Selasa, 21 Februari 2012

pop corn-Ada Cinta di Cosplay

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Februari 21, 2012
   Aku sedang duduk di bangku yang terbuat seperti tangga di depan stage persis. Aku melihat penggemar musik band Hanabi sedang berjingkrak- jingkrak sambil bernyanyi koor bersama sang penyanyi.
   “Eru ganteng banget!” seru teman- temanku yang duduk di sebelahku. Mereka sangat terobsesi dengan Eru yang punya nama asli Iraz.
   Aku hanya mengangguk dan tertawa melihat tingkah Eru yang berjingkrak- jingkrak seperti orang tersambar petir. Lumayan aneh, tetapi sahabatku dan temanku berkata bahwa Eru sangat keren. Eru sangat populer di kalangan pecinta cosplay, ia salah satu personil band Teru- Teru Bozhu yang terkenal.
   Iraz terlihat seperti Eru, tokoh utama dalam film Death Note, yang diangkat dari komik Death Note juga. Riasan wajah yang dipoleskan ke Iraz menunjukkan bahwa dia seperti Eru yang dingin, jenius, dan diam- diam menghanyutkan. Hanya saja Eru tidak bongkok dan tidak pemakan manis- manis seperti Eru di Death Note.
   “Eh, eh, kok mulai rusuh, ya, itu orang!” seru Gween, sahabatku, yang menunjuk ke arah laki- laki yang menari dengan rusuh.
   “Dia seperti habis mabuk!” seru Erin menambahi.
   “Dia baru saja gabung, kan, di arena situ?” tanyaku sambil memperhatikan tingkah pemuda aneh itu.
   Bruuk.. Brukk..
   Eru terjatuh dan terseret sampai di depanku, ia tersenggol oleh pemuda serabutan itu. Kepalanya yang terbentur lantai berdentum keras.
   Kemudian aku buru- buru membantu Eru bangkit, tapi darah dari kepala Eru terus mengucur. Aku melepaskan syal yang kupakai dan kubalut di kepala Eru. “Hei, bantu aku bawa dia ke ruang kesehatan!”
   “Bawa saja ke ruang BEM, ruang kesehatan ditutup!” seru salah satu panitia dan membantuku membopong Eru.
   “Eru.. Eru..,” seru Gween dan Erin yang mengikutiku dari belakang.
   “Dia belum mati, sayang,” ucapku menenangkan mereka yang mulai lebay dengan situasi ini.
   Eru dibaringkan di sebuah sofa panjang. Aku, Gween, dan Erin membersihkan luka Eru perlahan- lahan, sementara Eru pingsan dari saat dia terjatuh tadi.
   Gween menangis saat membersihkan darah di kepala Eru yang terus mengucur, “Sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit. Darahnya tidak mau berhenti!”
   “Iya, coba Puri konfirmasi sama temannya Eru,” ucap Erin yang sedang berusaha menekan darah Eru yang terus mengucur.
   Aku langsung beranjak menuju teman- teman Eru dan mereka setuju. Eru dibawa ke rumah sakit terdekat. Saat Eru dimasukkan ke dalam mobil, Gween dan Erin menangis tersedu- sedu. Aku hanya berkata “Semoga cepat sembuh.” Kemudian Gween mengajak kami untuk pulang.
♪♫♪
   Sudah dua hari berlalu setelah insiden Eru terluka dan baru sekarang aku ingat bahwa syal biru mudaku dibalutkan di kepala Eru oleh Erin kemarin.
   “Amal. Kan sudah bantuin Eru-ku sayang,” ucap Gween yang tersipu- sipu, tandanya ia sedang mengkhayal tentang Eru.
   “Aku baru sadar, kamu ternyata benar- benar suka sama Eru,” kataku pada Gween.
   Tiba- tiba Gween menjadi sangat serius saat pembicaraan kami mulai mengacu pada Eru. Aku kira Gween hanya ngefans dengan Eru, tapi kenyataannya Gween sangat menyukai Eru. Terlihat sekali saat Eru terluka kemarin.
   “Bagaimana keadaan Eru sekarang, ya? Semoga dia lekas sembuh dan mengembalikan syal biru mudaku,” ujarku.
   Gween ternganga mendengar pernyataanku, “Kamu bisa- bisanya berkata begitu?”
   “Syal itu adalah syal kelas. Maksudnya, semua siswa di kelasku memiliki syal seperti itu. Ada namaku dan nama sekolah kita juga disitu,” ucapku membela diri.
   “Eheem,” seseorang berdeham dari belakangku dan Gween yang sedang leha- leha di teras kedai dekat sekolah, “Makasih untuk syalnya.”
   Aku beranjak bangun dari dudukku. Gween langsung salah tingkah karena terkejut dengan kehadiran Eru beserta dua teman bandnya. “Sama- sama, kamu sudah sembuh dan boleh pulang, ya?” tanyaku sambil memperhatikan bagian kepala Eru.
   Dia mengangguk dan tersenyum. Gween mempersilakan Eru dan teman- temannya ikut bergabung dalam obrolan kami. Kami pun hanyut dalam obrolan seputar bunkasai, cosplay, dan sedikit bercanda tentang insiden Eru saat terjatuh kemarin.
   Gween sepertinya senang dengan kehadiran Eru. Dia dari tadi tersenyum dan tertawa- tawa dengan candaan Eru yang bagiku sedikit garing. Tapi aku senang melihat sahabatku senang.
   “Menemukan Puri sangat mudah, seperti menemukan sehelai rambut hitam dalam uban. Ada namanya, sebutan kelas, dan nama sekolahnya. Dan sepertinya dia sangat populer, semua orang tahu bahwa kau dan sahabatmu sering kesini setelah sekolah usai,” ujar Eru panjang lebar dan kemudian tertawa.
  Sekali lagi, kegaringan ini tetap saja membuat Gween tertawa. Mungkin karena dia salah tingkah, atau bagaimana. Yang jelas, Eru bukan tipe humoris.
♪♫♪
   “Apa yang hrs aku berikan untkmu untk membalas kebaikanmu. Aku sadar, kau bukan hanya cantik di luar, tp jg di dalam. Apa kau mau menjd pacarku?”
  Kubaca berkali- kali sms dari Eru. Nyalinya sangat besar untuk menyatakan perasaannya yang sesaat padaku di pertemuan pertama kami secara informal.
  Aku sampai- sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Kugenggam ponselku dan memainkan gantungan doraemon kesukaanku.
   “Hei! Dari tadi berkutat sama ponsel melulu,” ucap Erin mengejutkanku, “diajak curhat, malah dicuekin!”
   Aku hanya menggeleng dan memijat kepalaku dengan pelan. Tiba- tiba Erin merebut ponselku dan dengan spontan aku mencoba merebutnya.
   “Oops, aku yang dapat!” seru Gween yang buru- buru mengambil ponselku dan membaca pesan dari Eru. Kemudian ia lemas dan berkata, “Apa benar? Apa kamu terima Eru jadi pacarmu?”
   Aku merebut ponselku dan meninggalkan mereka.
   Gween berteriak, “Pengkhianat! Temen makan temen!”
   Aku ingin sekali berbalik menuju Gween dan berkata aku sama sekali tidak berniat untuk menjadikan Eru pacar, tapi aku sangat pusing dan aku memilih meninggalkan Gween supaya emosinya tidak meninggi. Gween bukanlah tipe orang yang mau mendengarkan penjelasan orang. Dia selalu menghakimi orang, tapi tidak mau dihakimi, maka lebih baik aku meninggalkan Gween saja.
♪♫♪
   “Maaf Eru, kamu memang baik. Tapi bukan seperti ini caramu berterimaksih padaku. Memang sudah sepantasnya aku membantu orang yang dalam kondisi membutuhkan,” ujarku.
   Aku duduk berhadapan dengan Eru di studio bandnya. Ia sedang berlatih dengan teman- temannya, tapi ini jam istirahat bagi mereka.
   “Baiklah, tapi jika bukan karena kamu, aku pasti sudah kehilangan banyak darah dan meninggal di tempat,” ucap Eru.
   “Ya, dan jika kau meninggal, setiap hari Gween dan Erin akan menangisimu tanpa henti,” ucapku, “lagipula, darimana datangnya idemu untuk menjadikanku pacarmu. Kita baru saja dekat, kan?”
   “Kau sering menonton setiap pentasku, kan? Kenzi berkata bahwa kau sangat ngefans denganku dan kau begitu takut kehilanganku saat aku terluka kemarin,” Eru menjawab dengan santai dan overconfident.
   Aku ternganga mendengar pernyataan Eru, “Ada dua hal yang salah dalam pernyataanmu. Pertama, Gween dan Erinlah yang begitu memujamu. Kedua, aku tidak selebay Gween dan Erin yang ketakutan jika kau tidak tertolong!”
   Eru berpikir sebentar dan kemudian ada binar di matanya. “Aku tahu! Kenzi menipuku!” seru Eru, “Kenziii! Awas kau, ya!”
   Terdengar suara tertawaan dari arah Kenzi dan Zoya yang berhasil mengerjai Eru. Aku ikut tertawa terbahak- bahak dan lebih tertawa lagi ketika melihat Eru malu- malu padaku.
   Kemudian Eru meminta maaf padaku. Ia juga berkata bahwa ia juga tidak serius ingin menjadikanku pacarnya.
   “Tapi, masih ada satu masalah lagi,” ucapku.
   “Apa?” tanya Eru penasaran.
   Aku membisikkan sesuatu pada Eru, ia mengangguk- angguk dan tersenyum. Kemudian kami berjabat tangan menyetujui perjanjian kami. Setelah itu aku pamit pulang dan bersiap untuk hari besok.
♪♫♪
   “Eru!” seru Gween yang duduk di kedai dekat sekolah, menghadap ke arah luar.
   Gween mempersilakan Eru, Kenzi, dan Zoya duduk. Tapi dia bersikap tidak kenal padaku, lebih parahnya lagi bersikap seperti aku tidak ada. Tapi aku langsung duduk saja di dekat Eru.
   “Aku ingin menyelesaikan masalah ini,” ucap Eru dengan sangat manis.
   “Masalah yang mana?” tanya Gween yang sok manis.
   Kemudian Eru menceritakan semua kejadian memalukan dan mengakui bahwa dia hanyalah korban dari Kenzi dan Zoya. Setelah panjang lebar menjelaskan pada Gween, akhirnya aku dan Gween baikan.
   “Kalian sahabat yang kompak, jangan sampai pecah hanya karena masalah sepele seperti ini,” ujar Eru menasehati kami. Ia menggenggam tanganku dan tangan Gween, kemudian mempersatukan tangan kami.
   Aku masih merasa tidak enak pada Gween karena Eru menggenggam tanganku, meskipun menggenggam tangannya juga. Aku melepas genggaman Eru dan menumpuk tanganku di atas tangan Eru dan Gween, “Kalian cocok!”
   Eru tertawa terbahak- bahak dan Gween malu- malu kucing. Kemudian Eru menarik tangan Kenzi dan meletakkan tangan Kenzi di atas tangan Gween dan berkata, “Kenzi yang akan bertanggung jawab, Gween, kalian serasi!”
   “Apa- apaan coba!” seru mereka berdua bersamaan.
   Aku dan yang lainnya tertawa karena kekompakan Gween dan Kenzi yang alamiah.
   “Tapi aku tetap ngefansnya sama Eru!” seru Gween seperti anak kecil.
   “Iya, boleh, ngefans saja sesuka hatimu,” ucap Eru dengan bijak.
   Eru bahkan tidak illfeel atau salah tingkah. Ia profesional dengan semua orang dan memperbolehkan mereka untuk ngefans padanya.
♪♫♪
   Selang beberapa bulan, ada bunkasai di sekolahku dan panitia mengundang Teru- Teru Bozhu sebagai bintang tamunya. Gween dan Erin sangat bersemangat dan antusias sekali.
   Bunkasai di sekolahku ini dalam rangka memperingati hari pertama musim semi di Jepang. Dekorasinya sangat disesuaikan dengan keadaan di Jepang sekarang yang sedang pesta bunga sakura.
   Gween dan Erin sengaja mengenakan syal warna favorit mereka, hijau dan pink. Ada tulisan nama mereka, kelas, dan nama sekolah kami.
   “Eru! Eru!” seru mereka saat Eru dan kawan- kawan selesai menyanyikan lagu pertama. Mereka mengangkat syal yang mereka bawa untuk ditunjukkan kepada Eru.
   Eru tersenyum dan melambaikan tangan pada kami. Seperti biasa, Gween dan Erin yang paling antusias. Aku hanya tersenyum pada Eru.
   Sebelum Eru menyanyikan lagu kedua, ia berkata, “Lagu ini kupersembahkan pada Stella, pacarku. Dan tiga inspiratorku yang ada disitu.”
   Eru menunjuk kami bertiga sebagai inspiratornya. Aku cukup senang dengan hal itu. Tapi Gween dan Erin sangat terpukul ketika Eru berkata ia mempersembahkan lagu mellow itu pada sang kekasih, Stella.
   Aku tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepala, “Sudah, yang sabar, amal. Kita hanya fansnya Eru, terserah saja Eru mau pacaran dengan siapa saja yang menurutnya terbaik baginya.”
   “Tapi aku sedih!” seru Gween dan Erin yang saling berpelukan dan menitikkan air mata.
   Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah seorang pemuda yang tiba- tiba ikut melambai- lambaikan tangan ke atas tapi ia bergerak tidak sesuai irama lagu yang mellow. Ia bergerak serabutan dan kasar.
   “Orang itu mengacau, deh!” seruku.
   Gween dan Erin langsung tertuju pada pemuda itu. Mereka juga berpikir bahwa pemuda itu familiar. Ia bergerak dengan kasar dan menyenggol yang ada di samping kanan dan kirinya kemudian...
   Brukk.. Brukk.. Diikuti suara kaget dari semua orang yang melihat insiden itu.
   Salah seorang cosplayer yang imut dan tampan terjatuh tepat di depanku berdiri. Aku menatap Gween dan Erin. Mereka juga menatapku dengan pikiran yang sama.
   “Aaaa!” seru kami dan kemudian membopong cosplayer tampan itu ke ruang kesehatan sekolah.
   “Aku mau jadi pacarnya cosplayer imut ini!” seruku dalam hati sambil senyum- senyum dan membawanya ke ruang kesehatan sekolah.
♪♫♪

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review