Hari ini sangat konyol, sekonyol perasaanku. Nggak karuan! Di awali dengan pagi yang kurang sempurna kalau nggak macet. Jantungku hampir copot ketika segerombolan anak SMA yang mengendari motor dengan serabutan di jalanan. Ingin rasanya kulempar sepatu ketsku ke arah kepalanya. Tapi pasti nggak terasa sakit karena mereka menggunakan helm. Yeah, seenggaknya mereka masih menaati peraturan menggunakan helm di jalan raya.
Sampai di kampus, semua teman- teman baruku yang kujumpa nggak lain nggak bukan selalu membahas dress code untuk welcome party nanti malam.
“Sarah, nanti malam wajib pakai dress, loh! Kamu udah tahu, kan?” tanya temanku yang sejujurnya aku lupa namanya.
“Umm, iya, aku tahu kok. Males banget, deh!” gerutuku sepanjang jalan.
Dan setiap di perjalanan menuju ruang kelas, teman yang bertemu denganku selalu bertanya itu dan itu. Dan aku juga menjawab itu dan itu, praktisnya.
Windi yang duduk di kursi depan ruangan menyambutku dengan riang seperti menyambut presiden. “Sarah!” serunya sambil menghampiriku.
“Hai, Windi!” seruku seraya merangkulnya. Tubuhnya yang lebih pendek dariku terasa seperti aku memeluk adik sepupuku yang berusia enam belas tahun.
“Kamu nanti jadi beli perlengkapan buat welcome partynya?” tanya Windi.
Aku mengangguk dan meraih kursi terdekat untuk mengistirahatkan kaki dan pantanku yang lelah. “Iya, nanti temenin, ya?” pintaku.
Windi mengangguk dan tersenyum.
“Eh, dosennya udah masuk, ayo buruan masuk!” seru Alvin, teman baruku yang cukup flatter.
Aku dan Windi, serta teman- teman lain yang ada di luar segera masuk ke ruangan untuk menerima introduction dari mata kuliah- mata kuliah yang hanya berdurasi lima belas menit.
YYY
Perkenalan mata kuliah- mata kuliah Hari Jum’at ini berlangsung cepat dan kilat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 11 siang.
“Bebeb, abis ini kita mau jalan kemana, nih?” tanya Alvin padaku saat akan keluar dari ruangan. Dia selalu memanggilku “bebeb”, entah kenapa. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai gombalan untuk bercandaan saja.
“Aku mau pergi cari dress sama Windi. Mau ikut?” aku menawarkan. Biasanya kalau urusan shopping, laki- laki akan segera angkat tangan dan pergi. Aku sering melakukan hal itu kalau ada laki- laki yang ingin mengajakku nonton.
“Boleh, deh, nanti aku bantuin buat milih juga, deh, beb,” ucapnya.
Aku melongo dalam hati. Holaholo dengan apa yang kudengar baru saja. “Beneran?” tanyaku memastikan, berharap ia hanya bercanda saja.
Alvin mengangguk dan tanpa izin mengajak semua gerombolannya untuk ikut berbelanja bersamaku.
Aku dan Windi saling berpandangan. Pandangan agak risih dan kurang nyaman, karena sebelumnya aku nggak pernah pergi shopping bersama anak laki- laki, kecuali papa dan adikku.
Akhirnya kami menuju mall dekat kampus dan mulai searching dari toko ke toko, butik ke butik.
“Eh, ada pameran barang elektronik, kita kesana, yuk!” seru Satya.
“Mana? Mana? Ayo kesana!” seru Alvin dan rombongan lain meninggalkanku dan Windi.
Aku menghela nafas lega. Rasanya gondok juga ditinggal seperti itu. Tapi ada hikmah dibalik sebuah susah. Di saat gerombolan itu asyik dengan pameran- pameran, aku dan Windi segera kabur menuju toko yang sering dikunjungi Windi kalau dia membeli perlengakapan party.
Kami berdua masuk dan kagum dengan designnya yang oke punya. Seperti di dalam kebun saja. Ada tanaman disana sini.
Aku langsung fokus dan tertuju pada deretan casual dress yang bagus- bagus dan sedang mode sekarang ini. Windi mengacak- acak deretan baju itu dan menemukan satu yang bagus untukku.
“Coba deh!” seru Windi sambil mendorongku menuju ruang ganti.
Setelah beberapa menit menyempurnakan tatanan dressnya, aku keluar dari ruang ganti dan kutemukan Windi terpana melihatku. Dia tertawa dengan girang. Penjaga butik dan petugas kasir juga girang melihatku.
“Cocok! Cocok banget, Sar!” seru Windi. Ia menarikku ke depan kaca dan menyuruhku melihat bayanganku sendiri.
“Wow!” gumamku kagum pada diriku sendiri, “Menurutmu gimana?”
“Bagus! Bagus banget, Sar!” seru Windi, “Yaudah, sekarang kamu ganti lagi sebelum cowok- cowok itu nemuin kita disini!”
Aku buru- buru ganti baju dan segera membayar baju imut itu. Kumasukkan dalam tas ranselku agar cowok- cowok itu nggak tahu kalau aku sudah dapat bajunya.
Kami berdua menemui gerombolan Alvin yang sedang asyik melihat- lihat kamera DSLR.
“Hei,” sapaku sambil menepuk punggung Jessy.
Satya membalikkan badan dan menyapaku, “Eh, Sarah!”
Alvin buru- buru berbalik dan segera merangkul tanganku, “Bebeb, kamu darimana aja, sih? Aku nyariin kamu loh dari tadi!”
“Eh, eh, eh!” seru Windi sambil memukul pelan tangan Alvin yang merangkul tanganku.
Aku melepas tanganku dan memukul pelan tangan Alvin dan sedikit bercanda seolah- olah aku marah padanya, “Kamu yang ninggalin aku! Lagian nyariin aku gimana? Dari tadi kamu malah asyik sama benda mati begini!”
“Naah, Sarah marah, tuh!” seru Jessy memprovokatori – dengan bercanda pastinya. Kemudian yang lain tertawa.
Satya menimpali ucapan Jessy, “Cerai aja, Sar, cerai! Ntar sama aku aja.”
Aku dan yang lain tertawa lagi, puas rasanya bercanda dengan mereka, apalagi kalau membuat Alvin cemburu. Rasanya aku ingin menelan dunia!
Aku pamit pulang duluan karena kepalaku pusing. Alvin menanyakan tentang dress yang harus kubeli, tapi aku buru- buru pergi bersama Windi menuju parkiran.
“Ketemuan di dalam gedung aja, ya, nanti?” tanya Windi.
Aku mengangguk dan kami pun pulang ke rumah masing- masing. Aku harus melakukan banyak persiapan untuk nanti malam.
YYY
Aku agak kurang pede dengan dandananku malam ini, karena sebelumnya aku nggak pernah dressing seperti ini.
Aku berjalan dengan kepala tertunduk menuju ke dalam gedung. Tapi di luar gedung sudah banyak teman- teman dari fakultas lain dengan dress dan kemeja yang oke punya.
“Sarah!” seru Windi yang berlari menuju ke arahku, “Untung kamu beneran Sarah!”
“Hee?” tanyaku bingung.
“Kamu beda banget! Cantik, deh,” puji Windi membuat pipiku lebih merona dari biasanya.
Aku balik memuji Windi yang dandan total. Ia terlihat seperti Putri Mesir. Mata Windi yang ke arab- araban membuatnya lebih cantik dengan maskara dan eye-liner yang terpoles rapi.
Kami berdua berjalan menuju ke dalam gedung. Terlihat dari kaca pintu gerombolan Alvin, Jessy, Satya, dan yang lainnya.
“Eh, eh, tunggu, biar aku yang masuk duluan, ya? Mereka pasti kaget lihat kamu jadi se-amazing ini!” seru Windi. Aku hanya menuruti Windi saja, padahal dalam hatiku ini, aku sangat nggak pede.
Ketika Windi masuk ke dalam gedung, semua mata tertuju pada Windi, kemudia diikuti aku dari belakang Windi.
“Teman- teman, masih ingat siapa dia?” tanya Windi dengan suara agak keras sehingga membuat semua perhatian tertuju padaku.
Momen yang pas saat Windi bicara dan aku masuk ke dalam ruangan dengan malu- malu. Benar- benar sangat pas untuk mempermalukanku.
“Windi, aku malu,” ucapku dengan pelan karena semua mata tertuju padaku.
Nggak sedikit yang bergumam kagum dengan tampilanku, ada juga yang syirik dan langsung memalingkan wajah.
“Sarah cantik banget!” seru Jessy kagum.
“Bebeb? Itu bener kamu?” tanya Alvin nggak percaya.
Satya berdiri dengan mata terpana, “Dia bener- bener Sarah!”
Aku berjalan menuju mereka dengan malu- malu, “Aku nggak pede, nih!”
“Kamu cantik kok!” seru Alvin dan Satya bersamaan.
Teman- teman menyoraki aku, Alvin, dan Satya. Aku tambah malu dan rasanya darah di pipiku mengalir deras.
Tapi dalam sekejap semua kembali normal dan kami sangat fun malam ini. Aku nggak akan melupakan malam ini.
Dressku malam ini lama- lama membuatku normal dan biasa- biasa saja.
Malam yang seru, Grey – dress abu- abuku – dengan pita merah yang imut, dan wedges abu- abu dengan pita, rambut semi-curly, alunan musik jazz, tapi hanya satu yang kurang. Pangeran berkuda putih.
YYY
Lots of love, Niput Y
2 komentar:
pik aku liatin dress nya to... hehe :D
hehe -..- greyku yg asli tuh wedges o yak wkakak
Posting Komentar