Selasa, 25 Desember 2012

Cerita Kampus- Drama

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Desember 25, 2012

Berilah ruang gerak bagi pejalan kaki dengan berhenti di belakang garis berhenti.
Kendaraan roda dua berada di jalur kiri. Nyalakan lampu kendaraan baik pagi, siang, sore, maupun malam hari, dan gunakan helm SNI.
...Taatilah rambu- rambu lalu lintas demi keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan perjalanan Anda.
Pesan ini disampaikan oleh Satlantas...
Anak kecil yang kupangku tertawa terbahak- bahak saat melihatku menirukan suara yang muncul dari speaker saat bus yang kutumpangi berhenti di lampu lalu lintas. Ia tertawa dan memukul pipiku dengan lembut.
“Yagi, yagi..,” katanya.
“Lagi?” tanyaku sambil memencet hidungnya yang mungil.
 Ia mengangguk, tapi ibu sang anak menariknya dari pangkuanku dan berkata, “Kakak cantik sudah mengulanginya tiga kali, lho, sayang. Kasihan kakak cantik, pasti capek.”
Si anak kecil langsung berwajah muram, tapi tidak mengamuk. Ia langsung tenang dalam pangkuan ibunya walau wajahnya masih menghadap ke arahku dengan tatapan, “Kakak, ayo ulangi lagi” dan aku hanya tersenyum padanya.
Siapa anak kecil itu, aku tidak tahu, apalagi ibunya. Kami baru saja bertemu saat aku naik ke bus trans kota dari shelter dekat rumahku untuk menuju kampus. Saat aku masuk, kami hanya saling tersenyum dan karena tidak ada tempat duduk kosong selain di sebelah mereka, aku pun duduk disamping mereka. Saat aku duduk, aku mencoba tidak menarik perhatian siapapun, tapi aku sangat suka terhadap anak kecil sehingga aku mulai tersenyum padanya hingga bertanya- tanya pada ibunya, dan akhirnya si anak kecil lengket padaku dan meminta untuk duduk di pangkuanku.
Aku seperti kehilangan mainanku saat sang ibu mengambil kembali anaknya dari pangkuanku, terlebih karena memang mereka akan turun di shelter selanjutnya. Mereka pamit padaku saat akan turun. Si anak kecil tidak henti- hentinya memandangiku dan melambaikan tangannya seraya berkata, “Dadaah, kakak!”
Aku tersenyum getir saat busku melaju lagi dan aku mulai sendirian walau dalam bus ini cukup ramai penumpang. Terlebih lagi, penumpang yang baru masuk adalah orang yang kupikir cukup tua, sehingga aku mempersilakan salah satu dari mereka duduk di tempat dudukku dan aku berdiri sambil menggantungkan tanganku di gantungan yang disediakan.
Aku tidak terlalu menyesal melakukan itu karena itulah yang seharusnya kulakukan kepada orang yang lebih tua untuk menjaga sopan santun dan tata krama yang diajarkan orangtuaku. Dengan headset yang kupasang di telinga dan mendengarkan lagu- lagu favoritku, aku memanjakan mataku dengan pemandangan jalan di sekitar menuju kampus. Beberapa bangunan kantor kuno yang menjadi sejarah kotaku berjajar memberi patokan bahwa aku akan sampai di kampus. Ketika busku melewati Tugu yang menjadi simbol kotaku, aku beranjak mendekati pintu dan tersenyum pada pak kondektur. Ketika sampai, ia mempersilakanku keluar dan tersenyum ramah padaku.
Aku berjalan menuju gedung UKM kampus sambil menikmati udara mendung Minggu pagi ini. Hal yang sulit untuk dikompromi jika akhir minggu seperti ini harus kuhabiskan untuk pergi ke kampus. Tapi, hal ini harus kulakukan karena UKM yang kugeluti akan mengadakan pementasan drama. Pementasan drama dari UKM teater ini berjudul Hanoman Obong, seperti pementasan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Yang menjadikan ini berbeda adalah tipe pementasan, yaitu drama, sedangkan yang ada di Candi Prambanan merupakan sendratasik.
Aku tiba di hadapan teman- temanku yang sudah berkumpul dan berbincang- bincang, entah apapun itu. Aku menyapa mereka dan dengan gembira mereka menyapaku juga, kecuali laki- laki yang duduk paling jauh dari jangkauanku, Iqbal. Meskipun suaraku sekeras speaker masjid, ia bahkan tidak akan menoleh padaku. Jahat!
“Hera, kamu bawa krupuknya, kan?” tanya Bembi, laki- laki paling gemuali di teater ini.
Aku menggangguk dan mengeluarkan kerupuk pasir berwarna merah muda dan putih tulang dari tasku. Krupuk itu kubawa dari rumah karena permintaan teman- teman di teater.
“Bagus!” seru Yumi, anak keturunan Tiong Hoa yang sangat jago bahasa Jawa, “Aku udah bawa sambal rujaknya. Nanti kita pesta, ya!”
Kami semua berseru senang, lagi, kecuali Iqbal. Ini jelas membuatku bingung dan sedih. Ia terlihat lebih pemurung dari biasanya. Kalau spekulasiku benar, mungkin ia menjadi begitu karena aku.
Dua hari lalu, ketika Jum’at malam, kami sudah selesai latihan untuk pementasan. Ia mengajakku makan malam yang kupikir hanya di kucingan saja, ternyata ia membawaku ke coffee shop yang sering kukunjungi. Disana, Iqbal dengan malu- malu tapi mantap menyatakan perasaannya padaku. Aku tentu saja sangat senang, tapi dengan berat hati aku menolaknya. Kukatakan aku juga menyukainya, tapi karena kami satu teater dan aku tidak mau nantinya Iqbal lebih fokus padaku, aku tidak mau ia pilih kasih terhadapku, terutama dalam pemilihan tokoh utama. Iqballah yang mempunyai kekuasaan untuk memilih itu dan aku tidak mau teman- teman berpikiran bahwa ada konspirasi di antara kami jika kami resmi berpacaran. Kupikir Iqbal sudah salah mengerti apa yang kumaksud walaupun sudah jelas sekali kukatakan alasan utamanya.
Kini Iqbal berjalan ke gerombolanku dan berkata dengan jutek, “Kamu udah datang terlambat, malah bikin temen- temen ribut sendiri- sendiri. Cepat duduk! Briefing akan kumulai.”
Aku menatap Iqbal yang kembali menjauhi kami sambil mengecek jam yang baru pukul 8.03. Bembi menggerutu dengan Yumi, “Dia aneh, aku nggak tahu apakah sambal yang Hera buat kemarin membuatnya sedikit kacau.”
“Ya, mungkin kacau, kamu tahu?” kata Yumi sambil menunjuk ke pelipis matanya dengan jari telunjuk lalu diputar- putar, “Disini.”
Aku menarik mereka untuk segera duduk agar Iqbal tidak lebih memarahi kami lagi. Briefing yang kami lakukan sudah berjalan lima belas menit. Kami mendiskusikan tentang penokohan, siapa yang mendapat tokoh siapa. Semua dari kami sudah berlatih untuk menjadi masing- masing karakter di tokoh, jadi hari ini adalah keputusannya untuk menentukan tokoh yang cocok dengan kami masing- masing.
Aku pribadi sangat berharap menjadi Dewi Shinta. Alasan pertama karena Dewi Shinta menjadi simbol bahwa ia sangat setia pada Sri Rama, hal itu sangat romantis, aku bahkan sering tertawa sendiri saat membayangkan aku menjadi Dewi Shinta. Alasan kedua, karena lawan mainku, yang berperan menjadi Sri Rama, yang pasti adalah Iqbal.
Aku sudah berlatih dengan keras untuk menjadi Dewi Shinta. Aku berkeyakinan penuh jika Iqbal akan memilihku menjadi Dewi Shinta, tentunya karena kemampuanku bukan karena ia menyukaiku.
Ketika Iqbal akan mengumumkan tokoh utama wanitanya, temanku yang paling cantik dan bertalenta pula, Virga, yang juga adalah sainganku, baru saja datang dan dengan manja ia berkata, “Maafkan aku, aku terlambat. Kalian maafin aku? Plisss.”
Seketika teman- teman melengos dan menggerutu masing- masing. Aku tersenyum pada Virga dan menyuruhnya duduk di sampingku segera. Secepat kilat langsung kutatap lagi Iqbal, aku takut ia akan memarahi Virga. Padahal kami tahu Virga bukan tipe yang suka dimarahi oleh orang lain, atau dia akan ngambek seperti anak kecil dan membalikkan fakta. Motto hidupnya adalah pasal satu berbunyi Virga selalu benar, jika Virga salah, lihat pasal satu saja!
“Ya, untuk apa Virga meminta maaf?” Iqbal mulai mengomentari, “Virga, kamu datang tepat waktu untuk tahu bahwa tokoh Dewi Shinta akan diberikan padamu.”
***
Diberikan padamu. Ya, padamu. Kamu lebih cocok dan kami tahu kamu sangat bertalenta. Kami harap kita bisa bekerjasama.
Aku masih tidak percaya bahwa aku tidak mendapatkan peran itu. Aku yakin dari latihan- latihan yang lalu dan dengan komentar- komentar dari senior bahwa aku lebih baik daripada Virga membuatku menjadi sangat percaya diri. Tapi, beberapa jam lalu Iqbal mengumumkan bahwa bukan aku yang mendapatkan peran itu. Peranku sendiri adalah kijang yang merupakan jelmaan dari jin, Kalamarica, untuk mengelabui Sri Rama.
Makan siang ini aku sudah menghabiskan beberapa jenis sambal dan kerupuk kesukaanku karena aku sangat marah. Sambal merah, sambal hijau, sambal rujak, dan sambal bawang sudah masuk ke perutku dan membuat sensasi pedas menari- nari, juga keringat yang meluncur saking pedas dan enaknya. Ide itu kudapat agar aku sakit perut dan tidak perlu ikut latihan hari ini yang membuatku malah lebih sakit hati.
Detik ini pun aku sudah di dalam mobil dan mengaduh di kursi belakang. Aku menangis sejadinya karena sakit perut dan sakit hati. Dari kursi depan, mama memperhatikanku sambil berdebat dengan papa agar aku dibawa ke rumah sakit sekalian. Mama bersikeras membawaku ke rumah sakit, sedangakan papa menolak dengan dalih, “Dia sudah besar, seharusnya tahu apa yang harus dan nggak harus dimakan!”. Aku sangat setuju dengan papa, tapi aku juga kesakitan. Akhirnya aku hanya dibawa ke klinik dokter langgananku saat aku masih kecil dan diberi obat. Harapanku obatnya akan bereaksi cukup lama sehingga besok aku tidak usah masuk dan berlatih lagi di teater.
***
Pupus harapanku karena obatnya sangat manjur dan aku sembuh, walaupun begitu aku tetap harus meminum obatnya. Akhirnya aku tetap berangkat ke kampus dengan naik bus lagi, lalu setelah selesai kegiatan kampus, aku sudah diseret- seret oleh Yumi untuk latihan.
Sedih rasanya harus latihan lagi dan disiksa oleh sikap Iqbal yang tambah parah memperlakukanku tidak adil. Mulai dari hari minggu kemarin saat aku hanya terlambat tiga menit, Iqbal bisa memarahiku, sedangkan Virga yang terlambat jauh lebih lama malah dihadiahi pemeran utama. Kemudian, saat melakukan latihan, Iqbal selalu menyalahkan gerakanku yang kupikir sudah sama seperti saat latihan yang lalu dan persis seperti instruksi dari senior yang lain. Puncaknya adalah Iqbal membanding- bandingkanku dengan Virga dan bersyukur di hadapan semua teman- teman bahwa bukan aku yang menjadi pemeran utama karena menurutnya aku melakukan banyak kesalahan.
Aku sungguh marah ia bersikap seperti itu. Dengan semua kekesalanku, kemudian aku berjalan menuju Iqbal dengan mantap, walaupun tanganku bergetar dan jantungku berdegup kencang. Aku menarik Iqbal ke sudut ruangan tanpa menghiraukan teman- teman yang lain berkomentar apa. Pelupuk mataku sudah dipenuhi air mata, tapi kutahan agar aku tetap terlihat tegar dan kuat untuk menyampaikan hal ini.
“Udah kupendam selama beberapa hari ini, udah kucoba untuk nggak bersikap lebih kasar dari apa yang kamu lakuin, udah kutahan agar aku tetap bertahan di teater ini sampai pementasan. Tapi apa salahku aja aku nggak tahu! Aku benci berspekulasi terus tentang sikapmu yang aneh dan lebih nggak adil padaku!” aku menarik nafas panjang dan setitik air mata jatuh di pipiku.
Suaraku mulai bergetar bercampur tangisan yang masih kutahan, “Aku baik sama kamu, kurang baik apa aku sama kamu? Aku tetap datang kesini untuk latihan, walau kamu selalu memarahiku atas kesalahanku dari sudut pandangmu. Aku tetap baik padamu walau aku cukup sakit hati karena aku nggak mendapatkan pemeran utama. Aku bahkan tetap bersikap baik dan nggak menjauhimu setelah kamu nyatain kalau kamu suka sama aku! Aku kurang baik apa sampai kamu harus membanding- bandingkanku sama orang lain? Bagiku ini nggak adil!” Aku berjongkok dan menangis sejadinya setelah kusampaikan semua kekesalanku.
Iqbal berjongkok dan berkata, “Menurutku memang Virga yang lebih pantas menjadi pemeran utamanya. Dan bukannya ini yang kamu mau saat kamu menolakku?”
Aku mendongak ke arah Iqbal dan berkata, “Tapi nggak dengan mencercaku dan bersikap menganak-tirikanku!”
Aku berdiri dan berlari meraih tasku, kemudian pergi ke menara panjat tebing. Aku tidak tahu bahwa Yumi dan Virga mengikutiku. Ketika tanganku sudah menggenggam anak tangga yang berada di bagian belakang menara panjat tebing, Yumi dan Virga menahanku untuk tidak memanjat.
“Apa ini semua karena aku, Hera?” tanya Virga dengan mata berkaca- kaca.
Aku menggeleng. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Jadi, semakin mereka bertanya tentang bagaimana keadaanku malah membuatku lebih tidak baik- baik saja dan aku akan menangis lagi sejadi- jadinya.
Yumi mengulurkan sebatang coklat padaku, walaupun awalnya aku menolak, Yumi tetap memaksa agar kumakan coklat itu. Virga pun menuntunku untuk duduk di pinggir lapangan dan menyuruhku memakan coklat itu sekarang juga.
Satu gigitan besar kumakan, kemudian kuulum. Dengan coklat yang melumer di mulutku, aku memikirkan baik- baik respon yang diberikan Iqbal. Bahkan Iqbal tadi masih saja membanding- bandingkanku dengan Virga. Virga sebenarnya tidak salah apa- apa, tapi Iqbal yang masih saja bersikap tidak adil. Iqbal bahkan membalikkan kenyataan dengan dalih hal ini yang kuinginkan saat aku menolaknya. Setelah semua ini, aku tidak tahu apakah aku akan tetap bergabung di teater ini saat ini juga, setelah pementasan, atau bertahan dengan sikap Iqbal.
***
Beberapa hari ini aku malas sekali untuk latihan. Sudah sering aku diam- diam kabur latihan, tapi semua teman- teman teaterku seperti mata- mata yang mengintai setiap gerak- gerikku, sehingga aku tertangkap basah saat kabur dan dibawa mereka untuk latihan.
Semua menjadi sangat baik padaku, walaupun memang sebelumnya mereka baik padaku. Yang membuat berbeda adalah Iqbal yang tidak cerewet lagi untuk memarahiku. Walaupun aku sangat takut melakukan kesalahan saat beradu akting dengannya, aku mencoba lebih memberanikan diriku untuk mengekspresikan peranku sebagai kijang jelmaan dan lebih membuatnya tahu bahwa aku lebih kuat setelah apa yang ia lakukan padaku. Tema hari ini adalah move on.
Semua yang kulakukan tidak sia- sia. Aku lebih berani untuk mengekspresikan peranku, karena peranku berada di titik dimana konflik cerita ini bermula, sehingga aku harus lebih bisa fokus dan memperdaya penonton dan yang lainnya. Dan untuk pementasan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi, aku sudah siap untuk lebih berekspresi.
Scene demi scene sudah dimunculkan, terutama saat giliranku untuk tampil. Dengan lemah gemulai tapi lincah, aku mencoba menggoda Sri Rama untuk mengejarku, mengalihkan perhatiannya dari keselamatan Dewi Shinta, dan membawanya ke sebuah titik dimana Sri Rama akan membunuhku dengan panahnya. Lampu dimatikan ketika aku tertusuk panah Sri Rama, kemudian aku berlari ke belakang panggung dan muncullah temanku yang berperan sebagai Kalamarica untuk membunuh Sri Rama.
“Tata panggung dan lighting memang sangat mempengaruhi jalan cerita,” komentar Virga yang sebentar lagi akan muncul di scene selanjutnya.
“Semoga sukses, Virga!” seruku menyemangati, kemudian aku menunggu di balik layar hingga pementasan mencapai resolution dimana Dewi Shinta akan menceburkan diri ke dalam api sebagai tanda bahwa ia benar- benar setia pada Sri Rama.
Ada adegan dimana Dewi Shinta menangis tersedu- sedu memohon agar Sri Rama percaya padanya, adegan ini yang menurutku sangat kuat dan membuatku menangis. Tapi, bagi Virga, sulit sekali ia mengeluarkan air mata pada adegan yang ia anggap lebay ini, sehingga ia memakan semua sambal yang kubawa agar menciptakan emosi dan ekspresi yang cetar membahana. Sayangnya, hal itu malah membuatnya sakit perut dan semua panitia kewalahan dengan hal ini. Virga benar- benar tidak bisa melanjutkan perannya.
“Hera, kamu satu- satunya harapan kami, tolonglah,” ucap Yumi saat ia menyarankan agar aku menggantikan peran Dewi Shinta.
“Iya, kamu juga sama berbakatnya seperti Virga,” kata Bembi.
Aku melirik ke arah Iqbal dan bertanya, “Gimana menurutmu?”
Iqbal menatapku datar dan menjawab, “Kenapa aku? Kalau ini demi teater kenapa kamu nggak melakukannya? Be professional, please.”
Aku menimbang- nimbang dengan cemas. Aku kurang yakin Iqbal akan senang dengan hal ini, meskipun ia menyetujui karena demi kelangsungan pementasan, aku tetap merasa ia cukup kesal.
Suara alunan musik berganti, pertanda memasuki scene resolution. Iqbal sebagai Sri Rama menggandengku dengan lemah gemulai. Kami memulai adegan di scene terakhir.
Sri Rama bertanya pada Dewi Shinta, “Apakah selama engkau ditawan, engkau tetap menjaga kesucianmu, wahai Dewi Shinta.”
“Tentu saja, suamiku, wahai Sri Rama,” jawab Dewi Shinta dengan penuh tanya, “apakah engkau tidak percaya padaku?”
“Maafkan aku, Dewi,” ucap Sri Rama dengan tegas kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Dewi Shinta, “aku tidak yakin bahwa kau masih suci setelah selama ini bersama Rahwana.”
Ku keluarkan semua emosiku untuk membangkitkan apa yang dialami Dewi Shinta kepada semua penonton, dan juga Iqbal. Dewi Shinta pun berlutut pada Sri Rama, ia menangis dibawah sang suami, dan memohon agar sang suami percaya padanya. Namun, Sri Rama sulit untuk mempercayai istrinya. Kemudian Dewi Shinta berjalan mundur, ditatapnya Sri Rama dengan penuh keyakinan dan kasih sayang seraya berkata, “Aku akan melompat ke dalam api ini sehingga engkau percaya bahwa aku masih suci dan menghormatimu sebagai suamiku.”
Adegan selanjutnya adalah Dewi Shinta yang melompat ke dalam api, namun ia tidak terbakar karena pertolongan dewa. Akhirnya, Sri Rama percaya bahwa istrinya masih suci, kemudian mereka hidup bahagia. Pementasan pun selesai dan banyak dari penonton yang menyukainya.
Kami semua berpindah ke balik panggung dan merayakan kesuksesan pementasan kami. Virga yang masih sakit perut pun tetap ikut merayakan. Kami semua puas, terlebih aku. Walaupun hanya di bagian akhir cerita aku menjadi Dewi Shinta, aku merasa sangat senang.
Saat kami masing- masing sedang sibuk membersihkan riasan dan melipat kostum, Iqbal datang padaku dan membawakanku minuman isotonik kesukaanku. “Untukmu,” katanya, “kamu benar- benar sangat ekspresif.”
Aku menatapnya sebentar kemudian mengambil botol itu dan berterimakasih padanya. “Aku tahu kamu akan percaya kalau aku juga pantas menjadi Dewi Shinta.”
Iqbal duduk di sampingku dan menjawab, “Iya, kamu udah ngebuktiin itu pas kamu lompat ke dalam api tadi.”
“Untungnya aku nggak perlu lompat ke dalam api beneran,” kataku dengan dilanjutkan tertawa pendek.
Iqbal tersenyum mendengar ucapanku. “Tapi bagiku kamu lebih mirip kijangnya,” katanya sambil menatapku.
Aku menghela nafas, “Apa- apain, sih? Jangan mulai lagi, deh.”
“Enggak kok, yang ini beneran,” ucap Iqbal dengan nada meyakinkan, “kamu lincah, kamu punya semangat buat nunjukkin kamu mampu. Terlebih, kamu udah berhasil buat aku ngejar kamu, tapi kamu nggak bisa kudapatin. Kamu malah berubah jadi jin.”
“Kamu ngomongin aku atau kijangnya?” tanyaku belum mengerti.
Iqbal menepuk jidatnya dan menghela nafas panjang, “Tahu nggak, sih, kamu selalu mengalihkan perhatianku? Apalagi saat kamu jadi kijang tadi, kamu bener- bener udah bikin aku buat kejar kamu. Sama kayak kenyataannya, akhirnya aku juga nggak mendapatkanmu.”
“Kamu yakin?” tanyaku. Aku tidak tahu harus merespon apa karena hanya ingatan tentang drama tadi yang kuingat sekarang. Aku berlari dan menggodanya untuk mendapatkanku.
“Apa aku harus lompat ke dalam api juga?” tanya Iqbal saking gemesnya padaku.
“Kamu kan bukan Dewi Shinta!” seruku sambil menepuk tangannya yang bersedaku di meja.
Dengan cepat Iqbal meraih tanganku dan menggenggamnya seperti tadi saat di panggung. “Aku udah mencoba untuk nggak menspesialkanmu di teater ini dan nggak berpihak sama kamu dalam pemilihan tokoh utama. Aku pikir kamu akan ngerti dengan begitu kamu bisa berubah pikiran dan terima aku. Sayangnya, ini malah bikin kamu berpikir bahwa aku nggak adil dan menganak-tirikanmu,” Iqbal berhenti sejenak dan menarik nafas dalam- dalam, “Hera, tolong percaya sama aku kalau aku bisa memposisikan semua ini dengan benar. Aku sayang sama kamu, sangat sayang sama kamu. Jadi, percayalah.”
Dadaku sesak, panas, dan bergemuruh. Mataku pun panas dan nenar. Aku hanya menggangguk tanpa berkata apa- apa. Aku sungguh ingin semuanya menjadi baik- baik saja setelah ini. Aku rasa inilah resolution di dramaku sendiri.
***The End***

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review