Beberapa hari ini aku mencoba memasrahkan dan merelakan apa yang kucintai. Bukan manusia, ini masih tentang kemarin. Aku tahu aku akan egois dan jahat pada Allah kalau aku ngoyo, ngotot, dan maksain apa yang kumau.
Semua orang bisa trauma, tapi rasanya aku belum juga jera, padahal sudah 3 kali aku ditolak. Tapi, rasa lelahku kemarin mengalahkan rasa anti-jeraku. Akhirnya Allah mengalahkanku saat aku memasrahkan semua ini.
Kali ini, aku mendengarkan apa kata orangtua. Aku menuruti apa yang mereka mau. Dan aku berharap, ini menjadi rezeki untukku dan berkah untukku karena inilah yang diinginkan orangtuaku, terutama bapak.
Seorang teman memberikan pahanya - bukan bahunya - untuk kujadikan sandaran menangis. Seorang teman juga mengatakan bahwa aku adalah ulat yang menuju proses metamorfosis menjadi kupu- kupu yang indah. Aku juga adalah kaktus berduri yang mencoba untuk menjadi bunga kecil yang indah.
Ini jalan yang Allah minta untuk aku jalani. Dan aku ingin mengakhiri ini secepat mungkin, secepat aku memasrahkan hal yang kucinta.
Semoga pengalamanku ini bisa menjadi pembelajaran untuk kalian juga. Aku ingin kalian juga menyadari apa yang kusadari sekarang. Karena ternyata, jika kita memasrahkan semuanya, terasa ringan untuk dijalani.
0 komentar:
Posting Komentar