Kamis, 06 Maret 2014

Cerita Kampus - Hingga Ujung Waktu

Diposting oleh nupp_niput di Kamis, Maret 06, 2014
Aku tidak tahu kita bermula darimana. Kita bertemu dengan tanpa sengaja dan merasakan sesuatu. Aku selalu kembali ke tempat itu, berharap aku akan bertemu denganmu, dengan tanpa sengaja pula. Aku menunggu, begitu jugakah kamu?
Cuaca siang hari ini cerah sehingga membuatku memicingkan mata untuk melihat ke arah depan. Silau menyambut pandanganku ketika turun dari bus. Aku berjalan sambil menutupi jidatku dengan tangan, melindungi pandanganku. Aku berjalan menuju shelter bus trans dan melanjutkan perjalanan lagi.
Antrean penumpang sangat ramai, tapi aku masih dapat masuk ke dalam bus sehingga tidak perlu menunggu bus lain lagi yang datang. Kugelantungkan tanganku dan berpegangan pada tiang untuk menjaga keseimbangan. Jejeran toko- toko dan rumah- rumah warga menghiasi keramaian Kota Jogja di terik siang ini. Ketika bus yang kutumpangi melintasi kawasan Universitas Gajah Mada, memoriku kembali singgah dengan sosokku yang sedang berjalan dideretan rumah- rumah kos kemudian berhenti di sebuah bangunan dengan tanaman rambat ketika seorang mahasiswa Universitas itu menghentikan motornya di depanku.
Sekali lagi aku datang kemari untuk menjemput sesuatu. Kepastian.
g
Sosok gadis beralis tebal menyambutku di warung bubur ijo. Ia memang sedang menungguku disitu. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihatku tiba.
“Akhirnya!” serunya.
Aku memeluk Sisi, adikku, yang selanjutnya kami berdua berjalan menuju kosnya. Ia membantuku membawakan beberapa kantong plastik berisi jajanan untuk kami. Setibanya di kamar kos Sisi, aku meletakkan tas punggungku dan merebahkan tubuhku.
“Beruntung beberapa bulan lalu mbak udah beliin aku kipas!” serunya sambil menyalakan kipas angin.
“Iyalah, kalau enggak, bakal mati kepanasan kayak cacing kita!” seruku menimpali sambil tertawa.
“Untung aja mama mau kasih uangnya,” ujarnya yang kemudian merebahkan dirinya di sampingku, “tapi kasihan mama juga, pengeluarannya nambah karena kita sama- sama kos, kan, mbak?”
“Biarin, deh,” jawabku, “abis aku keterima kuliahnya di Solo, sih.”
“Tapi, mama tahu nggak, mbak, kalau mbak kesini?” tanya Sisi.
“Tahu kok, makanya aku dikasih uang lagi,” jawabku santai, “buat kita berdua.”
“Beneran?” tanya Sisi sambil bangkit dan memastikan apa yang kukatakan. Wajahnya nampak senang ketika aku meyakinkan dia. Tiba- tiba dia berseru, “Shoppiiiingg!!”
g
Budaya konsumtifku dan adikku sangat menggila. Kami sama- sama boros dan kalap, tapi untuk barang- barang tertentu seperti novel, aksesoris, dan makanan.
Belum sempat aku tidur siang karena baru saja tiba di Jogja, Sisi sudah mengajakku untuk pergi ke Taman Sari, istana air milik Keraton Jogja yang berada di Keraton Selatan. Untuk menuju kesana cukup sulit karena kami tidak membawa kendaraan pribadi, sehingga kami harus menggunakan transportasi umum.
Pertama, kami harus naik bus trans menuju Malioboro, kemudian dari situ Sisi memaksa untuk menggunakan dokar menuju Taman Sari. Aku cukup lelah hari ini, tapi tujuanku kemari memang bukan untuk berlibur dan beristirahat dari rutinitas perkuliahan –– bahkan aku membawa beberapa tugasku kemari.
Selama perjalanan menuju Malioboro, aku duduk di dalam bus sambil mengulang kembali rekaman kenanganku bersama Rio, pemuda asal Sumatra Utara yang berkuliah di Jogja. Jalanan ini pernah kami susuri berdua menuju ke tempat- tempat yang menjadi saksi bisu munculnya perasaanku padanya.
Adikku mencolek lenganku ketika kami melewati toko es krim yang pernah kukunjungi bersama Rio. “Mbak Nesa, lihat tuuuh.”
Aku tersenyum singkat melihatnya menggodaiku. Kepalanya yang ia sandarkan di bahuku membuat kerudungku miring dan kesempatan ini kubalas untuk memiringkan kerudungnya karena ia menggodaiku.
“Dulu waktu mbak Nesa kesitu sama dia juga pake kerudung soft pink ini, kan?” celetuknya lagi.
“Apaan sih,” jawabku sambil malu- malu. Kutarik beberapa juntai alis tebalnya hingga ia mengaduh.
Sisi tetap saja menggodaiku. Tapi, sejujurnya, aku menikmati setiap kata yang membuat perutku tergelitik karena pertemuanku bersama Rio disitu.
g
“Fotoin aku dulu dong!” seruku kepada Kak Rick.
“Nggak mau, kamu fotoin aku dulu. Buruan! Mumpung dia masih disitu, Nes!” seru Kak Rick.
Dua temanku yang lainnya tidak membantuku untuk memenuhi kemauan Kak Rick. Mereka malah berdiri agak jauh dari kami dan menertawai nasibku. Dengan kesal aku menekan tombol di kameraku dan mendapati wajah kekanak- kanakan Kak Rick yang sedang jatuh cinta pada salah satu peserta seminar Eco-Youth di Jogja. Bagiku, tampang tololnya semakin memuakkan ketika gadis yang menjadi targetnya mau diajak foto bersama.
Di lain pihak, aku juga ingin di foto di jajaran pot besar di sisi kolam di Taman Sari. View yang kudapat disitu sangat bagus dan terlihat seperti bukan di Indonesia. Aku ingin berfoto disitu karena lumayan sepi sehingga tidak ada orang yang lewat kesana kemari dan merusak fotoku.
Setelah ia puas berfoto dengan gadis dari Bandung itu, Kak Rick malah pergi bersamanya dan tidak menepati janjinya untuk memotretku. Bibirku manyun seburuk bebek karena jengkel pada Kak Rick.
Kusandarkan tubuhku di tembok yang tinggi di depan kolam sambil memotret apapun untuk menghilangkan kejenuhanku. Kugeser kameraku dari kiri ke kanan untuk mendapat objek yang kupotret.
Aku sedikit tersentak ketika kameraku menangkap objek di sebelah kananku. Seorang laki- laki yang cukup tampan dan lebih tinggi sepuluh sentimeter dariku sedang berdiri di depan kameraku. Rambut jambulnya bergerak pelan mengikuti angin yang berhembus. Alisnya tebal dan mata tajamnya menatapku lembut. Sekali, dua kali, tiga kali kujepretkan kameraku ke arahnya.
“Mau kubantu?” tanyanya.
Kuturunkan kameraku dan balik bertanya, “Maaf, bantu apa, ya?”
Tutur katanya sopan dan berniat membantu, ia bukan tipikal orang jahat. Ia hanya ingin menolongku untuk memotretku di deretan pot- pot besar di tepi kolam. Ia berkata jujur bahwa ia memperhatikanku dan Kak Rick yang saling berebut untuk difoto. Aku yakin kami terlihat sangat konyol seperti anak kecil tadi.
Mengingat tidak ada orang lain yang bisa kuandalkan, aku setuju dengan tawaran pemuda dengan rambut menari itu. Ia memotretku beberapa kali di pot besar dan juga di dinding tempatku bersandar tadi.
Setelah sesi foto- foto, aku diajaknya berjalan- jalan di area Taman Sari. Ia menerangkan setiap bagian di taman ini seperti pemandu tour. Tempat yang menjadi favoritku seketika adalah bagian bangunan yang dulunya tempat mandi para selir Raja. Konon, jika ada yang merendamkan kakinya di kolam itu, maka orang itu akan cepat menemukan jodoh dan akan langgeng dengan pasangannya.
Bagiku, mitos- mitos dan legenda sama halnya seperti dongeng, dan aku menyukai hal itu serta yakin dengan hal itu selama yang diramalkan adalah hal- hal baik. Alas kakiku kulepas dan aku meraih tangan pemuda itu yang bernama Rio yang juga peserta seminar Eco-Youth. Kami sama- sama merendam kaki disitu dan ia beberapa kali memotretku. Sesekali aku meminta pengunjung lain untuk memotret kami untuk kenang- kenangan.
Aku sangat senang dengan kegiatan hari terakhir di seminar Eco-Youth ini. Walaupun Kak Rick sempat membuatku jengkel, ternyata datang Rio yang membuat hari ini bukan hari yang pantas untuk dilupakan.
Di akhir pertemuanku dengan Rio, saat kami kembali ke kamar hotel masing- masing, ia meminta nomor ponselku dengan setengah ragu seolah- olah aku tidak akan memberikan nomorku padanya. Namun, wajahnya terlihat lega setelah kuketikkan dua belas digit nomor di ponselnya dan kami pun berpisah di depan lift hotel.
g
“Kita pakai dokar yang itu aja, ya, mbak!” seru Sisi sambil menarik- narik lenganku ketika kami turun dari bus trans di shelter Malioboro.
Sebenarnya, mau minta pendapatpun percuma karena Sisi akan tetap menarikku ke dokar yang ia pilih. Setelah bernegosiasi harga dengan pemilik dokar, aku dan Sisi langsung duduk di kursi penumpang.
Jalanan yang kutelusuri bersama Sisi menuju Taman Sari ini adalah jalan yang dulu pernah aku dan Rio telusuri juga. Aku dan Rio pernah sholat di masjid di kiri jalan dekat gedung pemerintah, tapi entah apa itu. Sepanjang jalan emperan Malioboro juga merekam kebersamaanku dengan Rio. Kemudian tempat duduk di depan Monumen Serangan Satu Maret juga mengingatkanku untuk pertama kalinya menggambar wajahnya, dengan tanganku sendiri, bukan melalui kamera.
“Mbak yakin kali ini bakal ketemu dia disana?” tanya Sisi yang mendapatiku sedang putus asa mengingat setiap tempat dimana aku dan Rio menghabiskan waktu.
“Siapa yang tahu, Si?” tanyaku balik.
“Tapi, mbak Nesa udah tiga kali ini, lho, datang kesini cuman buat mau ketemu dia tanpa kasih kabar ke dia lewat sms ataupun sosial media,” kata Sisi.
“Kalau kami punya insting yang sama, kami bakal ketemu tanpa harus kasih kabar kok, Si,” responku membela diri.
“Jangan bilang kalau jodoh itu nggak bakal kemana, deh, mbak. Dua kali, bahkan tiga kali ini mungkin, mbak ke Taman Sari, ke Toko es krim yang tadi, ke Malioboro, sama kemana lagi, hasilnya tetep aja, kan, nggak ketemu dia? Setahun ini, lho, mbak, setahun ini. Mbak apa nggak capek sama hal yang nggak pasti ini?” cerocos Sisi.
Bukan aku mengelak menerima kenyataan bahwa dua kali lalu kedatanganku ke Jogja memang sia- sia semenjak aku merasa bahwa Rio benar- benar setengah sayap untukku, hidupku. Tapi, bukan berarti yang ini akan sama sia- sianya dengan yang lalu.
Sisi akhirnya diam dengan tangan bersedaku dan punggungnya bersandar di sandaran kursi dokar. Kulihat raut wajahnya sama khawatirnya dengan perasaanku. Aku tahu ia adik yang baik walaupun terkadang menyebalkan, tapi aku berusaha menutupi setiap ekspresi yang menandakan aku benar- benar ingin bertemu Rio.
g
“Bapaknya tadi sampai hafal, ya, mbak?” komentar Sisi saat kami memasuki area Taman Sari.
Aku tahu pernyataan itu, dengan nada seperti yang kudengar barusan, bukan bermaksud untuk berpendapat saja. Sisi mencoba menyindirku karena aku sudah datang kemari tiga kali ini dengan buku gambar yang kubawa dan hasil yang sama. Mungkin. Sore ini adalah jawabannya.
Aku duduk di pojok kolam di sudut yang cukup adem dan tidak silau cahaya matahari sore. Aku dan Sisi berada di bagian tempat mandi para selir raja di istana air Taman Sari. Kami mulai membuka lembar buku gambar kami dan mulai menggambar apapun yang pantas menjadi objek kami. Terkadang, kami tidak menggambar apa yang di depan kami, kami hanya butuh tempat dan inspirasi untuk menggambar. Salah satu tempat dimana inspirasi kami mengalir adalah bagian istana air yang satu ini.
Dalam kurun waktu lima belas menit, aku dan Sisi sudah menyelesaikan satu gambar. Kami pun saling menukar buku dan mengomentari masing- masing gambar. Kulihat Sisi membuka bukuku dari lembar awal dan menemukan wajah Rio hasil goresan tanganku di setiap lembarnya.
“Aku nggak tahu kalau Mbak Nesa secinta ini sama Rio,” katanya sambil mengembalikan bukuku. “Okelah, kayaknya aku mau pindah tempat, mbak masih mau disini?”
Kurasakan mataku terasa pedas dan air mata memenuhi mataku ketika mendengar komentar Sisi. Aku seketika menunduk dan membuka buku gambarku, mencoba menyembunyikan retakan rasa kecewa pada diriku sendiri dari Sisi.
“Aku nanti nyusul kamu, sms aja kamu dimana, ya!” kataku sambil memulai menggesekkan ujung pensil di kertas gambarku.
Kudengar langkah Sisi menjauhiku, baru aku berani mendongak dan melihat punggungnya menghilang dari peredaran pandanganku. Kuusap air mataku yang mengalir lembut di pipiku dan membuat panas tubuhku meningkat beberapa derajat. Kualihkan pandanganku ke objek yang bukan kumaksudkan sebagai objek gambarku karena hanya satu objek di dalam kepalaku yang selalu ingin kugambar. Rio.
g
Aku berjalan di gang yang kanan kirinya merupakan bangunan kos tingkat dua dengan taman kecil yang menghiasi setiap bangunan. Pandanganku lurus ke depan sambil membayangkan bagaimana wajah Rio sekarang ini.
Aku menghentikan langkahku di depan bangunan kos yang memiliki tumbuhan rambat di dindingnya dan merayap ke pohon yang ada di depannya. Setiap akarnya yang merayap memiliki cabang lain dan ditumbuhi daun serta bunga berwarna putih. Laki- laki yang mengenakan masker penutup mulut menghentikan motornya di depanku. Ketika ia membuka masker dan tutup helmnya, senyum laki- laki itu menimbulkan letusan kembang api di kepalaku. Reaksi yang kuberikan sama antusiasnya dengan letusan kembang api itu.
“Nesa,” sapanya sambil tersenyum padaku.
“Rio,” balasku dan membalas senyumnya.
Aku mungkin akan tetap terus terdiam menikmati garis wajahnya yang tegas kecuali Rio menyodorkan helm kepadaku dan menyuruhku segera naik ke motornya. Hari ini Rio mengajakku jalan- jalan mengelilingi Jogja karena aku sedang berlibur disini. Sebenarnya aku tidak mau merepotkannya, tapi mumpung aku disini dan ia menawari maka aku mengiyakan ajakannya.
Destinasi pertama di siang ini adalah toko es krim. Setibanya kami disana, Rio memintaku untuk memilih tempat duduk. Kupilih meja nomor 18 yang dekat dengan wastafel dan berhadapan langsung dengan taman toko es krim itu. Rio datang dengan membawa menu dan bercanda seolah ia adalah pramuniaga di toko itu. Kubiarkan Rio memilih pesanannya dulu baru aku yang memesan. Setelah itu, kami menunggu pesanan datang sambil bertukar kabar selama kami tidak bertemu beberapa bulan setelah seminar Eco-Youth.
Aku begitu menikmati setiap detik pembicaraan dengan Rio, walaupun terkadang Rio terlihat salah tingkah dan tidak mengatakan sepatah katapun, sehingga aku harus memulai pembicaraan dan ia baru menanggapi. Sedetik, aku merasa yang kulakukan dengannya hari ini seperti sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang mungkin akan membuatku senang, tapi juga menyesal. Es krim coklatku yang sudah datang dan kumakan habis tidak membantuku untuk melegakan perasaan mengganjal ini. Aku tetap menampung perasaan mengganjal ini hingga kami melanjutkan destinasi ke Malioboro.
Aku begitu tertarik dengan hal- hal baru yang kulihat di pemandangan kanan kiriku selama perjalanan menuju Malioboro. Stadion olah raga, jejeran toko- toko, dan bangunan- bangunan lainnya membuatku mengurangi rasa bosan dengan pemandangan yang kulihat setiap hari di Solo.
Setibanya kami di kawasan Malioboro, Rio mengajakku untuk singgah beribadah dulu di masjid dekat kami memarkirkan motor, baru setelah itu kami menyebrang ke sisi jalan untuk memuaskan mata melihat pernak- pernik yang di jual di emperan toko sepanjang Malioboro.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku memanas otomatis ketika Rio bergerak gesit ke sebelah kananku dan merangkul bahuku saat kami menyebrang. Nafasku begitu tidak teratur saat menyadari aku sangat dekat dengan Rio. Tangannya yang merangkulku seperti sayap yang menghangatkanku, membuatku berkeringat dingin, tapi kurasakan pipiku memanas, hanya aku berharap Rio tidak mendapatiku sedang tersipu malu karenanya.
Sukses membuatku senang sesaat, Rio pun melepaskan rangkulannya ketika kami sudah menyebrang, membuatku gemas dan merutuki jalanannya yang tidak lebar. Setelah itu, semua berjalan normal seperti biasa. Rio kembali diam dan menungguku untuk mengajaknya bicara walau kadang- kadang ia menawariku barang- barang yang menurutnya aku suka.
Perjalanan sepanjang Malioboro ini ingin segera kuakhiri karena Rio tidak bersikap manis lagi seperti tadi saat kami menyebrang. Raut wajahku mungkin terlihat sangat loyo sehingga Rio berkata, “Kamu capek? Ayo duduk disana, mumpung nggak panas- panas banget kalau jam lima.”
Aku mengikuti arah jari Rio menunjuk dan mendapati tempat duduk di taman depan Monumen Serangan Satu Maret. Aku tersenyum senang dan menyetujui ajakan Rio. Untuk menuju kesana, kami harus menyebrang lagi. Dan saat kami menyebrang, Rio akan bersikap perhatian lagi padaku.
Cara curang ini begitu membuatku terlena dan menggelitik perutku, tapi perasaan mengganjal itu tiba lagi. Aku merasa sangat bersalah saat aku merasa senang di dekatnya. Namun, kutepis segera perasaan itu saat kami menyebrang dan Rio memperlakukan hal yang sama seperti tadi padaku.
Perasaan bersalah tadi masih muncul dalam hatiku, tapi aku mencoba untuk merasa santai dan tidak berpikir macam- macam. Kami duduk di dekat pohon tinggi yang membuat kami merasa adem. Seketika, naluri menggambarku muncul dan kutawarkan pada Rio untuk kugambar.
“Aku mau asalkan aku kelihatan cakep digambarmu,” ucapnya menyetujui.
“Aku bakal ngelakuin apapun kalau kamu nggak kelihatan cakep di gambarku,” balasku sambil tersenyum dan mulai bekerja. Kugoreskan pensilku di kertas gambar dan membentuk setiap detail wajah Rio dan tubuhnya. Kunikmati setiap detail yang ada dirinya hingga goresan terakhir berupa tanda tanganku yang terletak di pojok kanan bawah kertas.
g
Kuedarkan pandanganku ke penjuru area demi menemukan dimana Sisi berada hingga akhirnya kutemukan sosok mungilnya yang sedang menggambar gadis bule berusia 6 tahunan. Kudekati adikku dan tersenyum ramah pada orangtua gadis kecil bule itu.
“Mbak udah selesai?” tanya Sisi ketika ia sudah selesai menggambar dan memberikan hasilnya pada gadis itu, “Maaf, ya nunggu lama. Aku, kan, nggak fasih bahasa inggris, aku takut kalau nolak permintaan bulenya malah ditanya macem- macem.”
Aku tertawa mendengar alasan adikku. Ia memang kurang fasih dalam pronounciationnya, tapi secara umum ia dapat berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa inggris. “Kamu dapat duit nggak?”
“Tadinya aku mau dibayar, tapi aku tolak, lah. Gambarku belum sempurna, dia udah bilang aku artist, artist,” ujarnya sambil kami berjalan menuju dokar pesanan kami untuk kembali ke Malioboro.
“Tadi aku juga ngobrol sebentar sama orangtuanya, dia juga panggil aku artist, artist. Kayak dia nggak pernah lihat orang lagi gambar,” kataku.
Kami masih melanjutkan percakapan tentang keluarga bule tadi selama perjalanan menuju Malioboro. Kemudian disambung objek apa saja yang sudah kami gambar. Sisi hanya menghela nafas ketika aku berkata hanya Rio yang kugambar. Rio versi sketsa, versi cartoon, dan versi anime. Walaupun belum bisa dikatakan bagus, tapi aku ingin membuat Rio tetap terlihat bagus dalam versi apapun, yang sebenarnya aku lebih suka Rio versi aslinya.
Rio, Rio, dan Rio selama perjalanan menuju Malioboro membuat pikiranku terusik atas perasaan bersalah yang pernah kurasakan saat di dekatnya. Aku merasa takut dan merasa bersamanya bukan hal yang terbaik. Tapi, sampai sejauh ini, aku masih menunggu di balik pintu hanya untuknya.
Aku meminta kepada kusir untuk menurunkan kami di perempatan dekat Museum Benteng Vredeburg dan melanjutkan perjalanan menuju shelter 3 dengan berjalan kaki. Suasana senja di Malioboro sangat khas dan menyenangkan dengan aktifitas pengunjung dan dihibur orkes Malioboro, membuatku berpikir dua atau tiga kali untuk kembali ke kos.
Aku berhenti tepat di sebrang dimana aku melukis Rio sore itu. Sisi bertanya padaku, “Ada apa, mbak?”
Selama aku kembali ke Jogja hanya agar bertemu Rio tanpa memberitahunya, aku belum pernah mengunjungi tempat duduk di depan Monumen Serangan Satu Maret karena setelah dari Malioboro dan ke Taman Sari, kemudian aku merasa lelah dan pulang ke kos.
Kali ini aku berniat untuk mengunjungi tempat itu. Aku menyuruh Sisi untuk pulang dulu dan meyakinkan bahwa aku baik- baik saja serta akan segera pulang. Setelahnya, aku berjalan menuju tempat itu, menyebrang sendirian dengan rasa was- was, tapi lega ketika aku sampai di sebrang jalan dan berjalan menuju tempat duduk dimana aku menggambar Rio.
Semua bangku sudah dipenuhi oleh pengunjung lain. Aku berdiri seperti orang linglung yang tidak tahu harus kemana. Kulihat di sebelah kiriku banyak anak- anak muda lainnya sedang duduk di lantai di tepi pagar taman monumen. Tanpa pikir panjang, kucari tempat yang kosong dan duduk disana.
Untuk sepersekian detik aku seperti orang linglung lagi hingga akhirnya kuputuskan untuk mengambil buku gambarku dan mulai menggambar lagi. Kugoreskan pensilku ke kertas gambar hingga terlukis lagi wajah baru Rio yang sedang melihat ke arah kanan, sama seperti view yang kulihat saat kami menyebrang.
Sinar matahari senja meredupkan fokusku, tapi bukan itu yang menggangguku. Beberapa kali blitz kamera memantul ke arahku. Ketika aku melihat ke arah siapa yang memotret, kutemukan seseorang yang kukenal dan membuatku terkejut sedang berjongkok hanya beberapa sentimeter di depanku sambil tersenyum dan membawa kamera di tangannya.
“Akhirnya,” ucapnya dengan nada lega seperti telah menemukan kalung potongan puzzle yang hilang.
“Rio!” seruku sambil membelalakkan mata. Secara reflek, tanganku mengayun dan mengalungkannya ke leher Rio. Air mataku membuat tubuhku memanas dan darahku mendidih saat memeluknya. Seketika, aku tersadar jika yang kulakukan ini terlihat aneh bagi Rio mengingat kami hanya berteman biasa, bukan siapa- siapa, hanya teman.
Kulepaskan pelukanku dan kuhapus air mataku. Wajah kami sama- sama bingung, namun lebih parahnya, darah panas berpusara di pipiku sehingga pipiku memerah. “Maaf!” seruku seketika sambil menunduk dan memeluk buku gambarku.
“Kalau kamu peluk seperti itu, bukunya bakal rusak, gambarku juga pasti rusak,” ucapnya ketika hampir beberapa detik kami larut dalam diam.
Rio mengambil bukuku dan membukanya dari lembar pertama. Aku masih tertunduk malu dan belum menyadari bahwa Rio sedang mengeksekusi hasil karyaku.
“Kenapa selama ini kamu diam?” tanya Rio sambil mengangkat daguku pelan.
Pandanganku terarah pada setiap lukisan yang kugambar di bukuku yang sekarang berada di tangan Rio. Aku membulatkan mulutku tidak percaya dan bertambah malu sehingga kututup wajahku dengan kedua tanganku.
Dengan pelan, malu- malu, dan keberanian yang terpaksa, aku menjelaskan kepada Rio bahwa aku menyukainya sejak ia mengajakku berkencan beberapa bulan lalu. Kujelaskan bagaimana aku menyukainya dengan segala sifatnya yang terkadang perhatian dan terkadang cuek saat kami berkencan. Kuceritakan pula bagaimana aku memendam perasaan ini, menunggunya untuk bertanya apakah aku menyukainya, dan menantinya di setiap sudut Kota Jogja yang dulu pernah kami telusuri ketika aku datang kemari.
Untuk sesaat setelah aku menjelaskan semuanya, kami berada dalam diam. Namun sinar matahari senja yang menyirami kami menghapus semua kesengsaraan ketika Rio menarik nafas dalam- dalam dan akhirnya berkata, “Butuh waktu buatku supaya berani untuk jujur sama kamu sejak dari kita bertemu pertama kali. Butuh waktu juga buatku untuk nunggu kamu datang kemari. Selama ini aku juga selalu pergi ke tempat dimana kita pergi dulu, tapi hanya disini, menurutku, dimana kita bakal ketemu. Karena disinilah aku benar- benar yakin sama perasaanku, Nes, saat kamu lukis aku untuk pertama kalinya. Dan akhirnya, butuh waktu juga biar kamu ada disini.”
Perasaan bersalah yang selama ini mengusikku roboh seperti Tembok Berlin ketika aku mendengar penjelasannya dan menatap raut keseriusannya. Perasaan bersalah itu, menurutku, adalah perasaan dimana aku mulai jatuh cinta padanya, namun ada ketakutanku untuk mengungkapkannya dan malah membiarkannya tumbuh menjadi duri, mengusikku.
Namun, yang kulihat kini adalah potret dari semua lukisanku, gambarku, yang ada di buku menjadi sebuah objek nyata yang bisa kumiliki tanpa adanya rasanya bersalah lagi.
Akhirnya.
g
  Inspired by Hingga Ujung Waktu - Sheila On 7
Niput,

17/04/13/21:36

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review