masuk universitas.
JJJ
Seperti hari hari kemarin, jam 9 pagi aku sudah berada di bank untuk membayar pendaftaran ujian masuk universitas. Di dompetku sudah tidak ada uang yang ku punya, tapi di kantungku masih ada uang saku dari mama. Setidaknya aku masih bisa jajan.
            Aku mengikuti jalur ujian masuk bersama. Kata temanku, 70% potensiku bisa lolos. Ujian itu sendiri akan dilaksanakan dua minggu lagi dan pengumumannya dua minggu setelah ujian. Lebih cepat dan efektif. Aku berharap bisa lolos agar tidak membuat mama dan papa khawatir.
            Pengumuman ujian itu bersamaan dengan pengumuman lomba cerpen yang ku ikuti. Aku juga berharap bisa menjadi juara. Aku butuh uang hadiah lomba itu untuk membantu Bian, untuk menepati janjiku.
            Aku pulang ke rumah dan mendapati adikku beserta teman- temannya sedang duduk di teras.
            “Kalian bolos sekolah?” tanyaku dengan curiga.
            “Bukan bolos kalau tadi kami masih menerima pelajaran, kak,” ujar salah satu teman Bian.
            “Berandalan kecil, kalian cabut, ya?” tanyaku lagi.
            “Ya, enggaklah, kak!” seru Bian, “hari ini pulang awal, guru- guru mau rapat. Tapi, nih, lihat deh tugas- tugas  kita, numpuk dua kali lipat.”
            Aku menawarkan jasaku untuk membantu Bian dan teman- temannya mengerjakan tugas. Aku masih canggung dan malu karena beberapa waktu lalu Bian mempermalukanku. Tapi salah satu teman Bian meminta maaf padaku karena membuatku malu dan marah pada waktu itu.
            Aku lumayan lega dan aku mencoba santai saja. Toh, Bian juga sudah minta maaf padaku.
JJJ
            Satu bulan berlalu lumayan cepat. Aku sudah mengikuti tes ujian masuk dengan lancar. Hari ini adalah pengumuman dua hal penting bagiku. Yang satu menentukan nasib pendidikanku, dan satunya menentukan sejauh mana aku mahir dalam bidang tulis- menulis.
            Aku gugup saat membuka website hasil ujian masuk universitas. Aku mengetik kode ujianku dan aku gugup untuk mengeklik Lihat Hasil Ujian. Mama, papa, dan Bian ikut was- was.
            Mungkin karena Bian sudah tidak sabar, ia mengeklik Lihat Hasil Ujian dan aku secara refleks menutup mataku. Aku komat- kamit, berdo’a supaya hasilnya aku lolos.
            “Kakak!” seru Bian mengagetkanku, “Selamat, ya! Kakak lolos! Ma, pa, kakak lolos!”
            Aku menyingkirkan tanganku dan melihat ke layar komputer. Perasaanku campur aduk. Aku senang, terharu, dan aku ingin berteriak. Mama, papa, dan Bian memelukku dan memberi selamat berkali- kali.
            Sekarang, giliran aku membuka blog untuk melihat hasil lomba cerpen. Aku berharap juga kali ini aku bisa menang dan hadiah lomba itu bisa untuk membelikan Bian hand phone baru sesuai janjiku.
            Aku kelewat senang dan percaya diri. Tapi setelah ku buka dan ku lihat hasil lomba cerpen itu, aku merasa agak lesu. Juara dua.
            Bian melihatku lesu, tapi dia menyemangatiku dan menyelamatiku. Uang hadiahnya lumayan untuk membantu Bian. Toh, tidak semua uang hadiahku untuk membeli hand phone barunya. Masih ada tabungannya dan subsidi dari mama dan papa.
            Dua hal penting ini membuatku bahagia dan Bian jadi lebih dewasa. Mama dan papa memelukku sekali lagi. “Aku sayang kalian. Terima kasih,” ucapku.
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review