Aku senang weekend ini aku habiskan waktu dengan sahabatku semasa SMA. Siang ini kami akan bertemu di kedai donat terkenal yang nggak perlu aku kasih tahu nama tempat itu – atau aku harus membayar royalti atasnya.
Aku membawa minuman dan makananku ke meja yang sudah ditunggui oleh Luna dan pacarnya, Krisna. Mereka sepertinya datang lebih awal, atau aku yang telat. Seenggaknya aku nggak telat banget karena Yesi dan Nila juga belum datang.
“Kalian udah nunggu lama?” tanyaku sambil duduk berhadapan dengan mereka.
“Nggak juga, kok,” ucap Luna, “eh, kalian belum kenalan, kan?”
Aku menggeleng dan tersenyum. Aku dan Krisna berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Sebelumnya aku memang udah dengar cerita banyak tentangnya dari Luna, dan mungkin sebaliknya.
Krisna salah satu taruna dari akademi polisi. Badannya tegap dan terlihat bijkasana. Akan lebih keren kalau dia memakai seragamnya sekarang. Posturnya seperti tubuh papa yang notabenenya adalah tentara, hanya saja Krisna masih muda dan papa sudah lanjut usia, tua.
“Loh, sayang, itu temen kamu, kan?” tanya Luna sambil menunjuk laki- laki yang berjalan menghampiri kami.
“Eh, iya!” serunya, “Darma!”
“Bro, kok ada disini?” tanya laki- laki yang berpostur tegap itu pada Krisna. Mereka saling jabat tangan, “Hai Luna!”
Luna tersenyum pada Darma, sepertinya Luna juga kenal, tapi Luna seperti nggak mengenalnya saat Darma menghampiri mereka. Daya ingatnya tentang orang- orang nggak pernah berubah sejak SMA!
“Biasa, weekend bareng Luna,” kata Krisna, “eh, duduk, deh. Sendirian aja?”
Darma duduk di sampingku, kursi yang masih kosong. “Nggak juga, kok.”
“Mau ketemuan, ya?” tanya Luna menggoda.
Aku hanya mendengar ucapan mereka dan tersenyum saat mereka tertawa. Aku nggak mudeng apa yang mereka bicarakan karena aku sibuk berkutat dengan novel yang kubaca. Seolah- olah, aku ada di perpustakaan sendirian, aku nggak peduli dengan yang lain kalau mereka nggak memberiku sinyal duluan.
“Eh, kenalin, dong, temenku SMA,” kata Luna sambil menyenggol tanganku.
Aku menengadah dan mendapati mataku dan Darma saling bertemu. Darma yang ramah menyodorkan tangannya dan berkata, “Darma. Kamu?”
Aku meraih tangan Darma, tersenyum, dan menjawab, “Sarah. Temen Krisna juga di akpol?”
Darma mengangguk. “Sekarang kuliah dimana? Bareng sama Luna juga?”
Aku melepas jabatan tangan kami yang kusadari terlama kami saling menggenggam. “Kampus biru dekat situ,” kataku sambil menunjuk ke arah barat daya.
“Aw aw aw, kampus biru,” komentar Krisna sambil tertawa- tawa.
Hanya segitu percakapan kami karena aku sengaja melanjutkan membaca buku lagi. Tapi aku nggak berkonsentrasi penuh karena terkadang aku juga mengikuti alur percakap mereka sedikit- sedikit.
Aku membuka handphoneku yang bergetar. Aku menghembuskan nafas kecewa. Luna yang melihat reaksiku langsung bertanya, “Kenapa, Sar?”
“Yesi sama Nila nggak jadi kesini. Ada jalan yang dialihkan. Kalau mereka ikut jalur itu, bakal lama sampai kesininya,” jawabku sambil meletakkan handphoneku di meja.
“Kita tunggu, kok, disini. Coba kamu telpon dia,” suruh Luna.
“Kamu aja, Lun. Kalau mereka jadi kesini, telpon aku, ya?” pintaku.
“Kamu mau kemana?” tanya Luna.
“Aku mau cari novel di atas,” ucapku singkat. Kuseruput minumanku hingga habis dan berpamitan dengan mereka.
“Kenapa buru- buru? Kita belum ngobrol banyak, nih,” ucap Darma.
Aku tersenyum dan berkata, “Next time. We will.”
Aku berjalan meninggalkan mereka menuju lantai tiga. Dari eskalator aku bisa melihat pengunjung yang cukup banyak yang mengerumuni bazar yang ada di lantai satu. Kalau itu bazar buku, aku pasti nggak akan capek- capek sampai di lantai tiga.
Aku memasuki toko buku dan langsung menuju buku di kelompok novel terjemahan. Ku perhatikan judul- judul buku itu. Semuanya terlihat menarik dan aku ingin memiliki mereka semua. Hanya saja, uang hasil siaranku nggak cukup untuk membeli mereka semua. Kupilih- pilih dan kutimbang- timbang buku mana yang akan ku beli.
Aku berjalan hingga di ujung rak. Kugenggam buku bercover gambar hati yang dipanah oleh anak panah Aphrodite, kisah Yunani lagi. Kubaca sinopsisnya dan kupastikan aku sudah menemukan buku yang kuinginkan.
Aku berjalan menuju rak bagian sastra. Tiba- tiba aku teringat Darma, teman Krisna tadi, saat aku membaca judul novel yang bercover pria dengan atribut polisi berdiri dengan tegap dan bijaksana.
Aku menutup mataku dan membatin dalam hati jika aku melihat Darma di pintu toko buku ini, aku akan menghabiskan seharian ini bersamanya. Aku tersenyum jahil dan membuka mataku.
Aku nggak sengaja menoleh ke arah pintu toko buku itu dan mendapati Darma ada disana. Mata kami saling bertemu lagi dalam kejauhan. Aku mengucek mataku, memastikan apakah ini fatamorgana atau bukan. Tapi aku melihat dia berjalan menuju ke arahku dan tersenyum.
“Hai Sarah,” sapanya.
Aku masih kaget dan bingung, tapi kujawab sapaannya, “Hai.”
“Merasa ada yang hilang?” tanya Darma.
Iya, kesadaranku hilang waktu kamu dateng. Plakk! Aku menampar wajahku dalam imajinasiku. Aku tersenyum kikuk dan belum ‘ngeh’ dengan apa yang Darma tanyakan.
“Aku rasa kamu nggak merasa ada yang hilang karena kamu masih disini sampai sekarang ini,” kata Darma. Ia mengeluarkan benda dari sakunya dan menunjukkan padaku.
“Oh My God!” seruku lalu menutup mulutku sendiri. Aku mengambil handphoneku dari tangan Darma dan berterimakasih padanya.
Aku pasti lupa membawanya saat pamitan tadi. Ya, terakhir aku meletakkannya di meja saat Yesi sms. Baik sekali Darma dengan nggak menjual handphoneku.
“Lain kali jangan ceroboh,” katanya mengingatkanku.
“Untuk sesaat, aku kira kamu bakal jual handphoneku,” kataku jujur.
Darma tertawa dan menjawab, “Honestly, untuk sesaat, aku juga mikir buat jual benda yang ditinggal pemiliknya ini.”
Kami berdua tertawa dan mengambil perhatian dari sebagian pengunjung toko buku. Hey, ini bukan perpustakaan! Seruku dalam hati.
Darma menemaniku memilih buku lagi. Ia menyarankan novel yang sudah kupunya di rumah dan berjejer rapi di rak bukuku. Belive or not, sebagian besar rak bukuku berisi novel daripada buku kuliah. Dan sebagian juga berisi buku dan novel yang berguna untuk keduanya.
“Kamu jurusan apa, sih? Novel yang kamu pilih itu, kalau nggak novel terjemahan, pasti novel bahasa inggris,” kata Darma penasaran.
“Sastra inggris,” jawabku sambil tersenyum.
Darma mengangguk- angguk, sepertinya rasa penasarannya terbayar setelah bertanya padaku. Kemudian kami melanjutkan mencari buku untuk refrensi kuliahku. Hanya saja buku yang kucari nggak ada, jadi aku memutuskan membeli buku psikologi terkenal untuk mami.
Membaca judul buku itu aku jadi ingin makan sup krim dan terbayang aku sedang makan di resto ‘Mbah Jenggot’ bersama Darma. Plakk! Aku menampar wajahku dengan imajinasiku lagi. Untuk berada di toko buku ini selama berjam- jam saja bersamanya itu udah sangat cukup.
Kuputuskan untuk membayar semua buku yang udah kubeli. Darma berniat membayar semua buku yang kubeli, tapi aku menepis tangannya dan berkata, “Kita baru pertama ketemu sekitar dua setengah jam yang lalu, nggak sopan kalau semua novel itu kamu yang bayar.”
“Jadi, apa harus dua setengah tahun lagi baru aku boleh bayarin semua novel yang kamu beli?” tanyanya menggoda.
“Dua setengah abad,” kataku tegas dan tertawa melihat ekspresi Darma, kemudian aku mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar semua novel yang kubeli.
“Terlalu lama sampai jadi tua bangka, dong!” serunya nggak percaya.
“Dalam dua setengah abad itu kamu bisa beli toko ini buat aku,” kataku sambil tertawa. Dia juga tertawa. Dan pelayan kasir juga tertawa.
Kami pun keluar dari toko buku dan berjalan nggak tahu kemana karena kami terlalu sibuk mengobrol tentang masalah apapun dan bercanda ini itu.
“Oh iya, katanya kamu kesini nggak sendirian?” tanyaku saat kami berhenti di depan kedai makanan jepang, favoritku.
“Memang enggak,” jawabnya singkat.
“Then?” tanyaku. Bola mataku menanyakan lebih banyak. Dengan siapa? Dimana dia atau mereka? Orang penting ataukah cuman kenalan biasa? Aku ingin tahu dan dia harus menunjukkannya. Kalau yang bersamanya adalah wanita muda, cantik, dan sedang duduk di meja dua kursi sendirian itu, aku akan segera pergi. Aku menduga wanita cantik itu karena mata Darma tersorot ke arahnya.
Darma menunjuk ke arah wanita itu. Dan benar saja! Hatiku terasa dihunus pedang samurai. “Ohh,” ucapku lemas dan beranjak ingin pergi.
“Kenapa Sarah?” tanya Darma mengetahui wajahku berubah pucat dan terlihat lemas, “Kamu sakit? Kamu belum makan, ya?”
Aku menggeleng pelan dan berpamitan.
Darma meraih tanganku dan berkata, “Makan dulu, yuk. Aku kenalin sama keluargaku yang ada disana.”
Apa!? Spontan darahku mengalir cepat menuju otak. Pipiku terasa berisi darah yang banyak dan panas. “Keluargamu?” tanyaku.
Darma mengangguk dan membawaku – menyeretku, lebih tepatnya – menuju meja dimana keluarganya sedang memilih makanan. Darma menyapa mereka dan mengenalkanku pada mereka. Aku tersenyum dan memberi salam pada mereka dan mereka sangat welcome padaku.
Aku salah sangka! Yang dimaksud Darma adalah tiga orang yang duduk di belakang wanita muda dan cantik itu. Parah saja aku udah parno duluan. Dan beruntung aku nggak jadi pulang duluan.
Adik Darma sepertinya masih kelas XI, tapi tindak tanduknya seperti anak kelas VI. Namanya Elin. Ia cantik dan manja, terlihat dari caranya menyapaku. Untuk ukuran anak SMA, ia terlihat lebih manja dan welcome. Nggak seperti anak SMA kebanyakan yang jaim dan malu- malu. Aku suka Elin dan keluarganya sangat baik.
Mama Darma menyuruhku menceritakan diriku dan dengan senang hati aku menjelaskan jati diriku dan menceritakan bahwa aku dan Darma baru saja bertemu sekitar tiga jam yang lalu. Keluarga Darma cukup kaget karena ternyata kami baru saja bertemu tapi kami terlihat sudah kenal selama tiga tahun.
Elin sangat narsis dan meminta Darma memotretnya bersamaku selama menunggu makanan datang. Banyak foto yang kami abadikan. Kebanyakan Elin memintaku berfoto dengannya, tapi nggak jarang juga ia menyuruhku foto bersama papa-mamanya dan dengan Darma juga. Di foto itu aku terlihat seperti adiknya Darma, bukan sebagai temannya. Kemudian Elin mengambil alih dan meminta mamanya memotretnya bersama aku dan Darma.
Saat makanan datang, nggak mengurangi potensi Elin untuk foto- foto lagi. Bahkan saat aku sedang kepanasan karena nasi yang kumakan belum kutiup, Elin memotretku dan hasilnya aku sangat aneh.
Selesai makan bersama ini rasanya nggak sopan kalau aku langsung pulang, tapi hari udah sore dan aku kangen dengan mami. Dengan berat hati aku dan Elin berpisah, tapi sebelumnya kami saling bertukar nomor handphone dan saling memberi alamat twitter.
Aku pamit dengan keluarga Darma, kami berpisah di depan kedai makanan jepang itu. “Hati- hati, Kak Sarah!” seru Elin. Ia tersenyum, tapi rasanya dia nggak rela.
Aku tersenyum ke arah mereka dan turun dengan eskalator. Aku rasa hari ini sangat menyenangkan. Walaupun aku cukup kecewa karena Yesi dan Nila nggak datang.
Aku senang karena aku membatin tentang Darma tadi saat di toko buku, kemudian kami bertemu. Ini magic! Mungkin ini karena panah Aphrodite! Aku tersenyum dan pulang. Berharap someday kami akan bertemu lagi.
YYY
0 komentar:
Posting Komentar