Sudah beberapa hari ini aku nggak bicara, walaupun hanya bercanda, dengan Alvin.setiap aku lewat, dia juga nggak menyapa. Padahal, biasanya dia langsung urakan kalau ketemu aku.
Aku agak gelisah. Perubahannya nggak wajar dan bikin aku oenasaran, apa yang terjadi sama dia? Kami sesekali saling berpandangan, kemudian saling mengacuhkan. Aku berpikir- pikir, apa ini salahku? Perilakunya nggak berubah sama semua orang, tapi hanya padaku. Aku sangat penasaran!
Pernah satu kali kuungkapan pada Windy. Rasanya di hatiku ini sesak sekali. Aku nggak terbiasa didiamkan seperti ini. Bukan hanya sehari, tapi udah seminggu ini. Windy berkata kalau dia akan bertanya pada Alvin tentang perubahan sikapnya padaku. Tapi aku kurang enak kalau Windy yang bertanya. Akan lebih baik kalau hal ini langsung aku yang menuju poinnya.
Dalam seminggu ini, baru kemarin aku bicara pada Alvin, itu saja hanya tentang mata kuliah. Aku diidamkan untuk mengajari teman- temanku mata kuliah writing. Dengan senang hati aku mengajari mereka, termasuk Alvin.
Tatapannya memang berbeda padaku, dan aku sadar, bukan hanya aku. Dia berubah bukan hanya padaku. Memang, sikapnya agak diam padaku, tapi cara dia memandang orang lain itu udah berbeda.
Aku lumayan lega kalau dia bersikap aneh bukan hanya padaku, tapi ini masih saja menjadi misteri yang membuatku penasaran. Rasanya aku ingin membongkar otaknya dan menemukan apa yang menjadi benda hitam yang membuatnya berbeda. Apa proses dewasa ataukah hanya pura- pura. No body knows.
Aku canggung kalau harus menyapanya duluan. Prinsipku ini memalukan dan memang berdasarkan atas asas malu. Aku nggak terbiasa menyapa orang lain sebelum mereka yang menyapaku, exception untuk teman- teman sesama jenis dan atau teman yang udah kuanggap kerabat dekatku sendiri.
Aku memasang headphone milik Windy dan mendengarkan lagu dari ponselku. Track “Everybody’s Changing” – Keane memulai lagu- lagu favoritku di playlist. Aku duduk di gazebo di samping gedung sambil menunggu hujan hingga turun nggak begitu deras. Walaupun hujan turun, matahari sedikit- sedikit muncul dari balik awan, menunjukkan sudah sekitar jam empat sore. Rasanya aku nggak ingin beranjak dari tempat dudukku ini.
Windy menawariku dan Hannah untuk membeli cemilan karena dia lapar. Sebenarnya aku juga ingin hujan- hujan, tapi pantatku terasa lengket di kursi gazebo ini dan nggak ingin beranjak kemana- mana. Aku minta maaf pada Windy karena aku benar- benar ingin ada di gazebo ini.
Nggak ada pilihan lain, akhirnya Hannah yang menemani Windy. Dijatuhi air hujan, mereka melaju menuju pusat jajanan dekat kampus, dan aku asyik- asyiknya duduk sambil mendengarkan lagu- lagu di playlistku.
Aku bersenandung pelan sambil menikmati suasana. Dingin, pasti. Seding, belum tentu. Aku hanya penasaran, dan rasa penasaranku ini sudah sampai ke ubun- ubun.
Aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan momen yang pas untuk bicara pada Alvin. Setiap ada Alvin, pasti gerombolannya nggak pernah lepas dan mereka seperti menempel kalau kemana- mana.
Baru saja aku berharap mereka berpisah untuk sementara waktu, kemudian Allah mengabulkan do’aku. Alvin berjalan menuju ke dalam gedung. Aku melihat langkahnya seperti berbelok saat melihatku. Maksudku, ia berencana duduk di gazebo, kemudian setelah melihatku, ia menuju ke dalam gedung.
Aku tersenyum saat kami berpandangan dan aku bertanya, “Mau kemana, Vin?”
Alvin kemudian berjalan mendekatiku. Ia memastikan, melihat ke kanan dan ke kiri, seolah- olah ia takut jika mendekatiku, ada anjing yang tiba- tiba siap sedia menggigit kakinya. “Kok kamu belum pulang?” tanyanya pelan.
“Aku lagi nunggu Windy sama Hannah, mereka lagi beli jajan. Kamu juga belum pulang, kenapa?” tanyaku dengan wajah penasaran yang kubuat- buat.
“Aku lagi nunggu yang lain, tadi abis dari makan, sekarang nggak tahu mereka kemana,” jawab Alvin, kemudian dia duduk di depanku, “aku tunggu disini, ya?”
Aku mengangguk, “He’em, duduk aja.”
Alvin mengeluarkan ponselnya dan berkutat dengan keypad, mengetikkan sesuatu di ponselnya, mencari kegiatan selain berbicara padaku. Sesekali aku tersadar kalau dia melirikku, tapi aku hanya diam.
Aku lihat hujannya kembali deras. Aku khawatir dengan Windi dan Hannah. Aku khawatir karena mereka nggak mengajakku hujan- hujanan bersama, tapi pantatku masih saja tetap menempel di bangku gazebo.
Aku melamun saat mendengarkan lagu ‘Forever And Always’. Tanpa sadar aku bersenandung pelan, tapi aku rasa Alvin bisa mendengar suaraku karena aku merasa ada orang yang sedang memandangiku.
“...and told me you loved me. Were you just kidding, cause it seems to me this thing is breaking down, we almost never speak. I don’t feel welcome anymore. Baby what happened, please tell me, cause one second it was perfect, now you halfway off the door. And I stare at the phone...”
“Kamu lagi ngomong sama aku, Sar?” tanya Alvin sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Atau kamu lagi nyanyi?”
Aku tersadar dari lamunanku dan melepas headphone. “Kenapa, Vin?” tanyaku.
“Kamu nyanyi, ya, barusan?” tanya Alvin.
Aku mengangguk sambil keheranan, kebingungan. Aku nggak sepenuhnya sadar kalau aku sedang bernyanyi, karena rasanya aku sedang terbawa suasana.
“Aku kira kamu lagi ngomong sama aku, mana pake bahasa inggris, aku jadi kaget,” ujarnya.
“Kamu harus terbiasa, kita kuliah di jurusan Sastra Inggris, kan?” tanyaku.
“Aku kira tadi kamu lagi ngomong sama aku,” ucapnya lirih.
“Back up, baby, back up. Did you forget everything?” kataku pada Alvin.
“Kamu nyanyi?” tanya Alvin memastikan.
“Aku bicara sama kamu,” jawabku, “tahu artinya, kan?”
“Iya, iya, kamu yang pinter. Aku enggak, aku nggak mudeng, sumpah!” ujar Alvin.
“Eh, nggak gitu, Vin,” kataku, “kamu nggak ngerti, deh!”
“Emang aku nggak ngerti!” seru Alvin. Nadanya agak marah, tapi seperti ditahan.
Aku diam sejenak, menatap Alvin yang sedang mengacuhkan pandangannya dariku. Aku berharap kalau ia marah ia cukup dengan beranjak dari tempat duduknya aja. Dan kalau nggak marah, ia tetap duduk disitu.
Aku menunggu satu menit ini dan dia nggak beranjak, hanya saja ia mengacuhkan aku. Dia nggak marah, tapi tatapannya nggak welcome padaku.
Aku menghirup udara banyak- banyak dan berkata dengan halus pada Alvin, “Sorry, tapi maksudku nggak kayak yang kamu pikirin.”
Alvin menatapku sejenak, kemudian berkutat dengan ponselnya. Hal ini membuatku semakin jengkel dan penasaran yang ada di ubun- ubunku ini ingin kuungkapkan.
“Kamu beda, Vin!” seruku, kemudian aku melanjutkan ucapanku dengan nada rendah setelah mendapat perhatiannya, “Kamu diemin aku. Aku nggak bisa. Bukannya apa- apa, tapi kita temen. Dan aku nggak bisa dan nggak biasa didiemin sama temen sendiri!”
Alvin hanya diam dan menatapku. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ada sesuatu yang menahannya. Dan terpaksa aku melakukan hal gila ini, semata- mata untuk melegakan rasa penasaranku.
Aku beranjak berdiri dari bangku gazebo, kuletakkan headphone Windy di atas meja dan melangkah keluar dari gazebo. Titik hujan pertama terasa dingin, kemudian kedua, ketiga, dan tak terhingga. Aku merasa kepalaku cepat sekali basah terkena air hujan.
“Kamu ngapain, Sar?” tanya Alvin dengan nada cukup khawatir.
“Kamu jawab pertanyaanku atau aku tetep berdiri disini terus!” seruku.
“Nggak usah kayak di film- film, deh, Sar!” seru Alvin.
Aku hanya diam dan menunggu Alvin yang nggak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku udah mulai menggigil kedinginan. Alvin pasti berpikir sebentar lagi aku akan roboh dan nggak kuat, kemudian aku akan duduk kembali di gazebo. Tapi aku harap dia nggak berpikir begitu atau ia salah besar! Aku tetap berdiri sementara air hujan tetap menimpa seluruh badanku.
“Bibirmu udah mau beku, buruan duduk lagi!” seru Alvin.
“Kamu emang nggak ngerti, deh!” seruku.
Alvin beranjak dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tanganku, tapi aku menahan diriku dan nggak beranjak sedikitpun dari tempat aku berpijak.
“Kamu pengen aku jawab apa?” tanya Alvin dengan nada pura- pura bodoh.
“Jawab sejujur- jujurmu. Kamu beda, nggak gila kayak biasanya. Kamu tuh diemin aku!” jawabku.
“Aku biasa aja kok,” kata Alvin, “aku udah jawab, buruan teduh disitu!”
“Kamu bohong, deh, Vin,” ucapku lirih.
Nggak lama gerombolan Alvin datang. Windy dan Hannah juga datang sambil ketawa- ketawa. Mereka terdiam saat melihatku hujan- hujanan dengan Alvin.
“Bro, ngapain disitu?” tanya Vito sambil menutupi wajahnya dari cipratan air hujan.
“Ih, iya, nih! Alvin sama Sarah kayak adegan di film- film,” komentar Jessy.
Satya melihat kami berdua yang bertamapang serius kemudian ia mengajak Alvin untuk segera pergi. Alvin meraih tasnya dan kemudian pergi bersama teman- temannya.
“Oke, aku anggap kamu marah sama aku. Itu alasannya kenapa kamu diemin aku seminggu ini,” ucapku pada Alvin.
Alvin berbalik dan berkata, “Aku nggak marah sama kamu. Aku bukan temenmu dan aku juga bukan musuhmu. Aku...”
Belum selesei Alvin berkata, Rama menarik Alvin dan mereka pergi. Windy dan Hannah segera menghampiriku dan mengajakku duduk di gazebo. Introgasi dimulai. Tanganku dingin dan aku nggak berhenti menggigil. Windy memberi jajanan hangat yang baru ia beli. Kugenggam jajan itu dan tanganku sedikit bisa merasakan sesuatu.
“Minum dulu, Sar,” kata Hannah yang menyodoriku teh hangat pesananku.
Setelah kuminum, aku baru cerita pada Windy dan Hannah. Cukup lega setelah aku menceritakan kejadian tadi pada mereka berdua.
Aku agak tenang dan Windy konsetrasi untuk memakan jajanan yang baru ia beli. Hannah masih tetap berkutat dengan ponselnya sambil memakan jajannya sedikit- sedikit.
“Eh, Sar, denger, nih!” seru Hannah.
“Apaan, Han?” tanya Windy dan aku bersamaan.
“Status BBM Alvin!” seru Hannah.
“Eh, buruan baca!” seru Windy.
“Seneng deh liat kamu hujan- hujanan kayak gitu, tapi kasian,” ucap Hannah membaca status BBM Alvin.
“Kok tega, ya?” tanyaku lirih.
“Iiih, rasanya pengen aku tendang!” seru Windy sambil memakan jajanan dengan ababil.
Aku dan Hannah tertawa melihat Windy. Aku berpikir sejenak, ini lebih baik dari kemarin. Aku udah mengungkapkan apa yang menjadi penyakit di ubun- ubunku. Walaupun aku nggak tahu apa jawaban pastinya, tapi ini tetap melegakan. J
ÛÛÛ
2 komentar:
wah alvin pasti salah makan sesuatu deh --" haha
semoga Alvin nggak pernah tau haha itu lebih baik yak
Posting Komentar