Selasa, 26 Juni 2012

Pop Corn - CUPU!

Diposting oleh nupp_niput di Selasa, Juni 26, 2012

Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku menarik. Dan aku sadar betul dengan diriku ini. Jika dulu semua temanku mengejekku karena aku NOL dan aku nggak menarik, sekarang mereka menelan ludah mereka sendiri dengan berebut untuk dekat denganku. Tapi, dalam hati kecilku, diriku yang dibangga- banggakan dan dielu- elukan ini membuatku terhanyut dalam kesombongan dan aku malah senang menjadi seperti ini.
“Ilana, hidupmu sekarang sudah berubah!” seruku. Aku menutup binderku yang isinya foto- fotoku saat SMP. Sangat cupu, nggak gaul, dan malu- maluin. Kusimpan binder itu di laci kamar dan kukunci rapat, setelah itu aku berangkat ke sekolah.
Sekolahku memang bukan sekolah elit. Nggak semua teman- temanku tajir dan gaul. Tapi sekolah ini menjadi keren karena ada ‘The Fairies’. Mereka bukanlah sekelompok orang dalam satu band, atau grup vionist, dan juga bukan sekelompok orang yang menjadi satu dalam anggota pengurus OSIS. The Fairies adalah aku dan teman- temanku. Fika, Amanda, aku sendiri, Rosa, dan Yesi. Masing- masing dari kami memang cantik dan memiliki keunggulan masing- masing.
Berawal dari mantan pacar Rosa, Diggo, yang sering mengumpulkan cewek- cewek cantik menurut listnya dan mengajak untuk makan siang bersama. Kami berlima adalah salah satunya. Karena sering bertemu saat diajak makan siang oleh Diggo, akhirnya kami menjadi kenal dan dekat, lalu kami memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok karena kecantikan kami.
Memang terdengar sombong, tapi inilah kami, kami hanya sedang menikmati anu-grah yang diberikan Tuhan pada kami lewat kecantikan kami.
Aku turun dari kendaraanku dan menuju ke kantin dimana teman- temanku sedang sarapan disana. Aku mendekati mereka dan langsung nimbrung dengan obrolan mereka.
“Hei, baru aja datang?” tanya Fika.
Aku mengangguk dan bertanya, “Dimana Rosa?”
Teman- temanku celingkukan mencari Rosa. Kemudian Amanda menunjuk ke arah belakangku dan berseru, “Rosa!”
Rosa datang setengah berlari. Ia ketawa- ketiwi, sepertinya ada gosip yang siap ia ceritakan pada kami. Rosa kemudian duduk sambil terengah- engah. Ia merebut minuman yang masih diminum Fika.
“Eh eh eh!” seru Fika nggak rela minumnya direbut Rosa.
“Tunggu deh, kamu kenapa, Ros?” tanyaku.
“Kayaknya ada berita baru, nih, share dong,” pinta Yesi mendekatkan dirinya ke arah Rosa. Kami pun saling menempelkan badan kami ke Rosa untuk mendengarkan ceritanya.
Rosa menggoda kami dengan mengulur- ulur waktu unuk bercerita, setelah ia mengatur nafas, ia berkata, “Ada anak baru!”
“Hah?!” seru Yesi.
“Cowok?” tanyaku spontan.
“Ganteng?” tanya Fika penasaran.
“Tajir?” tanya Amanda dan sifat matrenya keluar.
“Cowok, tapi cupu banget, sumpah!” seru Rosa.
Mendengar kata ‘cupu’, aku jadi flashback ke zaman aku SMP dulu. Cupu dan banyak orang yang nggak mau berteman denganku, kecuali satu, Kirana. Aku nggak fokus dengan apa yang dibilang Rosa karena otakku langsung down saat kata ‘cupu’ diucapkan, seperti mantra pembeku.
“Setuju!” seru mereka.
“Apanya?” tanyaku.
“Aah, lemot amat, sih!” seru Yesi, “Udah, nanti aku kasih tahu di kelas.”
Bel masuk jam pertama berbunyi dan kami langsung berhambur ke kelas masing- masing.
Aku satu kelas dengan Yesi, ia juga duduk di bangku sebelahku. Saat pelajaran akan dimulai, Mrs. Elsa memperkenalkan murid baru yang memang benar- benar cupu. Satu yang keren dari laki- laki itu adalah jam tangannya.
“Hai, namaku Fadzan Putra Ghandi, panggil saja Putra. Aku pindahan dari Bogor. Senang ketemu kalian disini, semoga kita bisa jadi teman baik,” ujarnya.
Your wish,” ucap Yesi lirih kepadaku. Kami saling ketawa. Mataku tertuju dari ujung atas sampai ujung bawah dan benar aja, hanya jam tangannya yang keren.
–––
Saat istirahat tiba, Yesi nerocos melulu tentang Putra dan teman- temanku yang lainnya berasa haus dengan cerita itu sehingga Yesi menceritakannya lagi dan lagi.
“Yaudah! Buruan kita jalanin misi kita!” seru Rosa.
“Misi apaan?” tanyaku penasaran.
Amanda berkata, “Yang tadi pagi itu loh. Kamu, sih, ngelamun melulu, jadi lemot, deh!”
Fika menegur kami untuk diam. Kemudian ia mengocok lima kertas yang tergulung yang di dalamnya berisi nama- nama kami. Fika melepaskan satu gulungan dari kocokannya dan keluarlah sebuah nama. “Ilana!”
Aku bingung sementara teman- temanku terkejut dan langsung tertawa bersama. Tertawa mereka sangat girang. Aku meminta Yesi untuk menjelaskan ke padaku dan akhirnya aku tahu apa yang mereka tertawakan. Aku harus menjalani sebuah misi untuk mendekati si cupu Putra dengan kecantikanku dan harus bisa berkencan dengannya. Aku hanya diberi waktu selama dua hari untuk misi ini.
“Kalian benar- benar tega!” seruku. Nggak ada yang lucu dalam kalimatku, tapi mereka semua tertawa mengejekku.
–––
Hari ini juga aku menjalankan misi aneh di dunia ini, dan aku harap nggak masuk ke acara salah satu program tv dengan judul “7 misi teraneh di dunia”.
Pertama, aku harus tahu bidang yang sangat Putra geluti. Dan mudah saja, aku langsung menemukannya saat aku memohon pada Tuhan untuk menunjukkannya. Putra sangat ahli dalam mata pelajaran kimia. Pelajaran yang aku juga suka.
Saat istirahat kedua, aku mendekati Putra yang ternyata sudah dikerumuni oleh teman- teman laki- laki. Coba pikir, siapa teman- teman perempuanku yang mau mende-katinya? Yaah, kecuali aku, jika dilihat dari sisi kasusku, misiku!
Aku melewati kerumunan teman- temanku dan duduk di samping Putra. Semua teman- temanku menatap kepadaku dan mulai menggosipkan aku. Aku maklum saja, aku kan cantik.
Aku berpura- pura nggak mengerti dengan mata pelajaran yang dijelaskan guruku tadi dan meminta Putra untuk menjelaskannya padaku. Matanya memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin ia takjub karena didatangi oleh peri cantik sepertiku. Tangannya gemetaran saat mulai menjelaskan padaku. Aku juga bisa mendengar suaranya bergetar. Aku rasanya ingin tertawa.
Dari arah tempat dudukku, The Fairies sedang mengamatiku dan berdecak kagum. Satu langkah dalam misi sudah terlaksanakan, dan itu berhasil.
Aku meminta nomor ponsel Putra dengan dalih untuk bertanya tentang mata pelajaran yang lain. Semua temanku kaget dan tercengang karena nggak sembarangan orang bisa mengetahui nomor ponselku. Saat Putra memberikan nomornya padaku, aku miss call ponselnya dan berbisik genit, “Jangan berikan nomorku pada orang lain, ini hanya buat kamu. Oke?”
Putra mengangguk tegang. Kemudian terdengar bel masuk berbunyi. Aku segera kembali ke bangkuku dan menceritakan hal tadi kepada Yesi.
–––
Siapa yang benar- benar ingin sms Putra? Ini hanya misi dan ternyata memang Putra adalah sasaran empuk. Ia mudah saja kukelabui, walau nyatanya teman- temanku yang laki- laki juga akan begitu saat kukelabui.
Kenapa orang cupu begitu sangat lemah dan terpedaya? Polos dan nggak berani menentang. Mudah saja ditipu. Seperti aku hanya menjentikkan jari dengan genit, kemudian korbanku terpanah asmara.
Semalaman ini aku memikirkan cara tepat untuk mengajaknya berkencan. Tempat yang pas untuk orang seperti dia. Kalau aku, sih, bisa menyesuaikan. Kenapa kencan harus berada di tempat yang romantis? Apa sebenarnya kencan itu? Yang ada dalam pikiranku selama ini, kencan adalah sepasang muda- mudi yang sedang kasmaran dan duduk di kafe sambil bercerita tentang pribadi masing- masing.
Aku berpikir sejenak dan mendapat ide saat kupandangi puluhan novel yang ada di rak bukuku. “Toko buku!”
Aku buru- buru menelepon Putra dan mengajaknya ke toko buku untuk memban-tuku memilih buku pendamping siswa dalam menghadapi ujian. Memang terdengar aneh bagi Putra karena ujian masih sangat lama, tapi kuberikan alasan logis agar ia benar- benar mau menemaniku.
Well, sekali lagi Putra masuk ke dalam lubang yang kugali. Siang setelah pulang sekolah, aku dan Putra jalan bersama menuju parkiran. Aku sadar hal ini banyak mengundang orang- orang untuk bergosip, tapi demi misi persahabatan, aku rela sehari ini menjadi seekor keledai dungu.
Dengan cepat aku mengendarai motorku menuju toko buku dekat kedai kopi langgananku. Aku nggak harus lama menunggu Putra untuk menyusulku, ternyata bisa juga ia ngebut.
Tanpa basa- basi kami memasuki toko buku dan aku berhambur ke rak novel. “Ternyata kamu juga suka baca, ya?” tanya Putra heran.
Aku tertawa sebentar dan menjawab, “Kamu kira hanya orang cu–”
“Cupu?” tanyanya, “Kenapa nggak diteruskan?”
Aku langsung mengalihkan wajahku ke rak bagian lain, aku takut Putra tahu bahwa aku mendekatinya karena misi yang diberikan teman- temanku. Aku takut bahwa penipuan yang kulakukan ini bisa ia ungkap.
Aku mengambil salah satu novel yang berjudul Antara Sela- Sela Jemari Kita karya Sulaiman Ghandi. Judulnya sangat nggak kumengerti, tapi covernya bagus. Nggak munafik, deh, semua orang selalu menilai dari covernya, baru isinya.
Kubuka lembar halaman persembahan dan menemukan nama Putra ada disana. “Putra,” panggilku dan ia menghampiriku, “ini ayahmu? Ini karya ayahmu?”
Putra tersenyum dan mengangguk. Aku takjub dengan ini. Ternyata ayahnya adalah penulis. Aku memutuskan untuk membeli novel itu dan penasaran untuk segera membacanya, nggak lupa juga aku membeli buku kumpulan soal ujian sebagai alibiku.
Setelah puas berada di toko buku, Putra mengajakku untuk membeli kopi di kedai langgananku. Awalnya aku agak risih, aku nggak mau ada salah seorang teman gaulku yang melihatku bersama Putra. Ya ampun, dunia berasa menumpahkan semua esnya di kepalaku!
“Ayolah, aku yang traktir, deh,” pinta Putra.
Akhirnya aku menuruti kemauannya dan duduk di tempat yang jauh dari jangkauan publik. Tempat paling pojok dan benar saja, nggak mudah semua orang bisa menjangkau ke arah kami.
“Ternyata kamu doyan sepi juga, ya?” tanya Putra.
“Ah, nggak juga kok. Nggak tahu kenapa kalau aku pegang buku rasanya pengen menyendiri aja,” ucapku bohong. Padahal, dimana aja dan kapan aja aku bisa membaca buku.
“Aku takjub ada perempuan kayak kamu di sekolah baruku,” ujarnya.
Aku menghiraukan ucapannya dan nggak merespon, aku hanya memandangnya dan ingin mendengarkan apa yang mau ia katakan lagi.
Kali ini ia nggak setegang kemarin. Dengan lugas ia berkata ini itu, “Aku kira orang secantik kamu pasti pilih- pilih teman dan nggak mau berteman sama orang seperti aku. Ternyata kamu beda. Kamu supel, mau bergaul sama siapa aja.”
Aku merasa seperti terhunus pedang. Ia mengatakan sifat asliku tapi ia percaya bahwa aku benar- benar perempuan baik, supel, dan nggak sombong. “Masa’, sih?” tanyaku.
“Buktinya ini,” katanya, “kamu mau ngajak aku ke toko buku dan kamu mau kuajak ke kedai. Nggak semua orang kayak kamu di sekolah mau kuajak pergi ke kedai seperti ini. Mereka pasti gengsi dan berpikir kalau orang seperti aku nggak pantas buat diajak bergaul.”
“Jadi, itu pandanganmu? Ada yang lain lagi?” tanyaku penasaran. Hatiku panas kalau sampai ia tahu bahwa sebenarnya aku adalah orang yang berpikir begitu.
“Aku kira kamu malu pergi ke kedai bersamaku,” ucapnya lagi, “tapi kamu ternyata enggak. Aku kira kamu malu dan memilih untuk duduk di tempat pojok begini. Aku berusaha positive thinking dan ternyata itu benar. Kamu suka tempat sepi dan nggak ramai saat ada novel di tanganmu.”
Wow. Ini benar- benar wow! Apakah ia dukun? Dia membaca setiap perilakuku. Aku memilih target yang salah. Prasangka Putra memang benar, semuanya benar. Tapi ia mengesampingkan negative thinkingnya dan mengedepankan pikiran positif. Andai saja Putra adalah orang yang berani berasumsi buruk, mungkin kami nggak akan pernah jalan bareng seperti ini.
“Sebenarnya dulu aku juga kayak begitu,” kataku mulai bercerita, “aku malah nggak punya teman sama sekali, kecuali satu, sih. Dia memandangku dengan sisi yang berbeda, padahal kebanyakan semua temanku mengejekku ‘cupu- cupu’. Sampai sekarang aku penasaran, dari sisi yang mana ia melihatku.”
“Sebenarnya temanmu itu benar. Semua orang terlahir secara istimewa. Yang membuatnya berbeda adalah cara mereka terlihat istimewa. Ada yang agresif dan mengumbar keistimewaan mereka, contohnya anak- anak gaul. Tapi, ada juga yang menjaga keistimewaan mereka, contohnya anak cupu. Siapa yang tahu dibalik kaca mata tebalnya, kancing yang sampai menekak lehernya, atau rambut klimisnya, mereka mempunyai sesuatu yang menakjubkan yang masih terpendam?” ujarnya panjang lebar.
Aku yakin pandangannya seperti itu adalah warisan dari ayahnya yang seorang penulis. Aku berdecak kagum dalam hati. Ya, siapa yang tahu bahwa aku yang cupu dulu, nggak punya banyak teman, dan selalu tertindas, ternyata aku memiliki sesuatu yang menakjubkan. Dibalik rok SMP lima senti di bawah lutut, kancing menekak leher, dan kaca mata tebal, aku sangatlah cantik sampai- sampai semua orang ingin dekat denganku sekarang.
“Ya, siapa yang tahu?” tanyaku tanpa memerlukan jawaban.
“Jadi, dimana kacamatamu?” tanya Putra.
Aku mengeluarkan sebuah kacamata tebal dari tasku dan memakainya, “Aku terlihat cupu?”
Putra tertawa terbahak- bahak, “Sama sekali enggak. Kamu tetap cantik!”
Aku tersipu dan kami tertawa bersama.
–––

0 komentar:

Posting Komentar

 

niput and stories Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review