Menuruti setiap kemauan orangtua adalah kado terindah dari seorang anak. Menaati setiap peraturan yang mereka buat dengan berbuah manis, sebuah hak yang diterima kalau kewajiban sudah dilaksanakan. Ya, seenggaknya itu yang kulakukan, dan teman- temanku salah mengartikan, bahkan sahabatku, Egi.
“Gue mau pakai jeans aja kali, ya? Kalau rok mini, gue nggak bakal dikasih izin,” ujar temanku, Ulva.
“Umm, gue jegging sama kaos kelas, mungkin,” gumam Tyas.
Aku hanya duduk manis mendengarkan obrolan mereka tentang kostum di acara pensi nanti malam. Responku hanya tersenyum jika dimintai pendapat.
“Lo beneran nggak ikut?” tanya Ulva memastikan.
“Lo uda tanya 10 kali hari ini,” kataku sambil tertawa, “dan itu nggak merubah keputusan gue.”
Tyas menaikkan alis sebelah mata, “Keputusan lo atau nyokap lo?”
Aku hanya tersenyum dengan ekspresi: Tuh, kamu udah tau jawabannya.
“Lo udah hampir 17 tahun, masa’ masih mengekor sama nyokap lo?” tanya Ulva, “Dan nggak cuma kali ini aja, setiap kali gue ajak lo pergi jalan, lo mesti nggak ikut.”
“Lo ngajaknya malam, sih, coba kalau sore,” ucapku.
“Tapi sekali- kali lo ikut, dong. Sekali aja,” tuntut Tyas dengan ngotot.
“Kamu mau aku nggak datang atau aku datang sama mamaku?” tanyaku menyudutkan mereka.
“Aah, bete, deh, lo! Sepele gini aja lo masih nggak mau ngalah sama keadaan, dasar anak mommy!” seru Ulva yang udah jengkel, kemudian Tyas mengikuti Ulva.
Aku menghela nafas melihat mereka yang nggak mengerti maksudku. Aku hanya nggak mau melanggar peraturan yang mama dan papa buat: Tidak Boleh Keluar Malam!
Tiba- tiba seseorang datang padaku dan bertanya, “Anna, nanti malam lo datang?”
“Eh, Radit. Umm, lo kaya’ nggak kenal gue aja. Gue nggak datang,” ucapku.
Ekspresi Radit berubah bete, “Pasti peraturan itu lagi, ya?”
Aku mengangguk mengiyakan, “Dan kalau lo mau bujuk gue buat ngubah peraturan itu, sorry, gue nggak bisa. Kalau lo mau marah sama gue karena gue nggak datang ke pensi, silakan aja.”
Aku pergi meninggalkan Radit dengan kebetean yang kuberikan.
“Kok lo ngomong gitu?” tanyaku yang masih kaget dengan ucapan Ulva yang kasar, “Lo jahat banget!”
“Lo yang jahat!” seru Tyas, “Kalau aja lo mau partisipasi di pensi ntar malam, kita juga nggak bakal begini. Kita juga pengen kalau kumpul bareng, lo juga ada.”
“Jadi masalah pensi yang kalian besar- besarin ke masalah lain?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Aah, gue udah males sama lo! Kita pulang, yuk, Yas!” seru Ulva.
“Bye, anak mommy!” seru mereka berdua dengan wajah sinis.
Aku pastikan mereka mendengar jawabanku, “Bye, anak kingong!” kemudian aku tancap gas dan pulang.
Yaah, kurang lebih itulah ingatanku tentang insiden tadi parkiran. Aku menekuk tanganku di meja belajar dan kusandarkan kepalaku.
Aku nggak berniat untuk kasar pada mereka, aku sangat mmenyesal. Tapi mereka berdua keterlaluan, mereka mengajak hal buruk padaku, melanggar peraturan mama dan papa.
Aku menangis dalam ringkukanku. Aku kira hal ini akan membuat pertemananku dengan Ulva dan Tyas akan bubar jalan. Tapi aku masih punya Egi. Tapi Egi udah punya Naura, pacarnya.
Aku mendengar pintu kamarku diketuk dan dibuka, “Sayang, kamu kok tidur di meja be-.” Mama berhenti bicara saat melihatku bukan sedang tidur, “Kamu kenapa, sayang? Kok kamu menangis?”
Aku mengusap air mataku dan menggeleng pelan.
“Ayo, cerita sama mama, kamu ini kenapa?” bujuk mama memaksaku untuk menceritakan kejadian tadi siang.
Aku menangis dipelukan mama dan mama mengelus- elus kepalaku dengan sayang, “Tyas sama Ulva jahat sama Anna, ma. Dia nggak mau berteman lagi sama Anna karena Anna nggak pernah ada kalau mereka ngajak Anna main.”
“Mereka ngajak mainnya malam- malam, kan?” tanya mama.
Aku mengangguk pelan dan masih menangis, “Nanti malam ada pensi. Tyas sama Ulva tau kalau guess starnya band favorit Anna, mereka kira Anna bakal datang, tapi Anna malah bikin mereka kecewa.”
Mama mengusap- usap kepala dan punggungku, “Kamu benar- benar pengen datang ke pensi itu?”
Aku mengangguk pelan, “Guess stranya band favoritku. Tapi, kalau mama sama papa nggak kasih izin, aku nggak bakal datang kok.”
“Ehhm,” aku melihat papa berdiri di depan pintu, sepertinya papa mendengar semua curhatanku, “Jadi benar- benar pengen, ya? Oke, ini hadiah buat kamu karena selama ini kamu nggak pernah membangkang sama mama dan papa.”
Aku berdiri dan memeluk papa yang tersenyum padaku, “Papa benar- benar kasih izin?”
“Dengan syarat hanya sampai jam 9, “ujar papa, “katamu guess starnya Vierra, ya?”
Aku mengangguk, “Favoritku, pa.”
“Jangan lupa, kalau ada meet and greet, mintain tanda tangan mereka buat papa, ya?” ujar papa sambil tertawa. Aku dan mama juga ikut tertawa.
“Besok- besok, kalau curhat juga sama papa, siapa tau dikasih bonus kaya’ gini lagi,”ujar mama.
Aku mengangguk dan tersenyum senang. Tapi masih ada satu masalah lagi. Dengan siapa aku bakal datang nanti? Tyas dan Ulva masih marah padaku, Egi pasti datang bersama Naura, dan Radit, tadi aku juga bersikap kasar padanya.
Kemudian mama dan papa meninggalkanku di kamar sendirian. Ku ambil hp-ku dan aku menelepon Egi.
“Hallo, ada apa, Ann?” sapa Egi.
“Hey, umm, gue minta bantuan lo, dong,” pintaku, “tolong cariin temen buat gue, gue datang ke pensi ntar malam!”
“Hah!? Yang bener lo?” seru Egi kaget, dia tau banget siapa aku, “Keajaiban!”
“Eh, jangan seneng dulu!” seruku, “Kira- kira lo ada temen yang mau datang sama gue nggak?”
“Hehe, gue ikut seneng lo akhirnya dikasih izin buat keluar malam,” ucapnya, “umm, gue ada temen, keren kok. Lo tenang aja, jam 7 dia bakal jemput di rumah lo.”
“Temen lo tau rumah gue?” tanyaku.
“Tau, dong. Itu perkara gampang. Ya udah, see you ntar malam, ya?” ucap Egi sambil terkekeh dan mengakhiri obrolan kami.
Kira- kira siapa, ya?
“Loh? Jadi elo yang dimaksud Egi?” tanyaku memastikan.
Radit hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
“Nah, kalian hati- hati, ya? Papa sudah bilang sama Radit, kalau kamu hanya boleh pergi sampai jam 9, have fun, ya, sayang?” ucap papa sambil memelukku.
Aku dan Radit berpamitan kemudian langsung menuju sekolah.
Suasana di pintu gerbang sudah sangat ramai di penuhi Vierrania. Aku semakin semangat dan ingin segera masuk ke dalam. Untung aku dan Radit menunjukkan kartu tanda siswa, jadi kami didahulukan.
Aku dan Radit berjalan menuju lapangan.
“Loh, Anna!” seru Ulva dengan wajah terkejut. Tyas mengucek matanya, dia kira dia sedang bermimpi melihatku disini.
“Lo beneran Anna?” tanya Tyas sambil meraba wajahku.
Aku mengangguk dan tertawa senang. “Umm, gue minta maaf sama kejadian tadi siang. Maafin gue, ya? Gue bener- bener nyesel,” ucapku.
“Kita juga minta maaf sama lo, kita yang mulai duluan, gue juga nyesel udah maki- maki lo,” ucap Tyas.
Aku, Tyas, dan Ulva saling berpelukan.
“Aww, gandengan baru, nih!” seru Ulva menggoda.
Aku dan Radit salah tingkah. Aku merasakan darah di pipiku mengalir deras.
“Eh, eh, tempat meet and greet Vierra dimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Umm, katanya di ruang OSIS, sih. Kamu mau?” tanya Radit.
Aku mengangguk, “Papa pengen aku minta tanda tangan mereka.”
“Wuidih, gaul gila!” seru Tyas sambil tertawa.
“Oh, iya, aku baru inget, aku cuma bisa have fun disini sampai jam 9 aja, nih, ayo buruan!” seruku mengajak Radit, Ulva dan Tyas berlari menuju ruang OSIS.
“Oke aja kok, yang penting lo datang malam ini,” seru Tyas, “ayo!”
Aku senang kali ini bisa keluar malam. Yaah, walaupun aku bakal melewatkan jatahnya Vierra manggung karena harus pulang jam 9. Tapi paling nggak, teman- temanku nggak marah lagi padaku, dan aku juga dapat bonus: Radit.
“Gue mau pakai jeans aja kali, ya? Kalau rok mini, gue nggak bakal dikasih izin,” ujar temanku, Ulva.
“Umm, gue jegging sama kaos kelas, mungkin,” gumam Tyas.
Aku hanya duduk manis mendengarkan obrolan mereka tentang kostum di acara pensi nanti malam. Responku hanya tersenyum jika dimintai pendapat.
“Lo beneran nggak ikut?” tanya Ulva memastikan.
“Lo uda tanya 10 kali hari ini,” kataku sambil tertawa, “dan itu nggak merubah keputusan gue.”
Tyas menaikkan alis sebelah mata, “Keputusan lo atau nyokap lo?”
Aku hanya tersenyum dengan ekspresi: Tuh, kamu udah tau jawabannya.
“Lo udah hampir 17 tahun, masa’ masih mengekor sama nyokap lo?” tanya Ulva, “Dan nggak cuma kali ini aja, setiap kali gue ajak lo pergi jalan, lo mesti nggak ikut.”
“Lo ngajaknya malam, sih, coba kalau sore,” ucapku.
“Tapi sekali- kali lo ikut, dong. Sekali aja,” tuntut Tyas dengan ngotot.
“Kamu mau aku nggak datang atau aku datang sama mamaku?” tanyaku menyudutkan mereka.
“Aah, bete, deh, lo! Sepele gini aja lo masih nggak mau ngalah sama keadaan, dasar anak mommy!” seru Ulva yang udah jengkel, kemudian Tyas mengikuti Ulva.
Aku menghela nafas melihat mereka yang nggak mengerti maksudku. Aku hanya nggak mau melanggar peraturan yang mama dan papa buat: Tidak Boleh Keluar Malam!
Tiba- tiba seseorang datang padaku dan bertanya, “Anna, nanti malam lo datang?”
“Eh, Radit. Umm, lo kaya’ nggak kenal gue aja. Gue nggak datang,” ucapku.
Ekspresi Radit berubah bete, “Pasti peraturan itu lagi, ya?”
Aku mengangguk mengiyakan, “Dan kalau lo mau bujuk gue buat ngubah peraturan itu, sorry, gue nggak bisa. Kalau lo mau marah sama gue karena gue nggak datang ke pensi, silakan aja.”
Aku pergi meninggalkan Radit dengan kebetean yang kuberikan.
***
“Lo nggak asyik banget, deh!” seru Ulva, “Gue males punya temen nggak oke kaya’ lo!”“Kok lo ngomong gitu?” tanyaku yang masih kaget dengan ucapan Ulva yang kasar, “Lo jahat banget!”
“Lo yang jahat!” seru Tyas, “Kalau aja lo mau partisipasi di pensi ntar malam, kita juga nggak bakal begini. Kita juga pengen kalau kumpul bareng, lo juga ada.”
“Jadi masalah pensi yang kalian besar- besarin ke masalah lain?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Aah, gue udah males sama lo! Kita pulang, yuk, Yas!” seru Ulva.
“Bye, anak mommy!” seru mereka berdua dengan wajah sinis.
Aku pastikan mereka mendengar jawabanku, “Bye, anak kingong!” kemudian aku tancap gas dan pulang.
Yaah, kurang lebih itulah ingatanku tentang insiden tadi parkiran. Aku menekuk tanganku di meja belajar dan kusandarkan kepalaku.
Aku nggak berniat untuk kasar pada mereka, aku sangat mmenyesal. Tapi mereka berdua keterlaluan, mereka mengajak hal buruk padaku, melanggar peraturan mama dan papa.
Aku menangis dalam ringkukanku. Aku kira hal ini akan membuat pertemananku dengan Ulva dan Tyas akan bubar jalan. Tapi aku masih punya Egi. Tapi Egi udah punya Naura, pacarnya.
Aku mendengar pintu kamarku diketuk dan dibuka, “Sayang, kamu kok tidur di meja be-.” Mama berhenti bicara saat melihatku bukan sedang tidur, “Kamu kenapa, sayang? Kok kamu menangis?”
Aku mengusap air mataku dan menggeleng pelan.
“Ayo, cerita sama mama, kamu ini kenapa?” bujuk mama memaksaku untuk menceritakan kejadian tadi siang.
Aku menangis dipelukan mama dan mama mengelus- elus kepalaku dengan sayang, “Tyas sama Ulva jahat sama Anna, ma. Dia nggak mau berteman lagi sama Anna karena Anna nggak pernah ada kalau mereka ngajak Anna main.”
“Mereka ngajak mainnya malam- malam, kan?” tanya mama.
Aku mengangguk pelan dan masih menangis, “Nanti malam ada pensi. Tyas sama Ulva tau kalau guess starnya band favorit Anna, mereka kira Anna bakal datang, tapi Anna malah bikin mereka kecewa.”
Mama mengusap- usap kepala dan punggungku, “Kamu benar- benar pengen datang ke pensi itu?”
Aku mengangguk pelan, “Guess stranya band favoritku. Tapi, kalau mama sama papa nggak kasih izin, aku nggak bakal datang kok.”
“Ehhm,” aku melihat papa berdiri di depan pintu, sepertinya papa mendengar semua curhatanku, “Jadi benar- benar pengen, ya? Oke, ini hadiah buat kamu karena selama ini kamu nggak pernah membangkang sama mama dan papa.”
Aku berdiri dan memeluk papa yang tersenyum padaku, “Papa benar- benar kasih izin?”
“Dengan syarat hanya sampai jam 9, “ujar papa, “katamu guess starnya Vierra, ya?”
Aku mengangguk, “Favoritku, pa.”
“Jangan lupa, kalau ada meet and greet, mintain tanda tangan mereka buat papa, ya?” ujar papa sambil tertawa. Aku dan mama juga ikut tertawa.
“Besok- besok, kalau curhat juga sama papa, siapa tau dikasih bonus kaya’ gini lagi,”ujar mama.
Aku mengangguk dan tersenyum senang. Tapi masih ada satu masalah lagi. Dengan siapa aku bakal datang nanti? Tyas dan Ulva masih marah padaku, Egi pasti datang bersama Naura, dan Radit, tadi aku juga bersikap kasar padanya.
Kemudian mama dan papa meninggalkanku di kamar sendirian. Ku ambil hp-ku dan aku menelepon Egi.
“Hallo, ada apa, Ann?” sapa Egi.
“Hey, umm, gue minta bantuan lo, dong,” pintaku, “tolong cariin temen buat gue, gue datang ke pensi ntar malam!”
“Hah!? Yang bener lo?” seru Egi kaget, dia tau banget siapa aku, “Keajaiban!”
“Eh, jangan seneng dulu!” seruku, “Kira- kira lo ada temen yang mau datang sama gue nggak?”
“Hehe, gue ikut seneng lo akhirnya dikasih izin buat keluar malam,” ucapnya, “umm, gue ada temen, keren kok. Lo tenang aja, jam 7 dia bakal jemput di rumah lo.”
“Temen lo tau rumah gue?” tanyaku.
“Tau, dong. Itu perkara gampang. Ya udah, see you ntar malam, ya?” ucap Egi sambil terkekeh dan mengakhiri obrolan kami.
Kira- kira siapa, ya?
***
Aku kaget ketika aku menemukan Radit sedang duduk dan ngobrol dengan mama dan papa.“Loh? Jadi elo yang dimaksud Egi?” tanyaku memastikan.
Radit hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
“Nah, kalian hati- hati, ya? Papa sudah bilang sama Radit, kalau kamu hanya boleh pergi sampai jam 9, have fun, ya, sayang?” ucap papa sambil memelukku.
Aku dan Radit berpamitan kemudian langsung menuju sekolah.
Suasana di pintu gerbang sudah sangat ramai di penuhi Vierrania. Aku semakin semangat dan ingin segera masuk ke dalam. Untung aku dan Radit menunjukkan kartu tanda siswa, jadi kami didahulukan.
Aku dan Radit berjalan menuju lapangan.
“Loh, Anna!” seru Ulva dengan wajah terkejut. Tyas mengucek matanya, dia kira dia sedang bermimpi melihatku disini.
“Lo beneran Anna?” tanya Tyas sambil meraba wajahku.
Aku mengangguk dan tertawa senang. “Umm, gue minta maaf sama kejadian tadi siang. Maafin gue, ya? Gue bener- bener nyesel,” ucapku.
“Kita juga minta maaf sama lo, kita yang mulai duluan, gue juga nyesel udah maki- maki lo,” ucap Tyas.
Aku, Tyas, dan Ulva saling berpelukan.
“Aww, gandengan baru, nih!” seru Ulva menggoda.
Aku dan Radit salah tingkah. Aku merasakan darah di pipiku mengalir deras.
“Eh, eh, tempat meet and greet Vierra dimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Umm, katanya di ruang OSIS, sih. Kamu mau?” tanya Radit.
Aku mengangguk, “Papa pengen aku minta tanda tangan mereka.”
“Wuidih, gaul gila!” seru Tyas sambil tertawa.
“Oh, iya, aku baru inget, aku cuma bisa have fun disini sampai jam 9 aja, nih, ayo buruan!” seruku mengajak Radit, Ulva dan Tyas berlari menuju ruang OSIS.
“Oke aja kok, yang penting lo datang malam ini,” seru Tyas, “ayo!”
Aku senang kali ini bisa keluar malam. Yaah, walaupun aku bakal melewatkan jatahnya Vierra manggung karena harus pulang jam 9. Tapi paling nggak, teman- temanku nggak marah lagi padaku, dan aku juga dapat bonus: Radit.
***
0 komentar:
Posting Komentar