Hampir aja hari ini aku lupa kalau hari ibu. Untungnya, aku inget pas lagi nurunin mami dari motorku di depan kantornya. Aku nggak yakin aku bicara dengan romantis dan malah kedengeran seperti teriak kayak anak kecil “Happy Moms Day!” kepadanya. Mami cuman senyum- senyum lalu ketawa. “Makan- makan,” kataku lagi sambil cengengesan.
Mami mengepalkan tangan ke arahku, “Makan nih!” kemudian ketawa- ketiwi lagi dan bertanya, “Masih ada uangnya?”
Alhamdulillah, inilah sosok ibu yang pengertian *nyengir* karena belum aku minta aja udah nawarin. Aku menggeleng, kemudian mami memberi uang dua puluh ribu – yang artinya untuk dua hari.
Yaa, sangat pengertian! *ngakak malu- malu*. Seumur- umur pasti Anda sekalian baru tahu kalau ada anak kuliah yang tiap hari dikasih uang sakunya cuman Rp 10.000,00. Yey, that person is me!
Kalau sebagian dari Anda mungkin akan berteriak “Nggak mungkin!”, tapi beginilah aku dan mami. Begitu perhatiannya sama aku karena aku nggak dibolehin buat boros walaupun kadang- kadang sering khilaf juga.
Bentuk perhatian “Sepuluh Ribu Untuk Sehari” bukan mengandung arti kalau mami itu pelit, tapi mami mencoba untuk mengajariku hidup serba ‘PAS’, serba ‘CUKUP’. Kalaupun pengen jajan lebih dari sepuluh ribu juga bisa, tapi nggak setiap hari.
Roda hidup itu berputar kayak roda kereta kencana Cinderella. Ada hari dimana kondisi keuangan itu di atas, dan ada juga saatnya kondisi keuangan itu di bawah. Saat roda sedang di bawah, mami nggak pernah ngajakin jajan bareng *bukan jajan chiki, ya! – ,–*. Dan saat roda keuangan udah di atas, mami malah lupa ngajakin buat jajan #ngyahaha.
Sekali lagi, bukan berarti mami pelit. Postifnya, mami cuman nggak mau bikin aku ketergantungan saat mami sedang banyak duit. Mami juga nggak mau kalau aku ngerengek- rengek pas lagi nggak ada duit karena terbiasa jajan.
Intinya, bentuk perhatian mami adalah suatu pembelajaran untuk membuat anaknya nggak ketergantungan sama kenikmatan sesaat.
Masih inget di pikiranku kalau mami selalu masakin apa aja pas mami lagi nggak ada duit buat ngajakin beli jajan. Yang bayamlah, sambel teronglah, sop makaronilah, apalah! Yang penting nggak bikin aku buat jajan dan betah buat makan di rumah. Tapi, nggak enaknya kalau mami udah ada duit adalah mami nggak pernah masak, mami lebih milih buat beli makanan yang udah mateng.
Hari ini banyak banget yang ngomongin seputar ibu dan apa yang mereka kasih. Agak canggung jawabnya saat aku ditanya, “Kamu kasih apa?”. Aku cuman menggeleng dan jawab, “Belum kasih apa- apa.” *padahal di dalam hati aku jawab, “Aku udah kasih nilai UTS-ku kemarin, dan masih ada nilai UAS besok yang jadi surprise buat ulang tahunnya.”*
Kebanyakan dari teman- teman juga belum pada kasih hadiah buat mama mereka, tapi ada juga yang beliin bunga buat mama mereka. So sweet ~o~. Aku nggak bisa bayangin kalau aku kasih bunga ke mami. Mungkin awalnya mami bakal berterimakasih, tapi ujung- ujungnya bakal ada kuliah tentang plantology. Rule number 1 if you want to have a good flower: Jangan Pernah Metik Bunganya! #Plakk, berasa ditampar walau cuman imajinasi.
Siang ini aku diajakin anak himpunan mahasiswa dan Hannah buat ikut ke panti asuhan dalam rangka ngerayain hari ibu. 50:50. Tapi akhirnya aku memutuskan buat ikut dan izin sama mami *nggak biasanya aku ninggalin rumah – mami – pas hari ibu begini*.
Tempatnya cukup jauh dan bisa dibilang udah di luar kota walaupun perjalanannya cuman 45 menit. Daerah yang panas karena deket laut, tapi ada juga lahan persawahan yang bikin mata sedikit seger. Dan vallaaa, akhirnya samapai! *nggak mungkin kalau menyetir, walaupun aku bonceng temen, tapi pantatku rasanya sakit, kayak duduk di lumpur, mati rasa!*.
Belum benar aku meletakkan helmku di spion, gerombolan anak- anak panti asuhan datang menyerbu kami dan menyalami kami. Aku sedikit kaget, tapi langsung ingat kata- kata Husna tadi, “Nanti kalau kamu udah turun dari motor, semua anak- anak panti asuhan itu bakan nemuin kamu terus salamin kamu.” Dan benere aja, tapi dalam pikiranku nggak sebanyak ini, deh. Look, mulai dari anak kecil usia dua tahun sampai yang udah gede pada dateng nyamperin kami.
“Berasa jadi artis,” kata temenku padaku.
Aku hanya cengar- cengir sambil membalas salam mereka dan berkata, “Barokallah.”
Setelah selesai salam- salaman, aku melihat ke sekitar. Tempatnya cukup nggak bersih. Ada selokan yang cukup lebar, kalau dibilang sungai kecil juga nggak pantes karena airnya berwarna hijau dan banyak sampah dipinggrir- pinggirnya.
“Katanya, kalau hujan, sering kejadian rob disini, kesian, ya?” kata Hannah yang juga miris ngelihat pemandangan kayak gitu. Secara, disitu adalah tempat banyak anak- anak tinggal. Kalau lingkungan nggak bersih, gimana sama kesehatan mereka?
Aku dan yang lain kemudian menyalami yang empunya panti asuhan dan segenap staff. Lalu kami breafing untuk acara hari ini.
Nggak lama sengan breafing di dalam masjid, acara pun dimulai. Tapi, bangunan ini kalau dikatakan masjid juga iya, juga enggak. Banyak kegiatan yang dilakukan di bangunan ini, seperti mengaji, belajar, bahkan buat tempat bermain anak- anak.
Acara berjalan cukup seru karena semua saling bantu dan berpartisipasi. Tapi belum selesai acara itu, aku keluar dari ruangan karena nggak betah sama panasnya. Hannah mengikutiku dan berkata, “Suer, di dalem panas banget!”
“Kalau ada Windy, pasti badannya udah pada merah- merah,” kataku, “eh, kamar mandi mana, ya?”
“Mau ngapain? Nggak ada air, loh, disini,” kata Hannah.
“Seriusan?” tanyaku, “Aku cuman mau benerin baju, nih.”
Hannah menyuruhku untuk tanya sama ibu- ibu yang ngurus panti ini dan ia juga bilang kalau nggak ada air disini. Tapi tujuanku bukan buat buang air, aku cuman mau benerin baju. Dan iya aja, setelah ibunya kasih tau letak kamar mandi, aku lihat ada bak besar buat wudhu, tapi kosong dan kering. Ibaratnya kayak Mesir tanpa Sungai Nil, deh.
Susah payah aku menelan ludah karena nggak percaya dengan apa yang aku liat. Jadi inget waktu rumahku sedang krisis air. Air cuman nyala kalau jam 11 dengan alirannya yang kecil. Aku dan mami udah uring- uringan aja kayak kebakaran jenggot. Tapi setelah liat kenyataan disini...miris banget rasanya. Pikiran pertama adalah gimana mereka dapet air bersih buat minum? Buat mandi, buat cuci pakaian, buat cuci piring? Rasanya ingin menjerit tanpa suara! Hidup berbalik menjadi nggak adil dan aku jadi pengen nangis *ngelirik Hannah yang udah nangis duluan*.
Aku kembali ke gerombolan teman- teman yang udah pada garuk- garuk. Mereka menjadi santap makan sore sebelum mereka sendiri makan. Awalnya aku belum ngerasain gatal, tapi selepas maghrib, aku mulai garuk- garuk di sekitar pergelangan tangan dan kaki. Sueeeerrr! Rasanya kayak abis masuk ke selokan kotor di depan panti asuhan itu.
Memasuki waktu makan malam *buka bersama*, aku melihat semua anak- anak itu makan dengan senengnya. Makan bareng bersama si empunya panti dan staff. Ada yang nangis tanpa sebab, ada yang bercanda- bercanda, ada yang nggodain temen lainnya, dan ada yang mencoba mengusik makanan teman yang lainnya.
Seru, miris, rasanya jadi satu kalau melihat keadaan mereka. Ya, seru, karena mereka bisa sering kumpul- kumpul seperti ini. Tapi miris lihatnya kalau sadar bahwa mereka nggak punya orangtua. Nggak bisa makan bareng sama orangtua mereka. Aku jadi pengen tanya, apa mereka masih sempet kenal sama orangtua mereka apa enggak.
Sekali lagi ditampar karena, kadang, nggak menghargai apa yang udah diberikan orangtua. Pengen nangis, tapi nggak tega melihat mereka yang lagi seneng- seneng. Jadinya, aku nahan nangis lagi.
Rasanya sesek kalau air mata itu nggak dikeluarkan dan akhirnya ada juga momen buat ngeluarin air mata *nyengir*. Pas acara udah mau selesai, kami semua berdo’a bersama. Kakak tingkat pada minta dido’ain khusus buat UAS besok. Kemudian si empunya panti asuhan yang mimpin do’a.
Ada jeda untuk kami buat berdo’a sendiri- sendiri, lalu si empunya panti asuhan berdo’a lagi dan diikuti oleh aamiin aamiin dari anak- anak yatim piatu itu. Seketika aku nggak kuat nahan air mata dan bocor deh! Hehe. Nggak pernah sebelumnya aku dido’ain sama anak yatim piatu seperti itu. Dan itu yang buat aku nangis.
Udah muka kucel, mata ngantuk, hidung merah gara- gara nangis. Aku takut lihat bayangan diriku di cermin. Seperti apakah, ya? –,–
Tapi keadaan berbalik jadi seru lagi saat sesi foto- foto *banci foto* *narsis mode: ON*. Semoga wajahku nggak kelihatan begitu buruk walaupun kenyataannya yaaa....
Haaah, dan akhirnya acara pun selesai, kami semua pamit pulang dan balik ke rumah masing- masing. Aku diturunkan temanku di kampus, kemudian menyetir lagi sampai di rumah. Untung mataku masih kuat untuk terjaga, kalau sampai aku tidur sambil nyetir... na’udzubillah!
Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan. Akhirnya aku sampai juga di rumah dan aku langsung ke kamar mandi. Lega rasanya menemukan air di bak melimpah ruah. Lega rasanya bisa buang air karena kutahan sejak pulang tadi.
Aku melihat di dapur udah ada bakso yang mami belikan. Hehe. Ini bentuk perhatian lain, nih. Tiba- tiba jadi inget anak- anak yang ada di panti asuhan tadi.
Siapa yang bisa sering beliin bakso seperti ini buat mereka? Dan kalaupun si abah yang beli, berapa bayarnya demi setiap mangkuk untuk sembilan puluh anak disana? Apa iya satu mangkuk untuk sembilan puluh anak? #melongo.
Aku pengen jerit rasanya. Disini aku nemuin kebahagian yang mereka nggak bisa dapet. Aku punya orangtua yang mereka nggak bisa jadiin tempat buat berbagi. Aku punya orangtua yang bisa aku buat bangga. Dan aku punya mami yang bisa setiap tanggal 22 Desember *nggak mesti tanggal itu juga, sih* aku nyanyiin lagu:
Apa yang kuberikan untuk mama, untuk mama, tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga, untuk mama, tercinta
Hanya ini kunyanyikan senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama Y
Happy Mom’s Day, mami..
YYY
0 komentar:
Posting Komentar