Aku sedang termenung di dekat jendela kamarku, menatap langit sore setelah hujan deras tadi. Bunga sakura di depan rumah rontok diterpa angin dan air yang menghujam. Aku jadi keinget sama Gilang, kemudian aku menggelengkan kepalaku dengan keras. “No! No! No! Dasar anak nakal!” seruku pada diriku sendiri.
Lagu yang keluar dari laptopku yang membuat keadaan ini tambah galau! Lagu- lagu dari playlist ‘sorrowness’ memang memperkaya hormon kegalauan. Apalagi suasana mendukung kayak begini. Aku menatap laptopku sebentar, terbesit untuk mengganti dengan playlist yang lain, tapi nggak jadi karena I can face it.
Aku berdiri di depan jendela dan menatap langit lagi. Angin yang cukup kenang berhembus mencoba masuk ke kamarku, namun terterpa olehku. Rasanya seperti berdiri di atas karang di tengah laut, angin dan ombak mencoba menjatuhkanku, tapi aku tetap berdiri tegap. “Dingin,” lirihku.
Aku mengambil selimutku dan membungkus diriku dengan selimut pink bergambar Barbie Swan Lake. Tiba- tiba aku aku ingin melihat fotoku bersama Gilang yang berada di laptop. Ku geser kursor dan muncul layar desktopku yang hitam semua dan penuh sticky notes berwarna- warni.
Aku menghela nafas dan membaca sticky notes yang kubuat sendiri, walaupun udah berulangkali aku membacanya.
Sticky note yang pertama berwarna hijau bertuliskan, “Nevermind I'll find someone like you.. I wish nothing, but the best for you too Y.” Sebuah lagu dari Adele yang udah beberapa minggu ini menemaniku sebagai soundtrack hatiku.
Kemudian note selanjutnya yang berwarna kuning bertuliskan, “Love is always like this. When it goes away, the new love will come. Is this strange, or truth, or something do you believe? Y.” kata- kata itu terjemahan dari sebuah lagu korea, soundtrack film juga, dan itu sangat kena banget di hatiku.
Dua notes yang berisikan bahwa hatiku sedang nggak baik- baik saja dan sedang dalam proses melupakan seseorang, Gilang. Yaa, ujian udah dekat dan kenapa aku masih aja sempet mikirin dia? Padahal udah berbagai macam cara seperti belajar, baca buku, sama meringkas mata kuliah untuk mengalihkan pikiranku darinya, tapi tetap aja aku masih kepikiran!
Ahaa! Aku ingat sekarang. Aku masih membawa sedikit hatiku yang menyukainya. Wajar aja kalau lagu- lagu di playlist sorrownessku mengingatkanku padanya.
Aku melanjutkan membaca notes lainnya. Note berwarna biru bertuliskan, “I don't need a box to save my heart, I just need a place to put it in. When I've used it, I'll put it to the place where it should be Y.” Karena aku memang masih menggunakan hatiku, maka dari itu aku masih memikirkannya. Payah!
Note berwarna pink bertuliskan, “I am forgetting you because I know that there's a girl that you want to be the shoulder to cry, to defend, and to confess that this is love and pain... Y.” Aku pasrah dengan apapun tentangnya karena udah ada seseorang yang dia dambakan. Siapaun perempuan itu, bersyukurlah karena ada Gilang yang selalu menyukainya apapun keadaannya, apapun status hubungannya.
Aku menghela nafas dan ingin menangis saja kalau membaca note warna pink ini. Karena disitulah aku harus benar- benar melupakan seseorang. Aku bisa, aku tahu aku bisa, tapi proses ini sangat panjang dan mungkin agak lama.
Aku harap buruan libur dan nggak bertemu dia dulu dalam kurun waktu liburan semesteran nanti. Nggak bertemu dengannya akan sangat membantu untuk lebih cepat lupa padanya.
Tapi, kalau diingat- ingat, aku sering melupakan seseorang dengan cara yang paling ampuh, yaitu mengaji! J Aku jamin seratus persen bisa lupa karena saat mengaji fokus otakku hanya pada deretan ayat- ayat yang harus dilantunkan dengan benar. Setelah selesai mengaji, nggak jamin lagi deh kalau inget (-,-).
Tapi dari semua itu aku nggak akan pernah lupa kalau Love is pure, white, and innocent. The human always use this for weakness, in other hand, this is the strength! Y. Seperti yang tertulis di note warna putih.
Dan aku meminta maaf atas semua kebodohan ini dan keenggaksadaranku di note warna ungu. Aku boleh menyukai seseorang, aku boleh melupakan seseorang. Tapi kedua hal itu butuh proses. Nggak mulai menyukai, nggak mulai melupakan, semua butuh proses. Dan aku sedang berjalan di proses melupakan.
Aku menatap lagi keluar jendela dan melihat langit. Angin berhembus lagi, mencoba menerpaku. Tapi aku nggak merasa dingin karena aku memakai selimut, seperti aku yang kokoh dengan proses dan prinsipku.
Maaf Gilang, aku harus melupakanmu...
0 komentar:
Posting Komentar