Aku berjalan
di belakang ibuku sesampainya turun dari mobil. Aku melambaikan tangan kepada
ayah dan kakakku yang kemudian mereka melesat menuju sekolah kakakku, kemudian
kantor ayah.
Ibu tidak
lagi menggandeng tanganku saat masuk ke sekolah. Selain karena aku sudah kelas
IV, aku juga malu jika teman- teman mengejekku karena ibuku adalah guruku.
Inilah sebagian kecil resiko jika punya ibu yang tidak lain tidak bukan juga
guru di sekolah. Tapi aku bersyukur karena ibuku mengajar kelas I sampai VI A,
sedangkan aku kelas IV D.
Banyak orang
mengira bahwa aku bisa ranking tiga besar di kelas karena dibantu oleh ibuku
dengan cara curang. Menurutku, itu penghakiman yang tidak adil karena sama
sekali ibuku tidak pernah mengajarkanku perbuatan curang. Selain harus menjaga
nama baik ibu dan reputasi, aku harus menjaga nama baikku sendiri karena aku
juga tidak mau dicap sebagai anak curang! Dan aku pikir, mereka hanya orang
awam yang tidak mau berusaha menjadi pintar jika pekerjaan mereka hanya
menggunjingkanku sebagai anak yang curang.
“Selamat
pagi, Bu Olive,” sapa Kana, teman sebangkuku, kemudian ia menyapaku, “halo
Yasmin!”
Ibuku hanya
tersenyum dan mengelus pipinya. Ibu selalu melakukan hal itu padaku dan kakakku
juga pada teman- teman kami. Tanpa ada maksud, tetapi orang lain melihat itu
seperti menganak-emaskan.
“Halo,”
sapaku, “sudah buat tugasnya?”
Ibuku
berlalu menuju ruang guru saat aku menggandeng tangan Kana dan berjalan menuju
kelas. Kana memperhatikan jalan ibuku sampai agak jauh dan menjawab,
“Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan ke kamu. Kalau tidak salah nomor 11,
bagiku itu rumit.”
“Aaah, iya,
iya, aku tahu. Soal nomor 11 memang sulit!” seruku sambil menepuk jidat lumayan
keras.
Tiba- tiba,
sebelum Kana merespon aksiku, suara sombong yang khas terdengar dari belakang
kami, menimpali ucapanku, “Aduuh, sulit, ya? Kan, bisa tanya mama. Atau, bisa
aja dibuatin sama mamanya!”
“Mama, mama,
eh, ibu, ibu, bikinin PR-ku, dong, ibu kan guru di sekolah, juga guru di
rumah,” seru seorang lagi yang menirukan gayaku berbicara.
Aku hanya
menghela nafas dan mengajak Kana berlalu. Biasanya, dalam adegan seperti ini
aku sebagai pihak yang disakiti akan merespon dengan serangan pukulan di wajah
lawan, tapi nyatanya Kanalah yang sudah siap untuk menendang Luisa dan Putri.
“Kenapa dia
selalu berpikiran jelek tentang kamu?!” seru Kana sambil menghentakkan kaki
cukup keras karena jengkel.
“Kata ibuku,
mereka cuman nggak tahu gimana mau bergaul sama anak seorang guru, makanya ibu
makasih banget sama kamu, sama temen- temen sekelas yang mau temenan sama aku,”
ucapku sambil mengelus tasnya untuk menenangkannya.
Kana
tersenyum mendengar pujianku, ia kemudian bernafas lega, dan kami masuk ke
kelas untuk siap belajar.
???
“Belajar
bareng, yuk, aku mau sukses buat ujian akhir besok!” seru Surya saat kami
sedang makan siang di dalam kelas.
“Iya, aku
juga setuju!” seru Huda, “Aku masih kurang di pelajaran Bahasa Inggris.”
“Kita
belajar sama mamanya Yasmin gimana?” tanya Rena memberi usul.
Secara
refleks, aku menyilangkan tanganku sambil mencoba menelan makanan yang ada di
mulutku.
“Kenapa?!”
protes teman- temanku.
Setelah
cukup susah menelan tanpa mengunyah, aku menjelaskan alasanku panjang lebar.
Sedikit perdebatan antara jangan memikirkan apa kata orang dengan kebutuhan
kami sebagai pelajar.
“Kita bisa
minta Bu Tyas buat kelas tambahan,” saranku.
“Tapi
bosan!” seru Jeffri, “Kata kakakku yang pernah diajar sama Bu Olive, dia sama
temen- temennya langsung mengerti. Masa’ sih cuman karena omongan orang, kita
jadi nggak boleh les sama Bu Olive?”
Aku diam dan
berpikir sejenak, apa yang harus dan tidak harus kulakukan rasanya seperti beda
tipis. Aku menghela nafas panjang dan berkata, “Aku coba diskusi dengan Ibuku
dulu, ya?”
“Yes!!” seru
teman- temanku yang lain dengan gembira.
“Tapi
tolong, jangan hanya dari kelas kita, ya, maksudku supaya tidak membuat orang-
orang lebih benci atau iri padaku,” kataku memotong kegembiraan mereka.
Mereka
mengacungkan jempol dan melanjutkan makan siang dengan obrolan- obrolan ringan
seputar kartun yang ditonton kemarin sore atau komik yang baru saja dibeli.
???
Pagi
berikutnya, aku sudah ditodong oleh teman- temanku mengenai keputusan untuk
belajar bersama pra ujian akhir sekolah.
“Maaf, ya,
aku sudah berusaha meyakinkan ibuku. Tadi malam kami juga diskusi bersama ayah
dan kakak. Dan...,” aku sengaja memotong perkataanku.
“Dan?”
mereka mendekatkan wajah mereka ke wajahku dan ekspresi penasaran mereka sangat
alami.
“Dan,”
kataku melambat, “ibuku mau.”
Mereka diam
sejenak dan kemudian saling pandang. Kana berkata, “Bu Olive mau.”
Serentak
teman- temanku berteriak senang, mereka berjingkrak- jingkrak, dan melompat
sambil berpelukan bersama.
“Oke,
setelah ini aku akan kasih tahu teman- teman dari kelas lain!” seru Jeffri
selaku ketua kelas.
“Dan juga,
ibuku minta untuk bukan hanya pelajarannya saja, tapi juga yang lain,” kataku.
“Itu bisa
diatur,” jawab Kana sambil mengelus punggungku.
Mulai dari
hari ini kami belajar tekun untuk ujian. Hari besok ibu mulai memberi tambahan
pelajaran untuk kami. Rupanya Jeffri membawa cukup banyak orang dari kelas
lain, itu membuat kami lebih semangat belajar.
Berita
tentang tambahan pelajaran sampai ke telinga Luisa dan Putri, seperti biasa,
mereka menghardik dan menghakimiku dengan alasan yang sama, dan bahkan lebih
kejam.
Putri berseru,
“Belajar? Les? Apa itu beneran? Bisa aja si Yasmin ngajak temen- temen biar
nggak cuman dia aja yang dikasih kunci jawaban ujian!”
“Yaah,
bahasa detektifnya alibi!” seru Luisa juga.
Aku
mendekati mereka yang sengaja mengucapkan hal itu keras- keras. Aku berkata
dengan sopan demi menjaga nama baikku dan ibuku di sekolah ini, “Kalau kamu
tidak percaya, kamu boleh ikut kami belajar bareng, ini untuk umum kok.”
“Sorry,
ya, kita- kita anti sama hal curang!” seru Putri yang kemudian langsung pergi
bersama Luisa. Mereka terkekeh saat berjalan bersama seolah menertawakan
ajakanku.
Aku pikir-
pikir, mereka itu kurang kerjaan, selalu saja membuat berita- berita tidak
penting tentangku dan ibuku, contohnya baru saja. Aku harap mereka bisa
mendapatkan sesuatu yang membuat mereka sadar bahwa mereka memandang sebelah
mata terhadapku dan ibuku.
Aku bertanya
lirih, “Kenapa semua orang bisa menerimaku dan mereka tidak?”
???
Aku
terbangun di tengah tidurku malam ini. Aku melirik ke jam dinding dan
menunjukkan masih jam setengah 11 malam. Karena haus, aku turun ke lantai
1 menuju dapur.
Saat aku
menuruni anak tangga, aku melihat cahaya televisi masih menyala dari kamar
orangtuaku melalui ventilasi di atas pintu. Samar- samar aku mendengar suara
ibuku menangis dan ayah menenangkan ibuku. Karena penasaran, aku mendekat dan
menguping.
“Yah, aku
sudah ndak sanggup, sudah cukup aku mengajar di sekolah itu. Walaupun ayah
sudah bilang aku harus bertanggungjawab, aku juga sudah bertanggungjawab atas
mereka berdua. Terakhir kali, ya tadi itu, orangtua mereka datang ke kantor
kepala sekolah dan mengadukan kalau aku tidak becus mengajar dan mendidik anak
mereka.
“Aku kurang
apa, yah? Mereka sudah aku berikan ilmu yang kupunya. Setelah selesai menerangkan
aku langsung bertanya pada mereka bagian mana yang belum dimengerti, kalau
mereka bilang sudah mengerti aku langsung memberikan soal latihan. Aku kurang
apa, yah, kok bisa dibilang tidak bertanggungjawab, bahkan tidak berdedikasi!”
seru ibu meminta pengertian dan menanyakan pertanyaan yang ayahku tidak tahu
harus menjawab bagaimana. Ibu terisak- isak dan nafasnya tidak beraturan.
Aku sangat
penasaran mengapa ibu sampai menangis, bahkan aku tidak merasa ternyata aku
juga ikut menangis. Aku mendekatkan telingaku lagi di pintu dan mendengarkan
lagi.
“Aku sudah
lulus S2 dan tinggal menunggu panggilan dari universitas untuk mengajar disana.
Kalau ayah mengizinkan, setelah ujian akhir ini aku mau keluar dari
pekerjaanku,” pinta ibuku.
Ayah
menjawab dengan nada bijaksana, “Lalu kamu meninggalkan tanggungjawabmu
terhadap Putri dan Luisa? Mereka teman Yasmin, loh, bu.”
“Yasmin
selalu dicela mereka, yah. Lebih baik aku segera keluar dari sekolah itu supaya
Yasmin tidak dikata ‘anak curang’ lagi,” ucap ibuku sambil terisak- isak.
“Tapi paling
tidak ayah tidak mau mereka semakin berpikir bahwa ibu tidak bertanggungjawab
dengan meninggalkan sekolah tanpa membantu Putri dan Luisa,” saran ayah dngan
nada bijaksana.
Aku
meninggalkan pintu dan berjalan menuju kamarku. Rasa hausku hilang dan
giliranku mencerna obrolan ayah dan ibu barusan. Aku mengerjapkan mataku sambil
menatap kosong di langit- langit atap. Aku betul- betul memikirkan dan
membayangkan apa yang ternyata sudah dilakukan ibuku untuk membantu nilai Putri
dan Luisa di sekolah. Untuk kali ini, mereka sudah keterlaluan. Aku tidak apa-
apa jika mereka mengataiku atau mencelaku, tapi jangan sampai membuat menangis
ibuku.
???
Keadaan
berjalan buruk antara aku dan duo menyebalkan. Aku tidak pernah berkata kasar
pada mereka, tapi setelah mengetahui mereka membuat ibuku menangis, aku tidak
bisa untuk tidak baik pada mereka.
Aku tetap
menjaga nama baikku dan ibuku, jadi saat ada kesempatan bertemu dengan mereka,
aku langsung menutup semua inderaku dan berpikir bahwa mereka tidak nyata.
Pelajaran
tambahan kami berjalan dengan lancar dan kami sukses dengan ujian akhir sekolah
kami. Saat pembagian rapor selesai, aku dan ayah menunggu ibu yang masih di
ruang kepala sekolah. Ibu cukup lama berada disana, tapi kemudian keluar Putri
dan orangtuanya, juga Luisa dan orangtuanya dari kantor kepala sekolah. Kepala
mereka tertunduk dan ekspresi sedih tidak terelakkan.
Aku was- was
dengan apa yang mereka lakukan di ruang kepala sekolah. Aku takut jika ibu
disalahkan atas kesalahan yang bukan perbuatannya. Tidak lama kemudian ibu
keluar dari kantor kepala sekolah dan ada juga Kana dan Jeffri bersama orangtua
mereka.
“Kalian ada
apa di kantor kepala sekolah?” tanyaku saat mereka mendekatiku.
Jeffri
menyenggol Kana, memberi sinyal untuk menceritakan kejadian yang tidak aku
tahu. Kana mengambil nafas panjang, kemudian memelukku. Aku bingung dan
bertanya, “Ada apa, Kana?”
Kana
menangis dalam pelukanku dan menjawab sambil terisak- isak, “Aku sedih, aku
tidak mau Bu Olive keluar dari sekolah ini.”
Seperti ada
bola yang mengenai kepalaku, aku sadar bahwa ucapan ibu beberapa waktu lalu
bukan obrolan putus asa belaka, ibu benar- benar melakukannya.
“Bu Olive
berkata bahwa ini cara yang terbaik untuk membuatmu tidak dicela oleh Putri dan
Luisa lagi,” kata Kana sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata.
Jeffri
melanjutkan, “Luisa dan Putri sudah ditegur oleh kepala sekolah dihadapan
orangtuanya juga. Menurut Bu Olive, mereka tidak seharusnya menghakimi kamu
dengan berkata bahwa kamu curang. Mereka tahu kamu pintar, tapi bukan karena Bu
Olive memberikan kunci jawaban di setiap ujian. Bu Olive tetap pro.. pro.. pro
apa, ya, tadi??”
“Profesional?”
koreksiku.
Jeffri
mengangguk dan kami menghentikan obrolan kami saat ibuku mendekat. Ibu merangkul Kana dan Jeffri, kemudian
berkata, “Makasih, ya, sudah menjadi teman yang baik buat Yasmin.”
Kana dan
Jeffri memeluk ibuku dan mereka menangis seolah hari ini adalah pertemuan
terakhir mereka. Aku juga sangat berterimakasih pada ibu karena ibu sudah
membantuku untuk menyuruh Putri dan Luisa tidak mengejekku lagi.
Aku rasa
Putri dan Luisa sudah mendapatkan apa yang menjadi hal setimpal untuk mereka. Aku
memang anak seorang guru, tapi ibuku sangat profesional. Yang aku tahu, ibuku
sangat sayang padaku dan mengorbankan pekerjaan gurunya untuk melindungiku dari
orang- orang yang mempunyai pikiran seperti Putri dan Luisa. Dan juga, ibuku
sudah sangat profesional, berdedikasi, dan bertanggungjawab dengan apa yang
harus dan sudah dilakukannya sebagai seorang guru, terutama untuk Putri dan
Luisa.
Aku menghela
nafas dan berpamitan pada Kana dan Jeffri juga orangtua mereka. Saat aku
memasuki mobil, aku dan ibu sama- sama berbalik dan memandang ke sekolah.
Ibu pasti
berpikir bahwa tugasnya di sekolahku sudah berakhir dan akan berlanjut di
universitas nanti. Tapi aku berpikir bahwa ibuku akan selamanya menjadi guruku
baik dia mengajariku di sekolah atau tidak di sekolah.
???
0 komentar:
Posting Komentar