Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku menarik.
Dan aku sadar betul dengan diriku ini. Jika dulu semua temanku mengejekku
karena aku NOL dan aku nggak menarik, sekarang mereka menelan ludah mereka
sendiri dengan berebut untuk dekat denganku. Tapi, dalam hati kecilku, diriku
yang dibangga- banggakan dan dielu- elukan ini membuatku terhanyut dalam
kesombongan dan aku malah senang menjadi seperti ini.
“Ilana, hidupmu sekarang sudah berubah!”
seruku. Aku menutup binderku yang isinya foto- fotoku saat SMP. Sangat cupu,
nggak gaul, dan malu- maluin. Kusimpan binder itu di laci kamar dan kukunci
rapat, setelah itu aku berangkat ke sekolah.
Sekolahku memang bukan sekolah elit. Nggak
semua teman- temanku tajir dan gaul. Tapi sekolah ini menjadi keren karena ada
‘The Fairies’. Mereka bukanlah sekelompok orang dalam satu band, atau grup vionist,
dan juga bukan sekelompok orang yang menjadi satu dalam anggota pengurus OSIS.
The Fairies adalah aku dan teman- temanku. Fika, Amanda, aku sendiri, Rosa, dan
Yesi. Masing- masing dari kami memang cantik dan memiliki keunggulan masing-
masing.
Berawal dari mantan pacar Rosa, Diggo, yang
sering mengumpulkan cewek- cewek cantik menurut listnya dan mengajak
untuk makan siang bersama. Kami berlima adalah salah satunya. Karena sering bertemu
saat diajak makan siang oleh Diggo, akhirnya kami menjadi kenal dan dekat, lalu
kami memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok karena kecantikan kami.
Memang terdengar sombong, tapi inilah kami,
kami hanya sedang menikmati anu-grah yang diberikan Tuhan pada kami lewat
kecantikan kami.
Aku turun dari kendaraanku dan menuju ke
kantin dimana teman- temanku sedang sarapan disana. Aku mendekati mereka dan
langsung nimbrung dengan obrolan mereka.
“Hei, baru aja datang?” tanya Fika.
Aku mengangguk dan bertanya, “Dimana Rosa?”
Teman- temanku celingkukan mencari Rosa.
Kemudian Amanda menunjuk ke arah belakangku dan berseru, “Rosa!”
Rosa datang setengah berlari. Ia ketawa-
ketiwi, sepertinya ada gosip yang siap ia ceritakan pada kami. Rosa kemudian
duduk sambil terengah- engah. Ia merebut minuman yang masih diminum Fika.
“Eh eh eh!” seru Fika nggak rela minumnya
direbut Rosa.
“Tunggu deh, kamu kenapa, Ros?” tanyaku.
“Kayaknya ada berita baru, nih, share dong,”
pinta Yesi mendekatkan dirinya ke arah Rosa. Kami pun saling menempelkan badan
kami ke Rosa untuk mendengarkan ceritanya.
Rosa menggoda kami dengan mengulur- ulur
waktu unuk bercerita, setelah ia mengatur nafas, ia berkata, “Ada anak baru!”
“Hah?!” seru Yesi.
“Cowok?” tanyaku spontan.
“Ganteng?” tanya Fika penasaran.
“Tajir?” tanya Amanda dan sifat matrenya
keluar.
“Cowok, tapi cupu banget, sumpah!” seru Rosa.
Mendengar kata ‘cupu’, aku jadi flashback
ke zaman aku SMP dulu. Cupu dan banyak orang yang nggak mau berteman denganku,
kecuali satu, Kirana. Aku nggak fokus dengan apa yang dibilang Rosa karena
otakku langsung down saat kata ‘cupu’ diucapkan, seperti mantra pembeku.
“Setuju!” seru mereka.
“Apanya?” tanyaku.
“Aah, lemot amat, sih!” seru Yesi, “Udah,
nanti aku kasih tahu di kelas.”
Bel masuk jam pertama berbunyi dan kami
langsung berhambur ke kelas masing- masing.
Aku satu kelas dengan Yesi, ia juga duduk di
bangku sebelahku. Saat pelajaran akan dimulai, Mrs. Elsa memperkenalkan murid
baru yang memang benar- benar cupu. Satu yang keren dari laki- laki itu adalah
jam tangannya.
“Hai, namaku Fadzan Putra Ghandi, panggil
saja Putra. Aku pindahan dari Bogor. Senang ketemu kalian disini, semoga kita
bisa jadi teman baik,” ujarnya.
“Your wish,” ucap Yesi lirih kepadaku.
Kami saling ketawa. Mataku tertuju dari ujung atas sampai ujung bawah dan benar
aja, hanya jam tangannya yang keren.
Saat istirahat tiba, Yesi nerocos melulu
tentang Putra dan teman- temanku yang lainnya berasa haus dengan cerita itu
sehingga Yesi menceritakannya lagi dan lagi.
“Yaudah! Buruan kita jalanin misi kita!” seru
Rosa.
“Misi apaan?” tanyaku penasaran.
Amanda berkata, “Yang tadi pagi itu loh.
Kamu, sih, ngelamun melulu, jadi lemot, deh!”
Fika menegur kami untuk diam. Kemudian ia
mengocok lima kertas yang tergulung yang di dalamnya berisi nama- nama kami.
Fika melepaskan satu gulungan dari kocokannya dan keluarlah sebuah nama.
“Ilana!”
Aku bingung sementara teman- temanku terkejut
dan langsung tertawa bersama. Tertawa mereka sangat girang. Aku meminta Yesi untuk
menjelaskan ke padaku dan akhirnya aku tahu apa yang mereka tertawakan. Aku
harus menjalani sebuah misi untuk mendekati si cupu Putra dengan kecantikanku
dan harus bisa berkencan dengannya. Aku hanya diberi waktu selama dua hari
untuk misi ini.
“Kalian benar- benar tega!” seruku. Nggak ada
yang lucu dalam kalimatku, tapi mereka semua tertawa mengejekku.
Hari ini juga aku menjalankan misi aneh di
dunia ini, dan aku harap nggak masuk ke acara salah satu program tv dengan
judul “7 misi teraneh di dunia”.
Pertama, aku harus tahu bidang yang sangat
Putra geluti. Dan mudah saja, aku langsung menemukannya saat aku memohon pada
Tuhan untuk menunjukkannya. Putra sangat ahli dalam mata pelajaran kimia.
Pelajaran yang aku juga suka.
Saat istirahat kedua, aku mendekati Putra
yang ternyata sudah dikerumuni oleh teman- teman laki- laki. Coba pikir, siapa
teman- teman perempuanku yang mau mende-katinya? Yaah, kecuali aku, jika
dilihat dari sisi kasusku, misiku!
Aku melewati kerumunan teman- temanku dan
duduk di samping Putra. Semua teman- temanku menatap kepadaku dan mulai
menggosipkan aku. Aku maklum saja, aku kan cantik.
Aku berpura- pura nggak mengerti dengan mata
pelajaran yang dijelaskan guruku tadi dan meminta Putra untuk menjelaskannya
padaku. Matanya memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin ia takjub karena
didatangi oleh peri cantik sepertiku. Tangannya gemetaran saat mulai
menjelaskan padaku. Aku juga bisa mendengar suaranya bergetar. Aku rasanya
ingin tertawa.
Dari arah tempat dudukku, The Fairies sedang
mengamatiku dan berdecak kagum. Satu langkah dalam misi sudah terlaksanakan,
dan itu berhasil.
Aku meminta nomor ponsel Putra dengan dalih
untuk bertanya tentang mata pelajaran yang lain. Semua temanku kaget dan
tercengang karena nggak sembarangan orang bisa mengetahui nomor ponselku. Saat
Putra memberikan nomornya padaku, aku miss call ponselnya dan berbisik
genit, “Jangan berikan nomorku pada orang lain, ini hanya buat kamu. Oke?”
Putra mengangguk tegang. Kemudian terdengar
bel masuk berbunyi. Aku segera kembali ke bangkuku dan menceritakan hal tadi
kepada Yesi.
Siapa yang benar- benar ingin sms Putra? Ini
hanya misi dan ternyata memang Putra adalah sasaran empuk. Ia mudah saja
kukelabui, walau nyatanya teman- temanku yang laki- laki juga akan begitu saat
kukelabui.
Kenapa orang cupu begitu sangat lemah dan
terpedaya? Polos dan nggak berani menentang. Mudah saja ditipu. Seperti aku
hanya menjentikkan jari dengan genit, kemudian korbanku terpanah asmara.
Semalaman ini aku memikirkan cara tepat untuk
mengajaknya berkencan. Tempat yang pas untuk orang seperti dia. Kalau aku, sih,
bisa menyesuaikan. Kenapa kencan harus berada di tempat yang romantis? Apa
sebenarnya kencan itu? Yang ada dalam pikiranku selama ini, kencan adalah
sepasang muda- mudi yang sedang kasmaran dan duduk di kafe sambil bercerita
tentang pribadi masing- masing.
Aku berpikir sejenak dan mendapat ide saat
kupandangi puluhan novel yang ada di rak bukuku. “Toko buku!”
Aku buru- buru menelepon Putra dan
mengajaknya ke toko buku untuk memban-tuku memilih buku pendamping siswa dalam
menghadapi ujian. Memang terdengar aneh bagi Putra karena ujian masih sangat
lama, tapi kuberikan alasan logis agar ia benar- benar mau menemaniku.
Well, sekali
lagi Putra masuk ke dalam lubang yang kugali. Siang setelah pulang sekolah, aku
dan Putra jalan bersama menuju parkiran. Aku sadar hal ini banyak mengundang
orang- orang untuk bergosip, tapi demi misi persahabatan, aku rela sehari ini
menjadi seekor keledai dungu.
Dengan cepat aku mengendarai motorku menuju
toko buku dekat kedai kopi langgananku. Aku nggak harus lama menunggu Putra
untuk menyusulku, ternyata bisa juga ia ngebut.
Tanpa basa- basi kami memasuki toko buku dan
aku berhambur ke rak novel. “Ternyata kamu juga suka baca, ya?” tanya Putra
heran.
Aku tertawa sebentar dan menjawab, “Kamu kira
hanya orang cu–”
“Cupu?” tanyanya, “Kenapa nggak diteruskan?”
Aku langsung mengalihkan wajahku ke rak
bagian lain, aku takut Putra tahu bahwa aku mendekatinya karena misi yang
diberikan teman- temanku. Aku takut bahwa penipuan yang kulakukan ini bisa ia
ungkap.
Aku mengambil salah satu novel yang berjudul
Antara Sela- Sela Jemari Kita karya Sulaiman Ghandi. Judulnya sangat nggak
kumengerti, tapi covernya bagus. Nggak munafik, deh, semua orang selalu menilai
dari covernya, baru isinya.
Kubuka lembar halaman persembahan dan
menemukan nama Putra ada disana. “Putra,” panggilku dan ia menghampiriku, “ini
ayahmu? Ini karya ayahmu?”
Putra tersenyum dan mengangguk. Aku takjub
dengan ini. Ternyata ayahnya adalah penulis. Aku memutuskan untuk membeli novel
itu dan penasaran untuk segera membacanya, nggak lupa juga aku membeli buku
kumpulan soal ujian sebagai alibiku.
Setelah puas berada di toko buku, Putra
mengajakku untuk membeli kopi di kedai langgananku. Awalnya aku agak risih, aku
nggak mau ada salah seorang teman gaulku yang melihatku bersama Putra. Ya
ampun, dunia berasa menumpahkan semua esnya di kepalaku!
“Ayolah, aku yang traktir, deh,” pinta Putra.
Akhirnya aku menuruti kemauannya dan duduk di
tempat yang jauh dari jangkauan publik. Tempat paling pojok dan benar saja,
nggak mudah semua orang bisa menjangkau ke arah kami.
“Ternyata kamu doyan sepi juga, ya?” tanya
Putra.
“Ah, nggak juga kok. Nggak tahu kenapa kalau
aku pegang buku rasanya pengen menyendiri aja,” ucapku bohong. Padahal, dimana
aja dan kapan aja aku bisa membaca buku.
“Aku takjub ada perempuan kayak kamu di
sekolah baruku,” ujarnya.
Aku menghiraukan ucapannya dan nggak
merespon, aku hanya memandangnya dan ingin mendengarkan apa yang mau ia katakan
lagi.
Kali ini ia nggak setegang kemarin. Dengan
lugas ia berkata ini itu, “Aku kira orang secantik kamu pasti pilih- pilih
teman dan nggak mau berteman sama orang seperti aku. Ternyata kamu beda. Kamu
supel, mau bergaul sama siapa aja.”
Aku merasa seperti terhunus pedang. Ia
mengatakan sifat asliku tapi ia percaya bahwa aku benar- benar perempuan baik,
supel, dan nggak sombong. “Masa’, sih?” tanyaku.
“Buktinya ini,” katanya, “kamu mau ngajak aku
ke toko buku dan kamu mau kuajak ke kedai. Nggak semua orang kayak kamu di
sekolah mau kuajak pergi ke kedai seperti ini. Mereka pasti gengsi dan berpikir
kalau orang seperti aku nggak pantas buat diajak bergaul.”
“Jadi, itu pandanganmu? Ada yang lain lagi?”
tanyaku penasaran. Hatiku panas kalau sampai ia tahu bahwa sebenarnya aku
adalah orang yang berpikir begitu.
“Aku kira kamu malu pergi ke kedai
bersamaku,” ucapnya lagi, “tapi kamu ternyata enggak. Aku kira kamu malu dan
memilih untuk duduk di tempat pojok begini. Aku berusaha positive thinking
dan ternyata itu benar. Kamu suka tempat sepi dan nggak ramai saat ada novel di
tanganmu.”
Wow. Ini benar- benar wow! Apakah ia dukun?
Dia membaca setiap perilakuku. Aku memilih target yang salah. Prasangka Putra
memang benar, semuanya benar. Tapi ia mengesampingkan negative thinkingnya
dan mengedepankan pikiran positif. Andai saja Putra adalah orang yang berani
berasumsi buruk, mungkin kami nggak akan pernah jalan bareng seperti ini.
“Sebenarnya dulu aku juga kayak begitu,”
kataku mulai bercerita, “aku malah nggak punya teman sama sekali, kecuali satu,
sih. Dia memandangku dengan sisi yang berbeda, padahal kebanyakan semua temanku
mengejekku ‘cupu- cupu’. Sampai sekarang aku penasaran, dari sisi yang mana ia
melihatku.”
“Sebenarnya temanmu itu benar. Semua orang
terlahir secara istimewa. Yang membuatnya berbeda adalah cara mereka terlihat
istimewa. Ada yang agresif dan mengumbar keistimewaan mereka, contohnya anak-
anak gaul. Tapi, ada juga yang menjaga keistimewaan mereka, contohnya anak
cupu. Siapa yang tahu dibalik kaca mata tebalnya, kancing yang sampai menekak
lehernya, atau rambut klimisnya, mereka mempunyai sesuatu yang menakjubkan yang
masih terpendam?” ujarnya panjang lebar.
Aku yakin pandangannya seperti itu adalah
warisan dari ayahnya yang seorang penulis. Aku berdecak kagum dalam hati. Ya,
siapa yang tahu bahwa aku yang cupu dulu, nggak punya banyak teman, dan selalu
tertindas, ternyata aku memiliki sesuatu yang menakjubkan. Dibalik rok SMP lima
senti di bawah lutut, kancing menekak leher, dan kaca mata tebal, aku sangatlah
cantik sampai- sampai semua orang ingin dekat denganku sekarang.
“Ya, siapa yang tahu?” tanyaku tanpa
memerlukan jawaban.
“Jadi, dimana kacamatamu?” tanya Putra.
Aku mengeluarkan sebuah kacamata tebal dari
tasku dan memakainya, “Aku terlihat cupu?”
Putra tertawa terbahak- bahak, “Sama sekali
enggak. Kamu tetap cantik!”
Aku tersipu dan kami tertawa bersama.
0 komentar:
Posting Komentar