Senin, 14 November 2011

Cerita Kampus-November 9th

Diposting oleh nupp_niput di Senin, November 14, 2011
Aku baru sadar di pertengahan bulan ini kalau ini Bulan November. Aku buru- buru melihat kalender dan terperangah kalau ini tanggal 11. Aku menepuk dahiku lumayan keras.
Aku melupakan hari istimewa seorang cowok yang pernah dekat denganku semasa SMP. Cinta monyet. Tapi aku hanya suka, bukan cinta. Harusnya dua hari lalu aku sadar kalau ia ulang tahun. Hanya setahun sekali untuk mengucapkan kata, “Happy birthday.”
Aku mengurut keningku, mencoba mencari solusi yang tepat. Kalau aku nggak memberi selamat ulang tahun padanya, tandanya aku sombong dan lupa padanya, padahal jauh dari lubuk hatiku, aku nggak akan pernah lupa sama dia. Kalau aku memberinya ucapan selamat sekarang, aku takut ia mengira aku lupa tanggal ulang tahunnya. Tapi, lebih baik aku lupa tanggal ulang tahunnya, daripada aku lupa padanya.
Namanya Erik, tapi ia biasa dipanggil Eik. Dia adik kelasku, tapi lahir dengan tahun yang sama, bulan sama, hanya tanggalnya yang berbeda. Sebelas hari setelah ia lahir, aku baru lahir.
Eik termasuk cowok yang pintar di kelas dan aktif di luar kelas. Basket dan OSIS dipilihnya sebagai soft skill untuk mengisi kegiatan di waktu luang. Dan yang paling menyenangkan, ekstrakurikulerku, PMR, jadwalnya bersamaan dengan jadwal extrakurikuler basket. Jadi, dari pagi hingga sore aku bisa mencuri- curi pandang padanya.
Aku teratwa sendiri saat aku memutar kenangan yang tersimpan dalam memoriku yang nggak ada habisnya. Aku dan Eik dikenalkan oleh teman sekelasku yang nyatanya adalah tetangga Eik. Karena aku sering main ke rumah temanku itu dan Eik juga – nggak terlalu – sering main ke rumah temanku, kami bertemu disana dan mulai dekat.
Aneh rasanya kalau aku dekat dengan adik kelas. Tapi secara teknis, umurku dengannya hanya terpaut beberapa hari. Ini nggak masalah buatku selama aku nyaman dengannya. Ia bisa membuatku senang dengan hanya curi- curi pandang dan salting. Aha! Cinta monyet. Tapi sekali lagi, aku hanya suka, atau simpatik.
Eik adalah cowok pertama bagiku. Pertama bagi segalanya. Karena semua yang diinginkan seorang cewek ketika masuk di usia remaja, aku mendapatkan semua hal itu dari Eik.
Dulu, teman- temanku yang lebih tua dariku menganggapku anak kecil, padahal aku merasa aku udah besar. Tapi kenyataannya aku juga berpikir kalau aku sewaktu SMP adalah anak perempuan baru kemarin sore. Dan aku masih bingung tentang apa itu pacar dan semua yang diharapkan anak perempuan yang baru memasuki usia belia.
Eik adalah segalanya di usiaku yang belia. Pertama, Eik adalah cowok yang berani mendekatiku, saat itu aku kelas VIII dan ia baru kelas VII. Kelasku membelekangi kelasnya. Jadi, setiap istirahat aku lebih memilih menghabiskan waktu di kelas dan bercanda dengan teman- temanku yang lain sambil mencuri- curi pandang pada Eik yang selalu berada di depan kelas. Entah dia sengaja sepertiku atau tidak, aku nggak tahu sampai sekarang ini.
Kedua, Eik adalah cowok yang pertama kali mengantarku pulang ke rumah. Padahal, aku takut sekali kalau dimarahin mami karena aku pulang dengan diantar Eik. Tapi keadaan waktu itu sangat darurat. Saat itu ada acara buka bersama di sekolah. Aku bingung saat pulang karena hari udah gelap dan bahaya jika anak perempuan pulang sendirian. Biasanya aku pulang bersama tetanggaku yang juga temanku di SMP. Tapi mereka ada yang udah diantar temanku lainnya dan ada juga yang  dijemput orangtuanya untuk pergi bersama. Akhirnya Eik datang padaku saat aku benar- benar putus asa. Aku mendapat pertolongan yang kubutuhkan, dan kejadian tiu sangat cepat. Kami berdua berada di motor kurang lebih hanya sepuluh menit. Ia berusaha untuk nggak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dan membawaku pulang dengan selamat. Aku sangat berterimakasih sekali padanya dan saat itu, kami lebih dekat lagi.
Ketiga, saat tahun baru. Eik adalah cowok yang pertama kali mengajakku untuk pergi melihat kembang api dan merayakan tahun baru. Hanya saja aku nggak dapat izin untuk hal itu. Orangtuaku sangat ketat untuk melarangku keluar malam. Katanya, hal itu nggak baik untuk perempuan dan angin malam bisa membuatku masuk angin nanti. So, karena nggak dapat izin dari ortu, aku nggak bisa ikut dengan Eik untuk merayakan tahun baru bersamanya.
Keempat, Eik adalah orang pertama yang memberiku coklat valentine. Dari pagi aku udah mendapat kejutan. Aku selalu berangkat awal walau rumahku relatif dekat dengan sekolah. Pagi itu saat aku memasuki kelas, aku disapa teman sekelasku dan ia berkata bahwa ada seorang cowok yang menitipkan salam “Happy Valentine” padaku dan memberiku sebuah kartu ucapan. Temanku mencoba untuk menerka- nerka, tapi aku menutup- nutupi darinya. Saat aku uduk di bangkuku, aku membuka kartu ucapan itu dan membaca kalimat itu berulang- ulang. Aku nggak percaya. Eik memintaku untuk menunggunya di depan perpustakaan saat pulang sekolah nanti.
Hal yang menjengkelkan adalah dia nggak muncul saat istirahat seolah dia menghindariku. Aku hanya sabar menunggu sampai sekolah usai. Saat bel sekolah berbunyi tanda untuk pulang, aku nggak langsung menghambur ke perpustakaan yang sebenarnya dekat dengan kelasku. Sebenarnya aku hanya menunggu agar semua orang pergi duluan dan baru kemudian itu aku menuju perpustakaan.
Aku udah di depan perpustakaan, hanya saja aku nggak melihat adanya Eik disitu. Nggak lama aku menunggu, Eik keluar dari perpustakaan dan ia menyapaku. Eik membawa gitar yang biasa ia bawa ke sekolah. Kami berdua ngobrol di bangku depan perpustakaan. Eik menawariku untuk request sebuah lagu. Aku hanya bilang terserah dia aja mau mainkan lagu apa. Dan dia memainkan sebuah lagu romantis yang kurasa ia buat sendiri. Aku malu- malu saat itu dan sepertinya pipiku memerah. Aku harap Eik nggak tahu, tapi secara ia punya indra penglihatan, ia pasti bisa melihat rona di pipiku.
Selesai Eik memainkan sebuah lagu, sejurus kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya padaku. Ia mengucapkan ‘Happy Valentine’ padaku, kemudian ia pergi meninggalkanku. Dan masih, rona di pipiku. Darah yang seharusnya mengalir dari otak menuju jantung, harus berhenti dulu di pipiku dan membuat rona.
Aku membaca bungkus coklat yang baru saja Eik berikan padaku. “Take my heart and take me with you,” ucapku lirih membaca bungkus coklat itu. Sesampainya di rumah, aku langsung memakan coklat itu. Bukan hanya karena lapar, aku takut coklat itu dimakan oleh adikku, dan aku nggak mau coklat dari orang yang kusuka malah dimakan oleh orang lain.
Setelah empat peristiwa penting itu, kami nggak pernah – jarang – berhubungan karena ternyata ada orang lain yang ia suka dan aku baru tahu kalau ia playboy.
Jelas, aku sangat marah dan benci. Tapi aku nggak bisa membencinya lama- lama. Ia adalah hal pertama bagiku yang diinginkan semua perempuan yang baru memasuki usia belia.
Seberapa besar kejengkelanku padanya itu sama aja nggak merubah keadaan kalau, yeah, masih suka padanya. Entah apa yang orang lain katakan, tapi ia tetap hal pertama yang ada saat aku belia.
Setiap tahun, di Bulan November, aku nggak pernah melewatkan hari ulang tahunnya dan mengobrol padanya untuk beberapa saat walau hanya lewat facebook, kemudian kami saling menghilang. Itu udah biasa dan terjadi bertahun- tahun ini sejak aku masuk SMA.
Tahun ini, aku benar- benar rindu padanya, cinta monyetku yang nggak kucinta, hanya kusuka. Yang menjadi penyesalan adalah aku melewatkan tanggal ulang tahunnya.
Aku mengetikkan ucapan ulang tahun padanya lewat facebook. Banyak juga teman- temannya yang telat mengucapkan ‘Happy Birthday’ saat ulang tahunnya. Aku nggak sendirian, tapi aku nggak biasa melewatkan tepat di hari jadinya.
Aku benar- benar kangen padanya. Aku menuju kamar dan mengambil binderku. Di bagian belakang binder ada tempat untuk menyimpan kertas- kertas. Kukeluarkan benda persegi panjang yang membentuk balok berwarna ungu dan pink. Aku tersenyum melihat bungkus coklat yang lima tahun lalu Eik berikan padaku.
Ya, aku masih menyimpannya sampai sekarang ini. Sebenarnya mau aja benda itu kubuang, hanya saja karena aku suka warnanya dan karena Eik yang memberikannya, aku nggak tega membuang itu. Bahkan, suatu saat aku menikah nanti, bungkus coklat itu nggak akan kubuang.
“Take my heart,” kataku lirih, “and take me with you.”
Dulu aku terlalu sulit mengartikan maksud kalimat sederhana itu. Tapi, sekarang aku uda mengerti. Hanya saja, kemungkinan kecil, atau bahkan nggak ada kemungkinan, untuk kuambil hatinya dan kubawa pergi bersamaku.
“Happy birthday, Eik,” kataku lirih sambil memeluk bungkusan coklat valentineku lima tahun yang lalu.
YYY

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review