Berbicara tentang kematian. Kematian bukan suatu akhir dari semua cerita. Ya, tapi kebanyakan semua cerita berakhir sedih dengan adanya kematian – untuk orang yang ditinggalkan. Lalu, bagaimana dengan orang yang sedang mati?
Aku seakan siap pergi dan sangat dekat dengan kematian. Aku bahkan sudah tidak bisa merasakan bagaimana itu sedih, ataupun sakit. Dengan bekal yang belum tentu cukup, aku seolah sanggup melewati kematian.
Berbicara mengenai dimana seseorang akan mati. Aku dalam senja sore ini hanya menatap langit orange dan nila, berharap bukan jalan raya tempat nyawaku diambil, bukan juga ditempat kotor dan kumuh. Ada sebuah tempat yang ingin kujadikan dimana aku nantinya aku mati. Tempat itu adalah tempat dimana aku dilahirkan. Paling tidak, aku tidak akan meninggal di ruang bersalin rumah sakit, hanya di rumah sakitnya.
Berbicara tentang bagaimana seseorang itu mati. Aku mengkhayalkan banyak cara untuk mati. Tapi, tidak untuk dengan cara bunuh diri atau dibunuh orang lain. Aku ingin mati dengan cara yang alami. Cara yang paling terhormat. Bukan karena kecelakaan, bukan juga karena wabah penyakit, serta bukan karena diguna- guna oleh orang lain. Aku ingin mati karena sudah saatnya aku mati, dengan cara alami, dengan keadaan yang baik dan bersih.
Aku seolah berani meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawaku, padahal dalam hati kecilku, aku belum pernah sanggup untuk itu. Aku hanya seolah- olah akan mati dan mempersiapkannya dengan baik.
Aku sudah menyiapkan apa saja yang kutinggalkan untuk keluarga dan teman- temanku. Sebuah dana investasi dan uang tabungan, juga beberapa benda kecil untuk membuat mereka ingat padaku kelak.
Aku menyayangi mereka, sungguh menyayangi mereka. Aku tidak akan sanggup untuk meninggalkan mereka. Tapi, aku lebih tidak sanggup jika aku yang ditinggalkan. Aku berbicara maut seolah aku sedang membayar tiket masuk ke gerbangnya. Melihat ke arah belakang dan menemukan mereka melambai dengan sedih padaku. Aku akan lebih tidak sanggup jika aku ada di posisi mereka.
Kematian adalah sebuah rumah damai yang – aku harap – lebih nyaman dari rumah yang disini. Kematian itu lebih cepat daripada tidur dan akan membawaku ke mimpi- mimpiku tanpa harus bangun.
Sedikitpun aku tidak bergetar saat membicarakan kematian yang kuinginkan. Hal ini tidak semenakutkan apa yang banyak orang utarakan. Dan aku mencoba untuk tidak menggentarkan hatiku. Kematian akan membuatku lebih dekat pada Tuhan.
Siksa dalam kematian. Alkitab berbicara tentang sakitnya nyawa itu dicabut. Kubayangkan jika hal itu seperti mengambil jantungmu sendiri dengan tanganmu. Terbesit dan selalu mengganjal dalam otakku jika berbicara tentang kematian, yaitu ketakutan dalam siksa kematian. Aku menenangkan diriku dengan mensugesti bahwa siksa kematian adalah aku hanya sendirian, tanpa teman maupun keluargaku.
Lambat laun kematian berpusara di otakku dan memilih untuk mengurungkan keinginanku untuk mati. Jika aku meminta banyak hal tentang kematian, kematian juga meminta banyak hal padaku.
Aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Aku menjawab dengan diam sebentar, “Untuk kehidupan selanjutnya.”
Aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Aku berpikir ada yang salah dengan alasanku untuk mati, lalu aku menjawab dengan jawaban lain, “Untuk bertemu Tuhanku.”
Sekali lagi aku ditanya oleh kematian, “Apa alasanmu untuk mati?”
Nadanya hanya datar, tapi aku takut dan mengganti jawabanku lagi, “Untuk menemukan tempat yang abadi.”
Kematian kemudian berjalan menjauhiku dan aku segera memanggilnya kembali. Ia berhenti dan berbalik padaku tanpa mendekatiku. Aku memilih mendekatinya yang berada beberapa senti di dalam gerbang maut.
“Jika kau melewati gerbang ini, kau tidak akan kembali,” ujarnya.
Aku berhenti dan sejenak berpikir. Berpikir kenapa aku harus berhenti. Maut hanya beberapa senti di depan mataku dan aku berhenti untuk berpikir lagi.
“Ini yang kuinginkan, apalagi?” tanyaku pada kematian.
“Kau akan tersiksa. Lahir, batin, jasmani, dan rohanimu,” ujarnya.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Mataku menyiratkan aku juga tidak ingin mati secepat ini.
“Kau ingin mati karena kau putus asa akan sesuatu hal, dan maut hari ini bukan takdirmu,” kata kematian.
Putus asa.
Putus asa?
Putus asa!
Dari mana ia tahu?
“Maut hari ini bukan takdirmu jika kau punya sebuah keputus-asaan. Maut bukan jalan keluar dari masalahmu,” ujar kematian lagi.
“Tapi setiap orang berhak untuk memilih kematiannya,” aku menimpali.
“Dan kau akan menyesal dalam kematian karena tidak memilih untuk menyelesai-kan masalahmu dan hidup dalam keputus-asaanmu,”
Aku menatap kematian. Aku menyerap semua perkataan kematian. Ia benar. Ia benar dan aku salah. Aku bodoh jika maut ini kuambil hari ini.
Kematian seakan mundur menjauhiku. Kakiku tidak lagi sedekat dengan gerbang maut. Kematian hanya berdiri di belakang gerbang maut.
Kematian memilih meninggalkanku, aku pikir, tapi setelah aku menundukkan kepalaku, aku mendapati kakiku yang melangkah mundur menjauhi kematian dan gerbang maut.
Aku meninggalkan kematian dan memilih untuk hidup lagi.
Aku hidup lagi dengan keputus-asaanku. Lagi- lagi aku terjebak dalam keputus-asaanku.
***
0 komentar:
Posting Komentar