Senin, 05 Desember 2011

Cerita Kampus-Payah

Diposting oleh nupp_niput di Senin, Desember 05, 2011
Aku bilang, jangan menyerah untuk menyukaiku.
Apa? Kau memintaku untuk menyukaimu lagi, sedangkan kau tidak menyukaiku? Tunggu, apakah kau menyukaiku?
Kata- kata di film itu melekat di otakku membuatnya menjadi ingatan yang tak terlupakan. Sesuatu terjadi padaku saat aku nonton film itu. Ada yang menggerakkan hatiku untuk mulai membuka hati untuk orang lain. Heart string.
Hatiku berasa hidup kembali dan aku tahu siapa yang sedang aku taksir akhir- akhir ini. Si dingin, si kutu buku, si cool, si pendiam. Gilang.
Sudah lima bulan ini aku berada di kampus biruku. Dan selama lima bulan itu aku baru menyadari ada sisi dingin yang kusuka dari Gilang. Bukan hanya itu, aku suka dia karena dia memilki sifat yang sama denganku. Ya, aku bisa melihat diriku di dirinya. Rasanya menyenangkan menemukan orang yang sama seperti diri kita.
Aku, Windi, Husna, dan Nesa menuju ke gedung E untuk mata kuliah kewarganegaraan. Biasanya ada Hannah, tapi sejak aku dan dia berpisah di kelas Pronounciation, aku nggak melihatnya lagi.
Ya, semenjak dia punya pacar, dia udah dua kali bolos mata kuliah umum seperti ini. Sebagai teman, aku dan yang lain harus ingetin dia, dan udah. Hanya saja, semua keputusan ada di tangan di Hannah.Yang dewasa yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk itu.
Kami berempat berjalan tepat di belakang gerombolan Resha dan pastinya ada Gilang disana. Dia memang kurus, tapi tangannya berisi, dan pastinya otaknya juga berisi!
Kami berempat juga memilih duduk di bagian belakang, tepat di belakang kursi gerombolannya Gilang. Para cewek di depan, dan yang cowok di belakang, dan juga di belakang para cowok adalah kami berempat.
Mata kuliah ini asyik, sangat asyik! Aku dan teman- teman lainnya bisa foto- foto tanpa ketahuan, makan jajanan yang kami beli tanpa ketahuan, dan nggosip tanpa dimarahin. Tapi sayangnya banyak mahasiswa yang memilih untuk cabut dari kelas ini karena, yeah, kelas besar nggak efektif dan terlihat seperti seminar kewarganegaraan.
Husna menggodai aku karena aku duduk di belakang Gilang. Bukan tepat di belakangnya, tapi aku memosisikan untuk duduk diagonal agar bisa melihatnya yang sibuk membaca novel.
Aku cukup tertarik dengan novel yang dia bawa. Saat Gilang menutup bukunya untuk mengistirahatkan matanya, aku menyodorkan tanganku dan berkata, “Pinjem, dong.”
Gilang meminjamkan novelnya. Novel hard cover itu berwarna hitam dan judulnya berwarna emas. Aku membuka novel itu dan melihat jumlah halamannya. Aku bergumam dalam hati, novel itu sangat tipis jika dibanding dengan novel Harry Potter and Deathly Hallows. Novel milik Gilang stengah lebih sedikit dari novelku, hanya lima ratusan halaman.
Aku bertanya, “Ini ceritanya tentang apa? Drakula, ya?”
Gilang menggeleng, “Iblis.”
Aku cukup ngeri mendengar kata ‘iblis’ seperti itu. Gilang dengan lugas mengatakan hal itu dan kata- katanya meyakinkan.
“Kamu beli harganya berapa?” tanyaku lagi.
“Sembilan puluh lima ribu,” jawabnya singkat, tapi nggak dengan nada dingin.
Aku cukup kaget, tapi aku bisa maklum karena novel itu hard cover, akan berbeda kalau novel itu memiliki soft cover. “Kamu kapan beli ini?” tanyaku lagi.
“Dua hari yang lalu, kok,” jawabnya singkat. Kemudian kukembalikan novel itu padanya dan aku baru sadar dua hari lalu adalah ulang tahunnya.
“Eh, dua hari lalu kamu ulang tahun, ya?” tanyaku dengan nada tersadar, membuat teman- temanku menatap kami berdua, “Happy birthday, ya!”
Gilang mengangguk dan berterimakasih padaku. Seorang temanku menggodai Gilang yang wajahnya memerah dan sikap menjadi salah tingkah. Gilang makin malu dan ia mengalihkan perhatian ke arah dosen yang masih saja menerangkan apa yang tidak kami dengar.
Aku pun ikut memperhatikan si dosen yang sekarang sedang berbicara mengenai daerah perbatasan. Sejenak hening, sejenak kemudian aku bosan dengan apa yang kulakukan. Aku mulaui mencari handphone teman- temanku dan membuka galeri mereka.
Pertama adalah handphone Windi. Aku membluetooth foto- foto yang baru kami ambil tadi. Dan ternyata kami semua adalah banci kamera karena nggak sadar kalau ada duapuluhan foto yang kami ambil tadi, padahal kami sedang kuliah.
Target kedua adalah handphone milik Husna. Hanya ada satu fotoku di handphone Husna, tapi aku sangat suka itu. Foto yang juga baru saja di ambil, fotoku bersama Gilang! Pastinya Gilang nggak sadar kalau Husna memotretku dan dia, bahkan aku juga nggak sadar, tapi ide Husna sangat cemerlang. Aku berdo’a dia juga bisa seperti itu  dengan cowok yang ia sukai.
Target Ketiga adalah handphone milik Gilang. Awalnya aku agak sangsi kalau Gilang nggak mau meminjamkan handphonenya, tapi dugaanku salah, Gilang bahkan langsung meminjamkannya padaku, padahal dia sedang mendengarkan musik di handphonenya.
Galeri foto itu kubuka dan aku menemukan bahwa ia juga penggemar Twilight saga. Satu folder berisi fotonya gerombolannya. Satu folder berisi fotonya bersama anggota himpunan mahasiswa. Satu folder dengan sedikit fotonya sendiri. Dan satu folder yang harusnya ia lock agar orang lain nggak melihatnya sembarangan, atau ia memang sengaja, yaitu fotonya bersama seorang gadis – yang, yeah semua gadis itu cantik.
Tanganku bergetar saat kugeser layar handphonenya. Another photo that makes me so jealous. Aku kira Gilang yang dingin itu masih single, ternyata dia udah punya pacar!
Husna yang melihat foto itu juga langsung berbisik padaku dan menyanyikan lagu sendu yang pas dengan kejealousanku. Aku mencubit pipinya dan menempelkan jari telunjukku di depan mulutku. Mataku membelalak, mengisyaratkan agar Husna nggak banyak bicara tentang Gilang disini. Tapi Husna malah tertawa meledekku.
Aku mengembalikan handphone Gilang dan mengalihkan penderitaan dengan meminjam handphone temanku yang lain. Aku membuka dengan malas galeri foto di handphone milik temanku karena moodku udah turun dan malas rasanya melakukan hal lain selain meminta Gilang untuk menceritakan siapa gadis itu. Tapi itu nggak mungkin!
Hingga mata kuliah berakhir pun aku tetap merasa bete. Husna tahu moodku turun karena apa, tapi aku mencoba bersikap biasa dengan tetap bercanda dengan Windi dan yang lainnya.
Masih ada satu mata kuliah lagi sebelum aku mengakhiri minggu ini dengan kenyata pahit. Waa! Rasanya aku ingin berteriak di telinganya dan menjeritkan nama gadis yang ada di galeri handphonenya.
Dengan malas aku memasuki ruangan kelas dan duduk di baris kedua di kursi yang paling tengah. Windi, Husna, dan Nesa memilih duduk di depan sendiri. Tumben sekali mereka menjadi rajin begini atau hanya aku yang malas?
Gilang melintas di depanku duduk di sampingku. I don’t know why my heart beats so fast, tapi aku juga nggak bisa menutupi kekecewaanku. Gilang dan aku sama sekali nggak berbicara karena saat ia duduk di sampingku, dia langsung berkutat dengan novelnya. If I were him, aku juga bakal melakukan hal yang sama.
Windi menawari cookies vanila dengan chocochip di atasnya. Aku mengambil satu dan kugigit sedikit. Lidahku kelu dan nggak mau menerima cookies vanila dari Windi. Aku buru- buru lari ke toilet untuk memuntahkan itu. Aku sama sekali nggak doyan dengan apa pun yang rasanya vanila, susu putih, dan atau apalah.
Saat aku kembali ke kelas, Windi dan yang lain menanyakan keadaanku. Aku memang baik- baik aja, cuman rasa vanila cookies itu bikin aku eneg.
“Kamu nggak apa- apa?” tanya Gilang, mengalihkan novelnya.
Aku hanya mengangguk pelan sambil mengurut alis. Pusing rasanya. Tiba- tiba Gilang menyodorkanku minyak angin aroma terapi.
“Kamu nggak suka vanila, ya?” tanya Gilang.
Sekali lagi aku hanya mengangguk.
“Yaudah, kamu bawa dulu aja itu,” ucapnya, kemudian berkutat lagi dengan stupid novel yang membuat Gilang mengalihkanku.
Thaks,” ucapku sambil mengoleskan minyak angin itu di dekat telinga dan hidungku.
Apakah ia balas dendam atau nggak, dia hanya membalas dengan mengangguk saja. Tapi apa dia tahu alasan aku hanya diam sedari tadi dia bertanya? Why don’t he gets any sense of what girl feels? Aku sedari tadi mencoba menahan diriku untuk nggak berteriak senang karena Gilang HANYA menanyakan keadaanku.
Tapi saat aku sedang ingin merasakan senang- senangnya karena Gilang mengajakku berbicara, ingatan tentang gadis itu kembali muncul dan aku haus akan penasaran. Dan tahukan kalau membuat seseorang penasaran adalah dosa?
Untuk lebih jelasnya, sesampainya aku di rumah, aku langsung mengakses Facebook dan mencari- cari tahu siapa gadis yang – ternyata – masih dipuja Gilang. Dengan bermodal nama yang nggak sengaja kutemukan di handphonenya saat kubuka galeri foto Gilang, aku memulai pencarianku menyelidiki gadis itu.
AHA! Aku menjerit girang dalam hati. Yang pertama karena aku menemukan siapa gadis itu dan tentunya kulihat- lihat fotonya.dan yang kedua, nama alay gadis itu membuatku tahu bahwa Gilang dan gadis itu sudah PUTUS! Yang artinya adalah Gilang masih single dan aku girang- segirangnya.
Hanya saja, yang membuatku kepikiran lagi adalah aku nggak siap banyak orang tahu bagaimana perasaanku. Karena aku sendiri juga belum tahu pasti. Hanya saja, bertemu dengannya, diam dan hanya melihatnya, itu adalah kesenangan pribadi.
Tapi, semenjak ada orang lain tahu aku menyukai Gilang, kenapa perasaanku jadi berubah drastis. Aku nggak suka lagi padanya. Berharap dia tahu dan berkata, “Tolong, jangan menyerah untuk menyukaiku.”
“Aku yang payah,” kataku pada diriku sendiri.
(ˇ_ˇ'')​(ˇ_ˇ'')​(ˇ_ˇ'')​

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review