Sabtu, 31 Maret 2012

Cerita Kampus-Kita Butuh Belajar

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Maret 31, 2012
Pukul tujuh kurang lima menit. Aku sudah siap dengan diriku dan mentalku untuk mengajar malam ini. Setiap lima hari dalam lima malam aku dipekerjakan oleh tetanggaku untuk mengajar anaknya karena istrinya sedang mengikuti sekolah lagi di luar kota, jadi jarang sekali setiap hari di rumah dan akhirnya aku dimintai tolong untuk menggantikan peran istrinya hanya untuk mengajar anaknya.
Aku sangat suka sekali mengajar. Apalagi bahasa inggris, aku bisa sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui alias sekalian belajar juga. Tapi, karena anak tetanggaku itu masih berada di bangku SD, aku diminta untuk mengajar semua mata pelajaran.
Awal- awal aku mengajar, aku agak ragu pada kemampuanku, apalagi untuk mengajar matematika. Dulu saja aku sangat bermasalah dengan matematika, aku nggak yakin bisa membantu orang lain untuk menyelesaikan soal matematika. Tapi, untung saja, pelajaran matematika SD masih sangat dasar dan sederhana, sekarang aku malah jadi suka dengan matematika, sampai- sampai aku berpikir kenapa aku nggak pintar matematika dari dulu, ya? Haha.
Namanya Vatria, ia biasa dipanggil Vava. Anak pertama dari dua bersaudara dengan wajah dominan mirip papanya itu sedang berada di bangku kelas lima. Ia suka menyanyi dan menari. Kadang- kadang, jadwal menyanyi dan menarinya itu random sekali. Jam lima pagi, matahari belum muncul, dari tembok sebelah kamarku sudah ada suara cempreng khas anak kecil yang selalu nyanyi lagunya girlband Indonesia yang sedang naik daun sekarang ini. Belum lagi nanti kalau sudah pulang sekolah, Vava selalu menjejalkan headphone di telinganya, hapenya ia kantongi, dan ia menyanyi- nyanyi di taman depan rumahku sambil bergaya seperti sedang di video klip.
“Tuh, kan, imajinasinya mulai lagi,” ujar mami jika mami memergoki Vava sedang bernyanyi- nyanyi bak anggota girlband itu sendiri.
Aku menarik nafas dalam- dalam agar menyiap-sediakan mentalku. Vava bukan anak perempuan yang biasa kutangani jika les. Vava sangat sulit dan moody. Saat aku berjalan menuju pintu rumah Vava, aku mendengar suara tangisan anak kecil dari dalam rumah. Batinku langsung down dan aku jadi nggak bersemangat mengajar. Pasti akan ada drama lagi.
Seperti yang lalu- lalu, selalu ada drama setiap sebelum belajar. Drama pertama yang kutonton adalah saat Vava benar- benar nggak mau belajar dan malah mengganggu adiknya, alhasil selama satu jam kami sama sekali nggak mengadakan kegiatan belajar-mengajar. Drama kedua itu saat Adik Vava, Dean, gantian nggak mau belajar dan malah mengganggu Vava sampai Vava menangis. Dua kejadian itu memang nggak terjadi berurutan, tapi selama seminggu, bisa dua kali aku jadi batal mengajar, atau bisa dibilang terkacaukan.
Drama yang paling parah itu saat Vava benar- benar kangen pada mamanya. Ia sama sekali nggak mau belajar. Sudah dibujuk olehku, oleh eyangnya, bahkan oleh pembantunya, Vava tetap merajuk dan nggak mau ngapa- ngapain. Disaat aku butuh papanya untuk membujuknya, ternyata papanya sedang ada tugas juga di kantor dan selalu lembur tiap malam. Aku pikir Vava juga kurang mendapat perhatian dari papanya. Keadaan yang buruk menjadi diperkeruh oleh Dean yang selalu mengejek- ejek Vava. Dibilang Vava manjalah, Vava cengenglah, apalah, dan itu membuat Vava merajuk menggila dan eyangnya memutuskan untuk menyuruhku pulang saja. Gaji empat ratus ribu perbulan mungkin nggak cukup untuk membiayai cideraku akibat ngamuknya Vava, jadi cari aman saja dan aku pulang.
Kalau diingat- ingat, ada juga drama yang konyol, tapi ini juga mempengaruhi belajarnya Vava. Saat itu kami sedang belajar. Aku benar- benar merasa senang ketika Vava mau belajar dan ia mengerti apa yang kuajarkan. Tapi, ketika detik- detik hampir selesai belajar, tiba- tiba moodnya berubah dan merajuk lagi. Awalnya ia nggak mau menuliskan sesuatu, kemudian nggak mau mendengarkanku lagi, saat kutanya ia malah diam. Eyang dan pembantunya juga membujuk Vava untuk bicara apa yang Vava mau, tapi Vava tetap memasang pandangan sadis ke semua arah, dengan mata merah, dan ia tetap diam. Seperti biasa, Dean malam memparah suasa hati Vava yang akhirnya menjadi tambah marah dan menangis sambil memukul- mukuli Dean. Akhirnya aku disuruh pulang lagi oleh eyangnya dan sehari berikutnya aku diberitahu pembantunya sebab Vava merajuk adalah ia ingin papanya membelikan jajan untuknya. Benar- benar, satu titik mempengaruhi semua bidang.
Aku sudah mengeluh di depan pintu ketika akan mengetuknya. Setiap ketukan kusuguhkan do’a untuk diperlancar belajar malam ini, walau kenyataannya sudah ada suara korban yang menangis dari dalam rumah yang artinya malam ini nggak baik- baik saja.
Aku menunggu seseorang membukakan pintu dan nggak lama kemudian pembantunya membukakan pintu. Aku tersenyum padanya, mengucapkan terima kasih, kemudian masuk ke ruang tengah.
Aku mendapati Vava sedang menangis di sofa sambil meringsukkan badannya. Aku mendekatinya dan bertanya, “Vava, kamu kenapa? Kok menangis?”
Bukannya Vava yang menjawab, tapi malah pembantunya, “Ini, mbak, abis bertengkar sama Dean.”
“Kamu kenapa lagi bertengkar sama Dean?” tanyaku pada Vava. Mengetahui nggak mendapat respon, aku beralih kepada Dean yang malah ketawa- ketiwi di depan televisi, “Dean, mbak Vava kamu apakan?”
“Nggak aku apa- apain kok,” jawabnya tanpa dosa.
Aku ingin menjedorkan pintu ke kepalaku atau kebalikannya juga boleh. Bertanya dalam hati kenapa anak kecil bisa setanpa-dosa begini. Kemudian aku bertanya lagi, “Terus, kenapa mbak Vava jadi nangis begini? Kata embaknya kamu berantem sama mbak Vava.”
“Ooh, iya, aku lupa. Tadi aku rebutan air putih sama mbak Vava. Aku tadi abis makan jadi haus, eh, malah mbak Vava nggak bagi aku air putihnya. Air putihnya dihabisin sama dia. Yaudah, aku pukul aja kepalanya pas dia lagi minum, trus dia bales pukul aku tapi nggak kena,” ujarnya panjang lebar dan tetap satu, polos dan tanpa dosa.
Aku menepuk jidatku, sebelum aku membalas ujaran Dean, Vava dengan terisak- isak membalas dengan kasar, “Sakit, tahu! Coba, dek, kalau kamu dibegitukan, pasti kamu bakal marah, kan?!”
“Eh, sudah, sudah,” kataku melerai mereka yang mungkin akan bertengkar lagi. Pandanganku berpindah pada embaknya yang lagi duduk di samping Dean dan bertanya, “Kok nggak diambilkan dua gelas aja, mbak?”
“Biasanya satu gelas aja nggak abis kok, mbak, nggak tahunya mungkin mereka lagi pada kehausan,” jawabnya.
Aku mengangguk- angguk menelaah masalah. Hampir lima menit sudah aku menenangkan Vava dan membujuknya untuk belajar. Anehnya, tapi syukurlah, ia mau nurut padaku dan kugiring Vava ke kamarnya untuk belajar di kamar.
“Sudah oke?” tanyaku.
Ia mengangguk, kemudian menggeleng.
“Loh? Kok gitu, Va?” tanyaku bingung.
Vava hanya diam di tepi ranjang. Aku menyiapkan meja belajarnya selagi Vava berdiam diri agar tenang. Setelah semua beres, aku bertanya apakah ia ada tugas atau ulangan besok.
Vava menggeleng. Sama sekali Vava tidak berucap. Dengan sigap aku mengambil buku catatan murid yang ada di tas Vava. Aku sangat lega saat menemukan besok Vava tidak ada tugas atau ulangan. Artinya, belajar malam ini bisa lebih leluasa. Vava mau merajuk atau apalah, yang penting nggak ada tugas atau ulangan yang menjadi beban untuk besok dan yang terpenting aku bisa pulang tepat jam delapan untuk belajar juga.
Saat aku mengeluarkan isi tas Vava dan mengajaknya untuk menata jadwal, Vava berkata, “Mbak, aku besok ada tes praktek.”
“Hah!?” tanyaku setengah high-pitch. Oh my God, artinya aku nggak boleh makan gaji buta ini!
“Aku disuruh maju sama bu guru buat nerangin bagian gimana tanah bumi terbentuk,” katanya lemas.
Aku tersenyum padanya dan mengajaknya duduk di depan meja belajar. “Ya sudah, ada mbak disini, kan, buat bantuin Vava.”
Aku harap setiap kata- kataku tadi membuat Vava agak tenang. Dan benar saja, saking tenangnya Vava akhirnya ia mengantuk dan nggak mau belajar! Ya Tuhan, demi apa, ya??!
Kemudian aku membujuk- bujuknya. Vava tetap tidak mau belajar. Aku tanya apa maunya dia, dia menjawab dengan sandi dari tangan yang membentuk kata dan kalimat yang sering kami lakukan. Vava memberi sandi, “Aku maunya main.”
Aku cukup kaget dan bertanya, “Kok main? Kalo malam jatahnya belajar,” kataku.
Vava menggeleng. Aku mencoba membujuk dengan segala cara dan Vava malah memberi sandi, “Aku males.”
Aku benar- benar merasa sudah makan gaji buta selama ini. Melihat sandi “aku males” membuat mataku keriput dan ingin menjejalkan hati ayam di kerongkonganku. Rasanya gonduk setengah mati, seperti ada apel yang nyangkut di tenggorokanku.
“Ya sudah,” kataku putus asa tapi mantap, seolah aku berkata bahwa aku nggak tahan lagi dengan sikapmu. Aku sungguh belum perfect untuk menangani anak yang susah belajar. Aku keluar dari kamar Vava dan pamit pada eyang.
Eyang bertanya padaku saat aku akan pulang, “Kok cepat amat, mbak, belajarnya?”
Aku menjawab seadanya, “Vava mengantuk, eyang, mungkin krcapekan. Vava juga bad mood sekali habis berantem dengan Dean.”
“Oohh, anak itulah, susah sekali, keh, belajarnya. Biar, keh, dia tahu rasa kalau papanya tahu,” komentar eyang dengan logat kalimantannya.
“Ya sudah eyang, saya pamit dulu, assalamu’alaikum,” sapaku sesopan mungkin, kemudian aku pulang setelah mendengar balasan salam dari eyang.
§§§
Hari ini aku pulang awal dan berencana mengajak Vava ke sebuah restoran junkfood kesukaanku dan pastinya disukai anak- anak kecil seperti Vava juga.
Sangat beda dengan cara mengajak Vava belajar, ia kuajak pergi dengan senang dan sambil nyanyi- nyanyi. Sampai di restoran siap saji ini Vava langsung mengajakku untuk pesan makanan. Aku membiarkan Vava memesan apa yang ia mau.
Aku memilih tempat duduk dekat jendela dengan pemandangan jalan raya di luarnya. Sinar matahari sore memantul dari kendaraan- kendaraan yang lewat membuatku untuk memalingkan pandangan dari luar menuju arah Vava yang sedang menikmati es krimnya.
“Enak?” tanyaku.
Vava mengangguk. “Makasih, ya, mbak,” ujarnya. Semenyebalkan apapun Vava saat belajar, ia tidak lepas dari anak yang tahu terima kasih dan membalas kebaikan orang dengan kebaikan.
Aku mengangguk membalas ujaran Vava.
Vava bertanya padaku dan membuatku sangat fokus padanya, “Mbak tadi malam marah, ya?”
Aku terdiam sejenak. Apa yang harus kukatakan? Kalau kujawab enggak, aku munafik dan membohongi diriku sendiri. Kalau kujawab iya, apa Vava bakal marah disini ya? Mending jika ia marah, kalau sampai ia nggak mau belajar lagi, bagaimana!!??
“Mbak?” tanya Vava menunggu jawabanku.
Aku menarik nafas dan memutuskan untuk bilang, “Iya, mbak marah.”
“Tapi kok mbak yang marah? Kan, yang butuh belajar aku,” kata Vava dengan keenggakmengertiannya sebagai anak kecil.
Aku menari kursiku lebih maju dan melipat tanganku di atas meja, kufokuskan pandanganku ke Vava dan menjelaskan apa yang ingin kujelaskan. “Va, semua orang harus belajar. Semua orang butuh belajar. Mbak Sarah selalu ada setiap jam tujuh malam di rumah Vava untuk ngajarin Vava. Mbak Sarah sudah dimintai tolong sama papa dan mamanya Vava, jadi mbak Sarah punya tanggung jawab penuh juga dalam pendidikannya Vava sekarang ini.
“Mbak marah saat Vava nggak mau belajar. Nggak hanya marah, tapi mbak juga sedih. Mbak merasa menghancurkan kepercayaan orangtua Vava kalau Vava nggak mau belajar. Coba Vava bayangin kalau posisi Vava ada di mereka, orang- orang yang tinggal di jalanan seperti yang ada di luar sana. Mereka ngamen, minta- minta, untuk apa? Untuk menyambung hidup. Mereka mempertaruhkan waktu belajar mereka di sekolah untuk mencari uang. Lihat diri Vava, Vava punya apa yang nggak mereka punya. Kebahagian setiap orang itu bukan bermain, tapi mendapat ilmu. Bermain itu boleh, tapi jangan lupa tugas kita sebagai anak. Kita harus belajar. Buat bangga mama dan papa. Mereka juga sudah berkorban banyak, loh, buat Vava. Tahu nggak uang berjuta- jutanya mama dan papa itu habis untuk apa?”
Vava menggeleng, tatapannya yang dari tadi diam mendengar ceramahku menyiratkan ia butuh jawabanku.
“Hanya untuk biaya dan kelengkapan pendidikan Vava, juga Dean,” kataku, “Jadi, apa Vava masih mau nggak belajar lagi dan milih untuk jadi orang seperti yang ada di luar sana?”
Vava hanya diam. Ia diam sambil memakan es krimnya. Aku tahu suatu saat aku akan melakukan ini. Aku hanya ingin Vava tahu bahwa pendidikan yang sudah ia dapat selama ini nggak pernah tersentuh oleh anak- anak jalanan disana. Sehingga Vava bisa membuat perbandingan tentang kehidupan dan pentingnya belajar, juga mensyukuri nikmat.
Berakhirlah sudah sore ini dengan ceramah sambil jengjeng di kedai junkfood. Aku harap ada nilai- nilai moral yang bisa Vava tangkap.
Hari menjelang maghrib dan kamipun pulang. Saat aku menurunkan Vava dari motorku, Vava berterimakasih lagi padaku. Sebelum Vava beranjak masuk ke rumahnya, aku berkata, “Va, hari ini belajarnya sama Mbak Sarah libur dulu, tapi kalau hari ini Vava ada PR, dateng aja ke rumah Mbak Sarah.”
Vava manjawab sambil memasuki rumah, “Iya mbak, makasih, ya.”
§§§
Malam yang nyaman. Aku merasa bebas seperti Squidward yang berjarak jauh dari Sponegbob. Aku bisa leluasa belajar untuk besok. Membaca catatan- catatanku, membaca modul dari kampus, atau apalah yang disebut belajar itu. Agar lebih nyaman, kujejalkan headphone di telingaku dengan alunan musik klasik Beethoven, Franz Schubert, dan Mozart.
Kulirik jam dan rasanya sudah satu jam sejak jam tujuh tadi aku belajar. Aku benar- benar bisa memanjakan diriku malam ini. Tapi, aku kepikiran lagi oleh Vava. Mungkin libur les hari ini bisa untuk menenangkan pikirannya yang tadi sore kuceramahi. Aku harap ia tetap belajar entah dengan eyang atau pembantunya. Tiba- tiba, seseorang memasuki kamarku dan panjang umur! Baru saja aku memikirkan Vava, dia sudah muncul dengan berteriak mencoba mengagetkanku dari pintu, “Voillaaa!!”
Wajahnya nampak senang. Ia duduk di sampingku dan menyodorkanku buku tulis dan modul workbook. “Bahasa Inggris,” katanya.
Aku agak terdiam sebentar, menelaah setiap kejadian, kemudian tersenyum. Sambil merebut bukunya, aku berkata, “Oke aja! Are you ready?”
Ready!” serunya.
Yaa, at least, malam ini membuka tabir pendirian Vava. Menyadarkan Vava untuk tetap belajar selayaknya tugasnya sebagai seorang anak. Walaupun nggak menutup kemungkinan hal ini berjangka pendek bagi Vava yang masih anak kecil, tapi jika aku bisa mendidiknya sejak sekarang, hal ini akan menjadi jangka lama.
§§§

2 komentar:

shafaraihana mengatakan...

wow.. terus berkarya mbak.. ^^
mampir setelah liat link dari wallnya si donnie menyot afterlife

nupp_niput mengatakan...

wow, thank for apreciating my story! :) whoever you are, thanks a lot

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review