“Lo gak asyik banget, deh, udah tau gue nggak suka ramal- meramal, masih aja dijadwal wisata kuliner disini!” seru Guntur yang memang nggak suka dan nggak percaya ramalan.
Aku membanting pelan buku tentang tarrot yang khusus kubawa pada malam hari ini di meja, “Lo penakut banget, sih? Dia juga nggak bakal makan otak lo, kan?”
“Dikira zombie, makan otak manusia?” tanya Herly sambil tertawa.
Guntur mengutak- atik handphonenya untuk menghilangkan parnonya tentang peramal yang sekarang sedang duduk di kursi berhadapan dengan Guntur. Aku dan Herly senyum- senyum melihat tingkah Guntur.
“Jadi? Sang penjaga pun takut dengan kehadiranku, bagaimana jika kedua bidadari ini kubawa ke masuk ke dalam kartu- kartuku?” ucap sang peramal menyindir Guntur.
Aku dan Herly menahan tawa dan sedikit takut.
“Lo santai aja, girls,” ujar si peramal dengan gaya gaul anak muda sekarang.
Kami bertiga tercengang, ada juga peramal gaul seperti ini.
“Then, ambil satu dari kartu- kartu di tanganku ini,” perintah si peramal. Kami menurut dan mengambil satu dari deretan kartu yang disediakan.
Si peramal membuka kartu milik Herly, “Kamu sangat mendominasi, kamu hidup di antara dua timbangan. Kamu sangat bijaksana, teman- temanmu butuh orang seperti kamu.”
Kemudian ia membuka kartu milik Guntur, “Seseorang yang dekat dengamu takut kehilangan kamu.”
Terakhir, ia membuka kartu milikku, “Hidupmu diambang keburaman, semua ada pada penglihatanmu.”
“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
“Lo bawa buku Tarrot kemari, kenapa nggak lo baca? Gue nggak dibayar tip, sih. Bye,” ujar si peramal gaul itu kemudian pergi menuju meja pengunjung lain yang baru datang.
Aku penasaran dan langsung membuka buku Tarrot yang kubawa. “Aha!” seruku.
“Lo nemu?” tanya Guntur semangat.
Aku mengangguk dan membaca dengan keras, “Kamu harus fokus dengan indera penglihatanmu, karena tanpanya kamu akan merusak setiap tujuanmu.”
“Mata!” seru Herly.
Mataku membelalak dan kami bertiga berseru bersamaan, “WORTEL!”
“Nooo!!” jeritku.
***
Aku merebahkan diriku di ranjang, berpikir tentang ramalan itu.“Guntur benar, gue nggak harus percaya sepenuhnya sama kayak begituan,” ujarku.
“Tapi, dari sifat lo yang suka baca novel sambil tidur, bisa jadi resiko juga,” respon Herly sambil memilin rambutnya.
“Tapi gue benci wortel!” seruku, kemudian aku duduk di ranjang.
“Coba deh, lo pikir, kalo lo nggak bisa lihat dengan jelas, mana bisa lo baca novel lagi? Dan mana bisa lo merhatiin Guntur kalo lagi basketan?” tanya Herly.
“Kok jadi ke Guntur, sih?” tanyaku balik.
Herly menghela nafas, “Stop pura- pura di depan dia. Peramal itu nggak sepenuhnya salah kok. Lo masih inget kan, kartunya Guntur?”
Aku mengangguk pelan.
“Lo nggak mau kehilangan dia dengan cara konyol, kan?” tanya Herly menakut- nakutiku.
Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, “Konyol gimana?”
“Kalo lo nggak bisa melihat dengan jelas, ada kesempatan buat Guntur buat kedap- kedipin mata sama cewek lain tanpa kamu tahu!” seru Herly.
“Aaah! Apaan, sih?” tanyaku, “Jadi aku harus makan wortel, nih?”
Herly mengangguk sambil senyum- senyum jahil.
“NO WAAYYY!” seruku, kemudian aku membenamkan wajahku di balik bantal.
***
Aku sangat membenci wortel. Jika ditanya apa alasannya, aku hanya bisa menjawab, “Aku bosan.”Herly berkata jangan pernah salahin mamaku karena dulu mama sering membuatkanku makanan dari wortel. Karena terlalu sering, aku jadi bosan dan anti dengan wortel.
“Hey, ikut main nggak?” ajak Guntur sambil menggendong bola basketnya.
“Kayak lo baru kenal Zea aja? Mana mau?” seru Herly yang sudah siap dengan kaos olahraganya.
“Pergi deh, lo tau banget gue lebih suka baca novel begini,” ucapku.
Guntur mengangkat bahunya dan pergi sambil mendrible bolanya.
Herly tau bahwa aku naksir sama Guntur. Ia menyuruhku mengaku pada Guntur, tapi aku takut. Bukan karena aku nggak berani bilang “Aku Suka Kamu”, tapi aku takut merusak persahabatan kami.
Baru beberapa menit Herly dan Guntur sedang bermain, gerombolan cewek cheerleader sudah datang.
“Buat apa mereka datang? Ini bukan pertandingan besar. Hanya Guntur dan Herly saja yang sedang bermain basket,” ucapku dalam hati, “jangan- jangan, seperti apa yang dibilang Herly waktu itu!”
Aku merasa cemburu saat seorang dari cheerleader itu menghampiri Guntur dan merangkul lehernya.
“Guys, aku pulang!” seruku sambil berlari menuju parkir motor dan pulang.
Sepanjang perjalanan sampai aku di rumah, aku masih memikirkan kejadian tadi dan apa yang Herly katakan waktu itu. Tapi mataku belum cukup rabun untuk nggak melihat Guntur kedap- kedip sama cewek lain.
Kalo memang wortel bisa membuatku lebih waspada dengan gerak- gerik Guntur, aku akan makan monster itu dengan berat hati. Aku rela karena aku nggak siap buat tau bahwa Guntur sudah punya pacar.
***
Aku gencar dengan jadwal rutinku setiap pagi: Minum satu gelas jus wortel dan tomat.Walaupun ujung- ujungnya kumuntahkan juga karena tubuhku sudah nggak mau mentolerir wortel. Tapi, paling nggak, mama tau bahwa aku mau mengkonsumsi wortel lagi.
“Gue denger dari tante kalo lo makan wortel, ya?” tanya Herly dengan ekspresi simpati.
Aku hanya mengangguk.
“Lo gigih banget, Ze. Gue salut sama lo!” ujar Herly sambil menepuk- nepuk punggungku, “Tapi kasian juga, sih, lo.”
“Aduh, kok lo gitu, sih?” tanyaku dengan wajah sakit parah, “Gue niat, hari ini adalah hari terakhir gue makan wortel.”
“Looh, kok gitu, sih?” tanya Guntur yang tiba- tiba datang sambil membawa bento (bekal makanan).
“Gue enek banget!” ucapku lesu.
“Yaah, padahal gue uda beliin kalian sushi, nih!” seru Guntur sambil membuka bentonya.
Mataku membelalak saat mendengar makanan kesukaanku disebut. Tapi aku langsung jadi lesu melihat sayur warna orange berbentuk batang terselip di antara telur, udang, dan timun.
“Daripada lo maksain diri minum jus wortel yang lo nggak suka, mending dijadiin pelengkap sushi, kan?” tanya Guntur sambil melahap satu sushi.
Aku berpikir sejenak. Betul juga yang Guntur bilang. Aku melahap satu sushi. “Wortelnya nggak terasa! Makasih, ya, kamu baik banget!” seruku.
“Kamu?” tanya Guntur dan Herly bersamaan.
“Ayoo, selamat makan!” ucapku menutupi salah tingkahku.
***
0 komentar:
Posting Komentar