Jumat, 20 Januari 2012

Cerita Kampus-Uluran Tangan Masa Depan

Diposting oleh nupp_niput di Jumat, Januari 20, 2012
Ini benar- benar gila! Cerita pendek ini benar- benar membuat kutu di kepalaku muncul tanpa tahu darimana asalanya, tapi tidak gatal, hanya saja aku menggaruknya sambil menangis.
Hari menjelang sore ini, ditemani listrik yang mati karena hujan lebat, aku meghibur diri dengan membaca cerpen yang dibuat oleh kawanku. Aku rasa dia filosof atau psikiater hati gadungan, atau mungkin saja peramal. Aku menerima naskah cerita ini tadi siang dan sorenya aku membacanya dengan perasaan terkagum, merasa gila, dan bercampur dengan perasaan pecundang.
Aku suka, keseluruhan cerita nggak sepenuhnya berisi cinta cinta cinta yang pink dan romantis. Ada unsur yang membuatku tertarik. Tokoh utama wanita yang kutu buku dan cantik. Imaginasiku langsung tertuju pada Hermione Granger pada sequel Harry Potter. Pintar, kutu buku, dan cantik.
Aku rasa kalau ada wanita seperti itu di dunia nyata, aku ingin sekali melihatnya, bertemu dengannya, berjabat tangan dengannya, dan ­– sedikit narsis – berfoto dengannya, kemudian dia akan menjadi wanita yang menginspirasiku setelah mamaku dan Hermione Granger – tepatnya bisa disebut aslinya, Emma Watson.
Hal yang nggak aku mengerti adalah penjabaran- penjabaran mengenai filosof dunia yang bahkan bagaiamana bentuk orangnya saja aku nggak tahu, dan hal itu memicu keenggakmengertianku tentang teorinya. Tapi seru juga, membaca memang menambah ilmu, dan sedikit- sedikit walaupun sekarang nggak mengerti, aku jadi tahu tentang orang- orang yang disebutkan dalan cerpen kawanku – dan teorinya.
Belajar itu bisa dimana aja, kapan aja, nggak melihat itu sedang mati listrik dan aku nggak bisa nonton serial drama korea kesukaanku. Aku menjadi membuka pikiranku dan melibatkan perasaanku.
Gilang.
Hujan turun dengan derasnya saat hatiku dengan lirih berkata, “Gilang.”
Ada kalimat dalam cerpen itu yang berkata, “Aku mengulurkan tanganku padamu untuk melihat masa depan, tapi satu tanganmu masih saja menggenggam apa yang ada di masa lalu.” Ya, kurang lebih seperti itulah kalimat yang kutangkap saat aku membacanya.
Dear Cupid, apakah aku benar- benar sudah mengulurkan tanganku pada Gilang? Dia bahkan nggak menyambutnya sama sekali. Arah matanya memandang sesuatu yang masih dia harapkan dari masa lalu. Seorang gadis masa lalu. Aku mengulurkan tangan ini untuk melepaskannya dari masa lalu. Hanya saja, apa dia berpikir bahwa aku benar- benar udah mengulurkan tanganku?
Mana bisa dia yakin bahwa aku sedang mengulurkan tanganku untuknya? Aku bahkan nggak berani berbicara padanya. Masih terekam sekali kejadian kemarin saat aku di kampus. Nggak ada seorangpun teman yang kutemukan kecuali Gilang. Aku yang dari tangga melihatnya dengan kaget karena hanya dia...dan aku.
Aku harap saat itu sang waktu dipause karena aku ingin mataku dan matanya bertemu untuk sesaat. Tapi waktu nggak akan berpause dan ia membiarkanku menyelesaikan masalah ini. Bukan suatu masalah kalau aku nggak menyukainya secara diam- diam.
Aku mendekatinya dan bertanya dengan wajah linglung, “Yang lain belum dateng, ya?”
Dia menjawab sambil menggeleng, “Belum kok.”
Singkat tapi membuatku salah tingkah. Aku memandang ke sekitar dan nggak menemukan seorangpun. Dengan gesit aku memasuki kamar mandi dan berakting kalau aku kebelet, kalau Gilang nggak menyadari, sih. Di dalam kamar mandi yang sepi, aku melihat bayanganku sendiri di depan cermin sedang megap- megap dan panik karena nggak tahu harus ngumpet lama disitu atau keluar dan memancing pembicaraan.
Nah, how coward I am!
Apa aku nggak benar- benar menyukainya? Kalau ditelusuri, apa yang mem-buatku menyukainya adalah karena dia kutu buku, dia mencintai buku, dan walaupun dia nggak sepintar kawanku yang memberi cerpen, itungannya dia mengertilah dengan mata kuliah yang dijelaskan dosen.
Aku nggak melihat apakah dia ganteng atau enggak, putih atau coklat, bahkan kaya atau sederhana. Aku hanya melihat dari matanya bahwa dia memperlakukan perempuan dengan sangat baik, dan tentu aja karena dia terlihat cool kalau diam.
Tapi dari keseluruhan, akulah biangnya pecundang. Aku memanfaatkan diriku sebagai perempuan untuk tidak mengungkapkan perasaan pada laki- laki yang ku-sukai karena hal itu adalah tugasnya laki- laki.
Maka dari itu,aku nggak sepenuhnya mengerti apakah aku udah mengulurkan tanganku padanya dan membiarkan dia ikut aku atau malah sebaliknya, ada orang yang mencoba menarik tanganku untuk nggak satu tujuan pada Gilang seorang, tapi aku malah tetap fokus pada Gilang.
Cerpen kawanku mengatakan bahwa dalam cinta selalu ada tiga orang yang terlibat. Aku mengimplementasikan pada diriku sendiri. Apakah aku, Gilang, dan perempuan masa lalu Gilang? Atau aku, Gilang, dan seorang abstrak yang mengulurkan tangannya padaku, tapi aku nggak tahu?
Cinta nggak pernah serumit ini. Tapi ini bukan cinta kalau saja – ternyata – aku belum yakin dengan perasaan ini.
Dear Cupid, aku sangat senang saat mata kami bertemu dan aku ngumpet di kamar mandi, aku senang karena kawanku memberikanku cerpen yang menakjubkan, tapi aku bingung kenapa aku jadi curhat denganmu, Sir Cupid? Aku menjadi nggak berharap untuk bertemu dengan tokoh wanita yang ada di dalam cerpen kawanku, karena setelah aku ingat- ingat tokoh itu meninggal karena penyakit langka, dan aku nggak mau nanti malam ia mendatangiku dengan wujud blablablabla. Dan, dear Sir Cupid, bisakah kau minta Zeus untuk menyalakan listriknya dengan tenaga petir miliknya? Aku harus menonton episode terakhir serial drama korea lainnya sore ini!
ÛÛÛ

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review