Dear
diary, aku nggak tahu harus bercerita pada siapa lagi kalau bukan denganmu,
tulisanku sendiri. Sebenarnya, aku nggak mau menodai catatan- catatan harianku
ini dengan cerita yang suram, apalagi cerita cinta. Seharusnya, aku
membiarkanmu menjadi sebuah buku dengan kenangan- kenanganku yang menyenangkan.
Tapi, aku sangat kecewa dan hanya kau yang bisa menjadi tempat curahan hatiku.
Dear diary...
Liburan empat
hari ini cukup membuatku senang, tapi juga kecewa. Aku senang kalau libur. Hey,
siapa yang nggak suka hari libur? Aku! Arghh! Aku gusar kalau harus tahu akan
ada kelas pengganti jika ada hari libur di tengah- tengah jadwal akademik.
Sebentar- sebentar libur, sebentar- sebentar masuk. Benar- benar kecewa.
Tapi, yang
namanya liburan memang harus dinikmati. Maka dari itu aku pulang kampung dimana
orangtuaku berada. Setelah satu jam perjalanan dengan mengendarai motor, aku
pun sampai di rumah. Yang lebih menyenangkan, sepupuku Airin sudah stand by
di kamarku ketika kubuka pintu kamar.
“Hai!!” serunya
saat melihatku. Ia berhambur padaku dan berkata, “Tega banget nggak jadi ke
Jogja! Tahu nggak, sih, aku udah nunggu- nunggu. Aku udah cerita sama temen-
temen kampusku kalau mbak Naira mau dateng! Ternyata apa? Mbak malah nggak
jadi!”
Dahiku mengkerut
dan memjawab pembelaanku, “Hey, kenapa nggak bilang apa kabar dulu? Apa sapa
gimana? Masak iya aku baru dateng kamu udah nyinyir gini gitu? Kamu tahu nggak,
sih, kenapa aku nggak jadi ke Jogja? Nggak tahu kan? Mau tahu kan? Makanya,
nanti malem tidur sini aja, kita curhat- curhat lagi!”
Wajah Airin
sumringah bukan kepalang. Sudah tradisi kalau kami bertemu, kami akan
menceritakan apa yang terjadi selama kami nggak bertemu. Yaa, bisa saja kami
menceritakan masalah kuliah, tetangga, teman, dan pasti orang yang disukai,
orang yang lagi dekat, dan atau apalah mereka seharusnya disebut.
Airin membawa
tasku yang berisi buku dan beberapa baju. Sebenarnya disini masih banyak baju,
tapi aku ingin saja membawa baju yang baru saja kubeli. Maklum, kebiasaan ini
nggak hilang dari SMA. Aku juga membawa beberapa gelang dan kalung yang sama
untuk kubagikan dengan Airin, Lunpia khas Semarang yang kubeli dekat kampus
untuk orangtuaku, dan aku nggak membawa apapun untuk adik laki- lakiku. Ia
laki- laki manja yang menyebalkan. Lunpia saja sudah cukup untuknya.
Mama masuk ke
kamar ketika aku dan Airin sedang menggeledah barang bawaanku. Ia berkata, “Ayo
makan. Airin juga.”
“Iya, budhe,”
katanya lalu meninggalkan pernak- pernik kami. Kalau makan saja langsung
datang, batinku.
Aku mengikuti
Airin dari belakang menuju ruang makan sambil bertanya pada mama, “Masak apa,
nih?”
“Sambal terong
sama sosis,” jawab mama yang berjalan menuju dapur.
Ini nggak bisa
ditunda- tunda! Makanan favoritku!!!
¯¯¯
Aku baru saja
pulang dari mini market membeli coklat instan pesanan Airin serta jajanan untuk
dicemil. Aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sedang mendengarkan lagu- lagu
korea dari ponselnya sambil berjoget- joget.
“I don’t need
a man, I don’t a man!” serunya sambil berjoget ala Miss A.
“Jinjja?”
sambungku, mengagetkannya.
“Eh, dah sampe?
Coklatnya ada?” tanya Airin sambil menggeledah isi kantong plastik, “Nah,
ketemu!”
Yup, nggak perlu
dijawab, kemudian aku menyuruhnya untuk membuat dua gelas coklat instan dan ia
menurut. Ketika Airin pergi, aku menoleh ke arah jendela yang belum ditutup.
Aku mendekati jendela dan mendapati origami yang bergantung disitu. Origami itu
semuanya yang membuat adalah Surya, temanku satu kampus yang ternyata asli
orang sini pula. Rumahnya pun nggak jauh- jauh dari kompleks perumahanku.
Walaupun begitu, kami nggak pernah bertemu kalau aku pulang ke rumah. Bahkan,
di kampusku pun jarang. Entah kemana ia, ia seperti asap yang kesana kemari
tanpa pemberitahuan.
Aku memandangi
taman belakang rumah dengan pohon mangga yang cukup rindang, dibawahnya ada
tempat duduk untuk barbeqiu-an, dan disepanjang dekat dinding ada banyak jenis
tanaman dan bunga favoritku. Orangtuaku pandai betul menyuapku dengan
pemandangan indah seperti ini saat aku melihat ke luar jendela. Mereka harus
melakukan strategi jitu betul untuk membuatku ikut pindah kesini. Walaupun agak
sulit, akhirnya aku mengerti kami harus pindah.
Kupandangi foto
teman- teman masa kecilku yang ada di rak foto. Semuanya sangat gembira. Aku,
Ian, Kiran, Jingga, si kembar Dion-Doni, dan Reva sudah bersahabat sejak kecil
walau umur kami berbeda satu sama lain. Alasanku nggak mau pindah karena aku
nggak mau berpisah dengan mereka. Tapi, mama bilang kalau kondisi eyang sudah
nggak sesehat dulu dan mama ingin kami lebih dekat dengan eyang, maka dari itu
mama membeli rumah di perumahan yang nggak jauh *padahal jauh, menurutku* dari
rumah eyang.
Awalnya keadaan
mempersulitku karena aku harus mulai tinggal di kost. Kemudian, setiap weekend
aku harus pulang dan menempuh hujan ataupun panas selama satu jam agar sampai.
Parahnya, aku nggak terbiasa jauh dari mama. Hal itu membuatku sedih dan jika
aku sedang butuh seseorang untuk kucurhati, aku nggak bisa lari ke salah satu
temanku yang kusebutkan tadi. Tapi, aku punya sebuah diary yang kudapat gratis
dari membeli boneka, jadi aku cukup nggak kesepian, walaupun juga aku masih
punya orang kepercayaan di kampus.
Suara pintu
berderek ketika Airin datang membawa dua gelas coklat panas. “Masih panas,
tunggu dulu, yaa, sambil cerita- cerita.”
Aku tersenyum dan
melompat ke ranjang. Aku menepuk- nepuk tempat di sampingku yang kosong dan
setelah Airin meletakkan coklat di meja dekat ranjang, ia pun melompat ke
sampingku.
“Jadi?” tanyanya
mulai mengeksekusi.
Aku menarik nafas
panjang dan mengeluarkan selembar foto dari laci. “Karena dia, aku nggak jadi
berangkat ke Jogja,” kataku sambil tersenyum malu- malu, memulai pembelaanku.
“Ihirrr!” serunya
meledekku.
“Gimana?” tanyaku
meminta pendapat.
“Lumayan. Cuman,
dia sedikit berantakan di... kamu tahu, kan, mbak?” Airin memutar- mutar
telunjukknya di rambutnya.
“Aaah, yaa, aku
tahu, dia memang gitu. Foto itu aku ambil saat dia lagi manggung, jadi itu
hanya properti,” kataku menjelaskan rambut laki- laki yang ada di foto, Surya
dengan rambut warna ungu, hijau, biru, dan merah saat pentas di kampus dengan
tema Candy Lover Taman Ceria yang menurutku aneh saja untuk pentas
ukuran mahasiswa.
“Jadi, gara- gara
ini?” tanya Airin, “Gara- gara acara ini?”
“Bukaan, ini
acara emang udah lama,” kataku, “acara yang kemarin itu pas dia sama band-nya
jadi bintang tamu di teater kampus. Dia sama temen- temennya, walaupun bukan
pemeran utama, ikut main di teater itu. Awalnya aku nggak mau dateng, tapi
karena dia yang minta aku nonton, yaa akhirnya aku dateng, deh. Maaf, yaa.”
“Jadi, dia orang
penting yang mau mbak Naira ceritain?” tanya Airin.
Aku mengangguk
malu- malu.
“Kok bisa suka,
sih, sama orang kayak gitu?” tanya Airin, “Kayaknya bukan tipe mbak banget,
deh!”
Aku berpikir
sejenak, “Mmm, aku nggak tahu juga, sih, perasaan ini ngalir gitu aja. Aku
nyaman kalau sama dia, walaupun dia sering ngejek- ngejek aku. Ngejek ini,
ngejek itu, tapi dia jujur, lho! Nggak pernah bohongin aku. Dia jujur banget
kalau dia nggak punya uang, dia jujur banget kalau dia sering bolos kuliah,
dia...pokoknya jujur! Apa adanya, deh. Beda sama yang lain- lain. Kalau yang
dulu- dulu, mereka ngedeketin aku pake cara yang sopaaann banget biar aku
luluh, tapi Surya biasa aja, dia blak- blakan apa adanya, aku jadi salut sama
dia!”
“Tapi, mbak,
inget- inget, lho, cinta itu sepanas tai ayam!” seru Airin.
“Iiuuh, jorok
banget, sih!” seruku jijik.
“Bukan itunya,”
sergah Airin segera, “maksudku, apa Mas Surya tau kalau mbak suka sama dia?
Takutnya, dia biasa- biasa aja sama mbak dan mbak yang kege-eran.”
“Trus, hubungannya
sama tai ayam, apa?” tanyaku bingung.
Airin menghela
nafas, “Kalau mbak tahu kenyataannya berbanding terbalik, apa mbak nggak bakal
sedih, percuma punya cinta yang kayak gitu, cintanya cuman sedetik aja.”
Aku pun
memikirkan spekulasi Airin. Ada benarnya juga, tapi pepatah berkata, “Percaya
pada apa yang kamu lihat, dan lupakan apa yang kamu dengar” Yaa, siapa tahu
kalau spekulasi Airin salah, Airin nggak kenal siapa Surya, juga dia nggak tahu
sudah seberapa dekat aku dengan Surya.
“Ya, okelah, aku
bakal hati- hati, thanks, my lil-sist,” kataku sambil mencubit
pipinya. Kutawari ia coklat dan kami teguk pelan- pelan. Kini giliran Airin, “Jadi,
gimana sama pria idealmu? Bibit, bebet, bobot?”
Airin melirik ke
arahku dari balik gelas saat meneguk coklat. Ia tersenyum sambil memperlihatkan
coklatnya menempel di gigi. “Hehehe,” jawab Airin.
¯¯¯
Fine! Cukup
nyesel, deh, aku nggak jadi berangkat ke Jogja! Gimana enggak? Ternyata Airin
sudah punya pacar seminggu sebelum aku seharusnya datang ke Jogja. Ia niat untuk
memperkenalkan Indra, pacarnya, kepadaku saat aku datang, pantas saja Airin
sangat sewot.
Walaupun aku
nggak tahu wujud asli Indra, Airin memperlihatkan foto mereka saat Korean Day
di kampus Airin. Mereka memakai hanbok berwarna peach yang imut. Mereka seperti
pasangan anak SMP karena wajah mereka yang masih polos dan karena Airin juga
terlihat mini seperti anak SMP.
“Yeey! Makan-
makan!” seruku saat berada di depan rumah makan steak yang selalu kami kunjungi
kalau aku pulang dari Semarang dan Airin pulang dari Jogja. Kami masuk dan menemukan kursi di ujung ruangan bagian
luar. Kami sengaja memilih di luar agar pencahayaannya lebih terang daripada di
bagian dalam. Dekorasi Belanda-Jawa sangat kental disini. Mulai dari pintu
masuk yang tinggi dan berwarna putih pucat, dinding yang dihiasi kayu- kayu
ukir khas Jawa, dan bangku dari kayu serta ornamen Belanda.
Aku duduk
menghadap pintu sedangkan Airin duduk menghadap tembok. Aku lebih suka melihat
orang lewat daripada benda mati yang nggak bergerak seperti tembok. Kemudian
pelayan datang dan kami memesan makanan. Proses pemesanan berakhir dan kami
tinggal menunggu pesanan kami datang.
Airin bercerita
lagi tentang Indra. Aku bosan sebenarnya, tapi aku sangat maklum karena adikku
yang cantik ini sedang mabuk asmara. Airin bercerita dengan suka cita.
Menceritakan bagus dan jeleknya Indra dan betapa ia sangat menerima itu semua.
Bayanganku, Indra pasti sosok yang tepat untuk Airin, dan Airin sangat nggak
pantas jika Indra menyakitinya.
“Yaa, mbak harap
mbak juga gitu,” komentarku saat Airin bercerita bahwa Indra memberinya coklat
dan bunga, dan kaos kaki agar kaki Airin nggak belang. Betapa perhatiannya
Indra!
Kemudian makanan
kami datang dan siap menyatap double chicken steak dan float kami. Aku melahap
irisan demi irisan steak yang kumakan sambil melihat ke jalanan yang mulai
gerimis. Aku mendongak ke atap yang transparan dan dihiasi tanaman yang
menjalar, rintikan hujan mulai turun dan membuatku ingat pada Surya. Lagu demi
lagu yang diputar oleh pihak rumah makan kebanyakan lagu- lagu yang
mengingatkanku pada Surya.
“Galau, ya?”
tanya Airin yang rupanya tahu kalau aku sedang memikirkan Surya.
“Hah?” tanyaku,
“Enggak kok.”
“Nggak bohong,
deh, mbak, pliss,” katanya.
Aku mendengus dan
mengakui malu- malu, “Iya, iya, aku kepikiran dia. Aku harap dia disini,
mumpung liburan, kan?”
“Ihirrr,”
balasnya saat ia mendorong pelan platenya yang sudah kosong.
“Lagunya, sih,”
ucapku menyalahkan lagu- lagu yang mengingatkanku pada Surya.
“Ceileee,” serunya
menggodaiku, “ini lagu lama, lagunya Bunga Citra Lestari, Kecewa, kan?”
“Iyaa, tapi dah
mau abis,” kataku.
Lagu berganti
ketika aku sudah menyelesaikan makanku. “Ciihh, Someone Like You, deh!”
kataku.
Sambil menunggu
makanan di perutku turun dengan lancar, aku mengikuti suara Adele menyanyikan
lagu itu. Airin yang melihatku ikut bernyanyi malah tertawa geli. Ia pasti
meledekku dan mengataiku kalau aku galau. Tapi, siapa yang mau menggantikan
Surya dan mencari someone like him?
“I wish
nothing but the best for you....,” aku berhenti bernyanyi ketika aku benar-
benar melihat Surya masuk ke rumah makan steak ini dengan seorang gadis yang
cukup cantik bersamanya. Gadis itu menggandeng tangan Surya dan bersandar tepat
di bahu Surya sambil mencari tempat duduk yang kosong dan tempat duduk di
sampingku kosong.
Kami saling
bertatapan saat Surya mengikuti telunjuk gadis di sampingnya menunjuk kursi
kosong di sampingku dan melihatku. Aku kaget dan mataku nanar. Airin mengikuti
arah pandanganku dan menutup mulutnya yang meng-O saat melihat laki- laki yang
dipikirnya pasti Surya.
“Sometime it
last in love, but sometime it hurts instead,”
Surya dan
gadisnya menuju bangku di sampingku. Aku merasa semua yang ada di hadapanku
ditelan bumi. Semuanya gelap dan aku merasakan tangan kecil Airin menggenggam
tanganku menuju entah kemana karena aku pun sangat kalut. Kupikir kepalaku
masih menoleh dimana Surya berada bersama gadisnya, tapi aku nggak melihat
Airin bahkan gadis yang bersama Surya.
Apa aku buta?
Tapi aku masih bisa melihat Surya. Hanya Surya yang duduk di depan gadisnya,
yang hanya bisa kupandangi punggungnya. Berbalik, berbalik, berbalik!
¯¯¯
Aku putri tidur
yang berharap bangun sebelum seratus tahun waktunya kalau sang pangeran berkuda
putih harus memboncengi perempuan lain saat akan menciumku agar bangun.
Kenyataan memang 80% menyakitkan!
Kesalahanku
adalah satu, aku menganggap Surya orang yang jujur dan apa adanya padaku. Dua, spekulasi
Airin yang mengatakan bahwa cinta sepanas tai ayam yang nggak kugubris seratus
persen. Dan tiga, pepatah yang berkata “Percaya pada apa yang kau lihat dan
lupakan apa yang kaudengar”.
Aku meringsuk di
bawah selimut yang hangat sambil terisak- isak. Airin membawakanku spagetti
dengan taburan keju di atasnya, favoritku, juga segelas coklat instan hangat.
Ia membuka bungkusan selimutku, tempat aku berlindung.
“Mbak, mbak boleh
nangis sepuasnya kok, nggak perlu malu, semua orang lagi di rumah eyang,
mungkin nginep disana. Mbak juga boleh sedih dan luapin amarahnya biar lega.
Tapi, mbak sedari jam enam belum makan, perutnya cuman diisi steak sama float
siang tadi. Ini dah jam delapan, lho. Mana tadi kehujanan, kalo nggak diisi
makanan nanti sakit,” ujar Airin panjang lebar.
Kemudian aku
bangkit dari tidurku dan duduk di ranjang. “Abisnya, mama juga, sih, mana pergi
nggak masakin apa- apa,” jawabku ketus.
Airin mendengus,
“Yaah, mbak sendiri juga, sih, yang nggak ngecek memo di kulkas. Budhe dah
bikinin spagetti ini, tinggal dipanasin pasta sama sausnya, tinggal parut
kejunya. Abisnya, pulang- pulang langsung ngringsuk di selimut.”
Aku manyun
mendengar anak kecil mengomeliku. Kemudian kuraih sepiring pasta dan
melahapnya. Airin keluar kamar dan kembali dengan sepiring pasta untuknya dan
berkata, “Kalau masih mau, masih ada banyak kok spagettinya.”
Aku mengangguk
sambil terus melahap spagettiku. Aku lapar, aku marah, aku kesal, dan aku
kecewa! Semua kulampiaskan dengan tiga piring spagetti yang khusus dilayani
oleh Airin. Setelah selesai makan, aku mengganti pakaianku yang sedari tadi
belum kuganti, mengganti seprai yang basah karena bajuku, dan mencuci piring
kotor.
Airin mendekat ke
arah pintu saat ada yang mengetuknya dengan cukup gusar. Airin takut kalau itu
perampok atau apa. Tapi, pikiran positifnya berkata bahwa perampok nggak akan
sesopan itu untuk masuk ke rumah orang, mereka nggak tahu apa itu pintu. Menurutnya,
ketukan seperti itu adalah ketukan orang yang ketakutan.
“Ya?” tanya Airin
saat melihat siapa yang datang.
Aku menoleh ke
Airin yang berkata itu tamu untukku. Airin nggak menjawab siapa tamu itu, ia
hanya berkata, “Temui saja, aku yang buatkan minum.”
Aku berjalan
sambil bersendawa cukup keras. Aku menjadi kikuk saat kulihat Surya duduk di
bangku teras dengan tatapan aneh, mungkin karena mendengar sendawaku.
Apa aku akan lari
saat melihat Surya? Enggak bakal! Aku cukup dewasa untuk bisa mengahadapi
masalah, walau aku tadi meronta nggak ingin ketemu Surya lagi.
“Eh, maaf, ya,”
kataku sambil menutup mulut, “kelepasan.”
“Makan kodok,
ya?” tanya Surya melucu. Garing.
Aku duduk di
sampingnya dan nggak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Saat aku akan
berkata, Surya juga ingin mengatakan sesuatu. Dengan sopan, yang baru kutahu
ini, ia menyuruhku berkata dahulu.
“Dunia sempit,
ya?” tanyaku tanpa butuh jawaban. Menyindir.
“Luas kok,”
katanya, “kamu aja yang berkutat disini. Kenapa?”
“Kenapa gimana?
Apanya?” tanyaku.
“Apa ada yang
nahan kamu buat tetap disini? Dunia itu luas,” ujarnya.
“Filosofis
banget,” cercaku agak sinis.
“Kenyataan,”
balasnya, “jadi, apa yang nahan kamu disini?”
“Mau tahu banget
apa mau tahu aja?” tanyaku sambil tertawa garing. Sangat krik!
Surya mencoba
mencubit pipiku tapi aku sudah menghindar dulu. Kukatakan dari gerakanku bahwa
ini nggak pantas.
Surya dan aku
terdiam beberapa saat. Airin datang membawa minuman dan langsung pergi.
Kupersilakan Surya minum karena aku tuan rumah yang baik, walaupun Surya sudah
menjahatiku.
“Mmm, by the
way, kamu kok tahu rumahku?” tanyaku, “Aku, kan, baru aja pindah.”
“Mau tahu banget
apa mau tahu aja?” tanyanya balik. Lalu kami tertawa. Tertawa yang sangat singkat.
“Cihh, apa- apaan
ini?” tanyaku sendiri. Aku melirik ke jam yang ada dinding ruang tamu, “Hampir
jam sembilan, nggak sopan kamu disini lebih lama, maaf, ya.”
“Tunggu, Ra,”
kata Surya, “aku mau jelasin yang tadi.”
“Apa lagi?”
tanyaku dengan otomatis nada tinggi. Kesal dan benci.
“Sebelumnya aku
mau tahu, gimana perasaanmu ke aku. Gimana, Ra?” tanyanya.
“Mau tahu..,”
“Sssttt, serius,
Ra,” kata Surya sambil menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
Aku menghela
nafas dan tersenyum, “Aku suka kamu.”
“Ya, tapi..,”
“Dan aku
terlambat, aku tahu. Seharusnya aku bilang di saat aku benar- benar yakin.
Tapi, yaa, aku hanya terlambat,” kataku.
“Salahku yang
nggak berani tanyakan hal ini dari awal aku ngerasa yakin kalau aku juga suka
sama kamu,” Surya mengaku.
“Ya, dan kita
sama- sama terlambat,” kataku, “aku tahu itu. Bodohnya aku, my bad.”
“Kamu marah?”
tanya Surya.
“Iyalah!” seruku
dengan nada tinggi, namun normal kembali saat aku menjelaskan, “Itu normal
karena aku kecewa saat tahu kamu udah punya cewek.”
“Yang nggak
kusukai,” Surya mengaku lagi. “Kalau mau, aku bakal putusin dia. Buat kamu,
Ra.”
Aku tertawa
garing, “Kamu nggak perlu dan nggak boleh ngelakuin itu. Aku suka kamu karena
kamu jujur, kamu blak- blakan, dan kamu apa adanya. Tolong jangan buat aku illfeel
sama kamu hanya karena kamu nggak tanggung jawab atas keputusanmu.”
“Bukannya kamu
suka sama aku? Kamu juga tahu sekarang kalau aku suka kamu. Kita sama- sama
tahu kalau kita nggak bertepuk sebelah tangan,” ujarnya gusar.
“Tapi semua udah
terlambat,” kataku, “jangan buat gadis tadi kecewa.”
“Kamu kenapa...
seperti... kamu.. kenapa..?” Surya gusar. Ia menggaruk- garuk kepalanya yang
nggak gatal.
Kuraih tangannya
yang mencoba melukai dirinya sendiri dan berkata, “Aku cukup senang kalau aku
tahu aku nggak bertepuk sebelah tangan.”
“Aku nggak
percaya rocker kayak kamu bisa nangis juga,” kataku polos melihat Surya mencoba
menghapus tiap air mata yang bercucuran. Nggak tega, sih, setiap akan
mengatakan sesuatu, ia meneteskan air mata hingga sesenggukan, “Maafin aku,
ya.”
¯¯¯
Pukul setengah
sepuluh mungkin atau kurang atau lebih, Surya pamit pulang. Air matanya sudah
puas ia habiskan untuk meluapkan kekecewaannya karena kebodohannya, kebodohanku
juga, tepatnya kebodohan kami yang nggak berani selangkah lebih pasti
menentukan perasaan.
Sebelum pulang,
Surya memelukku *dan kupastikan nggak satupun tetanggaku yang melihat ini* dan
mencium keningku. Aku tahu perasaannya saat itu. Ia mencoba merelakan semua ini
mengalir begitu saja.
Setelah
kupastikan ia benar- benar pulang, aku kembali masuk ke rumah dan membereskan
cangkir minum kami. Lalu, aku masuk ke kamar dan mendapati Airin sudah tidur.
Aku menggosok
gigiku dulu setelah berganti baju tidur, kemudian aku menuju meja belajar dan
meraih diary yang kusimpan di laci yang terkunci dan kuncinya hanya aku yang
tahu dimana.
Aku pun mulai
menulis.
Dear
diary, benar hanya kau yang harus tahu, tapi Airin juga. Hanya saja, kau yang
harus tahu lebih dulu. Aku seharusnya nggak menodaimu dengan kisah- kisah
sedihku. Ini pasti akan menjadi kenangan yang suram untuk kubaca lagi suatu
hari nanti. Seharusnya aku mengisimu dengan kisah- kisah yang menyenangkan,
supaya memoriku hanya berisi kisah yang menggembirakan. Tapi, aku tahu itu
bohong.
Seperti
yang sudah kutulis sebelumnya, kejadian hari ini, aku harap, terjadi hanya
padaku, jangan Airin atau orang lain yang kusayangi. Karena, sangat nggak mudah
membohongi perasaan dan mengatakan semua akan baik- baik saja. Merelakan Surya
dengan ikhlas, itu nggak mungkin. Untuk apa kubuang air mata ini seharian? Aku
hanya merelakan agar Surya nggak sedih. Lucu saja melihat rocker menangis.
Haha!
Sad
ending. Mmm, nggak, nggak, nggak! Ini belum sepenuhnya END! Aku yakin Surya nggak
akan berpaling dariku walaupun sudah ada gadis lain. Aarghh! Sialnya! Gadis itu
membuatku menangis sekarang, karena ia membangunkanku di kenyataan bahwa mereka
benar- benar jadian!
Naira
yang ababil, hapus air mata! Cepat!
Aku
merelakan Surya untuk tetap bertanggungjawab atas apa keputusannya karena aku
tahu kami sama- sama nggak bertepuk sebelah tangan. Kenyataan positifnya
adalah, Surya nggak harus menjadikanku pacarnya untuk dia tetap suka padaku dan
aku nggak harus menjadikannya pacarku juga agar aku bisa menyukainya. Semua ini
akan berjalan seperti bumi seharusnya berputar, nggak akan ada repeating time
dan aku rela untuk menunggunya putus secara baik- baik dari pacarnya. Haha!
Dan oops!
Aku berhutang cerita panjang pada Airin! Baiklah, selamat malam pangeran
berkudaku, aku akan tidur lagi dan menunggumu datang sendirian tanpa gadis lain
membonceng di kudamu. Good night .
¯¯¯

0 komentar:
Posting Komentar