Selasa, 26 Juni 2012

Cerita Kampus - Ibu Menangis

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Juni 26, 2012

Aku berjalan di belakang ibuku sesampainya turun dari mobil. Aku melambaikan tangan kepada ayah dan kakakku yang kemudian mereka melesat menuju sekolah kakakku, kemudian kantor ayah.
Ibu tidak lagi menggandeng tanganku saat masuk ke sekolah. Selain karena aku sudah kelas IV, aku juga malu jika teman- teman mengejekku karena ibuku adalah guruku. Inilah sebagian kecil resiko jika punya ibu yang tidak lain tidak bukan juga guru di sekolah. Tapi aku bersyukur karena ibuku mengajar kelas I sampai VI A, sedangkan aku kelas IV D.
Banyak orang mengira bahwa aku bisa ranking tiga besar di kelas karena dibantu oleh ibuku dengan cara curang. Menurutku, itu penghakiman yang tidak adil karena sama sekali ibuku tidak pernah mengajarkanku perbuatan curang. Selain harus menjaga nama baik ibu dan reputasi, aku harus menjaga nama baikku sendiri karena aku juga tidak mau dicap sebagai anak curang! Dan aku pikir, mereka hanya orang awam yang tidak mau berusaha menjadi pintar jika pekerjaan mereka hanya menggunjingkanku sebagai anak yang curang.
“Selamat pagi, Bu Olive,” sapa Kana, teman sebangkuku, kemudian ia menyapaku, “halo Yasmin!”
Ibuku hanya tersenyum dan mengelus pipinya. Ibu selalu melakukan hal itu padaku dan kakakku juga pada teman- teman kami. Tanpa ada maksud, tetapi orang lain melihat itu seperti menganak-emaskan.
“Halo,” sapaku, “sudah buat tugasnya?”
Ibuku berlalu menuju ruang guru saat aku menggandeng tangan Kana dan berjalan menuju kelas. Kana memperhatikan jalan ibuku sampai agak jauh dan menjawab, “Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan ke kamu. Kalau tidak salah nomor 11, bagiku itu rumit.”
“Aaah, iya, iya, aku tahu. Soal nomor 11 memang sulit!” seruku sambil menepuk jidat lumayan keras.
Tiba- tiba, sebelum Kana merespon aksiku, suara sombong yang khas terdengar dari belakang kami, menimpali ucapanku, “Aduuh, sulit, ya? Kan, bisa tanya mama. Atau, bisa aja dibuatin sama mamanya!”
“Mama, mama, eh, ibu, ibu, bikinin PR-ku, dong, ibu kan guru di sekolah, juga guru di rumah,” seru seorang lagi yang menirukan gayaku berbicara.
Aku hanya menghela nafas dan mengajak Kana berlalu. Biasanya, dalam adegan seperti ini aku sebagai pihak yang disakiti akan merespon dengan serangan pukulan di wajah lawan, tapi nyatanya Kanalah yang sudah siap untuk menendang Luisa dan Putri.
“Kenapa dia selalu berpikiran jelek tentang kamu?!” seru Kana sambil menghentakkan kaki cukup keras karena jengkel.
“Kata ibuku, mereka cuman nggak tahu gimana mau bergaul sama anak seorang guru, makanya ibu makasih banget sama kamu, sama temen- temen sekelas yang mau temenan sama aku,” ucapku sambil mengelus tasnya untuk menenangkannya.
Kana tersenyum mendengar pujianku, ia kemudian bernafas lega, dan kami masuk ke kelas untuk siap belajar.
???
“Belajar bareng, yuk, aku mau sukses buat ujian akhir besok!” seru Surya saat kami sedang makan siang di dalam kelas.
“Iya, aku juga setuju!” seru Huda, “Aku masih kurang di pelajaran Bahasa Inggris.”
“Kita belajar sama mamanya Yasmin gimana?” tanya Rena memberi usul.
Secara refleks, aku menyilangkan tanganku sambil mencoba menelan makanan yang ada di mulutku.
“Kenapa?!” protes teman- temanku.
Setelah cukup susah menelan tanpa mengunyah, aku menjelaskan alasanku panjang lebar. Sedikit perdebatan antara jangan memikirkan apa kata orang dengan kebutuhan kami sebagai pelajar.
“Kita bisa minta Bu Tyas buat kelas tambahan,” saranku.
“Tapi bosan!” seru Jeffri, “Kata kakakku yang pernah diajar sama Bu Olive, dia sama temen- temennya langsung mengerti. Masa’ sih cuman karena omongan orang, kita jadi nggak boleh les sama Bu Olive?”
Aku diam dan berpikir sejenak, apa yang harus dan tidak harus kulakukan rasanya seperti beda tipis. Aku menghela nafas panjang dan berkata, “Aku coba diskusi dengan Ibuku dulu, ya?”
“Yes!!” seru teman- temanku yang lain dengan gembira.
“Tapi tolong, jangan hanya dari kelas kita, ya, maksudku supaya tidak membuat orang- orang lebih benci atau iri padaku,” kataku memotong kegembiraan mereka.
Mereka mengacungkan jempol dan melanjutkan makan siang dengan obrolan- obrolan ringan seputar kartun yang ditonton kemarin sore atau komik yang baru saja dibeli.
???
Pagi berikutnya, aku sudah ditodong oleh teman- temanku mengenai keputusan untuk belajar bersama pra ujian akhir sekolah.
“Maaf, ya, aku sudah berusaha meyakinkan ibuku. Tadi malam kami juga diskusi bersama ayah dan kakak. Dan...,” aku sengaja memotong perkataanku.
“Dan?” mereka mendekatkan wajah mereka ke wajahku dan ekspresi penasaran mereka sangat alami.
“Dan,” kataku melambat, “ibuku mau.”
Mereka diam sejenak dan kemudian saling pandang. Kana berkata, “Bu Olive mau.”
Serentak teman- temanku berteriak senang, mereka berjingkrak- jingkrak, dan melompat sambil berpelukan bersama.
“Oke, setelah ini aku akan kasih tahu teman- teman dari kelas lain!” seru Jeffri selaku ketua kelas.
“Dan juga, ibuku minta untuk bukan hanya pelajarannya saja, tapi juga yang lain,” kataku.
“Itu bisa diatur,” jawab Kana sambil mengelus punggungku.
Mulai dari hari ini kami belajar tekun untuk ujian. Hari besok ibu mulai memberi tambahan pelajaran untuk kami. Rupanya Jeffri membawa cukup banyak orang dari kelas lain, itu membuat kami lebih semangat belajar.
Berita tentang tambahan pelajaran sampai ke telinga Luisa dan Putri, seperti biasa, mereka menghardik dan menghakimiku dengan alasan yang sama, dan bahkan lebih kejam.
Putri berseru, “Belajar? Les? Apa itu beneran? Bisa aja si Yasmin ngajak temen- temen biar nggak cuman dia aja yang dikasih kunci jawaban ujian!”
“Yaah, bahasa detektifnya alibi!” seru Luisa juga.
Aku mendekati mereka yang sengaja mengucapkan hal itu keras- keras. Aku berkata dengan sopan demi menjaga nama baikku dan ibuku di sekolah ini, “Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh ikut kami belajar bareng, ini untuk umum kok.”
Sorry, ya, kita- kita anti sama hal curang!” seru Putri yang kemudian langsung pergi bersama Luisa. Mereka terkekeh saat berjalan bersama seolah menertawakan ajakanku.
Aku pikir- pikir, mereka itu kurang kerjaan, selalu saja membuat berita- berita tidak penting tentangku dan ibuku, contohnya baru saja. Aku harap mereka bisa mendapatkan sesuatu yang membuat mereka sadar bahwa mereka memandang sebelah mata terhadapku dan ibuku.
Aku bertanya lirih, “Kenapa semua orang bisa menerimaku dan mereka tidak?”
???
Aku terbangun di tengah tidurku malam ini. Aku melirik ke jam dinding dan menunjukkan masih jam setengah 11 malam. Karena haus, aku turun ke lantai 1  menuju dapur.
Saat aku menuruni anak tangga, aku melihat cahaya televisi masih menyala dari kamar orangtuaku melalui ventilasi di atas pintu. Samar- samar aku mendengar suara ibuku menangis dan ayah menenangkan ibuku. Karena penasaran, aku mendekat dan menguping.
“Yah, aku sudah ndak sanggup, sudah cukup aku mengajar di sekolah itu. Walaupun ayah sudah bilang aku harus bertanggungjawab, aku juga sudah bertanggungjawab atas mereka berdua. Terakhir kali, ya tadi itu, orangtua mereka datang ke kantor kepala sekolah dan mengadukan kalau aku tidak becus mengajar dan mendidik anak mereka.
“Aku kurang apa, yah? Mereka sudah aku berikan ilmu yang kupunya. Setelah selesai menerangkan aku langsung bertanya pada mereka bagian mana yang belum dimengerti, kalau mereka bilang sudah mengerti aku langsung memberikan soal latihan. Aku kurang apa, yah, kok bisa dibilang tidak bertanggungjawab, bahkan tidak berdedikasi!” seru ibu meminta pengertian dan menanyakan pertanyaan yang ayahku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ibu terisak- isak dan nafasnya tidak beraturan.
Aku sangat penasaran mengapa ibu sampai menangis, bahkan aku tidak merasa ternyata aku juga ikut menangis. Aku mendekatkan telingaku lagi di pintu dan mendengarkan lagi.
“Aku sudah lulus S2 dan tinggal menunggu panggilan dari universitas untuk mengajar disana. Kalau ayah mengizinkan, setelah ujian akhir ini aku mau keluar dari pekerjaanku,” pinta ibuku.
Ayah menjawab dengan nada bijaksana, “Lalu kamu meninggalkan tanggungjawabmu terhadap Putri dan Luisa? Mereka teman Yasmin, loh, bu.”
“Yasmin selalu dicela mereka, yah. Lebih baik aku segera keluar dari sekolah itu supaya Yasmin tidak dikata ‘anak curang’ lagi,” ucap ibuku sambil terisak- isak.
“Tapi paling tidak ayah tidak mau mereka semakin berpikir bahwa ibu tidak bertanggungjawab dengan meninggalkan sekolah tanpa membantu Putri dan Luisa,” saran ayah dngan nada bijaksana.
Aku meninggalkan pintu dan berjalan menuju kamarku. Rasa hausku hilang dan giliranku mencerna obrolan ayah dan ibu barusan. Aku mengerjapkan mataku sambil menatap kosong di langit- langit atap. Aku betul- betul memikirkan dan membayangkan apa yang ternyata sudah dilakukan ibuku untuk membantu nilai Putri dan Luisa di sekolah. Untuk kali ini, mereka sudah keterlaluan. Aku tidak apa- apa jika mereka mengataiku atau mencelaku, tapi jangan sampai membuat menangis ibuku.
???
Keadaan berjalan buruk antara aku dan duo menyebalkan. Aku tidak pernah berkata kasar pada mereka, tapi setelah mengetahui mereka membuat ibuku menangis, aku tidak bisa untuk tidak baik pada mereka.
Aku tetap menjaga nama baikku dan ibuku, jadi saat ada kesempatan bertemu dengan mereka, aku langsung menutup semua inderaku dan berpikir bahwa mereka tidak nyata.
Pelajaran tambahan kami berjalan dengan lancar dan kami sukses dengan ujian akhir sekolah kami. Saat pembagian rapor selesai, aku dan ayah menunggu ibu yang masih di ruang kepala sekolah. Ibu cukup lama berada disana, tapi kemudian keluar Putri dan orangtuanya, juga Luisa dan orangtuanya dari kantor kepala sekolah. Kepala mereka tertunduk dan ekspresi sedih tidak terelakkan.
Aku was- was dengan apa yang mereka lakukan di ruang kepala sekolah. Aku takut jika ibu disalahkan atas kesalahan yang bukan perbuatannya. Tidak lama kemudian ibu keluar dari kantor kepala sekolah dan ada juga Kana dan Jeffri bersama orangtua mereka.
“Kalian ada apa di kantor kepala sekolah?” tanyaku saat mereka mendekatiku.
Jeffri menyenggol Kana, memberi sinyal untuk menceritakan kejadian yang tidak aku tahu. Kana mengambil nafas panjang, kemudian memelukku. Aku bingung dan bertanya, “Ada apa, Kana?”
Kana menangis dalam pelukanku dan menjawab sambil terisak- isak, “Aku sedih, aku tidak mau Bu Olive keluar dari sekolah ini.”
Seperti ada bola yang mengenai kepalaku, aku sadar bahwa ucapan ibu beberapa waktu lalu bukan obrolan putus asa belaka, ibu benar- benar melakukannya.
“Bu Olive berkata bahwa ini cara yang terbaik untuk membuatmu tidak dicela oleh Putri dan Luisa lagi,” kata Kana sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata.
Jeffri melanjutkan, “Luisa dan Putri sudah ditegur oleh kepala sekolah dihadapan orangtuanya juga. Menurut Bu Olive, mereka tidak seharusnya menghakimi kamu dengan berkata bahwa kamu curang. Mereka tahu kamu pintar, tapi bukan karena Bu Olive memberikan kunci jawaban di setiap ujian. Bu Olive tetap pro.. pro.. pro apa, ya, tadi??”
“Profesional?” koreksiku.
Jeffri mengangguk dan kami menghentikan obrolan kami saat ibuku mendekat.  Ibu merangkul Kana dan Jeffri, kemudian berkata, “Makasih, ya, sudah menjadi teman yang baik buat Yasmin.”
Kana dan Jeffri memeluk ibuku dan mereka menangis seolah hari ini adalah pertemuan terakhir mereka. Aku juga sangat berterimakasih pada ibu karena ibu sudah membantuku untuk menyuruh Putri dan Luisa tidak mengejekku lagi.
Aku rasa Putri dan Luisa sudah mendapatkan apa yang menjadi hal setimpal untuk mereka. Aku memang anak seorang guru, tapi ibuku sangat profesional. Yang aku tahu, ibuku sangat sayang padaku dan mengorbankan pekerjaan gurunya untuk melindungiku dari orang- orang yang mempunyai pikiran seperti Putri dan Luisa. Dan juga, ibuku sudah sangat profesional, berdedikasi, dan bertanggungjawab dengan apa yang harus dan sudah dilakukannya sebagai seorang guru, terutama untuk Putri dan Luisa.
Aku menghela nafas dan berpamitan pada Kana dan Jeffri juga orangtua mereka. Saat aku memasuki mobil, aku dan ibu sama- sama berbalik dan memandang ke sekolah.
Ibu pasti berpikir bahwa tugasnya di sekolahku sudah berakhir dan akan berlanjut di universitas nanti. Tapi aku berpikir bahwa ibuku akan selamanya menjadi guruku baik dia mengajariku di sekolah atau tidak di sekolah.
???

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review