Sabtu, 21 Januari 2012

Cerita Kampus-November 16th

Diposting oleh nupp_niput di Sabtu, Januari 21, 2012
Air mata yang tak kuasa terbendung yang akhirnya runtuh. Rasanya bagai hujan deras di pertengahan Bulan November. Petir tak kuasa menahan amarah dan sang angin memberontak kesana kemari. Badai di tanggal 16 November 2011 bagi Janice, teman masa kecilku, sahabatku.
Getir rasanya membaca sms dari Janice yang berbunyi, “Dugaanku bener, kan, Sar! Dia deket sama orang lain waktu kami jadian.”
Nggak cuman tanganku aja yang bergetar, tapi juga mataku – mata hati dan mata beneranku. Aku yang harusnya bisa fokus dengan debatku hari ini, bisa teralihkan oleh sms dari Janice.
Kami sama- sama perempuan dan kami akan ngerasa tersakiti kalau salah satu dari kami disakiti. Tapi laki- laki itu benar- benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia jelalatan dengan orang lain setelah pacaran dengan Janice? Apa salah Janice? Adakah dendam dari laki- laki itu? Yang pasti, kini akulah yang mendendam padanya.
Rasanya seperti ditinju oleh Christiano Ronaldo! Eh, dia pemain bola! Maksudku Mc Tysson *diakah petinju kelas dunia itu?*. Imagine, saat seorang jatuh cinta, itulah hal pertama yang Nabi Adam dan Siti Hawa bawa dari surga. Tapi ketika ada orang ketiga, ialah buah quldi hasutan setan.
Di tengah- tengah riuh debat, aku masih sempat melamun tentang bagaimana Janice menyukai cara Dion mendekatinya. Janice senang saat Dion perhatian padanya. Ya, tapi itu sebelum mereka mengikrarkan kata jadian di tanggal terkutuk itu – bukan berarti Anda yang lahir pada tanggal itu dikutuk, yaa, nggak ada maksud loh.
Janice menyukai cara Dion memperlakukannya dengan sopan. Tapi nggak lama setelah mereka pacaran, tepatnya tiga hari, sifat Dion mulai berubah dan itu membuat Janice bingung.
Mulai dari saran yang buruk, gila, nggak rasional, sampai bijaksana udah aku kasih untuk Janice. Aku menjunjung tinggi hak asasi wanita dan mengangkat derajat setinggi- tinginya untuk berpikiran positif.
Walaupun secara lahiriah Dion kira dia bisa mengelabui Janice, ternyata secara batiniah Janice udah berfirasat. Hanya saja, entah ini salahku atau aku benar melakukan ini, aku tetap menyuruh Janice untuk nggak hidup di bayang- bayang pikiran negatif.
Hal yang memuakkan Janice adalah bagaimana bisa pacarnya nggak pernah membalas smsnya, mengangkat teleponnya, atau untuk sekedar chatting  di Facebook. Sekalipun ia membalas sms Janice, jawabannya hanya singkat-padat-jelas, bahkan mengalahkan proklamasi. Kalau nggak ‘y’, ‘g’, atau ‘o’.
Beginilah Janice sms biasanya, “Sayang, besok jadi ya berenang bareng temen- temen?”
Balasan Dion, “Y.”
Aku yang melihat itu di layar ponsel Janice rasanya ingin menendang wajahnya.
Kemudian lagi, Janice sms di hari berikutnya, “Sayang, hari ini kamu jadi ikut renang, kan? Temen- temen udah pada siap, nih.”
Balasan Dion, “G.”
Aku melihat lagi hal itu dan aku ingin memukul kerongkongannya.
Dengan sabar dan sedikit muak, Janice sms pacarnya lagi sore harinya, “Sayang kenapa hari ini nggak ikut? Padahal seru loh, tambah seru kalau ada sayang.”
Balasan Dion, “O.”
Waaa!!!! Laki- laki itu semakin membuatku ingin mengambil jantungnya! Pikiranku adalah apakah Dion sengaja mengetes kesetiaan dan kesabaran Janice? Tapi, kalau ada tes- tes macam begitu ngapain pacaran sama manusia? Pacaran aja sama soal ujian!
Bulan Desember, bulan di penghujung tahun 2011. Janice harus ke Jakarta selama seminggu. Aku kira hal itu cukup baik buat dia karena mungkin Semarang membuatnya mengingat Dion. Tapi entah di Jakarta atau di Semarang, pikirannya nggak pernah nggak fokus pada Dion. Seberapa buruk pun Dion memperlakukan Janice, Janice masih memberi tahu Dion bahwa ia harus ke Jakarta.
Sebuah awal yang bagus menurutku, Dion udah mau membalas sms Janice dengan normalnya. Tapi bom Hiroshima-Nagasaki melenceng mengenai pikiranku barusan. Itu hanya terjadi sekali dan sehari saja. Aku bisa bayangin wajah Janice saat di kereta ketika Dion membalas smsnya. Rasanya bagai menunggu hujan turun di musim kemarau. Setelah hujan turun sehari, kemarau melanda setahun!
Semua berasa sia- sia. Mulai dari sms berontak untuk memancing Dion sms, memberinya surat untuk segera keluar dari ‘Me-Time’nya, dan bantuan dari teman terdekat.
Janice nggak menangis seperti apa yang biasa aku lakukan. Tapi, raut wajahnya terlihat sedih dan tempramennya buruk sekali!
Sore ini Janice berkunjung ke rumah dan ia terlihat okay dari luar.
“Kok nggak balas smsku, sih?” tanya Janice ketika duduk di sampingku.
“Aku di kampus tadi. Tau? Aku nggak konsen debat setelah kamu sms aku,” aku menunjukkan tampang straight-faceku.
“Maaf, deh, maaf,” kata Janice.
“Apologize accepted,” jawabku singkat. Paling enggak, nggak sesingkat ‘y’, ‘g’, ‘o’-nya Dion.
Kami diam sejenak. Janice berkutat dengan ponselnya dan aku fokus pada layar laptopku. Nggak lama, Janice memcah suasana, “Aku udah duga dari awal.”
“Apanya, Jane?” tanyaku belaga bego.
“Dion,” ujarnya, “dia udah curi start sama orang lain pas kami udah pacaran.”
“Dion siapa, ya?” tanyaku.
Janice memukulku dengan bantal yang terdekat dengannya dan berkata, “Yang bener, deh!”
Aku meringis kemudian kami tertawa. Aku menarik nafas dan berkata, “Lupakan kalau kamu bisa.”
“Udah kok, kan ada mas ganteng!” serunya senyum- senyum.
“Itu punyaku, Jane,” kataku bercanda. Kalau diingat, wajah mas ganteng itu nggak pernah berpindah dari sejak pertama kami bertemu, dia selalu di hati *ngakak guling- guling*.
“Punyaku!” seru Janice nggak mau kalah.
“Oke, dia milik negara. Di KTPnya berbunyi Kartu Tanda Penduduk Warga Negara Indonesia. Bukan Negara Republik Cintaku atau Cintamu,” kataku.
“Nggak bisaaa,” ujar Janice sambil melet- melet. *Melet- melet?*
“Jadi, gimana pendapat temen- temenmu?” tanyaku.
“Kuro,” katanya. Yang dimaksud bukan teman- temannya yang ‘kuro’, tapi mereka mengatai Dion ‘kuro’, atau lebih kasarnya ‘sialan’. Dan itu nggak lebih kasar dari Y-G-O.
“Bukannya dia punya kakak perempuan juga, Jane?”tanyaku.
Janice mengangguk.
“Dan sakit?”
Janice mengangguk lagi.
“Setulus hati, ya, aku restuin kalian jadian walau itu waktu yang terlampau cepat setelah masa kenalan dan pendekatan,” kataku terpotong- potong.
“Maksudmu?” sela Janice.
“Setulus hati juga aku restuin Dion kalau dia pacaran dengan orang lain. Tapi nggak segampang itu. Setulus hati aku juga pengen kakak perempuannya yang sakit- sakitan itu ngerasain sakit yang kamu rasain gara- gara laki- laki macam Dion,” kataku dengan nada sinis dan penuh dendam.
“Jahat banget, deh! Nggak segitunya, ah, Sar,” kata Janice yang sedikit membela kakak Dion.
“Dendam itu nggak mandang siapa dia dan seberapa penting dia,” kataku lagi, “dendam itu mengalir kayak darahmu, nggak peduli mau disalurin kemana aja, yang penting ia udah menjalankan tugasnya.”
“Tugas? Tugas siapa? Darah atau dendam?” tanya Janice nggak mengerti dan merusak atmosfer membunuh yang kubuat.
“Haaaa, Janice, apa- apaan kamu ini!?” seruku padanya, tapi ia hanya tertawa innocent.
“Jangan ngomong gitu lagi, ah, bikin merinding!” seru Janice sambil memukulku dengan bantal lagi.
Aku diam, Janice pun diam. Beberapa detik ini aku mengatur nafasku dan memunculkan atmosfer membunuh lagi, dan berkata, “Hukum karma itu berlaku selama hukum rimba masih ada. Dan hukum rimba selalu ada. Aku cuman mau menekankan karma untuk setiap yang dilakukan Dion karena dia udah nyakitin kamu.”
Dengan perasaan setengah tega tapi mantap, aku mencoba mensugesti Janice dengan pikiran ini. Karena beginilah hidup. Karma nggak akan pernah lepas dari takdir manusia. Semua pasti ada ganjarannya. Dan aku ingin ganjaran itu jatuh di kakaknya Dion. Dan masihkah Dion membuat seorang perempuan menjadi bersalah lagi nantinya?
*turn on: death balad music*
NNN

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review