Siapa yang nggak seneng kalau nemu cowok ganteng di seantero universitas? Lihat fotonya aja udah seneng banget! Apalagi kalau ketemu langsung. Nggak pernah sebelumnya aku nemuin cowok ganteng, nyenengin kayak dia. Aku dan dia – sebut saja Mas Ditya – bertemu di game di Facebook.
Beberapa hari lalu, aku dan dia berhubungan tanpa sengaja karena aku asal accept persetujuan yang ada di game itu. Aku dan dia mulai berhubungan walaupun hanya di dunia maya. Aku nggak tahu siapa dia dan bagaimana bentuknya dia. Tapi suatu hari aku penasaran dengannya dan mencarinya di kotak pencarian.
Kuketik namanya dan kutemukan dia dengan profil picture yang ganteng. Ia duduk dengan gagah, memakai kaca mata, dan pemandangan di belakangnya membuat penampilannya makin perfect. Dia makin nyenengin dengan senyum dan wajahnya yang baby-face.
Saking senangnya aku nemuin cowok ganteng macam Mas Ditya, aku selalu membuat tweets di twitter tentang dia dengan inisial ‘Mas Ganteng’. Adik sepupuku yang tinggal di luar kota penasaran dengan ‘Mas Ganteng’ yang selalu kubuatkan tweets. Kalau adik sepupuku aja penasaran, apalagi aku? Sampai sekarang ini aku masih belum pernah menemukan batang hidung wujud Mas Ditya. Aku sangat penasaran.
Sahabatku yang tahu kalau aku sedang suka dengan seseorang lewat game di Facebook juga bertanya- tanya dan penasaran tentang Mas Ditya. Kalau aku mau, aku bisa menyiarkan berita ini di televisi kampus dan radio kampus. Sayangnya, aku nggak punya keberanian untuk ngelakuin hal gila itu.
Hari ini adalah hari terakhir ujian, dan mulai besok hingga Hari Senin depan, aku dan teman- teman libur. Aku berniat untuk lama- lama di kampus karena lima hari ke depan kami belum tentu bisa bertemu.
Aku senang kalau sudah berhadapan dengan layar laptop. Ditambah dengan free hotspot yang disediakan pihak universitas untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa – yang nggak dibuat belajar juga.
Aku mulai mengecek akun bloggerku, setelah kupastikan aman, aku beralih ke twitter. Kubalas semua retweet dari teman- temanku dahulu, kemudian aku beranjak menuju Facebook.
Seorang temanku datang menghampiriku dan berkata, “Wajahmu ada siratan desperate, kenapa? Gara- gara ujian, ya?”
Spontan, aku mengambil cermin dari tasku dan melihat wajahku di refleksi cermin. Aku rasa temanku itu benar. Mataku aneh dan sorot pandanganku nggak biasa. Ada yang membuatku galau setelah mendengar statement temanku, tapi aku nggak yakin kenapa aku galau begini.
Aku berkutat lagi dengan Facebook. Kubalas semua wall-post dari teman- temanku, mengecek keadaan grupku, dan menunjukkan Mas Ditya pada Hannah.
“Han, lihat, deh! Ini dia pacarku,” seruku sambil menunjuk ke foto- foto milik Mas Ditya.
“Ih, iya, ganteng, Sar!” seru Hannah, “Tapi ada beberapa foto yang alay, deh!”
Aku mengangguk mengiyakan. Ya, nggak aku raguin kalau ada posenya yang membuatku berpikir dia sangat kemayu dan terbesit dalam pikiranku, dia alay!
“Eh, tapi dia ganteng, kan?” tanyaku memastikan.
Hannah mengangguk, “Kalu untuk ukuran di kampus ini, sih, dia emang ganteng, Sar.”
Aku nggak menggubris omongan Hannah, kalau kupikir, aku bakal down sama Mas Ditya. Dia perfect dengan apa adanya dia. Manis, asam, asin, pahit, semua aku bisa lihat darinya.
Perasaanku mulai nggak enak setelah ada pemberitahuan bahwa Mas Ditya mengirimiku permintaan game yang sering kami mainkan. Aku beralih menuju profilku dan membaca kiriman dari Mas Ditya.
Deg!
“Han,”panggilku.
Hannah yang sedang berkutat dengan ponselnya beralih padaku, “Iya, kenapa Sar?”
“Aku,” kataku lirih, “dipegat!”
“Hah?” seru Hannah kaget. Ia buru- buru melihat kiriman dari Mas Ditya yang kutunjukkan dan membungkam mulutnya dengan tangannya.
Rasanya lebih parah daripada kejatuhan kotoran blekok beberapa minggu lalu, hanya saja nggak berbau. Aku baca sekali lagi kiriman dari Mas Ditya dan kupastikan aku salah membaca.
Sialnya, mataku beres- beres aja dan isi kiriman itu adalah surat pegat yang ia luncurkan padaku. Aku menatap layar laptop dan mataku berair, antara menangis dan nggak menangis.
“Loh, Sar, kok kamu nangis, sih?” tanya Hannah.
“Aku baru mulai suka sama dia,” kataku, “kok aku bertepuk sebelah tangan?”
“Tapi itu cuman mainan, Sar,” kata Hannah mengingatkanku.
“Tapi dia ganteng, Han. Kapan lagi nemu cowok ganteng kayak dia di kampus ini? Jarang- jarang, tau,” ucapku lirih, pasrah.
“Tapi itu cuman mainan. Nggak pakek nangislah, Sar,” bujuk Hannah.
Aku menutup akun Facebookku dan membuka akun twitter. Sepuasnya aku memenuhi timeline dengan kegalauanku atas Mas Ditya. Aku meluapkan kekesalanku lewat kata- kata yang nggak berdosa. Tapi Hannah ada benarnya juga. Ini cuman di game aja! Lagian aku juga belum penah bertemu dengan Mas Ditya secara nyata. Hanya saja, kenapa rasanya seperti aku udah lama kenal dengannya?
Beberapa temanku meretweet quotes galauku. Bertanya apa yang terjadi padaku dan kenapa bisa begitu. Aku ingin menjawab rasa penasaran mereka, tapi jari- jariku berasa lelah untuk menceritakan kegalauanku.
Belum sempat aku membalas retweet mereka, aku buru- buru menutup akun twitterku dan meminjamkan laptopku pada Hannah. Aku muak dan sedih. Padahal ini cuman di game, tapi rasanya seneng banget bisa berhubungan walaupun hanya di dunia maya.
Yeah, walaupun di dunia nyata aku nggak berhubungan dengannya, bahkan aku belum pernah bertemu dengannya, tapi seenggaknya jangan pegat aku di dunia maya.
Rasanya malu- maluin. Baru beberapa hari lalu aku mengumbar rasa senangku karena udah tahu bagaimana rupanya Mas Ditya, walau lewat foto di Facebook. Dan sekarang, kami mengakhiri hubungan maya kami. Rasanya aku ingin berteriak di telinganya meluapkan kekecewaanku. Aha! Soundtrackku untuk hari ini: Kecewa – Bunga Citra Lestari.
Langit mulai mendung dan angin berhembus sangat kencang. Aku berpikir untuk hujan- hujan hari ini walaupun sakit perutku ini belum sembuh betul karena hujan- hujanan bersama mami kemarin. Aku harap hari ini akan hujan dan aku ingin air hujan turun tepat di ubun- ubun kepalaku. Melelehkan rasa kecewaku pada Mas Ditya karena berakhirnya hubungan ‘maya’ kami.
Windy menghampiriku dan berkata, “Sar, beli jajan, yuk!”
Aku dengan lesu menjawab, “Ayo, aku lagi nggak mood do nothing, nih.”
“Kamu kenapa?” tanya Windy penasaran, “Ketularan galaunya Husna, ya?”
Aku mencubit bahunya dengan pelan, “Enggaklah, Win.”
Hannah menjawab pertanyaan Windy yang sebenarnya nggak perlu dijwab karena aku sangat malas mendengarnya, “Eh, temenmu ini lagi galau gara- gara putus sama pacarnya yang ada di game!”
Husna mendekat dan mendengar sedikit percakapan kami kemudian bertanya karena penasaran, “Loh, Sarah kenapa, Han?”
“Putus sama pacar dunia mayanya,” ucap Hannah sambil ketawa- ketiwi.
“Loh, kamu kok ikutan galau, sih? Yaudah, sini- sini, kita galau bareng- bareng,” ucap Husna sambil memelukku.
“Loh, dia tuh ganteng. Ganteng banget! Aku nggak pernah nemuin cowok ganteng kayak dia lagi di kampus ini,” ucapku lirih.
Husna mengelus- elus pundakku dan berkata, “Dia bukan jodohmu kali, Sar.”
Aku langsung menimpali dengan sigap, “Kalaupun nggak berjodoh di dunia nyata, paling nggak dia nggak putusin aku di dunia maya, Na.”
Windy dan Hannah tertawa karena hal ini sebenernya kedengaran lucu dan aneh. Tapi gimana kalau aku bener- bener suka sama sosok Mas Ditya itu? Padahal aku hanya lihat wajahnya di foto.
Plakk!!
Aku menampar diriku dengan tinjuan maya. Aku harap aku segera sadar kalau itu hanya permainan dan terserah dia mau putusin aku atau balikan padaku. Tapi walau begitu, dari hati paling dalam, aku ingin bernyanyi bagian lagu dari ‘Forever and Always’nya Taylor Swift untuk Mas Ditya.
Back up. Baby, back up. Did you forget everything?
0 komentar:
Posting Komentar