Jumat, 30 Maret 2012

Cerita Kampus-Poof

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Maret 30, 2012
Aku putus asa!
Berkali- kali, di setiap sudut, di setiap lipatan kertas, di setiap lembar buku, di setiap kolong kursi, di setiap kolong meja, di setiap kolong kasur, di dekat tabung gas, di dekat kompor, bahkan di dalam kamar mandi. Aku tidak menemukan selembar kertas tebal sertifikat kegiatan yang kulakukan beberapa bulan lalu – dimanapun.
Dari pukul lima hingga menjelang maghrib ini aku disibukkan oleh kegiatan membuang waktu, yaitu mencari selembar kertas. Selembar kertas itu kuletakkan di kursi, saat kutinggal sebentar kemudian ia menghilang. Poof! Dan aku menjadi orang gila dalam beberapa saat.
Selembar kertas tebal itu adalah sertifikat yang kudapatkan saat seminar di kampus Bulan Oktober lalu. Seminar itu menambah ilmuku dalam bidang “Speech”. Aku hanya nggak mau kalau benda itu hilang dan orang nggak percaya kalau aku pernah dapat pelatihan “Speech”. Yaa, sekarang orang- orang akan nggak percaya.
“Loh, tapi teman- temanmu, kan, sudah tahu kalau kamu sering ikut latihan ‘Speech’ setiap Hari Rabu?!”
Nah, itulah yang akan dikatakan seorang atau beberapa kerabatku kalau aku menceritakan hal ini. Padahal, yang aku maksud dengan ‘orang- orang yang nggak akan percaya’ adalah anakku, anak dari anakku, bahkan anaknya dari anaknya anakku. Aku hanya nggak mau mereka mendengar sesuatu dariku tanpa bukti, dan selembar kertas itu adalah buktinya, yang kemudian POOF, hilang.
Aku nggak akan bertanya kepada siapapun tentang apakah salahku yang sudah kuperbuat sehingga barangku menghilang secara tiba- tiba. POOF! Itu hal sebuah pertanyaan yang bisa kujawab sendiri dan I know, it was my fault.
Jadi begini...
Selembar kertas sertifikat itu sudah kudapat beberapa hari yang lalu, kemudian kuletakkan di atas meja belajarku selama beberapa hari juga. Kaena aku tidak ingin kertas itu berdebu, aku akan memindahkannya di map arsip- arsip milikku. Dalam map itu sudah banyak juga kumpulan sertifikat yang kudapat. Nggak hanya sertifikat, sih, ada juga akte kelahiran, rapor dari TK hingga SMA, dan ijazah beserta lembar nilai ujian nasional.
Aku mengambil sertifikatku dan kubawa ke ruang tamu. Di ujung ruangan ada lemari tempat untuk menyimpan arsip milikku. Kuletakkan sertifikatku di atas meja dan mulai menggeledah mencari mapku. Kucari- cari dari ujung atas sampai ke ujung bawah dan aku nggak menemukan mapku.
Aku berlari menuju kamarku dan nggak lupa sertifikat itu kubawa serta. Aku mulai menggeledah laci meja belajar, rak buku kuliah, rak novel, bahkan rak boneka.
Kemudian aku berlari lagi menuju ruang tamu, dan sertifikatnya kubawa juga. Kuletakkan sertifikat itu di kursi supaya tidak meribetkanku dalam pencarian map. Aku mulai menggeledah lagi dari atas ke bawah. Berharap ada keajaiban, tapi nyatanya tidak.
Aku bertanya pada mamaku yang sedang mengeringkan rambutnya yang panjang dan lebat sambil menonton aksi demo kenaikan BBM, “Mami, mami tahu mapku ada dimana?”
Mama menjawab dengan malas, “Di lemarilah.”
“Nggak ada!” seruku putus asa, “Mesti udah dipindah!”
“Diicari lagi, pasti ada,” ujarnya nggak peduli.
“Aku sudah cari dimana- mana,” ujarku dalam hati – desperately.
Aku mulai kesal dan marah. Umpatan- umpatanpun mulai keluar, dari yang halus sampai yang kasar. Aku mengumpat dalam hati, “Bilang aja nggak mau nyariin. Sibuk aja terus sama rambutnya yang nggak kering- kering. Mami emang nggak peduli!”
Aku mengumpat sambil menggeledah setiap map yang dapat menyimpan map lainnya atau berkas- berkas atau arsip- arsip, seperti sebuah kotak yang dapat menyimpan kotak. Dan voilla, mapku ketemu!
Wajahku sumringah, bungah, dan happy saat akhirnya aku menemukan mapku. Map coklat dengan tulisan namaku dengan tinta warna emas. Kugenggam mapku dan aku duduk di kursi tempat dimana aku meletakkan sertifikatku.
Inilah kebiasaan jelekku, aku selalu menyelidiki apakah arsip yang ada di mapku masih utuh atau tidak. Yaa, walau sebenarnya aku hanya ingin melihat- lihat lagi nilai- nilaiku dulu, wjahku yang bertransisi dari TK hingga SMA, dan melihat kumpulan sertifikat yang sudah kudapat.
Setelah selesai sidak – inspekdi mendadak – map, aku baru akan meletakkan sertifikat “Speech”ku di dalamnya. Saat kulihat tumpukkan map lain yang kuletakkan dikursi, aku memindahkannya lagi ke meja, kemudian aku tidak menemukan sertifikatku. Disitulah tempat sertifikatku hilang. Andai ia punya sidik jari. Ooh, sertifikat yang malang.
Aku mulai menggeledah lagi dari map ke map. Di kamar, di ruang tamu, dimanapun! Sertifikatku hilang!
Aku mulai menyalahkan semuanya lagi. Mengumpat ini dan itu sehingga membuat mama dan adikku pusing mendengar umpatanku. Mami mengira kalau mapku belum ketemu, makanya ia bertanya, “Sudah ketemu mapnya?”
“Sudah, tapi kertasku hilang!” rengekku.
“Lah, tadi ditaruh dimana?” tanya mama dengan nada sedikit tinggi.
“Di kursi,” jawabku singkat sambil mencari sertifikatku di kolong kursi.
“Mungkin lupa ditaruh dimananya,” mama berkomentar dengan nada yang nggak aku suka. Nadanya sakartis. Yaa, seperti kebanyakan orang, banyak bicaranya tapi nggak move.
“Enggak!” seruku putus asa, “Aku nggak lupalah, ini nggak ada lima menit yang lalu kok.”
“Kok bisa ilang?” tanya mama mulai malesi.
“Diumpetin makhluk halus mesti!” seruku dalam hati tanpa menjawab pertanyaan mama.
Aku dengan yakin menuduh makhluk itulah yang mengambil barangku karena sebelum juga pernah kejadian padaku, tapi beberapa saat kemudian benda itu ketemu. Tapi kenapa enggak dengan sertifikatku? Apa benar aku kelupaan? Tapi tanganku sendiri yang meletakkannya di kursi, dan mataku sendiri yang melihatnya kutaruh di kursi.
Berkali- kali, di setiap sudut, di setiap lipatan kertas, di setiap lembar buku, di setiap kolong kursi, di setiap kolong meja, di setiap kolong kasur, di dekat tabung gas, di dekat kompor, bahkan di dalam kamar mandi. Aku tidak menemukan selembar kertas  sertifikat “Speech”ku – dimanapun.
Sebagai makhluk pelupa dan serba salah, aku hanya bisa memohon pada Yang Kuasa untuk diberikan kemudahan dalam menemukan sertifikatku dan aku pasrah sekarang.
Waktu demi waktu berlalu dan tidak hentinya aku berdo’a untuk ditemukannya sertifikatku. Bisa dikatakan sertikatku itu satu perseratus dari hidupku. Sebuah apresiasi yang bagus bisa mengikuti acara seperti itu dan ilmunya sangat bermanfaat. Tapi, sertifikatnya hilang!
Dalam kesempatan lain aku diajak papa untuk pergi beli bakso. Aku sangatsuka bakso. Sebenarnya aku malas untuk keluar rumah, tapi kebeteanku tentang sertifikatku membuatku untuk ikut beli bakso.
Di dalam perjalan beli bakso sampai membeli bakso dan pulang dari membeli bakso aku terus berharap bahwa tiba- tiba sertifikatku akan muncul di suatu tempat yang nggak terduga. Tapi, nyatanya saat aku berada di rumahpun sertifikatku masih nggak ada.
Mungkin aku kena tula, atau tepatnya bukan tula, tapi karma. Karma terhadap mamaku yang tadi kuumpat- umpati karena saking sebelnya aku mencari map yang nggak ketemu. Aku harus minta maaf sama mama, kalau enggak mengkin sertifikatku nggak akan pernah muncul. Kalaupun muncul, aku harap itu sudah berada di mapku, paling enggak sertifikatku ada di tempat yang tepat.
Yaa, anak muda memang labil dan tempatnya khilaf.
MMM

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review