Jumat, 30 Desember 2011

Cerita Kampus-Hatiku

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Desember 30, 2011
Aku tidak butuh kotak untuk menyimpan hatiku karena aku masih menggunakannya. Aku hanya butuh rak untuk menata hatiku agar rapi. Saat selesai menggunakannya, aku akan mengembalikan ke tempat semula.
Nggak ada yang tersisa dan nggak ada yang sia- sia. Semua yang merasakan cinta pasti akan merasa sempurna. Tapi bagaimana dengan mereka yang sedang putus cinta? Hatinya hancur. Mereka nggak tahu mau diapakan hatinya yang sudah rapuh itu.
Aku memutuskan untuk meletakkan lagi hatiku saat aku memutuskan untuk melepaskan yang belum pernah kudapat. Aku nggak akan meletakkan hatiku di dalam sebuah kotak, membiarkannya mengering dan keriput, lalu rapuh dimakan usia. Aku butuh sebuah rak untuk meletakkannya disana. Mengambil seperlunya dari bagiannya, bukan semuanya.
Aku menemukan Gilang yang nggak bisa aku raih. Bukan karena aku nggak berusaha, tapi aku rasa aku memang nggak siap untuk merasakan hal seperti...cinta dari lawan jenis, maksudku orang yang mencintai dan dicintaiku.
Aku menggunakan hatiku saat aku menemukan Gilang. Senang, ragu, malu- malu,dan jantungku berdetak lebih cepat. Ya, saat itu aku menggunakan hatiku untuk mencoba dekat dengannya.
Kemudian aku meletakkan lagi hatiku ke rakku saat aku merasa aku pasrah dan ingin berhenti. Dan aku pun berhenti. Aku meletakkan hatiku dengan pelan di rak dan menatapnya dalam- dalam. Tapi setelah kupikir- pikir, aku mengambil sedikit dari bagian hatiku. Hanya sedikit.
Apa yang terjadi? Aku masih saja merasa malu dan ragu saat bertemu dengan Gilang, tapi jantungku berdetak dengan normal. Hey, aku rasa aku sudah bisa biasa dengannya! Aku senang, senang sekali. Akan sangat sakit bagiku jika kuambil semua bagian hatiku dan merasa bahwa hanya jantungku yang berdetak lebih kencang, sedangkan Gilang tidak.
Sebuah keadilan saat aku merasa bahwa aku harus stop untuk menyukainya. Gilang yang dingin, diam, dan aku nggak bisa meraihnya, membuatku menyadari sesuatu: Apa yang kumau, belum tentu bisa kudapat dengan instan. Apalagi dengan sifatnya yang sulit ditebak. Siapa yang tahu perasaan sebenarnya dia?
Ada perempuan lain dibalik semua ini. Tapi, bukan dia yang membuatku untuk berhenti menyukainya. Hanya prinsipnya. Prinsip Gilang yang sama kokohnya seperti prinsipku.
Bagiku, mantan pacar sama dengan mantan suami yang cerai karena talak tiga dan nggak boleh balik lagi. Baginya, memperjuangkan seseorang sampai kapanpun adalah sebuah kesetiaan yang nggak terhitung cintanya.
So, apa gunanya aku yang menyukainya? Aku sudah memutuskan untuk meletakkan hatiku, bukan menyimpannya. Aku mengambil sebagian kecil dari hatiku, bukan semuanya. Saat aku bertemu dengannya aku akan senang, tapi hanya sesaat. Kukontrol sebagian hatiku yang kubawa dan aku bisa melewati proses melupakan seseorang dengan lancar.
Kadang, aku masih sangat girang jika baru saja berbicara dengannya atau sekedar bertanya tentang apapun. Tapi, untuk waktu yang sangat cepat, kondisiku mulai normal.
Hatiku..
Aku menjaga hatiku yang masih berada di rak. Sebagian kecil hatiku yang kubawa, jika merasa sakit, akan hanya sebentar dan seperti luka jatuh dari sepeda. Dan sebagian besar hatiku yang kuletakkan di rak akan baik- baik saja menghirup udara segar. Kubiarkan ia mendapatkan kebahagian, jadi saat aku ingin merasakan bahagia karena sakitku, ada sebagian besar hatiku yang siap memberikanku kebahagian.
Hatiku..
Aku belum tahu dengan siapa akan kupercayakan hatiku ini. Aku harap, dengan sebagian kecil hati yang kubawa ini, aku bisa menemukan my prince and his white horse.
YYY

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review